- Beranda
- Stories from the Heart
Claudya.
...
TS
kevinadr04
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baru
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
INDEX
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
Spoiler for :
INDEX
Spoiler for :
Diubah oleh kevinadr04 01-10-2015 04:14
anasabila memberi reputasi
1
9.5K
61
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kevinadr04
#60
Hobi Baru Rhino
Di atas meja coklat dengan ukiran khas jawa, Rhino membuka laptopnya. Rhino sedang asik dengan hobi barunya, photography dan mengedit. Aku dan fajar tidak dihiraukan sama sekali sejak awal datang ke kamarnya dan duduk di atas kursi buluk yang warnanya sudah mulai tidak jelas ini.
“Luh nggak kelar-kelar apa, lay?” tanyaku yang sudah mulai tidak sabaran dengan Rhino.
“Tau, udah selesai belom sih lu, nyet? Laper nih gue nungguin lu doang.” Fajar juga sudah mulai bosan yang daritadi tidak di tanggapi.
“Bentar.. lu kalo mau makan ambil aja di bawah, jar. Nggak ada siapa-siapa kok.” Ucap Rhino tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami berdua.
“Mau makan pake apaan? Emangnya emak lu masak? laper banget nih gue.” Fajar memegangi perutnya yang mulai perih.
“Masak, tadi sebelum berangkat kerja. Liat dulu apa ke bawah, jangan gerutu mulu kayak Kevin.” Rhino akhirnya memalingkan wajahnya ke arah kami.
“Kebawah dulu, ah..” Fajar bangkit dari tempat dudukunya.
Fajar kemudian langsung bergegas turun ke bawah untuk mengecek ada menu apa yang tersaji di atas meja makannya Rhino, aku yang bosan daritadi melihat Rhino sibuk sendiri dengan laptopnya memilih untuk ikut dengan Fajar mencari makan di dapurnya.
“Nyokapnya masak apaan, Jar?” tanyaku pada Fajar yang tengah membuka tudung saji.
“Enak nih, ada udang saus tiram, tempe mendoan sama ikan mujaer. Tapi ikan mujairnya belom di goreng nih, lu mau goreng dulu?”
“Kesukaan gue nih, gapapa, goreng dulu.” Aku begitu bersemangat untuk urusan goreng menggoreng, “Bilang dulu sama Rhino, boleh di goreng nggak nih ikan mujaernya.” Sambungku.
Fajar berlari ke kamar Rhino, menanyakan ikan tersebut. Apakah boleh kita goreng atau tidak, takutnya jika sudah di goreng semua, tapi ternyata ikan ini memang disediakan untuk makan malam keluarga. Repot sendiri nanti.
“No..” Fajar memanggil Rhino yang tengah asik sibuk melihat-lihat hasil jepretannya dengan kedua kupingnya disumpal headphone.
“No..”Fajar meninggikan nadanya tapi Rhino masih belum mendengar juga.
“HEH! BUDEK! JANGAN PAKE HEADPHONE MULUUU..” Fajar membuka headphonenya sebelah, lalu berteriak tepat di telinganya.
“Apaansi lu?” Rhino terlihat begitu kesal.
“Itu ikan di bawah boleh gue goreng, nggak? Soalnya mau gue goreng nih sama Kevin.” Fajar memberitahu Rhino.
“Goreng aja, itu juga buat lu berdua kok. tadi nyokqp gue titip pesen, kalo mau goreng buat makan, goreng aja.” Rhino langsung menyuruh kita untuk melanjutkan memasak ikan tersebut, “Lho, Kevin mana?” sambungnya.
“Dibawah, dia lagi nungguin gue ini. Jadi ikannya boleh gue goreng, nih?” tanya Fajar sekali lagi, mencoba memastikan.
“Iya, cerewet. Nanya mulu luh, ah. Udah sana cepetan..” usir Rhino yang tidak ingin di ganggu.
“GORENGIN GUE SEKALIANN..” Rhino berteriak dari kamarnya.
Fajar yang sudah tidak tahan karena harus menahan lapar, langsung turun secepat mungkin menghampiriku yang daritadi sudah menunggu di dapur, disusul jawaban singkat atasan ucapan rhino barusan, “IYAA..”
“Gimana? Boleh nggak nih dimasak?” tanyaku begitu melihat fajar baru turun dari tangga.
“Masak aja, itu ikan emang di sediain buat kita. Itu ditempatnya kan ada enam, goreng aja tiga buat kita.”
“Emang Rhino mau juga?”
“Mau, tadi lu nggak denger dia teriak.”
Selesai menggoreng ikan tersebut sampai garing, kami berdua langsung menyendok nasi yang ada di rice cooker. kami berdua sedikit kesal kepada Rhino karena ia baru turun saat ikan yang kita goreng sudah matang dan tidak membantu sama sekali.
“Enak nih, ikannya. Garing.” Ucap Rhino melahap ikan yang tadi aku goreng.
“Yaa enak, lah. Orang tinggal makannnn.. gimana nggak enak ya, Jar?” Sindirku tanpa menoleh ke arah Rhino.
“Jadi nggak ikhlas nih gorenginnya?” tanyanya melirik kepadaku.
“Ikhlas.. Ikhlas..” Fajar ikut menyindir sambil menyengir.
“Nanti temenin gue, yok? Hunting.” Ajak Rhino.
“Ogahh, gue nggak mau jadi orang bego yang cuma ngeliatin luh. Luh sendiri aja sono sama kamera kesayangan luh yang baru itu.” Aku langsung meninggalkannya ke dapur untuk mencuci piring..
“Ah, gitu banget lu. Nggak prend nih kita.” Ucap Rhino sudah ada di sebelahku yang tengah mencuci piring sambil membuang tulang-tulang ikan di tempat sampah.
“Lu tanya Fajar aja dah sono, males gue. Daritadi aja gue udah dibikin kayak orang bego berdua dia.” Aku menaruh piring kembali pada tempatnya, lalu keluar ke garasi untuk sekadar mencari angin.
“NO!! TOLONG AMBILIN GUE AER MINUM SEKALIAN..” aku berteriak dari garasi rumahnya karena lupa tadi tidak minum terlebih dahulu setelah makan.
“Dio ngajaken kamono emeng, Vin?” Ucap Fajar tidak jelas sambil memasukan tangannya ke dalam mulut ada yang menyangkut di giginya.
“Ngomong apaansik luh?”
Fajar mengeluarkan tangannya dari dalam mulut, “Dia ngajakin kemana emang!?” ia mengulangi kata-katanya.
“Idihh.. jorok banget dah luh.” aku menatap jijik padanya.
“Nyangkut nih daging ikannya di gigi gue.” Fajar kembali memasukkan jarinya ke dalam mulut.
“Lagi hari gini masih ada aja gigi yang bolong, dih..” aku langsung masuk ke dalam meninggalkannya sendiri di garasi rumah Rhino.
“Nih.. minum lu,” Rhino memberikan segelas air mineral padaku, “lu nggak ada rokok apa, Vin? Asem banget mulut gue.” sambungnya.
“Kan rokoknya tadi masih ada di kamar luh.” ucapku sambil menunjuk ke atas kamarnya.
“Oh, iya. Gue ambil dulu dahh..” Rhino langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil rokok yang masih ada di kamarnya.
Aku melihat handphoneku yang tadi ku taruh di meja bergetar, ku kira itu hanya sebuah pesan. Namun getaran handphoneku begitu lama, pertanda bahwa ada panggilan masuk di handphoneku. Aku cepat-cepat mengambil handphoneku dari atas meja sebelum panggilan itu mati. Saat kulihat ke layar handphone ternyata yang menelepon (lagi-lagi) Zara.
“Kenapa?” tanyaku langsung saat ku tekan tombol jawab.
“Lo lagi dimana?” Tanyanya dari seberang telepon.
“Lagi dirumah Rhino, ada apa sih?”
“Pengen ngajak main. Hehe” ucapnya sambil cekikikan.
“Hazz.. yaudah lu kesini aja, gue kirimin alamat rumahnya nanti lewat sms.”
“Oke.” Langsung dimatikan teleponnya oleh Zara.
Fajar masuk kembali ke dalam rumah dan sudah berdiri sebelahku setelah tadi mengakali sisa-sisa makanan yang tersangkut dimulutnya, benar-benar menjijikan! Aku mengirimkan alamat rumah Rhino kepada Zara seperti yang tadi sudah kujanjikan.
“Siapa Vin yang nelpon?” tanya Fajar.
“Biasa. Anak ngeselinn..” aku duduk di sofa ruang tamu rumah Rhino.
“Oh. Ada apaan dia siang-siang gini nelpon? Tumben.” Ucapnya keheranan.
“Ngajak maenn..”
“Terus?”
“Nanya mulu luh ah, nanti juga kesini.”
Aku meninggalkan Fajar sendiri di sofa ruang tamu, menuju dapur. Malas juga mengobrol lama-lama dengan dia, terlalu banyak tanya. Bikin kepala pusing saja.
“Mau kemana luh?” tanya Fajar.
“BIKIN KOPI!!” Jawabku sambil berteriak dari dapur.
“Ngapain lu, Vin?” tanya Rhino tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Bikin kopi, nehh.. luh nggak liat?” jawabku sambil menunjukkan gelas yang sudah kumasukkan kopi dan gula.
“Buatin gue sekalian, Vin.” Ucapnya sambil menaruh gelas di atas meja dapur lalu langsung pergi menuju ke ruang tamu.
“Ahh.. anak setan! Gue aja males banget bikin kopi sendiri. Ini lagi malah minta buatin juga.” Aku menggerutu sendiri di dapur begitu kesal.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
“Halo, kenapa!?”
“Gue udah deket rumahnya Rhino, nih. lo keluar dong.”
“Yaudah, gue tunggu depan rumahnya nih.”
Aku bergegas keluar lewat pintu dapur yang langsung menuju ke pintu gerbang, tanpa memikirkan kopi yang sama sekali belum ku aduk karena mendapat telepon dari Zara. aku menunggu di pintu gerbang rumah Rhino layaknya penjaga rumah yang tengah menunggu majikannya pulang. “Ah, Syitt! Lama banget sik nih perempuan, katanya udah deket rumah rhino.” keluhku sambil melihat layar handphone.
Tak lama sebuah mobil sedan berwarna abu-abu yang sudah sangat ku kenal berhenti tepat di depan tempat aku berdiri.
“Mas, mau tanya. rumahnya Rhino dimana, ya?” Tanya Zara sambil membuka kaca mobilnya setengah.
“Masih jauh, mbak. Masih ada satu kilo lagi.” Jawabku cuek.
Zara tertawa mendengar jawaban ngacoku barusan, “Haha. Bukain pintunya woy, mobil mau gue taro mana ini.”
“Iya, bawel.”
Aku mendorong pintu gerbang rumah Rhino yang beratnya seperti rumah tua tak diurus ini, benar-benar berat. Percuma rumah gede kalo gerbangnya ngeselin kayak begini, mending tak usah pake gerbang sekalian!
“Dirumahnya ada siapa, Vin?” tanya Zara saat mengunci mobilnya.
“Nggak ada siapa-siapa, cuma ada Fajar sama Rhino doang.” Aku menutup pintu gerbang kecilnya tak lupa menggemboknya.
“Oh..”
“Yuk, masukk..” ajakku pada Zara untuk masuk ke dalam.
Rhino memandang ke arah Fajar ketika melihat kedatangan Zara kerumahnya, aku tau apa yang ada di pikiran Rhino, ia heran! Karena sebelumnya belum kuberitahu kalau Zara mau datang kerumahnya, sementara Fajar memang sudah tau sejak mendengar pembicaraanku di telepon tadi.
“Eh, ada Zara.” ucap Fajar sambil bersalaman dengannya.
“Eh, hai..” sapa Zara.
“Vin, kopi yang tadi lu buat mana? Gue cariin di meja nggak ada.” Tanya Rhino.
“Astaga! Gue lupa, kopinya masih ada di dapur, No!” aku lupa kalau kopinya masih ada di dapur, belum sempat kubawa ke meja karena tadi ada telepon dari Zara, “Bentar, gue ambil dulu.” Aku mengambil kopi tersebut dari dapur.
Fajar, Rhino dan Zara sudah mulai mengobrol tidak seperti kemarin-kemarin yang masih sedikit kaku jika bertemu, aku menenteng dua gelas kopi panas yang kini sudah menjadi hangat karena sudah terlalu lama di diamkan di dapur.
“Huekk.. kopi apaan nih, Vin?” ucap Rhino saat baru mencoba kopi tersebut, “Belum lu aduk yaa? Ngeres banget gini.”
Aku mencoba mengingat-ingat kopi tersebut apakah sudah di aduk, “Hehe. Iya, lupa gue aduk tadi.” Jawabku sambil menyengir bodoh.
“Pantesan aja, gue ambil sendok dulu dah.” Rhino langsung menuju ke dapur untuk mengambil sendok.
“BUATIN ES TEH SEKALIAN, BUAT ZARA..” Teriakku dari ruang tamu.
Rhino kembali ke ruang tamu menenteng segelas es teh dan juga sendok untuk mengaduk kopi yang tadi lupa ku aduk, ia menaruh es teh tersebut di atas meja dan mengaduk-aduk kopinya hingga merata semua.
“Kalian nggak ada acara?” tanya Zara membuka pembicaraan.
Aku memandang Rhino dan Fajar lebih dulu, mereka memberikan isyarat “Hmm.. kayaknya sih nggak.”
“Tadi sih Kevin sama Fajar gue ajakin hunting foto, tapi mereka pada males katanya.” Rhino ikut menimbrung pembicaraan.
“Wahh.. kebetulan. Gue juga bawa kamera tuh di mobil, sekalian aja yuk.”
Aku dan Fajar yang tadinya malas hanya bisa pasrah ketika Zara bilang ia juga membawa kamera di mobilnya. Aku menyandarkan pundakku di sofa memberi kode kalau aku sedang malas kemana-mana.
“Hoamm..”
“Vin, nggak usah pura-pura nggak denger deh, lo.” Sindir Zara padaku yang tengah leha-leha di sofa.
“Iya.. iya..” aku bangun dari tiduranku.
“Yaudah, gue ngambil kamera dulu di kamar.” Rhino begitu bersemangat bangun dari tempat duduknya.
“Yaelah, buru-buru amat. Kopi gue aja belum gue minum.” Ketusku.
“Biar langsung jalan, Vin.” Ucap Rhino.
“Ter-se-rah.” Balasku.
Tak perlu ditanyakan bagaimana kisah kami selanjutnya, sudah pasti aku dan Fajar hanya termenung bego di sudut taman sambil minum es jeruk melihat mereka berdua asik sendiri dengan kameranya. Jangankan diajak foto bersama, di tegur pun tidak!
Setelah mereka sudah cukup puas dengan foto-fotonya, baru kami diajak untuk foto bersama, itu juga karena disindir oleh Fajar yang sudah mulai bosan menunggu ketidak pastian. Aku melihat-lihat di kamera Rhino ada foto yang membuatku tertarik, foto aku bersama Zara sedang duduk berdua di bangku taman, aku membuang muka sementara Zara bergaya dengan tali kamera yang masih melingkar di lehernya. Sepertinya foto ini ingin aku cetak untuk kupajang di dinding kamar sebagai kenang-kenangan menggambarkan aku yang sudah mulai bosan dan Zara yang periang.
“Luh nggak kelar-kelar apa, lay?” tanyaku yang sudah mulai tidak sabaran dengan Rhino.
“Tau, udah selesai belom sih lu, nyet? Laper nih gue nungguin lu doang.” Fajar juga sudah mulai bosan yang daritadi tidak di tanggapi.
“Bentar.. lu kalo mau makan ambil aja di bawah, jar. Nggak ada siapa-siapa kok.” Ucap Rhino tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami berdua.
“Mau makan pake apaan? Emangnya emak lu masak? laper banget nih gue.” Fajar memegangi perutnya yang mulai perih.
“Masak, tadi sebelum berangkat kerja. Liat dulu apa ke bawah, jangan gerutu mulu kayak Kevin.” Rhino akhirnya memalingkan wajahnya ke arah kami.
“Kebawah dulu, ah..” Fajar bangkit dari tempat dudukunya.
Fajar kemudian langsung bergegas turun ke bawah untuk mengecek ada menu apa yang tersaji di atas meja makannya Rhino, aku yang bosan daritadi melihat Rhino sibuk sendiri dengan laptopnya memilih untuk ikut dengan Fajar mencari makan di dapurnya.
“Nyokapnya masak apaan, Jar?” tanyaku pada Fajar yang tengah membuka tudung saji.
“Enak nih, ada udang saus tiram, tempe mendoan sama ikan mujaer. Tapi ikan mujairnya belom di goreng nih, lu mau goreng dulu?”
“Kesukaan gue nih, gapapa, goreng dulu.” Aku begitu bersemangat untuk urusan goreng menggoreng, “Bilang dulu sama Rhino, boleh di goreng nggak nih ikan mujaernya.” Sambungku.
Fajar berlari ke kamar Rhino, menanyakan ikan tersebut. Apakah boleh kita goreng atau tidak, takutnya jika sudah di goreng semua, tapi ternyata ikan ini memang disediakan untuk makan malam keluarga. Repot sendiri nanti.
“No..” Fajar memanggil Rhino yang tengah asik sibuk melihat-lihat hasil jepretannya dengan kedua kupingnya disumpal headphone.
“No..”Fajar meninggikan nadanya tapi Rhino masih belum mendengar juga.
“HEH! BUDEK! JANGAN PAKE HEADPHONE MULUUU..” Fajar membuka headphonenya sebelah, lalu berteriak tepat di telinganya.
“Apaansi lu?” Rhino terlihat begitu kesal.
“Itu ikan di bawah boleh gue goreng, nggak? Soalnya mau gue goreng nih sama Kevin.” Fajar memberitahu Rhino.
“Goreng aja, itu juga buat lu berdua kok. tadi nyokqp gue titip pesen, kalo mau goreng buat makan, goreng aja.” Rhino langsung menyuruh kita untuk melanjutkan memasak ikan tersebut, “Lho, Kevin mana?” sambungnya.
“Dibawah, dia lagi nungguin gue ini. Jadi ikannya boleh gue goreng, nih?” tanya Fajar sekali lagi, mencoba memastikan.
“Iya, cerewet. Nanya mulu luh, ah. Udah sana cepetan..” usir Rhino yang tidak ingin di ganggu.
“GORENGIN GUE SEKALIANN..” Rhino berteriak dari kamarnya.
Fajar yang sudah tidak tahan karena harus menahan lapar, langsung turun secepat mungkin menghampiriku yang daritadi sudah menunggu di dapur, disusul jawaban singkat atasan ucapan rhino barusan, “IYAA..”
“Gimana? Boleh nggak nih dimasak?” tanyaku begitu melihat fajar baru turun dari tangga.
“Masak aja, itu ikan emang di sediain buat kita. Itu ditempatnya kan ada enam, goreng aja tiga buat kita.”
“Emang Rhino mau juga?”
“Mau, tadi lu nggak denger dia teriak.”
Selesai menggoreng ikan tersebut sampai garing, kami berdua langsung menyendok nasi yang ada di rice cooker. kami berdua sedikit kesal kepada Rhino karena ia baru turun saat ikan yang kita goreng sudah matang dan tidak membantu sama sekali.
“Enak nih, ikannya. Garing.” Ucap Rhino melahap ikan yang tadi aku goreng.
“Yaa enak, lah. Orang tinggal makannnn.. gimana nggak enak ya, Jar?” Sindirku tanpa menoleh ke arah Rhino.
“Jadi nggak ikhlas nih gorenginnya?” tanyanya melirik kepadaku.
“Ikhlas.. Ikhlas..” Fajar ikut menyindir sambil menyengir.
“Nanti temenin gue, yok? Hunting.” Ajak Rhino.
“Ogahh, gue nggak mau jadi orang bego yang cuma ngeliatin luh. Luh sendiri aja sono sama kamera kesayangan luh yang baru itu.” Aku langsung meninggalkannya ke dapur untuk mencuci piring..
“Ah, gitu banget lu. Nggak prend nih kita.” Ucap Rhino sudah ada di sebelahku yang tengah mencuci piring sambil membuang tulang-tulang ikan di tempat sampah.
“Lu tanya Fajar aja dah sono, males gue. Daritadi aja gue udah dibikin kayak orang bego berdua dia.” Aku menaruh piring kembali pada tempatnya, lalu keluar ke garasi untuk sekadar mencari angin.
“NO!! TOLONG AMBILIN GUE AER MINUM SEKALIAN..” aku berteriak dari garasi rumahnya karena lupa tadi tidak minum terlebih dahulu setelah makan.
“Dio ngajaken kamono emeng, Vin?” Ucap Fajar tidak jelas sambil memasukan tangannya ke dalam mulut ada yang menyangkut di giginya.
“Ngomong apaansik luh?”
Fajar mengeluarkan tangannya dari dalam mulut, “Dia ngajakin kemana emang!?” ia mengulangi kata-katanya.
“Idihh.. jorok banget dah luh.” aku menatap jijik padanya.
“Nyangkut nih daging ikannya di gigi gue.” Fajar kembali memasukkan jarinya ke dalam mulut.
“Lagi hari gini masih ada aja gigi yang bolong, dih..” aku langsung masuk ke dalam meninggalkannya sendiri di garasi rumah Rhino.
“Nih.. minum lu,” Rhino memberikan segelas air mineral padaku, “lu nggak ada rokok apa, Vin? Asem banget mulut gue.” sambungnya.
“Kan rokoknya tadi masih ada di kamar luh.” ucapku sambil menunjuk ke atas kamarnya.
“Oh, iya. Gue ambil dulu dahh..” Rhino langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil rokok yang masih ada di kamarnya.
Aku melihat handphoneku yang tadi ku taruh di meja bergetar, ku kira itu hanya sebuah pesan. Namun getaran handphoneku begitu lama, pertanda bahwa ada panggilan masuk di handphoneku. Aku cepat-cepat mengambil handphoneku dari atas meja sebelum panggilan itu mati. Saat kulihat ke layar handphone ternyata yang menelepon (lagi-lagi) Zara.
“Kenapa?” tanyaku langsung saat ku tekan tombol jawab.
“Lo lagi dimana?” Tanyanya dari seberang telepon.
“Lagi dirumah Rhino, ada apa sih?”
“Pengen ngajak main. Hehe” ucapnya sambil cekikikan.
“Hazz.. yaudah lu kesini aja, gue kirimin alamat rumahnya nanti lewat sms.”
“Oke.” Langsung dimatikan teleponnya oleh Zara.
Fajar masuk kembali ke dalam rumah dan sudah berdiri sebelahku setelah tadi mengakali sisa-sisa makanan yang tersangkut dimulutnya, benar-benar menjijikan! Aku mengirimkan alamat rumah Rhino kepada Zara seperti yang tadi sudah kujanjikan.
“Siapa Vin yang nelpon?” tanya Fajar.
“Biasa. Anak ngeselinn..” aku duduk di sofa ruang tamu rumah Rhino.
“Oh. Ada apaan dia siang-siang gini nelpon? Tumben.” Ucapnya keheranan.
“Ngajak maenn..”
“Terus?”
“Nanya mulu luh ah, nanti juga kesini.”
Aku meninggalkan Fajar sendiri di sofa ruang tamu, menuju dapur. Malas juga mengobrol lama-lama dengan dia, terlalu banyak tanya. Bikin kepala pusing saja.
“Mau kemana luh?” tanya Fajar.
“BIKIN KOPI!!” Jawabku sambil berteriak dari dapur.
“Ngapain lu, Vin?” tanya Rhino tiba-tiba sudah ada di belakangku.
“Bikin kopi, nehh.. luh nggak liat?” jawabku sambil menunjukkan gelas yang sudah kumasukkan kopi dan gula.
“Buatin gue sekalian, Vin.” Ucapnya sambil menaruh gelas di atas meja dapur lalu langsung pergi menuju ke ruang tamu.
“Ahh.. anak setan! Gue aja males banget bikin kopi sendiri. Ini lagi malah minta buatin juga.” Aku menggerutu sendiri di dapur begitu kesal.
Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..
“Halo, kenapa!?”
“Gue udah deket rumahnya Rhino, nih. lo keluar dong.”
“Yaudah, gue tunggu depan rumahnya nih.”
Aku bergegas keluar lewat pintu dapur yang langsung menuju ke pintu gerbang, tanpa memikirkan kopi yang sama sekali belum ku aduk karena mendapat telepon dari Zara. aku menunggu di pintu gerbang rumah Rhino layaknya penjaga rumah yang tengah menunggu majikannya pulang. “Ah, Syitt! Lama banget sik nih perempuan, katanya udah deket rumah rhino.” keluhku sambil melihat layar handphone.
Tak lama sebuah mobil sedan berwarna abu-abu yang sudah sangat ku kenal berhenti tepat di depan tempat aku berdiri.
“Mas, mau tanya. rumahnya Rhino dimana, ya?” Tanya Zara sambil membuka kaca mobilnya setengah.
“Masih jauh, mbak. Masih ada satu kilo lagi.” Jawabku cuek.
Zara tertawa mendengar jawaban ngacoku barusan, “Haha. Bukain pintunya woy, mobil mau gue taro mana ini.”
“Iya, bawel.”
Aku mendorong pintu gerbang rumah Rhino yang beratnya seperti rumah tua tak diurus ini, benar-benar berat. Percuma rumah gede kalo gerbangnya ngeselin kayak begini, mending tak usah pake gerbang sekalian!
“Dirumahnya ada siapa, Vin?” tanya Zara saat mengunci mobilnya.
“Nggak ada siapa-siapa, cuma ada Fajar sama Rhino doang.” Aku menutup pintu gerbang kecilnya tak lupa menggemboknya.
“Oh..”
“Yuk, masukk..” ajakku pada Zara untuk masuk ke dalam.
Rhino memandang ke arah Fajar ketika melihat kedatangan Zara kerumahnya, aku tau apa yang ada di pikiran Rhino, ia heran! Karena sebelumnya belum kuberitahu kalau Zara mau datang kerumahnya, sementara Fajar memang sudah tau sejak mendengar pembicaraanku di telepon tadi.
“Eh, ada Zara.” ucap Fajar sambil bersalaman dengannya.
“Eh, hai..” sapa Zara.
“Vin, kopi yang tadi lu buat mana? Gue cariin di meja nggak ada.” Tanya Rhino.
“Astaga! Gue lupa, kopinya masih ada di dapur, No!” aku lupa kalau kopinya masih ada di dapur, belum sempat kubawa ke meja karena tadi ada telepon dari Zara, “Bentar, gue ambil dulu.” Aku mengambil kopi tersebut dari dapur.
Fajar, Rhino dan Zara sudah mulai mengobrol tidak seperti kemarin-kemarin yang masih sedikit kaku jika bertemu, aku menenteng dua gelas kopi panas yang kini sudah menjadi hangat karena sudah terlalu lama di diamkan di dapur.
“Huekk.. kopi apaan nih, Vin?” ucap Rhino saat baru mencoba kopi tersebut, “Belum lu aduk yaa? Ngeres banget gini.”
Aku mencoba mengingat-ingat kopi tersebut apakah sudah di aduk, “Hehe. Iya, lupa gue aduk tadi.” Jawabku sambil menyengir bodoh.
“Pantesan aja, gue ambil sendok dulu dah.” Rhino langsung menuju ke dapur untuk mengambil sendok.
“BUATIN ES TEH SEKALIAN, BUAT ZARA..” Teriakku dari ruang tamu.
Rhino kembali ke ruang tamu menenteng segelas es teh dan juga sendok untuk mengaduk kopi yang tadi lupa ku aduk, ia menaruh es teh tersebut di atas meja dan mengaduk-aduk kopinya hingga merata semua.
“Kalian nggak ada acara?” tanya Zara membuka pembicaraan.
Aku memandang Rhino dan Fajar lebih dulu, mereka memberikan isyarat “Hmm.. kayaknya sih nggak.”
“Tadi sih Kevin sama Fajar gue ajakin hunting foto, tapi mereka pada males katanya.” Rhino ikut menimbrung pembicaraan.
“Wahh.. kebetulan. Gue juga bawa kamera tuh di mobil, sekalian aja yuk.”
Aku dan Fajar yang tadinya malas hanya bisa pasrah ketika Zara bilang ia juga membawa kamera di mobilnya. Aku menyandarkan pundakku di sofa memberi kode kalau aku sedang malas kemana-mana.
“Hoamm..”
“Vin, nggak usah pura-pura nggak denger deh, lo.” Sindir Zara padaku yang tengah leha-leha di sofa.
“Iya.. iya..” aku bangun dari tiduranku.
“Yaudah, gue ngambil kamera dulu di kamar.” Rhino begitu bersemangat bangun dari tempat duduknya.
“Yaelah, buru-buru amat. Kopi gue aja belum gue minum.” Ketusku.
“Biar langsung jalan, Vin.” Ucap Rhino.
“Ter-se-rah.” Balasku.
Tak perlu ditanyakan bagaimana kisah kami selanjutnya, sudah pasti aku dan Fajar hanya termenung bego di sudut taman sambil minum es jeruk melihat mereka berdua asik sendiri dengan kameranya. Jangankan diajak foto bersama, di tegur pun tidak!
Setelah mereka sudah cukup puas dengan foto-fotonya, baru kami diajak untuk foto bersama, itu juga karena disindir oleh Fajar yang sudah mulai bosan menunggu ketidak pastian. Aku melihat-lihat di kamera Rhino ada foto yang membuatku tertarik, foto aku bersama Zara sedang duduk berdua di bangku taman, aku membuang muka sementara Zara bergaya dengan tali kamera yang masih melingkar di lehernya. Sepertinya foto ini ingin aku cetak untuk kupajang di dinding kamar sebagai kenang-kenangan menggambarkan aku yang sudah mulai bosan dan Zara yang periang.
0