- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.4K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#334
UPDATE BAB 3 PART 7
Quote:
BAB 3 PART 7
Dengan setengah berlari gw menerjang hujan menuju stasiun Kawaramachi. Jarak dari apartemen memang hanya 5 menit, namun itu sudah cukup membuat wajah gw mati rasa terkena guyuran air hujan dan terpaan angin musim gugur yang dingin.
Gw turun ke bawah menuju stasiun Kawaramachi. Akhirnya hujan terhalang oleh atap stasiun, gw bisa sedikit senam muka, menghangatkan wajah gw yang udah hampir beku.
Dari stasiun Kawaramachi ini, gw masih harus naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Air hujan menetes dari jas hujan yang gw pakai. Karena takut mengganggu penumpang kereta lain, gw pun pergi dulu ke toilet untuk membuka jas hujan, setelah itu baru gw naik kereta.
Sesampainya di stasiun Sendai, gw langsung bergegas menuju pintu keluar timur.
Sesampainya di pintu keluar timur, dari kejauhan, gw melihat Keiko sedang berdiri menunggu. Gw pun menghampirinya.
"Udah nunggu lama, ya," seru gw setengah berlari menghampiri Keiko.
Keiko menoleh ke arah gw, wajahnya terlihat lega begitu melihat gw.
"Ah..syukurlah...aku pikir kamu bakal lama datangnya," sahut Keiko.
"Ini, kostum kamu. Lain kali jangan ceroboh," gw menasehati.
"Iya, makasih, ya,"
"Kapan castingnya dimulai?"
"Sekitar satu jam lagi. Untung saja tema ‘sesuatu yang lucu’nya baru akan dimulai pada siang hari," kata Keiko, kedua jari tangannya membentuk simbol peace sambil nyengir.
Lalu dia memperhatikan gw dari atas ke bawah.
"Rangga-san, kesini gak bawa payung?"
"Ya...tadi pagi soalnya ada seseorang yang minjem payung duluan. Jadi aku gak ada payung lagi," kata gw.
"Maaf, ya, aku gak tau bakal gini jadinya," tampangnya kayanya serius lagi minta maaf.
"udah, gak apa-apa,"
"Lalu kesini pakai apa?"
"Pakai ini," gw memperlihatkan jas hujan yang gw bawa.
"Jadi sepanjang jalan Rangga-san pakai ini? Ih kayak bapak-bapak!" seru dia.
"Mau gimana lagi. Payungnya kan kamu bawa,"
"Hehehe...iya, ya," Keiko nyengir. "Kalo gitu aku pergi dulu, ya,"
"Hati-hati," seru gw.
Kami pun berpisah.
Gw pergi menuju bagian tempat makanan, bermaksud untuk membeli makanan apapun yang bisa gw makan. Belum sarapan dan kehujanan, membuat perut gw berbunyi keroncongan lebih keras dari biasanya.
Namun naas, gw lupa bawa dompet. Gw periksa saku celana gw, cuma ada sekeping koin 500 yen. Ini sih cuma cukup untuk beli karcis kereta ke stasiun Kawaramachi, menuju apartemen gw.
Gw kelaparan.
Mau gak mau gw langsung membeli karcis aja. Daripada gw bisa makan, tapi gak bisa pulang, lebih baik gw tahan aja rasa lapar ini.
Keluar dari kereta menuju apartemen, hujan masih saja mengguyur. Gw pakai lagi jas hujan gw. Rasa dingin yang tadi gw alami, gw rasakan lagi. Gw berlari ke apartemen, ingin cepat-cepat sampai. Gak kuat gw dengan dinginnya..
Sampai di apartemen, gw langsung pergi ke Laws*n di seberang apartemen dan membeli makanan. Lumayan untuk mengganjal perut.
Beres makan, gw mengantuk. Efek kehujanan yang tadi gw alami mulai terasa. Gw merasa lemas, dan sedikit pusing. Kedinginan? Udah pasti.
Gak berapa lama kemudian, gw pun tertidur.
Entah berapa lama gw tertidur, gw terbangun karena mendengar suara hape berbunyi.
Tapi suara ini bukan suara ringtone hape gw.
Gw membuka mata. Gw gak tahu ini mimpi atau bukan, tapi gw melihat Keiko sedang duduk di samping gw.
"Keiko?"
Wajahnya yang tadi melihat hape, menoleh ke arah gw.
"Udah bangun?" ujarnya.
Ini bukan mimpi. Keiko memang benar lagi ada di samping gw.
Gw beringsut duduk dari posisi tidur gw. Rasa pusing yang tadi gw alami sudah membaik. Hanya tinggal rasa lemas saja yang masih terasa.
"Gimana casting-nya?" tanya gw.
"Berkat kamu, semua lancar," katanya tersenyum.
Keiko berdiri dari duduknya, lalu mengambil piring di meja dapur. Dia menyodorkan piringnya ke gw.
"Ini, makan," katanya ke gw.
Wanginya gw kenal. Gw lihat isi piringnya. Potongan wortel dengan bumbu berwarna kecoklatan. Kare wortel.
"Kare wortel lagi?" tanya gw.
"Kalo gak mau ya udah sini," katanya, tangannya berusaha mengambil lagi piring yang ada di tangan gw.
"Iya iya..aku mau. Aku makan," kata gw, menepis tangan Keiko.
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
Dengan setengah berlari gw menerjang hujan menuju stasiun Kawaramachi. Jarak dari apartemen memang hanya 5 menit, namun itu sudah cukup membuat wajah gw mati rasa terkena guyuran air hujan dan terpaan angin musim gugur yang dingin.
Gw turun ke bawah menuju stasiun Kawaramachi. Akhirnya hujan terhalang oleh atap stasiun, gw bisa sedikit senam muka, menghangatkan wajah gw yang udah hampir beku.
Dari stasiun Kawaramachi ini, gw masih harus naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Air hujan menetes dari jas hujan yang gw pakai. Karena takut mengganggu penumpang kereta lain, gw pun pergi dulu ke toilet untuk membuka jas hujan, setelah itu baru gw naik kereta.
Sesampainya di stasiun Sendai, gw langsung bergegas menuju pintu keluar timur.
Sesampainya di pintu keluar timur, dari kejauhan, gw melihat Keiko sedang berdiri menunggu. Gw pun menghampirinya.
"Udah nunggu lama, ya," seru gw setengah berlari menghampiri Keiko.
Keiko menoleh ke arah gw, wajahnya terlihat lega begitu melihat gw.
"Ah..syukurlah...aku pikir kamu bakal lama datangnya," sahut Keiko.
"Ini, kostum kamu. Lain kali jangan ceroboh," gw menasehati.
"Iya, makasih, ya,"
"Kapan castingnya dimulai?"
"Sekitar satu jam lagi. Untung saja tema ‘sesuatu yang lucu’nya baru akan dimulai pada siang hari," kata Keiko, kedua jari tangannya membentuk simbol peace sambil nyengir.
Lalu dia memperhatikan gw dari atas ke bawah.
"Rangga-san, kesini gak bawa payung?"
"Ya...tadi pagi soalnya ada seseorang yang minjem payung duluan. Jadi aku gak ada payung lagi," kata gw.
"Maaf, ya, aku gak tau bakal gini jadinya," tampangnya kayanya serius lagi minta maaf.
"udah, gak apa-apa,"
"Lalu kesini pakai apa?"
"Pakai ini," gw memperlihatkan jas hujan yang gw bawa.
"Jadi sepanjang jalan Rangga-san pakai ini? Ih kayak bapak-bapak!" seru dia.
"Mau gimana lagi. Payungnya kan kamu bawa,"
"Hehehe...iya, ya," Keiko nyengir. "Kalo gitu aku pergi dulu, ya,"
"Hati-hati," seru gw.
Kami pun berpisah.
Gw pergi menuju bagian tempat makanan, bermaksud untuk membeli makanan apapun yang bisa gw makan. Belum sarapan dan kehujanan, membuat perut gw berbunyi keroncongan lebih keras dari biasanya.
Namun naas, gw lupa bawa dompet. Gw periksa saku celana gw, cuma ada sekeping koin 500 yen. Ini sih cuma cukup untuk beli karcis kereta ke stasiun Kawaramachi, menuju apartemen gw.
Gw kelaparan.
Mau gak mau gw langsung membeli karcis aja. Daripada gw bisa makan, tapi gak bisa pulang, lebih baik gw tahan aja rasa lapar ini.
Keluar dari kereta menuju apartemen, hujan masih saja mengguyur. Gw pakai lagi jas hujan gw. Rasa dingin yang tadi gw alami, gw rasakan lagi. Gw berlari ke apartemen, ingin cepat-cepat sampai. Gak kuat gw dengan dinginnya..
Sampai di apartemen, gw langsung pergi ke Laws*n di seberang apartemen dan membeli makanan. Lumayan untuk mengganjal perut.
Beres makan, gw mengantuk. Efek kehujanan yang tadi gw alami mulai terasa. Gw merasa lemas, dan sedikit pusing. Kedinginan? Udah pasti.
Gak berapa lama kemudian, gw pun tertidur.
Entah berapa lama gw tertidur, gw terbangun karena mendengar suara hape berbunyi.
Tapi suara ini bukan suara ringtone hape gw.
Gw membuka mata. Gw gak tahu ini mimpi atau bukan, tapi gw melihat Keiko sedang duduk di samping gw.
"Keiko?"
Wajahnya yang tadi melihat hape, menoleh ke arah gw.
"Udah bangun?" ujarnya.
Ini bukan mimpi. Keiko memang benar lagi ada di samping gw.
Gw beringsut duduk dari posisi tidur gw. Rasa pusing yang tadi gw alami sudah membaik. Hanya tinggal rasa lemas saja yang masih terasa.
"Gimana casting-nya?" tanya gw.
"Berkat kamu, semua lancar," katanya tersenyum.
Keiko berdiri dari duduknya, lalu mengambil piring di meja dapur. Dia menyodorkan piringnya ke gw.
"Ini, makan," katanya ke gw.
Wanginya gw kenal. Gw lihat isi piringnya. Potongan wortel dengan bumbu berwarna kecoklatan. Kare wortel.
"Kare wortel lagi?" tanya gw.
"Kalo gak mau ya udah sini," katanya, tangannya berusaha mengambil lagi piring yang ada di tangan gw.
"Iya iya..aku mau. Aku makan," kata gw, menepis tangan Keiko.
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 3 PART 7
Dengan setengah berlari gw menerjang hujan menuju stasiun Kawaramachi. Jarak dari apartemen memang hanya 5 menit, namun itu sudah cukup membuat wajah gw mati rasa terkena guyuran air hujan dan terpaan angin musim gugur yang dingin.
Gw turun ke bawah menuju stasiun Kawaramachi. Akhirnya hujan terhalang oleh atap stasiun, gw bisa sedikit senam muka, menghangatkan wajah gw yang udah hampir beku.
Dari stasiun Kawaramachi ini, gw masih harus naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Air hujan menetes dari jas hujan yang gw pakai. Karena takut mengganggu penumpang kereta lain, gw pun pergi dulu ke toilet untuk membuka jas hujan, setelah itu baru gw naik kereta.
Sesampainya di stasiun Sendai, gw langsung bergegas menuju pintu keluar timur.
Sesampainya di pintu keluar timur, dari kejauhan, gw melihat Keiko sedang berdiri menunggu. Gw pun menghampirinya.
"Omatase!"
"Udah nunggu lama, ya,”seru gw setengah berlari menghampiri Keiko.
Keiko menoleh ke arah gw, wajahnya terlihat lega begitu melihat gw.
"Haahh..Yokatta...kite kurenai to omotta...,"
"Ah..syukurlah...aku pikir kamu bakal lama datangnya,” sahut Keiko.
"Kore, kosuchuumu. Kondo wa fuchuui ni naranaide,"
"Ini, kostum kamu. Lain kali jangan ceroboh,” gw menasehati.
"Haaai. Arigatou, ne,"
"Iya, makasih, ya,”
"Kyasutingu ga itsu hajimaru no?"
"Kapan castingnya dimulai?”
"Ato ichi ji kan gurai. 'nani ka kawaii mono' ga hiru kara hajimatte, sa--ve...,"
"Sekitar satu jam lagi. Untung saja tema ‘sesuatu yang lucu’nya baru akan dimulai pada siang hari,” kata Keiko, tangannya membentuk simbol peace, sambil nyengir.
Lalu dia memperhatikan gw dari atas ke bawah.
"Rangga-san, kasa motteikanakatta no?"
"Rangga-san, kesini gak bawa payung?”
"Hai. kesa wa dareka ga totsuzen heya ni arawarete, kasa wo karita ne,"
"Ya...tadi pagi soalnya ada seseorang yang muncul tiba-tiba, minjem payung duluan,” kata gw.
"Gomen. Konna koto ni nachatte...,"
"Maaf, ya, aku gak tau bakal gini jadinya,” tampangnya kayanya serius lagi minta maaf.
"Ii yo. Daijoubu...,"
"udah, gak apa-apa,”
"Ja, kono ame no naka de, nani wo tsukatteru no?"
"Lalu lagi hujan-hujan begini, kesininya pakai apa?”
"Kore wo,"
"Pakai ini,” gw memperlihatkan jas hujan yang gw bawa.
"Apaato kara koko made kore wo kiteta? Dasai!"
"Dari apartemen sampai ke sini Rangga-san pakai ini? Ih kayak bapak-bapak!” seru dia.
"Shou ga nai jan. Kasa wo kimi ga motarechatta kara,"
"Mau gimana lagi. Payungnya kan kamu bawa,”
"Hehehe...hai..hai.."
"Hehehe...iya, ya,” Keiko nyengir.
"Ja, atashi saki ni iku, ne,"
"Kalo gitu aku pergi dulu, ya,”
"Ki wo tsukete, ne,"
"Hati-hati,” seru gw.
Kami pun berpisah.
Gw pergi menuju bagian tempat makanan, bermaksud untuk membeli makanan apapun yang bisa gw makan. Belum sarapan dan kehujanan, membuat perut gw berbunyi keroncongan lebih keras dari biasanya.
Namun naas, gw lupa bawa dompet. Gw periksa saku celana gw, cuma ada sekeping koin 500 yen. Ini sih cuma cukup untuk beli karcis kereta ke stasiun Kawaramachi, menuju apartemen gw.
Gw kelaparan.
Mau gak mau gw langsung membeli karcis aja. Daripada gw bisa makan, tapi gak bisa pulang, lebih baik gw tahan aja rasa lapar ini.
Keluar dari kereta menuju apartemen, hujan masih saja mengguyur. Gw pakai lagi jas hujan gw. Rasa dingin yang tadi gw alami, gw rasakan lagi. Gw berlari ke apartemen, ingin cepat-cepat sampai. Gak kuat gw dengan dinginnya.
Sampai di apartemen, gw langsung pergi ke Laws*n di seberang apartemen dan membeli makanan. Lumayan untuk mengganjal perut.
Beres makan, gw mengantuk. Efek kehujanan yang tadi gw alami mulai terasa. Gw merasa lemas, dan sedikit pusing. Kedinginan? Udah pasti.
Gak berapa lama kemudian, gw pun tertidur.
Entah berapa lama gw tertidur, gw terbangun karena mendengar suara hape berbunyi.
Tapi suara ini bukan suara ringtone hape gw.
Gw membuka mata. Gw gak tahu ini mimpi atau bukan, tapi gw melihat Keiko sedang duduk di samping gw.
"Keiko?”
Wajahnya yang tadi melihat hape, menoleh ke arah gw.
"Okita?"
"Udah bangun?” ujarnya.
Ini bukan mimpi. Keiko memang benar lagi ada di samping gw.
Gw beringsut duduk dari posisi tidur gw. Rasa pusing yang tadi gw alami sudah membaik. Hanya tinggal rasa lemas saja yang masih terasa.
"Kyasutingu dou datta?"
"Gimana casting-nya?” tanya gw.
"Okage sama de, umaku itta no,"
"Berkat kamu, semua lancar,” katanya tersenyum.
Keiko berdiri dari duduknya, lalu mengambil piring di meja dapur. Dia menyodorkan piringnya ke gw.
"Kore, tabete. Mada tabetenai deshou?"
"Ini, makan. Kamu belum makan, kan?” katanya ke gw.
Wanginya gw kenal. Gw lihat isi piringnya. Potongan wortel dengan bumbu berwarna kecoklatan. Kare wortel.
"Mata ninjin kare?"
"Kare wortel lagi?” tanya gw.
"Iya dattara kashite,"
"Kalo gak mau ya udah sini,” katanya, tangannya berusaha mengambil lagi piring yang ada di tangan gw.
"Taberu..taberu...,"
"Iya iya..aku mau. Aku makan,” kata gw, menepis tangan Keiko.
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
Dengan setengah berlari gw menerjang hujan menuju stasiun Kawaramachi. Jarak dari apartemen memang hanya 5 menit, namun itu sudah cukup membuat wajah gw mati rasa terkena guyuran air hujan dan terpaan angin musim gugur yang dingin.
Gw turun ke bawah menuju stasiun Kawaramachi. Akhirnya hujan terhalang oleh atap stasiun, gw bisa sedikit senam muka, menghangatkan wajah gw yang udah hampir beku.
Dari stasiun Kawaramachi ini, gw masih harus naik kereta satu kali menuju stasiun Sendai.
Air hujan menetes dari jas hujan yang gw pakai. Karena takut mengganggu penumpang kereta lain, gw pun pergi dulu ke toilet untuk membuka jas hujan, setelah itu baru gw naik kereta.
Sesampainya di stasiun Sendai, gw langsung bergegas menuju pintu keluar timur.
Sesampainya di pintu keluar timur, dari kejauhan, gw melihat Keiko sedang berdiri menunggu. Gw pun menghampirinya.
"Omatase!"
"Udah nunggu lama, ya,”seru gw setengah berlari menghampiri Keiko.
Keiko menoleh ke arah gw, wajahnya terlihat lega begitu melihat gw.
"Haahh..Yokatta...kite kurenai to omotta...,"
"Ah..syukurlah...aku pikir kamu bakal lama datangnya,” sahut Keiko.
"Kore, kosuchuumu. Kondo wa fuchuui ni naranaide,"
"Ini, kostum kamu. Lain kali jangan ceroboh,” gw menasehati.
"Haaai. Arigatou, ne,"
"Iya, makasih, ya,”
"Kyasutingu ga itsu hajimaru no?"
"Kapan castingnya dimulai?”
"Ato ichi ji kan gurai. 'nani ka kawaii mono' ga hiru kara hajimatte, sa--ve...,"
"Sekitar satu jam lagi. Untung saja tema ‘sesuatu yang lucu’nya baru akan dimulai pada siang hari,” kata Keiko, tangannya membentuk simbol peace, sambil nyengir.
Lalu dia memperhatikan gw dari atas ke bawah.
"Rangga-san, kasa motteikanakatta no?"
"Rangga-san, kesini gak bawa payung?”
"Hai. kesa wa dareka ga totsuzen heya ni arawarete, kasa wo karita ne,"
"Ya...tadi pagi soalnya ada seseorang yang muncul tiba-tiba, minjem payung duluan,” kata gw.
"Gomen. Konna koto ni nachatte...,"
"Maaf, ya, aku gak tau bakal gini jadinya,” tampangnya kayanya serius lagi minta maaf.
"Ii yo. Daijoubu...,"
"udah, gak apa-apa,”
"Ja, kono ame no naka de, nani wo tsukatteru no?"
"Lalu lagi hujan-hujan begini, kesininya pakai apa?”
"Kore wo,"
"Pakai ini,” gw memperlihatkan jas hujan yang gw bawa.
"Apaato kara koko made kore wo kiteta? Dasai!"
"Dari apartemen sampai ke sini Rangga-san pakai ini? Ih kayak bapak-bapak!” seru dia.
"Shou ga nai jan. Kasa wo kimi ga motarechatta kara,"
"Mau gimana lagi. Payungnya kan kamu bawa,”
"Hehehe...hai..hai.."
"Hehehe...iya, ya,” Keiko nyengir.
"Ja, atashi saki ni iku, ne,"
"Kalo gitu aku pergi dulu, ya,”
"Ki wo tsukete, ne,"
"Hati-hati,” seru gw.
Kami pun berpisah.
Gw pergi menuju bagian tempat makanan, bermaksud untuk membeli makanan apapun yang bisa gw makan. Belum sarapan dan kehujanan, membuat perut gw berbunyi keroncongan lebih keras dari biasanya.
Namun naas, gw lupa bawa dompet. Gw periksa saku celana gw, cuma ada sekeping koin 500 yen. Ini sih cuma cukup untuk beli karcis kereta ke stasiun Kawaramachi, menuju apartemen gw.
Gw kelaparan.
Mau gak mau gw langsung membeli karcis aja. Daripada gw bisa makan, tapi gak bisa pulang, lebih baik gw tahan aja rasa lapar ini.
Keluar dari kereta menuju apartemen, hujan masih saja mengguyur. Gw pakai lagi jas hujan gw. Rasa dingin yang tadi gw alami, gw rasakan lagi. Gw berlari ke apartemen, ingin cepat-cepat sampai. Gak kuat gw dengan dinginnya.
Sampai di apartemen, gw langsung pergi ke Laws*n di seberang apartemen dan membeli makanan. Lumayan untuk mengganjal perut.
Beres makan, gw mengantuk. Efek kehujanan yang tadi gw alami mulai terasa. Gw merasa lemas, dan sedikit pusing. Kedinginan? Udah pasti.
Gak berapa lama kemudian, gw pun tertidur.
Entah berapa lama gw tertidur, gw terbangun karena mendengar suara hape berbunyi.
Tapi suara ini bukan suara ringtone hape gw.
Gw membuka mata. Gw gak tahu ini mimpi atau bukan, tapi gw melihat Keiko sedang duduk di samping gw.
"Keiko?”
Wajahnya yang tadi melihat hape, menoleh ke arah gw.
"Okita?"
"Udah bangun?” ujarnya.
Ini bukan mimpi. Keiko memang benar lagi ada di samping gw.
Gw beringsut duduk dari posisi tidur gw. Rasa pusing yang tadi gw alami sudah membaik. Hanya tinggal rasa lemas saja yang masih terasa.
"Kyasutingu dou datta?"
"Gimana casting-nya?” tanya gw.
"Okage sama de, umaku itta no,"
"Berkat kamu, semua lancar,” katanya tersenyum.
Keiko berdiri dari duduknya, lalu mengambil piring di meja dapur. Dia menyodorkan piringnya ke gw.
"Kore, tabete. Mada tabetenai deshou?"
"Ini, makan. Kamu belum makan, kan?” katanya ke gw.
Wanginya gw kenal. Gw lihat isi piringnya. Potongan wortel dengan bumbu berwarna kecoklatan. Kare wortel.
"Mata ninjin kare?"
"Kare wortel lagi?” tanya gw.
"Iya dattara kashite,"
"Kalo gak mau ya udah sini,” katanya, tangannya berusaha mengambil lagi piring yang ada di tangan gw.
"Taberu..taberu...,"
"Iya iya..aku mau. Aku makan,” kata gw, menepis tangan Keiko.
Entah gimana itu terjadi, tapi bukan tepisan yang gw lakukan, melainkan genggaman. Gw menggenggam tangan Keiko yang tadi berusaha ngambil piring dari tangan gw.
Kami berdua saling pandang. Tangan kami saling menggenggam...
Diubah oleh NihonDamashii 28-09-2015 07:57
0
Kutip
Balas