- Beranda
- Stories from the Heart
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
...
TS
NihonDamashii
Cewek Kelinci (Usagi no Onna no Ko) ウサギの女の子
Halo agan-agan,
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya
Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar
HARAP DIBACA DULU!
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati
INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Setelah sekian lama jadi silent reader di SFTH ini, akhirnya ane beranikan diri untuk ikut membuat thread dan menulis cerita.
Cerita ini adalah mix antara true story gw dengan fiksi.
Bagian mana yang true story, dan bagian mana yang fiksi, ane serahkan kepada agan untuk menebaknya aja ya

Tujuan ane nulis cerita ini, adalah semoga agan-agan disini terhibur.
Atau mungkin cerita ini bisa jadi temen agan minum kopi. Atau setidaknya, sambil menunggu cerita di thread laen yang belom di update sama suhu TSnya, bolehlah sekiranya agan mampir dulu disini, menunggu update-an dari mereka keluar

HARAP DIBACA DULU!
Quote:
Di bagian INDEX, ada part-part yang diberi keterangan: With Japanese Translation. Artinya ada 2 versi cerita yang ane tulis. Versi pertama adalah versi tanpa terjemahan bahasa Jepang, yang kedua adalah versi dengan terjemahan bhs Jepang.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Versi kedua ada di bawah versi pertama. Jadi tinggal scroll saja ke bawah.
Bagi yang tidak ingin ter-distract dan fokus pada isi cerita, silakan baca versi pertama.
Bagi yang ingin sekalian mengetahui bhs Jepang di setiap dialognya, silakan baca versi kedua.
Oke deh, langsung aja ya. Selamat menikmati

INDEX:
BAB 1: Cieee.. Honeymoon Cieee...!!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4
- PART 5
BAB 2: Jepang, Aku Datang!
- PART 1
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
BAB 3: Sendai dan Wortel?
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3 (With Japanese Translation)
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5 (With Japanese Translation)
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8 (With Japanese Translation)
- PART 9 (With Japanese Translation)
- PART 10 (With Japanese Translation)
- PART 11 (With Japanese Translation)
- PART 12 (With Japanese Translation)
- PART 13 (With Japanese Translation)
BAB 4: Dia Datang!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2
- PART 3
- PART 4 (With Japanese Translation)
- PART 5
- PART 6 (With Japanese Translation)
- PART 7 (With Japanese Translation)
- PART 8
- PART 9 (With Japanese Translation)
BAB 5: Pulang (Datang) Ke Indonesia!
- PART 1 (With Japanese Translation)
- PART 2 With Japanese Translation)
- PART 3
- PART 4 (End) (With Japanese Translation)
Cewek Kelinci (Special Part)
- PART - 1 Japanese Version -> Click Here
- PART - 2
Quote:
BAB 1 Part 1
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
“Satu...dua...tiga...ya!” seru tukang foto keliling kepada kami.
“Wuuuhuuuuuu..!!!” “Hahahaha....!!!!” seru kami, tertawa lepas. Topi toga pun berseliweran ke atas.
Si bapak tukang foto Cuma bisa senyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat tingkah laku kami.
Hari ini adalah hari yang telah lama kami nantikan. Hari dimana para mahasiswa yang selama beberapa bulan kurang tidur, datang ke kampus dengan muka kusut, mata merah, dan mendadak akrab dengan para dosen, terutama dengan dosen-dosen pembimbing, melepaskan status mahasiswanya dan menjadi para wisudawan-wisudawati.
Selama beberapa bulan terakhir ini, kami, para mahasiswa jurusan sastra Jepang, telah menumpahkan segala kemampuan dan tenaga kami untuk menyelesaikan skripsi kami.
Penyelesaian skripsi yang setengah mati kami lakukan, masih harus ditambah lagi dengan sidang skripsi. Namun demi kelulusan, kami pantang menyerah. Bahkan tak sedikit yang rela mengorbankan sesuatu yang disukainya demi skripsi.
Rifki, teman gw yang hampir setiap hari main game di PC nya, berkorban untuk tidak menyentuh gamenya selama dia mengerjakan skripsi.
Boni, yang kerjaannya pacaran melulu, selama beberapa bulan terakhir ini jarang kelihatan berduaan dengan ceweknya. Dia bilang dia udah janji ke ceweknya untuk menyelesaikan skripsi tahun ini dan jadi sarjana. Jadi dia minta ke ceweknya untuk mengurangi waktu jalan-jalan dan apel malam minggu.
Ada juga seorang cewek di kelas gw yang mutusin pacarnya karena ingin fokus menyelesaikan skripsi. Gw agak kaget waktu ngedenger kabar itu dari temen-temen seper-gosip-annya. Gw gak ngerti, apa hubungannya nyelesaiin skripsi dengan mutusin pacar. Tapi ya udahlah. Gw gak mau ikut campur.
Gw? Gw sendiri gak berkorban begitu banyak dan ekstrim kayak temen-temen gw. Gw selama beberapa bulan terakhir ini Cuma berkorban waktu tidur aja. Skripsi gw berhasil membuat gw Cuma tidur 3-4 jam.
Tapi hari ini, dengan pakaian dan topi toga yang kami pakai, kami resmi menjadi sarjana S1. Sarjana Sastra.
Gw bakal punya waktu tidur yang banyak lagi. Si Rifki bakal bisa mesra-mesraan lagi sama komputernya. Si Boni bakal punya kebanggaan di depan calon mertuanya karena udah lulus S1.
Cuma ada 6 orang dari angkatan gw yang berhasil menyelesaikan skripsi tahun ini. Dan Alhamdulillah, gw termasuk salah satu di dalamnya.
“Ta! Kita foto berdua, yuk!” kata Gw pada Sinta setelah sesi foto rame-rame satu angkatan selesai.
“uhmm..OK,” jawab Sinta. “Mer, tolong fotoin kita, ya,” pinta Sinta pada Merta, temen sekelas kami.
“Cieee...foto prewed nih ceritanya.. Rangga dan Sinta,” goda Merta.
“Apaan sih.. Udah cepet fotoin,” seru Sinta sambil nyodorin hape gw. Gw Cuma bisa senyum.
“Iye, bawel,” Merta menurut. “Nih, udah,” katanya sambil mengembalikan hape ke gw.
“Jadi nih, kalian ke Jepang? Honeymoon nih yeee...” Goda Merta lagi.
Dan kalimat Merta tadi berhasil membuat temen-temen gw yang tadinya udah mau bubar, pada ngumpul lagi, ngerubungin gw dan Sinta.
“Elo berdua sekalian mau nikah disono, ya?” celetuk Rifki.
“Sok tau!” jawab Sinta sambil mencubit lengan Rifki.
“Aw! Sakit tau!” protes Rifki.
“Biarin!” Sewot Sinta.
“Udah...Udah...ribut mulu. Panas nih. Kita ke dalem lagi, yuk,” sela gw.
Kami semua pun mulai kembali ke dalam gedung.
“Eh, Ga, ntar kalo lo sama Sinta ke Jepang, lu lamar aja do’i,” bisik Rifki sambil berjalan.
“Anak orang maen lamar aja. Gw mau mikirin kerja dulu,” jawab gw.
“ah elo. Mikirin kerja mah abis ngelamar kan bisa,” seru Rifki tak mau kalah. “Lagian nih ya, kapan lagi lu sama Sinta bisa berduaan. Ke Jepang lagi. Jepang men..Jepang!” Tambah dia.
“Gimana ntar, deh” sahut gw.
“Tar kalo udah puropoozu*, kasih tau gw ya. Pokonya gw harus jadi orang pertama yang tau kalo kalian berdua tunangan.” Seru Rifki.
“Ho oh...,” jawab gw sambil ngeloyor meninggalkan Rifki. Kalo udah cerita tentang hubungan gw sama Sinta, itu anak emang berapi-api. Dan gw kadang gak bisa nanggepin omongan dia yang udah berapi-api itu. Gw suka jawab sekenanya aja. Bukan apa-apa, gw bukan tipe orang yang blak-blakan kalo ngomongin soal percintaan.
“Ga! Lo mau kemana?” Tanya Rifki yg gw tinggalkan di belakang gw.
“Makan,” jawab gw pendek.
==============================================================================================
*Puropoozu: ngelamar pasangan
Diubah oleh NihonDamashii 17-12-2015 20:01
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
162.3K
Kutip
860
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NihonDamashii
#152
UPDATE BAB 2 PART 4
Quote:
BAB 2 PART 4
Dan mata itu bertemu dengan mata gw. Gw perhatikan wajahnya berubah heran, dan sedetik kemudian berubah jadi ketakutan.
“Mau apa kamu?” tanyanya. Dari nadanya jelas dia lagi kaget banget.
Gw, yang ngeliat ekspresi wajahnya yang kaget gitu, jadi ikutan tambah kaget. Gw tambah bingung.
“Aku bakal panggil polisi!” sahutnya.
Lho? Kok? Polisi?!
“T..tunggu dulu!” Kata gw. “Aku bukan orang jahat. Aku tinggal di sini, di kamar Seichi.”
Wajahnya masih heran, tapi ekspresi ketakutannya udah menghilang.
“Kamu teman Seichi?” tanyanya.
“Ya, bisa dibilang gitu,”
“Terus kenapa kamu bisa masuk kesini? Aku udah kunci kamar Seichi,” ujarnya.
Kayanya yang nanya gitu harusnya gw deh. Kok dia bisa ada di dalem. Waktu gw keluar tadi, gw udah kunci kamar ini.
“Aku punya kunci kamar Seichi,” kata gw. Lalu gw juga menjelaskan kalo gw nyewa kamarnya Seichi.
“Oh gitu. Pantesan kamu punya kunci kamarnya,” kata dia.
Setelah ngomong gitu, diapun balik badan lagi, ngeliat jalan raya lagi. Seolah gak terjadi apa-apa. Seolah kejadian yang hampir membuat gw ditangkep polisi itu gak ada.
“Kamu...siapa?” tanya gw akhirnya, setelah beberapa menit gak ada yang saling bicara.
“Keiko,” jawabnya pendek.
Gw membongkar isi belanjaan gw dan menaruhnya di meja.
“Wah, kamu bawa makanan? Aku lapar,” katanya tiba-tiba. Dia menghampiri gw, lalu nyomot onigiri gw gitu aja.
“Onigiri yang merk ini gak terlalu enak. Kalo mau beli onigiri, lebih baik kamu beli yang merk satunya lagi,” ujarnya, sambil membuka bungkusan onigiri lalu memakannya.
Hah? Gw bengong. Tiba-tiba aja dia menghampiri gw, nyomot onigiri gw, dan bilang onigirinya gak enak? Parah nih cewek.
“Sori deh kalo onigirinya gak seperti yang kamu harapkan,” sarkas gw.
“Gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi,” katanya sambil ngunyah.
Buset. Gw udah gak ngerti lagi deh ama ni cewek.
“Aku juga ambil ini ya,” katanya sambil ngambil mie instant gw. “Sebagai ganti karena kamu udah ngagetin aku tadi.”
“Tapi itu kan aku yang beli. Nanti aku makan pake apa?” kata gw. Blom ada 10 menit gw sama dia, tapi udah emosi gw dibuatnya.
“Hmmm....tunggu disini,” katanya, sambil keluar kamar. Gak lupa mie instantnya dia bawa.
Gw bengong aja ketika ngeliat dia membuka pintu di genkan dan keluar. Gak ngerti gw. Kenapa dia ada disini? Dan yang lebih penting lagi, dia siapa sih?
Lalu dia balik lagi. Dia bawa gelas berisi minuman berwarna oranye.
“Nih, buat kamu,” katanya.
Apaan nih?
“Ini apaan?” tanya gw.
“Jus wortel,” katanya.
“Jus wortel?” ulang gw.
“Jus wortel,” ulang dia.
“Untuk apa?” gw makin gak paham.
“Untuk diminum. Katanya tadi kamu gak tau mau makan apa. Kamu bisa minum ini. Bisa kenyang, lho,”katanya sambil senyum.
Senyumnya manis banget. Tapi itu gak membuat gw teralihkan.
“Kamu siapa, sih?” tanya gw. Jus yang dia kasih gw taruh di meja.
“Keiko. Kan tadi udah bilang,” jawabnya.
“Maksudnya, kenapa kamu disini?” tanya gw, udah ampir abis kesabaran gw.
“Tetangga,” jawabnya.
“Tetangga?” ulang gw gak ngerti.
“Aku tinggal di 302,”Sambil nunjuk dinding. Dinding yang misahin kamar 303 dan 302.
“Seichi gak pernah bilang ke kamu? Aku suka masuk ke kamar Seichi kalo lagi gak ada kerjaan,” katanya.
“Ini, aku juga punya kunci kamar Seichi.” Dia mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“Kamu asalnya dari mana?” tanya dia. Matanya mengamati muka gw. Ekspresi waktu dia ngeliatin wajah gw itu imut-imut gimana gitu.
“Indonesia,”kata gw.
“Oh aku tahu Indonesia. Pulau Bali, kan?” seru dia, ekspresinya waktu ngomong itu lucu.
“Ya, Bali ada di Indonesia,” kata gw.
“Kamu dari Bali?”
“Bukan, aku dari Bandung,” jelas gw.
“O gitu. Aku balik dulu ya,” kata dia tiba-tiba mengakhiri pembicaraan.
“Aku pengen makan snack. Ini buat aku boleh?” katanya sambil ngambil cemilan yang gw beli tadi, barengan sama onigiri dan mie instant yang udah raib.
“Boleh,” kata gw. Gak ada gunanya juga gw ngelarang. Onigiri sama mie instant gw udah lenyap. Terlanjur basah, ya sudah mandi aja sekalian.
“Makasih,” dia tersenyum. Dia pun menuju genkan, membuka pintu, dan keluar dari kamar ini. Tinggal gw sendirian, hanya ditemani segelas jus wortel.
Dan mata itu bertemu dengan mata gw. Gw perhatikan wajahnya berubah heran, dan sedetik kemudian berubah jadi ketakutan.
“Mau apa kamu?” tanyanya. Dari nadanya jelas dia lagi kaget banget.
Gw, yang ngeliat ekspresi wajahnya yang kaget gitu, jadi ikutan tambah kaget. Gw tambah bingung.
“Aku bakal panggil polisi!” sahutnya.
Lho? Kok? Polisi?!
“T..tunggu dulu!” Kata gw. “Aku bukan orang jahat. Aku tinggal di sini, di kamar Seichi.”
Wajahnya masih heran, tapi ekspresi ketakutannya udah menghilang.
“Kamu teman Seichi?” tanyanya.
“Ya, bisa dibilang gitu,”
“Terus kenapa kamu bisa masuk kesini? Aku udah kunci kamar Seichi,” ujarnya.
Kayanya yang nanya gitu harusnya gw deh. Kok dia bisa ada di dalem. Waktu gw keluar tadi, gw udah kunci kamar ini.
“Aku punya kunci kamar Seichi,” kata gw. Lalu gw juga menjelaskan kalo gw nyewa kamarnya Seichi.
“Oh gitu. Pantesan kamu punya kunci kamarnya,” kata dia.
Setelah ngomong gitu, diapun balik badan lagi, ngeliat jalan raya lagi. Seolah gak terjadi apa-apa. Seolah kejadian yang hampir membuat gw ditangkep polisi itu gak ada.
“Kamu...siapa?” tanya gw akhirnya, setelah beberapa menit gak ada yang saling bicara.
“Keiko,” jawabnya pendek.
Gw membongkar isi belanjaan gw dan menaruhnya di meja.
“Wah, kamu bawa makanan? Aku lapar,” katanya tiba-tiba. Dia menghampiri gw, lalu nyomot onigiri gw gitu aja.
“Onigiri yang merk ini gak terlalu enak. Kalo mau beli onigiri, lebih baik kamu beli yang merk satunya lagi,” ujarnya, sambil membuka bungkusan onigiri lalu memakannya.
Hah? Gw bengong. Tiba-tiba aja dia menghampiri gw, nyomot onigiri gw, dan bilang onigirinya gak enak? Parah nih cewek.
“Sori deh kalo onigirinya gak seperti yang kamu harapkan,” sarkas gw.
“Gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi,” katanya sambil ngunyah.
Buset. Gw udah gak ngerti lagi deh ama ni cewek.
“Aku juga ambil ini ya,” katanya sambil ngambil mie instant gw. “Sebagai ganti karena kamu udah ngagetin aku tadi.”
“Tapi itu kan aku yang beli. Nanti aku makan pake apa?” kata gw. Blom ada 10 menit gw sama dia, tapi udah emosi gw dibuatnya.
“Hmmm....tunggu disini,” katanya, sambil keluar kamar. Gak lupa mie instantnya dia bawa.
Gw bengong aja ketika ngeliat dia membuka pintu di genkan dan keluar. Gak ngerti gw. Kenapa dia ada disini? Dan yang lebih penting lagi, dia siapa sih?
Lalu dia balik lagi. Dia bawa gelas berisi minuman berwarna oranye.
“Nih, buat kamu,” katanya.
Apaan nih?
“Ini apaan?” tanya gw.
“Jus wortel,” katanya.
“Jus wortel?” ulang gw.
“Jus wortel,” ulang dia.
“Untuk apa?” gw makin gak paham.
“Untuk diminum. Katanya tadi kamu gak tau mau makan apa. Kamu bisa minum ini. Bisa kenyang, lho,”katanya sambil senyum.
Senyumnya manis banget. Tapi itu gak membuat gw teralihkan.
“Kamu siapa, sih?” tanya gw. Jus yang dia kasih gw taruh di meja.
“Keiko. Kan tadi udah bilang,” jawabnya.
“Maksudnya, kenapa kamu disini?” tanya gw, udah ampir abis kesabaran gw.
“Tetangga,” jawabnya.
“Tetangga?” ulang gw gak ngerti.
“Aku tinggal di 302,”Sambil nunjuk dinding. Dinding yang misahin kamar 303 dan 302.
“Seichi gak pernah bilang ke kamu? Aku suka masuk ke kamar Seichi kalo lagi gak ada kerjaan,” katanya.
“Ini, aku juga punya kunci kamar Seichi.” Dia mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“Kamu asalnya dari mana?” tanya dia. Matanya mengamati muka gw. Ekspresi waktu dia ngeliatin wajah gw itu imut-imut gimana gitu.
“Indonesia,”kata gw.
“Oh aku tahu Indonesia. Pulau Bali, kan?” seru dia, ekspresinya waktu ngomong itu lucu.
“Ya, Bali ada di Indonesia,” kata gw.
“Kamu dari Bali?”
“Bukan, aku dari Bandung,” jelas gw.
“O gitu. Aku balik dulu ya,” kata dia tiba-tiba mengakhiri pembicaraan.
“Aku pengen makan snack. Ini buat aku boleh?” katanya sambil ngambil cemilan yang gw beli tadi, barengan sama onigiri dan mie instant yang udah raib.
“Boleh,” kata gw. Gak ada gunanya juga gw ngelarang. Onigiri sama mie instant gw udah lenyap. Terlanjur basah, ya sudah mandi aja sekalian.
“Makasih,” dia tersenyum. Dia pun menuju genkan, membuka pintu, dan keluar dari kamar ini. Tinggal gw sendirian, hanya ditemani segelas jus wortel.
VERSI TERJEMAHAN BAHASA JEPANG
Quote:
BAB 2 PART 4
Dan mata itu bertemu dengan mata gw. Gw perhatikan wajahnya berubah heran, dan sedetik kemudian berubah jadi ketakutan.
“Nani suru tsumori?”
“Mau apa kamu?” tanyanya. Dari nadanya jelas dia lagi kaget banget.
Gw, yang ngeliat ekspresi wajahnya yang kaget gitu, jadi ikutan tambah kaget. Gw tambah bingung.
“keisatsu yobu yo!”
“Aku bakal panggil polisi!” sahutnya.
Lho? Kok? Polisi?!
“Cho..chotto matte!”
“T..tunggu dulu!” Kata gw.
“Boku wa ayashi mono ja nai yo. Koko ni sunderu kara. Seichi no heya ni,”
“Aku bukan orang kaya gitu. Aku tinggal di sini, di kamar Seichi.”
Wajahnya masih heran, tapi ekspresi ketakutannya udah menghilang.
“Anta, Seichi no tomodachi?”
“Kamu teman Seichi?” tanyanya.
“Sou,”
“Ya, bisa dibilang gitu,”
“Ja, nande koko ni haireru wake? Rokku shita noni, ”
“Terus kenapa kamu bisa masuk kesini? Aku udah kunci kamar Seichi,” ujarnya.
Kayanya yang nanya gitu harusnya gw deh. Kok dia bisa ada di dalem. Waktu gw keluar tadi, gw udah kunci kamar ini.
“Kagi wo motteru kara,”
“Aku punya kunci kamar Seichi,” kata gw. Lalu gw juga menjelaskan kalo gw nyewa kamarnya Seichi.
“naruhodo. Dakara kagi wo motteru ne,”
“Oh gitu. Pantesan kamu punya kunci kamarnya,” kata dia.
Setelah ngomong gitu, diapun balik badan lagi, ngeliat jalan raya lagi. Seolah gak terjadi apa-apa. Seolah kejadian yang hampir membuat gw ditangkep polisi itu gak ada.
“Kimi, dare?”
“Kamu...siapa?” tanya gw akhirnya, setelah beberapa menit gak ada yang saling bicara.
“Keiko,” jawabnya pendek.
Gw membongkar isi belanjaan gw dan menaruhnya di meja.
“Araa! Tabemono mottekita no? Onaka suita..,”
“Wah, kamu bawa makanan? Aku lapar,” katanya tiba-tiba. Dia menghampiri gw, lalu nyomot onigiri gw gitu aja.
“Kono onigiri wa ne, amari oishikunai yo. Mata onigiri o kau nara, hokano onigiri wo katte kite ne”
“Onigiri yang merk ini gak terlalu enak. Kalo mau beli onigiri, lebih baik kamu beli yang merk satunya lagi,” ujarnya, sambil membuka bungkusan onigiri lalu memakannya.
Hah? Gw bengong. Tiba-tiba aja dia menghampiri gw, nyomot onigiri gw, dan bilang onigirinya gak enak? Parah nih cewek.
“nozonderu onigiri wo kattebaikute sumimasen”
“Sori deh kalo onigirinya gak seperti yang kamu harapkan,” sinis gw.
“daijobu. Tsugi no wa shinaide ne,”
“Gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi,” katanya sambil ngunyah.
Buset. Gw udah gak ngerti lagi deh ama ni cewek.
“kore mo motteku wa ne,”
“Aku juga ambil ini ya,” katanya sambil ngambil mie instant gw.
“anta ga bikkuri saseta kara, sono kawari ni,”
“Sebagai ganti karena kamu udah ngagetin aku tadi.”
“Demo, sore wa boku ga kattanda yo. Nani wo tabeba ii no ka yo?”
“Tapi itu kan aku yang beli. Nanti aku makan pake apa?” kata gw. Blom ada 10 menit gw sama dia, tapi udah emosi gw dibuatnya.
“nnn... chotto matte ne,”
“Hmmm....tunggu disini,” katanya, sambil keluar kamar. Gak lupa mie instantnya dia bawa.
Gw bengong aja ketika ngeliat dia membuka pintu di genkan dan keluar. Gak ngerti gw. Kenapa dia ada disini? Dan yang lebih penting lagi, dia siapa sih?
Lalu dia balik lagi. Dia bawa gelas berisi minuman berwarna oranye.
“Kore,”
“Nih, buat kamu,” katanya.
Apaan nih?
“Nani, kore?”
“Ini apaan?” tanya gw.
“ninjin juusu”
“Jus wortel,” katanya.
“ninjin juusu?”
“Jus wortel?” ulang gw.
“ninjin juusu”
“Jus wortel,” ulang dia.
"Nan no tame ni?"
“Untuk apa?” gw makin gak paham.
“nomeru koto kimatteru ja nai. Nani wo tabeyou to itte ita deshou? Kore wo nomu to, manfuku ni naru yo”
“Untuk diminum. Katanya tadi kamu gak tau mau makan apa. Kamu bisa minum ini. Bisa kenyang, lho,” katanya sambil senyum.
Senyumnya manis banget. Tapi itu gak membuat gw teralihkan.
“kimi wa dare?”
“Kamu siapa, sih?” tanya gw. Jus yang dia kasih gw taruh di meja.
“Keiko. Saki mou itta ja nai”
“Keiko. Kan tadi udah bilang,” jawabnya.
“sou ja nakute, nande koko ni iru wake?”
“Maksudnya, kenapa kamu disini?” tanya gw, udah ampir abis kesabaran gw.
“o tonari san”
“Tetangga,” jawabnya.
“o tonari san”
“Tetangga?” ulang gw gak ngerti.
“atashi wa 302 ni sunderu”
“Aku tinggal di 302,” Sambil nunjuk dinding. Dinding yang misahin kamar 303 dan 302.
“seichi kara nani mo kiite nai? Atashi wa hima dattara, koko ni jama suru”
“Seichi gak pernah bilang ke kamu? Aku suka masuk ke kamar Seichi kalo lagi gak ada kerjaan,” katanya.
“kore, seichi no kagi”
“Ini, aku juga punya kunci kamar Seichi.” Dia mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“anta, doko kara kita no?”
“Kamu asalnya dari mana?” tanya dia. Matanya mengamati muka gw. Ekspresi waktu dia ngeliatin wajah gw itu imut-imut gimana gitu.
“Indonesia,” kata gw.
“Aahh..shitteru. Bari shima da ne?”
“Oh aku tahu Indonesia. Pulau Bali, kan?” seru dia, ekspresinya waktu ngomong itu lucu.
“un. Bari wa indonesia ni ichi shiteru”
“Ya, Bali ada di Indonesia,” kata gw.
“anta wa bari kara kita no?”
“Kamu dari Bali?”
“uun.. bandung kara”
“Bukan, aku dari Bandung,” jelas gw.
“sou ka. Ja, heya ni modoru ne,”
“O gitu. Aku balik dulu ya” kata dia tiba-tiba mengakhiri pembicaraan.
“okashi tabetai naa.. kore wo moratte mo ii?”
“Aku pengen makan snack. Ini buat aku boleh?” katanya sambil ngambil cemilan yang gw beli tadi, barengan sama onigiri dan mie instant yang udah raib.
“ii yo”
“Boleh,” kata gw. Gak ada gunanya juga gw ngelarang. Onigiri sama mie instant gw udah lenyap. Terlanjur basah, ya sudah mandi aja sekalian.
“arigatou,”
“Makasih,” dia tersenyum. Dia pun menuju genkan, membuka pintu, dan keluar dari kamar ini. Tinggal gw sendirian, hanya ditemani segelas jus wortel.
Dan mata itu bertemu dengan mata gw. Gw perhatikan wajahnya berubah heran, dan sedetik kemudian berubah jadi ketakutan.
“Nani suru tsumori?”
“Mau apa kamu?” tanyanya. Dari nadanya jelas dia lagi kaget banget.
Gw, yang ngeliat ekspresi wajahnya yang kaget gitu, jadi ikutan tambah kaget. Gw tambah bingung.
“keisatsu yobu yo!”
“Aku bakal panggil polisi!” sahutnya.
Lho? Kok? Polisi?!
“Cho..chotto matte!”
“T..tunggu dulu!” Kata gw.
“Boku wa ayashi mono ja nai yo. Koko ni sunderu kara. Seichi no heya ni,”
“Aku bukan orang kaya gitu. Aku tinggal di sini, di kamar Seichi.”
Wajahnya masih heran, tapi ekspresi ketakutannya udah menghilang.
“Anta, Seichi no tomodachi?”
“Kamu teman Seichi?” tanyanya.
“Sou,”
“Ya, bisa dibilang gitu,”
“Ja, nande koko ni haireru wake? Rokku shita noni, ”
“Terus kenapa kamu bisa masuk kesini? Aku udah kunci kamar Seichi,” ujarnya.
Kayanya yang nanya gitu harusnya gw deh. Kok dia bisa ada di dalem. Waktu gw keluar tadi, gw udah kunci kamar ini.
“Kagi wo motteru kara,”
“Aku punya kunci kamar Seichi,” kata gw. Lalu gw juga menjelaskan kalo gw nyewa kamarnya Seichi.
“naruhodo. Dakara kagi wo motteru ne,”
“Oh gitu. Pantesan kamu punya kunci kamarnya,” kata dia.
Setelah ngomong gitu, diapun balik badan lagi, ngeliat jalan raya lagi. Seolah gak terjadi apa-apa. Seolah kejadian yang hampir membuat gw ditangkep polisi itu gak ada.
“Kimi, dare?”
“Kamu...siapa?” tanya gw akhirnya, setelah beberapa menit gak ada yang saling bicara.
“Keiko,” jawabnya pendek.
Gw membongkar isi belanjaan gw dan menaruhnya di meja.
“Araa! Tabemono mottekita no? Onaka suita..,”
“Wah, kamu bawa makanan? Aku lapar,” katanya tiba-tiba. Dia menghampiri gw, lalu nyomot onigiri gw gitu aja.
“Kono onigiri wa ne, amari oishikunai yo. Mata onigiri o kau nara, hokano onigiri wo katte kite ne”
“Onigiri yang merk ini gak terlalu enak. Kalo mau beli onigiri, lebih baik kamu beli yang merk satunya lagi,” ujarnya, sambil membuka bungkusan onigiri lalu memakannya.
Hah? Gw bengong. Tiba-tiba aja dia menghampiri gw, nyomot onigiri gw, dan bilang onigirinya gak enak? Parah nih cewek.
“nozonderu onigiri wo kattebaikute sumimasen”
“Sori deh kalo onigirinya gak seperti yang kamu harapkan,” sinis gw.
“daijobu. Tsugi no wa shinaide ne,”
“Gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi,” katanya sambil ngunyah.
Buset. Gw udah gak ngerti lagi deh ama ni cewek.
“kore mo motteku wa ne,”
“Aku juga ambil ini ya,” katanya sambil ngambil mie instant gw.
“anta ga bikkuri saseta kara, sono kawari ni,”
“Sebagai ganti karena kamu udah ngagetin aku tadi.”
“Demo, sore wa boku ga kattanda yo. Nani wo tabeba ii no ka yo?”
“Tapi itu kan aku yang beli. Nanti aku makan pake apa?” kata gw. Blom ada 10 menit gw sama dia, tapi udah emosi gw dibuatnya.
“nnn... chotto matte ne,”
“Hmmm....tunggu disini,” katanya, sambil keluar kamar. Gak lupa mie instantnya dia bawa.
Gw bengong aja ketika ngeliat dia membuka pintu di genkan dan keluar. Gak ngerti gw. Kenapa dia ada disini? Dan yang lebih penting lagi, dia siapa sih?
Lalu dia balik lagi. Dia bawa gelas berisi minuman berwarna oranye.
“Kore,”
“Nih, buat kamu,” katanya.
Apaan nih?
“Nani, kore?”
“Ini apaan?” tanya gw.
“ninjin juusu”
“Jus wortel,” katanya.
“ninjin juusu?”
“Jus wortel?” ulang gw.
“ninjin juusu”
“Jus wortel,” ulang dia.
"Nan no tame ni?"
“Untuk apa?” gw makin gak paham.
“nomeru koto kimatteru ja nai. Nani wo tabeyou to itte ita deshou? Kore wo nomu to, manfuku ni naru yo”
“Untuk diminum. Katanya tadi kamu gak tau mau makan apa. Kamu bisa minum ini. Bisa kenyang, lho,” katanya sambil senyum.
Senyumnya manis banget. Tapi itu gak membuat gw teralihkan.
“kimi wa dare?”
“Kamu siapa, sih?” tanya gw. Jus yang dia kasih gw taruh di meja.
“Keiko. Saki mou itta ja nai”
“Keiko. Kan tadi udah bilang,” jawabnya.
“sou ja nakute, nande koko ni iru wake?”
“Maksudnya, kenapa kamu disini?” tanya gw, udah ampir abis kesabaran gw.
“o tonari san”
“Tetangga,” jawabnya.
“o tonari san”
“Tetangga?” ulang gw gak ngerti.
“atashi wa 302 ni sunderu”
“Aku tinggal di 302,” Sambil nunjuk dinding. Dinding yang misahin kamar 303 dan 302.
“seichi kara nani mo kiite nai? Atashi wa hima dattara, koko ni jama suru”
“Seichi gak pernah bilang ke kamu? Aku suka masuk ke kamar Seichi kalo lagi gak ada kerjaan,” katanya.
“kore, seichi no kagi”
“Ini, aku juga punya kunci kamar Seichi.” Dia mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“anta, doko kara kita no?”
“Kamu asalnya dari mana?” tanya dia. Matanya mengamati muka gw. Ekspresi waktu dia ngeliatin wajah gw itu imut-imut gimana gitu.
“Indonesia,” kata gw.
“Aahh..shitteru. Bari shima da ne?”
“Oh aku tahu Indonesia. Pulau Bali, kan?” seru dia, ekspresinya waktu ngomong itu lucu.
“un. Bari wa indonesia ni ichi shiteru”
“Ya, Bali ada di Indonesia,” kata gw.
“anta wa bari kara kita no?”
“Kamu dari Bali?”
“uun.. bandung kara”
“Bukan, aku dari Bandung,” jelas gw.
“sou ka. Ja, heya ni modoru ne,”
“O gitu. Aku balik dulu ya” kata dia tiba-tiba mengakhiri pembicaraan.
“okashi tabetai naa.. kore wo moratte mo ii?”
“Aku pengen makan snack. Ini buat aku boleh?” katanya sambil ngambil cemilan yang gw beli tadi, barengan sama onigiri dan mie instant yang udah raib.
“ii yo”
“Boleh,” kata gw. Gak ada gunanya juga gw ngelarang. Onigiri sama mie instant gw udah lenyap. Terlanjur basah, ya sudah mandi aja sekalian.
“arigatou,”
“Makasih,” dia tersenyum. Dia pun menuju genkan, membuka pintu, dan keluar dari kamar ini. Tinggal gw sendirian, hanya ditemani segelas jus wortel.
Diubah oleh NihonDamashii 17-09-2015 16:27
0
Kutip
Balas