[Skyland] - Saat langit belum runtuh, cahaya akan kembali
TS
djaroet19
[Skyland] - Saat langit belum runtuh, cahaya akan kembali
Hai Agan-agan mohon izin buka lapak sekedar berkhayal dalam tulisan, mengisi waktu untuk menumpahkan ide cerita gila.
Jadwal Update gak tentu ya gan, soalnya mood mood an untuk menulis dan ada kegiatan real life yang butuh tanggung jawab penuh (Sok banget yah)
Bagi yang udah mampir salam kenal ya.
nama ane Fuad Ansari, sekarang lagi tinggal di Balikpapan karena ada pekerjaan disini <-- kayaknya gak penting banget ya info ini.
selamat membaca ya agan-agan, mohon komentarnya agar tulisannya makin bagus lagi
Synopsis
Jack, seorang pria yang masih mampu bertahan hidup di tengah runtuhnya peradaban sisa perang dunia ketiga. di tengah perjalanannya dia bertemu dengan Marco yang ternyata adalah seorang komando pasukan elit di Skyland dan juga Keyza salah satu putri pemimpin tertinggi di Skyland. Jack sangat membenci Skyland karena peradaban baru yang diciptakan tersebut dikuasai oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan yang memonopoli sumber daya alam yang tersisa. Setelah bertemu dengan Marco dan Keyza, Jack mulai memahami sedikit demi sedikit kehidupan di Skyland dan berniat membantu mereka kembali kesana untuk menyelamatkan Skyland dari pemberontakan, salah satu caranya adalah bergabung dalam Skyleague sebuah ajang lomba pembantaian. Tapi menyelamatkan skyland bukan tujuan utama Jack, disaat perjalanannya ke Skyland, Jack menemukan kepingan ingatannya yang hilang. dan perasaannya kepada Keyza membawanya kepada sebuah perjalanan yang mengancam nyawanya. satu persatu misteri terpecahkan, masa lalu Jack mulai terungkap. hingga Jack sampai pada pilihan berpihak kepada siapa saat pertempuran kembali menyala antara Earthland dan Skyland. Kebenciannya kepada Skyland ataukah Cintanya kepada Keyza? disaat semua mulai terungkap dan Jack mengingat masa lalunya, kemanakah Jack akan berpihak? darimanakah sebenarnya Jack berasal? dunia baru akan tercipta.
“Uncle Max, kami akan mengikuti Skyleague” ucap marco tiba-tiba saat kami baru beranjak dari ruang makan.
uncle Max tersenyum tipis “Mari aku tunjukkan tempat latihan kami”
kembali lorong-lorong dengan pencahayaan redup yang kami lalui. kadang ada beberapa sisinya yang berlapiskan dengan lukisan-lukisan di atas kanvas yang indah. kami seolah memasuki dimensi lain di dunia ini. ditengah kacau balaunya dunia yang sudah hampir kiamat masih ada tempat seindah ini. tapi aku masih memikirkan perkataan Keyza sebelumnya, bahwa Uncle Max tidak bisa dipercaya. Dengan semua yang Uncle Max miliki sekarang tentu visinya adalah memperbaiki kekacauan dunia ini, sangat nampak fakta itu terlihat di depan mata. sempat terpikir olehku apakah aku sekarang berada pada pihak yang salah, bahkan sampai terpikir Keyza seakan mau memanfaatkan sesuatu dari diriku. tapi kurasa bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal tersebut yang penting sekarang adalah aku masih berada di antara kedua belah pihak. Uncle Max atau Keyza & Marco yang berada di pihak yang benar, tentunya nanti jika waktu itu telah tiba aku pasti akan berada pada keputusan yang sulit. Pro dan kontra ini membuatku pusing.
“Jack, kau kelihatan muram, apa kau sakit?” Keyza menyapaku di tengah lamunan, tangannya menyentuh wajahku hanya untuk memastikan suhu tubuhku tidak berubah. sentuhan lembutnya, menenangkan hatiku kembali. sentuhannya ku balas dengan senyuman “aku baik-baik saja Keyza, mungkin hanya kelelahan dengan perjalan kita beberapa hari ini”
“Jika kalian ada yang merasa kurang enak badan, nanti Anita akan mengantarkan kalian ke ruang medis kita, peralatan kita lumayan walaupun sebenarnya tidak memadai. beruntung aku menemukan beberapa staff medis saat misi penyelamatan ke sisi luar kota” ucap Uncle Max yang ternyata memperhatikan percakapan kami. Pria tua ini tubuhnya terlihat masih perkasa, satu-satunya yang bisa menggambarkan usianya saat ini adalah bulu-bulu putih yang merayap lebat di bagian wajahnya.
Kami terus melewati lorong yang panjang, aku mengamati di setiap sisinya terpasang camera pengintai, seekor kecoa pun tidak mungkin bisa lolos dari sini pikirku.
salah satu gerbang terbuka, cahaya menyeruak dari luar. kami mengelus-ngelus mata, lagi-lagi kami dikagetkan dengan pemandangan di depan kami. ini seperti barak tentara yang terorganisir. seperti kamp pelatihan yang dipenuhi oleh prajurit yang siap untuk berperang. peralatan-peralatan canggih tersusun rapi di dalam ruangan tersebut, layar-layar komputer menyala menyajikan data-data statistik. nampak beberapa orang sibuk meninjukan gempalannya ke sebuah karung yang tergantung layaknya petinju professional dengan berbagai kabel menempel di tubuh mereka.
ini tentu bukan pelatihan biasa, dengan prajurit seperti ini bukan tidak mungkin keperkasaan Skyland akan jatuh. aku memikirkan berbagai kemungkinan di sisi mana nanti aku berada jika pertempuran besar akan terjadi di antara dunia yang berbeda ini. kenyataan masih samar dalam pikiranku, selama masih manusia yang memegang kendali di dunia ini pasti akan susah menemukan kehidupan yang damai sesungguhnya. seandainya bencana perang dunia ketiga itu memusnahkan seluruh manusia di muka bumi mungkin akan ada kehidupan yang baru disini, tentunya dengan sistem yang baru. Tujuan kali ini adalah satu, menemukan kembali ingatanku yang hilang, disaat semua sudah kembali aku tidak akan berdiri lagi disisi abu-abu ini. untuk saat ini cukup dengan begini aku akan menemukan apa yang sebenarnya terjadi, baik itu Skyland maupun Earthland selama masih dihuni manusia sulit untuk menemukan kedamaian.
“Skyleague akan dimulai 7 hari lagi, ditempat yang tidak ditentukan, hanya orang Skyland yang mengetahuinya, atau lebih tepatnya sekarang Torga yang memegang kembali menurut informanku” ucap Uncle Max di tengah tour kecil kita di kamp pelatihan summer Bay
“Sebenarnya apa yang terjadi dalam Skyleague” tanyaku penasaran
“Itu bagai sebuah kejuaraan antar clan yang diadakan Skyland, Skyleague bukan hanya Torga yang memegang kendali tapi memang dia yang pertama kali mencetuskannya, dengan program ini dia menjanjikan hadiah yang besar untuk pemimpin tiap clan yang utusannya memenangkan Skyleague. ini bagai sebuah program untuk membangun hubungan diplomatik antara Skyland dan Clan besar di earthland. seolah diantara mereka ada sebuah perjanjian besar, dan itu berhasil dengan menurunnya statistik serangan terhadap kelompok Skyland yang mendarat di earthland, terutama untuk mereka yang berada di bawah komando Torga” terang Marco
“Seperti itulah, Torga memiliki jaringan yang kuat di earthland ini yang dulunya membuat kami khawatir, jika Skyland jatuh di tangan orang yang salah apa yang kami bangun akan menjadi sia-sia” tambah Uncle Max
“Skyland belum siap untuk menampung semua Manusia di muka bumi, begitu juga tekhnologi di dalamnya belum memadai untuk membangun ulang dunia ini” ucap Uncle Max
penjelasan mereka masih sangat samar di otakku. Skyland dan Earthland sepertinya tidak jauh beda, saling ingin menguasai.
“Pasti kamu masih bingung Jack, secara simplenya seperti ini, setiap Clan memiliki pemimpin yang haus akan kekuasaan, bayangkan jika Skyland menginvasi Earthland, apa yang akan terjadi?” Terang Keyza
“Earthland akan di bawah kendali Skyland” Jawabku menerka
“Tepat sekali, saat itu terjadi, Semua pemimpin clan akan kehilangan kekuasaan mereka, semua akan berada di bawah kendali Skyland. mereka akan kehilangan segala keuntungan yang mereka miliki saat ini. begitupan sebaliknya, jika Skyland jatuh ke earthland satu-satunya harapan dunia ini akan musnah dan kita bagai kembali ke zaman batu. jadi untuk saat ini Skyland dan Earthland bagai dua kutub yang saling bertolak belakang dan keduanya akan terus saling mempertahankan kekuasaan mereka” Tambah Keyza
“Oh seperti itu, aku mengerti kenapa Torga menjalin hubungan diplomatik dengan para pemimpin Clan” Setidaknya sedikit pertanyaanku dengan apa yang sebenarnya terjadi terjawab.
“Iya hanya untuk saat ini, tapi setelah After World tercipta semua hanya akan berada di bawah satu komando penuh” ucap Uncle Max dengan setengah berbisik
“Sorry, apa yang kamu katakan tadi Uncle Max, After World?” Marco ingin memastikan apa yang dia dengar
“bukan, bukan apa-apa, kamu salah dengar” Uncle Max tertawa dengan salah tingkahnya
“Jadi satu-satunya cara memasuki Skyland adalah dengan mengikuti Skyleague?” tanyaku tiba-tiba
“Seperti itulah gambaran kecilnya anak muda”Jawab Uncle Max
“jadi kita tidak ada pilihan ya, oke” Ucap Marco dengan wajah optimisnya
“Kalau aku tidak salah dengar kalian akan mengikuti Skyleague?” Tanya Uncle Max
“Iya, kami harus menyelamatkan Nayla dan Starlord atau Diego seperti yang kamu ceritakan pak tua, untuk saat ini tujuan kami hanya itu” jawab Marco
“Apa kalian yakin? mengikuti Skyleague bagai sebuah bunuh diri yang terencana, lalu apa rencana kalian jika sudah bisa memasuki Skyland?”
“Itu akan mengalir sendiri saat kami sudah ada disana” Jawab Marco seolah tidak ada pilihan lain lagi
“Aku mengerti semangatmu anak muda, tapi semua harus terencana, untuk persiapan kalian mengikuti Skyleague aku akan bantu. tapi sebelum itu, apakah kalian bisa mengalahkan prajurit terkuat kami saat ini, itu salah satu cara mengikuti Skyleague” Uncle Max seperti melempar kail pancing kepada kami. dia menunjuk 2 orang yang sekarang berada di salah satu area terbuka. kalau aku tidak salah tebak itu adalah area Battle, dibatasi dengan genangan air hijau sebesar setengah lapangan bola. berdiri tegap dua orang pemuda, dengan postur tubuh yang dipadati oleh otot di setiap lekuk tubuh mereka. nampak mereka tersenyum dengan isyarat meremehkan kepada kami.
“Mari beraksi Jack” Ucap Marco sambil membunyikan setiap sendi jarinya, wajahnya terlihat optimis. kami melangkah ke dalam arena. saat memasukinya tiba-tiba pagar dengan percikan listrik seolah menjadi kerangkeng buat kami kali ini.
“Andrew, Matthew, jangan terlalu keras dengan mereka” Uncle Max berteriak sambil tersenyum, dia beranjak meninggalkan Keyza yang mukanya menegang menatap kami berada dalam ring tersebut.
“Oke, mari kita selesaikan dengan cepat...” belum sempat Marco menyelesaikan kalimatnya, sebuah tinju bersarang di wajahnya bagai peluru, cepat dan tepat. tubuh Marco terpental beberapa meter kebelakang dan hampir jatuh ke air pemtas disisi luar arena. Aku sempat kebingungan melihat keadaan itu, namun reflek ku merasakan aku menjadi target selanjutnya, dengan sigap aku menunduk dan menghindar dari sebuah tendangan yang diarahkan ke wajahku. dengan cepat aku melompat ke belakang menghampiri Marco yang masih mengusap wajahnya. pukulan tadi tentu membuatnya shock namun wajahnya terlihat sangat geram.
“dalam Skyleague kalian harus tetap waspada, kecepatan dan fokus akan menjadi tameng buat kalian. kalau tidak Bammmmm, kalian akan meregang nyawa di arena” Uncle Max berteriak dari atas singgasananya. kami melihat sekeliling penghuni Summer Bay mulai berkumpul dan meneriakan yel-yel, beberapa kali meneriakan nama Andrew & matthew, si kembar yang kali ini sepertinya bukan hanya latihan tapi mereka memang serius mengincar nyawa kami.
“Oke, mari kita mulai serius Jack” Marco bangkit dan berlari ke arah dua anak kembar, bagai makhluk buas yang siap menerka mangsanya. aku berlari mengikuti di belakangnya. kali ini berlangsung sengit, kami saling jual beli serangan, namun tak bisa kami pungkiri anak kembar ini mempunyai power dan kecepatan yang tinggi. beberapa kali kami tersungkur karena serangan mereka. adu tinju dan pukulan lebih sering mendarat untuk kami.
Kami berdiri saling membelakangi, ini tentu bukan lawan yang mudah.
“Ayo anak muda, apakah hanya ini kemampuan kalian” Uncle Max kembali berteriak dari atas “mari kita buat ini semakin menarik” Uncle Max menekan tombol-tombol di singgasananya. dari tengah arena terbuka rongga yang besar, dari dalamnya mencuat beberapa senjata tajam. Tombak, pedang, pisau, panah, dan beberapa lagi senjata lainnya.
“ini bukan lagi latihan Marco, sepertinya nyawa kita jadi taruhannya kali ini” Aku mencoba membaca situasi saat ini. Marco mengangguk tanda setuju. kami harus lebih waspada.
kami berempat berlari ke tengah arena, satu tendangan ku arahkan kepada Andrew atau Matthew, entahlah mereka terlihat sama. kami berebut untuk mengambil senjata. Marco berhasil mengambil salah satu pedang yang terasa cocok dengan ukurannya, sementara salah satu anak kembar itu mengambil tombak. aku masih bejibaku dengan salah satunya, mataku tertuju pada salah satu pisau kembar, ini senjata favoritku, dengan cepat aku menghindari serangan lawan dan melompat mengambil pisau ganda. dengan cekatan salah satu lawan kami juga mengambil panah lengkap dengan busurnya.
Arena tiba-tiba bergetar, cahaya menyilaukan pandangan kami. saat kami mulai sadar, arena yang tadi hanya berupa susunan batu yang mendatar berubah menjadi bangunan runtuh dengan berbagai dinding yang memisahkan kami. Marco menatapku dengan heran. angin bergetar hebat di samping telingaku, terasa perih saat goresan merobek bagian daun telinga. busur panah membeku tertancap di dinding. hanya beberapa centi sebelum busur itu tepat menancap di kepalaku.
“si Pemanah adalah mangsaku, selesaikan yang satunya” teriaku pada Marco
aku berlari ke arah sumber panah, terus melaju sambil beberapa kali zigzag. busur panah bagai hujan di hadapanku, menepisnya beberapa kali seakan tidak membantu. tepat sepuluh meter di depan, aku melihat salah satu mangsaku yang siap menariki busur panahnya. aku berlari, aku yakin dia pasti melihat kedatanganku, busur panah sudah sampai ketitik lepasnya aku masih tidak menghiraukannya dipikiranku hanya akan melahap habis mangsaku kali ini. busur panah itu bagai peluru, menembus tepat sisi kiri perutku. rasa sakitnya tak lagi ku hiraukan, aku melompat, terkamanku kali ini pasti akan berhasil. wajahnya shock saat melihat busur panah menembus tubuhku namun tak merobohkan targetnya. aku sudah berdiri di atas tubuhnya dengan wajahnya yang seakan mau pingsan.
“Kau memilih musuh yang salah kali ini anak muda” Ucapku sambil menodongkan pisau ke lehernya. aku berdiri dan membiarkannya dengan wajah dungunya.
“Kau harusnya mati dengan busur itu” ucapnya ketakutan, tapi suaranya terdengar aneh, seperti suara radio yang kehabisan dayanya. Saat aku berada tepat di atasnya dia kembali menarik busurnya dan mengarahkan ke jantungku, dengan reflek bentuk pertahanan diriku, tanganku menyayat kedua belah tangannya. kali ini berganti aku yang shock, percikan listrik mengalir dari tangannya. ini jelas adalah lengan robot, namun ekpresi wajahnya membuktikan dia mempunyai perasaan.
“kau butuh seribu busur panah hanya untuk membuatku tak bisa berdiri lagi, manusia kaleng” aku menjauh darinya dan mencabut perlahan busur panah yang menancap. kali ini wajahnya kembali nampak ketakutan saat luka yang berlumuran darah itu dengan perlahan menutup sendiri. Aku pun duduk untuk mengembalikan staminaku.
belum sempat aku menarik nafas, satu buah ujung tombak di todongkan ke leherku “Kepalamu tentu akan dihadiahi hadiah yang besar” dia menyeringai jahat, ini sepertinya bukan main-main. mereka seolah-olah sangat ingin membunuh kami. dengan cekatan dia menarik tombaknya tentu tujuannya adalah menancapkannya ke jantungku. aku hanya tersenyum. dentingan keras terdengar saat dua bilah logam beradu. Marco sudah berdiri tegap di depanku dengan pedang sebagai perisai
“Lawanmu adalah aku, kembar idiot” Teriak Marco
Marco kali ini tidak main-main, dengan cepat dia melancarkan serangan, pedangnya berayun-ayun membuat lawan kami mundur beberapa langkah.
“Heyyyyyy, kelinci kecil, ayooo sini jangan jauh-jauh, mana keperkasaanmu tadi” seperti biasa Marco mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi musuh kami dengan kalimat-kalimatnya.
Matthew mengangkat tombaknya kembali, beberapa kali di hunuskan ke arah Marco, namun dengan mudah kali ini Marco menghindar. Marco sepertinya sudah menguasai musuhnya secara psikis. dengan sekelebat Marco melemparkan tombak yang dipegang erat Matthew. wajahnya kali ini benar-benar ketakutan “Ayooo kelinci kecil, mau bagian mana dulu yang aku potong” ledek Marco, aku hanya tersenyum. mereka masih belum seberapa dari yang kami hadapi sebelumnya.
Tepuk tangan meriah terdengar menggema diseisi ruangan, visual bangunan kembali menghilang dan menjadi seperti sebelumnya. kami berdiri tegap melihat ke sekeliling, bagai seorang juara yang di kelilingi oleh pendukungnya.
.....
“Sepertinya rencana kita akan berhasil, Shadow” Uncle Max berbisik entah kepada siapa
“Apapun rencana kalian, kepala mereka berdua akan menjadi bagianku”
“Kembalilah ke Skyland, dan serahkan urusan disini kepadaku” Uncle Max tersenyum