Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#432
Partitur no. 78 : Kamera


Hamim dan Dandi datang ke rumahku seminggu kemudian pada pagi hari. Kami merencanakan membuat sebuah proyek fotografi. Konsep ini berawal ketika kegemaranku dan Hamim yang di mana ternyata Dandi juga menyukainya. Kami akan hunting di sebuah taman untuk membuat portofolio fotografi kami, lalu membuat website yang menampilkan hasil-hasil fotografi kami. Tanpa kami duga, ternyata Harrys juga berminat untuk bergabung bersama kami.

Kami berangkat bersama menuju Taman Suropati, tempat tujuan kami membuat portofolio. Pagi di taman kota seperti Taman Suropati memang sangat indah. Mengingatkan akan kenangan dulu bersama Sarah ketika lari pagi bersama temannya yang sangat cantik, Mitha, di sekitar sana sambil ditemani hujan. Tapi, itu sudah berlalu.

***


“Jika satu detik adalah sesuatu yang sangat berharga bagimu, apa yang kini akan kau lakukan?” kalimat itu membuka perbincangan kami ketika aku meminta pendapat tentang foto-fotoku kepada seorang kerabat ayahku yang juga seorang dosen di kampus yang sama, yang kebetulan mengajar fotografi pada sebuah kunjungan ke rumahnya di pagi hari.

“Ummm..” aku menjawabnya dengan ragu-ragu. “Tak tahu.”

Ya, di sinilah aku hari ini: di rumah kerabat ayahku. Tadi pagi, ayahku mengajakku beserta Harrys dan Kang Naufal untuk berkunjung ke rumah temannya sesama dosen di kampusnya mengajar. Katanya, ayahku ingin memperkenalkanku kepadanya karena ia seorang fotografer profesional. Lalu aku bisa menanyakan referensi kamera beserta harganya, hingga teknik-teknik dalam fotografi lebih dalam lagi. Selain itu, ayahku sekalian ingin mengambil sebuah buku karangan kerabat ayahku yang membahas serba-serbi Batak dengan banyak hasil karya fotonya yang sangat bagus-bagus. Bukunya sangatlah tebal.

“Satu detik yang lalu adalah sejarah,” jelasnya sambil memberikan handphone milik adikku untuk melihat satu karya yang menurutku adalah andalanku. “tak bisa diulang, tapi bisa kita abadikan.”

Rasanya kata-kata yang baru terlontar itu terdengar sangat keren. Aku terpelongo sesaat ketika mendengar ucapannya.

“Fotomu sudah bagus-bagus, tapi ada satu koreksi yang pengen Om kasih,” Ia menunjukan sebuah foto sinar mentari yang sedang menyingsing dari ufuk timur dengan warna kuning yang hangat mendominasi. Foto yang kuambil pagi sekali, ketika udara masih sangat segar. Jari telunjuk dan jempolnya menyentuh layar handphone milik Harrys dan membuat foto itu sedikit di zoom. “Nah, kalo agak di zoomgini kan ‘inti’ dari fotonya lebih keliatan, maknanya juga ada. Seakan menceritakan sesuatu.”

“Terima kasih banyak atas koreksinya, Om,” ujarku senang sambil melakukan apa yang ia baru bilang barusan.

“Om masuk ke dalam sebentar, ya.” Pamitnya dengan senyum ramahnya. Aku juga tersenyum, membalas senyumannya tadi.

Kuminum teh manis hangat yang dihidangkan tadi sambil melihat ke sekeliling ruang tamu yang penuh dengan hasil karya fotonya sendiri. Kang Naufal dan Harrys juga melakukan hal yang sama. Rasanya tak perlu diragukan lagi hasil potretan seorang profesional. “Kalau sudah jago nanti, pengen rasanya buat semacem galeri di rumah sendiri seperti ini..” pikirku dalam hati. Dan lagi, setelah teman ayahku itu kembali, aku akan menanyakan referensi harga kamera yang cocok untukku yang masih pemula.

“Man, liat yang ini, deh!” pinta ayahku kepadaku. Mataku langsung reflek melihat ke arah ayahku yang sedang menunjukan satu foto yang menurutnya sangat bagus.

Semua fotonya sangat bagus sebenarnya, tapi yang satu ini berbeda. Foto ini mengandung arti tersendiri.

Di dalam frame itu terlihat seseorang yang sedang memainkan tuts piano, tapi tak ada pianonya di sana. Model yang difoto memerankan perannya dengan baik. Mimik wajahnya seakan benar-benar memainkan dentingan nada piano dengan indahnya.

Teman ayahku pun kembali bergabung bersama kami di ruang tamu sambil membawa sebuah kamera dan dusnya. Ketika ia duduk, aku langsung mengucapkan apresiasi atas karyanya.

“Terima kasih,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum ramahnya sekali lagi.

Aku mengirimkan sinyal kepada ayahku agar ia mau menanyakan harga kamera untukku. Sebenarnya aku bisa saja menanyakannya langsung, tapi aku malu. Ayahku hanya tertawa kecil menyadari sinyal kodeku ini.

“Gini, Pak Tigor,” kata ayahku pelan-pelan. “anak saya, Iman, mau nanya referensi harga kamera sekalian nabung. Kali aja Pak Tigor punya saran yang bagus.”

Pak Tigor, teman ayahku itu hanya tersenyum lebar. “Sudah, kau tak usah nabung saja.” Ia mengeluarkan logat batak yang sangat khas.
Tentu, perkataan Pak Tigor membuatku kaget. Mengapa aku disuruh jangan menabung? Baru aku akan membuka mulutku untuk menanyakan mengapa, ia melanjutkan bicaranya. “Ini buat kamu, Man.” Ujarnya sambil menyerahkan kamera yang ia ambil tadi.

Sontak aku langsung terkejut. “E.. Eh?” kataku terkejut. Apa ini bukan mimpi? “Ini beneran, Om?” tanyaku masih tak percaya.

Ia hanya tersenyum saja. Senyum yang bagai malaikat. “Iya, Man,” jawabnya. “tapi Om delete dulu fotonya, banyak foto cewek soalnya.” Ia hanya tertawa sambil menarik kembali kameranya. “Cewek model maksudnya, kayak yang kamu bilang bagus tadi itu.”

Sial. Bagaimana caranya agar aku bisa mempercayai apa yang sebenarnya baru terjadi ini?

“Nih,” ia menyerahkan kameranya kepadaku lagi. Aku menerima pemberiannya dengan sangat hati-hati. Perasaanku bercampur aduk. Antara senang dan tak percaya. “dan ini dusnya. Biar keliatan baru.”

Bukan main, ia memberikanku sebuah kamera berwarna hitam dari salah satu merk kamera terkenal dengan seri tiga digit secara cuma-cuma. Bukan barang yang murah. Setidaknya untukku. “Ini dulu Om pake sebagai kamera utama, dan udah Om pake motret ke mana-mana, bahkan sampai negara sana..” katanya menjelaskan. “Sekarang kamera ini buat kamu, kamera Om yang bersejarah. Jaga kenangan Om di dalemnya, dan rawat baik-baik kameranya. Karena kamera juga adalah temanmu, seperti gitar yang kau mainkan itu.”

Mataku berkaca-kaca, rasanya ucapan terima kasih tak akan cukup untuk membalas kebaikannya ini. “Ma.. Makasih banyak, Om..” kataku malu-malu. Belum sempat kuapa-apakan kamera itu, Kang Naufal sudah mengotak-atiknya terlebih dahulu. Sementara Harrys hanya tertawa.

Tak pernah terpikirkan sekalipun olehku bahwa aku akan membawa pulang sebuah kamera yang niatnya akan kubeli dengan uang tabunganku sendiri. Menurut pikiranku tadi ketika berangkat, aku akan dapat patokan budget yang pas, kini aku membawa pulang sebuah kamera. Dan seandainya ayahku tak mengajakku tadi, apa yang akan terjadi?
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.