Quote:
BAB 3 PART 8
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
Kejadian itu hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat kami berdua salah tingkah.
Gw lepaskan tangan Keiko. Dia pun terlihat salah tingkah.
"Selamat makan," kata gw, lebih untuk mengalihkan situasi yang awkward tadi.
"Gimana rasanya?" Keiko bertanya.
"Enak," sahut gw sambil mengunyah.
"Aku mau minta maaf untuk hari ini, udah banyak merepotkan," ucap dia tiba-tiba.
Gw berhenti mengunyah untuk beberapa detik. Tumben nih. Biasanya dia maen jeplak aja. Ternyata dia bisa juga bersikap seperti ini.
"Gak usah dipikirin," sahut gw sambil melanjutkan makan. "Kamu kok gak makan?"
"Tadi udah makan di stasiun,"
Gw habiskan sepiring kare wortel yang dikasih Keiko.
Entah Keiko dapat darimana, sebotol ocha hangat disodorkan Keiko ke gw.
Gw lihat keluar jendela. Hujan sudah berhenti. Awan hitam sudah tidak menggantung lagi. Cuaca terlihat cukup cerah, walaupun awan masih terlihat bergumul di langit.
"Sekarang jam berapa?"
Keiko melihat hapenya. "Jam 2 lebih 10,"
"Masih ada waktu, ya," tambahnya.
"Waktu untuk apa?" gw heran.
"Masak,"
"Masak?"
"Kemarin kan udah janji, kita mau masak. Yuk!" dia langsung beranjak dari duduknya dan memegang tangan gw, menarik gw untuk bangun juga dari duduk gw.
"Tunggu dulu. Kita kan belum tau mau masak apa," ujar gw.
"Aku udah tau kok. Yuk ke kamar aku," tangannya menggandeng tangan gw. Kami berdua keluar dari kamar Seichi menuju kamar Keiko.
Sesampainya di kamar Keiko, dia mondar mandir menuju lemari dapur dan kulkas. Mengambil ini dan itu, dia terlihat begitu sibuk.
Setelah semua dirasa beres, dia mengambil hape dari saku celananya dan menyodorkan hapenya ke gw.
"Ini, kita masak ini," kata dia.
Gw lihat hapenya. Cupcake wortel?
"Mau bikin cupcake wortel?"
"Iya. Pasti enak. Aku suka makanan yang manis," dia tersenyum.
Ngeliat Keiko yang antusias seperti ini, gw gak tega kalau menolak ajakan memasaknya. Dan melihat Keiko yang bersemangat seperti ini, entah kenapa rasa lemas yang tadi gw rasakan juga jadi hilang.
Dan dalam sekejap saja, Keiko udah pakai apron dan siap menimbang-nimbang bahan kuenya.
"Kalau melihat kayak gini, kayaknya kamu gak perlu bantuan aku," kata gw bercanda.
"Kamu juga bantu dong. Ini, tolong kamu siapkan mangkuk untuk adonannya," sahut Keiko sambil matanya masih serius menatap angka di timbangan.
Selama proses memasak, gw melihat Keiko yang berbeda. Dengan cekatannya dia memasukkan terigu, telur, dan bahan-bahan lain, sementara dia juga menyiapkan loyang dan segala macam yang lainnya.
Gw gak menyangka, Keiko yang terkadang bersikap kekanak-kanakan, unpredictable, dan kadang ajaib ini, bisa bersikap seperti seorang ibu yang cekatan di dapur.
Selama membuat kue, tugas gw sih cuma megangin mixer sama ngaduk sana ngaduk sini doang.
Setelah semua adonan masuk ke oven, kami pun bisa beristirahat sambil menunggu kuenya matang.
"Capek juga, ya," kata Keiko.
"Lumayan," sahut gw. "Kamu sering memasak seperti ini?"
"Kadang-kadang. Karena aku tinggal sendiri, kalau aku sedang ingin memasak, aku memasak,"
Setelah beberapa puluh menit menunggu, oven pun berbunyi, tanda cupcake sudah matang.
Setelah menunggu beberapa menit lagi agar kuenya mendingin, kami pun mencobanya.
""Enak!"" seru Keiko.
""Iya, enak,"" gw setuju.
Walaupun enak, gw hanya sanggup makan 3 buah, karena sebelumnya udah makan kare dari keiko tadi.
Keiko hanya makan 2 buah.
Setelah makan, kami berdua terdiam. Tersadar akan apa yang telah terjadi setelah membuat cupcake ini. Persediaan wortel Keiko masih ada, karena baru sebagian yang digunakan untuk membuat cupcake.
Di meja di depan kami, kami lihat masih ada sekitar 8 buah cupcake lagi.
Jadi hari ini, bukan hanya sisa wortel yang harus kami pikirkan untuk kami habiskan, tapi juga ada 8 buah cupcake yang bingung harus kami apakan.
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 3 PART 8
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
Kejadian itu hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat kami berdua salah tingkah.
Gw lepaskan tangan Keiko. Dia pun terlihat salah tingkah.
"Itadakimasu,"
"Selamat makan,”kata gw, lebih untuk mengalihkan situasi yang awkward tadi.
"Dou?"
"Gimana rasanya?” Keiko bertanya.
"Oishii,"
"Enak,” sahut gw sambil mengunyah.
"Kyou wa suimasen deshita. meiwaku bakkari shitete,"
"Aku mau minta maaf untuk hari ini, udah banyak merepotkan,” ucap dia tiba-tiba.
Gw berhenti mengunyah untuk beberapa detik. Tumben nih. Biasanya dia maen jeplak aja. Ternyata dia bisa juga bersikap seperti ini.
"Ki ni shinaide,"
"Gak usah dipikirin,” sahut gw sambil melanjutkan makan.
"Tabenai no?"
"Kamu kok gak makan?”
"Eki de mou tabeta,"
"Tadi udah makan di stasiun,”
Gw habiskan sepiring kare wortel yang dikasih Keiko.
Entah Keiko dapat darimana, sebotol ocha hangat disodorkan Keiko ke gw.
Gw lihat keluar jendela. Hujan sudah berhenti. Awan hitam sudah tidak menggantung lagi. Cuaca terlihat cukup cerah, walaupun awan masih terlihat bergumul di langit.
"Ima nan ji?"
"Sekarang jam berapa?”
"ni ji juppun,"
Keiko melihat hapenya. "Jam 2 lebih 10,”
"Mada jikan aru yo ne,"
"Masih ada waktu, ya,” tambahnya.
"Nan no jikan?"
"Waktu untuk apa?” gw heran.
"Ryouri,"
"Masak,”
"Ryouri?"
"Masak?”
"Kinou wa mou yakusoku shita deshou. Ikou!"
"Kemarin kan udah janji, kita mau masak. Yuk!” dia langsung beranjak dari duduknya dan memegang tangan gw, menarik gw untuk bangun juga dari duduk gw.
"Matte. Nani wo tsukuru ka, mada kimete nai ja nai,"
"Tunggu dulu. Kita kan belum tau mau masak apa,” ujar gw.
"Kimeta yo. Ikou, atashi no heya ni,"
"Aku udah tau kok. Yuk ke kamar aku,” tangannya menggandeng tangan gw. Kami berdua keluar dari kamar Seichi menuju kamar Keiko.
Sesampainya di kamar Keiko, dia mondar mandir menuju lemari dapur dan kulkas. Mengambil ini dan itu, dia terlihat begitu sibuk.
Setelah semua dirasa beres, dia mengambil hape dari saku celananya dan menyodorkan hapenya ke gw.
"Hora, kore wo tsukuru no,"
"Ini, kita masak ini,” kata dia.
Gw lihat hapenya. Cupcake wortel?
"Cappu keeki wo tsukuru?"
"Mau bikin cupcake wortel?”
"Un. Oishii yo. Atashi, amaimono ga suki yo,"
"Iya. Pasti enak. Aku suka makanan yang manis,” dia tersenyum.
Ngeliat Keiko yang antusias seperti ini, gw gak tega kalau menolak ajakan memasaknya. Dan melihat Keiko yang bersemangat seperti ini, entah kenapa rasa lemas yang tadi gw rasakan juga jadi hilang.
Dan dalam sekejap saja, Keiko udah pakai apron dan siap menimbang-nimbang bahan kuenya.
"Kore wo mitara, tetsudatte agenakutemo daijoubu da yo ne,"
"Kalau melihat kayak gini, kayaknya kamu gak perlu bantuan aku,” kata gw bercanda.
"Rangga-san mo yatte yo. Pankiji no tame no bouru junbi shite,"
"Kamu juga bantu dong. Ini, tolong kamu siapkan mangkuk untuk adonannya,” sahut Keiko sambil matanya masih serius menatap angka di timbangan.
Selama proses memasak, gw melihat Keiko yang berbeda. Dengan cekatannya dia memasukkan terigu, telur, dan bahan-bahan lain, sementara dia juga menyiapkan loyang dan segala macam yang lainnya.
Gw gak menyangka, Keiko yang terkadang bersikap kekanak-kanakan, unpredictable, dan kadang ajaib ini, bisa bersikap seperti seorang ibu yang cekatan di dapur.
Selama membuat kue, tugas gw sih cuma megangin mixer sama ngaduk sana ngaduk sini doang.
Setelah semua adonan masuk ke oven, kami pun bisa beristirahat sambil menunggu kuenya matang.
"Tsukaretaaa...,"
"Capek juga, ya,” kata Keiko.
"Maa ne,"
"Lumayan,” sahut gw.
"Yoku ryouri suru no?"
"Kamu sering memasak seperti ini?”
"Toki doki ne. Hitorigurashi wo shiteru kara, ryouri wo tsukuritai toki wa, tsukuru,"
"Kadang-kadang. Karena aku tinggal sendiri, kalau aku sedang ingin memasak, aku memasak,”
Setelah beberapa puluh menit menunggu, oven pun berbunyi, tanda cupcake sudah matang.
Setelah menunggu beberapa menit lagi agar kuenya mendingin, kami pun mencobanya.
"Oishii!"
"Enak!" seru Keiko.
"Un, oishii, ne,"
"ya, enak," gw setuju.
Walaupun enak, gw hanya sanggup makan 3 buah, karena sebelumnya udah makan kare dari keiko tadi.
Keiko hanya makan 2 buah.
Setelah makan, kami berdua terdiam. Tersadar akan apa yang telah terjadi setelah membuat cupcake ini. Persediaan wortel Keiko masih ada, karena baru sebagian yang digunakan untuk membuat cupcake.
Di meja, masih ada sekitar 8 buah cupcake lagi.
Jadi hari ini, bukan hanya sisa wortel yang harus kami pikirkan untuk kami habiskan, tapi juga ada 8 buah cupcake yang bingung harus kami apakan.