TS
Ariel.Matsuyama
[Orific] Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes)
Genre:Action | Drama | Sci-Fi | Supernatural
Sinopsis:Kematian sang kakak, membuat Ariel Sadewa menjadi seorang pendendam. Dendam itu mengubahnya menjadi seorang pahlawan super bernama `Waysteel`, yang memiliki misi melenyapkan `Rahwana`, makhluk yang mengancam populasi manusia, sekaligus makhluk yang membunuh kakaknya beberapa tahun silam.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Spoiler for Chapter List:
Part 1
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:34
0
8.2K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•349Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#12
Spoiler for Part 2 Act 2:
Keesokan harinya, Priska datang lebih awal. Ia duduk di bangku taman dekat salah satu komplek perumahan megah di Kota Sheraton.
Tidak lama kemudian, Ariel datang dengan motor hitam kesayangannya: Waybringer.
“Heh! Lo udah gue tungguin daritadi! Kemana aja lo??” tanya Priska dengan nada sewot.
Ariel hanya diam. Ia lalu membuka helm dan turun dari motornya.
“Heh, tahu nggak sih lo? Lo itu datengnya-” kata-kata Priska terputus begitu ia melihat jam tangannya. Waktu di jam itu menunjukkan pukul delapan tepat.
“Apa?” tanya Ariel datar.
“Iya deh, lo dateng tepat waktu,” jawab Priska.
“Oke, jadi sekarang-”
“TOLOOONG!!!”
Ucapan Ariel terpotong begitu ia mendengar teriakan dari seorang gadis.
Lama kelamaan, teriakan tersebut semakin terdengar. Gadis itu tengah dikejar-kejar oleh seorang pria berpakaian rapih serba hitam.
Dengan sigap, Ariel menolongnya.
Saking takutnya, gadis itu langsung bersembunyi di belakang Ariel.
“Siapa kamu?” tanya orang berjas hitam itu pada Ariel. “Serahin gadis itu ke saya!” lanjutnya.
“Gimana kalau saya nggak mau?” balas Ariel.
“Saya akan pakai cara paksa!” Orang berjas hitam itu kemudian mengepal kedua tangannya dan memasang posisi siap menyerang.
Melihat hal tersebut, Ariel menekuk tangan kirinya di depan dada dan tangan kanannya ia kepal ke depan dengan posisi tubuh tegak lurus. Ia juga memasang posisi siap menyerang.
Gadis yang bersembunyi di belakang Ariel segera menyingkir dari sana dan bersembunyi di balik pohon.
Tak lama kemudian. “Heeeaaa!!!” Orang berjas hitam tersebut berlari menuju Ariel.
Ketika orang berjas hitam itu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, ia segera melayangkan tinju ke wajah Ariel. Namun, Ariel memutar bahu kanannya ke belakang, sehingga serangan itu luput.
Ariel membuang tangan pria tersebut ke bawah lalu memelintirnya. Setelah itu, ia menendang perut pria berjas hitam tersebut hingga terpental ke belakang.
Pria itu kembali bangun dan melanjutkan pertarungan. Ariel pun menyongsongnya. Sampai akhirnya mereka bertarung sengit satu lawan satu dengan tangan kosong.
Jaket hitam panjang yang dikenakan Ariel beberapa kali berkibar di tengah pertarungan.
Kemenangan berpihak pada si jas hitam. Ariel terguling akibat tendangan yang dilancarkan si jas hitam ke dadanya.
Ketika tubuh Ariel berhenti berguling, si pria jas hitam memutar tubuhnya. Ketika putaran berhenti, ia berubah menjadi sesosok makhluk yang ‘mengerikan’. Makhluk itu memiliki sepasang tanduk berwarna hitam dan keseluruhan tubuhnya berwarna dominan merah. Kuku-kuku panjang nan runcing tak ketinggalan menghiasi tangan serta kakinya.
“Makhluk aneh macam apa itu?” gumam Ariel. Ia langsung mengambil `Dhamarwulan` dari balik jaketnya.
Makhluk itu melompat. Melompat mencakar Ariel.
Ariel yang tidak siap menerima cakaran itu pun terpental dari posisi awalnya. Padahal Waysteel Digital Memory sudah di tangannya, tapi memory tersebut terlontar jauh dan masuk ke dalam lubang berteralis besi. Benda itu lolos dengan mudahnya di teralis besi berukuran kecil tersebut.
“Sial!” keluh Ariel. Ia lalu berdiri, dan melepaskan Dhamarwulan dari sarungnya.
“Khahahaha… Sekarang, aku adalah Asura.” Makhluk itu menyeringai. “Siap-siaplah untuk mati! Heeahh!!” teriaknya yang kemudian berlari dan melayangkan cakarnya ke arah Ariel.
Sayangnya, serangan makhluk itu meleset. Bahkan serangan kedua dan ketiga kembali dihindari oleh Ariel.
Ariel pun membalas dengan menebas tubuh Asura secara diagonal, dari kiri bawah ke kanan atas, serta menendang parutnya hingga makhluk jelek bertanduk dua itu terlempar dari posisi awalnya. Tapi, ia segera kembali berdiri, lalu berlari dan melayangkan tinju pada Ariel.
Ariel mengelak ke samping kiri, kemudian segera mengayunkan pedangnya persis ke arah kepala Asura.
Namun, Asura merunduk dan langsung menendang Ariel dengan kaki kanannya.
Ariel yang tidak siap, terkena tendangan itu hingga mundur dua langkah ke belakang. Meski begitu, ia tetap terlihat tenang. Dan mereka berdua kembali saling serang.
Kelihatannya pertempuran kali ini diungguli oleh Ariel. Terlihat dari kombo-kombo berpedangnya yang bisa membunuh Asura kapan saja.
Sampai pada akhirnya…
BASH! CRATS!!
Pinggang Asura terpisah dari badannya akibat tebasan mendatar yang dilancarkan Ariel ke bagian pinggangnya. Lalu kedua bagian tubuh makhluk itu berubah menjadi pasir.
Ariel kemudian berjalan ke tempat dimana sarung pedang Dhamarwulan tergeletak. Ia mengambil sarung itu dan menyarungkan Dhamarwulan ke dalamnya.
Tiba-tiba, Ariel ingat sesuatu. “Oiya! Baru inget kalau saya bawa Wayphone.” Ia lalu merogoh saku celana sebelah kirinya dan mengambil benda persegi panjang berwarna hitam yang ia sebut `Wayphone`.
Ariel menekan tombol `222` yang ada di benda tersebut kemudian menekan tombol `Ok`.
Seketika, layar yang ada pada Wayphone memunculkan gambar Waysteel Digital Memory.
Waysteel Digital Memory yang tadi jatuh ke dalam lubang berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal dan kemudian menghilang. Lalu, serpihan-serpihan holograpichal tersebut muncul dihadapan Ariel dan berubah menjadi Waysteel Digital Memory. Benda kotak itu melayang-layang di depannya.
Ariel mengambil benda tersebut dan langsung mengantonginya di saku belakang sebelah kiri celananya.
“Kalau tadi saya pake Wayphone buat menteleport Waysteel Digital Memory, mungkin saya udah berubah jadi Waysteel. Tapi nggak apa-apalah. Makhluk itu ternyata lebih lemah dari yang saya perkirain,” gumam Ariel.
Tak lama, gadis berambut panjang sebahu yang tadi ditolongnya, berjalan menghampirinya. “Makasih ya kak,” ucapnya.
Ariel menoleh ke belakang, ke tempat dimana gadis itu berdiri dan membalasnya dengan anggukan.
Setelah itu, Ariel dan Priska mengantar gadis tersebut pulang. Si gadis naik vespa tua berwarna biru yang ia bawa, sementara Priska dibonceng Ariel dengan motornya.
Sesampainya di rumah si gadis yang berada di lingkungan kecil nan kumuh, Ariel dan Priska mampir sebentar.
Si gadis dan Ariel berkenalan, namanya Chintya. Sedangkan Priska, ia sudah kenal lama dengan Chintya. Chintya adalah tukang gado-gado keliling langganannya.
Chintya ke dapur sebentar, lalu kembali sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia menyuguhkan teh itu untuk Ariel dan Priska.
“Maaf ya kalau rumahnya kecil,” ucap Chintya. Gadis berambut panjang sebahu dan bermata bulat itu kemudian duduk disamping Priska.
“Nggak apa-apa tha, santai aja,” kata Priska, “Ngomong-ngomong tadi kamu kenapa bisa dikejar-kejar sama orang berjas hitam itu?” tanyanya.
“Gara-gara aku nyoba ngebebasin tumbal yang diminta sama orang berjas hitam itu ke orang yang ada di komplek tadi. Sayangnya aku ketahuan, terus dikejar deh. Sebenernya orang berjas hitam itu nggak cuma sendiri. Mereka banyak. Tapi aku tadi dikejar sama satu orang aja,” jawab Chintya.
“Tumbal??” Priska mengernyitkan dahinya.
Chintya mengangguk. “Iya. Tumbal buat diserahin ke petinggi mereka.”
“Terus dibuat apa tuh tumbal?”
“Setahu aku, buat diisep darahnya sama petinggi mereka. Atau buat dipersembahin ke setan di upacara wajib keagamaan mereka yang diadain tiap malem Selasa Kliwon sama malem Jum’at Kliwon.”
“Diisep darahnya??” Dahi Priska kembali mengernyit. Ia jadi ingat ketika ia dikejar-kejar dan ingin dihisap darahnya oleh Romy waktu itu. “Jangan jangan …,” gumamnya sambil menempelkan jari telunjuk di dagunya.
“Kenapa kak?” tanya Chintya, memecah lamunan Priska.
“Oh nggak kok, nggak apa-apa,” jawab Priska. “Oh iya, apa kamu tahu siapa nama petinggi orang yang ngejar kamu itu?”
“Kalau nama petingginya aku nggak tahu. Aku cuma tahu kalau mereka termasuk petingginya tergabung dalam organisasi kegelapan Dark Rhapsody,” jawab Chintya.
“Dark Rhapsody??” Ariel terkejut. Ia jadi teringat dengan perkataan Strong yang bertempur dengannya belum lama ini. Strong bilang kalau dia tergabung dalam organisasi kegelapan Dark Rhapsody.
“Kenapa kak Ariel, kok kaget gitu??” tanya Chintya.
“Iya Riel, lo kenapa?” Priska menimpali.
“Nggak. Nggak apa-apa,” jawab Ariel.
“Oh iya, Dark Rhapsody itu organisasi apa sih? Kamu tahu nggak, Chin?” tanya Priska.
“Tahu kak,” angguk Chintya. “Dark Rhapsody itu organisasi sesat yang kerjaannya terus-terusan nyari tumbal sama terus-terusan nyari anggota. Kalau nyari tumbal, kakak udah tahu kan tujuannya buat apa? Nah, kalau nyari anggota, tujuannya buat menguasai dunia. Mereka mau semua orang jadi bagian dari mereka. Kalau udah gitu, dunia gampang mereka kuasain. Perlahan tapi pasti, anggota Dark Rhapsody terus-terusan bertambah. Orang-orang di komplek tadi, Komplek Nusa Indah, mereka semua anggota Dark Rhapsody, termasuk pemilik komplek, RT, sama RW’nya.”
“Kenapa mereka mau jadi anggota Dark Rhapsody?? Apa yang mereka dapet??”
“Mereka dapet rumah gratis, terus dapet apa yang mereka mau.”
“Rumah gratis??”
“Iya. Rumah gratis di Komplek Nusa Indah atau tempat lain yang orang-orangnya anggota Dark Rhapsody.”
“Detail banget. Kamu tahu informasi sedetail itu darimana, Chin?”
“Dari mantan anggota Dark Rhapsody. Dia temen deket aku. Dia keluar gara-gara aku nasehatin, terus juga gara-gara ada masalah sama salah satu pengikut organisasi itu. Tapi, beberapa hari kemudian, temenku itu hilang bagai ditelan bumi. Nggak pernah ada kabarnya lagi. Dia pernah bilang, siapapun yang keluar dari Dark Rhapsody harus dibunuh! Semoga itu nggak terjadi sama dia.” Tanpa terasa, air mata menetes dari pelupuk mata Chintya.
“Yaudah Chin, jangan dipikirin… Yang berlalu biarlah berlalu,” kata Priska. Ia mengelap air mata Chintya, lalu menepuk dan mengusap-usap pundaknya. “Jadi intinya, Dark Rhapsody itu selain nyari tumbal juga nyari anggota ya? Bahaya juga ada organisasi kayak gitu.”
“Tapi tumbalnya nggak sembarangan, kak. Tumbalnya harus cewek berumur belasan sampe dua puluh lima tahun. Karena bagi petinggi mereka, darah cewek dengan umur segitu rasanya enak banget. Terus, menurut mereka, apa yang baik buat mereka baik juga buat setan. Makanya, gadis-gadis yang mereka tangkep selain diisep darahnya juga dipersembahin buat setan.”
“Ohh…” Priska manggut-manggut. “Hmm… Ngomong-ngomong orangtua kamu kemana, Chin? Kamu tinggal disini sama siapa? Maaf banyak tanya.”
“Aku tinggal disini sama temen. Dia yang nampung aku pas aku berhasil kabur dari penjara yang ada di markas Dark Rhapsody. Untung aku ketemu dia, kalau nggak aku bisa terlantar di jalanan,” jawab Chintya. “Kalau orangtua aku … Mereka … Mereka jadi anggota Dark Rhapsody. Aku adalah orang yang mereka tumbalin,” lanjutnya. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.
“Udah udah…” Priska mengusap air mata Chintya. “Jangan sedih lagi, Chin. Yang penting kamu masih bisa hidup. Kehidupan itu mahal harganya.”
Chintya mengangguk. “Makasih, kak.” Ia lalu tersenyum.
Priska membalas senyuman Chintya. Setelah itu, ia menyeruput teh yang terhidang untuknya.
Chintya lalu menatap Ariel. “Kak Ariel, ayo diminum tehnya!”
Ariel hanya mengangguk. “Oh iya Chintya, kayaknya kita mau cabut dulu nih. Nggak apa-apa kan?” ucapnya kemudian.
“Iya kak, nggak apa-apa. Aku udah biasa sendirian kok,” balas Chintya.
“Ayo Pris, kita ada tugas,” ujar Ariel.
Priska menghela nafas. “Ayo deh,” ucapnya. “Chin, kita cabut dulu ya. Kamu bae-bae disini, oke?”
“Oke kak… Sip!” Chintya mengacungkan jempol.
Priska mengangkat tasnya, kemudian pergi mengikuti Ariel dan naik di belakang motor pemuda itu.
Tak lama, motor Ariel pun berangkat, berlalu meninggalkan kediaman Chintya.
Universitas Cahaya Sakti – Kota Sheraton, Kamis 30 April 2020, pukul 06:30 WIB.
Di luar, tak jauh dari pintu kelas…
“Selfie selfie! Selfie!” Priska mengarahkan kamera handphonenya ke atas kepalanya secara diagonal, dengan posisi layar handpone menghadap depan wajahnya.
Kedua temannya, Dhinda dan Jenny berdiri di kiri kanannya.
Klik!
Priska menekan tombol ‘OK’ pada handponenya.
Penampilan sudah cantik, gaya sudah oke, tapi apa daya, gambarnya rusak ketika Ariel lewat persis di belakang mereka tepat ketika tombol OK dipencet.
Bukan main sebalnya Priska saat itu. Ia pun menoleh ke belakang.
“Heh! Ngapain lo pake ada di belakang segala?” tanyanya pada Ariel. “Udah kemaren pas tugas nyebelin banget. Sekarang tambah nyebelin lagi. Rusak tuh foto selfie’an gue!”
Ariel hanya diam, lalu kembali meneruskan langkahnya.
“Heh! Denger nggak?? Dasar lo cowok nyebelin!” maki Priska. “Kenapa sih cowok kayak lo pake ada segala di dunia ini?? Eh, Denger nggak sih lo??”
Makian itu hanya diacuhkan saja oleh Ariel, bagaikan angin lalu. Ia terus saja melangkah, seolah seperti tidak terjadi apa-apa.
Food Court Univ. Cahaya Sakti, pukul 07:00 WIB.
“Sumpah ye, si Ariel itu nyebelin banget!? Pembawa sial buat kita tahu nggak tuh anak!?” ujar Priska.
“Emang dari dulu gitu kan?” kata Jenny. “Apalagi tuh anak belagu. Sok nggak mau temenan sama orang. Liat aja, dia sendirian terus.”
“Mentang-mentang punya perusahaan ternama di kota ini, terus jadi yang terbaik dalem segala bidang, dia nggak mau gaul sama anak-anak di kampus. Mungkin dia ngerasa kalau anak-anak di kampus nggak sepadan sama dia. Songong tuh anak,” timpal Priska.
Jenny mengangguk. “Setuju!”
“Oiya, kayaknya ada yang kurang nih!? Si Dhinda kemana sih?? Abis selfie langsung ngilang entah kemana tuh anak.” kata Priska.
“Entah.” Jenny mengangkat bahunya. “Dari bulan-bulan kemaren suka begitu tuh dia, ilang-ilangan nggak jelas. Nggak bilang pula mau kemana.”
Priska menghela nafas. “Ahh… Yaudahlah, biarin aja. Kita tungguin aja disini.”
Bersamaan dengan itu, di tempat lain. Di dalam kamar sebuah mansion megah nan angker.
“Strong … Sudah mati,” ucap seorang pria tinggi, berambut jambul dan berjaket biru panjang dengan logat `kejepangan`
“Dia itu sembrono. Pantas saja cepat mati,” timpal seorang wanita bertopeng gagak serta bergaun putih nan indah. “Kuat tapi bodoh, itu percuma saja.”
“Tapi … Kematian Strong membuat saya terpukul.”
“Biarkan saja! Orang itu memang pantas mati. Dia mati gara-gara kecerobohannya yang tidak melihat-lihat dulu kuat-lemahnya lawan. Asal sradak sruduk saja.”
“Orang itu … Padahal armornya lebih lemah dibanding armor Strong, tapi strateginya bukan main. Dan kekuatan tambahan pada armornya sanggup meluluh lantakkan Strong. Sayang, waktu itu saya cuma menyaksikan dari jauh. Saya fikir Strong bisa menang.”
“Itulah Strong. Dia itu bodoh. pakai ada acara kencan dengan gadis-gadis yang mau dia hisap darahnya segala. Dia terlalu banyak main-main dan tidak serius. Hanzo, jangan sampai kamu meniru dia!”
“Haik! Ratu Gagak, saya akan buktikan kalo saya lebih baik dibanding dia!”
“Bagus. Lakukan tugas kamu dengan baik!”
“Siap laksanakan! Demi organisasi kita, Dark Rhapsody!”
Tidak lama kemudian, Ariel datang dengan motor hitam kesayangannya: Waybringer.
“Heh! Lo udah gue tungguin daritadi! Kemana aja lo??” tanya Priska dengan nada sewot.
Ariel hanya diam. Ia lalu membuka helm dan turun dari motornya.
“Heh, tahu nggak sih lo? Lo itu datengnya-” kata-kata Priska terputus begitu ia melihat jam tangannya. Waktu di jam itu menunjukkan pukul delapan tepat.
“Apa?” tanya Ariel datar.
“Iya deh, lo dateng tepat waktu,” jawab Priska.
“Oke, jadi sekarang-”
“TOLOOONG!!!”
Ucapan Ariel terpotong begitu ia mendengar teriakan dari seorang gadis.
Lama kelamaan, teriakan tersebut semakin terdengar. Gadis itu tengah dikejar-kejar oleh seorang pria berpakaian rapih serba hitam.
Dengan sigap, Ariel menolongnya.
Saking takutnya, gadis itu langsung bersembunyi di belakang Ariel.
“Siapa kamu?” tanya orang berjas hitam itu pada Ariel. “Serahin gadis itu ke saya!” lanjutnya.
“Gimana kalau saya nggak mau?” balas Ariel.
“Saya akan pakai cara paksa!” Orang berjas hitam itu kemudian mengepal kedua tangannya dan memasang posisi siap menyerang.
Melihat hal tersebut, Ariel menekuk tangan kirinya di depan dada dan tangan kanannya ia kepal ke depan dengan posisi tubuh tegak lurus. Ia juga memasang posisi siap menyerang.
Gadis yang bersembunyi di belakang Ariel segera menyingkir dari sana dan bersembunyi di balik pohon.
Tak lama kemudian. “Heeeaaa!!!” Orang berjas hitam tersebut berlari menuju Ariel.
Ketika orang berjas hitam itu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, ia segera melayangkan tinju ke wajah Ariel. Namun, Ariel memutar bahu kanannya ke belakang, sehingga serangan itu luput.
Ariel membuang tangan pria tersebut ke bawah lalu memelintirnya. Setelah itu, ia menendang perut pria berjas hitam tersebut hingga terpental ke belakang.
Pria itu kembali bangun dan melanjutkan pertarungan. Ariel pun menyongsongnya. Sampai akhirnya mereka bertarung sengit satu lawan satu dengan tangan kosong.
Jaket hitam panjang yang dikenakan Ariel beberapa kali berkibar di tengah pertarungan.
Kemenangan berpihak pada si jas hitam. Ariel terguling akibat tendangan yang dilancarkan si jas hitam ke dadanya.
Ketika tubuh Ariel berhenti berguling, si pria jas hitam memutar tubuhnya. Ketika putaran berhenti, ia berubah menjadi sesosok makhluk yang ‘mengerikan’. Makhluk itu memiliki sepasang tanduk berwarna hitam dan keseluruhan tubuhnya berwarna dominan merah. Kuku-kuku panjang nan runcing tak ketinggalan menghiasi tangan serta kakinya.
“Makhluk aneh macam apa itu?” gumam Ariel. Ia langsung mengambil `Dhamarwulan` dari balik jaketnya.
Makhluk itu melompat. Melompat mencakar Ariel.
Ariel yang tidak siap menerima cakaran itu pun terpental dari posisi awalnya. Padahal Waysteel Digital Memory sudah di tangannya, tapi memory tersebut terlontar jauh dan masuk ke dalam lubang berteralis besi. Benda itu lolos dengan mudahnya di teralis besi berukuran kecil tersebut.
“Sial!” keluh Ariel. Ia lalu berdiri, dan melepaskan Dhamarwulan dari sarungnya.
“Khahahaha… Sekarang, aku adalah Asura.” Makhluk itu menyeringai. “Siap-siaplah untuk mati! Heeahh!!” teriaknya yang kemudian berlari dan melayangkan cakarnya ke arah Ariel.
Sayangnya, serangan makhluk itu meleset. Bahkan serangan kedua dan ketiga kembali dihindari oleh Ariel.
Ariel pun membalas dengan menebas tubuh Asura secara diagonal, dari kiri bawah ke kanan atas, serta menendang parutnya hingga makhluk jelek bertanduk dua itu terlempar dari posisi awalnya. Tapi, ia segera kembali berdiri, lalu berlari dan melayangkan tinju pada Ariel.
Ariel mengelak ke samping kiri, kemudian segera mengayunkan pedangnya persis ke arah kepala Asura.
Namun, Asura merunduk dan langsung menendang Ariel dengan kaki kanannya.
Ariel yang tidak siap, terkena tendangan itu hingga mundur dua langkah ke belakang. Meski begitu, ia tetap terlihat tenang. Dan mereka berdua kembali saling serang.
Kelihatannya pertempuran kali ini diungguli oleh Ariel. Terlihat dari kombo-kombo berpedangnya yang bisa membunuh Asura kapan saja.
Sampai pada akhirnya…
BASH! CRATS!!
Pinggang Asura terpisah dari badannya akibat tebasan mendatar yang dilancarkan Ariel ke bagian pinggangnya. Lalu kedua bagian tubuh makhluk itu berubah menjadi pasir.
Ariel kemudian berjalan ke tempat dimana sarung pedang Dhamarwulan tergeletak. Ia mengambil sarung itu dan menyarungkan Dhamarwulan ke dalamnya.
Tiba-tiba, Ariel ingat sesuatu. “Oiya! Baru inget kalau saya bawa Wayphone.” Ia lalu merogoh saku celana sebelah kirinya dan mengambil benda persegi panjang berwarna hitam yang ia sebut `Wayphone`.
Ariel menekan tombol `222` yang ada di benda tersebut kemudian menekan tombol `Ok`.
Seketika, layar yang ada pada Wayphone memunculkan gambar Waysteel Digital Memory.
Waysteel Digital Memory yang tadi jatuh ke dalam lubang berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal dan kemudian menghilang. Lalu, serpihan-serpihan holograpichal tersebut muncul dihadapan Ariel dan berubah menjadi Waysteel Digital Memory. Benda kotak itu melayang-layang di depannya.
Ariel mengambil benda tersebut dan langsung mengantonginya di saku belakang sebelah kiri celananya.
“Kalau tadi saya pake Wayphone buat menteleport Waysteel Digital Memory, mungkin saya udah berubah jadi Waysteel. Tapi nggak apa-apalah. Makhluk itu ternyata lebih lemah dari yang saya perkirain,” gumam Ariel.
Tak lama, gadis berambut panjang sebahu yang tadi ditolongnya, berjalan menghampirinya. “Makasih ya kak,” ucapnya.
Ariel menoleh ke belakang, ke tempat dimana gadis itu berdiri dan membalasnya dengan anggukan.
Setelah itu, Ariel dan Priska mengantar gadis tersebut pulang. Si gadis naik vespa tua berwarna biru yang ia bawa, sementara Priska dibonceng Ariel dengan motornya.
Sesampainya di rumah si gadis yang berada di lingkungan kecil nan kumuh, Ariel dan Priska mampir sebentar.
Si gadis dan Ariel berkenalan, namanya Chintya. Sedangkan Priska, ia sudah kenal lama dengan Chintya. Chintya adalah tukang gado-gado keliling langganannya.
Chintya ke dapur sebentar, lalu kembali sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia menyuguhkan teh itu untuk Ariel dan Priska.
“Maaf ya kalau rumahnya kecil,” ucap Chintya. Gadis berambut panjang sebahu dan bermata bulat itu kemudian duduk disamping Priska.
“Nggak apa-apa tha, santai aja,” kata Priska, “Ngomong-ngomong tadi kamu kenapa bisa dikejar-kejar sama orang berjas hitam itu?” tanyanya.
“Gara-gara aku nyoba ngebebasin tumbal yang diminta sama orang berjas hitam itu ke orang yang ada di komplek tadi. Sayangnya aku ketahuan, terus dikejar deh. Sebenernya orang berjas hitam itu nggak cuma sendiri. Mereka banyak. Tapi aku tadi dikejar sama satu orang aja,” jawab Chintya.
“Tumbal??” Priska mengernyitkan dahinya.
Chintya mengangguk. “Iya. Tumbal buat diserahin ke petinggi mereka.”
“Terus dibuat apa tuh tumbal?”
“Setahu aku, buat diisep darahnya sama petinggi mereka. Atau buat dipersembahin ke setan di upacara wajib keagamaan mereka yang diadain tiap malem Selasa Kliwon sama malem Jum’at Kliwon.”
“Diisep darahnya??” Dahi Priska kembali mengernyit. Ia jadi ingat ketika ia dikejar-kejar dan ingin dihisap darahnya oleh Romy waktu itu. “Jangan jangan …,” gumamnya sambil menempelkan jari telunjuk di dagunya.
“Kenapa kak?” tanya Chintya, memecah lamunan Priska.
“Oh nggak kok, nggak apa-apa,” jawab Priska. “Oh iya, apa kamu tahu siapa nama petinggi orang yang ngejar kamu itu?”
“Kalau nama petingginya aku nggak tahu. Aku cuma tahu kalau mereka termasuk petingginya tergabung dalam organisasi kegelapan Dark Rhapsody,” jawab Chintya.
“Dark Rhapsody??” Ariel terkejut. Ia jadi teringat dengan perkataan Strong yang bertempur dengannya belum lama ini. Strong bilang kalau dia tergabung dalam organisasi kegelapan Dark Rhapsody.
“Kenapa kak Ariel, kok kaget gitu??” tanya Chintya.
“Iya Riel, lo kenapa?” Priska menimpali.
“Nggak. Nggak apa-apa,” jawab Ariel.
“Oh iya, Dark Rhapsody itu organisasi apa sih? Kamu tahu nggak, Chin?” tanya Priska.
“Tahu kak,” angguk Chintya. “Dark Rhapsody itu organisasi sesat yang kerjaannya terus-terusan nyari tumbal sama terus-terusan nyari anggota. Kalau nyari tumbal, kakak udah tahu kan tujuannya buat apa? Nah, kalau nyari anggota, tujuannya buat menguasai dunia. Mereka mau semua orang jadi bagian dari mereka. Kalau udah gitu, dunia gampang mereka kuasain. Perlahan tapi pasti, anggota Dark Rhapsody terus-terusan bertambah. Orang-orang di komplek tadi, Komplek Nusa Indah, mereka semua anggota Dark Rhapsody, termasuk pemilik komplek, RT, sama RW’nya.”
“Kenapa mereka mau jadi anggota Dark Rhapsody?? Apa yang mereka dapet??”
“Mereka dapet rumah gratis, terus dapet apa yang mereka mau.”
“Rumah gratis??”
“Iya. Rumah gratis di Komplek Nusa Indah atau tempat lain yang orang-orangnya anggota Dark Rhapsody.”
“Detail banget. Kamu tahu informasi sedetail itu darimana, Chin?”
“Dari mantan anggota Dark Rhapsody. Dia temen deket aku. Dia keluar gara-gara aku nasehatin, terus juga gara-gara ada masalah sama salah satu pengikut organisasi itu. Tapi, beberapa hari kemudian, temenku itu hilang bagai ditelan bumi. Nggak pernah ada kabarnya lagi. Dia pernah bilang, siapapun yang keluar dari Dark Rhapsody harus dibunuh! Semoga itu nggak terjadi sama dia.” Tanpa terasa, air mata menetes dari pelupuk mata Chintya.
“Yaudah Chin, jangan dipikirin… Yang berlalu biarlah berlalu,” kata Priska. Ia mengelap air mata Chintya, lalu menepuk dan mengusap-usap pundaknya. “Jadi intinya, Dark Rhapsody itu selain nyari tumbal juga nyari anggota ya? Bahaya juga ada organisasi kayak gitu.”
“Tapi tumbalnya nggak sembarangan, kak. Tumbalnya harus cewek berumur belasan sampe dua puluh lima tahun. Karena bagi petinggi mereka, darah cewek dengan umur segitu rasanya enak banget. Terus, menurut mereka, apa yang baik buat mereka baik juga buat setan. Makanya, gadis-gadis yang mereka tangkep selain diisep darahnya juga dipersembahin buat setan.”
“Ohh…” Priska manggut-manggut. “Hmm… Ngomong-ngomong orangtua kamu kemana, Chin? Kamu tinggal disini sama siapa? Maaf banyak tanya.”
“Aku tinggal disini sama temen. Dia yang nampung aku pas aku berhasil kabur dari penjara yang ada di markas Dark Rhapsody. Untung aku ketemu dia, kalau nggak aku bisa terlantar di jalanan,” jawab Chintya. “Kalau orangtua aku … Mereka … Mereka jadi anggota Dark Rhapsody. Aku adalah orang yang mereka tumbalin,” lanjutnya. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.
“Udah udah…” Priska mengusap air mata Chintya. “Jangan sedih lagi, Chin. Yang penting kamu masih bisa hidup. Kehidupan itu mahal harganya.”
Chintya mengangguk. “Makasih, kak.” Ia lalu tersenyum.
Priska membalas senyuman Chintya. Setelah itu, ia menyeruput teh yang terhidang untuknya.
Chintya lalu menatap Ariel. “Kak Ariel, ayo diminum tehnya!”
Ariel hanya mengangguk. “Oh iya Chintya, kayaknya kita mau cabut dulu nih. Nggak apa-apa kan?” ucapnya kemudian.
“Iya kak, nggak apa-apa. Aku udah biasa sendirian kok,” balas Chintya.
“Ayo Pris, kita ada tugas,” ujar Ariel.
Priska menghela nafas. “Ayo deh,” ucapnya. “Chin, kita cabut dulu ya. Kamu bae-bae disini, oke?”
“Oke kak… Sip!” Chintya mengacungkan jempol.
Priska mengangkat tasnya, kemudian pergi mengikuti Ariel dan naik di belakang motor pemuda itu.
Tak lama, motor Ariel pun berangkat, berlalu meninggalkan kediaman Chintya.
=***=
Universitas Cahaya Sakti – Kota Sheraton, Kamis 30 April 2020, pukul 06:30 WIB.
Di luar, tak jauh dari pintu kelas…
“Selfie selfie! Selfie!” Priska mengarahkan kamera handphonenya ke atas kepalanya secara diagonal, dengan posisi layar handpone menghadap depan wajahnya.
Kedua temannya, Dhinda dan Jenny berdiri di kiri kanannya.
Klik!
Priska menekan tombol ‘OK’ pada handponenya.
Penampilan sudah cantik, gaya sudah oke, tapi apa daya, gambarnya rusak ketika Ariel lewat persis di belakang mereka tepat ketika tombol OK dipencet.
Bukan main sebalnya Priska saat itu. Ia pun menoleh ke belakang.
“Heh! Ngapain lo pake ada di belakang segala?” tanyanya pada Ariel. “Udah kemaren pas tugas nyebelin banget. Sekarang tambah nyebelin lagi. Rusak tuh foto selfie’an gue!”
Ariel hanya diam, lalu kembali meneruskan langkahnya.
“Heh! Denger nggak?? Dasar lo cowok nyebelin!” maki Priska. “Kenapa sih cowok kayak lo pake ada segala di dunia ini?? Eh, Denger nggak sih lo??”
Makian itu hanya diacuhkan saja oleh Ariel, bagaikan angin lalu. Ia terus saja melangkah, seolah seperti tidak terjadi apa-apa.
Food Court Univ. Cahaya Sakti, pukul 07:00 WIB.
“Sumpah ye, si Ariel itu nyebelin banget!? Pembawa sial buat kita tahu nggak tuh anak!?” ujar Priska.
“Emang dari dulu gitu kan?” kata Jenny. “Apalagi tuh anak belagu. Sok nggak mau temenan sama orang. Liat aja, dia sendirian terus.”
“Mentang-mentang punya perusahaan ternama di kota ini, terus jadi yang terbaik dalem segala bidang, dia nggak mau gaul sama anak-anak di kampus. Mungkin dia ngerasa kalau anak-anak di kampus nggak sepadan sama dia. Songong tuh anak,” timpal Priska.
Jenny mengangguk. “Setuju!”
“Oiya, kayaknya ada yang kurang nih!? Si Dhinda kemana sih?? Abis selfie langsung ngilang entah kemana tuh anak.” kata Priska.
“Entah.” Jenny mengangkat bahunya. “Dari bulan-bulan kemaren suka begitu tuh dia, ilang-ilangan nggak jelas. Nggak bilang pula mau kemana.”
Priska menghela nafas. “Ahh… Yaudahlah, biarin aja. Kita tungguin aja disini.”
Bersamaan dengan itu, di tempat lain. Di dalam kamar sebuah mansion megah nan angker.
“Strong … Sudah mati,” ucap seorang pria tinggi, berambut jambul dan berjaket biru panjang dengan logat `kejepangan`
“Dia itu sembrono. Pantas saja cepat mati,” timpal seorang wanita bertopeng gagak serta bergaun putih nan indah. “Kuat tapi bodoh, itu percuma saja.”
“Tapi … Kematian Strong membuat saya terpukul.”
“Biarkan saja! Orang itu memang pantas mati. Dia mati gara-gara kecerobohannya yang tidak melihat-lihat dulu kuat-lemahnya lawan. Asal sradak sruduk saja.”
“Orang itu … Padahal armornya lebih lemah dibanding armor Strong, tapi strateginya bukan main. Dan kekuatan tambahan pada armornya sanggup meluluh lantakkan Strong. Sayang, waktu itu saya cuma menyaksikan dari jauh. Saya fikir Strong bisa menang.”
“Itulah Strong. Dia itu bodoh. pakai ada acara kencan dengan gadis-gadis yang mau dia hisap darahnya segala. Dia terlalu banyak main-main dan tidak serius. Hanzo, jangan sampai kamu meniru dia!”
“Haik! Ratu Gagak, saya akan buktikan kalo saya lebih baik dibanding dia!”
“Bagus. Lakukan tugas kamu dengan baik!”
“Siap laksanakan! Demi organisasi kita, Dark Rhapsody!”
=***=
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:17
0
Kutip
Balas