- Beranda
- Stories from the Heart
Claudya.
...
TS
kevinadr04
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baru
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
INDEX
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
Spoiler for :
INDEX
Spoiler for :
Diubah oleh kevinadr04 01-10-2015 04:14
anasabila memberi reputasi
1
9.5K
61
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kevinadr04
#57
Miss Shopper
Nggak cuma cowok aja yang kadang omongannya nggak bisa di pegang, ternyata cewek juga! Itulah ungkapan rasa kekesalanku pada orang yang dari pertama datang kerumahku sampai pergi ke mall. Bener-bener bencana hari ini. Baru juga sampai di dalam mall, mata Zara langsung seperti burung elang yang tengah memburu mangsanya. Ya! Tidak jauh-jauh yang dicari oleh perempuan adalah diskon! Mau berapapun harganya, kalo ada tulisan diskonnya harus disamperin. Padahal kalo dilihat-lihat itu bukan diskon, tapi memang harga aslinya.
“Eh, Vin. Lihat-lihat kesana dulu, yuk. Sebentar doang, kayaknya bagus-bagus deh tuh.”
Tidak perlu mendengar jawaban dariku, tangan ini langsung di tarik olehnya menuju tempat yang ia bilang. Aku yang saat itu sudah berjanji ingin menemani hanya bisa pasrah, dan berharap agar bencana diskon ini cepat berakhir. Dari dulu aku tidak pernah percaya dengan kata “SEBENTAR” nya wanita kalau ia sedang berbelanja. Sebab, sebentar-bentarnya wanita yang lagi berbelanja, paling sebentar itu setengah jam! Dan itu juga karena sudah tidak ada lagi barang yang menarik, alias sudah habis yang bagusnya. makanya ia hanya setengah jam.
“Tunggu yaa, Vin. Gue mau lihat-lihat dulu..” Ucapnya singkat, lalu langsung mengeluyur pergi begitu saja.
“Haduhh.. tamat udah riwayat gue.” Batinku.
Ditinggal lah aku seorang diri, dan ia langsung pergi tanpa memikirkanku. Layaknya emak-emak yang sedang mengajak anaknya pergi ke mall dengan iming-iming akan dibelikan mainan, padahal kenyataannya emaknya asik berbelanja, sementara sang anak disuruh menunggu.. sampai bego!
Aku yang saat itu sudah mulai bosan menunggu Zara yang tidak tahu kapan selesainya, memutuskan untuk mencari minum karena kebetulan aku juga sangat haus. Sudah setengah jam lebih, ia tak selesai-selesai juga.
Send to Zara : “Gue keluar bentar. Mau cari minum, sekalian pengen ngerokok. Bosen gue nungguin luh, lama banget udah kek emak-emak lagi pengen lebaran.”
Tidak peduli mau ia baca pesanku atau tidak, yang penting aku bisa cepat-cepat keluar dari bencana ini. Aku mencari warung untuk melepas dahaga yang daritadi sudah menahan di tenggorokan. Selesai melepas dahaga, aku langsung membakar rokok yang tadi kubawa dari rumah. lagi asik-asiknya merokok di samping warung tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Ah, palingan ini Zara, sudah selesai belanjanya.
“Hehh..” ucapnya sambil menepuk pundakku.
Sebentar, kok Zara suaranya kenapa jadi ngebass gini!? Sejak kapan dia berubah jadi laki!? Aku membalikkan badan, untuk memastikan, apa iya Zara berubah jadi laki? ternyata yang menepuk pundakku adalah Emul, salah seorang sahabatku selain Fajar yang sudah kuceritakan sebelumnya.
“Ngapain lu disini? Udah kayak anak ilang aja ngerokok sendirian. Haha” Ucapnya sambil menarik bangku yang ada di sebelahku.
“Bete gue di dalem. Nungguin temen gue nggak kelar-kelar daritadi. Kampret banget tuh anak.” Keluhku.
“Temen lu apa cewek lu, nih?” tanyanya sambil senyam-senyum ke arahku.
“Temen. Sumpah gedek banget gue sama ini orang daritadi, udah kayak orang begok gue di dalem nungguin dia.” Aku menengguk air mineralku yang masih ku genggam di tangan.
“Laki apa cewek? Kalo laki mah tinggal aja. Haha”
“Cewek, lah. Kalo laki ngapain juga gue nungguin sampe lumutan gini, mending gue tinggal pulang terus bobo dah. Haha” ucapku, “Nah, luh sendiri ngapain disini?”
“Lagi nungguin cewek gue. Yaa sama lah kayak lu gini. Haha” Emul tertawa.
“Yah, senasib dah kita.” Ucapku singkat, kemudian disusul tawa kita berdua.
Kami berdua mengobrol ngalor ngidul di warung depan mall, untuk apa kita berdua berdandan rapih-rapih begini kalau ujung-ujungnya hanya nongkrong di warung pinggir jalan. Mendingan berpenampilan santai kayak biasa, daripada rapih-rapih gini. Sudah setengah jam aku lewati bersama Emul di warung. Itu artinya sudah satu jam Zara belum juga selesai, begitu pun pacarnya Emul.
Drrtt.. Drrtt..
Zara : “Lo dimana, Vin? Gue udah selesai nih.”
Send to Zara : “Gue di depan. Luh keluar aja, nanti juga ngeliat gue lagi di warung.”
Tak lama aku mengirim balasan pesan, ia sudah ada di depanku dan pastinya dengan tentengan di tangan yang begitu banyak. Entah belanja apa ini orang kenapa kantongnya bisa sampe enam kantong plastic sedang begini.
“Udah dari tadi lo disini?” tanyanya sambil tertawa kecil kemudian duduk di sebelahku.
“Enggak. Cuma setengah jam lebih doang gue disini.” Aku mengepulkan asap putih dari mulutku.
“Ngerokok mulu lo ah, udah kayak aki-aki.” Ia menggerutu menutup hidungnya dengan tangan.
“Cerewet.” Aku melempar rokok yang tadi kuhisap ke dalam got, “nihh.. buat luh.” aku memberikan minum untuknya.
“Makasih.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Eh, kenalin nih temen gue..” Aku mencoba memperkenalkan Emul padanya.
“Zara..”
“Emul..”
Mereka berdua saling bersalaman satu sama lain dan setelah mereka berdua bersalaman, suasana langsung hening tanpa sepatah kata pun. Mungkin karena semuanya merasa canggung.
“Cewek lo nggak selesai-selesai, Mul?” tanyaku memecahkan keheningan.
“Nggak tau nih, tadi udah gue sms, sih. Kalo gue lagi ada di warung depan mall.” Jawabnya sambil melihat jam tangannya.
“Itu dia..” ucap Emul sambil menunjuk salah seorang wanita yang sedang berjalan ke arah kami.
“Cakep juga nih anak ceweknya, biasanya nggak beres mulu.” Pikirku.
Bukan bermaksud untuk menghina apalagi sampai menikung, tapi memang selama aku kenal dengan Emul, pacarnya rata-rata kurang bagus. entah itu penampilannya, atau tampangnya. Untuk pacarnya Emul yang sekarang ini, dengan perawakan yang tingginya 165cm, rambut sebahu, putih dan wajahnya kulihat masih agak keturunan arab. Maka, aku beri nilai delapan koma lima, dari sepuluh. Kenapa? Karena memang pacarnya Emul yang sekarang idaman hampir semua lelaki! kalau disuruh menggantikannya juga aku sudi, tampangnya pun tidak malu-maluin untuk di ajak ke kondangan. Tak apa lah, kalau sampai harus mengorbankan Claudya. aku rela. Alamak! Mulut ini konslet kali kalau melihat wanita cantik begini. *kemudian disambit ember cucian piring*
“Haii..” sapa cewek tersebut setibanya di depan kami.
“Udah selesai?” tanya Emul.
“Udah kok.” Jawab perempuan tersebut, kemudian duduk di sebelah Emul.
“Vin, kenalin nih, cewek gue.” Emul memperkenalkan pacarnya padaku.
“Rahma..”
“Kevin..”
Kami berdua saling berjabat tangan.
“Udah berapa lama sama Emul, Rah?” tanyaku basa-basi.
“Masih sebentar, kok. Baru tujuh bulan sama Emul.” Jawabnya ramah.
“Wahh.. udah lumayan lama juga, ya.”
“Ya.. begitulah. Hehe” ucapnya malu-malu.
“Udah pernah di apain aja sama Emul selama tujuh bulan pacaran?” tanyaku sembarangan.
Zara dan Emul langsung tertawa mendengar pertanyaan bodohku itu.
“Dodol banget lo kalo nanya.” Zara langsung menoyor kepalaku.
“Tau lo, Vin. Itu kan rahasia perusahaan kalo masalah udah di apain aja. Haha” timpal Emul.
“Yaa.. gue kan cuma nanya, Mul. Haha” ucapku sambil meledek.
“Eh, nongkrong bareng yuk. Dimana kek gitu.” Usulku.
“Mau nongkrong dimana? Di dalem kan ada Starb*cks tuh.” Jawab Zara sambil menunjuk ke arah mall.
“Ah, Ogah. Ujung-ujungnya kalo ke dalem, pasti nanti luh kalap lagi ngeliat diskon. Males banget. Dihh..” sindirku.
Kami berempat langsung tertawa.
“Yaudah, mau nongkrong dimana, Vin?” tanya Emul.
“Nongkrong di Jengkol aja, yuk. Kebetulan gue lagi pengen makan donat nih..” jawabku.
“Itu J.CO, bloon!! Bukan jengkol.” Zarah memukulku dengan botol minum.
“Bodo amat. Mulut, mulut sampah? Wlee..” aku menjulurkan lidah.
“Yaudah, langsung berangkat aja kalo gitu, keburu sore kalo nanti-nanti” Emul langsung bangun dari bangkunya, lalu membalikkan badannya “Eh, tapi di J.CO mana?”
“Di Plaza Adorama aja. sekalian balik juga.” Aku bangun dari tempat dudukku.
“Oh. Yaudah, yuk.” Ucapnya singkat.
Kami berempat menuju ke parkiran untuk mengambil motor masing-masing, dan pastinya aku membantu membawakan barang belanjaan milik Zara. Lagi-lagi aku di kerjai oleh nyonya yang satu ini, nggak tau apa yang di beli oleh nyonya rempong ini. Yang jelas membuat repot sekaligus membuatku malu juga, karena menenteng beginian.
Setelah perjalanan setengah jam lebih, kita berempat sampai di tempat yang kita tuju. Kami sengaja duduk dibagian depan, karena aku dan juga Emul ingin merokok. Kebetulan di depan juga sepi, tidak ada orang. Aku dan Emul meninggalkan mereka berdua untuk memesan minuman dan juga makanan.
“Vin, itu siapa lagi yang lu bawa?” tanya Emul berjalan di sebelahku menuju tempat memesan.
“Kan gue bilang, temen. Yang waktu itu di ceritain sama si Fajar, waktu gue lagi makan ada yang ngajak gabung.” Jawabku.
“Oh. Tumben berani sama cewek? Biasanya kan lu dingin terus takut banget lagi, kalo sama cewek. Haha” Emul tertawa.
“Haha. Sialan. Ini gara-gara dia orangnya asik di ajak ngobrol, Mul. Kalo nggak mah, males juga gue. Lu tau gue kann??” ucapku sambil menaikkan kedua alis.
“Iyalah, gue tau banget. Gue kan kenal lu bukan kemaren sore, tapi dari smp, Men!! Walaupun lu dingin sama cewek, yang ngajarin gue berengsek kan elu. Haha” Emul tertawa.
“Kamprett.”
“Selamat siang. mau pesan apa, Kak?” ucap seorang wanita berparas manis pelayan kasir.
“Mau pesen mbanya aja buat dibawa pulang boleh, nggak? Hehe” Jawab Emul sambil menggoda.
“Huss!! songong banget luh, udah punya cewek juga luh.” aku menyenggol lengannya, sementara kasir tersebut hanya senyam-senyum sendiri menahan tawa.
“Mba, saya mau donatnya setengah lusin.” Ucap Emul.
“Terus minumnya apa, Kak?” tanyanya lagi.
“Hmm.. apaan ya, Vin?” tanya untung sambil melihat papan menu yang ada di depannya.
“Daripada bingung-bingung…” aku mendorong Emul untuk menyingkir, “Mba, saya pesen minuman yang paling sering di beli aja. nggak ngerti juga saya mana yang enak. Biasanya dipesenin mulu. Haha” aku cengesan di depan pelayan tersebut.
“Ah, sama aja kalo gitu. Percuma gue nanya.” gerutu Emul.
“Ssstt!! Diem-diem.”
Mba-mba kasirnya tertawa melihat tingkah kami berdua, “Keseringan yang kayak kakak gini pesan Oreo Freeze, Kak.” Sarannya.
“Yaudah, itu aja deh. Empat ya, mba. Terima kasihh.” Jawabku singkat sambil tersenyum.
Untungnya saat itu keadaan lagi sepi, hanya ada 4 orang saja di dalam dan itu juga tengah sibuk dengan handphonenya masing-masing. Kalau sampai ramai dan ada yang mendengar kami berdua begitu katro, bisa di tertawakan orang banyak.
Selesai memilih donat dan membayar semua, kami kembali ke tempat duduk, untuk menghampiri Zara dan juga Rahma yang daritadi sudah menunggu. Sebelum ke tempat mereka, aku mencicipi minuman yang di pilihkan oleh pelayan tadi.
“Untung rasanya enak, Mul.” Ucapku pada emul setelah mencoba minuman tersebut.
Emul tertawa, “Lu lagian, katro banget.”
“Yee.. lu juga katro, kamprett. Gue kirain lu ngerti kali.”
“Ini minuman dan donatnya, Nyonya-nyonya.” Aku menaruh minuman dan juga donat di meja.
“Haha. Apaansih lo, Vin. Pake nyonya segala.” Celetuk Zara, kemudian ia langsung meminum minuman yang tadi dipilihkan oleh pelayan kasir. “wahh.. tau aja lo minuman yang gue suka.” Sambungnya.
“Iyalah!! siapa dulu yang milihin…” ucapku menyombong.
“Emang siapa yang milih? Pasti temen lo kan?” tanyanya sambil melirik ke arah Emul.
“Bukan.”
“Terus!!??”
“Mba-mba kasirnya.”
“HAHA” kemudian kami berempat langsung tertawa.
“Dasar dongoo!! Haha” Zarah menepuk badanku.
“Abisan gue bingung, mendingan gue minta pilihin sama mbaknya. Haha” aku menyandarkan badanku di kursi.
“Lagi bukan minta temenin gue aja.” ucap Zarah.
“Gamau. Yang ada malah berantem lagi nanti kalo sama luh, gara-gara debat milih minuman doang.” Jawabku.
“Haha. Segitunya banget lo kayaknya sama gue.”
“Emang..” ucapku sambil mengambil donat,
“Makan nih, Rah. Ambil aja, jangan malu-malu.” Tawarku pada Rahma yang ada di hadapanku.
Tiba-tiba Zarah langsung menyambar donat yang ada di meja, “Iya. Makasih, Vin. Gue nggak malu-malu, kok. Ini gue ambil.”
“Yee.. Bahlul! Gue nawarin Rahma, bukan elu. mentang-mentang ada Rah-nya juga, ikutan nyaut. Hih!”
Rahma tertawa melihat kami berdua, “Udah, gapapa kok. Daritadi berantem mulu sih kalian berdua.”
Zara dan Rahma yang awalnya canggung mungkin karena belum terbiasa di antara kami, Zara dan Rahma pun akhirnya mulai berani bercanda. Rahma setelah kulihat-kulihat mirip dengan Zara juga ternyata tingkahnya. Awalnya malu-malu, begitu sudah kenal tidak tau malu.
Sudah satu setengah jam lebih kami habiskan di tempat itu, dan matahari pun sudah mulai tenggelam. Kulihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul lima sore, kami berempat memutuskan untuk membubarkan diri, lagi pula rumah Rahma cukup jauh, kasihan Emul kalau mengantarkannya malam. Walaupun hari ini adalah hari sabtu, yang kata orang hari ini adalah hari yang panjang untuk bersenang-senang.
“Yuk, Zar. Saatnya kita balik kandanggg..” ucapku menunggu ia naik ke motor.
“Yuk!” Zara langsung membonceng di belakangku.
“Luh langsung nganterin Rahma, Mul?” tanyaku.
“Iya, Vin.” Jawabnya singkat.
“Oke, deh. Gue duluan yaa. Luh kan perjalanan masih jauh. Haha” aku langsung menarik gas motor, “JANGAN PAKE MESUM DULU, MULL…” Teriakku.
“Haha. Kelakuan banget lo!!” Zara mengeplak helmku.
Setelah sampai di depan gerbang rumahku, aku langsung turun dari motor Zara tanpa mematikan motornya, dengan maksud agar ia langsung memutar balikkan arah motornya lalu langsung pulang.
“Vin.. Vin.. nanti dulu, deh.” Zara menurunkan standar motornya, kemudian mematikan motornya.
“Kenapa, Zar?” aku melepaskan helm berdiri di sampingnya.
“Bentarr..” Zara memilah-milah bungkusan yang tergantung di motornya, “nih, tadi gue sempet beliin buat lo. Semoga aja pas dan suka, ya!” Zara memberikan sebuah kantong plastic padaku.
Aku membuka kantong tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya, dan ternyata ia membelikanku sebuah topi dan Tshirt berlambangkan CK. Aku tidak kepikiran sama sekali kalau ia sampai membelikan barang untukku. Yang kutahu ia hanya berbelanja, daritadi aku juga tidak ada keinginan untuk melihat apa yang ia beli.
“Wahh.. makasih banget nih, Zar.” Aku memakai topinya dan mencoba mengukur Tshirt yang dibelikannya untukku.
“Huhh.. untung aja pas. Gue takut nggak pas doang tadi. Haha” ucapnya sambil mengelus dada.
“Gue sama sekali nggak kepikiran kalo luh beliin gue, loh. Sumpah!” aku masih tidak menyangka dibalik sifatnya yang ngeselin, ternyata ia masih memikirkanku juga.
“Tadi tuh gue nyariin lo” ucapnya, “tapi begitu gue cariin, lo malah nggak ada. Huh!” ia mendengus kesal.
“Hehe. maaf yaa.” Aku menarik hidung Zara, “abisan gue bete. Luh lama banget selesainya, udah kek emak-emak aja.”
“Namanya juga cewek. Hih!” ia melipatkan kedua tangannya di bawah dada.
“Nggak usah pake bawa-bawa gender, deh.” Sindirku sambil melirik sinis kepadanya.
“Hehe.” ia hanya menyengir bodoh.
“Yaudah, gue langsung pulang aja ya, Vin. Udah mau maghrib juga nih.” Ia menaikkan standarnya dan menyalakan motornya.
“Rumah luh dimana sik?” tanyaku, “kalo jauh mending gue temenin aja.”
“Deket kok dari sini. Di daerah Bangka.” Ia memakai sarung tangan yang entah dari mana asalnya, padahal daritadi tidak memakai sarung tangan.
“Oh, disitu. Deket kalo disitu mah. Yaudah. Hati-hati, Zar.” Aku memasukkan Tshirt kembali ke dalam kantong plastic, “Sekali lagi makasih banyak, nih.” Aku memeluk tubuhnya sebagai tanda terima kasihku, tanpa ada maksud untuk mencuri-curi kesempatan loh, yaa.
“Ah, nggak seberapa, kok.” ia juga menangkap pelukanku, “Yaudah, gue balik dulu, Vin. Salam buat nyokap sama bokap lo, ya.” Ia kemudian langsung memutar balikkan motornya, disusul membunyikan klakson.
“Eh, Vin. Lihat-lihat kesana dulu, yuk. Sebentar doang, kayaknya bagus-bagus deh tuh.”
Tidak perlu mendengar jawaban dariku, tangan ini langsung di tarik olehnya menuju tempat yang ia bilang. Aku yang saat itu sudah berjanji ingin menemani hanya bisa pasrah, dan berharap agar bencana diskon ini cepat berakhir. Dari dulu aku tidak pernah percaya dengan kata “SEBENTAR” nya wanita kalau ia sedang berbelanja. Sebab, sebentar-bentarnya wanita yang lagi berbelanja, paling sebentar itu setengah jam! Dan itu juga karena sudah tidak ada lagi barang yang menarik, alias sudah habis yang bagusnya. makanya ia hanya setengah jam.
“Tunggu yaa, Vin. Gue mau lihat-lihat dulu..” Ucapnya singkat, lalu langsung mengeluyur pergi begitu saja.
“Haduhh.. tamat udah riwayat gue.” Batinku.
Ditinggal lah aku seorang diri, dan ia langsung pergi tanpa memikirkanku. Layaknya emak-emak yang sedang mengajak anaknya pergi ke mall dengan iming-iming akan dibelikan mainan, padahal kenyataannya emaknya asik berbelanja, sementara sang anak disuruh menunggu.. sampai bego!
Aku yang saat itu sudah mulai bosan menunggu Zara yang tidak tahu kapan selesainya, memutuskan untuk mencari minum karena kebetulan aku juga sangat haus. Sudah setengah jam lebih, ia tak selesai-selesai juga.
Send to Zara : “Gue keluar bentar. Mau cari minum, sekalian pengen ngerokok. Bosen gue nungguin luh, lama banget udah kek emak-emak lagi pengen lebaran.”
Tidak peduli mau ia baca pesanku atau tidak, yang penting aku bisa cepat-cepat keluar dari bencana ini. Aku mencari warung untuk melepas dahaga yang daritadi sudah menahan di tenggorokan. Selesai melepas dahaga, aku langsung membakar rokok yang tadi kubawa dari rumah. lagi asik-asiknya merokok di samping warung tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Ah, palingan ini Zara, sudah selesai belanjanya.
“Hehh..” ucapnya sambil menepuk pundakku.
Sebentar, kok Zara suaranya kenapa jadi ngebass gini!? Sejak kapan dia berubah jadi laki!? Aku membalikkan badan, untuk memastikan, apa iya Zara berubah jadi laki? ternyata yang menepuk pundakku adalah Emul, salah seorang sahabatku selain Fajar yang sudah kuceritakan sebelumnya.
“Ngapain lu disini? Udah kayak anak ilang aja ngerokok sendirian. Haha” Ucapnya sambil menarik bangku yang ada di sebelahku.
“Bete gue di dalem. Nungguin temen gue nggak kelar-kelar daritadi. Kampret banget tuh anak.” Keluhku.
“Temen lu apa cewek lu, nih?” tanyanya sambil senyam-senyum ke arahku.
“Temen. Sumpah gedek banget gue sama ini orang daritadi, udah kayak orang begok gue di dalem nungguin dia.” Aku menengguk air mineralku yang masih ku genggam di tangan.
“Laki apa cewek? Kalo laki mah tinggal aja. Haha”
“Cewek, lah. Kalo laki ngapain juga gue nungguin sampe lumutan gini, mending gue tinggal pulang terus bobo dah. Haha” ucapku, “Nah, luh sendiri ngapain disini?”
“Lagi nungguin cewek gue. Yaa sama lah kayak lu gini. Haha” Emul tertawa.
“Yah, senasib dah kita.” Ucapku singkat, kemudian disusul tawa kita berdua.
Kami berdua mengobrol ngalor ngidul di warung depan mall, untuk apa kita berdua berdandan rapih-rapih begini kalau ujung-ujungnya hanya nongkrong di warung pinggir jalan. Mendingan berpenampilan santai kayak biasa, daripada rapih-rapih gini. Sudah setengah jam aku lewati bersama Emul di warung. Itu artinya sudah satu jam Zara belum juga selesai, begitu pun pacarnya Emul.
Drrtt.. Drrtt..
Zara : “Lo dimana, Vin? Gue udah selesai nih.”
Send to Zara : “Gue di depan. Luh keluar aja, nanti juga ngeliat gue lagi di warung.”
Tak lama aku mengirim balasan pesan, ia sudah ada di depanku dan pastinya dengan tentengan di tangan yang begitu banyak. Entah belanja apa ini orang kenapa kantongnya bisa sampe enam kantong plastic sedang begini.
“Udah dari tadi lo disini?” tanyanya sambil tertawa kecil kemudian duduk di sebelahku.
“Enggak. Cuma setengah jam lebih doang gue disini.” Aku mengepulkan asap putih dari mulutku.
“Ngerokok mulu lo ah, udah kayak aki-aki.” Ia menggerutu menutup hidungnya dengan tangan.
“Cerewet.” Aku melempar rokok yang tadi kuhisap ke dalam got, “nihh.. buat luh.” aku memberikan minum untuknya.
“Makasih.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Eh, kenalin nih temen gue..” Aku mencoba memperkenalkan Emul padanya.
“Zara..”
“Emul..”
Mereka berdua saling bersalaman satu sama lain dan setelah mereka berdua bersalaman, suasana langsung hening tanpa sepatah kata pun. Mungkin karena semuanya merasa canggung.
“Cewek lo nggak selesai-selesai, Mul?” tanyaku memecahkan keheningan.
“Nggak tau nih, tadi udah gue sms, sih. Kalo gue lagi ada di warung depan mall.” Jawabnya sambil melihat jam tangannya.
“Itu dia..” ucap Emul sambil menunjuk salah seorang wanita yang sedang berjalan ke arah kami.
“Cakep juga nih anak ceweknya, biasanya nggak beres mulu.” Pikirku.
Bukan bermaksud untuk menghina apalagi sampai menikung, tapi memang selama aku kenal dengan Emul, pacarnya rata-rata kurang bagus. entah itu penampilannya, atau tampangnya. Untuk pacarnya Emul yang sekarang ini, dengan perawakan yang tingginya 165cm, rambut sebahu, putih dan wajahnya kulihat masih agak keturunan arab. Maka, aku beri nilai delapan koma lima, dari sepuluh. Kenapa? Karena memang pacarnya Emul yang sekarang idaman hampir semua lelaki! kalau disuruh menggantikannya juga aku sudi, tampangnya pun tidak malu-maluin untuk di ajak ke kondangan. Tak apa lah, kalau sampai harus mengorbankan Claudya. aku rela. Alamak! Mulut ini konslet kali kalau melihat wanita cantik begini. *kemudian disambit ember cucian piring*
“Haii..” sapa cewek tersebut setibanya di depan kami.
“Udah selesai?” tanya Emul.
“Udah kok.” Jawab perempuan tersebut, kemudian duduk di sebelah Emul.
“Vin, kenalin nih, cewek gue.” Emul memperkenalkan pacarnya padaku.
“Rahma..”
“Kevin..”
Kami berdua saling berjabat tangan.
“Udah berapa lama sama Emul, Rah?” tanyaku basa-basi.
“Masih sebentar, kok. Baru tujuh bulan sama Emul.” Jawabnya ramah.
“Wahh.. udah lumayan lama juga, ya.”
“Ya.. begitulah. Hehe” ucapnya malu-malu.
“Udah pernah di apain aja sama Emul selama tujuh bulan pacaran?” tanyaku sembarangan.
Zara dan Emul langsung tertawa mendengar pertanyaan bodohku itu.
“Dodol banget lo kalo nanya.” Zara langsung menoyor kepalaku.
“Tau lo, Vin. Itu kan rahasia perusahaan kalo masalah udah di apain aja. Haha” timpal Emul.
“Yaa.. gue kan cuma nanya, Mul. Haha” ucapku sambil meledek.
“Eh, nongkrong bareng yuk. Dimana kek gitu.” Usulku.
“Mau nongkrong dimana? Di dalem kan ada Starb*cks tuh.” Jawab Zara sambil menunjuk ke arah mall.
“Ah, Ogah. Ujung-ujungnya kalo ke dalem, pasti nanti luh kalap lagi ngeliat diskon. Males banget. Dihh..” sindirku.
Kami berempat langsung tertawa.
“Yaudah, mau nongkrong dimana, Vin?” tanya Emul.
“Nongkrong di Jengkol aja, yuk. Kebetulan gue lagi pengen makan donat nih..” jawabku.
“Itu J.CO, bloon!! Bukan jengkol.” Zarah memukulku dengan botol minum.
“Bodo amat. Mulut, mulut sampah? Wlee..” aku menjulurkan lidah.
“Yaudah, langsung berangkat aja kalo gitu, keburu sore kalo nanti-nanti” Emul langsung bangun dari bangkunya, lalu membalikkan badannya “Eh, tapi di J.CO mana?”
“Di Plaza Adorama aja. sekalian balik juga.” Aku bangun dari tempat dudukku.
“Oh. Yaudah, yuk.” Ucapnya singkat.
Kami berempat menuju ke parkiran untuk mengambil motor masing-masing, dan pastinya aku membantu membawakan barang belanjaan milik Zara. Lagi-lagi aku di kerjai oleh nyonya yang satu ini, nggak tau apa yang di beli oleh nyonya rempong ini. Yang jelas membuat repot sekaligus membuatku malu juga, karena menenteng beginian.
Setelah perjalanan setengah jam lebih, kita berempat sampai di tempat yang kita tuju. Kami sengaja duduk dibagian depan, karena aku dan juga Emul ingin merokok. Kebetulan di depan juga sepi, tidak ada orang. Aku dan Emul meninggalkan mereka berdua untuk memesan minuman dan juga makanan.
“Vin, itu siapa lagi yang lu bawa?” tanya Emul berjalan di sebelahku menuju tempat memesan.
“Kan gue bilang, temen. Yang waktu itu di ceritain sama si Fajar, waktu gue lagi makan ada yang ngajak gabung.” Jawabku.
“Oh. Tumben berani sama cewek? Biasanya kan lu dingin terus takut banget lagi, kalo sama cewek. Haha” Emul tertawa.
“Haha. Sialan. Ini gara-gara dia orangnya asik di ajak ngobrol, Mul. Kalo nggak mah, males juga gue. Lu tau gue kann??” ucapku sambil menaikkan kedua alis.
“Iyalah, gue tau banget. Gue kan kenal lu bukan kemaren sore, tapi dari smp, Men!! Walaupun lu dingin sama cewek, yang ngajarin gue berengsek kan elu. Haha” Emul tertawa.
“Kamprett.”
“Selamat siang. mau pesan apa, Kak?” ucap seorang wanita berparas manis pelayan kasir.
“Mau pesen mbanya aja buat dibawa pulang boleh, nggak? Hehe” Jawab Emul sambil menggoda.
“Huss!! songong banget luh, udah punya cewek juga luh.” aku menyenggol lengannya, sementara kasir tersebut hanya senyam-senyum sendiri menahan tawa.
“Mba, saya mau donatnya setengah lusin.” Ucap Emul.
“Terus minumnya apa, Kak?” tanyanya lagi.
“Hmm.. apaan ya, Vin?” tanya untung sambil melihat papan menu yang ada di depannya.
“Daripada bingung-bingung…” aku mendorong Emul untuk menyingkir, “Mba, saya pesen minuman yang paling sering di beli aja. nggak ngerti juga saya mana yang enak. Biasanya dipesenin mulu. Haha” aku cengesan di depan pelayan tersebut.
“Ah, sama aja kalo gitu. Percuma gue nanya.” gerutu Emul.
“Ssstt!! Diem-diem.”
Mba-mba kasirnya tertawa melihat tingkah kami berdua, “Keseringan yang kayak kakak gini pesan Oreo Freeze, Kak.” Sarannya.
“Yaudah, itu aja deh. Empat ya, mba. Terima kasihh.” Jawabku singkat sambil tersenyum.
Untungnya saat itu keadaan lagi sepi, hanya ada 4 orang saja di dalam dan itu juga tengah sibuk dengan handphonenya masing-masing. Kalau sampai ramai dan ada yang mendengar kami berdua begitu katro, bisa di tertawakan orang banyak.
Selesai memilih donat dan membayar semua, kami kembali ke tempat duduk, untuk menghampiri Zara dan juga Rahma yang daritadi sudah menunggu. Sebelum ke tempat mereka, aku mencicipi minuman yang di pilihkan oleh pelayan tadi.
“Untung rasanya enak, Mul.” Ucapku pada emul setelah mencoba minuman tersebut.
Emul tertawa, “Lu lagian, katro banget.”
“Yee.. lu juga katro, kamprett. Gue kirain lu ngerti kali.”
“Ini minuman dan donatnya, Nyonya-nyonya.” Aku menaruh minuman dan juga donat di meja.
“Haha. Apaansih lo, Vin. Pake nyonya segala.” Celetuk Zara, kemudian ia langsung meminum minuman yang tadi dipilihkan oleh pelayan kasir. “wahh.. tau aja lo minuman yang gue suka.” Sambungnya.
“Iyalah!! siapa dulu yang milihin…” ucapku menyombong.
“Emang siapa yang milih? Pasti temen lo kan?” tanyanya sambil melirik ke arah Emul.
“Bukan.”
“Terus!!??”
“Mba-mba kasirnya.”
“HAHA” kemudian kami berempat langsung tertawa.
“Dasar dongoo!! Haha” Zarah menepuk badanku.
“Abisan gue bingung, mendingan gue minta pilihin sama mbaknya. Haha” aku menyandarkan badanku di kursi.
“Lagi bukan minta temenin gue aja.” ucap Zarah.
“Gamau. Yang ada malah berantem lagi nanti kalo sama luh, gara-gara debat milih minuman doang.” Jawabku.
“Haha. Segitunya banget lo kayaknya sama gue.”
“Emang..” ucapku sambil mengambil donat,
“Makan nih, Rah. Ambil aja, jangan malu-malu.” Tawarku pada Rahma yang ada di hadapanku.
Tiba-tiba Zarah langsung menyambar donat yang ada di meja, “Iya. Makasih, Vin. Gue nggak malu-malu, kok. Ini gue ambil.”
“Yee.. Bahlul! Gue nawarin Rahma, bukan elu. mentang-mentang ada Rah-nya juga, ikutan nyaut. Hih!”
Rahma tertawa melihat kami berdua, “Udah, gapapa kok. Daritadi berantem mulu sih kalian berdua.”
Zara dan Rahma yang awalnya canggung mungkin karena belum terbiasa di antara kami, Zara dan Rahma pun akhirnya mulai berani bercanda. Rahma setelah kulihat-kulihat mirip dengan Zara juga ternyata tingkahnya. Awalnya malu-malu, begitu sudah kenal tidak tau malu.
Sudah satu setengah jam lebih kami habiskan di tempat itu, dan matahari pun sudah mulai tenggelam. Kulihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul lima sore, kami berempat memutuskan untuk membubarkan diri, lagi pula rumah Rahma cukup jauh, kasihan Emul kalau mengantarkannya malam. Walaupun hari ini adalah hari sabtu, yang kata orang hari ini adalah hari yang panjang untuk bersenang-senang.
“Yuk, Zar. Saatnya kita balik kandanggg..” ucapku menunggu ia naik ke motor.
“Yuk!” Zara langsung membonceng di belakangku.
“Luh langsung nganterin Rahma, Mul?” tanyaku.
“Iya, Vin.” Jawabnya singkat.
“Oke, deh. Gue duluan yaa. Luh kan perjalanan masih jauh. Haha” aku langsung menarik gas motor, “JANGAN PAKE MESUM DULU, MULL…” Teriakku.
“Haha. Kelakuan banget lo!!” Zara mengeplak helmku.
Setelah sampai di depan gerbang rumahku, aku langsung turun dari motor Zara tanpa mematikan motornya, dengan maksud agar ia langsung memutar balikkan arah motornya lalu langsung pulang.
“Vin.. Vin.. nanti dulu, deh.” Zara menurunkan standar motornya, kemudian mematikan motornya.
“Kenapa, Zar?” aku melepaskan helm berdiri di sampingnya.
“Bentarr..” Zara memilah-milah bungkusan yang tergantung di motornya, “nih, tadi gue sempet beliin buat lo. Semoga aja pas dan suka, ya!” Zara memberikan sebuah kantong plastic padaku.
Aku membuka kantong tersebut untuk melihat apa yang ada di dalamnya, dan ternyata ia membelikanku sebuah topi dan Tshirt berlambangkan CK. Aku tidak kepikiran sama sekali kalau ia sampai membelikan barang untukku. Yang kutahu ia hanya berbelanja, daritadi aku juga tidak ada keinginan untuk melihat apa yang ia beli.
“Wahh.. makasih banget nih, Zar.” Aku memakai topinya dan mencoba mengukur Tshirt yang dibelikannya untukku.
“Huhh.. untung aja pas. Gue takut nggak pas doang tadi. Haha” ucapnya sambil mengelus dada.
“Gue sama sekali nggak kepikiran kalo luh beliin gue, loh. Sumpah!” aku masih tidak menyangka dibalik sifatnya yang ngeselin, ternyata ia masih memikirkanku juga.
“Tadi tuh gue nyariin lo” ucapnya, “tapi begitu gue cariin, lo malah nggak ada. Huh!” ia mendengus kesal.
“Hehe. maaf yaa.” Aku menarik hidung Zara, “abisan gue bete. Luh lama banget selesainya, udah kek emak-emak aja.”
“Namanya juga cewek. Hih!” ia melipatkan kedua tangannya di bawah dada.
“Nggak usah pake bawa-bawa gender, deh.” Sindirku sambil melirik sinis kepadanya.
“Hehe.” ia hanya menyengir bodoh.
“Yaudah, gue langsung pulang aja ya, Vin. Udah mau maghrib juga nih.” Ia menaikkan standarnya dan menyalakan motornya.
“Rumah luh dimana sik?” tanyaku, “kalo jauh mending gue temenin aja.”
“Deket kok dari sini. Di daerah Bangka.” Ia memakai sarung tangan yang entah dari mana asalnya, padahal daritadi tidak memakai sarung tangan.
“Oh, disitu. Deket kalo disitu mah. Yaudah. Hati-hati, Zar.” Aku memasukkan Tshirt kembali ke dalam kantong plastic, “Sekali lagi makasih banyak, nih.” Aku memeluk tubuhnya sebagai tanda terima kasihku, tanpa ada maksud untuk mencuri-curi kesempatan loh, yaa.
“Ah, nggak seberapa, kok.” ia juga menangkap pelukanku, “Yaudah, gue balik dulu, Vin. Salam buat nyokap sama bokap lo, ya.” Ia kemudian langsung memutar balikkan motornya, disusul membunyikan klakson.
0