- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.6K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#276
Sepotong Kebahagian dari Bagian Kesedihan – Part 5
Hari demi hari sendu kini mulai memudar. Kini aku tak bersembunyi lagi dibalik senyuman palsu, meski tak sepenuhnya masalah yang kualami belum selesai. Di rumah, ayah dan ibuku masih tetap saling membakar emosinya masing – masing. Rasanya kini peribahasa home sweet home tak berlaku lagi di rumahku. Kini hanya ada amarah, amarah, dan amarah.
Masalah dalam rumah tangga memang selalu menghampiri, tidak ada satupun keluarga di bumi ini yang belum atau tidak mendapat masalah. Bagiku, masalah adalah sebuah cara dari Illahi untuk menguji seberapamana hambanya bisa kuat, bersabar, serta seberapa cerdas hambanya mencari jalan keluar. Karena sang Illahi selalu memberi kesulitan sesuai dengan kadar kekuatan hambanya untuk menyelesaikan masalah itu.
Tak ada lagi sapaan hangat ibuku saat aku berpamitan untuk berangkat sekolah, kini ibuku hanya menyimpan makananku disekolah nanti dan uang jajan di meja makan. Aku tak banyak berbincang lagi dengan ayahku tentang perselisihan klub – klub liga inggris. Untuk melihat wajahnya saat ini aku takut. Terbersit dalam hati untuk tak pulang, menginap di ruangan OSIS menghabiskan seluruh waktuku hanya di sekolah. Namun apa jadinya jika perbuatanku ini membuat keadaan rumah semakin keruh? Kabur – kaburan layaknya anak yang belum memiliki pendirian yang teguh. Seberat apapun masalah di rumah meskipun aku tak bisa menyelesaikan alangkah baiknya jika aku tetap berada di rumah.
Terlalu banyak libur di semester ini, dari kalender merah hingga agenda sekolah yang memaksa untuk siswanya belajar di rumah. Hari ini hingga 4 hari kedepan lagi sekolah meliburkan siswa – siswinya. Sebenarnya aku lebih ingin sekolah dari pada libur. Lagi pula jika di rumah aku hanya menghabiskan waktu dengan bermain game, menonton, dan tidur.
Jam menunjukan pukul 10:00. Aku masih engga beranjak dari tempat tidurku. Udara dingin membuat gaya gravitasi antara kasur dan manusia semakin erat. Mataku masih tertutup rapat meskipun sebenarnya kesadaranku sudah terkumpul. Hari ini rasanya aku ingin menghabiskan waktu diatas ranjangku untuk terlelap tidur.
Tret tret tret tret.
10 menit waktuku untuk menyelesaikan mandi dan berganti baju. Ku kenakan kaos oblong warna hijau gelap dan celana panjang. Pakaian seperti ini memang terlihat santai. Setelah rasanya tatan rambutku rapih aku langsung pergi menuju rumah Octa dengan si ‘jagur merah’.
Daaaaaaaar. Aku terkaget, ternyata Octa berada dibelakangku. Aku hampir terjatuh karena terkaget, hanya saja aku masih bisa menjaga keseimbangan sehingga aku tidak terjatuh. Octa langsung menaiki si ‘jagur merah’ milikku.
Matahari yang dari tadi bersembunyi kini berada tepat di atas kepalaku. Teriknya membuat kepalaku sedikit menjadi pusing. Belum lagi dengan jalanan yang macet. Aku hanya berharap aku bisa sampai dengan selamat bersama Octa.
Berpuluh – puluh menit terjebak diantara ribuan kendaaran yang memadati Bandung. Butuh ketelitian yang lebih untuk melihat celah celah kosong agar mampu membelah kemacetan. Berkelak – kelok, menancap gas dan mengerem akhirnya sampailah kami ditempat tujuan.
Aku berada di samping Octa yang sedang memilih sebuah note yang akan ia beli. Ia tampak kebingungan untuk menentukan note mana yang akan ia beli.
Setelah memilih note, Octa mengajaku untuk membeli alat tulis. Kami berjalan berdampingan dengan irama langkah lambat. Octa sibuk melihat tumpukan buku demi buku, sedangkan aku lebih sering menundukan pandanganku.
Saat kami sampai di area alat tulis Octa tidak terlihat bingung memilih alat tulis yang ia pilih. Ia hanya memilih bolpoint tanpa jelly, tip-ex dengan bentuk seperti tabung, drawing pen, dan satu set alat lukis. Ada pertanyaan dalam fikiranku saat ia memasukan satu set alat lukis kedalam keranjang. Apakah ia seseorang yang pintar melukis? Namun aku lebih memilih memendam pertanyaan ini. Biarlah nanti pertanyaanku ini terjawab dengan sebuah bukti. Aku hanya berharap jika memang Octa seseorang yang pintar melukis, ia mampu memberikan karyanya tersebut.
Daftar belajaan Octa telah ia beli semua, ia langsung menuju kasir untuk membayar. Aku duduk di sebuah bangku panjang. Melihat notifikasi dari social media, namun aku langsung memilih untuk mengunci kembali handphoneku.
Hari demi hari sendu kini mulai memudar. Kini aku tak bersembunyi lagi dibalik senyuman palsu, meski tak sepenuhnya masalah yang kualami belum selesai. Di rumah, ayah dan ibuku masih tetap saling membakar emosinya masing – masing. Rasanya kini peribahasa home sweet home tak berlaku lagi di rumahku. Kini hanya ada amarah, amarah, dan amarah.
Masalah dalam rumah tangga memang selalu menghampiri, tidak ada satupun keluarga di bumi ini yang belum atau tidak mendapat masalah. Bagiku, masalah adalah sebuah cara dari Illahi untuk menguji seberapamana hambanya bisa kuat, bersabar, serta seberapa cerdas hambanya mencari jalan keluar. Karena sang Illahi selalu memberi kesulitan sesuai dengan kadar kekuatan hambanya untuk menyelesaikan masalah itu.
Tak ada lagi sapaan hangat ibuku saat aku berpamitan untuk berangkat sekolah, kini ibuku hanya menyimpan makananku disekolah nanti dan uang jajan di meja makan. Aku tak banyak berbincang lagi dengan ayahku tentang perselisihan klub – klub liga inggris. Untuk melihat wajahnya saat ini aku takut. Terbersit dalam hati untuk tak pulang, menginap di ruangan OSIS menghabiskan seluruh waktuku hanya di sekolah. Namun apa jadinya jika perbuatanku ini membuat keadaan rumah semakin keruh? Kabur – kaburan layaknya anak yang belum memiliki pendirian yang teguh. Seberat apapun masalah di rumah meskipun aku tak bisa menyelesaikan alangkah baiknya jika aku tetap berada di rumah.
Terlalu banyak libur di semester ini, dari kalender merah hingga agenda sekolah yang memaksa untuk siswanya belajar di rumah. Hari ini hingga 4 hari kedepan lagi sekolah meliburkan siswa – siswinya. Sebenarnya aku lebih ingin sekolah dari pada libur. Lagi pula jika di rumah aku hanya menghabiskan waktu dengan bermain game, menonton, dan tidur.
Jam menunjukan pukul 10:00. Aku masih engga beranjak dari tempat tidurku. Udara dingin membuat gaya gravitasi antara kasur dan manusia semakin erat. Mataku masih tertutup rapat meskipun sebenarnya kesadaranku sudah terkumpul. Hari ini rasanya aku ingin menghabiskan waktu diatas ranjangku untuk terlelap tidur.
Tret tret tret tret.
Quote:
10 menit waktuku untuk menyelesaikan mandi dan berganti baju. Ku kenakan kaos oblong warna hijau gelap dan celana panjang. Pakaian seperti ini memang terlihat santai. Setelah rasanya tatan rambutku rapih aku langsung pergi menuju rumah Octa dengan si ‘jagur merah’.
Quote:
Daaaaaaaar. Aku terkaget, ternyata Octa berada dibelakangku. Aku hampir terjatuh karena terkaget, hanya saja aku masih bisa menjaga keseimbangan sehingga aku tidak terjatuh. Octa langsung menaiki si ‘jagur merah’ milikku.
Matahari yang dari tadi bersembunyi kini berada tepat di atas kepalaku. Teriknya membuat kepalaku sedikit menjadi pusing. Belum lagi dengan jalanan yang macet. Aku hanya berharap aku bisa sampai dengan selamat bersama Octa.
Berpuluh – puluh menit terjebak diantara ribuan kendaaran yang memadati Bandung. Butuh ketelitian yang lebih untuk melihat celah celah kosong agar mampu membelah kemacetan. Berkelak – kelok, menancap gas dan mengerem akhirnya sampailah kami ditempat tujuan.
Aku berada di samping Octa yang sedang memilih sebuah note yang akan ia beli. Ia tampak kebingungan untuk menentukan note mana yang akan ia beli.
Quote:
Setelah memilih note, Octa mengajaku untuk membeli alat tulis. Kami berjalan berdampingan dengan irama langkah lambat. Octa sibuk melihat tumpukan buku demi buku, sedangkan aku lebih sering menundukan pandanganku.
Saat kami sampai di area alat tulis Octa tidak terlihat bingung memilih alat tulis yang ia pilih. Ia hanya memilih bolpoint tanpa jelly, tip-ex dengan bentuk seperti tabung, drawing pen, dan satu set alat lukis. Ada pertanyaan dalam fikiranku saat ia memasukan satu set alat lukis kedalam keranjang. Apakah ia seseorang yang pintar melukis? Namun aku lebih memilih memendam pertanyaan ini. Biarlah nanti pertanyaanku ini terjawab dengan sebuah bukti. Aku hanya berharap jika memang Octa seseorang yang pintar melukis, ia mampu memberikan karyanya tersebut.
Daftar belajaan Octa telah ia beli semua, ia langsung menuju kasir untuk membayar. Aku duduk di sebuah bangku panjang. Melihat notifikasi dari social media, namun aku langsung memilih untuk mengunci kembali handphoneku.
Quote:
junti27 dan 4 lainnya memberi reputasi
5