- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.3K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#291
UPDATE BAB 3 PART 5
Quote:
BAB 3 PART 5
Gw membantu mengangkut kardus-kardus berisi pakaian Keiko.
Gw mengikuti dia menuju kamarnya, yang hanya beberapa langkah dari kamar Seichi yang gw tinggali ini.
Keiko membuka pintu kamarnya, lalu masuk lebih dulu.
“silakan,“ kata Keiko.
“permisi,“ kata gw.
Letak ruangan-ruangan di kamarnya sama dengan kamar Seichi. Hanya perabotannya saja yang berbeda. Di kamar Keiko ini, lebih banyak perabotan dan barang-barang khas cewek.
Ketika masuk ke ruang tengah, gw lihat ada beberapa bantal besar, meja kecil, dan beberapa pernak-pernik lainnya, dengan warna-warna cerah.
“Letakkan disini saja,“ kata Keiko sambil menunjuk salah satu sudut di ruangan itu.
Gw pun meletakkan kardus-kardus tersebut.
“ini, silakan,“ Keiko memberi sebotol ocha hangat ke gw.
Tumben, kata gw dalam hati. Ternyata dia bisa juga jadi tuan rumah yang baik. Mempersilakan tamunya masuk, dan menyuguhkan minuman. Kirain bakal bertindak seenaknya seperti yang biasanya dia lakukan ketika di kamar Seichi.
“Makasih,“ gw menerima ochanya. Gw minum ochanya seteguk untuk menghangatkan badan.
Kami pun duduk di ruang tengah itu, saling berhadapan. Ada meja kecil diantara kami.
“Cuacanya makin dingin, ya,“ kata gw.
“Ya. Sebentar lagi musim dingin,“ timpal Keiko. “Sendai lebih dingin dari Tokyo, ya?“
“Ya, waktu aku di Tokyo, aku masih bisa memakai pakaian tipis. Kalau disini, harus pakai jaket,“ sahut gw.
“Kamu tahu aku pernah ke Tokyo?“ kata gw, baru sadar kok dia nanya Tokyo ke gw, seolah udah tahu kalo gw pernah ke Tokyo.
“Aku tau dari Seichi. Kemarin aku ngobrol di LINE dengan Seichi,“ kata dia.
Waduh, ternyata tanpa sepengetahuan gw, Seichi sama Keiko ngomongin gw.
“Tapi bukan ngomongin yang aneh-aneh, kok. Aku cuma pengen tahu siapa yang menginap di kamar Seichi, jadi aku tanya Seichi langsung,“ ujar dia, seolah mengklarifikasi kalau-kalau ngomongin gw tanpa sepengetahuan orangnya adalah hal yang bisa bikin gw tersinggung.
“Gak apa-apa, kok,“ kata gw kalem.
“Kalo di sebelah kamar aku itu orang seperti stalker, kan bahaya,“ tambah Keiko.
Weleh, masa gw disangka stalker.
Tapi wajar sih kalo cewek secantik Keiko takut dengan stalker. Di Jepang, stalker mempunyai makna orang yang suka membuntuti seseorang secara diam-diam, dan biasanya korbannya perempuan.
Banyak motif yang membuat seseorang menjadi stalker. Mulai dari orang yang ingin berbuat kriminal, hingga seseorang yang punya perasaan suka pada seorang perempuan, tapi tak berani mengungkapkannya. Jadinya dia hanya bisa melihat dari jauh, lalu membuntuti, hingga membuat perempuan itu merasa ketakutan dan merasa tidak aman.
“Masa aku dikira stalker? Kalo aku suka sama kamu, aku gak akan jadi stalker. Aku bakal langsung bilang kalo aku suka sama kamu,“ ucap gw.
Keiko kaget mendengar perkataan gw barusan. Wajah kagetnya terlihat jelas, terlihat dari tatapan matanya.
Hening. Lalu jeda yang panjang. Suasana menjadi canggung.
Waduh, kayaknya gw salah ngomong.
“Wortel,“ kata gw tiba-tiba. Gw perlu mengalihkan perhatian, agar awkward moment ini gak berkelanjutan.
“Wortel?“
“Wortel yang dari orangtua kamu. Masih banyak, kan?“
“O itu. Iya masih banyak,“
Dia berdiri dari duduknya, melangkah ke depan kulkas, dan mengeluarkan wortel dari dalam kulkas.
“Sebanyak ini,“ kata Keiko memperlihatkan satu plastik besar berisi wortel. “Aku bingung harus aku apain,,“
“Hmm...banyak juga ya,“ gw juga bingung kalo dikirimin wortel sebanyak ini. "“Kalo dibagiin aja ke tetangga yang lain, gimana?”"
“Sudah. Tapi tetap saja masih tersisa sebanyak ini,“ kata dia, memperlihatkan ekspresi kecewanya dengan menelengkan sedikit kepalanya sambil agak memonyongkan bibirnya.
Gw pun dengan suksesnya salah fokus.
“Pinjam hape kamu,“ kata gw ke Keiko.
“Untuk apa?“ tanya dia.
“Operasi Penghabisan Wortel. Tolong buka broswer internet,“ jawab gw.
“Operasi Penghabisan Wortel,?“ kata Keiko heran.
Dia ngutak ngatik hapenya sebentar lalu memberikan hapenya ke gw.
Gw pun browse internet di hapenya.
“Nih,“ sahut gw, memperlihatkan hapenya pada Keiko.
Dia melihat hapenya. Ada beberapa nama masakan disitu. Masakan berbahan dasar wortel.
“Resep masakan?“ tanya dia. “Jadi memasak makanan yang menggunakan bahan wortel?“ seru Keiko.
“Ya. Masak sampai wortelnya habis tak bersisa. Aku dapat ide ini ketika kamu masakin aku kare wortel,“ kata gw. “Kali ini aku bantu kamu memasak. Kalau masak berdua pasti lebih menyenangkan,“ tambah gw.
“Bener?“
“Iya. Gimana?“
“Boleh juga,“ Keiko tersenyum.
Dan dalam sekejap saja Keiko sudah ngutak-ngatik hapenya, melihat resep-resep masakan yang bakal kami berdua masak nanti.
Nah, ini kayanya enak. Eh, kalo ini kayanya susah, deh. Kalo yang ini perlu bahan-bahan banyak. Rangga-san, kamu pernah bikin masakan ini?
Dan berbagai ekspresi lain yang Keiko ucapkan sembari terus melihat-lihat resep masakan di hapenya.
Gw menatap Keiko. Dia seperti sedang berada di dunianya sendiri. Gw tersenyum, ikut merasa senang melihat Keiko yang ceria seperti ini. Sesekali gw timpali ekspresinya, namun sesekali hanya gw jawab dengan senyuman.
Kalo dipikir-pikir, gw beruntung bisa datang ke Sendai ini dan bertemu Keiko. Gak pernah terbersit sedikitpun sebelumnya bisa bertemu cewek secantik ini di Jepang.
Suhu udara makin turun. Gw lihat keluar jendela, awan gelap sedikit menggantung di langit. Mungkin nanti malam akan turun hujan.
“Keiko, aku balik ke kamar, ya,“ Gw pamit.
“Udah mau balik? Makasih ya sudah bantu aku,“ kata Keiko.
“Nanti gantian dong, kamu yang bantu aku,“ ucap gw.
Waduh, keceplosan. Gw ngomong tanpa berpikir dulu. Gw mau minta dia bantuin gw apaan, coba?
“Bantuin apa?“ tanya dia.
“Nggg...nanti aja deh aku kasih tau, Dah...“ ujar gw ngehindar.
“OK. Dadah...“
Gw membantu mengangkut kardus-kardus berisi pakaian Keiko.
Gw mengikuti dia menuju kamarnya, yang hanya beberapa langkah dari kamar Seichi yang gw tinggali ini.
Keiko membuka pintu kamarnya, lalu masuk lebih dulu.
“silakan,“ kata Keiko.
“permisi,“ kata gw.
Letak ruangan-ruangan di kamarnya sama dengan kamar Seichi. Hanya perabotannya saja yang berbeda. Di kamar Keiko ini, lebih banyak perabotan dan barang-barang khas cewek.
Ketika masuk ke ruang tengah, gw lihat ada beberapa bantal besar, meja kecil, dan beberapa pernak-pernik lainnya, dengan warna-warna cerah.
“Letakkan disini saja,“ kata Keiko sambil menunjuk salah satu sudut di ruangan itu.
Gw pun meletakkan kardus-kardus tersebut.
“ini, silakan,“ Keiko memberi sebotol ocha hangat ke gw.
Tumben, kata gw dalam hati. Ternyata dia bisa juga jadi tuan rumah yang baik. Mempersilakan tamunya masuk, dan menyuguhkan minuman. Kirain bakal bertindak seenaknya seperti yang biasanya dia lakukan ketika di kamar Seichi.
“Makasih,“ gw menerima ochanya. Gw minum ochanya seteguk untuk menghangatkan badan.
Kami pun duduk di ruang tengah itu, saling berhadapan. Ada meja kecil diantara kami.
“Cuacanya makin dingin, ya,“ kata gw.
“Ya. Sebentar lagi musim dingin,“ timpal Keiko. “Sendai lebih dingin dari Tokyo, ya?“
“Ya, waktu aku di Tokyo, aku masih bisa memakai pakaian tipis. Kalau disini, harus pakai jaket,“ sahut gw.
“Kamu tahu aku pernah ke Tokyo?“ kata gw, baru sadar kok dia nanya Tokyo ke gw, seolah udah tahu kalo gw pernah ke Tokyo.
“Aku tau dari Seichi. Kemarin aku ngobrol di LINE dengan Seichi,“ kata dia.
Waduh, ternyata tanpa sepengetahuan gw, Seichi sama Keiko ngomongin gw.
“Tapi bukan ngomongin yang aneh-aneh, kok. Aku cuma pengen tahu siapa yang menginap di kamar Seichi, jadi aku tanya Seichi langsung,“ ujar dia, seolah mengklarifikasi kalau-kalau ngomongin gw tanpa sepengetahuan orangnya adalah hal yang bisa bikin gw tersinggung.
“Gak apa-apa, kok,“ kata gw kalem.
“Kalo di sebelah kamar aku itu orang seperti stalker, kan bahaya,“ tambah Keiko.
Weleh, masa gw disangka stalker.
Tapi wajar sih kalo cewek secantik Keiko takut dengan stalker. Di Jepang, stalker mempunyai makna orang yang suka membuntuti seseorang secara diam-diam, dan biasanya korbannya perempuan.
Banyak motif yang membuat seseorang menjadi stalker. Mulai dari orang yang ingin berbuat kriminal, hingga seseorang yang punya perasaan suka pada seorang perempuan, tapi tak berani mengungkapkannya. Jadinya dia hanya bisa melihat dari jauh, lalu membuntuti, hingga membuat perempuan itu merasa ketakutan dan merasa tidak aman.
“Masa aku dikira stalker? Kalo aku suka sama kamu, aku gak akan jadi stalker. Aku bakal langsung bilang kalo aku suka sama kamu,“ ucap gw.
Keiko kaget mendengar perkataan gw barusan. Wajah kagetnya terlihat jelas, terlihat dari tatapan matanya.
Hening. Lalu jeda yang panjang. Suasana menjadi canggung.
Waduh, kayaknya gw salah ngomong.
“Wortel,“ kata gw tiba-tiba. Gw perlu mengalihkan perhatian, agar awkward moment ini gak berkelanjutan.
“Wortel?“
“Wortel yang dari orangtua kamu. Masih banyak, kan?“
“O itu. Iya masih banyak,“
Dia berdiri dari duduknya, melangkah ke depan kulkas, dan mengeluarkan wortel dari dalam kulkas.
“Sebanyak ini,“ kata Keiko memperlihatkan satu plastik besar berisi wortel. “Aku bingung harus aku apain,,“
“Hmm...banyak juga ya,“ gw juga bingung kalo dikirimin wortel sebanyak ini. "“Kalo dibagiin aja ke tetangga yang lain, gimana?”"
“Sudah. Tapi tetap saja masih tersisa sebanyak ini,“ kata dia, memperlihatkan ekspresi kecewanya dengan menelengkan sedikit kepalanya sambil agak memonyongkan bibirnya.
Gw pun dengan suksesnya salah fokus.
“Pinjam hape kamu,“ kata gw ke Keiko.
“Untuk apa?“ tanya dia.
“Operasi Penghabisan Wortel. Tolong buka broswer internet,“ jawab gw.
“Operasi Penghabisan Wortel,?“ kata Keiko heran.
Dia ngutak ngatik hapenya sebentar lalu memberikan hapenya ke gw.
Gw pun browse internet di hapenya.
“Nih,“ sahut gw, memperlihatkan hapenya pada Keiko.
Dia melihat hapenya. Ada beberapa nama masakan disitu. Masakan berbahan dasar wortel.
“Resep masakan?“ tanya dia. “Jadi memasak makanan yang menggunakan bahan wortel?“ seru Keiko.
“Ya. Masak sampai wortelnya habis tak bersisa. Aku dapat ide ini ketika kamu masakin aku kare wortel,“ kata gw. “Kali ini aku bantu kamu memasak. Kalau masak berdua pasti lebih menyenangkan,“ tambah gw.
“Bener?“
“Iya. Gimana?“
“Boleh juga,“ Keiko tersenyum.
Dan dalam sekejap saja Keiko sudah ngutak-ngatik hapenya, melihat resep-resep masakan yang bakal kami berdua masak nanti.
Nah, ini kayanya enak. Eh, kalo ini kayanya susah, deh. Kalo yang ini perlu bahan-bahan banyak. Rangga-san, kamu pernah bikin masakan ini?
Dan berbagai ekspresi lain yang Keiko ucapkan sembari terus melihat-lihat resep masakan di hapenya.
Gw menatap Keiko. Dia seperti sedang berada di dunianya sendiri. Gw tersenyum, ikut merasa senang melihat Keiko yang ceria seperti ini. Sesekali gw timpali ekspresinya, namun sesekali hanya gw jawab dengan senyuman.
Kalo dipikir-pikir, gw beruntung bisa datang ke Sendai ini dan bertemu Keiko. Gak pernah terbersit sedikitpun sebelumnya bisa bertemu cewek secantik ini di Jepang.
Suhu udara makin turun. Gw lihat keluar jendela, awan gelap sedikit menggantung di langit. Mungkin nanti malam akan turun hujan.
“Keiko, aku balik ke kamar, ya,“ Gw pamit.
“Udah mau balik? Makasih ya sudah bantu aku,“ kata Keiko.
“Nanti gantian dong, kamu yang bantu aku,“ ucap gw.
Waduh, keceplosan. Gw ngomong tanpa berpikir dulu. Gw mau minta dia bantuin gw apaan, coba?
“Bantuin apa?“ tanya dia.
“Nggg...nanti aja deh aku kasih tau, Dah...“ ujar gw ngehindar.
“OK. Dadah...“
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 3 PART 5
Gw membantu mengangkut kardus-kardus berisi pakaian Keiko.
Gw mengikuti dia menuju kamarnya, yang hanya beberapa langkah dari kamar Seichi yang gw tinggali ini.
Keiko membuka pintu kamarnya, lalu masuk lebih dulu.
Douzo,"
“silakan,”kata Keiko.
O jama shimasu,"
“permisi,” kata gw.
Letak ruangan-ruangan di kamarnya sama dengan kamar Seichi. Hanya perabotannya saja yang berbeda. Di kamar Keiko ini, lebih banyak perabotan dan barang-barang khas cewek.
Ketika masuk ke ruang tengah, gw lihat ada beberapa bantal besar, meja kecil, dan beberapa pernak-pernik lainnya, dengan warna-warna cerah.
Koko ni oite kuremasu ka?"
“Letakkan disini saja,” kata Keiko sambil menunjuk salah satu sudut di ruangan itu.
Gw pun meletakkan kardus-kardus tersebut.
Hai, douzo,"
“ini, silakan,” Keiko memberi sebotol ocha hangat ke gw.
Tumben, kata gw dalam hati. Ternyata dia bisa juga jadi tuan rumah yang baik. Mempersilakan tamunya masuk, dan menyuguhkan minuman. Kirain bakal bertindak seenaknya seperti yang biasanya dia lakukan ketika di kamar Seichi.
Arigatou,"
“Makasih,” gw menerima ochanya. Gw minum ochanya seteguk untuk menghangatkan badan.
Kami pun duduk di ruang tengah itu, saling berhadapan. Ada meja kecil diantara kami.
Dondon samukunaru da ne,"
“Cuacanya makin dingin, ya,” kata gw.
Sou da ne. Mou sugu fuyu dakara,"
“Ya. Sebentar lagi musim dingin,” timpal Keiko.
Sendai wa Tokyo yori samui no?"
“Sendai lebih dingin dari Tokyo, ya?”
Un. Tokyo ni iru toki, hosoi fuku wo kiteru dake de daijoubu. Sendai ni wa jaketto kinakya,"
“Ya, waktu aku di Tokyo, aku masih bisa memakai pakaian tipis. Kalau disini, harus pakai jaket,” sahut gw.
Keiko-chan wa boku ga Tokyo ni itta koto shitta no?"
“Kamu tahu aku pernah ke Tokyo?” kata gw, baru sadar kok dia nanya Tokyo ke gw, seolah udah tahu kalo gw pernah ke Tokyo.
Seichi-san kara kiita no. LINE de chotto hanashiteta,"
“Aku tau dari Seichi. Kemarin aku ngobrol di LINE dengan Seichi,” kata dia.
Waduh, ternyata tanpa sepengetahuan gw, Seichi sama Keiko ngomongin gw.
Betsu ni hen na koto hanasakatta yo. Seichi-san no heya ni tomatte iru hito ni ki ni natte ite, Seichi-san kara chokusetsu kiita no."
“Tapi bukan ngomongin yang aneh-aneh, kok. Aku cuma pengen tahu siapa yang menginap di kamar Seichi, jadi aku tanya Seichi langsung,” ujar dia, seolah mengklarifikasi kalau-kalau ngomongin gw tanpa sepengetahuan orangnya adalah hal yang bisa bikin gw tersinggung.
Daijoubu yo,"
“Gak apa-apa, kok,” kata gw kalem.
Sutookaa mitai no hito ga tomareba komaru kara,"
“Kalo di sebelah kamar aku itu orang seperti stalker, kan bahaya,” tambah Keiko.
Weleh, masa gw disangka stalker.
Tapi wajar sih kalo cewek secantik Keiko takut dengan stalker. Di Jepang, stalker mempunyai makna orang yang suka membuntuti seseorang secara diam-diam, dan biasanya korbannya perempuan.
Banyak motif yang membuat seseorang menjadi stalker. Mulai dari orang yang ingin berbuat kriminal, hingga seseorang yang punya perasaan suka pada seorang perempuan, tapi tak berani mengungkapkannya. Jadinya dia hanya bisa melihat dari jauh, lalu membuntuti, hingga membuat perempuan itu merasa ketakutan dan merasa tidak aman.
Boku ga sutookaa da to omotta? Boku wa Keiko-chan no koto ga suki dattara, 'kimi no koto ga suki da yo'tte chokusetsu iu yo,"
“Masa aku dikira stalker? Kalo aku suka sama kamu, aku gak akan jadi stalker. Aku bakal langsung bilang kalo aku suka sama kamu,” ucap gw.
Keiko kaget mendengar perkataan gw barusan. Wajah kagetnya terlihat jelas, terlihat dari tatapan matanya.
Hening. Lalu jeda yang panjang. Suasana menjadi canggung.
Waduh, kayaknya gw salah ngomong.
Ninjin,"
“Wortel,” kata gw tiba-tiba. Gw perlu mengalihkan perhatian, agar awkward moment ini gak berkelanjutan.
Ninjin?"
“Wortel?”
Keiko-chan no ryoushin kara no ninjin. Mada ooin darou?"
“Wortel yang dari orangtua kamu. Masih banyak, kan?”
AA..hai. Ooi yo,"
“O itu. Iya masih banyak,”
Dia berdiri dari duduknya, melangkah ke depan kulkas, dan mengeluarkan wortel dari dalam kulkas.
Konna ni,"
“Sebanyak ini,” kata Keiko memperlihatkan satu plastik besar berisi wortel.
Dou shiyou...,"
“Aku bingung harus aku apain,,”
Hmmm..tashika ni ne,"
“Hmm...banyak juga ya,” gw juga bingung kalo dikirimin wortel sebanyak ini.
Tonari no hito ni sashiagetara?"
“Kalo dibagiin aja ke tetangga yang lain, gimana?
Shita yo. Demo mada konna ni nokotteru,"
“Sudah. Tapi tetap saja masih tersisa sebanyak ini,” kata dia, memperlihatkan ekspresi kecewanya dengan menelengkan sedikit kepalanya sambil agak memonyongkan bibirnya.
Gw pun dengan suksesnya salah fokus.
Keitai kashite,"
“Pinjam hape kamu,” kata gw ke Keiko.
Nani suru?"
“Untuk apa?” tanya dia.
Ninjin Senmetsu Daisakusen. Netto wo akete kashite,"
“Operasi Penghabisan Wortel. Tolong buka broswer internet,” jawab gw.
Ninjin Senmetsu Daisakusen?"
“Operasi Penghabisan Wortel,?” kata Keiko heran.
Dia ngutak ngatik hapenya sebentar lalu memberikan hapenya ke gw.
Gw pun browse internet di hapenya.
Kore,"
“Nih,” sahut gw, memperlihatkan hapenya pada Keiko.
Dia melihat hapenya. Ada beberapa nama masakan disitu. Masakan berbahan dasar wortel.
Ryouri reshipi?"
“Resep masakan?” tanya dia.
Ninjin no tsukau ryouri wo ryouri tsukuru tte koto?"
“Jadi memasak makanan yang menggunakan bahan wortel?” seru Keiko.
Sou. Nokoranai made ni ryouri wo tsukuru. Keiko-chan ga boku ni ninjin kare wo tsukutte kureta toki, kono aidea omotta no,"
“Ya. Masak sampai wortelnya habis tak bersisa. Aku dapat ide ini ketika kamu masakin aku kare wortel,” kata gw.
Konkai wa tetsudau yo. Futari de ryouri suru nara motto tanoshii kara,"
“Kali ini aku bantu kamu memasak. Kalau masak berdua pasti lebih menyenangkan,” tambah gw.
Hontou?"
“Bener?”
Hontou. Dou?"
“Iya. Gimana?”
Un. Ii ne,"
“Boleh juga,” Keiko tersenyum.
Dan dalam sekejap saja Keiko sudah ngutak-ngatik hapenya, melihat resep-resep masakan yang bakal kami berdua masak nanti.
Nah, ini kayanya enak. Eh, kalo ini kayanya susah, deh. Kalo yang ini perlu bahan-bahan banyak. Rangga-san, kamu pernah bikin masakan ini?
Dan berbagai ekspresi lain yang Keiko ucapkan sembari terus melihat-lihat resep masakan di hapenya.
Gw menatap Keiko. Dia seperti sedang berada di dunianya sendiri. Gw tersenyum, ikut merasa senang melihat Keiko yang ceria seperti ini. Sesekali gw timpali ekspresinya, namun sesekali hanya gw jawab dengan senyuman.
Kalo dipikir-pikir, gw beruntung bisa datang ke Sendai ini dan bertemu Keiko. Gak pernah terbersit sedikitpun sebelumnya bisa bertemu cewek secantik ini di Jepang.
Suhu udara makin turun. Gw lihat keluar jendela, awan gelap sedikit menggantung di langit. Mungkin nanti malam akan turun hujan.
Keiko-chan, boku, heya ni modoru ne,"
“Keiko, aku balik ke kamar, ya,” Gw pamit.
Mou modoru no? Tetsudatte kurete arigatou,"
“Udah mau balik? Makasih ya sudah bantu aku,” kata Keiko.
Kondo wa Keiko-chan ga boku wo tetsudatte ne,"
“Nanti gantian dong, kamu yang bantu aku,” ucap gw.
Waduh, keceplosan. Gw ngomong tanpa berpikir dulu. Gw mau minta dia bantuin gw apaan, coba?
Nan no koto?"
“Bantuin apa?” tanya dia.
Eetoo...ja, ato de iu kara. Ja,"
“Nggg...nanti aja deh aku kasih tau, Dah...” ujar gw ngehindar.
OK. Bai bai..."
“OK. Dadah...”
Gw membantu mengangkut kardus-kardus berisi pakaian Keiko.
Gw mengikuti dia menuju kamarnya, yang hanya beberapa langkah dari kamar Seichi yang gw tinggali ini.
Keiko membuka pintu kamarnya, lalu masuk lebih dulu.
Douzo,"
“silakan,”kata Keiko.
O jama shimasu,"
“permisi,” kata gw.
Letak ruangan-ruangan di kamarnya sama dengan kamar Seichi. Hanya perabotannya saja yang berbeda. Di kamar Keiko ini, lebih banyak perabotan dan barang-barang khas cewek.
Ketika masuk ke ruang tengah, gw lihat ada beberapa bantal besar, meja kecil, dan beberapa pernak-pernik lainnya, dengan warna-warna cerah.
Koko ni oite kuremasu ka?"
“Letakkan disini saja,” kata Keiko sambil menunjuk salah satu sudut di ruangan itu.
Gw pun meletakkan kardus-kardus tersebut.
Hai, douzo,"
“ini, silakan,” Keiko memberi sebotol ocha hangat ke gw.
Tumben, kata gw dalam hati. Ternyata dia bisa juga jadi tuan rumah yang baik. Mempersilakan tamunya masuk, dan menyuguhkan minuman. Kirain bakal bertindak seenaknya seperti yang biasanya dia lakukan ketika di kamar Seichi.
Arigatou,"
“Makasih,” gw menerima ochanya. Gw minum ochanya seteguk untuk menghangatkan badan.
Kami pun duduk di ruang tengah itu, saling berhadapan. Ada meja kecil diantara kami.
Dondon samukunaru da ne,"
“Cuacanya makin dingin, ya,” kata gw.
Sou da ne. Mou sugu fuyu dakara,"
“Ya. Sebentar lagi musim dingin,” timpal Keiko.
Sendai wa Tokyo yori samui no?"
“Sendai lebih dingin dari Tokyo, ya?”
Un. Tokyo ni iru toki, hosoi fuku wo kiteru dake de daijoubu. Sendai ni wa jaketto kinakya,"
“Ya, waktu aku di Tokyo, aku masih bisa memakai pakaian tipis. Kalau disini, harus pakai jaket,” sahut gw.
Keiko-chan wa boku ga Tokyo ni itta koto shitta no?"
“Kamu tahu aku pernah ke Tokyo?” kata gw, baru sadar kok dia nanya Tokyo ke gw, seolah udah tahu kalo gw pernah ke Tokyo.
Seichi-san kara kiita no. LINE de chotto hanashiteta,"
“Aku tau dari Seichi. Kemarin aku ngobrol di LINE dengan Seichi,” kata dia.
Waduh, ternyata tanpa sepengetahuan gw, Seichi sama Keiko ngomongin gw.
Betsu ni hen na koto hanasakatta yo. Seichi-san no heya ni tomatte iru hito ni ki ni natte ite, Seichi-san kara chokusetsu kiita no."
“Tapi bukan ngomongin yang aneh-aneh, kok. Aku cuma pengen tahu siapa yang menginap di kamar Seichi, jadi aku tanya Seichi langsung,” ujar dia, seolah mengklarifikasi kalau-kalau ngomongin gw tanpa sepengetahuan orangnya adalah hal yang bisa bikin gw tersinggung.
Daijoubu yo,"
“Gak apa-apa, kok,” kata gw kalem.
Sutookaa mitai no hito ga tomareba komaru kara,"
“Kalo di sebelah kamar aku itu orang seperti stalker, kan bahaya,” tambah Keiko.
Weleh, masa gw disangka stalker.
Tapi wajar sih kalo cewek secantik Keiko takut dengan stalker. Di Jepang, stalker mempunyai makna orang yang suka membuntuti seseorang secara diam-diam, dan biasanya korbannya perempuan.
Banyak motif yang membuat seseorang menjadi stalker. Mulai dari orang yang ingin berbuat kriminal, hingga seseorang yang punya perasaan suka pada seorang perempuan, tapi tak berani mengungkapkannya. Jadinya dia hanya bisa melihat dari jauh, lalu membuntuti, hingga membuat perempuan itu merasa ketakutan dan merasa tidak aman.
Boku ga sutookaa da to omotta? Boku wa Keiko-chan no koto ga suki dattara, 'kimi no koto ga suki da yo'tte chokusetsu iu yo,"
“Masa aku dikira stalker? Kalo aku suka sama kamu, aku gak akan jadi stalker. Aku bakal langsung bilang kalo aku suka sama kamu,” ucap gw.
Keiko kaget mendengar perkataan gw barusan. Wajah kagetnya terlihat jelas, terlihat dari tatapan matanya.
Hening. Lalu jeda yang panjang. Suasana menjadi canggung.
Waduh, kayaknya gw salah ngomong.
Ninjin,"
“Wortel,” kata gw tiba-tiba. Gw perlu mengalihkan perhatian, agar awkward moment ini gak berkelanjutan.
Ninjin?"
“Wortel?”
Keiko-chan no ryoushin kara no ninjin. Mada ooin darou?"
“Wortel yang dari orangtua kamu. Masih banyak, kan?”
AA..hai. Ooi yo,"
“O itu. Iya masih banyak,”
Dia berdiri dari duduknya, melangkah ke depan kulkas, dan mengeluarkan wortel dari dalam kulkas.
Konna ni,"
“Sebanyak ini,” kata Keiko memperlihatkan satu plastik besar berisi wortel.
Dou shiyou...,"
“Aku bingung harus aku apain,,”
Hmmm..tashika ni ne,"
“Hmm...banyak juga ya,” gw juga bingung kalo dikirimin wortel sebanyak ini.
Tonari no hito ni sashiagetara?"
“Kalo dibagiin aja ke tetangga yang lain, gimana?
Shita yo. Demo mada konna ni nokotteru,"
“Sudah. Tapi tetap saja masih tersisa sebanyak ini,” kata dia, memperlihatkan ekspresi kecewanya dengan menelengkan sedikit kepalanya sambil agak memonyongkan bibirnya.
Gw pun dengan suksesnya salah fokus.
Keitai kashite,"
“Pinjam hape kamu,” kata gw ke Keiko.
Nani suru?"
“Untuk apa?” tanya dia.
Ninjin Senmetsu Daisakusen. Netto wo akete kashite,"
“Operasi Penghabisan Wortel. Tolong buka broswer internet,” jawab gw.
Ninjin Senmetsu Daisakusen?"
“Operasi Penghabisan Wortel,?” kata Keiko heran.
Dia ngutak ngatik hapenya sebentar lalu memberikan hapenya ke gw.
Gw pun browse internet di hapenya.
Kore,"
“Nih,” sahut gw, memperlihatkan hapenya pada Keiko.
Dia melihat hapenya. Ada beberapa nama masakan disitu. Masakan berbahan dasar wortel.
Ryouri reshipi?"
“Resep masakan?” tanya dia.
Ninjin no tsukau ryouri wo ryouri tsukuru tte koto?"
“Jadi memasak makanan yang menggunakan bahan wortel?” seru Keiko.
Sou. Nokoranai made ni ryouri wo tsukuru. Keiko-chan ga boku ni ninjin kare wo tsukutte kureta toki, kono aidea omotta no,"
“Ya. Masak sampai wortelnya habis tak bersisa. Aku dapat ide ini ketika kamu masakin aku kare wortel,” kata gw.
Konkai wa tetsudau yo. Futari de ryouri suru nara motto tanoshii kara,"
“Kali ini aku bantu kamu memasak. Kalau masak berdua pasti lebih menyenangkan,” tambah gw.
Hontou?"
“Bener?”
Hontou. Dou?"
“Iya. Gimana?”
Un. Ii ne,"
“Boleh juga,” Keiko tersenyum.
Dan dalam sekejap saja Keiko sudah ngutak-ngatik hapenya, melihat resep-resep masakan yang bakal kami berdua masak nanti.
Nah, ini kayanya enak. Eh, kalo ini kayanya susah, deh. Kalo yang ini perlu bahan-bahan banyak. Rangga-san, kamu pernah bikin masakan ini?
Dan berbagai ekspresi lain yang Keiko ucapkan sembari terus melihat-lihat resep masakan di hapenya.
Gw menatap Keiko. Dia seperti sedang berada di dunianya sendiri. Gw tersenyum, ikut merasa senang melihat Keiko yang ceria seperti ini. Sesekali gw timpali ekspresinya, namun sesekali hanya gw jawab dengan senyuman.
Kalo dipikir-pikir, gw beruntung bisa datang ke Sendai ini dan bertemu Keiko. Gak pernah terbersit sedikitpun sebelumnya bisa bertemu cewek secantik ini di Jepang.
Suhu udara makin turun. Gw lihat keluar jendela, awan gelap sedikit menggantung di langit. Mungkin nanti malam akan turun hujan.
Keiko-chan, boku, heya ni modoru ne,"
“Keiko, aku balik ke kamar, ya,” Gw pamit.
Mou modoru no? Tetsudatte kurete arigatou,"
“Udah mau balik? Makasih ya sudah bantu aku,” kata Keiko.
Kondo wa Keiko-chan ga boku wo tetsudatte ne,"
“Nanti gantian dong, kamu yang bantu aku,” ucap gw.
Waduh, keceplosan. Gw ngomong tanpa berpikir dulu. Gw mau minta dia bantuin gw apaan, coba?
Nan no koto?"
“Bantuin apa?” tanya dia.
Eetoo...ja, ato de iu kara. Ja,"
“Nggg...nanti aja deh aku kasih tau, Dah...” ujar gw ngehindar.
OK. Bai bai..."
“OK. Dadah...”
Diubah oleh NihonDamashii 23-09-2015 23:10
0
Kutip
Balas