Angin berhembus kencang, langit semakin pekat. Hujan terus menerus menguyur Bandung. Seperti biasa aku membukakan jendela kamar. Aku ingin merasakan dinginnya malam, merasakan setiap hembusan angina yang membawa kepiluan setiap kegundahan hati. Tak pernah terbayang memang semua akan seperti ini, Fani datang saat aku memulai berani untuk membuka hati pada hati yang lain. Hujan membuat kepalaku meresonansi ingatanku.
Desember 2012
Setelah 6 bulan melewati kepenatan dalam belajar, tibalah saat – saat yang dirindukan oleh setiap siswa. Liburan tahun ini harus aku lewati dengan hanya berdiam diri di rumah. Rendi pulang kampung, Adri pergi ke rumah Neneknya di Bogor, dan Evan sibuk dengan kisah asmaranya. Terbersit dalam benakku , ada keinginan dalam hatiku untuk mengajak Fani jalan. Tanpa membuang waktu aku langsung mengirim Fani sms.
Quote:
To : Rifanina
Jalan yuk?
Quote:
From : Rifanina
Kemana?? Kapan??
Quote:
To: Rifanina
Terserah, aku suntuk.
Quote:
From : Rifanina
Klo mau sabtu aja yach, tangkuban parahu juga boleh hihi
Aku tak membalas pesan tersebut, Fani mengerti jika aku tak membalas pesan artinya aku mengiyakan ajakan tersebut.
Sabtu yang ditunggu akhirnya datang. Matahari pagi kembali bersinar setelah 4 hari awan kelabu menahannya untuk menyinari muka bumi. Alam sepertinya mendukungku untuk jalan dengan Fani. Aku berdo’a agar hari ini hujan tidak turun agar kencan pertamaku hari ini tidak rusak karena hujan.
Kami berlari – lari diantara puluhan orang yang berebut untuk menaiki bus kota jurusan leuwi panjang – ledeng , syukur usaha kami berlari – lari tidak sia – sia. Kami duduk disebuah kursi yang muat untuk 2 orang. Fani menyenderkan badan, keringat berucuran di dahinya. Ia mengeluarkan tissue lalu mengusap dahinya. Wajahnya lelah namun ia tetap bisa tersenyum.
Quote:
“Sorry ya Fan, Angga ga bisa ngajak kamu ke tangkuban perahu naik motor Angga sendiri.” Aku merasa bersalah telah membuatnya cape.
“Gapapa lah, lagian jarang juga kan aku gini” Ujarnya santai.
Bus kota atau yang biasa orang Bandung sebut dengan Damri ini menjadi salah satu alat tranportasi favorit setelah angkot. Tarif Damri Bandung untuk semua jurusan Rp. 3000. Jauh ataupun dekat tarif Damri tersebut tetaplah sama sehingga menaiki Damri bisa menghemat isi dompet jika dibandingkan dengan menaiki angkot yang bisa menghabiskan uang kurang lebih Rp. 15.000.
Sepanjang perjalanan menuju terminal Ledeng aku terlelap tidur. Sedangkan Fani ia sibuk memotret jalanan bandung dengan Canon 1100D milikku. Jepretannya tergolong baik untuk pemula, ia sudah bisa mengabadikan moment demi moment.
Quote:
“Gimana tong bagus ga?” Ia memperlihatkan hasil jepretannya.
“Bagus cuman kurang fokus aja, terus ini isonya naikin biar agak cerah.” Ujarku.
Dari terminal Ledeng untuk sampai ke Tangkuban Perahu harus menaiki 1 atau 2 kali lagi angkutan kota. Namun aku memilih meminjam sepeda motor milik Ua (Kakak dari Ayah / Ibu). Aku memutuskan pergi ke rumah Ua untuk meminjam motor dengan menaiki angkot.
Udara dingin Lembang mulai terasa. Sepanjang jalan Lembang ditumbuhi oleh pohon pohon dengan ukuran sedang, kadang ada satu dua pohon yang menjulang tinggi. Octa kembali memotret, tangan kanannya memutar – mutar lensa untuk memfokuskan apa yang ia bidik.
Quote:
“ISOnya dinaikin ga?” Ujarku
“Dinaikin dikit.” Ujarnya ringan lalu ia kembali memotret.
Sampailah kami di rumah Ua, sebenarnya aku tak pernah berani membawa lawan jenis ke rumah Ua atau sodaraku. Namun kali ini aku coba memberanikan diri.
“Assamualaikum.” Ku ketuk pintu rumah Ua.
“Walaikumsalam, eh naha teu wawartos heula bade kadieu?” Ujar Ua dengan suara khas sunda.
(Terjemah: Walaikumsalam, eh kenapa tidak bilang dahulu mau kesini?)
“Hehe engga Ua, soalnya buru – buru.” Ujarku
“Ua motor di pake engga? Angga mau ke Tangkuban Parahu?” Ujarku to the point.
“Ada, cuman gaada bensinnya, teu nanaon kan?” Ia lalu menyerahkan kunci motor berserta STNK miliknya. (Terjemahan: Gapapa kan?)
“Ohiya gapapa ua dikasih pinjem motornya aja udah seneng.” Ujarku lalu aku berpamitan untuk segera pergi ke Tangkuban Parahu.
Kharisma X keluaran 2008 ini masih kuat untuk menaklukan tanjakan Lembang. Ua merawat motor miliknya tersebut dengan baik. Tidak ada sedikitpun suara body motor yang longer, hanya saja pedal gigi motor ini cukup keras untuk diinjak mungkin faktor usia motor ini yang sudah termasuk tua. Namun overall motor ini masih berfungsi dengan baik tanpa modifikasi sedikitpun.
Jalanan lembang ramai lancar. Ku jalankan motor ini dengan kecepatan 60km/jam. Aku tak pernah berani menjalankan motor ugal – ugalan. Yang penting bagiku adalah selamat sampai tujuan. Setelah menaklukan belokan dan tanjakan akhirnya sampailah kami di Tangkuban Parahu. Kami membayar tarif yang telah ditentukan setelah itu kami langsung masuk.
Banyak spesies hewan yang ada di Tangkuban Parahu. Selain untuk tempat wisata, tangkuban parahu memang dijadikan sebagai tempat pemeliharaan hewan yang sudah mulai langka. Fani ketakutan saat melihat monyet yang bergantungan kesana kemari melewati ranting demi ranting.
Quote:
“Tong, takutlah liat monyet.” Ujar Fani ketakutan
“Gapapalah yang penting kita ga ganggu mereka, emang monyet suka gelantungan kali.” Aku mencoba menenangkan ketakutan Fani.
Tibalah kami di kawah Tangkuban Parahu. Ada sebuah kebahagiaan tersendiri dalam hatiku. Ya, aku bahagia Fani menemani liburanku kali ini meski harus ku korbankan uang jajanku selama 2 minggu. Tapi apa yang tidak untuk cinta? Sebuah pengorbanan pasti ada demi mendapatkan pujaan hati. Kadang memang orang bilang cinta itu gila, cinta itu buta, dan definisi cinta yang lainnya. Tapi bagiku cinta adalah tentang ketulusan, pengorbanan, dan kejujuran. Omong kosong itu bila cinta hanya kata – kata tanpa perjuangan.
Quote:
“Tong, kita gakan foto bareng udah jauh – jauh kesini?” Ajak Fani.
“Bo…leh Fan.” Ujarku terbata – bata, aku salah tingkah dengan ajakannya tersebut. Lalu aku mencari orang untuk memfoto kami.
Kami saling berdampingan, orang yang memfoto kami memberi isyarat. Jepreeeet, Canon 1100D milikku mengabadikan kami di Tangkuban Parahu. Dalam jepretan tersebut, Fani tersenyum matanya menyipit sedangkan aku hanya tersenyum.
Aku tersenyum melihat foto 3 tahun yang telah berlalu itu. Namun sekarang semuanya telah berubah meskipun perasaan ini masih ada. Aku memutuskan untuk mencopot foto tersebut lalu menyimpannya dibawah ranjang tidurku, lalu menggantinya dengan fotoku bersama Octa.