- Beranda
- Stories from the Heart
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
...
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galonze.b.c.n.b
#893
Part 48 Trip to Sumedang (3)
Sesampainya di Rumah yang akan kami tempati ini, masih banyak perlengkapan yang harus kami penuhi untuk beberapa hari kedepan, mulai dari Air bersih untuk minum, cemilan, sampai makanan kami untuk beberapa hari ke depan. Rio pun memerintahkan kami untuk kembali ke Kota membeli beberapa perlengkapan yang kami butuhkan.
“Gong, lu ke kota sekarang ye? Beli bahan makanan buat beberapa hari kedepan, entar apa aja yang harus dibelinya dikasih tau Agnas” ucap rio memerintah.
“Ok!, tapi masa aku sendiri yang berangkat? Heh Rangga! Kau ikut denganku!” jawab Yohanes.
“Lah kok gue mesti ikut segala? Kan yang disuruh elu gong!? Gue cape banget nih, badan kerasa pegel semua” jawab gue santai yang sedang berbaring di karpet yang digelar di tengah rumah.
sebenernya gue gak masalah di suruh suruh sama mereka, karna diantara kita semua memang gue yang patungannya paling sedikit, mungkin mereka tau kalo gue mahasiswa rantau yang uang sakunya serba pas-pasan.
“Kan sudah kubilang! Kau harus ikut aku Monyong!” hardik Yohanes sambil menarik tangan gue.
“Ok, gue juga ikut deh, mau beli rokok juga gue disana” ucap norman ikut menimpal.
“Gong! Perginya gua yang nyetir, pulangnya elu yang nyetir!” ucap gue sambil melangkah keluar rumah.
Selang beberapa saat sebelum memasuki mobil, datang desi menghampiri kita “Punten!”
“Mangga, eh Desi ada apa? Silahkan masuk kedalem aja” ucap rio menjawab.
“Gak usah ka, aku gak lama soalnya,Desi cuma dapet pesen dari Pak Kades dengan Masyarakat di desa ini mengundang teman teman semua untuk makan malam di balai desa bada isya nanti teman teman semua diharap bisa datang semua ya” jawan Desi.
“Oh iya iya, Makasih ya Desi, nanti saya sampaikan pada teman teman yang lain” jawab rio.
Tak lama pun kita berangkat kembali menuju super market di daerah kota untuk membeli bahan makanan dan beberapa barang yang diperlukan, Pinggg! Hp gue berbunyi dan bergetar dan cukup mengagetkan gue karna sedari tadi gue hanya melamun menatap ke arah depan saja, saat gue buka sms yang masuk dari rio yang isinya :
“Woiii! Kau ini malah melamun saja terus! Bantu kami ini bawa barang barang masuk ke mobil oon!” bertak yohanes.
“iye iye, gitu aje marah lu” jawab gue mengambil tumpukan dus mie instan, minuman, dan barang barang di kantong kresek lainnya ke dalam mobil.
-----
Sesampainya kembali ke desa, Gue,yohaens dan norman pun memarkirkan mobil di depan balai desa, kita langsung masuk ke balai desa dan ternyata yang lainnya belum sampai kemari, maka dengan terpaksa kamipun ikut membantu masyarakat mengalihkan barang barang yang berbeda di balai desa tersebut dengan menggelar tikarnya.
“Bah! Ini sih bukan liburan! Sudah pergi beli barang barang. Sekarang membantu membereskan balai desa lagi!” keluh Yohanes sesuasai membantu masyarakat balai desa.
“iye, mana barang barang tadi berat banget lagi” sambung norman, sambil duduk di kursi halaman desa.
“Iya, aku juga jadi pengen mandi nih! si Rio enak bener suruh suruh kita! Kalo ketemu anak itu kupatahkan lehernya liat saja nanti!” timpal Yohanes.
“udah, kalian jangan mengeluh terus lah, nanti gak enak kalo kedengar masyarakat desa, lagian mengeluh itu Cuma menjauhkan rezeki bro, pamali kalo kata orang tuamah” Komentar gue ikut berbicara.
Ketika Yohanes hendak membuka mulutnya lagi untuk membalas ucapan gue, datanglah rombongan rio ke balai desa, ketika gue lihat intan, intan lalu tersenyum mengadahkan kepalanya ke atas ketika lewat dihadapan gue pura pura cuek, gue pun menarik tangan intan dan menggodanya.
“Hallo Neng imut kaya kue Mochi” ucap gue.
“Ih Rangga lepasin! Kamu bau acem! Akukan baru mandi!” Intan meronta.
“Ih sana! Udah bau asem, tangan kamu juga basah keringetan gitu!” intan meronta melepaskan tangannya dari tangan gue, kemudian setelah agak jauh dia menoleh ke belakang ke arah gue mengembangkan senyum manisnya.
Sambil menunggu makanan siap di hidangkan, kembali kami beramah tamah dengan masyarakat sekitar sini. Obrolan kami cukup mengalir, namun mungkin Yohanes merasa Rio selaku pembicara terlalu formil sehingga acara tersebut terkesan kaku dan mulai membosankan, maka iapun ber inisiatif ikut berbicara.
“Punten Bapa-bapa dan Ibu-ibu sekalian! Perkenalkan saya Yohanes Linggong dari medan, Izinkan saya ikut bicara” ucap yohanes tiba tiba.
“Saya telah sering dengar tentang keramah tamahan orang Sunda, bahkan sampai ke halaman saya di Medan, selain itu orang orang Sunda juga pandai membanyol dan senang tertawa” Lanjut Yohanes, kini dia jadi pusat perhatian di ruangan itu, semua mata tertuju pada orang yang tinggi besar, gue pun mencoba menebak nebak apa yang akan disampaikan anak disamping gue ini.
“Nah! Saya jadi ingat cerita tentang kawan saya yang satu ini” lanjut Yohanes sambil menepuk punggung norman dengan keras dan kasar.
“Dulu sewaktu saya awal awal datang ke bandung, kami liburan ke daerah Ranca Ekek! Dia pernah kesasar mentok ke belakang pasar sewaktu mencari alamat temennya itu, eh malah bukan alamat temennya yang ketemu , tapi dia malah dapat yang lebih” ucap yohanes.
Norman mungkin yang menebak arah pembicaraan bakal gak beres pun segera memotong “Gong! Udah Gong! Udah! Lu bikin malu gue aje”
Yohanes pun tidak memperdulikan ucapan Norman, dia lanjut saja bercerita “Dia katanya bertemu dengan teman Perempuan yang waktu SMP yang pernah di taksir, dan coba tebak! Dia tidak berani menyapanya, malah temannya itu yang menyapa duluan”
“Gong! Udah dong! Lujangan gitu dong! Nyeritain masalah pribadi gua di depan umum gini” Keluh Norman ketika orang orang yang memandangnya mulai mesem mesem.
“Esoknya dia minta ke aku untuk diantar ke alamat Gadis itu, tapi begitu pintu Rumahnya dibuka, dia langsung mengajak saya pulang, ada yang tahu kenapa?” Lanjutnya, sementara semua yang hadir melongo menunggu Togar melanjutkan ceritanya.
“Karena yang membuka pintu itu Bapaknya! Dia takut sama badannya yang Gendut dan Kumis Bapaknya yang sebesar Pisang Goreng itu! Ketemu sama anaknya aja udah grogi, apalagi bertemu sama baaknya yang kumisnya setebel pisang goreng itu! Ahahaha” lanjut Yohanes yang tawanya mulai meledak, semua yang hadir disana ikut tertawa, kami tertawa bukan karena hanya cerita dari Yohanes, tapi juga karena logat medannya yang kental keluar dari mulutnya itu yang membuat kami tertawa lebar.
“Ahaahahah, dan satu lagi dia pulang dengan alasan salah alamat! Konyol banget bukan?! Saya saja yang ada disana jadi ingin tertawa Ahahahah” Yohanes berkoar lagi dan tertawa semakin keras sampai air matanya Keluar! Kecuali Norman yang hanya mesem mesem menahan malu akibat ulah teman disampingnya itu.
“Nah nah! Itulah mungkin yang disebut dengan Sabulang Bentor! Hahahaha” Sambungya.
Anak anak perempuan pun yang tadinya hanya bengong ikut tertawa juga karena geli dengan cerita Yohanes, ditambah dengan cara dia menyampaikan ceritanya yang lucu.
“Ni anak lu kasih apa pas di jalan tadi! Edan banget kelakuannya” ucap rio berbisik di telinga gue. Gue yang masih tertawa itu hanya menjawab dengan anggukan karena perut yang sedikit sakit akibat tertawa sedari tadi.
Saat itu, Ibu ibupun datang membawa hidangan hidangannya, Desi segera bangkit dari duduknya dan membantu ibu ibu menyajikan makanannya detengah Ruangan, para anak anak wanita pun segera ikut membantu mereka.
Acara pun segera dilanjutkan dengan makan makan, Pak Kades mempersilahkan semua hadirin untuk makan, hidangan yang tersedia ada Pencok Kacang Panjang, Ulukuteuk Leunca, Pepes Ikan Mas, Ayam Goreng, Perkedel Jagung, Tahu Tempe goreng dan Sayur Asem, tak ketinggalan sambel Goreng terasi, selain tentunya nasi putih hangat yang disajikan dalam boboko besar (bakul nasi). Anak anak yang lain pun nampak semangat melahap makanan hidangan tradisional Khas Sunda karena perutnya udah gak sanggup menahan lapar lahi, mereka menanyakan nama nama makanan yang ia makan kepada Desi.
“Desi yang ini apa namanya?” tanya agnas.
“Oh, kalo itu namanya pencok kacang panjang kak!” jawab desi.
“Kalo yang ini apa namanya?” nadia ikut bertanya.
“Kalo yang itu namanya ulukuteuk leunca kak Nadia” jawab Desi dengan sabar, mereka nampak makin lahap melahap semua makanan yang ada di depan mata itu, ya memang kedua masakan Khas Sunda itu sudah mulai langka, dan jarang ditemui di kota-kota.
Saat akan menghampiri Intan untuk makan disebelahnya, mila mendekati gue dan menarik tangan gue, kemudian mengajak gue untuk duduk ditempat yang agak jauh dari Intan, Intan yang melihat itupun menatap gue dengan tatapan kesal. Kekesalannya tampak di wajahnya saat gue memandang dia walaupun ada mila di samping. Namun gue hanya mencoba bersikap santai karena mila selalu mengajak ngobrol sambil makan.
----
Sepulang dari acara makan makan di balai desa, Nadia yang sedang memompa air untuk cuci muka dan gosok gigi, karena tak bisa memompa, tangannya mungkin kerasa pegel, gue yang baru akan mandipun segera mendekati dia dan memegang tali untuk menimbakan airnya.
“Nad, kalo kamu capek biar aku yang timbain” ucap gue.
“Eh nggak usah ngga! Aku bisa sendiri kok!” jawab dia sambil mempercepat memompa airnya.
munkin karena terlalu cepat menimba air, tangannya pun kesakitan karena memaksakan menarik ember dengan terlalu cepat.
“Tuh kan, apa kubilang? Sini biar aku bantuin!” ucap gue, Nadia akhirnya melepaskan tangannya, lalu membiarkan gue memompa air, setelah selesai gue mengambil air dari ember tersebut dan membawanya ke kamar mandi tanpa mengcapkan sepatah apapun ke dia.
Saat dia sudah mulai masuk ke kamar mandi, gue pun mulai memompa lagi, kali ini memompa untuk mandi gue sendiri, dan setelah selesai memompa air dan menunggu nadia keluar kamar mandi, pada saat itu juga datang Intan yang juda hendak ke kamar mandi.
“Halo dedek manis, mau kemana?” sapa gue ke dia.
“Ya mau ke kamar mandilah! Ih kamu kok belum mandi sih? Badan udah basah sama keringet gitu! Mana bau asem banget lagi” Jawab intan sambil mengejek gue.
“Lho? Justru aku jadi keliatan makin ganteng kayak cowok cowok di tv kan? Kayak aktor aktor Hollywood juga gitu? Hehehe” jawab gue dengan pede.
“Geer banget ih! Udah sana urus tuh Mila! Kan waktu tadi makan kamu keliatannya akrab banget sama dia” jawab intan yang kesel melihat gue mengobrol dengan penuh canda dengan mila.
gue yang sudah biasa dengan sikap dia yang seperti itupun sekonyong konyong langsung memeluk intan dari belakang “cie cemburu ya? Bilang aja kalo cemburu gak usah jaim jaim gitu, tadinya aku mau datengin kamu, Cuma keburu ada yang narik, jadi deh makan bareng dia” ucap gue ditelingan intan.
“Ih apaan sih?!! Lepasin! Lepasin aku! Badan kamu bau banget tau!” Intan meronta ronta agar dilepas oleh gue, dan akhirnya gu epun melepas pelukan itu, dengan wajahnya yang cemberut intan melangkah meninggalkan gue, namun setelah beberapa langkah dia menoleh lagi dan menatap gue yang masih tersenyum ke arah dia, dia membalas dengan tersenyum manis dan menjulurkan lidahnya pertanda mengejek. Gue yang hanya bisa tersenyum lebar melihat tingkah dia yang seperti itu, dia yang biasanya ngambek dan harus di rayu terus itu mulai nampak sedikit ada perubahaan di dalam dirinya.
Gue yang kesal menunggu dia lama dikamar mandi pun kembali ke depan rumah untuk menunggu disana, gue yang sambil senyum senyum melangkah ke halaman rumah segera bersikap kembali seperti baisanya setelah melihat mila sedang bermain dengan handphone nya.
“Lho? Kamu belum mandi juga? Mending kamu gosok gigi aja sama cuci muka, udah malem gak baik soalnya kalo mau mandi, udaranya juga udah mulai dingin lagi” ucap dia memberikan masukan.
“ah gak apa apa miel, aku udah biasa kok mandi malem malem gini, lagian badan ku juga gak enak banget, gak bisa tidur entar kalo belum mandi” jawab gue dengan santai.
“Ya udah, kalo kamu mau mandi entar aku bikinin Olong tea biar bisa ngangetin badan kamu” ucap dia dengan senyuman di bibirnya, senyuman yang membuat gue tercekat melihat ke anggunan di wajahnya itu, belum lagi perhatiannya membuat mila semakin ‘menggedor jiwa’ gue.
“Oh, olong tea yang sering di buat Dea ya?” tanya gue.
“iya kok tau?” tanya mila balik.
“iya aku pernah dibikinin sama dia, emang rasanya enak sih, bikin badan jadi Rileks juga” jawab gue.
“iya udah kamu mandi gih, entar keburu malem lagi” ucap dia.
setelah sedikit mengobrol dengan dia, gue pun segera melangkahkan kaki kedalam rumah untuk segera mandi, saat melewati kamar intan, gue sedikit membuka kamarnya ternyata dia sudah tertidur “Dasar Kebluk! Jam segini udah tidur aja! Mana pules banget lagi!” ucap gue didalem hati
“Gong, lu ke kota sekarang ye? Beli bahan makanan buat beberapa hari kedepan, entar apa aja yang harus dibelinya dikasih tau Agnas” ucap rio memerintah.
“Ok!, tapi masa aku sendiri yang berangkat? Heh Rangga! Kau ikut denganku!” jawab Yohanes.
“Lah kok gue mesti ikut segala? Kan yang disuruh elu gong!? Gue cape banget nih, badan kerasa pegel semua” jawab gue santai yang sedang berbaring di karpet yang digelar di tengah rumah.
sebenernya gue gak masalah di suruh suruh sama mereka, karna diantara kita semua memang gue yang patungannya paling sedikit, mungkin mereka tau kalo gue mahasiswa rantau yang uang sakunya serba pas-pasan.
“Kan sudah kubilang! Kau harus ikut aku Monyong!” hardik Yohanes sambil menarik tangan gue.
“Ok, gue juga ikut deh, mau beli rokok juga gue disana” ucap norman ikut menimpal.
“Gong! Perginya gua yang nyetir, pulangnya elu yang nyetir!” ucap gue sambil melangkah keluar rumah.
Selang beberapa saat sebelum memasuki mobil, datang desi menghampiri kita “Punten!”
“Mangga, eh Desi ada apa? Silahkan masuk kedalem aja” ucap rio menjawab.
“Gak usah ka, aku gak lama soalnya,Desi cuma dapet pesen dari Pak Kades dengan Masyarakat di desa ini mengundang teman teman semua untuk makan malam di balai desa bada isya nanti teman teman semua diharap bisa datang semua ya” jawan Desi.
“Oh iya iya, Makasih ya Desi, nanti saya sampaikan pada teman teman yang lain” jawab rio.
Tak lama pun kita berangkat kembali menuju super market di daerah kota untuk membeli bahan makanan dan beberapa barang yang diperlukan, Pinggg! Hp gue berbunyi dan bergetar dan cukup mengagetkan gue karna sedari tadi gue hanya melamun menatap ke arah depan saja, saat gue buka sms yang masuk dari rio yang isinya :
Quote:
“Woiii! Kau ini malah melamun saja terus! Bantu kami ini bawa barang barang masuk ke mobil oon!” bertak yohanes.
“iye iye, gitu aje marah lu” jawab gue mengambil tumpukan dus mie instan, minuman, dan barang barang di kantong kresek lainnya ke dalam mobil.
-----
Sesampainya kembali ke desa, Gue,yohaens dan norman pun memarkirkan mobil di depan balai desa, kita langsung masuk ke balai desa dan ternyata yang lainnya belum sampai kemari, maka dengan terpaksa kamipun ikut membantu masyarakat mengalihkan barang barang yang berbeda di balai desa tersebut dengan menggelar tikarnya.
“Bah! Ini sih bukan liburan! Sudah pergi beli barang barang. Sekarang membantu membereskan balai desa lagi!” keluh Yohanes sesuasai membantu masyarakat balai desa.
“iye, mana barang barang tadi berat banget lagi” sambung norman, sambil duduk di kursi halaman desa.
“Iya, aku juga jadi pengen mandi nih! si Rio enak bener suruh suruh kita! Kalo ketemu anak itu kupatahkan lehernya liat saja nanti!” timpal Yohanes.
“udah, kalian jangan mengeluh terus lah, nanti gak enak kalo kedengar masyarakat desa, lagian mengeluh itu Cuma menjauhkan rezeki bro, pamali kalo kata orang tuamah” Komentar gue ikut berbicara.
Ketika Yohanes hendak membuka mulutnya lagi untuk membalas ucapan gue, datanglah rombongan rio ke balai desa, ketika gue lihat intan, intan lalu tersenyum mengadahkan kepalanya ke atas ketika lewat dihadapan gue pura pura cuek, gue pun menarik tangan intan dan menggodanya.
“Hallo Neng imut kaya kue Mochi” ucap gue.
“Ih Rangga lepasin! Kamu bau acem! Akukan baru mandi!” Intan meronta.
“Ih sana! Udah bau asem, tangan kamu juga basah keringetan gitu!” intan meronta melepaskan tangannya dari tangan gue, kemudian setelah agak jauh dia menoleh ke belakang ke arah gue mengembangkan senyum manisnya.
Sambil menunggu makanan siap di hidangkan, kembali kami beramah tamah dengan masyarakat sekitar sini. Obrolan kami cukup mengalir, namun mungkin Yohanes merasa Rio selaku pembicara terlalu formil sehingga acara tersebut terkesan kaku dan mulai membosankan, maka iapun ber inisiatif ikut berbicara.
“Punten Bapa-bapa dan Ibu-ibu sekalian! Perkenalkan saya Yohanes Linggong dari medan, Izinkan saya ikut bicara” ucap yohanes tiba tiba.
“Saya telah sering dengar tentang keramah tamahan orang Sunda, bahkan sampai ke halaman saya di Medan, selain itu orang orang Sunda juga pandai membanyol dan senang tertawa” Lanjut Yohanes, kini dia jadi pusat perhatian di ruangan itu, semua mata tertuju pada orang yang tinggi besar, gue pun mencoba menebak nebak apa yang akan disampaikan anak disamping gue ini.
“Nah! Saya jadi ingat cerita tentang kawan saya yang satu ini” lanjut Yohanes sambil menepuk punggung norman dengan keras dan kasar.
“Dulu sewaktu saya awal awal datang ke bandung, kami liburan ke daerah Ranca Ekek! Dia pernah kesasar mentok ke belakang pasar sewaktu mencari alamat temennya itu, eh malah bukan alamat temennya yang ketemu , tapi dia malah dapat yang lebih” ucap yohanes.
Norman mungkin yang menebak arah pembicaraan bakal gak beres pun segera memotong “Gong! Udah Gong! Udah! Lu bikin malu gue aje”
Yohanes pun tidak memperdulikan ucapan Norman, dia lanjut saja bercerita “Dia katanya bertemu dengan teman Perempuan yang waktu SMP yang pernah di taksir, dan coba tebak! Dia tidak berani menyapanya, malah temannya itu yang menyapa duluan”
“Gong! Udah dong! Lujangan gitu dong! Nyeritain masalah pribadi gua di depan umum gini” Keluh Norman ketika orang orang yang memandangnya mulai mesem mesem.
“Esoknya dia minta ke aku untuk diantar ke alamat Gadis itu, tapi begitu pintu Rumahnya dibuka, dia langsung mengajak saya pulang, ada yang tahu kenapa?” Lanjutnya, sementara semua yang hadir melongo menunggu Togar melanjutkan ceritanya.
“Karena yang membuka pintu itu Bapaknya! Dia takut sama badannya yang Gendut dan Kumis Bapaknya yang sebesar Pisang Goreng itu! Ketemu sama anaknya aja udah grogi, apalagi bertemu sama baaknya yang kumisnya setebel pisang goreng itu! Ahahaha” lanjut Yohanes yang tawanya mulai meledak, semua yang hadir disana ikut tertawa, kami tertawa bukan karena hanya cerita dari Yohanes, tapi juga karena logat medannya yang kental keluar dari mulutnya itu yang membuat kami tertawa lebar.
“Ahaahahah, dan satu lagi dia pulang dengan alasan salah alamat! Konyol banget bukan?! Saya saja yang ada disana jadi ingin tertawa Ahahahah” Yohanes berkoar lagi dan tertawa semakin keras sampai air matanya Keluar! Kecuali Norman yang hanya mesem mesem menahan malu akibat ulah teman disampingnya itu.
“Nah nah! Itulah mungkin yang disebut dengan Sabulang Bentor! Hahahaha” Sambungya.
Anak anak perempuan pun yang tadinya hanya bengong ikut tertawa juga karena geli dengan cerita Yohanes, ditambah dengan cara dia menyampaikan ceritanya yang lucu.
“Ni anak lu kasih apa pas di jalan tadi! Edan banget kelakuannya” ucap rio berbisik di telinga gue. Gue yang masih tertawa itu hanya menjawab dengan anggukan karena perut yang sedikit sakit akibat tertawa sedari tadi.
Saat itu, Ibu ibupun datang membawa hidangan hidangannya, Desi segera bangkit dari duduknya dan membantu ibu ibu menyajikan makanannya detengah Ruangan, para anak anak wanita pun segera ikut membantu mereka.
Acara pun segera dilanjutkan dengan makan makan, Pak Kades mempersilahkan semua hadirin untuk makan, hidangan yang tersedia ada Pencok Kacang Panjang, Ulukuteuk Leunca, Pepes Ikan Mas, Ayam Goreng, Perkedel Jagung, Tahu Tempe goreng dan Sayur Asem, tak ketinggalan sambel Goreng terasi, selain tentunya nasi putih hangat yang disajikan dalam boboko besar (bakul nasi). Anak anak yang lain pun nampak semangat melahap makanan hidangan tradisional Khas Sunda karena perutnya udah gak sanggup menahan lapar lahi, mereka menanyakan nama nama makanan yang ia makan kepada Desi.
“Desi yang ini apa namanya?” tanya agnas.
“Oh, kalo itu namanya pencok kacang panjang kak!” jawab desi.
“Kalo yang ini apa namanya?” nadia ikut bertanya.
“Kalo yang itu namanya ulukuteuk leunca kak Nadia” jawab Desi dengan sabar, mereka nampak makin lahap melahap semua makanan yang ada di depan mata itu, ya memang kedua masakan Khas Sunda itu sudah mulai langka, dan jarang ditemui di kota-kota.
Saat akan menghampiri Intan untuk makan disebelahnya, mila mendekati gue dan menarik tangan gue, kemudian mengajak gue untuk duduk ditempat yang agak jauh dari Intan, Intan yang melihat itupun menatap gue dengan tatapan kesal. Kekesalannya tampak di wajahnya saat gue memandang dia walaupun ada mila di samping. Namun gue hanya mencoba bersikap santai karena mila selalu mengajak ngobrol sambil makan.
----
Sepulang dari acara makan makan di balai desa, Nadia yang sedang memompa air untuk cuci muka dan gosok gigi, karena tak bisa memompa, tangannya mungkin kerasa pegel, gue yang baru akan mandipun segera mendekati dia dan memegang tali untuk menimbakan airnya.
“Nad, kalo kamu capek biar aku yang timbain” ucap gue.
“Eh nggak usah ngga! Aku bisa sendiri kok!” jawab dia sambil mempercepat memompa airnya.
munkin karena terlalu cepat menimba air, tangannya pun kesakitan karena memaksakan menarik ember dengan terlalu cepat.
“Tuh kan, apa kubilang? Sini biar aku bantuin!” ucap gue, Nadia akhirnya melepaskan tangannya, lalu membiarkan gue memompa air, setelah selesai gue mengambil air dari ember tersebut dan membawanya ke kamar mandi tanpa mengcapkan sepatah apapun ke dia.
Saat dia sudah mulai masuk ke kamar mandi, gue pun mulai memompa lagi, kali ini memompa untuk mandi gue sendiri, dan setelah selesai memompa air dan menunggu nadia keluar kamar mandi, pada saat itu juga datang Intan yang juda hendak ke kamar mandi.
“Halo dedek manis, mau kemana?” sapa gue ke dia.
“Ya mau ke kamar mandilah! Ih kamu kok belum mandi sih? Badan udah basah sama keringet gitu! Mana bau asem banget lagi” Jawab intan sambil mengejek gue.
“Lho? Justru aku jadi keliatan makin ganteng kayak cowok cowok di tv kan? Kayak aktor aktor Hollywood juga gitu? Hehehe” jawab gue dengan pede.
“Geer banget ih! Udah sana urus tuh Mila! Kan waktu tadi makan kamu keliatannya akrab banget sama dia” jawab intan yang kesel melihat gue mengobrol dengan penuh canda dengan mila.
gue yang sudah biasa dengan sikap dia yang seperti itupun sekonyong konyong langsung memeluk intan dari belakang “cie cemburu ya? Bilang aja kalo cemburu gak usah jaim jaim gitu, tadinya aku mau datengin kamu, Cuma keburu ada yang narik, jadi deh makan bareng dia” ucap gue ditelingan intan.
“Ih apaan sih?!! Lepasin! Lepasin aku! Badan kamu bau banget tau!” Intan meronta ronta agar dilepas oleh gue, dan akhirnya gu epun melepas pelukan itu, dengan wajahnya yang cemberut intan melangkah meninggalkan gue, namun setelah beberapa langkah dia menoleh lagi dan menatap gue yang masih tersenyum ke arah dia, dia membalas dengan tersenyum manis dan menjulurkan lidahnya pertanda mengejek. Gue yang hanya bisa tersenyum lebar melihat tingkah dia yang seperti itu, dia yang biasanya ngambek dan harus di rayu terus itu mulai nampak sedikit ada perubahaan di dalam dirinya.
Gue yang kesal menunggu dia lama dikamar mandi pun kembali ke depan rumah untuk menunggu disana, gue yang sambil senyum senyum melangkah ke halaman rumah segera bersikap kembali seperti baisanya setelah melihat mila sedang bermain dengan handphone nya.
“Lho? Kamu belum mandi juga? Mending kamu gosok gigi aja sama cuci muka, udah malem gak baik soalnya kalo mau mandi, udaranya juga udah mulai dingin lagi” ucap dia memberikan masukan.
“ah gak apa apa miel, aku udah biasa kok mandi malem malem gini, lagian badan ku juga gak enak banget, gak bisa tidur entar kalo belum mandi” jawab gue dengan santai.
“Ya udah, kalo kamu mau mandi entar aku bikinin Olong tea biar bisa ngangetin badan kamu” ucap dia dengan senyuman di bibirnya, senyuman yang membuat gue tercekat melihat ke anggunan di wajahnya itu, belum lagi perhatiannya membuat mila semakin ‘menggedor jiwa’ gue.
“Oh, olong tea yang sering di buat Dea ya?” tanya gue.
“iya kok tau?” tanya mila balik.
“iya aku pernah dibikinin sama dia, emang rasanya enak sih, bikin badan jadi Rileks juga” jawab gue.
“iya udah kamu mandi gih, entar keburu malem lagi” ucap dia.
setelah sedikit mengobrol dengan dia, gue pun segera melangkahkan kaki kedalam rumah untuk segera mandi, saat melewati kamar intan, gue sedikit membuka kamarnya ternyata dia sudah tertidur “Dasar Kebluk! Jam segini udah tidur aja! Mana pules banget lagi!” ucap gue didalem hati
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4

From : Rio