- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.4K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#313
UPDATE BAB 3 PART 6
Quote:
BAB 3 PART 6
Pagi itu gw terbangun oleh suara ketukan di pintu. Gw membuka mata gw. Perlu beberapa saat untuk gw mengumpulkan nyawa dulu, karena sebelum terbangun tadi sepertinya tidur gw sangat lelap.
Gw dengar sayup-sayup suara gerimis di luar. Hujan yang dari semalam turun ternyata belum juga berhenti.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Lebih memaksa.
Gw beranjak dari futon, berjalan menuju pintu. Suhu udara yang dingin hampir membuat gw untuk mengacuhkan saja suara ketukan itu, kembali menuju futon gw yang hangat. Tapi suara ketukan itu tidak berhenti juga.
Gw membuka pintu. Terlihat Keiko yang sedang berdiri sambil cemberut menyilangkan tangan di dadanya.
"Kok lama? Aku udah ketuk pintu dari tadi," ujarnya tiba-tiba.
Gw yang masih setengah sadar, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna perkataan Keiko barusan.
Dia langsung masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?" gw bertanya setelah nyawa gw terkumpul semua.
“Aku pinjam payung," katanya.
"Emang mau kemana pagi-pagi gini? Diluar hujan," gw tetap berdiri di ambang pintu sambil ngeliatin Keiko mengambil payung.
"Hari ini aku mulai casting. Dari pagi aku harus sudah siap disana," ujar Keiko sambil menenteng payung. "Aku pinjam dulu, ya,"
"Hujan-hujan begini tetap mau pergi?"
"Mau gimana lagi," kata Keiko sambil keluar dari ambang pintu.
"Ya udah. Hati-hati di jalan," kata gw.
"Aku pergi dulu, ya" sahut Keiko.
"Selamat jalan,"
Gw perhatikan Keiko berjalan di koridor. Di depan pintu kamarnya ada sebuah koper yang langsung dibawanya. Gw perhatikan dia hingga ujung koridor, membelok ke kiri, dan menghilang.
Udara pagi ini menusuk kulit. Ditambah hujan yang dari semalam turun, membuat gw malas kemana-mana. Gw balik lagi ke dalam kamar.
Kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di hape, menunjukkan pukul setengah 8 lebih sedikit.
Gimana gw bisa sarapan kalau hujan begini? Pergi ke Laws*n untuk beli sarapan memang hanya tinggal menyeberang jalan saja, tapi payungnya udah keburu dipinjam Keiko.
Ya sudahlah, gw habiskan pagi ini tanpa sarapan. Mudah-mudahan menjelang siang nanti hujan sudah mulai reda, dan gw bisa mencari tempat makan di sekitar stasiun.
Pagi itu gw habiskan hanya dengan tidur-tiduran di balik selimut gw yang hangat sambil streaming-an Youtube.
Di kamar Seichi ini ada Wi-Fi, jadi walaupun gak ada TV, gw masih punya hiburan browsing-browsing internet. Kecepatan internet yang sudah 4G membuat gw keasyikan dan lupa waktu.
Lagi asyik-asyiknya nonton Youtube, ada notification dari LINE. Ada satu kontak baru yang nge-add gw. Gw lihat nama kontaknya, ternyata Keiko.
Darimana dia tahu LINE gw?
Tiba-tiba dia langsung chat gw.
Ada apa nih?
Dia becanda, kan?
Mau gak mau gw pun mengiyakan. Haduuhh...kok dia bisa ceroboh gini?
Gw membuka pintu depan dan keluar. Terpaan angin dingin menerpa wajah gw. Gw lihat keluar, gw baru sadar kalau hujan belum berhenti, malah semakin besar.
Gw menuju lift dan turun ke lantai 1, mengambil kunci kamar Keiko.
Balik lagi ke lantai 3, gw masuk ke kamar Keiko.
Begitu masuk ke genkan, gw melihat ada tas dari plastik tergeletak di depan rak sepatu, di dalamnya terlihat sweater warna hitam-pink terlipat. Ini dia kostumnya.
Gw balik lagi ke kamar Seichi dan ganti baju. Setelah gw siap-siap mau keluar, gw baru sadar kalau gw gak ada payung. Terus gw harus gimana perginya? Masa harus basah-basahan?
Gw pun mencari-cari di kamar Seichi, siapa tahu ada payung lagi. Di genkan, di dapur, di depan kamar mandi, gw cari-cari tetap gak ada.
Gw buka lemari baju, ada jas hujan model baju dan celana. Gw bentangkan jas hujan itu, modelnya mirip dengan jas hujan yang ada di Indonesia, jas hujan yang sering dipakai pengendara motor. Mungkin jas hujan ini punya Seichi.
Ya sudahlah, pake ini aja. Daripada gw basah kuyup.
Gw pun memakai jas hujan itu. Gw sampirkan tutup kepalanya ke atas kepala gw, lalu gw tarik tali pengencangnya dan gw ikatkan di dagu gw.
Tampang gw pasti aneh, pikir gw.
Gw membungkus kostum kelinci Keiko dengan kantong plastik, dan gw pun keluar, pergi menuju stasiun.
Niat gw tadi mau ke stasiun memang kesampaian, tapi gak dengan pakaian gini juga, sambil hujan-hujanan membawa kostum kelinci
Pagi itu gw terbangun oleh suara ketukan di pintu. Gw membuka mata gw. Perlu beberapa saat untuk gw mengumpulkan nyawa dulu, karena sebelum terbangun tadi sepertinya tidur gw sangat lelap.
Gw dengar sayup-sayup suara gerimis di luar. Hujan yang dari semalam turun ternyata belum juga berhenti.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Lebih memaksa.
Gw beranjak dari futon, berjalan menuju pintu. Suhu udara yang dingin hampir membuat gw untuk mengacuhkan saja suara ketukan itu, kembali menuju futon gw yang hangat. Tapi suara ketukan itu tidak berhenti juga.
Gw membuka pintu. Terlihat Keiko yang sedang berdiri sambil cemberut menyilangkan tangan di dadanya.
"Kok lama? Aku udah ketuk pintu dari tadi," ujarnya tiba-tiba.
Gw yang masih setengah sadar, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna perkataan Keiko barusan.
Dia langsung masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?" gw bertanya setelah nyawa gw terkumpul semua.
“Aku pinjam payung," katanya.
"Emang mau kemana pagi-pagi gini? Diluar hujan," gw tetap berdiri di ambang pintu sambil ngeliatin Keiko mengambil payung.
"Hari ini aku mulai casting. Dari pagi aku harus sudah siap disana," ujar Keiko sambil menenteng payung. "Aku pinjam dulu, ya,"
"Hujan-hujan begini tetap mau pergi?"
"Mau gimana lagi," kata Keiko sambil keluar dari ambang pintu.
"Ya udah. Hati-hati di jalan," kata gw.
"Aku pergi dulu, ya" sahut Keiko.
"Selamat jalan,"
Gw perhatikan Keiko berjalan di koridor. Di depan pintu kamarnya ada sebuah koper yang langsung dibawanya. Gw perhatikan dia hingga ujung koridor, membelok ke kiri, dan menghilang.
Udara pagi ini menusuk kulit. Ditambah hujan yang dari semalam turun, membuat gw malas kemana-mana. Gw balik lagi ke dalam kamar.
Kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di hape, menunjukkan pukul setengah 8 lebih sedikit.
Gimana gw bisa sarapan kalau hujan begini? Pergi ke Laws*n untuk beli sarapan memang hanya tinggal menyeberang jalan saja, tapi payungnya udah keburu dipinjam Keiko.
Ya sudahlah, gw habiskan pagi ini tanpa sarapan. Mudah-mudahan menjelang siang nanti hujan sudah mulai reda, dan gw bisa mencari tempat makan di sekitar stasiun.
Pagi itu gw habiskan hanya dengan tidur-tiduran di balik selimut gw yang hangat sambil streaming-an Youtube.
Di kamar Seichi ini ada Wi-Fi, jadi walaupun gak ada TV, gw masih punya hiburan browsing-browsing internet. Kecepatan internet yang sudah 4G membuat gw keasyikan dan lupa waktu.
Lagi asyik-asyiknya nonton Youtube, ada notification dari LINE. Ada satu kontak baru yang nge-add gw. Gw lihat nama kontaknya, ternyata Keiko.
Darimana dia tahu LINE gw?
Tiba-tiba dia langsung chat gw.
Quote:
Keiko: "Rangga-san, aku minta tolong,"
Ada apa nih?
Quote:
Gw: "Ada apa?"
Keiko: "Kostum kelinci aku ketinggalan di kamar. Tolong bawa kesini,"
Gw: "Loh, kok bisa ketinggalan? Kesini itu kemana?"
Keiko: "Nanti aja aku ceritain. Tolong banget ya,"
Keiko: "Kostum kelinci aku ketinggalan di kamar. Tolong bawa kesini,"
Gw: "Loh, kok bisa ketinggalan? Kesini itu kemana?"
Keiko: "Nanti aja aku ceritain. Tolong banget ya,"
Dia becanda, kan?
Quote:
Keiko: "Kunci kamar aku ada loker di lantai 1. Nomor lokernya 3434. Nanti aku tunggu di stasiun Sendai, di pintu keluar timur."
Gw: "Keiko, Ini beneran?"
Keiko: "Mana mungkin aku becanda lagi gawat gini. Tolong banget, ya. Aku tunggu di stasiun Sendai,"
Gw: "Keiko, Ini beneran?"
Keiko: "Mana mungkin aku becanda lagi gawat gini. Tolong banget, ya. Aku tunggu di stasiun Sendai,"
Mau gak mau gw pun mengiyakan. Haduuhh...kok dia bisa ceroboh gini?
Gw membuka pintu depan dan keluar. Terpaan angin dingin menerpa wajah gw. Gw lihat keluar, gw baru sadar kalau hujan belum berhenti, malah semakin besar.
Gw menuju lift dan turun ke lantai 1, mengambil kunci kamar Keiko.
Balik lagi ke lantai 3, gw masuk ke kamar Keiko.
Begitu masuk ke genkan, gw melihat ada tas dari plastik tergeletak di depan rak sepatu, di dalamnya terlihat sweater warna hitam-pink terlipat. Ini dia kostumnya.
Gw balik lagi ke kamar Seichi dan ganti baju. Setelah gw siap-siap mau keluar, gw baru sadar kalau gw gak ada payung. Terus gw harus gimana perginya? Masa harus basah-basahan?
Gw pun mencari-cari di kamar Seichi, siapa tahu ada payung lagi. Di genkan, di dapur, di depan kamar mandi, gw cari-cari tetap gak ada.
Gw buka lemari baju, ada jas hujan model baju dan celana. Gw bentangkan jas hujan itu, modelnya mirip dengan jas hujan yang ada di Indonesia, jas hujan yang sering dipakai pengendara motor. Mungkin jas hujan ini punya Seichi.
Ya sudahlah, pake ini aja. Daripada gw basah kuyup.
Gw pun memakai jas hujan itu. Gw sampirkan tutup kepalanya ke atas kepala gw, lalu gw tarik tali pengencangnya dan gw ikatkan di dagu gw.
Tampang gw pasti aneh, pikir gw.
Gw membungkus kostum kelinci Keiko dengan kantong plastik, dan gw pun keluar, pergi menuju stasiun.
Niat gw tadi mau ke stasiun memang kesampaian, tapi gak dengan pakaian gini juga, sambil hujan-hujanan membawa kostum kelinci

VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 3 PART 6
Pagi itu gw terbangun oleh suara ketukan di pintu. Gw membuka mata gw. Perlu beberapa saat untuk gw mengumpulkan nyawa dulu, karena sebelum terbangun tadi sepertinya tidur gw sangat lelap.
Gw dengar sayup-sayup suara gerimis di luar. Hujan yang dari semalam turun ternyata belum juga berhenti.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Lebih memaksa.
Gw beranjak dari futon, berjalan menuju pintu. Suhu udara yang dingin hampir membuat gw untuk mengacuhkan saja suara ketukan itu, kembali menuju futon gw yang hangat. Tapi suara ketukan itu tidak berhenti juga.
Gw membuka pintu. Terlihat Keiko yang sedang berdiri sambil cemberut menyilangkan tangan di dadanya.
"Osoi! saki kara nokku shita noni,"
"Kok lama? Aku udah ketuk pintu dari tadi,”ujarnya tiba-tiba.
Gw yang masih setengah sadar, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna perkataan Keiko barusan.
Dia langsung masuk ke dalam kamar.
"Dou shita no?"
"Ada apa?” gw bertanya setelah nyawa gw terkumpul semua.
"kasa kashite,"
"Aku pinjam payung,” katanya.
"Asa kara doko e iku no? ame ga mada futteru yo,"
"Emang mau kemana pagi-pagi gini? Diluar hujan,” gw tetap berdiri di ambang pintu sambil ngeliatin Keiko mengambil payung.
"Kyou wa kyasutingu ga hajimaru no. Asa kara genba de reedi shinakya,"
"Hari ini aku mulai casting. Dari pagi aku harus sudah siap disana,” ujar Keiko sambil menenteng payung.
"Kono kasa, kariru ne"
"Aku pinjam ini dulu, ya,”
"Ame no naka ni iku no?"
"Hujan-hujan begini tetap mau pergi?”
"shikata ga nai deshou,"
"Mau gimana lagi,” kata Keiko sambil keluar dari ambang pintu.
"Sou ka. Ki wo tsukete ne,"
"Ya udah. Hati-hati di jalan,” kata gw.
"Ittekimasu,"
"Aku pergi dulu, ya”” sahut Keiko.
"Itterasshai,"
"Selamat jalan,”
Gw perhatikan Keiko berjalan di koridor. Di depan pintu kamarnya ada sebuah koper yang langsung dibawanya. Gw perhatikan dia hingga ujung koridor, membelok ke kiri, dan menghilang.
Udara pagi ini menusuk kulit. Ditambah hujan yang dari semalam turun, membuat gw malas kemana-mana. Gw balik lagi ke dalam kamar.
Kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di hape, menunjukkan pukul setengah 8 lebih sedikit.
Gimana gw bisa sarapan kalau hujan begini? Pergi ke Laws*n untuk beli sarapan memang hanya tinggal menyeberang jalan
saja, tapi payungnya udah keburu dipinjam Keiko.
Ya sudahlah, gw habiskan pagi ini tanpa sarapan. Mudah-mudahan menjelang siang nanti hujan sudah mulai reda, dan gw bisa mencari tempat makan di sekitar stasiun.
Pagi itu gw habiskan hanya dengan tidur-tiduran di balik selimut gw yang hangat sambil streaming-an Youtube.
Di kamar Seichi ini ada Wi-Fi, jadi walaupun gak ada TV, gw masih punya hiburan browsing-browsing internet. Kecepatan internet yang sudah 4G membuat gw keasyikan dan lupa waktu.
Lagi asyik-asyiknya nonton Youtube, ada notification dari LINE. Ada satu kontak baru yang nge-add gw. Gw lihat nama kontaknya, ternyata Keiko.
Darimana dia tahu LINE gw?
Tiba-tiba dia langsung chat gw.
Ada apa nih?
Dia becanda, kan?
Mau gak mau gw pun mengiyakan.
Haduuhh...kok dia bisa ceroboh gini?
Gw membuka pintu depan dan keluar. Terpaan angin dingin menerpa wajah gw. Gw lihat keluar, hujan belum juga berhenti, malah semakin besar.
Gw menuju lift dan turun ke lantai 1, mengambil kunci kamar Keiko.
Balik lagi ke lantai 3, gw masuk ke kamar Keiko.
Begitu masuk ke genkan, gw melihat ada tas dari plastik, tergeletak di depan rak sepatu. di dalamnya terlihat sweater warna hitam-pink terlipat. Ini dia kostumnya.
Gw balik lagi ke kamar Seichi dan ganti baju. Setelah gw siap-siap mau keluar, gw baru sadar kalau gw gak ada payung.
Terus gw harus gimana perginya? Masa harus basah-basahan?
Gw pun mencari-cari di kamar Seichi, siapa tahu ada payung lagi. Di genkan, di dapur, di depan kamar mandi, gw cari-cari tetap gak ada.
Gw buka lemari baju, ada jas hujan model baju dan scelana. Gw bentangkan jas hujan itu, modelnya mirip dengan jas hujan yang ada di Indonesia, jas hujan yang sering dipakai oleh pengendara motor. Mungkin jas hujan ini punya Seichi.
Ya sudahlah, pake ini aja. Daripada gw basah kuyup.
Gw pun memakai jas hujan itu. Gw sampirkan tutup kepalanya ke atas kepala gw, lalu gw tarik tali pengencangnya dan gw ikatkan di dagu gw.
Tampang gw pasti aneh, pikir gw.
Gw membungkus kostum kelinci Keiko dengan kantong plastik, dan gw pun keluar, pergi menuju stasiun.
Niat gw tadi mau ke stasiun memang kesampaian, tapi gak dengan pakaian gini juga, sambil hujan-hujanan membawa kostum kelinci
Pagi itu gw terbangun oleh suara ketukan di pintu. Gw membuka mata gw. Perlu beberapa saat untuk gw mengumpulkan nyawa dulu, karena sebelum terbangun tadi sepertinya tidur gw sangat lelap.
Gw dengar sayup-sayup suara gerimis di luar. Hujan yang dari semalam turun ternyata belum juga berhenti.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Lebih memaksa.
Gw beranjak dari futon, berjalan menuju pintu. Suhu udara yang dingin hampir membuat gw untuk mengacuhkan saja suara ketukan itu, kembali menuju futon gw yang hangat. Tapi suara ketukan itu tidak berhenti juga.
Gw membuka pintu. Terlihat Keiko yang sedang berdiri sambil cemberut menyilangkan tangan di dadanya.
"Osoi! saki kara nokku shita noni,"
"Kok lama? Aku udah ketuk pintu dari tadi,”ujarnya tiba-tiba.
Gw yang masih setengah sadar, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna perkataan Keiko barusan.
Dia langsung masuk ke dalam kamar.
"Dou shita no?"
"Ada apa?” gw bertanya setelah nyawa gw terkumpul semua.
"kasa kashite,"
"Aku pinjam payung,” katanya.
"Asa kara doko e iku no? ame ga mada futteru yo,"
"Emang mau kemana pagi-pagi gini? Diluar hujan,” gw tetap berdiri di ambang pintu sambil ngeliatin Keiko mengambil payung.
"Kyou wa kyasutingu ga hajimaru no. Asa kara genba de reedi shinakya,"
"Hari ini aku mulai casting. Dari pagi aku harus sudah siap disana,” ujar Keiko sambil menenteng payung.
"Kono kasa, kariru ne"
"Aku pinjam ini dulu, ya,”
"Ame no naka ni iku no?"
"Hujan-hujan begini tetap mau pergi?”
"shikata ga nai deshou,"
"Mau gimana lagi,” kata Keiko sambil keluar dari ambang pintu.
"Sou ka. Ki wo tsukete ne,"
"Ya udah. Hati-hati di jalan,” kata gw.
"Ittekimasu,"
"Aku pergi dulu, ya”” sahut Keiko.
"Itterasshai,"
"Selamat jalan,”
Gw perhatikan Keiko berjalan di koridor. Di depan pintu kamarnya ada sebuah koper yang langsung dibawanya. Gw perhatikan dia hingga ujung koridor, membelok ke kiri, dan menghilang.
Udara pagi ini menusuk kulit. Ditambah hujan yang dari semalam turun, membuat gw malas kemana-mana. Gw balik lagi ke dalam kamar.
Kantuk gw udah hilang. Gw lihat jam di hape, menunjukkan pukul setengah 8 lebih sedikit.
Gimana gw bisa sarapan kalau hujan begini? Pergi ke Laws*n untuk beli sarapan memang hanya tinggal menyeberang jalan
saja, tapi payungnya udah keburu dipinjam Keiko.
Ya sudahlah, gw habiskan pagi ini tanpa sarapan. Mudah-mudahan menjelang siang nanti hujan sudah mulai reda, dan gw bisa mencari tempat makan di sekitar stasiun.
Pagi itu gw habiskan hanya dengan tidur-tiduran di balik selimut gw yang hangat sambil streaming-an Youtube.
Di kamar Seichi ini ada Wi-Fi, jadi walaupun gak ada TV, gw masih punya hiburan browsing-browsing internet. Kecepatan internet yang sudah 4G membuat gw keasyikan dan lupa waktu.
Lagi asyik-asyiknya nonton Youtube, ada notification dari LINE. Ada satu kontak baru yang nge-add gw. Gw lihat nama kontaknya, ternyata Keiko.
Darimana dia tahu LINE gw?
Tiba-tiba dia langsung chat gw.
Quote:
"Rangga-san, tanomitai koto ga aru,"
Keiko: "Rangga-san, aku minta tolong,”
Keiko: "Rangga-san, aku minta tolong,”
Ada apa nih?
Quote:
"Dou shita no?"
Gw: "Ada apa?”
"Usagi no kosuchuumu ga heya ni wasurete motte ikanakatta. Koko ni motte kite kuremasu ka?"
Keiko: "Kostum kelinci aku ketinggalan di kamar. Tolong bawa kesini,”
"He? doushite wasurechatta no? Sore ni koko ni tte doko ni?"
Gw: "Loh, kok bisa ketinggalan? Kesini itu kemana?”
"Ato de iu kara, onegai ne,"
Keiko: "Nanti aja aku ceritain. Tolong banget ya,”
Gw: "Ada apa?”
"Usagi no kosuchuumu ga heya ni wasurete motte ikanakatta. Koko ni motte kite kuremasu ka?"
Keiko: "Kostum kelinci aku ketinggalan di kamar. Tolong bawa kesini,”
"He? doushite wasurechatta no? Sore ni koko ni tte doko ni?"
Gw: "Loh, kok bisa ketinggalan? Kesini itu kemana?”
"Ato de iu kara, onegai ne,"
Keiko: "Nanti aja aku ceritain. Tolong banget ya,”
Dia becanda, kan?
Quote:
"atashi no heyo no kagi wa ikkai ni rokka ni oite aru. Rokka no bango wa 3434. Sendai eki ni matteru kara. Higashi deguchi ni matteru,"
Keiko: "Kunci kamar aku ada loker di lantai 1. Nomor lokernya 3434. Nanti aku tunggu di stasiun Sendai, di pintu keluar timur,
"Keiko-chan, kore tte joudan?"
Gw: "Keiko, Ini beneran?”
"Konna pinchi na toki ni joudan no baai ja nai no. Hontou ni onegai kara. Sendai eki ni matteru ne,"
Keiko: "Mana mungkin aku becanda lagi gawat gini. Tolong banget, ya. Aku tunggu di stasiun Sendai,”
Keiko: "Kunci kamar aku ada loker di lantai 1. Nomor lokernya 3434. Nanti aku tunggu di stasiun Sendai, di pintu keluar timur,
"Keiko-chan, kore tte joudan?"
Gw: "Keiko, Ini beneran?”
"Konna pinchi na toki ni joudan no baai ja nai no. Hontou ni onegai kara. Sendai eki ni matteru ne,"
Keiko: "Mana mungkin aku becanda lagi gawat gini. Tolong banget, ya. Aku tunggu di stasiun Sendai,”
Mau gak mau gw pun mengiyakan.
Haduuhh...kok dia bisa ceroboh gini?
Gw membuka pintu depan dan keluar. Terpaan angin dingin menerpa wajah gw. Gw lihat keluar, hujan belum juga berhenti, malah semakin besar.
Gw menuju lift dan turun ke lantai 1, mengambil kunci kamar Keiko.
Balik lagi ke lantai 3, gw masuk ke kamar Keiko.
Begitu masuk ke genkan, gw melihat ada tas dari plastik, tergeletak di depan rak sepatu. di dalamnya terlihat sweater warna hitam-pink terlipat. Ini dia kostumnya.
Gw balik lagi ke kamar Seichi dan ganti baju. Setelah gw siap-siap mau keluar, gw baru sadar kalau gw gak ada payung.
Terus gw harus gimana perginya? Masa harus basah-basahan?
Gw pun mencari-cari di kamar Seichi, siapa tahu ada payung lagi. Di genkan, di dapur, di depan kamar mandi, gw cari-cari tetap gak ada.
Gw buka lemari baju, ada jas hujan model baju dan scelana. Gw bentangkan jas hujan itu, modelnya mirip dengan jas hujan yang ada di Indonesia, jas hujan yang sering dipakai oleh pengendara motor. Mungkin jas hujan ini punya Seichi.
Ya sudahlah, pake ini aja. Daripada gw basah kuyup.
Gw pun memakai jas hujan itu. Gw sampirkan tutup kepalanya ke atas kepala gw, lalu gw tarik tali pengencangnya dan gw ikatkan di dagu gw.
Tampang gw pasti aneh, pikir gw.
Gw membungkus kostum kelinci Keiko dengan kantong plastik, dan gw pun keluar, pergi menuju stasiun.
Niat gw tadi mau ke stasiun memang kesampaian, tapi gak dengan pakaian gini juga, sambil hujan-hujanan membawa kostum kelinci

0
Kutip
Balas