- Beranda
- Stories from the Heart
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
...
TS
wignyaharsono
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
Halo Agan-agan Semua

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH
Quote:
Original Posted By wignyaharsono►
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
Diubah oleh wignyaharsono 08-11-2015 02:11
cumibakar217 dan 18 lainnya memberi reputasi
15
63.3K
Kutip
448
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wignyaharsono
#261
BAB 25 bagian pertama
Spoiler for BAB 25 bagian pertama:
Malam sudah mulai beranjak saat Juna dan rombongan tiba di Yogyakarta, sehari setelah ia pergi ke rumah penjaga batu mata yang telah meninggal. Ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Batu itu harus ketemu suatu saat nanti. Tetapi jika ia terlalu fokus mencarinya, mungkin makhluk-makhluk itu akan segera bertindak. Bayangan kehancuran Mata Rantai yang sudah menghantuinya akhir-akhir ini semakin memperkuat niatnya untuk segera menyelesaikan kasus ini. Jauh di lubuk hatinya, ia sedikit yakin bahwa Alexa Crain pasti sedang merencanakan sesuatu. Dan itu, bisa saja berkaitan dengan kehancuran Mata Rantai. Atau justu, kehancuran dirinya.
Kamar hotel di kawasan Tugu menjadi tempat pertemuan Juna, Ariana, Dodo, Dede, Ben Lenwa, Gordon, dan Janero. Mereka berembuk untuk mengatur strategi. Ben Lenwa menjadi kuncinya. Kemarin, dia telah menelepon Lenwa dan mengutarakan maksudnya. Ia harus melakukan komunikasi dengan makhluk-makhluk itu, tentu saja di tempat asal mereka: Galeri Mahakarya. Seperti yang telah Lenwa utarakan, arsitek itu bukan lagi untuk dimintai tolong. Tetapi ia sudah terlibat. Dan dengan senang hati dia membantu Juna untuk menyelusup ke Galeri Mahakarya.
“Dengar,” ucap Lenwa lirih. “keamanaan Galeri Mahakarya itu tak kasat mata. Aku telah merancang kunci ganda, alarm, dan pengaman tanpa tanding untuk galeri itu.”
“Aku punya teknologi yang bisa kita gunakan untuk membantu membuka kunci,” ucap Dede.
“Jangan sok pintar, kita dengarkan dulu apa arahan Lenwa,” Dodo menoyor kepala Dede.
Ben Lenwa memandang ke semua orang. Juna mengangguk, sebagai sebuah tanda bahwa ia akan mendengarkan penjelasan Lenwa.
“Galeri Mahakarya dikelilingi oleh pagar setinggi 3 meter dengan aliran listrik. Siapa pun yang melewatinya akan tersetrum tegangan listrik tinggi. Satu-satunya pintu untuk masuk adalah gerbang utama yang dijaga ketat oleh aparat. Semua mobil akan diperiksa,”
“Ya, aku tahu itu. Pemeriksaan ala petugas hotel untuk memastikan tidak ada bom yang di bawa. Mereka juga akan mendeteksi wajah ala teroris. Tentu saja, kita tidak akan mudah melewatinya. Lagian, mereka pasti akan curiga jika ada pengunjung malam-malam seperti ini. Galeri itu hanya buka sampai sore,” ucap Ariana.
“Ariana benar. Makanya satu-satunya cara untuk lewat hanyalah dengan melompati pagar 3 meter itu,” ucap Lenwa.
“Melompat katamu?” tanya Janero terpekik.
“Ya, itu satu-satunya cara. Tetapi tentu saja, Dodo dan Dede harus menyelusup ke sana untuk mematikan tegangan listrik terlebih dahulu. Kalian berdua harus pura-pura jadi pengunjung besok,” kata Lenwa. Dia mengeluarkan sebuah kertas A3, peta Galeri Mahakarya. “Panel listrik ada di lantai 1. Letaknya di belakang, ruang mesin. Kalian harus menemukan itu, lalu cari cara untuk mematikan aliran listrik di pagar. Malam harinya, kita semua harus melompat ke sana dari pagar belakang. Setelah berhasil masuk, nanti giliranku yang akan menunjukkan jalan untuk pergi ke ruangan Lenwa. Ada satu pintu darurat di belakang yang bisa gunakan untuk masuk ke dalam galeri. Tentu saja, pintu itu terkunci dari dalam dengan sandi khusus yang hanya bisa dibuka dari dalam.”
“Tenang saja, aku punya alat untuk membukanya. Itu mudah bagiku,” ujar Dede menyombongkan diri.
Lenwa tersenyum kecil. “Kamu harus memastikan bahwa alarm tidak akan berbunyi saat membukanya, Dede.” Lenwa mengingatkan Dede yang dibalas dengan anggukan. “Untuk menuju ruang bawah tanah, kita harus naik ke lantai tiga. Lantai 3 adalah ruangan benda lukisan seni. Semua adalah lukisan pelukis terkenal, kecuali satu sebuah lukisan kereta api kuno yang dilukis oleh seniman Bali. Crain sangat menyukai lukisan itu, maka Crain meletakkan pintu lift di belakang lukisan itu. Masalahnya, alarm akan berbunyi setiap ada orang yang akan menggeser lukisan itu. Kita harus memasukkan sensor retina mata untuk menggesernya.”
“Bukan sesuatu yang sulit. Saya akan pastikan itu.”
“Dia mencontoh litt-lit yang tersembunyi di Mata Rantai tentu saja,” kata Juna.
“Mungkin. Yang jelas litt itu adalah satu-satunya jalan untuk menuju ruangannya di bawah tanah.”
Juna berdiri dari duduknya. “Baiklah, kita harus segera bertindak. Besok pagi Dodo dan Dede pergi ke sana, cari panel listrik. Malamnya kita harus segera bertindak. Aku tak ingin berlama-lama.”
Wajah Lenwa tiba-tiba berubah. “Tunggu dulu. Ada satu masalah yang belum aku ceritakan. Penjaga galeri itu setiap 3 jam sekali akan melakukan patroli di setiap sudut Galeri Mahakarya. Jam 9 pagi, 12 siang, 3 sore, 6 sore, 9 malam, 12 malam, 3 pagi, dan tentu saja 6 pagi. Kita hanya punya waktu di sela-sela antara waktu mereka patroli. Jadi waktu kita hanya 3 jam. Kecuali....”
Semua mata tertuju pada Lenwa. Juna buka suara. “Kecuali apa?”
“Kecuali ada yang mengecoh mereka di pintu masuk,” jawab Lenwa. “Petugas itu di sana berjumlah 10 orang. 5 pos berada di depan, 5 pos ada di depan pintu utama. Jika ada sedikit kerusuhan di gerbang depan, tentu saja mereka akan sedikit terkecoh sebentar dan melupakan patroli itu. Pertanyaannya siapa yang akan menjadi umpan?”
“Aku,” suara ringan itu tiba-tiba terdengar. Semua orang menoleh ke arah Ariana.
Juna menggeleng. “Tidak, aku tidak akan membiarkan itu Ariana.”
“Kenapa? Apa bedanya dengan aku ikut melompati pagar. Seperti Lenwa, aku sudah ikut terlibat. Jadi biarkan aku berperan di sini. Aku bukan tipe orang yang ingin berdiam diri tanpa peran. Itu menyakitkan. Dan tentu saja, kalian tentu tak ingin melihatku melompati pagar. Jadi....”
“Dia benar,” ucap Gordon. “Dia wanita, penjaga itu pasti akan sedikit terlena. Wajah Ariana tidak kalah cantik dengan Yoona SNSD, pasti mereka akan suka.”
Semua mata menatap Gordon.
Gordon mendesah. “Aku hanya memberi saran.”
Ariana buka suara lagi. “Tetapi aku memerlukan pelindung. Dan karena Gordon adalah orang yang paling paham tentang SNSD, aku ingin dia jadi pelindungku. Lagian, aku yakin badan besarnya akan kesusahan jika melompati pagar.” Ariana terkekeh. Gordon jelas cemberut.
“Janero, temani mereka,” ucap Juna.
“Aku?” tanya Janero, terkejut.
“Iya kamu. Ada masalah?” tanya Juna. Janero menggeleng.
“Baiklah, rencana sudah kita laksanakan. Kita tinggal menunggu besok untuk melakukan rencana ini.”
Malam seolah berjalan sangat lambat. Juna tidak bisa langsung tertidur di kamar hotelnya. Dia beberapa kali harus terjaga. Karena seperti biasa, tidurnya kini semakin tidak berkualitas. Seolah ada ratusan makhluk sedang menunggunya di alam mimpi. Belum lagi mimpi buruknya tentang kehancuran Mata Rantai. Juna pun memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya sampai pagi.
Pagi hari, Juna langsung menemui yang lain. Dia meminta Ariana memastikan sekali lagi bahwa Alexa Crain tidak akan datang ke Galeri Mahakarya malam ini.”
“Tidak, dia sedang ada meeting review bersama tim perhotelan. Saya memastikan dia tidak datang ke Galeri Mahakarya. Nanti malam, dia ada agenda makan malam dengan kolega di daerah Kota Gede.”
Bagus, pikir Juna. Dia bisa dengan mudah melakukan wawancara dengan makhluk-makhluk itu. Dia sungguh sangat ingin tahu, mengapa mereka ada di Mahakarya. Mengapa mereka terus mengganggu tidurnya. Dan tentu saja, apakah ini semua berhubungan dengan kehancuran Mata Rantai.
Galeri Mahakarya buka pukul sembilan pagi. Dodo dan Dede datang pukul sebelas. Tidak ada yang mencurigai mereka. Mereka menyamar menjadi pengunjung biasa. Untung saja hari itu ada kunjungan dari siswa-siswa SD yang melakukan darmawisata. Suasana Galeri menjadi cukup ramai sehingga Dodo dan Dede bisa leluasa mencari panel listrik yang mereka butuhkan. Tidak sampai satu jam mereka sudah menemukan apa yang mereka cari tanpa ada yang curiga. Ruang panel listrik terletak di lantai satu, di belakang. Terlindung oleh pintu besi berkode. Untung saja, Dodo memiliki alat pemecah kode hasil ciptaannya. Mereka memasuki ruangan itu. Ruangan seluas tiga meter kali tiga meter itu penuh dengan kabel-kabel listrik besar, lampu penanda yang berkedip-kedip, monitor-monitor. Dengan sigap Dodo dan Dede segera mencari panel listrik untuk pagar pembatas di monitor. Mencari kode untuk mematikannya.
“Ini saja kerjaan kita?” tanya Dodo.
“Cukup mudah. Ayo kita segera pergi, sebelum ada yang tahu.”
Rencana siang itu berjalan dengan sangat mulus. Dodo dan Dede segera kembali ke hotel dan bergabung dengan yang lain.
Tepat pukul delapan, mobil yang membawa Juna dan tim membelah Jalan Kaliurang. Beberapa meter dari Galeri Mahakarya, tim terpecah menjadi dua. Juna, Dodo, Dede, Ben Lenwa berusaha untuk melompat pagar. Sementara Ariana, Gordon, dan Janero bertugas untuk mengecoh Penjaga Galeri di pos depan.
Kamar hotel di kawasan Tugu menjadi tempat pertemuan Juna, Ariana, Dodo, Dede, Ben Lenwa, Gordon, dan Janero. Mereka berembuk untuk mengatur strategi. Ben Lenwa menjadi kuncinya. Kemarin, dia telah menelepon Lenwa dan mengutarakan maksudnya. Ia harus melakukan komunikasi dengan makhluk-makhluk itu, tentu saja di tempat asal mereka: Galeri Mahakarya. Seperti yang telah Lenwa utarakan, arsitek itu bukan lagi untuk dimintai tolong. Tetapi ia sudah terlibat. Dan dengan senang hati dia membantu Juna untuk menyelusup ke Galeri Mahakarya.
“Dengar,” ucap Lenwa lirih. “keamanaan Galeri Mahakarya itu tak kasat mata. Aku telah merancang kunci ganda, alarm, dan pengaman tanpa tanding untuk galeri itu.”
“Aku punya teknologi yang bisa kita gunakan untuk membantu membuka kunci,” ucap Dede.
“Jangan sok pintar, kita dengarkan dulu apa arahan Lenwa,” Dodo menoyor kepala Dede.
Ben Lenwa memandang ke semua orang. Juna mengangguk, sebagai sebuah tanda bahwa ia akan mendengarkan penjelasan Lenwa.
“Galeri Mahakarya dikelilingi oleh pagar setinggi 3 meter dengan aliran listrik. Siapa pun yang melewatinya akan tersetrum tegangan listrik tinggi. Satu-satunya pintu untuk masuk adalah gerbang utama yang dijaga ketat oleh aparat. Semua mobil akan diperiksa,”
“Ya, aku tahu itu. Pemeriksaan ala petugas hotel untuk memastikan tidak ada bom yang di bawa. Mereka juga akan mendeteksi wajah ala teroris. Tentu saja, kita tidak akan mudah melewatinya. Lagian, mereka pasti akan curiga jika ada pengunjung malam-malam seperti ini. Galeri itu hanya buka sampai sore,” ucap Ariana.
“Ariana benar. Makanya satu-satunya cara untuk lewat hanyalah dengan melompati pagar 3 meter itu,” ucap Lenwa.
“Melompat katamu?” tanya Janero terpekik.
“Ya, itu satu-satunya cara. Tetapi tentu saja, Dodo dan Dede harus menyelusup ke sana untuk mematikan tegangan listrik terlebih dahulu. Kalian berdua harus pura-pura jadi pengunjung besok,” kata Lenwa. Dia mengeluarkan sebuah kertas A3, peta Galeri Mahakarya. “Panel listrik ada di lantai 1. Letaknya di belakang, ruang mesin. Kalian harus menemukan itu, lalu cari cara untuk mematikan aliran listrik di pagar. Malam harinya, kita semua harus melompat ke sana dari pagar belakang. Setelah berhasil masuk, nanti giliranku yang akan menunjukkan jalan untuk pergi ke ruangan Lenwa. Ada satu pintu darurat di belakang yang bisa gunakan untuk masuk ke dalam galeri. Tentu saja, pintu itu terkunci dari dalam dengan sandi khusus yang hanya bisa dibuka dari dalam.”
“Tenang saja, aku punya alat untuk membukanya. Itu mudah bagiku,” ujar Dede menyombongkan diri.
Lenwa tersenyum kecil. “Kamu harus memastikan bahwa alarm tidak akan berbunyi saat membukanya, Dede.” Lenwa mengingatkan Dede yang dibalas dengan anggukan. “Untuk menuju ruang bawah tanah, kita harus naik ke lantai tiga. Lantai 3 adalah ruangan benda lukisan seni. Semua adalah lukisan pelukis terkenal, kecuali satu sebuah lukisan kereta api kuno yang dilukis oleh seniman Bali. Crain sangat menyukai lukisan itu, maka Crain meletakkan pintu lift di belakang lukisan itu. Masalahnya, alarm akan berbunyi setiap ada orang yang akan menggeser lukisan itu. Kita harus memasukkan sensor retina mata untuk menggesernya.”
“Bukan sesuatu yang sulit. Saya akan pastikan itu.”
“Dia mencontoh litt-lit yang tersembunyi di Mata Rantai tentu saja,” kata Juna.
“Mungkin. Yang jelas litt itu adalah satu-satunya jalan untuk menuju ruangannya di bawah tanah.”
Juna berdiri dari duduknya. “Baiklah, kita harus segera bertindak. Besok pagi Dodo dan Dede pergi ke sana, cari panel listrik. Malamnya kita harus segera bertindak. Aku tak ingin berlama-lama.”
Wajah Lenwa tiba-tiba berubah. “Tunggu dulu. Ada satu masalah yang belum aku ceritakan. Penjaga galeri itu setiap 3 jam sekali akan melakukan patroli di setiap sudut Galeri Mahakarya. Jam 9 pagi, 12 siang, 3 sore, 6 sore, 9 malam, 12 malam, 3 pagi, dan tentu saja 6 pagi. Kita hanya punya waktu di sela-sela antara waktu mereka patroli. Jadi waktu kita hanya 3 jam. Kecuali....”
Semua mata tertuju pada Lenwa. Juna buka suara. “Kecuali apa?”
“Kecuali ada yang mengecoh mereka di pintu masuk,” jawab Lenwa. “Petugas itu di sana berjumlah 10 orang. 5 pos berada di depan, 5 pos ada di depan pintu utama. Jika ada sedikit kerusuhan di gerbang depan, tentu saja mereka akan sedikit terkecoh sebentar dan melupakan patroli itu. Pertanyaannya siapa yang akan menjadi umpan?”
“Aku,” suara ringan itu tiba-tiba terdengar. Semua orang menoleh ke arah Ariana.
Juna menggeleng. “Tidak, aku tidak akan membiarkan itu Ariana.”
“Kenapa? Apa bedanya dengan aku ikut melompati pagar. Seperti Lenwa, aku sudah ikut terlibat. Jadi biarkan aku berperan di sini. Aku bukan tipe orang yang ingin berdiam diri tanpa peran. Itu menyakitkan. Dan tentu saja, kalian tentu tak ingin melihatku melompati pagar. Jadi....”
“Dia benar,” ucap Gordon. “Dia wanita, penjaga itu pasti akan sedikit terlena. Wajah Ariana tidak kalah cantik dengan Yoona SNSD, pasti mereka akan suka.”
Semua mata menatap Gordon.
Gordon mendesah. “Aku hanya memberi saran.”
Ariana buka suara lagi. “Tetapi aku memerlukan pelindung. Dan karena Gordon adalah orang yang paling paham tentang SNSD, aku ingin dia jadi pelindungku. Lagian, aku yakin badan besarnya akan kesusahan jika melompati pagar.” Ariana terkekeh. Gordon jelas cemberut.
“Janero, temani mereka,” ucap Juna.
“Aku?” tanya Janero, terkejut.
“Iya kamu. Ada masalah?” tanya Juna. Janero menggeleng.
“Baiklah, rencana sudah kita laksanakan. Kita tinggal menunggu besok untuk melakukan rencana ini.”
# # #
Malam seolah berjalan sangat lambat. Juna tidak bisa langsung tertidur di kamar hotelnya. Dia beberapa kali harus terjaga. Karena seperti biasa, tidurnya kini semakin tidak berkualitas. Seolah ada ratusan makhluk sedang menunggunya di alam mimpi. Belum lagi mimpi buruknya tentang kehancuran Mata Rantai. Juna pun memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya sampai pagi.
Pagi hari, Juna langsung menemui yang lain. Dia meminta Ariana memastikan sekali lagi bahwa Alexa Crain tidak akan datang ke Galeri Mahakarya malam ini.”
“Tidak, dia sedang ada meeting review bersama tim perhotelan. Saya memastikan dia tidak datang ke Galeri Mahakarya. Nanti malam, dia ada agenda makan malam dengan kolega di daerah Kota Gede.”
Bagus, pikir Juna. Dia bisa dengan mudah melakukan wawancara dengan makhluk-makhluk itu. Dia sungguh sangat ingin tahu, mengapa mereka ada di Mahakarya. Mengapa mereka terus mengganggu tidurnya. Dan tentu saja, apakah ini semua berhubungan dengan kehancuran Mata Rantai.
Galeri Mahakarya buka pukul sembilan pagi. Dodo dan Dede datang pukul sebelas. Tidak ada yang mencurigai mereka. Mereka menyamar menjadi pengunjung biasa. Untung saja hari itu ada kunjungan dari siswa-siswa SD yang melakukan darmawisata. Suasana Galeri menjadi cukup ramai sehingga Dodo dan Dede bisa leluasa mencari panel listrik yang mereka butuhkan. Tidak sampai satu jam mereka sudah menemukan apa yang mereka cari tanpa ada yang curiga. Ruang panel listrik terletak di lantai satu, di belakang. Terlindung oleh pintu besi berkode. Untung saja, Dodo memiliki alat pemecah kode hasil ciptaannya. Mereka memasuki ruangan itu. Ruangan seluas tiga meter kali tiga meter itu penuh dengan kabel-kabel listrik besar, lampu penanda yang berkedip-kedip, monitor-monitor. Dengan sigap Dodo dan Dede segera mencari panel listrik untuk pagar pembatas di monitor. Mencari kode untuk mematikannya.
“Ini saja kerjaan kita?” tanya Dodo.
“Cukup mudah. Ayo kita segera pergi, sebelum ada yang tahu.”
Rencana siang itu berjalan dengan sangat mulus. Dodo dan Dede segera kembali ke hotel dan bergabung dengan yang lain.
Tepat pukul delapan, mobil yang membawa Juna dan tim membelah Jalan Kaliurang. Beberapa meter dari Galeri Mahakarya, tim terpecah menjadi dua. Juna, Dodo, Dede, Ben Lenwa berusaha untuk melompat pagar. Sementara Ariana, Gordon, dan Janero bertugas untuk mengecoh Penjaga Galeri di pos depan.
0
Kutip
Balas