Kaskus

Story

User telah dihapusAvatar border
TS
User telah dihapus
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
[ Science Fiction ] CODING A LIFE


Quote:



Spoiler for Daftar Isi - Coding A Life:



Please Kindly Enjoyemoticon-Toast
Diubah oleh User telah dihapus 25-10-2015 02:27
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
16.5K
84
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
User telah dihapusAvatar border
TS
User telah dihapus
#56
[ Chapter 26 ] - The Crownless King
kaskus-image


masih di rumah Ari,nampak kelimanya telah selesai di obrolan sebelumnya.
"aku tidak punya kata-kata yang ingin disampaikan.. lanjutkan saja ceritanya" kata Linda memulai mengutarakan pendapatnya.
"maaf,aku juga tidak akan lama di sini.. boleh aku berpamitan sekarang?" balas Kiki.
"kau bilang mau menyampaikan sesuatu kan tadi?" tanya Angga.

"aku hanya ingin bilang kalau saat ini aku tinggal berdekatan dengannya,kami sudah seperti saudara kandung semenjak aku mengenalnya di hari kematian ayahku" jawab Kiki.
"kalau begitu kau juga dekat dengan Henri?" tanya Ari.
"aku tidak punya pandangan negatif terhadap orang itu.. bagaimanapun ayahku selalu bilang bahwa Henri adalah rekan bisnisnya yang sangat baik.. sejak hari itu pun dia terlihat seperti orang tua ku sendiri
sama halnya para pengurus asramaku"
"jadi begitu.."

"jangan khawatirkan aku," balas Kiki tersenyum dengan mengangkat kembali kedua sisi bibirnya.
"lalu bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Ari lagi.
"perasaan apa?" jawab Kiki cepat.
"ayahmu telah dibunuh oleh orang itu.. bagaimana perasaanmu?"

"hanya karena aku tau kebenarannya,itu tidak mungkin mengubah perasaanku.. tidak peduli perampok mana,atau rekan kerja yang mana yang telah melakukannya,aku sudah menerima takdir ini sedari
dulu"
"kau pasti sudah tumbuh kuat" komentar Ari.
"dendam terkadang memang terlihat benar.. tapi tetap saja,hidup dengan kebencian di hati tidak pernah menyenangkan,maka dari itu aku ingin mengiklaskan apapun untuk kedamaian di hatiku ini"
"itu benar juga.. tapi,bagaimana dengan dia? bagaimanapun aku telah membunuh ayahnya"
"Henri meninggal karena kecelakaan di kantornya"ujar Kiki dengan pembawaan yang serius.

"kau salah,aku lah yang berada di balik kejadian itu" balas Ari.
"...."
"ini sudah genap 6 bulan setelah kejadian hari itu.. tapi kami benar-benar tidak bisa melupakannya begitu saja" ujar Angga.
"mengingatnya saja membuatku merinding" tambah Linda.

"Yah,aku sudah tau semuanya.. karena itu lah aku akhirnya bisa tau keberadaan Ari sekarang" jawab Kiki membuat ke empat orang lainnya bingung.
"kau sudah tau?" tanya Ilham.
"Andre yang memberitahuku,ia sudah menceritakan semuanya padaku.." jawab Kiki.
"siapa dia?"

"dia adalah orang yang menyerangmu tadi pagi.. semua data tentang pertemuanmu melawan Henri telah terekam dan di upload ke server pribadi Henri yang lainnya secara otomatis,itulah kenapa dia bisa
melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada Henri 6 bulan yang lalu" jelas Kiki agak panjang.
"jadi dia mengincarku.." ujar Ari lirih.
"dia hanya pemuda yang kesepian saja,ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.. dia sebenarnya pemuda yang baik kok"

"pemuda yang baik? apa seseorang yang baik disebut cukup baik setelah meledakkan ruangan milik orang lain?" balas Angga sepontan.
"begitu juga dengan temanmu.." jawab Kiki yang ditujukan untuk Ari.
"Aku bukan orang baik" ujar Ari mengerti apa yang sedang dibicarakan.
"aku tau kau ada di sana saat itu,tapi aku juga yakin bahwa bukan kau yang menyebabkan kecelakaan itu" balas Kiki seraya berdiri dari kursinya.



"baiklah,maaf kalau ada kata-kataku yang membebani pikiranmu" ujar Ari ikut berdiri dari kursinya.
"hem,itu sudah cukup.. aku senang bisa bertemu denganmu hari ini" balas Kiki.
"yoh,kapan-kapan datang lagi saja kesini"

"apa sudah selesai? aku bahkan baru saja tertarik dengan ceritamu mengenai teman laki-lakimu barusan" ujar Angga.
"tentang Andre hanya masalah waktu saja,aku yakin serangan yang kedua dan yang seterusnya juga akan datang lagi secara bergantian" jawab Kiki.
"merepotkan yah? padahal lebih baik jika dibicarakan secara baik-baik" ujar Linda.

Tak lama kemudian gerombolan anak muda berjumlah 7 orang tiba-tiba datang ke rumah Ari.
"wah dilihat dari luar rusaknya parah gila" komentar salah satu anak laki-laki yang sepantaran dengan Ari dan yang lainnya selepas memasuki rumah Ari.
"Permisi" ujar salah satunya yang ternyata seorang perempuan saat masuk ke ruang tamu.
"Yup,langsung saja ke atas" kata Ilham memberi komando pada ke tujuh anak tersebut.
ketujuhnya pun dengan sigap menuruti kata-kata tersebut dan lansung menuju ke lantai dua,walau beberapa diantaranya masih saja mencuri pandangan ke arah Kiki yang masih berdiri di ruang tamu.
"itu,matanya berpasangan.." komentar salah satunya sambil berbisik pada teman sebelahnya.
"sebaiknya aku ikut mereka ke atas saja" ujar Angga sambil menyusul semuanya ke lantai dua.

"siapa?" tanya Kiki pada Ilham.
"mereka anak-anak yang biasa ku temui di perpustakaan kota" jawab Ilham perihal siapa ke tujuh anak barusan.
"kelihatannya kau seperti boss mereka yah?" tanya Kiki lagi di tambah senyum kecil di akhir kalimatnya.
"tidak juga,dilihat dari mana pun seharusnya mereka sama seperti teman-temanku yang lainnya" jawab Ilham masih dengan ekspresi biasa tanpa mencoba membalas ekspresi lawan bicaranya.
"mereka itu anak jalanan yang giat belajar,Ilham sering memergoki ke tujuhnya di tempat-tempat fasilitas umum untuk belajar keahlian bekerja" tambah Ari.

"sudahlah,penjelasanku tadi sudah cukup jelas" balas Ilham keberatan hal tersebut di panjang lebarkan.
"benarkah? lalu akhirnya?" tanya Kiki yang kembali fokus ke Ari dan mengbaikan perkataan Ilham barusan saja.
"haha,iya akhirnya mereka belajar di bawah bimbingannya sejak 3 bulan terakhir ini.. beberapa sudah mulai kompeten untuk magang di beberapa perusahaan IT,berhubung ini tanggal merah
jadi mereka semua punya waktu luang untuk dimintai bantuan" jelas Ari.
"oh,itu bagus dong" komentar Kiki.

.
.
.

"mobilmu sudah siap" kata Ari saat mobil sedan hitam tiba di depan halaman rumahnya.
"kau tidak seperti kebanyakan orang yah?" komentar Kiki.
"apanya?"
"hmm,padahal aku akan pergi,tapi kau bahkan tidak meminta nomor Handphone ku atau semacamnya.. apa tidak rindu kalau bagitu?" jawab Kiki bergurau sambil diikuti tawa kecil.

"haha,benar juga.. tapi kau sendiri tau kan? dulu aku pernah menghapus semua dataku di server rumah sakit yang kita gunakan untuk operasi agar kau tidak mengenaliku,jadi kalau cuma nomor Handphone-mu atau e-mail mu
seharusnya mudah saja kan untukku mendapatkannya?" tanya Ari membalas dengan gurauan.
"seharusnya lho yah?" tantang Kiki dengan enteng.

sebelum kepergiannya pun nampak Kiki mengambil sebuah amplop kecil dari saku bajunya dan kemudian memberikannya pada Ari.
"nanti malam datang yah?" ujar Kiki saat menyerahkan amplop tersebut.
Ari hanya diam saja saat menerima dan mengantarkan tamunya menuju depan halaman yang kemudian hanya berdiri seiring kepergian sedan hitam yang tadi datang menjemput tamu perempuannya.



"datang kemana?" tanya Linda saat Ari kembali ke teras rumahnya dan masuk ke ruang tamu lagi.
"formal sekali sampai dimasukkan amplop begitu" komentar Angga yang sudah kembali ke lantai bawah.
"nanti dulu, lagi pula dia tadi bilang 'nanti malam datang yah?' 'kan? kalau begitu 85% isi amplop ini justru akan berbanding terbalik dari ekspektasi kita" ujar Ari sambil membuka amplop tersebut.
"tadi dia juga bilang ada hal yang ingin ia sampaikan tentang Andre,jadi 85% tadi kemungkinannya itu surat undangan dari orang itu" tambah Ilham.

"tepat sekali" komentar Ari.
"Ah,kalian masih saja suka memikirkan hal-hal yang merepotkan seperti itu" komentar Linda terus terang.
"sudah kuduga isinya akan seperti ini" kata Ari sambil meletakkan kembali kertas undangan tersebut di meja.
"apa isinya suratnya?" tanya Linda penasaran.
"..."

"siapa yang mau ikut denganku?" tanya Ari terdegar kurang semangat.

.
.
.
.

malam harinya pun telah tiba,Linda nampak sudah pulang kembali ke rumahnya sedangkan di rumah Ari hanya ada 2 penguni tetap rumah tersebut.
nampak bagian depan kamar Ari yang hancur sudah sedikit terlihat rapi karena ditutupi oleh lempeng kayu untuk menghalau udara dari luar masuk untuk sementara ini.
"nggak ada angkotan umum jam 8 malam begini,jalan kaki saja sampai jalan raya" kata Ari tengah mengunci pintu depan rumahnya,dirinya terlihat mangenakan jaket tepal dan celana panjang serta
membawa tas punggung,sama halnya dengan Ilham.
"jalan kaki malam-malam kayaknya kurang baik" komentar Ilham.
"sekali ini saja.." balas Ari saat keduanya mulai berangkat.




"maaf yah,malam-malam begini kau malah aku minta datang ke sini" kata seorang pemuda pada wanita yang baru saja datang ke ruangannya.
"tidak apa-apa,lagi pula kegiatan belajar mengajarnya besok dimulai jam 1 siang,jadi aku masih punya waktu untuk istirahat sepulang dari sini" balas wanita tersebut yang rupanya adalah Kiki.
"apa bagas dan galih sudah datang?"
"oh.. aku tidak tahu,aku langsung ke sini begitu saja"
"jadi tinggal 3 orang itu saja yah yang belum datang.." gumam pemuda yang berada bersama Kiki.

"masalah Ari,mungkin dia tidak datang sendirian.." ujar Kiki menanggapi soal 3 orang yang dimaksud pemuda tadi.
"bukan dia,tapi yang satunya lagi" balas pemuda itu.




"Silahkan masuk" sapa seorang yang berdiri di depan pintu ruangan tempat Ari diundang datang.
nampaknya tempat tersebut adalah salah satu ruang kumpul di perguruan tinggi milik Henri.
"oh,baguslah kalau ada banyak orang.. kukira aku akan duduk di ruangan ini hanya bertiga,makannya aku mangajak orang lain" ujar Ari berbicara sendiri.
di dalam ruangan yang luas tersebut rupanya telah di penuhi puluhan orang yang sudah duduk di kursinya masing-masing.
"lihat orang-orang itu? dan juga mejanya berbentuk bundar.. apa mereka ingin bermain poker malam ini?" tanya Ari pada temannya.
"bukan poker kurasa.. tapi tebakanmu kurasa benar,kau diundang kesini untuk ditantang sesuatu" jawab Ilham.

selepas Ari dan Ilham memasuki ruangan tersebut,pintunya pun akhirnya ditutup dari luar.
pemandangan yang aneh ketika puluhan orang dengan tatapan yang seragam menatap 2 orang yang tengah berdiri membelakangi pintu masuk.
"ini dia tuan rumahnya" celoteh Ari ketika seorang pemuda yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah tua dan celana panjang hitam memasuki ruangan tersebut.
"selamat bergabung di pesta ini" sapa pemuda tersebut dengan ekspresi datar di wajahnya.

"jadi begitu cara orang kaya menyambut seseorang" komentar Ari dengan nada lirih yang hanya ditujukan pada teman disamping kirinya.
"dia di atas orang kaya" balas Ilham masih dengan nada lirih meladeni celotehan temannya.
"oh ya? aku tebak dompetnya hanya berisi 12 lembar uang 50 ribu dan 2 buah kartu kredit" balas Ari lagi.
"haha,orang kaya tidak menyimpan pecahan 50 ribu" ujar Ilham masih membalas perkataan Ari.

sementara di sisi sang tuan rumah yang berdiri bersama teman perempuannya yang tak lain adalah Kiki,nampak memasang wajah serius sambil memandang kedua tamunya yang masih bergumam dari kejauhan.

{ dipikir-pikir untuk melangkah ke depan saja aku merasa takut.. } batin Ari masih diam di tempat bersama temannya.
"gimana ini? sambutannya justru membuat suasananya jadi kaku" gumam Ilham.
"tekanannya terasa banget,mereka benar-benar mau mengintimidasi kita rupanya" balas Ari berusaha menciptakan pembawaan yang sesuai.
"jabat tangan saja terus pulang" ujar Ilham masih berusaha mengendalikan situasi di ruangan tersebut dengan bergurau.



{ baiklah,ayo cari tahu apa yang diinginkan si Henri Junior ini.. } ujar Ari dalam hati.
"Terima kasih atas undangannya.. aku harap kau tidak keberatan aku membawa teman" sapa Ari diikuti langkahnya berjalan menuju arah sang tuan rumah yang berjarak hampir 100meter darinya.

# 2 pasang pemeran utama telah hadir serta kehadiran 3 orang yang masih dinanti
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.