Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Chapter 28 sebuah pembuktian (16) (terungkapnya sejarah mess):
“ lantas bagaimana mbah bisa yakin dengan hesti yang kami temui adalah hesti yang mbah maksud ?” tanya gw dengan sedikit rasa khawatir mbah ini salah menerka hesti yang kami maksud
“ dari semua yang kamu jelaskan tadi hingga saat kamu melihatnya menuju ke salah satu tempat perjanjian dengan setan, saya sudah bisa memastikan bahwa itu hesti yang di maksud, saya sudah terlalu tua untuk dibodohi dengan parasnya yang mungkin masih muda “
“ bagaimana mungkin bisa masih muda mbah “ kini minto ikut bingung dengan penjelasan mbah warsono
“ apa yang tidak mungkin, apakah saya sudah terlihat seperti lelaki tua yang berusia 107 tahun, yang membedakan hanya caranya, saya masih terlihat seperti ini karena prosesi kanuragan saya, sedangkan hesti…itu semua karena prosesi ritualnya dengan setan…” terlihat minto dan mas dikin saling berpandangan, sedangkan gw hanya tertunduk terdiam menyesali semua yang telah gw lakukan
“ nak reza, saya bukan ahli agama dan orang pintar, ada baiknya nak reza membicarakan semua kejadian yang nak reza lakukan, semoga ada jalan keluar dari semua ini..”
“ saya cuma bisa menjelaskan, bahwa 3 kelopak bunga yang kamu makan adalah sebuah tanda akan 3 tumbal yang telah kamu setujui untuk dikorbankan “
Setelah berbicara cukup panjang lebar tentang segala hal yang berbau hal hal yang ghoib dan kanuragan, hari tidak terasa mulai beranjak sore dan kami memutuskan untuk berpamitan pada mbah warsono, dengan berbagai macam pertimbangan akan keselamtan kami akhirnya mbah warsono memutuskan untuk mengantar kami sampai tempat dimana mobil kami terparkir
“ ada satu hal yang ingin saya tunjukan kepada kamu…” ucap mbah warsono, tangan kanan mbah warsono terlihat menutupi kedua mata gw, sedangkan tangan yang kiri terasa seperti menjentik2an jari jemarinya dikepala seperti layaknya orang yang sedang menekan tombol keyboard
“ buka mata kamu secara perlahan….dan coba lihat kearah deretan pohon pohon besar didepan kamu “
Dengan sangat perlahan gw coba untuk membuka mata dan mencoba melihat seperti petunjuk yang diberikan mbah warsono, hal pertama yang gw rasakan adalah pengelihatan gw seperti berbayang bayang hingga akhirnya semua terlihat begitu jelas dan nyata, gw bisa melihat beberapa mahluk2 yang menyerupai manusia dengan tubuh kerdil hilir mudir berjalan memasuki hutan, ada beberapa diantaranya yang terlihat membawa ikan ditangannya, mungkin mereka merasakan bahwa kehadiran mereka bisa gw lihat, dengan suara yang hampir menyerupai suara bebek, terlihat mereka dengan serempak berlari menembus lebatnya hutan dan menghilang, kini mbah warsono kembali menutup pengelihatan gw dengan telapak tangannya, mulutnya seperti berkomat kamit kecil dan mengakhirinya dengan sebuah elusan dikepala gw
“ itu salah satu contoh kehidupan yang menemani saya tinggal di hutan ini, tidak semuanya yang berbentuk ghoib itu jahat dan menyesatkan..” sambil tersenyum mbah warsono mengambil sesuatu dari kantong celananya dan menyerahkannya pada gw, seraya berpesan untuk membuktikan apa yang pernah dijelaskannya mengenai hesti dan mess tua itu
“ setelah kamu membuktikannya, tolong kamu buang benda ini…dengan sendirinya dia akan kembali pada saya “ ucapnya sambil melangkahkan kaki menembus dan menghilang dalam hutan yang mulai tertutup kabut dan kegelapan, Ini adalah sebuah puncak dari perjalanan untuk sebuah pembuktian..
Tepat jam 11 malam kami tiba di kediaman pak sukuk, sebuah prosesi ritual ternyata telah kembali dilakukan oleh pak sukuk dengan dibantu beberapa warga desa, kami hanya bisa menunggu semua prosesi itu selesai, hingga akhirnya sebuah kabar menggembirakan datang, indra yang sudah terbaring tidak sadarkan diri dalam beberapa hari kini sudah mulai kembali sadar, raut wajah kegembiraan juga terlihat dari wajah pak sukuk, mungkin dia merasa senang karena telah berhasil menyelesaikan semua prosesi ritual penyelamatan ini dengan hasil menggembirakan
“ sebenarnya apa yang terjadi dengan indra…pak?” minto mencoba mencari tahu penyebab indra bisa tidak sadarkan diri selama itu
“ dik indra hanya tersesat, seperti layaknya kita tersesat..hanya dimensinya saja yang berbeda…ditambah ada gangguan mahluk halus yang berupaya menghalangi indra untuk kembali ke tubuhnya..” terang pak sukuk mencoba memberi penjelasan berdasarkan pengelihatannya
Setelah beristirahat dan menyerahkan sejumlah uang kepada warga desa sebagai bentuk rasa terima kasih kami, akhirnya ke esokan harinya kami berpamitan untuk kembali pulang ke mess…sebuah tempat yang menjadi awal dari semua perjalanan ini
“ sebenarnya apa yang lu alami selama lu enggak sadarkan diri ndra..?” hembusan asap rokok tebal seakan membuang semua rasa penasaran gw akan sejarah mess dan sosok hesti yang misterius
“ semua terasa gelap za….hanya kegelapan yang gw temui ketika gw terbangun dari tidur, sosok lu yang sebelumnya terbaring disamping gw..seakan lenyap tak berbekas…gw benar benar bingung za..benar benar kehilangan arah…” indra mencoba menerangkan semua itu dengan rasa ketakutan yang dalam, jari jemari tangannya yang terselip sebatang rokok terlihat bergetar…setiap helaan nafasnya berupaya menghilangkan semua kejadian buruk itu dari memori pikirannya
“ sejujurnya gw mendengar suara lu..disaat prosesi ritual yang dilakukan oleh pak sukuk…”
“ itu memang gw za…gw melihat kalian duduk sangat jauh ditempat yang sangat terang…mungkin ditelinga lu suara gw seperti sebuah bisikan, tapi kenyataan yang terjadi gw berteriak sebisa bisanya agar lu bisa mendengar semua ucapan gw, sosok2 hitam seperti kera itu benar benar menakutkan, keinginan gw untuk menghampiri kalian gw urungkan karena rasa takut gw akan sosok itu mengalahkan keberanian gw…hingga akhirnya di waktu yang lain..gw kembali melihat cahaya terang itu tanpa ada satupun sosok mahluk hitam yang menghalangi langkah gw…hingga akhirnya gw tersadar, dan mendapati diri gw sedang berada diantara pak sukuk dan warga desa lainnya…” ada nada kelegaan yang indra rasakan ketika kata kata terakhirnya terucap
“ sukurlah ndra…andai terjadi apa apa dengan lu…gw merasa sebagai orang yang paling bersalah..” ucap gw sambil berusaha merangkul bahu indra
“ jadi bagaimana za…lu udah puas kan..?” terlihat minto menolehkan kepalanya sambil tersenyum
“ tinggal sebuah pembuktian….” Jawab gw sambil mengeluarkan sebuah cincin yang diberikan mbah warsono
“ sebaiknya kita mampir dulu ke tempat makan hesti, sebelum menuju ke mess…kebetulan perut kita sama sekali belum terisi “ usul minto, yang langsung kami setujui
Seperti biasa yang kami temui, tempat makan yang dikelola hesti selalu penuh dengan pembeli, tidak siang ataupun malam..tidak hari libur ataupun hari kerja, seakan akan daya tarik rumah makan ini begitu besar, entah orang yang datang ke tempat ini karena kelezatan makanannya atau mereka hanya terpikat oleh paras dan kemolekan tubuh hesti, setelah memesan beberapa makanan dan menyantapnya, kami menunggu kehadiran sosok primadona rumah makan ini, hingga akhirnya setelah menunggu beberapa lama sosok yang kami nantikan itu hadir dengan sejuta pesonanya, tubuhnya yang molek selalu menunjang apapun bentuk pakaian yang dikenakannya, senyum indahnya yang selalu terpancar dari wajahnya seperti menghipnotis setiap pengunjung yang ada, andai kami tidak pernah bertemu dengan mbah warsono, mungkin kami akan kembali menelan ludah dalam2…menahan semua nafsu yang kami rasakan…tatapan mata hesti perlahan tehenti sejenak ketempat dimana kami duduk, senyum dan ramah katanya yang biasanya selalu menyambut kedatangan kami, kini seolah2 menghilang….mungkin dia masih menyimpan dendam atas rasa malu yang dirasakan atas peristiwa yang pernah terjadi di mess
Mata gw menatap indra dan mas dikin, sekedar memberi kode kepada mereka untuk mengenakan cincin yang diberikan oleh mbah warsono
“ gw enggak mau za, lu aja…gw masih trauma melihat sesuatu yang menakutkan “ ucap indra menolak penawaran yang gw ajukan
“ sama seperti pak indra…saya juga enggak mau…” hingga akhir tatapan mata gw menatap minto yang sepertinya menunggu penawaran yang datang, dengan perlahan minto mengenakan cincin dijarinya dan dengan sekejap juga melepaskannya kembali
“ astaga za…sumpah gw mual…pulang yuks..” ucap minto sambil memalingkan pandangannya dari hesti yang terlihat sedang tertawa melayani pembeli, tertarik dengan ucapanminto, segera gw kenakan cincin pemberian mbah warsono itu…dan tepat seperti yang dirasakan minto..gw pun merasakan hal yang sama, seorang wanita tua dengan kulit yang terlihat sudah keriput…sedang berdiri mengenakan pakaian layaknya anak muda, terlihat sedang bercanda tawa dengan gaya genitnya, bila membayangkan apa yang gw saksikan ini dengan apa yang pernah hampir gw lakukan dengan wanita ini, rasanya ingin memutar semua waktu itu dan menghapus bagian yang merekam semua kejadian itu…ini benar benar gila…sangat gila…
“ mas dikin tolong bayar…” pinta gw sambil menyerahkan beberapa lembar uang, lalu segera beranjak pergi diikuti indra dan minto
Sesampainya didalam mobil wajah minto terlihat agak shock dengan apa yang sudah dilihatnya, begitu juga dengan indra dan mas dikin yang berupaya untuk tidak menanyakan apa yang sudah kami lihat
“ ternyata mbah warsono itu enggak bohong..za..” gw hanya terdiam mendengar pernyataan minto, hingga akhirnya mobil yang dikemudikan mas dikin tiba di mess tua, tempat dimana kami tinggal
“ saya balikin mobil ke rental dulu pak…” ucap mas dikin begitu kami sudah turun dari mobil, dengan langkah berat minto membuka pintu rumah sambil memperhatikan debu2 yang terlihat mengotori meja, rupanya sudah terlalu lama kami meninggalkan mess ini tanpa sama sekali bersentuhan dengan manusia, udara didalam ruangan yang sebelumnya terasa dingin dan lembab…kini terasa semakin dingin dengan bau layaknya sebuah ruangan kosong yang sudah lama tidak berpenghuni
“ gw mandi dulu za..” ucap indra sambil berlalu menuju kamar mandi, terlihat minto membawa pakaian kotornya kedalam kamar, dan gw masih terpaku sendiri di ruang tamu, memandang setiap detil sudut ruangan sambil membayangkan peristiwa peristiwa yang pernah terjadi di mess ini, seperti apa yang pernah di ceritakan oleh mbah warsono “
“ sungguh tragis…” ucap gw pelan setelah membayangkan semua peristiwa yang pernah terjadi, dan malam ini gw akan membuktikan apa yang pernah dikatakan oleh mbah warsono, apakah gw akan melihat sosok2 penghuni mess ini…
Tepat jam 9 malam, kami memutuskan berkumpul diruang tamu ditemani teh manis hangat yang sudah dipersiapkan oleh mas dikin, kami berembuk cukup lama membahas rencana kami malam ini untuk mengetahui sosok sosok apa saja yang selama ini menghantui kami, penawaran gw kepada mas dikin, indra dan minto berakhir dengan penolakan, kini hanya gw sendiri yang menjadi calon semua pembuktian ini
“ bagi gw rokok ndra…” dengan tangan sedikit gemetar gw mulai menyulut rokok dan menghembuskan asapnya yang putih pekat, rasa takut dan penasaran kini seperti berpadu menjadi satu, sejenak gw terdiam mencoba menghimpun keberanian dengan memandang cincin yang sengaja gw letakan di atas meja
“ sebesar apapun rasa takut yang gw alami…gw harus berani..” ucap gw dengan nada meninggi, lalu segera mengenakan cincin pemberian mbah warsono
“ zaaa…” terlihat minto sedikit ragu untuk mengikuti langkah kaki gw yang bergerak menuju ruang tengah
“ berisik to…” ucap gw sambil memberikan tanda kepada minto untuk menghentikan ucapannya, baru saja gw mencegah minto untuk berbicara lebih lanjut…tatapan mata gw menangkap sosok seorang wanita tanpa kepala dengan rantai kaki menimbulkan bunyi gemerincing dilantai, terlihat mengambang memasuki kamar minto…lehernya yang terlihat masih menampakan rembesan darah segar..seketika membuat nyali gw menciut dan memutuskan untuk segera melepaskan cincin pemberian mbah warsono
“ ini cukup…cukupp…!!, gw percaya dengan omongan mbah warsono…” teriak gw, sambil melangkahkan kaki keluar rumah…setelah menatap kembali cincin pemberian mbah warsono itu cukup lama, akhirnya gw memutuskan untuk membuangnya sejauh jauhnya…sejauh ucapan terima kasih gw untuk mbah warsono yang telah membantu gw menyingkap semua misteri ini dan menghilangkan semua rasa penasaran yang gw rasakan…
Malam ini kami terdiam menatap gelapnya langit malam dengan sebuah kenyataan…bahwa di mess tua ini kami hidup berdampingan dengan mahluk2 yang tak kasat mata..hanya ada beberapa pilihan untuk menyikapi ini semua..hidup berdampingan dengan resiko ketakutan yang selalu menghantui..atau pergi meninggalkan semua ini dengan sebuah hasil pembelajaran dari sebuah pembuktian…dan malam ini hanya menyisakan sebuah perbincangan kecil yang belum bisa gw sepakati dengan sesuatu yang bersifat ghoib yaitu..…tumbal
Next : Epilog Inilah harga yang harus gw bayar dengan mahal dari semua pembuktian ini