Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Tumbal…? ( ketika keyakinan itu semakin menipis ):
“ zaaa…bapak mengalami kecelakaan..sekarang dalam keadaan koma dirumah sakit XXXXXXXX”
Sebuah perkataan yang mengantarkan langkah kaki gw yang terlihat gontai menapaki lorong panjang koridor rumah sakit yang terasa sunyi dan dingin, sesekali langkah kaki ini terhenti ketika mendapati lorong gelap yang tidak mendapati penerangan cahaya lampu, jika tidak mengingat ada seseorang didepan sana yang sedang bertarung mempertahankan hidupnya, mungkin gw sudah memutuskan untuk berbalik arah dan menjauhi lorong panjang yang sunyi ini
“ sedang apa mas ?” sebuah sapaan yang diiringi sebuah tepukan halus dipunggung, sontak membuat sebagian tubuh gw terasa lemas karena rasa terkejut, berat rasanya untuk menolehkan pandangan ini kebelakang bila nantinya harus menemui pemandangan yang sangat membuat gw merasa tidak nyaman
“ persetan dengan semua perasaan ini “ maki gw pelan kepada ketakutan yang gw rasakan, hingga akhirnya gw putuskan untuk tetap menoleh walaupun bulu kuduk ini terasa semakin menebal
“ mas..” ucap seorang pria yang terlihat masih muda mungkin seusia dengan gw, mencoba menyadarkan gw yang masih terdiam menatapnya, lama gw terdiam mencoba memperhatikan wajah pria tersebut, dan semakin lama gw memperhatikan semakin yakinlah bahwa pria yang berada tepat dibelakang gw ini adalah seseorang yang pernah gw kenal
“ dedi ?” tanya gw dengan nada keraguan sambil membalikan tubuh menghadap pria yang terlihat menggunakan baju seragam keamanan sebuah rumah sakit, dari nama yang tertulis dibajunya bisa gw pastikan bahwa ini memang dedi yang gw kenal..dedi haryanto, seseorang yang telah lama menghilang dari kehidupan gw semenjak kelulusan kita dari sebuah sekolah menengah atas didaerah bogor, walaupun kini wajahnya sudah tidak semuda dulu lagi tapi gw masih bisa tetap mengenalinya, kini terlihat dedi yang terdiam dengan wajah kebingungan, tatapannya terlihat mencoba kembali mengenali gw ditengah pencahayaan lampu yang redup
“ lu…” sebuah kata akhirnya terucap dari mulutnya, sebelum akhirnya terhenti kembali akibat rasa keterkejutannya
“ …lu rezaa kan ? reza…teman sma gw yang keras kepala itu kan…” ucapnya setengah berteriak memecah kesunyian, terlihat raut kegembiraan dari wajahnya
Ini merupakan suatu perjumpaan yang sangat tidak gw rencanakan, ada rasa gembira yang gw rasakan dalam perjumpaan ini, tapi semua itu tidak berlangsung lama, momen perjumpaan ini terasa sangat tidak tepat, disaat sebuah kabar buruk ditengah malam ini menggoreskan sebuah kepedihan di hati ini, sebuah perjumpaan dengan kawan lama yang seharusnya gw rayakan dengan penuh canda tawa kini urung gw lakukan
“ ada apa za..?” tanya dedi melihat perubahan pada raut wajah gw yang menampakan kesedihan, ingin rasanya gw tidak menumpahkan semua kejadian kejadian yang gw alami pada seseorang yang selama ini sudah lama tidak gw jumpai, tapi beban ini terasa berat..sangat berat hingga raut wajah gw pun tidak bisa untuk menutupinya
“ za ? cerita za..andai ada yang bisa gw bantu pasti gw bantu” ucap dedi kembali dengan nada keperdulian, hingga akhirnya gw menceritakan semua kejadian kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan gw, tanpa berbasa basi untuk memberikan jawaban simpati atas semua kejadian yang gw alami, dedi menarik tangan gw untuk segera menuju ke ruangan ICU, sesampainya disana, untuk beberapa sesaat dedi meninggalkan gw disebuah kursi tunggu, terlihat dia mencoba mencari informasi kepada petugas keamanan dan beberapa perawat yang bertugas disana, dari perbincangan yang terlihat, gw bisa merasakan bahwa mereka sudah saling mengenal satu sama lain, lama gw terdiam menunggu informasi yang akan dedi sampaikan, hingga akhirnya gw putuskan untuk segera menghampiri dedi dikarenakan rasa keingintahuan gw akan kondisi bapak yang belum bisa gw pastikan kondisi terakhirnya, belum sempat kaki ini melangkah menghampiri dedi, tanpa sengaja tatapan mata gw menangkap seorang lelaki tua yang sedang berdiri dipertigaan koridor rumah sakit dengan tatapan dinginnya, terasa redup cahaya lampu yang menerangi wajah orang tua itu ditambah lagi dengan jarak pandang yang tidak terlalu dekat, semuanya itu begitu menghambat pengelihatan gw untuk bisa memastikan siapakah orang tua itu, tapi……untuk sesaat gw kembali terpaku memperhatikannya, dari postur, gerakan tubuh serta wajah yang tidak begitu terasa asing walaupun terlihat samar dalam redupnya cahaya lampu..gw bisa merasa yakin bahwa sosok itu adalah……
“ zaaa !” terdengar suara teriakan dedi yang memaksa gw untuk memalingkan pandangan ini dari sosok lelaki tua itu, terlihat dedi memberikan isyarat agar gw menghampirinya
“ sebentar ded !” jawab gw setengah berteriak, lalu kembali mencoba mencari sosok pria tua yang kini terlihat menghilang entah kemana, seketika naluri gw berkata untuk mengikuti sosok tersebut dengan berjalan menuju pertigaan koridor dimana gw melihat kehadirannya, kembali gw terdiam mencoba mengamati dua lorong koridor yang mungkin menjadi jalan pria tersebut untuk menuju ke suatu tempat, semua terasa begitu sunyi, terasa sangat kontras dengan suasana rumah sakit di kala siang hari, lorong koridor yang berhiaskan kayu kayu tua sebagai penyangganya seperti sebuah lorong waktu yang menyimpan beratus bahkan beribu kenangan tentang kematian yang pernah terjadi melalui lorong ini, hingga akhirnya tatapan mata gw terhenti pada sebuah titik di lorong kanan dimana kondisi lorong itu begitu redup, kini tampak pria tua itu kembali terlihat dengan tubuh membelakangi gw, terlihat seperti berjalan dan akhirnya menghilang memasuki sebuah ruangan yang berada di ujung koridor, melihat postur dan gerak tubuhnya, gw kembali bisa meyakini diri, bahwa sosok yang gw lihat adalah sosok bapak..sosok yang telah menemani hidup gw sedari kecil hingga gw menjadi dewasa
“ tapi bagaimana mungkin…bukankah bapak…?” ucap gw pelan berusaha membuang ketakutan yang kini mulai terasa menghantui pikiran gw, rasa penasaran yang begitu kuat telah mengalahkan rasa takut yang gw rasakan, dengan perlahan gw mulai melangkah menapaki jalan koridor rumah sakit, sesekali langkah gw kembali terhenti begitu memasuki bagian koridor yang lampunya tidak menyala, semua terasa begitu dingin dan sunyi, dengan menutup semua rasa takut yang gw rasakan, kembali gw mencoba melangkah menuju ke ruangan yang berada di ujung koridor, diantara debar jantung yang berdegup dengan cepat, akhirnya langkah kaki gw terhenti, kini didepan gw tampak sebuah pintu kayu yang terlihat agak besar dan tua dengan kondisi tertutup rapat
“ ruangan apa ini “ tanya gw didalam hati seraya mencoba membuka pintu, tapi semua upaya gw terlihat sia sia, gw mendapati ruangan ini seperti terkunci dari dalam
“ permisi…” ucap gw sambil mencoba mengetuk pintu beberapa kali, andai bapak atau orang lain ada didalam ruangan ini, pasti dia akan mendengar ketukan dan suara gw, kembali gw mencoba mengetuk pintu untuk kedua kalinya, dan kembali hanya jawaban kesunyian yang gw terima, semakin lama kesunyian yang gw rasakan semakin menimbulkan sensasi menakutkan, suara didalam ruangan yang semula sepi kini terdengar agak gaduh dengan suara suara yang hampir menyerupai jeritan kesakitan dan penderitaan yang menyiksa, pintu yang semula diam berdiri dengan kokohnya…kini terlihat bergetar, menimbulkan sebuah bunyi deritan, seperti ada seseorang didalam sana yang berusaha mencoba keluar dari ruangan itu, rasa keberanian yang semula telah gw tanamkan diantara rasa penasaran yang timbul kini perlahan mulai memudar berganti dengan sebuah rasa ketakutan
“ astaga apa apaan ini….” ucap gw mulai beringsut mundur dengan tatapan mata tidak percaya atas apa yang gw dengar dan saksikan, aroma bau busuk dan hawa dingin yang semula hanya gw alami selama tinggal di mess tua, kini dapat gw rasakan kembali sensasinya
" ini gila....gilaaaa !!" teriak gw berusaha untuk tidak mempercayai apa yang gw dengar dan gw lihat
“ zaaaa…!!!” mendengar suara teriakan dedi, yang terlihat berlari kecil mengahampiri, sedikit ada rasa ketenangan yang gw rasakan
“ gila lu zaaa? ngapain lu disini..?” ucapnya dengan nafas terengah engah
“ maaf ded…tadi gw pikir ada seseorang yang mirip sama bapak gw berjalan menuju ke ruangan ini “
“ tadi gw pikir lu bakal sebentar, ternyata gw tunggu lama.. enggak muncul muncul juga “ ucapnya kembali sambil mencoba mengatur nafasnya, tampak ekspresi keheranan terlihat diwajahnya begitu mendengar alasan keberadaan gw didepan ruangan ini
“ bapak lu za ? lahh bukannya bapak lu…”
“ iya ded..tadi gw lihat seorang laki laki tua, biarpun agak samar gw bisa pastikan itu bapak, masa iya gw enggak ngenalin ciri ciri bapak gw sendiri “ kembali tatapan gw menatap pintu yang kini diam tak bergerak, tidak ada sama sekali getaran dari pintu dan suara suara jeritan aneh yang terdengar dari dalam ruangan
“ zaaa..sadar !, bapak lu itu sedang berada diruangan ICU, supir yang mengantarkan bapak lu juga masih ada di ruangan, tapi herannya za…”
“ apa ded ?” tanya gw dengan nada penasaran, tatapan mata gw masih tidak bergeming mengamati ruangan dan sudut sudut gelap yang berada disekitar ruangan
“ kondisi supir lu jauh bangat dari kondisi bapak lu…maaf za..mungkin kalau supir lu, sudah bisa pulang esok hari…sedangkan bapak lu….. “
Gw hanya terdiam mendengar keterangan yang keluar dari mulut dedi, rasa sedih yang gw rasakan begitu bercampur aduk dengan rasa penasaran akan sosok yang baru saja gw lihat
“ lu tau ruangan apa ini za ?” tanya dedi, pandangannya terlihat memberikan gw kode untuk melihat sebuah tulisan yang tertulis tepat diatas pintu, sebuah tulisan yang sama sekali tidak gw lihat keberadaannya disaat gw pertama kali melihat pintu tua ini, kembali gw berpikir apakah semua ini disebabkan oleh ulah mahluk ghoib sehingga gw tidak melihat keberadaan tulisan itu ataukah semua ini hanya kepanikan gw semata
“ lu baca enggak za…ini kamar jenazah “
“ mana mungkin bapak lu yang sedang terbaring di…..” belum sempat dedi meneruskan perkataannya, segera gw berlari seraya mengajaknya ke ruangan ICU
“ apakah ini pertanda ded…” ucap gw diantara langkah kaki yang semakin cepat menuju ruangan ICU, terlihat dedi menggelengkan kepalanya menandakan ketidaktahuannya, setibanya diruangan ICU beberapa perawat jaga dibantu oleh seorang dokter tampak sedang menjalankan tugas rutinnya, melihat kehadiran gw yang datang dengan sebuah kepanikan, seorang petugas keamanan terlihat mencoba menahan langkah gw hingga akhirnya dedi bisa menjelaskan semuanya pada petugas keamanan yang tampaknya sudah mengenalnya
“ ini anaknya pak hernata..yang tadi sempat saya mau panggil..” ucap dedi kepada petugas keamanan dan seorang perawat yang datang menghampiri
“ bagaimana keadaan bapak saya..sus…” tanya gw kepada perawat yang menghampiri, hingga akhirnya seorang dokter jaga terlihat ikut menghampiri dan menjelaskan secara detil tentang kondisi terkini dari bapak
“ kami telah melakukan semua langkah sesuai dengan prosedur, tepat 01.30 malam tadi bapak nak reza telah menghembuskan nafas terakhirnya, kami turut mengucapkan bela sungkawa atas semua ini “ ucap dokter tersebut sambil berusaha menahan tubuh gw yang terasa limbung mendengar kabar yang diberikan, wajah dedi yang sedari tadi terpaku menatap dokter yang memberikan keterangan, seakan tidak percaya dengan apa yang telah dokter katakan
“ bukankah tadi…bukankah tadi dokter masih mengatakan dalam kondisi koma ?” tanya dedi dengan nada yang masih menyangsikan apa yang telah didengarnya, mungkin dia tidak menduga, hanya dalam hitungan beberapa menit semua kejadian sudah berubah dengan cepatnya
“ sekali lagi maafkan kami, hanya ini yang bisa kami lakukan…” ucap dokter itu kembali seraya mempersilahkan gw untuk melihat bapak untuk yang terakhir kalinya, sebelum dibawa ke ruang jenazah untuk dibersihkan
Dengan langkah gontai gw masuki ruangan ICU, untuk beberapa kali terlihat dedi mencoba memberikan semangat dan rasa simpatinya agar gw tegar menghadapi semua musibah yang terjadi secara beruntun
“ maafkan saya kang..saya gagal menjaga bapak..saya teledor “ ucap mang iwan disela isak tangisnya begitu melihat kehadiran gw, beberapa luka yang tampak sudah diperban, sedikit memberikan gw gambaran akan peristiwa yang telah terjadi
“ semua bukan salah mang iwan, sukur mang iwan masih selamat..jangan salahkan diri mang iwan.. “ gw mencoba memeluk tubuh mang iwan yang terasa bergetar menahan duka yang dirasakannya, tubuh bapak yang terbaring diranjang dengan beberapa luka yang masih menimbulkan darah segar yang keluar dari tubuhnya, ingin rasanya gw berteriak menumpahkan semua kesedihan dihati yang terasa begitu menyayat dan meninggalkan luka yang teramat perih, untuk ke empat kalinya gw harus menerima kenyataan..orang orang yang teramat gw sayangi pergi meninggalkan gw dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama…ini sudah melampaui perkataan mbah warsono tentang tiga tumbal dari tiga kelopak bunga dalam ritual yang gw lakukan, ini melebihi dari dua sketsa wajah yang gw lihat secara samar di air yang beriak didalam ember, untuk dua wajah itu masih bisa gw kenali…tapi…memang ada satu wajah yang terlihat sangat samar sekali dibanding dua sketsa yang ada, bahkan gw berpikir itu bukanlah sebuah bentuk wajah…lebih menyerupai gambaran utuh seorang bayi yang sama sekali tidak gw kenali…lantas kenapa semuanya sekarang jadi sekacau ini..? apakah ini yang dinamakan tumbal ataukah semuanya hanyalah sebuah kecelakaan biasa…rasanya tidak ada ilmu pasti yang bisa menjawab semua yang telah terjadi
“ maafkan saya kang…ada sebuah kejadian aneh yang menyebabkan semua ini terjadi….ada sesuatu yang terjadi di jalan kang…saya..”
“ jangan diteruskan mang, ini bukan waktu yang tepat sebaiknya mang iwan beristirahat dulu, nanti mang iwan bisa menjelaskan semuanya dirumah…” ucap gw memotong pembicaraan mang iwan, gw harus bisa menahan semua kesedihan ini, disaat ada jiwa2 yang lebih rapuh yang tidak siap untuk menerima semua cobaan ini
“ dimana ibu kang…?” tanya mang iwan kembali
“ ada dirumah mang, mungkin sudah ada saudara yang datang ke rumah, biar saya yang mengurus ini semua, kalau memang besok mang iwan di izinkan pulang, mang iwan nanti saya jemput “ ucap gw sambil memapah mang iwan yang masih berjalan dengan terpincang2 ke sebuah ranjang, lama gw terdiam mencoba menerima semua yang gw hadapi hingga akhirnya gw memberanikan diri menatap bapak untuk yang terakhir kalinya sebelum dibawa ke ruang jenazah untuk dibersihkan
“ maafkan reza pak..maaf..mungkin ini semua kesalahan reza…maafkan semua yang….” Sepenggal kalimat yang tersisa seperti melekat di lidah ini dan terasa sulit untuk di ucapkan, hingga akhirnya butiran butiran air mata tanpa gw sadari telah menetes membasahi wajah bapak yang telah tertidur dengan tenangnya
“ sabar za..” ucap dedi mencoba menahan harunya, tangannya yang bergetar terlihat mencoba merangkul bahu gw, hingga akhirnya beberapa petugas datang membawa bapak ke ruang jenazah untuk segera dibersihkan
“ lu harus tabah za…harus kuat..sekuat reza yang pernah gw kenal waktu itu “ dengan halus dedi mencoba menenangkan kelabilan jiwa yang tengah gw alami, jari jari tangannya terlihat kuat mencengkram bahu gw, seraya mengajak gw melangkah keluar dari ruangan ICU
Next chap : Tumbal…? ( ketika keyakinan itu semakin menipis ) 2