___+++ The Art Of Happiness // Seni Berbahagia +++___
TS
ali.arroughi
___+++ The Art Of Happiness // Seni Berbahagia +++___
Halo gan and sis
Sebelumnya kenalin, ane Argi, gan sis
Jadi ane dari dulu pengen banget nulis buku novel, tapi bertahun tahun nulis, gak pernah berhasil untuk namatin ceritanya. Di tengah tengah selalu dihapus dan mulai lagi cerita baru. Gitu aja sampai kiamat.
Nah beberapa hari yang lalu, ane kepikiran untuk nulis buku motivasi. Bukan motivasi sih sebenernya, jadi kebetulan masa kecil ane susah, ane pernah berada di posisi posisi yang menyedihkan banget, tapi entah gimana caranya, ane selalu berhasil ngelewatin itu semua.
Jadi tujuan dari ditulisnya buku ini, ane pengen kasih tau : hidup itu emang susah, tapi buktinya ane tetep sehat sampe sekarang. Jadi sesusah apapun posisimu, ya jalanin aja.
Nah, disini ane mau coba sharing draft buku ane ke ente semua. Buku ini terdiri dari beberapa chapter pendek, dan ane akan share satu persatu dulu, untuk minta pendapat ente semua. Apakah buku ini layak diajukan ke penerbit atau tidak.
Ok, kita langsung mulai aja ya. Let's live our life and be happy together
Waktu saya duduk di kelas 3 SD, sekitar tahun 1997, saat itu sedang demam Sepeda BMX. Hampir seluruh teman teman sepantar saya memilikinya. Kami biasa bermain sepeda, menyusuri komplek perumahan, sepulang sekolah pukul 12 siang sampai menjelang magribh.
Tentu saja sebagai anak anak yang senang bermain, saya juga tak pernah absen untuk ikut bersepeda dengan kawan sebaya saya. Hanya saja, saya satu satunya anak yang tidak menggunakan Sepeda BMX. Disaat semuanya sudah mengenakan Sepeda berukuran 20 Inch, saya masih mengenakan sepeda balita berukuran 16 Inch.
Dari kecil, saya sering diajari untuk tidak selalu menginginkan hal yang orang lain miliki. Kalaupun saya benar benar menginginkannya, saya harus menabung untuk mendapatkannya. Uang saku yang saya dapatkan saat SD hanya 300 perak, sementara harga sepeda BMX saat itu berkisar antara 75 Ribu sampai 150 Ribu. Namun dengan keinginan agar dapat memiliki sepeda yang sama dengan teman teman, akhirnya saya menyisihkan uang jajan saya, rela tidak membeli apapun di kantin saat istirahat sekolah, agar sepeda impian bisa didapat.
Hari demi hari, bulan demi bulan, saya menabung untuk mendapatkan sepeda idaman. Sampai akhirnya terkumpul uang 25 ribu, yang itupun dibantu oleh pemberian beberapa saudara saat mampir ke rumah, karena tidak sabar ingin mendapatkan sepeda BMX impian, sayapun nekat membeli sepeda bekas. Betul, sepeda bekas.
Karena keinginan saya yang besar untuk memiliki sepeda BMX, saya saat itu sering nongkrong di suatu toko sepeda langganan. Pemiliknya adalah seorang bapak bapak paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah beruban. Saya mengenal bapak ini, dan saya yakin dia juga mengenal saya (walaupun tidak mengenal nama) karena saya sering menambal ban sepeda mungil saya di bengkel dia.
Suatu hari, dia menunjukan sebuah Sepeda BMX bekas kepada saya. Sepeda itu secara fungsional masih baik, hanya perlu pergantian spare part di beberapa titik seperti karet rem dan rantai. Karena iming iming harga yang murah, sayapun tanpa pikir panjang membeli sepeda itu, tanpa persetujuan orang tua saya. Sepeda itu saya langsung pamerkan ke teman teman, dan mereka pun memberi ucapan selamat atas keberhasilan saya membeli sepeda hasil menabung sendiri. Saya menjadi pusat perhatian selama sehari.
Spoiler for Chapter 1.2:
Dua tiga hari berlalu, dan saya masih jatuh cinta dengan sepeda saya. Namun masalah muncul, ban sepeda itu bocor. Saya bawa ke bengkel, ternyata baik ban dalam maupun ban luar sepeda itu sudah tipis dan memiliki banyak tambalan. Saya disarankan untuk membeli ban baru depan belakang sekaligus seharga 15 Ribu. Hampir senilai harga saya membeli sepeda itu. Rasanya ingin mati saja saat itu, karena saya tidak memiliki uang lagi.
Walaupun seluruh tubuh saya lemas, saya tidak berhenti berpikir. Saya bertanya kepada si pemilik bengkel, apakah ada ban bekas yang masih baik yang bisa saya beli? Ya, lagi dan lagi, saya kembali menanyakan barang bekas. Karena hanya itu yang kemungkinan mampu saya bayar. Dan beruntung ada, ban bekas depan belakang dengan karet yang masih tebal, yang bisa ditebus seharga 8 Ribu saja.
Saya kembali ke rumah dengan berjalan kaki, meminjam uang 8 ribu pada Ibu saya, dan berjanji akan mengembalikannya lewat mencicil dari uang jajan harian. Saya tidak mengatakan uang itu untuk apa. Yang jelas setelah uang pinjaman didapat, saya kembali ke bengkel untuk melakukan penggantian ban, dan akhirnya sepeda itu bisa kembali saya kendarai dengan lancar.
Keesokan harinya, saat saya kembali hendak berkeliling komplek, ban itu bocor lagi! Ya, ban (bekas) yang baru saya beli bocor kembali. Sayapun kembali membawa sepeda itu ke bengkel. Beruntung bocornya tidak separah ban yang sebelumnya. Namun saya tetap harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar biaya tambal ban. Padahal hutang saya ke Ibu belum saya cicil sekalipun. Hari itu menjadi hari yang kelam, dan saya mulai kehilangan selera untuk mengendari sepeda itu kembali.
Seiring hilangnya selera bersepeda, esoknya, untuk kali kedua dalam dua hari berturut turut, ban tersebut bocor lagi! Layaknya sepeda yang dikutuk, uang saya habis untuk membayar perbaikan sepeda ini. Kesabaran saya pun habis, hingga akhirnya saya hanya bisa menangis, menceritakan semua kesulitan saya kepada Ibu. Berharap Ibu dan Bapak dapat menolong, karena sebagai anak usia 9 tahun, masalah sepeda ini sudah diluar batas kemampuan saya.
Spoiler for Chapter 1.3:
Setelah menceritakan semuanya ke Ibu, saya merasa dada saya lebih plong. Walaupun saya tahu, kemungkinan besar saya akan dimarahi, karena membeli barang yang tidak jelas, tanpa persetujuan mereka. Biasanya bapak akan memanggil saya sepulang beliau kerja sehabis magribh, untuk menegur dan menasehati saya.
Hal yang sudah saya perkirakan terjadi juga, bapak memanggil saya ke meja makan. Raut wajahnya dingin, nampaknya bapak tidak suka sepulang kerja yang harusnya istirahat malah mendapat berita buruk. Saya takut melihat wajah beliau, tetapi saya juga ingin masalah sepeda ini cepat selesai. Saya berharap bapak mau memberikan beberapa puluh ribu saja untuk memperbaiki sepeda tersebut sampai tuntas.
“Jadi, kamu membeli sepeda rusak, Ali?”. Tanya beliau.
“Y,, ya pak. Karena hanya sepeda itu yang saya mampu beli dengan uang tabungan”.
“Kamu itu harusnya tahu, barang bekas itu rentan rusak. Biaya servis sepeda bekas kamu itu bisa sama dengan beli sepeda baru”.
“Ma, maafkan saya pak. Saya tidak tahu akan seperti ini”.
“Ya sudah. Sepeda kamu itu besok kasih saja ke rongsokan. Daripada hanya buang buang uang. Bapak belikan kamu sepeda baru akhir minggu”.
Saya membisu tidak percaya dengan ucapan bapak saya saat itu. Dada saya seperti mau meledak saat beliau mengatakan akan membelikan saya sepeda baru.
“Be,, benar bapak mau membelikan sepeda baru?”. Tanya saya ingin meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
“Ya, asal kamu jangan keterusan main dengan sepeda itu. Belajar harus tetap ingat, agar nilai rapormu bagus”. Ujar beliau.
Ada perasaan bahagia yang membuncah dari tubuh saya. Tanpa terasa, pelupuk mata saya seperti ingin mengeluarkan air mata. Saya dapat merasakan seluruh wajah saya memerah saking bahagianya.
“S,,, siap pak! Saya berjanji akan tetap belajar yang giat”. Ujar saya memastikan.
Spoiler for Chapter 1.4:
Bapak menepati janjinya di akhir minggu. Kami mendatangi salah satu pusat penjualan sepeda, dan bapak mengijinkan saya memilih sepeda apapun yang saya suka. Saya menjatuhkan pilihan ke satu Sepeda BMX bermerk Wimcycle Hot Rod. Sepeda itu memiliki bentuk badan yang gemuk pipih. Sepeda tercantik yang mata saya pernah lihat dan saya dapat pastikan belum pernah ada yang memiliki sepeda itu di komplek perumahan kami.
Saya membawa pulang sepeda itu dengan perasaan bahagia yang tidak dapat digambarkan. Rasanya sepeda itu sangat enteng sehingga saya seolah olah dapat terbang. Perbandingannya seperti langit dan bumi dengan sepeda bekas yang saya beli sebelumnya. Semua penderitaan bolak balik bengkel, sampai harus hutang untuk membeli ban bekas dan membayar servisnya, seolah hilang tidak berbekas.
Hari itu saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Jika saya tidak pernah bersusah payah menabung dan membeli sepeda yang salah, dan jika Bapak adalah tipikal orang tua yang langsung memberikan apa saja yang anaknya minta, mungkin perasaan saat mendapat sepeda baru ini tidak akan begitu spesial. Karena didapatkan dengan mudah. Saya melewati berbagai hal tidak menyenangkan dengan sepeda sebelumnya, sehingga rasa bahagia yang didapat menjadi dua kali lipat.
If It's easy to get, you'll soon forget it. If It's hard to get, you'll remember it for a lifetime.