- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.3K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#196
UPDATE BAB 3 PART 1
Quote:
BAB 3 PART 1
Dimulailah hari-hari gw di Sendai. Hari-hari yang gak tau bakal gw lewatin dengan cara ngapain. Itinerary gw di Sendai gak begitu detail.
Bahkan hampir gak ada satupun objek wisata yang jadi itinerary gw, malahan.
Gw cuma browsing aja beberapa spot yang biasa jadi tempat wisata di Sendai, tapi gw belom mutusin apakah gw akan pergi kesana atau nggak.
Hari ini gw ngerasa cape banget. Dan lapar.
Setelah siang tadi gw ketemu ama makhluk manis yang ngeselin yang bernama Keiko, malam ini gw masih belom makan apa-apa. Jus wortel yang dia kasih udah gw abisin. Dan gw tetep lapar.
Di sekitar apartemen gak ada kedai makanan. Warteg juga gak ada. Hehehe...
Di atas meja ada beberapa brosur delivery service dari restoran pizza dan fastfood si badut. Dari tadi gw timbang-timbang, apakah gw delivery aja ya. Foto-foto di brosur itu bikin gw ngiler. Tapi ngeliat harganya yang mahal, gw urungkan niat gw.
Akhirnya mau gak mau gw putuskan untuk beli makanan di Laws*n lagi, di seberang apartemen. Gw pun belanja lagi.
Balik lagi ke rumah, gw makan. Sehabis makan, gw mencoba untuk menghubungi Seichi lewat LINE.
Jam udah hampir menunjukkan jam 9 malam. Udara di luar makin dingin. Suhu di Sendai lebih dingin daripada di Tokyo.
Gw pun memutuskan untuk tidur aja hari ini. Besok baru gw berencana untuk muter-muter Sendai.
Gw siapkan futon (kasur ala Jepang). Udah siap-siap mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba pintu depan diketok.
Tok..tok..tok...
Siapa sih malem-malem gini? Seichi? Tapi kan tadi gw baru chattingan ama dia.
Gw beranjak ke depan, membuka pintu.
“Selamat malam.” Wajah Keiko muncul ketika gw membuka pintu.
Makhluk ini lagi, batin gw.
“malem,” balas gw.
“Nih, buat kamu,” katanya, menyodorkan sepiring makanan ke gw.
“Kare ayam,” kata dia.
“Tadi kamu belom makan, kan? Aku ngerasa kasihan, jadi aku buatin kamu kare,”
Kasian? KASIHAN?
“yang bikin aku belom makan tadi siang, siapa?” tanya gw, sarkas.
“kok marah, aku kan sengaja bikin ini buat kamu,” kata dia. Wajahnya cemberut.
“Nih,” kata dia makin menyodorkan piringnya ke muka gw. Mau gak mau gw ambil, soalnya takut tumpah ke muka gw.
“Maaf ya mengganggu,” kata Keiko sambil nyelonong ke dalem.
“Hey, tunggu,” kata gw, yang masih ribet antara megang piring kare yang masih panas dengan pintu yang mau gw tutup.
“Kamu udah mau tidur?” katanya ke gw, ngeliat futon yang udah tergelar di lantai.
“hari ini cape, ya?”
“ya,” jawab gw pendek.
Tiba-tiba dia melipat futonnya. Lalu mengambil meja kecil dan meletakkannya di tempat futon yang udah gw gelar tadi.
“Lho kok? Kamu ngapain?” gw heran.
“Ayo makan...makan...,” kata dia.
“Aku udah makan tadi,” jawab gw. Pengen cepet-cepet dia pergi supaya gw bisa tidur.
“Kenapa? Kan ini sayang kalo gak dimakan...” kata Keiko.
Dia udah duduk di depan meja, ngeliatin gw. Menunggu gw untuk duduk juga.
Gw ngalah.
“Iya..iya.. aku makan,” kata gw akhirnya, duduk di hadapan dia.
Gw ambil sendok, terus gw ambil karenya sesendok. Gw perhatiin kare yang ada di dalam piring ini.
Kok gak ada ayamnya ya? Biasanya kare itu kan ada daging, kentang, bawang bombay, dan wortel. Ini cuma ada wortelnya aja.
“nggg.. ini kok cuma wortel aja?” tanya gw.
“ini pertama kalinya aku bikin kare. Karena cuma ada wortel, jadinya cuma pake wortel aja,” kata dia, ngeliatin gw, sambil sikunya di atas meja dan kedua tangannya menopang dagunya.
Manis banget dia.
“Tapi namanya kare ayam? Ayamnya mana?” kata gw heran.
“aku pake kaldu ayam. Sama aja kan?” kata dia sambil senyum ke gw.
“jadi ini kare wortel. Selamat makan.” kata gw sambil nyoba sesendok lalu gw masukin ke mulut.
“bukan, ini kare ayam. Mana ada nama masakan kare wortel. Cuma ada kare ayam sama kare sapi,” kata dia gak mau kalah.
Hadeehh. Mimpi apa gw, sampe bisa didatangin ama cewek kaya begini.
“gimana rasanya?” tanyanya.
“enak,” jawab gw. Dia tersenyum, kayanya seneng dengan jawaban gw.
Sisi positifnya adalah, kare itu membuat gw lebih hangat. Badan gw sedikit menghangat setelah makan kare.
Kare dari Keiko pun habis.
“terima kasih,” kata gw setelah suapan terakhir gw habiskan.
Dia tersenyum ke gw sambil ngambil piring yang udah kosong.
"selamat istirahat,” katanya, beranjak ke depan, lalu keluar gitu aja.
Gw bengong. Bener-bener gak ngerti sama makhluk yang bernama Keiko ini. Ngapain tiba-tiba dia dateng ngasih gw kare? Terus langsung balik gitu aja?
Gw kekenyangan. Gw ngalamin kelaparan, dan kekenyangan hanya dalam satu hari.
Ini hari yang berat, batin gw.
Gw rapihkan lagi futon gw, lalu gw matikan lampu.
Gw pun tidur.
Dimulailah hari-hari gw di Sendai. Hari-hari yang gak tau bakal gw lewatin dengan cara ngapain. Itinerary gw di Sendai gak begitu detail.
Bahkan hampir gak ada satupun objek wisata yang jadi itinerary gw, malahan.
Gw cuma browsing aja beberapa spot yang biasa jadi tempat wisata di Sendai, tapi gw belom mutusin apakah gw akan pergi kesana atau nggak.
Hari ini gw ngerasa cape banget. Dan lapar.
Setelah siang tadi gw ketemu ama makhluk manis yang ngeselin yang bernama Keiko, malam ini gw masih belom makan apa-apa. Jus wortel yang dia kasih udah gw abisin. Dan gw tetep lapar.
Di sekitar apartemen gak ada kedai makanan. Warteg juga gak ada. Hehehe...
Di atas meja ada beberapa brosur delivery service dari restoran pizza dan fastfood si badut. Dari tadi gw timbang-timbang, apakah gw delivery aja ya. Foto-foto di brosur itu bikin gw ngiler. Tapi ngeliat harganya yang mahal, gw urungkan niat gw.
Akhirnya mau gak mau gw putuskan untuk beli makanan di Laws*n lagi, di seberang apartemen. Gw pun belanja lagi.
Balik lagi ke rumah, gw makan. Sehabis makan, gw mencoba untuk menghubungi Seichi lewat LINE.
Quote:
Gw: Seichi, selamat malam
Seichi: Selamat malam. Ada apa?
Gw: saya mau tanya tentang orang yang ada di 302. Namanya Keiko, ya?
Seichi: Oh iya. Kamu sudah berkenalan?
Gw: ya...begitulah. Dia...to the point ya
To the point. Gw gak tau lagi kata apa yang tepat. Gw takut Seichi marah kalo gw ngomong yang negatif soal Keiko.
Seichi: To the point? Hahaha. Ya, saya lupa memberitahu. Dia sering ke kamar saya. Orangnya memang seenaknya. Kamu sudah diapain sama dia?
Gw: Ah..ga apa-apa kok.
Seichi: Dia memang begitu orangnya
Gw: Dia.... pacar Seichi?
Seichi: hahaha Bukan. Dia cuma tetangga.
Gw: O gitu.
Seichi: Kamarnya bagaimana?
Gw: Nyaman
Seichi. Kalau begitu, selamat istirahat ya
Gw: Selamat istirahat
Seichi: Selamat malam. Ada apa?
Gw: saya mau tanya tentang orang yang ada di 302. Namanya Keiko, ya?
Seichi: Oh iya. Kamu sudah berkenalan?
Gw: ya...begitulah. Dia...to the point ya
To the point. Gw gak tau lagi kata apa yang tepat. Gw takut Seichi marah kalo gw ngomong yang negatif soal Keiko.
Seichi: To the point? Hahaha. Ya, saya lupa memberitahu. Dia sering ke kamar saya. Orangnya memang seenaknya. Kamu sudah diapain sama dia?
Gw: Ah..ga apa-apa kok.
Seichi: Dia memang begitu orangnya
Gw: Dia.... pacar Seichi?
Seichi: hahaha Bukan. Dia cuma tetangga.
Gw: O gitu.
Seichi: Kamarnya bagaimana?
Gw: Nyaman
Seichi. Kalau begitu, selamat istirahat ya
Gw: Selamat istirahat
Jam udah hampir menunjukkan jam 9 malam. Udara di luar makin dingin. Suhu di Sendai lebih dingin daripada di Tokyo.
Gw pun memutuskan untuk tidur aja hari ini. Besok baru gw berencana untuk muter-muter Sendai.
Gw siapkan futon (kasur ala Jepang). Udah siap-siap mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba pintu depan diketok.
Tok..tok..tok...
Siapa sih malem-malem gini? Seichi? Tapi kan tadi gw baru chattingan ama dia.
Gw beranjak ke depan, membuka pintu.
“Selamat malam.” Wajah Keiko muncul ketika gw membuka pintu.
Makhluk ini lagi, batin gw.
“malem,” balas gw.
“Nih, buat kamu,” katanya, menyodorkan sepiring makanan ke gw.
“Kare ayam,” kata dia.
“Tadi kamu belom makan, kan? Aku ngerasa kasihan, jadi aku buatin kamu kare,”
Kasian? KASIHAN?
“yang bikin aku belom makan tadi siang, siapa?” tanya gw, sarkas.
“kok marah, aku kan sengaja bikin ini buat kamu,” kata dia. Wajahnya cemberut.
“Nih,” kata dia makin menyodorkan piringnya ke muka gw. Mau gak mau gw ambil, soalnya takut tumpah ke muka gw.
“Maaf ya mengganggu,” kata Keiko sambil nyelonong ke dalem.
“Hey, tunggu,” kata gw, yang masih ribet antara megang piring kare yang masih panas dengan pintu yang mau gw tutup.
“Kamu udah mau tidur?” katanya ke gw, ngeliat futon yang udah tergelar di lantai.
“hari ini cape, ya?”
“ya,” jawab gw pendek.
Tiba-tiba dia melipat futonnya. Lalu mengambil meja kecil dan meletakkannya di tempat futon yang udah gw gelar tadi.
“Lho kok? Kamu ngapain?” gw heran.
“Ayo makan...makan...,” kata dia.
“Aku udah makan tadi,” jawab gw. Pengen cepet-cepet dia pergi supaya gw bisa tidur.
“Kenapa? Kan ini sayang kalo gak dimakan...” kata Keiko.
Dia udah duduk di depan meja, ngeliatin gw. Menunggu gw untuk duduk juga.
Gw ngalah.
“Iya..iya.. aku makan,” kata gw akhirnya, duduk di hadapan dia.
Gw ambil sendok, terus gw ambil karenya sesendok. Gw perhatiin kare yang ada di dalam piring ini.
Kok gak ada ayamnya ya? Biasanya kare itu kan ada daging, kentang, bawang bombay, dan wortel. Ini cuma ada wortelnya aja.
“nggg.. ini kok cuma wortel aja?” tanya gw.
“ini pertama kalinya aku bikin kare. Karena cuma ada wortel, jadinya cuma pake wortel aja,” kata dia, ngeliatin gw, sambil sikunya di atas meja dan kedua tangannya menopang dagunya.
Manis banget dia.
“Tapi namanya kare ayam? Ayamnya mana?” kata gw heran.
“aku pake kaldu ayam. Sama aja kan?” kata dia sambil senyum ke gw.
“jadi ini kare wortel. Selamat makan.” kata gw sambil nyoba sesendok lalu gw masukin ke mulut.
“bukan, ini kare ayam. Mana ada nama masakan kare wortel. Cuma ada kare ayam sama kare sapi,” kata dia gak mau kalah.
Hadeehh. Mimpi apa gw, sampe bisa didatangin ama cewek kaya begini.
“gimana rasanya?” tanyanya.
“enak,” jawab gw. Dia tersenyum, kayanya seneng dengan jawaban gw.
Sisi positifnya adalah, kare itu membuat gw lebih hangat. Badan gw sedikit menghangat setelah makan kare.
Kare dari Keiko pun habis.
“terima kasih,” kata gw setelah suapan terakhir gw habiskan.
Dia tersenyum ke gw sambil ngambil piring yang udah kosong.
"selamat istirahat,” katanya, beranjak ke depan, lalu keluar gitu aja.
Gw bengong. Bener-bener gak ngerti sama makhluk yang bernama Keiko ini. Ngapain tiba-tiba dia dateng ngasih gw kare? Terus langsung balik gitu aja?
Gw kekenyangan. Gw ngalamin kelaparan, dan kekenyangan hanya dalam satu hari.
Ini hari yang berat, batin gw.
Gw rapihkan lagi futon gw, lalu gw matikan lampu.
Gw pun tidur.
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 3 PART 1
Dimulailah hari-hari gw di Sendai. Hari-hari yang gak tau bakal gw lewatin dengan cara ngapain. Itinerary gw di Sendai gak begitu detail.
Bahkan hampir gak ada satupun objek wisata yang jadi itinerary gw, malahan.
Gw cuma browsing aja beberapa spot yang biasa jadi tempat wisata di Sendai, tapi gw belom mutusin apakah gw akan pergi kesana atau nggak.
Hari ini gw ngerasa cape banget. Dan lapar.
Setelah siang tadi gw ketemu ama makhluk manis yang ngeselin yang bernama Keiko, malam ini gw masih belom makan apa-apa. Jus wortel yang dia kasih udah gw abisin. Dan gw tetep lapar.
Di sekitar apartemen gak ada kedai makanan. Warteg juga gak ada. Hehehe...
Di atas meja ada beberapa brosur delivery service dari restoran pizza dan fastfood si badut. Dari tadi gw timbang-timbang, apakah gw delivery aja ya. Foto-foto di brosur itu bikin gw ngiler. Tapi ngeliat harganya yang mahal, gw urungkan niat gw.
Akhirnya mau gak mau gw putuskan untuk beli makanan di Laws*n lagi, di seberang apartemen. Gw pun belanja lagi.
Balik lagi ke rumah, gw makan. Sehabis makan, gw mencoba untuk menghubungi Seichi lewat LINE.
Seichi-san, konbanwa
Gw: Seichi, selamat malam
konbanwa. dou ka shimashita ka?
Seichi: Selamat malam. Ada apa?
anou...302 no heya ni iru o tonari san no koto nan des kedo, Keiko-san tte iu namae desu yo ne?
Gw: saya mau tanya tentang orang yang ada di 302. Namanya Keiko, ya?
aaa.. hai hai. mou shiriaimashita ka?
Seichi: Oh iya. Kamu sudah berkenalan?
e..maa.. ano ko wa... massugu desu ne
Gw: ya...begitulah. Dia...to the point ya
To the point. Gw gak tau lagi kata apa yang tepat. Gw takut Seichi marah kalo gw ngomong yang negatif soal Keiko.
massugu desu ka? hahaha. rangga-san ni ii wasuremashita. ano ko wa uchi no heya ni yoku kitemasu. sukina koto wo katte ni suru ko desu kedo ne. ano ko ni hen na koto saremashita ka?
Seichi: To the point? Hahaha. Ya, saya lupa memberitahu. Dia sering ke kamar saya. Orangnya memang seenaknya. Kamu sudah diapain sama dia?
iie, betsu ni.
Gw: Ah..ga apa-apa kok.
ano ko wa sonna ko desu kara
Seichi: Dia memang begitu orangnya
Keiko-chan wa..Seichi-san no koibito desu ka?
Gw: Dia.... pacar Seichi?
hahaha.. chigaimasu yo. tada no o tonari-san
Seichi: hahaha Bukan. Dia cuma tetangga.
sou desu ka
Gw: O gitu.
heya wa dou desu ka?
Seichi: Kamarnya bagaimana?
sumi gokochi ga ii desu
Gw: Nyaman
sou desu ka. ja, oyasuminasai
Seichi. Kalau begitu, selamat istirahat ya
oyasuminasai
Gw: Selamat istirahat
Jam udah hampir menunjukkan jam 9 malam. Udara di luar makin dingin. Suhu di Sendai lebih dingin daripada di Tokyo.
Gw pun memutuskan untuk tidur aja hari ini. Besok baru gw berencana untuk muter-muter Sendai.
Gw siapkan futon (kasur ala Jepang). Udah siap-siap mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba pintu depan diketok.
Tok..tok..tok...
Siapa sih malem-malem gini? Seichi? Tapi kan tadi gw baru chattingan ama dia.
Gw beranjak ke depan, membuka pintu.
"konbanwa"
“Selamat malam.”Wajah Keiko muncul ketika gw membuka pintu.
Makhluk ini lagi, batin gw.
"konbanwa"
“malem,” balas gw.
"kore, anta ni"
“Nih, buat kamu,” katanya, menyodorkan sepiring makanan ke gw.
"chikin kare"
“Kare ayam,” kata dia.
"hiru kara mada nani mo tabete nai deshou? kawaisou dakara, kare wo tsukutta no"
“Tadi kamu belom makan, kan? Aku ngerasa kasihan, jadi aku buatin kamu kare,”
Kasian? KASIHAN?
"boku ga mada nani mo tabesasete inai hito wa dare da to omou?"
“yang bikin aku belom makan tadi siang, siapa?” tanya gw, sarkas.
"nande okotteru no? sekkaku tsukutte ageta noni"
“kok marah, aku kan sengaja bikin ini buat kamu,” kata dia. Wajahnya cemberut.
"kore"
“Nih,” kata dia makin menyodorkan piringnya ke muka gw. Mau gak mau gw ambil, soalnya takut tumpah ke muka gw.
"o jama shimaaaasu"
“Maaf ya mengganggu,” kata Keiko sambil nyelonong ke dalem.
"oi! chotto matte!"
“Hey, tunggu,” kata gw, yang masih ribet antara megang piring kare yang masih panas dengan pintu yang mau gw tutup.
"mou neru no?"
“Kamu udah mau tidur?” katanya ke gw, ngeliat futon yang udah tergelar di lantai.
"kyou wa tsukareta ne"
“hari ini cape, ya?”
"hai"
“ya,” jawab gw pendek.
Tiba-tiba dia melipat futonnya. Lalu mengambil meja kecil dan meletakkannya di tempat futon yang udah gw gelar tadi.
"nani shiteru no?"
“Lho kok? Kamu ngapain?” gw heran.
"tabete tabete"
“Ayo makan...makan...,” kata dia.
"saki mou tabeta kara"
“Aku udah makan tadi,” jawab gw. Pengen cepet-cepet dia pergi supaya gw bisa tidur.
"doushite? mottai nain ja nai..."
“Kenapa? Kan ini sayang kalo gak dimakan...” kata Keiko.
Dia udah duduk di depan meja, ngeliatin gw. Menunggu gw untuk duduk juga.
Gw ngalah.
"hai hai.. tabeba ii deshou.."
“Iya..iya.. aku makan,” kata gw akhirnya, duduk di hadapan dia.
Gw ambil sendok, terus gw ambil karenya sesendok. Gw perhatiin kare yang ada di dalam piring ini.
Kok gak ada ayamnya ya? Biasanya kare itu kan ada daging, kentang, bawang bombay, dan wortel. Ini cuma ada wortelnya aja.
"anou...ninjin ga ippai haitteru kedo.."
“nggg.. ini kok cuma wortel aja?” tanya gw.
"hajimete kare wo tsukutte, ninjin shika nai kara, ninjin wo tsukatta"
“ini pertama kalinya aku bikin kare. Karena cuma ada wortel, jadinya cuma pake wortel aja,” kata dia, ngeliatin gw, sambil sikunya di atas meja dan kedua tangannya menopang dagunya.
Manis banget dia.
"demo kore wa chikin kare da yo ne? chikin wa?"
“Tapi namanya kare ayam? Ayamnya mana?” kata gw heran.
"chikin suupu wo ireta no. onaji deshou?"
“aku pake kaldu ayam. Sama aja kan?” kata dia sambil senyum ke gw.
"ja, kore wa ninjin kare da ne. Itadakimasu"
“jadi ini kare wortel. Selamat makan.” kata gw sambil nyoba sesendok lalu gw masukin ke mulut.
"chigau yo. chikin kare na no. ninjin kare tte iu ryori wa nai. kare tte wa ne, chikin kare to biifu kare na no"
“bukan, ini kare ayam. Mana ada nama masakan kare wortel. Cuma ada kare ayam sama kare sapi,” kata dia gak mau kalah.
Hadeehh. Mimpi apa gw, sampe bisa didatangin ama cewek kaya begini.
"o aji no hou wa?"
“gimana rasanya?” tanyanya.
"oishii yo"
“enak,” jawab gw. Dia tersenyum, kayanya seneng dengan jawaban gw.
Sisi positifnya adalah, kare itu membuat gw lebih hangat. Badan gw sedikit menghangat setelah makan kare.
Kare dari Keiko pun habis.
"gouchisousama deshita"
“terima kasih,” kata gw setelah suapan terakhir gw habiskan.
Dia tersenyum ke gw sambil ngambil piring yang udah kosong.
"ja, oyasumi"
"selamat istirahat,” katanya, beranjak ke depan, lalu keluar gitu aja.
Gw bengong. Bener-bener gak ngerti sama makhluk yang bernama Keiko ini. Ngapain tiba-tiba dia dateng ngasih gw kare? Terus langsung balik gitu aja?
Gw kekenyangan. Gw ngalamin kelaparan, dan kekenyangan hanya dalam satu hari.
Ini hari yang berat, batin gw.
Gw rapihkan lagi futon gw, lalu gw matikan lampu.
Gw pun tidur.
Dimulailah hari-hari gw di Sendai. Hari-hari yang gak tau bakal gw lewatin dengan cara ngapain. Itinerary gw di Sendai gak begitu detail.
Bahkan hampir gak ada satupun objek wisata yang jadi itinerary gw, malahan.
Gw cuma browsing aja beberapa spot yang biasa jadi tempat wisata di Sendai, tapi gw belom mutusin apakah gw akan pergi kesana atau nggak.
Hari ini gw ngerasa cape banget. Dan lapar.
Setelah siang tadi gw ketemu ama makhluk manis yang ngeselin yang bernama Keiko, malam ini gw masih belom makan apa-apa. Jus wortel yang dia kasih udah gw abisin. Dan gw tetep lapar.
Di sekitar apartemen gak ada kedai makanan. Warteg juga gak ada. Hehehe...
Di atas meja ada beberapa brosur delivery service dari restoran pizza dan fastfood si badut. Dari tadi gw timbang-timbang, apakah gw delivery aja ya. Foto-foto di brosur itu bikin gw ngiler. Tapi ngeliat harganya yang mahal, gw urungkan niat gw.
Akhirnya mau gak mau gw putuskan untuk beli makanan di Laws*n lagi, di seberang apartemen. Gw pun belanja lagi.
Balik lagi ke rumah, gw makan. Sehabis makan, gw mencoba untuk menghubungi Seichi lewat LINE.
Seichi-san, konbanwa
Gw: Seichi, selamat malam
konbanwa. dou ka shimashita ka?
Seichi: Selamat malam. Ada apa?
anou...302 no heya ni iru o tonari san no koto nan des kedo, Keiko-san tte iu namae desu yo ne?
Gw: saya mau tanya tentang orang yang ada di 302. Namanya Keiko, ya?
aaa.. hai hai. mou shiriaimashita ka?
Seichi: Oh iya. Kamu sudah berkenalan?
e..maa.. ano ko wa... massugu desu ne
Gw: ya...begitulah. Dia...to the point ya
To the point. Gw gak tau lagi kata apa yang tepat. Gw takut Seichi marah kalo gw ngomong yang negatif soal Keiko.
massugu desu ka? hahaha. rangga-san ni ii wasuremashita. ano ko wa uchi no heya ni yoku kitemasu. sukina koto wo katte ni suru ko desu kedo ne. ano ko ni hen na koto saremashita ka?
Seichi: To the point? Hahaha. Ya, saya lupa memberitahu. Dia sering ke kamar saya. Orangnya memang seenaknya. Kamu sudah diapain sama dia?
iie, betsu ni.
Gw: Ah..ga apa-apa kok.
ano ko wa sonna ko desu kara
Seichi: Dia memang begitu orangnya
Keiko-chan wa..Seichi-san no koibito desu ka?
Gw: Dia.... pacar Seichi?
hahaha.. chigaimasu yo. tada no o tonari-san
Seichi: hahaha Bukan. Dia cuma tetangga.
sou desu ka
Gw: O gitu.
heya wa dou desu ka?
Seichi: Kamarnya bagaimana?
sumi gokochi ga ii desu
Gw: Nyaman
sou desu ka. ja, oyasuminasai
Seichi. Kalau begitu, selamat istirahat ya
oyasuminasai
Gw: Selamat istirahat
Jam udah hampir menunjukkan jam 9 malam. Udara di luar makin dingin. Suhu di Sendai lebih dingin daripada di Tokyo.
Gw pun memutuskan untuk tidur aja hari ini. Besok baru gw berencana untuk muter-muter Sendai.
Gw siapkan futon (kasur ala Jepang). Udah siap-siap mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba pintu depan diketok.
Tok..tok..tok...
Siapa sih malem-malem gini? Seichi? Tapi kan tadi gw baru chattingan ama dia.
Gw beranjak ke depan, membuka pintu.
"konbanwa"
“Selamat malam.”Wajah Keiko muncul ketika gw membuka pintu.
Makhluk ini lagi, batin gw.
"konbanwa"
“malem,” balas gw.
"kore, anta ni"
“Nih, buat kamu,” katanya, menyodorkan sepiring makanan ke gw.
"chikin kare"
“Kare ayam,” kata dia.
"hiru kara mada nani mo tabete nai deshou? kawaisou dakara, kare wo tsukutta no"
“Tadi kamu belom makan, kan? Aku ngerasa kasihan, jadi aku buatin kamu kare,”
Kasian? KASIHAN?
"boku ga mada nani mo tabesasete inai hito wa dare da to omou?"
“yang bikin aku belom makan tadi siang, siapa?” tanya gw, sarkas.
"nande okotteru no? sekkaku tsukutte ageta noni"
“kok marah, aku kan sengaja bikin ini buat kamu,” kata dia. Wajahnya cemberut.
"kore"
“Nih,” kata dia makin menyodorkan piringnya ke muka gw. Mau gak mau gw ambil, soalnya takut tumpah ke muka gw.
"o jama shimaaaasu"
“Maaf ya mengganggu,” kata Keiko sambil nyelonong ke dalem.
"oi! chotto matte!"
“Hey, tunggu,” kata gw, yang masih ribet antara megang piring kare yang masih panas dengan pintu yang mau gw tutup.
"mou neru no?"
“Kamu udah mau tidur?” katanya ke gw, ngeliat futon yang udah tergelar di lantai.
"kyou wa tsukareta ne"
“hari ini cape, ya?”
"hai"
“ya,” jawab gw pendek.
Tiba-tiba dia melipat futonnya. Lalu mengambil meja kecil dan meletakkannya di tempat futon yang udah gw gelar tadi.
"nani shiteru no?"
“Lho kok? Kamu ngapain?” gw heran.
"tabete tabete"
“Ayo makan...makan...,” kata dia.
"saki mou tabeta kara"
“Aku udah makan tadi,” jawab gw. Pengen cepet-cepet dia pergi supaya gw bisa tidur.
"doushite? mottai nain ja nai..."
“Kenapa? Kan ini sayang kalo gak dimakan...” kata Keiko.
Dia udah duduk di depan meja, ngeliatin gw. Menunggu gw untuk duduk juga.
Gw ngalah.
"hai hai.. tabeba ii deshou.."
“Iya..iya.. aku makan,” kata gw akhirnya, duduk di hadapan dia.
Gw ambil sendok, terus gw ambil karenya sesendok. Gw perhatiin kare yang ada di dalam piring ini.
Kok gak ada ayamnya ya? Biasanya kare itu kan ada daging, kentang, bawang bombay, dan wortel. Ini cuma ada wortelnya aja.
"anou...ninjin ga ippai haitteru kedo.."
“nggg.. ini kok cuma wortel aja?” tanya gw.
"hajimete kare wo tsukutte, ninjin shika nai kara, ninjin wo tsukatta"
“ini pertama kalinya aku bikin kare. Karena cuma ada wortel, jadinya cuma pake wortel aja,” kata dia, ngeliatin gw, sambil sikunya di atas meja dan kedua tangannya menopang dagunya.
Manis banget dia.
"demo kore wa chikin kare da yo ne? chikin wa?"
“Tapi namanya kare ayam? Ayamnya mana?” kata gw heran.
"chikin suupu wo ireta no. onaji deshou?"
“aku pake kaldu ayam. Sama aja kan?” kata dia sambil senyum ke gw.
"ja, kore wa ninjin kare da ne. Itadakimasu"
“jadi ini kare wortel. Selamat makan.” kata gw sambil nyoba sesendok lalu gw masukin ke mulut.
"chigau yo. chikin kare na no. ninjin kare tte iu ryori wa nai. kare tte wa ne, chikin kare to biifu kare na no"
“bukan, ini kare ayam. Mana ada nama masakan kare wortel. Cuma ada kare ayam sama kare sapi,” kata dia gak mau kalah.
Hadeehh. Mimpi apa gw, sampe bisa didatangin ama cewek kaya begini.
"o aji no hou wa?"
“gimana rasanya?” tanyanya.
"oishii yo"
“enak,” jawab gw. Dia tersenyum, kayanya seneng dengan jawaban gw.
Sisi positifnya adalah, kare itu membuat gw lebih hangat. Badan gw sedikit menghangat setelah makan kare.
Kare dari Keiko pun habis.
"gouchisousama deshita"
“terima kasih,” kata gw setelah suapan terakhir gw habiskan.
Dia tersenyum ke gw sambil ngambil piring yang udah kosong.
"ja, oyasumi"
"selamat istirahat,” katanya, beranjak ke depan, lalu keluar gitu aja.
Gw bengong. Bener-bener gak ngerti sama makhluk yang bernama Keiko ini. Ngapain tiba-tiba dia dateng ngasih gw kare? Terus langsung balik gitu aja?
Gw kekenyangan. Gw ngalamin kelaparan, dan kekenyangan hanya dalam satu hari.
Ini hari yang berat, batin gw.
Gw rapihkan lagi futon gw, lalu gw matikan lampu.
Gw pun tidur.
Diubah oleh NihonDamashii 17-09-2015 16:38
0
Kutip
Balas