- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
544
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#165
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Sebuah rumah bergaya Belanda berdiri megah di tengah hutan. Rumah yang jauh dari pemukiman penduduk ini memiliki tiga lantai. Debu dan sarang laba-laba mengotori temboknya yang bercat putih. Pagar-pagarnya yang tinggi dan bercat hitam dililit oleh tumbuhan menjalar. Gerbangnya dililit rantai besi tebal dan panjang menambah kesan bahwa rumah itu terlarang untuk dijamah. Ada beberapa bagian kaca yang sudah pecah pula.
Rumah itu dibangun di atas tanah yang luas. Di halaman belakangnya ada ayunan yang besi-besinya sudah berkarat. Ilalang dan tumbuhan liar lainnya sudah setinggi pinggang manusia biasa. Terlihat tidak ada yang seorangpun yang merawat rumah ini. Letaknya pun jauh dari pemukiman penduduk. Di balik ilalang-ilalang dan tumbuhan liar yang begitu tinggi, tersembunyi beberapa kuburan dengan batu nisan yang cukup tinggi. Sudah tak terawat memiliki kuburan pula. Hal itu tentunya akan membuat penduduk semakin menjauhi rumah itu.
Entah kuburan siapa yang berada di halaman belakang itu. Ada yang bilang itu adalah kuburan dari pendiri rumah yang mati gantung diri. Ada lagi yang bilang bahwa kuburan itu merupakan korban pembunuhan. Entahlah, tak ada yang tahu mana yang benar. Yang jelas, tidak ada yang berani melewati rumah seram ini. Pernah ada seorang penduduk yang terpaksa lewat situ bertemu dengan seorang wanita berjubah putih dan bertaring.
Tentu saja wanita berjubah putih itu adalah vampire. Vampire wanita ini sengaja berjubah putih seperti itu untuk menakut-nakuti penduduk agar tetap menjauhi rumah ini. Rumah ini bukan tidak berhantu. Cukup banyak hantu yang tinggal di rumah ini. Hanya saja, semua hantunya sudah ditaklukkan oleh para vampire hanya dalam hitungan jam. Rumah bergaya Belanda ini sekarang merupakan tempat persembunyian para vampire dari Seven Diamond.
Elena sekarang duduk di ruang tamu rumah bergaya Belanda itu. Sekarang masih jam empat pagi dan matahari belum terbit. Tentunya masih aman bagi kulit Elena yang merupakan vampire biasa-biasa saja. Bukan vampire Transylvania yang kebal terhadap sinar matahari. Elena duduk dengan melepas tiga kancing atasnya kemejanya. Elena merasa suhunya lumayan panas pagi itu. Entah karena apa. Mungkin karena kota tempat dia berada sekarang adalah kota dataran rendah. Ditambah lagi Kalimantan masih dekat dengan garis equator. Dia duduk termenung memandang pagar yang depan yang dililit oleh tumbuhan menjalar.
Ruang tamu tempat Elena saat ini berada sangat kotor dan tak terawat. Sofa-sofanya sudah kotor dan berlubang. Mejanya yang terbuat dari kayu hanya memiliki tiga kaki. Salah satu kakinya yang masih ada pun nyaris rontok. Mungkin karena dimakan rayap. Tembok-temboknya juga kusam dan ada beberapa bagian yang berlumut. Kaca-kaca pecah yang berserakan di lantai dibiarkan begitu saja tanpa ada yang membersihkannya.
Mulut Lina menganga mendengar keputusan kakaknya. Keputusan yang didengarnya sekali selama Lina hidup. Dari dulu Lina selalu memotivasi kakaknya untuk menjadi seorang manipulator. Hanya saja Elena selalu menolak karena dengan kemampuannya memimpin dan mengatur strategi sudah membuatnya menjadi petinggi Seven Diamond. Hingga akhirnya Lina menyerah.
Dari arah dapur muncul seorang pria vampire berbadan kekar. Rambutnya cepak dan kulitnya coklat. Dilihat dari mukanya, pria ini berasal dari daerah Amerika Selatan. Dia membawa sebuah katana berwarna hitam di punggungnya. Beberapa kali dia terbatuk sebelum sempat berbicara dengan Elena.
Kakak beradik bangkit dari duduknya dan mengucap terima kasih pada Diego. Mereka berdua lalu beranjak pergi. Tiba-tiba, Diego meraih lengan Lina. Elena dan Lina menghentikan langkah mereka dan memandang Diego dengan tatapan heran.
Lina mengangguk dan segera melangkah maju menuju ruang bawah tanah. Dia memandang kakaknya dengan mengerutkan kening karena tidak paham dengan tingkah Diego. Elena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Elena dan Lina sudah sampai di ruang bawah tanah. Interior ruang bawah tanah itu benar-benar berbeda dengan ruang tamu. Ruangan ini diterangi lampu gantung yang memilki cahaya yang sangat terang. Meja makannya panjang seperti yang digunakan oleh kaum bangsawan. Beberapa kursi besar mengelilingi meja makan itu. Di dekat tangga menuju lantai satu, ada rak yang berisi berbagai macam senjata. Mulai senjata jarak dekat seperti pedang, tombak dan kapak hingga senjata jarak jauh seperti shotgun, submachine-gun, pistol dan senapan serbu. Lukisan-lukisan indah dan mahal menghiasi dinding. Ada sebuah TV 60 inch yang terletak di dinding.
Seorang vampire berjubah hitam mendekati mereka. Dia memakai tudung sehingga Elena dan Lina hanya bisa melihat taring ketika vampire itu tersenyum. Si jubah hitam itu membawa sebuah tongkat sihir seukuran tubuhnya sendiri yang terbuat dari pohon ek.
Elena langsung paham apa yang dimaksud lantai minus dua oleh si vampire berjubah. Elena memutuskan untuk tidak mengganggu Lia. Dia lalu beranjak pergi menuju kamar tempat ‘sarapan’nya berada. Tak lupa Elena mengucapkan terima kasih pada si vampire berjubah.
Di hadapan mereka sekarang ada seorang wanita yang kira-kira berumur 25 tahun. Dia memakai tanktop berwarna merah dan hot pant berwarna merah pula. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Tangisan itu percuma. Tidak peduli sekeras apa pun tangisannya, tidak akan ada penduduk yang mendengarnya karena jarak rumah belanda ini jauh dari pemukiman penduduk. Meskipun ada penduduk yang mendengarnya, mereka lebih memilih menjauhi dan tidak terlibat masalah dengan rumah terkutuk ini. Karena itulah para vampire tidak menyekap mulutnya. Rantai besar dan tebal melilit kaki dan tangan wanita itu.
Wanita itu meronta dan menjerit ketakutan ketika melihat Lina. Rantainya bergemerincing dengan keras. Dengan putus asa dia menggulingkan tubuhnya ke sudut kamar. Tangisannya semakin kencang.
Elena dan Lina menarik kakinya sehingga wanita itu berada di tengah kamar. Elena yang menyerang dari depan membenamkan taring-taringnya di leher kiri si wanita. Sementara Lina yang dengan kecepatan vampirenya menyerang dari belakang. Lina membenamkan taringnya di leher kanan wanita malang itu. Rasa haus yang menyiksa vampire bersaudari itu hilang sedikit demi sedikit. Darah segar membasahi lidah mereka. Energi mereka terisi kembali.
Rumah itu dibangun di atas tanah yang luas. Di halaman belakangnya ada ayunan yang besi-besinya sudah berkarat. Ilalang dan tumbuhan liar lainnya sudah setinggi pinggang manusia biasa. Terlihat tidak ada yang seorangpun yang merawat rumah ini. Letaknya pun jauh dari pemukiman penduduk. Di balik ilalang-ilalang dan tumbuhan liar yang begitu tinggi, tersembunyi beberapa kuburan dengan batu nisan yang cukup tinggi. Sudah tak terawat memiliki kuburan pula. Hal itu tentunya akan membuat penduduk semakin menjauhi rumah itu.
Entah kuburan siapa yang berada di halaman belakang itu. Ada yang bilang itu adalah kuburan dari pendiri rumah yang mati gantung diri. Ada lagi yang bilang bahwa kuburan itu merupakan korban pembunuhan. Entahlah, tak ada yang tahu mana yang benar. Yang jelas, tidak ada yang berani melewati rumah seram ini. Pernah ada seorang penduduk yang terpaksa lewat situ bertemu dengan seorang wanita berjubah putih dan bertaring.
Tentu saja wanita berjubah putih itu adalah vampire. Vampire wanita ini sengaja berjubah putih seperti itu untuk menakut-nakuti penduduk agar tetap menjauhi rumah ini. Rumah ini bukan tidak berhantu. Cukup banyak hantu yang tinggal di rumah ini. Hanya saja, semua hantunya sudah ditaklukkan oleh para vampire hanya dalam hitungan jam. Rumah bergaya Belanda ini sekarang merupakan tempat persembunyian para vampire dari Seven Diamond.
Elena sekarang duduk di ruang tamu rumah bergaya Belanda itu. Sekarang masih jam empat pagi dan matahari belum terbit. Tentunya masih aman bagi kulit Elena yang merupakan vampire biasa-biasa saja. Bukan vampire Transylvania yang kebal terhadap sinar matahari. Elena duduk dengan melepas tiga kancing atasnya kemejanya. Elena merasa suhunya lumayan panas pagi itu. Entah karena apa. Mungkin karena kota tempat dia berada sekarang adalah kota dataran rendah. Ditambah lagi Kalimantan masih dekat dengan garis equator. Dia duduk termenung memandang pagar yang depan yang dililit oleh tumbuhan menjalar.
Ruang tamu tempat Elena saat ini berada sangat kotor dan tak terawat. Sofa-sofanya sudah kotor dan berlubang. Mejanya yang terbuat dari kayu hanya memiliki tiga kaki. Salah satu kakinya yang masih ada pun nyaris rontok. Mungkin karena dimakan rayap. Tembok-temboknya juga kusam dan ada beberapa bagian yang berlumut. Kaca-kaca pecah yang berserakan di lantai dibiarkan begitu saja tanpa ada yang membersihkannya.
Quote:
Mulut Lina menganga mendengar keputusan kakaknya. Keputusan yang didengarnya sekali selama Lina hidup. Dari dulu Lina selalu memotivasi kakaknya untuk menjadi seorang manipulator. Hanya saja Elena selalu menolak karena dengan kemampuannya memimpin dan mengatur strategi sudah membuatnya menjadi petinggi Seven Diamond. Hingga akhirnya Lina menyerah.
Quote:
Dari arah dapur muncul seorang pria vampire berbadan kekar. Rambutnya cepak dan kulitnya coklat. Dilihat dari mukanya, pria ini berasal dari daerah Amerika Selatan. Dia membawa sebuah katana berwarna hitam di punggungnya. Beberapa kali dia terbatuk sebelum sempat berbicara dengan Elena.
Quote:
Kakak beradik bangkit dari duduknya dan mengucap terima kasih pada Diego. Mereka berdua lalu beranjak pergi. Tiba-tiba, Diego meraih lengan Lina. Elena dan Lina menghentikan langkah mereka dan memandang Diego dengan tatapan heran.
Quote:
Lina mengangguk dan segera melangkah maju menuju ruang bawah tanah. Dia memandang kakaknya dengan mengerutkan kening karena tidak paham dengan tingkah Diego. Elena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Quote:
Elena dan Lina sudah sampai di ruang bawah tanah. Interior ruang bawah tanah itu benar-benar berbeda dengan ruang tamu. Ruangan ini diterangi lampu gantung yang memilki cahaya yang sangat terang. Meja makannya panjang seperti yang digunakan oleh kaum bangsawan. Beberapa kursi besar mengelilingi meja makan itu. Di dekat tangga menuju lantai satu, ada rak yang berisi berbagai macam senjata. Mulai senjata jarak dekat seperti pedang, tombak dan kapak hingga senjata jarak jauh seperti shotgun, submachine-gun, pistol dan senapan serbu. Lukisan-lukisan indah dan mahal menghiasi dinding. Ada sebuah TV 60 inch yang terletak di dinding.
Quote:
Seorang vampire berjubah hitam mendekati mereka. Dia memakai tudung sehingga Elena dan Lina hanya bisa melihat taring ketika vampire itu tersenyum. Si jubah hitam itu membawa sebuah tongkat sihir seukuran tubuhnya sendiri yang terbuat dari pohon ek.
Quote:
Elena langsung paham apa yang dimaksud lantai minus dua oleh si vampire berjubah. Elena memutuskan untuk tidak mengganggu Lia. Dia lalu beranjak pergi menuju kamar tempat ‘sarapan’nya berada. Tak lupa Elena mengucapkan terima kasih pada si vampire berjubah.
Quote:
Di hadapan mereka sekarang ada seorang wanita yang kira-kira berumur 25 tahun. Dia memakai tanktop berwarna merah dan hot pant berwarna merah pula. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Tangisan itu percuma. Tidak peduli sekeras apa pun tangisannya, tidak akan ada penduduk yang mendengarnya karena jarak rumah belanda ini jauh dari pemukiman penduduk. Meskipun ada penduduk yang mendengarnya, mereka lebih memilih menjauhi dan tidak terlibat masalah dengan rumah terkutuk ini. Karena itulah para vampire tidak menyekap mulutnya. Rantai besar dan tebal melilit kaki dan tangan wanita itu.
Quote:
Wanita itu meronta dan menjerit ketakutan ketika melihat Lina. Rantainya bergemerincing dengan keras. Dengan putus asa dia menggulingkan tubuhnya ke sudut kamar. Tangisannya semakin kencang.
Quote:
Elena dan Lina menarik kakinya sehingga wanita itu berada di tengah kamar. Elena yang menyerang dari depan membenamkan taring-taringnya di leher kiri si wanita. Sementara Lina yang dengan kecepatan vampirenya menyerang dari belakang. Lina membenamkan taringnya di leher kanan wanita malang itu. Rasa haus yang menyiksa vampire bersaudari itu hilang sedikit demi sedikit. Darah segar membasahi lidah mereka. Energi mereka terisi kembali.
Diubah oleh Shadowroad 26-06-2016 11:21
0