- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#431
Partitur no. 77 : Trip To The Outer Space: A Tribute To Angels & Airwaves
Jujur saja, aku sangat pernasaran dengan tribute Angels & Airwaves yang diselengarakan kali ini. Dulu, mereka sempat mengadakan tribute di daerah Kemang dengan tamu spesial David Kennedy, gitaris Angels & Airwaves itu sendiri. Bagaimana rasanya membuat acara sebuah tribute yang dihadiri oleh anggota band yang sedang ditribute kan itu? Belum lagi ada sesi meet & greet sekaligus meminta tanda tangan serta foto bersama David Kennedy. Itu gila! Setidaknya, menurutku.
Lalu, guest star kali ini yang kudengar juga seorang vokalis plus gitaris yang pernah bermain secara langsung dengan David Kennedy disalah satu festival di Indonesia tahun 2012 lalu.
Sayangnya, dulu aku masih membenci Angels & Airwaves. Sekarang, siapa lagi kah tamu yang akan mereka hadirkan? Kejutan apa lagi yang akan dihadirkan?
Menurut spekulasi asal-asalanku, tahun ini sepertinya yang akan didatangkan adalah Ilan Rubin, sang drummer baru band tersebut. Mengingat, post di intagram-nya beberapa hari lalu ia sedang berada di negara tetangga.
Sekitar pukul enam sore, aku baru saja sampai di sana. Seperti biasa dan selalu, Tasya dan Bang Ichy sudah datang setengah jam dari jam yang dijanjikan.
Harrys dan Ayahku hanya ikut mengantarku sampai atas. Pernah kutawari juga untuk ikut menonton seperti waktu tribute Paramore, tapi mereka berdua tak mau. Mereka menungguku sampai aku bertemu dengan Tasya dan Bang Ichy. “Udah pada di mana, Man? Ayah mau pergi lagi, nih.”
“Katanya sih, abis dari bawah, karena kelamaan nungguin Iman.” Jelasku. “Ayah pergi duluan aja sama Harrys..”
“Yaudah, hati-hati, ya..” aku mengantarkan mereka berdua ke lift untuk turun dan menyalami tangan Ayahku.
Baru saja Ayahku dan Harrys memencet tombol untuk turun di dekat pintu lift, pintu lift itu langsung terbuka. Dan, tebak, siapa yang ada di dalamnya? Ya, Tasya dan Bang Ichy! Mereka juga langsung menyalami tangan Ayahku dan berbasa-basi sampai terdengar suara drum dari dalam yang menghilangkan kesunyian di dalam gedung.
“Dari mana aja lo, Chy?” tanyaku dengan nada bercanda.
“Yee, yang ada gw yang nanya lo. Nyampe jenggotan gw nungguin lo. Ahaha,”
“Langsung masuk aja, yuk!” ajakku.
Sebenarnya, Bang Ichy tak langsung mau kuajak untuk menemani Tasya menonton tribute to Angels & Airwaves ini. Ia sebenarnya memandang sebelah mata band ini karena ia tahu Tom DeLonge dulu berada di blink-182, sementara Bang Ichy tak begitu menyukai musik punk. Aku harus membuatnya minimal menyukai satu lagunya saja, agar ia tertarik. Benar saja, ia langsung tertarik! Ia tertarik dengan efek delay unik yang digunakan mirip dengan lagu-lagu U2.
Di dalam, terlihat tempat yang ternyata tak begitu besar itu sudah sesak oleh antusiasme para penonton. Merchendise berbau Angels & Airwaves tersebar di booth depan. Tak hanya merchendise Angels & Airwaves, di sana juga ada booth Macbeth, yang dulu dipegang oleh Tom DeLonge sendiri, lalu juga ada juga booth salah satu brand denim, tepat sebelah loket tiket.
Coba tebak, siapa yang kami temui ketika akan ke loket tiket? Orang itu tak asing lagi bagi kami bertiga. Ya, dia adalah Febby, drummer band grunge yang pernah main di tribute Muse kemarin. Tak kusangka kami akan bertemu kembali di sini. Hari ini, ia membawa seorang wanita yang katanya juga menggemari band ini.
“Eh, lo mesen tiket juga, Feb?” tanyaku sambil menuju loket tiket.
“Iya, Man. Hehe”
“Gw kira lo nggak demen AVA..”
“Lumayan suka, kok..”
“AVA itu Audioslave Vs Avenger?” sahut Bang Ichy. Kami tertawa mendengar celotehannya itu. Pasti ada-ada saja yang ia ucapkan.
“Iya, nanti perangnya pake gitar sama efek-efeknya ya, Chy!” kataku.
Kami pun akhirnya mendapatkan giliran mengantre.
“Maaf, Mas, atas nama siapa, ya?” tanya sang penjaga loket kepadaku.
“Atas nama Iman, Mas. Tiket untuk tiga orang.” Jawabku.
Penjaga loket itu langsung mencari di sebuah kertas daftar para pemesan tiket. Aku sudah takut dan memikirkan bagaimana jika Bang Ichy tak kedapatan tiket juga, karena pemesanan tiket yang mendadak.
“Oke, ini, Mas!” kata sang penjaga loket sambil menyerahkan tiga tiket untuk kami. Penjaga yang satunya lagi memberikan gelang dan sebuah cap di tangan.
Huft. Hatiku sangat lega! Kami pun juga menunggu Febby yang mengatre untuk masuk bersama, bergabung bersama para penonton dan merasakan euforianya. Rupanya, Febby juga penasaran dengan siapa tamu spesial yang akan diundang kali ini.
Kami masuk saat band tadi selesai memainkan lagu terakhirnya. Kami memilih menepi dulu, karena di depan sangat sesak. Sambil menunggu band selanjutnya bersiap-siap, sang MC pun melakukan sebuah kuis berhadiah. Rasanya aku juga ingin sekali ikut! Tapi malu.
Terlebih, aku merasa aneh sendiri. Aku, Bang Ichy, dan Febby sama-sama mengenakan kaos bertuliskan Muse di tengah-tengah banyaknya yang memakai Macbeth dan atribut-atribut Angels & Airwaves. Sebenarnya aku memakai baju itu karena memang keren, selain karena aku belum memiliki satupun atribut Angels & Airwaves.
“Kali ini, yang bisa jawab dapet celana denim!” ujar sang MC wanita itu. “Pertanyaannya mudah! Berasal dari band manakah Matt Watcher sebelum bergabung dengan AVA?”
“Thirty Seconds To Mars!” jawabku dan Tasya berbarengan. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum. Ia juga tersenyum. Meskipun kami yakin mereka yang di depan tak akan mendengar suara kami.
Memang, itu pertanyaan yang mudah. Apalagi, Thirty Seconds To Mars adalah band favorit Tasya. Ia sempat menontonnya saat mereka manggung di Jakarta saat Java Rockin’ Land tahun 2011 lalu. Sayangnya lagi, aku belum menjadi fansnya saat itu.
Satu orang yang berada di depan mengangkat tangan dan menjawab persis seperti yang kami jawab tadi. Iri rasanya melihat orang itu mendapatkan hadiah yang tak murah harganya.
Yang membuatku lebih iri sebenarnya adalah kesempatan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain: berada di atas panggung dan ditonton oleh banyak orang yang memiliki minat yang benar-benar sama! Ya, itulah yang membuatku ingin sekali bermain di tribute sebuah band, seperti waktu aku mengikuti tribute Green Day terdahulu. Rasanya, perasaan kami benar-benar tersampaikan.
Para penonton langsung menuju barisan terdepan ketika band tersebut membuka penampilannya. Sang vokalis yang juga memainkan gitar itu juga semakin membuatku iri, ia menggunakan gitar yang juga digunakan oleh Tom DeLonge. Sementara yang lain mulai berdesakan maju, kami masih berada di pinggir, sambil menikmati musik yang dimainkan.
‘We are all that we are, so terribly sorry..’
Lagu itu terdengar tak asing di kupingku.
“Eh?” kataku sambil melirik Tasya sambil menerka-nerka lagu yang mereka bawakan. Tasya menanggapinya juga dengan senang.
All That We Are.
Lagu favorit kami dibawakan.
Aku langsung menarik Tasya untuk bergabung dengan penonton lainnya. Anehnya, kami langsung mendapat tempat paling depan. Ketika sudah sampai di depan, aku berpikikir, “Kok jadi beda lagunya?”
Kudengarkan dengan seksama sekali lagi.
Ternyata, itu lagu yang berbeda. Hanya ada penggalan liriknya yang mirip dengan judulnya. The Moon Atomic. Itu judul lagunya setelah kuingat-ingat. Aku hanya cengar-cengir saja melihat Tasya. Tengsin. Meskipun gitu, ia tetap menikmatinya.
Penampilan band berikutnya juga tak kalah hebat-hebat. Lagu Everything’s Magicdan Hallucination banyak dibawakan lagi oleh band-band selanjutnya. Sayangnya, kami harus mundur ketika ada band yang membawakan lagu Angels & Airwaves tapi dimainkan dengan musik punk khas blink-182. Bukannya tak bagus, tapi seperti ‘salah kamar’, meskipun Tom DeLonge juga pernah menjadi bagian dari blink-182. Kecuali jika ini adalah tribute gabungan Angels & Airwaves dan blink-182, aku tak akan mempermasalahkannya. Tasya juga mengungkapkan hal yang sama sepertiku tadi.
“Kok malah jadi punk?” tanya Bang Ichy keheranan yang masih berdiri di tempat awal kami datang tadi. Di pinggiran.
“Mereka emang bawain lagunya diaransemen kayak blink-182, Chy.” Kataku menjelaskan sambil agak berteriak karena suara sound yang kencang mengalahkan suara kami. Bang Ichy hanya mengangguk-angguk.
Ada salah satu alasan lagi mengapa Bang Ichy ingin datang ke tempat ini. Karena ada satu band yang main di sini yang pernah ia lihat sebelumnya ketika sepanggung, dan menurut Bang Ichy, mereka bagus memainkannya. Bang Ichy menanyakan apa band itu sudah bermain atau belum.
“Kurang tau, deh. Belum, mungkin.” kataku sambil mengira-ngira, memegang daguku sambil menoleh ke atas.
Beberapa band perwakilan dari beberapa regional dari komunitas ini juga bermain. Ada lagi yang memainkan lagunya sangat bagus, tapi akhirnya ditambahkan oleh lagunya sendiri—itung-itung promo, ada juga seperti yang barusan kubilang, bagus, tapi bagian akhirnya dicampuri dengan riff gitar lagu Up All Night-nya blink-182.
Harapanku sepertinya menemui kegagalan karena terlalu berharap ada personil atau mantan personilnya Angels & Airwaves yang datang lagi seperti tribute sebelumnya. Aku melihat-lihat keadaan sekitar yang semakin ramai dan penuh—berharap menemukan keajaiban—ketika kru dari guest star sedang check sound sebelum bermain sebagai penutup, kulihat samar-samar di kananku—dekat pintu masuk tadi, ada seseorang yang baru saja datang. Rasanya keajaiban itu datang terlalu cepat.
Kulihat kembali untuk meyakinkan kembali siapa yang datang sambil jantungku berdegup tak karuan. Aura orang itu sampai ke sini dari kejauhan.
Perhatianku kembali tertuju ke panggung ketika MC sedang membagikan kaos Macbeth dan kaos Angels & Airwaves, sementara band yang kutunggu sejak tadi akan segera tampil. Band yang dimaksud Bang Ichy tadi sepertinya sudah main ketika kami belum datang tadi, alias sore hari. Mungkin sekitar pukul lima sore.
Intro-intro khas Angels & Airwaves mulai terdengar. Para personil masuk satu persatu, mengambil alat musiknya masing-masing dan bersiap untuk bermain. Penggebuk drumnya tak asing lagi, terlihat sosok Ikmal Tobing bermain di atas sana. Rasanya ada yang kurang. Tapi, apa, ya?
“Sayang, ini berasa ada yang kurang nggak, sih?” tanyaku.
“Ngg, apa, ya? Soundnya mungkin? Terlalu mendem."
“Iya juga, sih,” aku fokus mendengarkan intro yang cukup lama tersebut. “Tapi, apa, ya?” aku menatap ke atas panggung. “Ah, iya! Synthesizernya kurang kedengeran! Dari band-band sebelumnya juga kedengerannya sih, gitu.”
Tasya mengangguk menyetujuinya.
Penonton mulai ikut menyanyi pada intro lagu True Love tersebut. Menurut pendapatku, band ini akan banyak memainkan lagu-lagu dari album ke-2 Angels & Airwaves, seperti pada video tributenya dulu. Dan benar saja. Band ini benar-benar hebat. Tone gitarnya bisa hampir sama persis seperti Tom DeLonge ketika rekaman! Kami di bawa keluar angkasa bersama efek gitar delay yang mendominasi dan suara synth yang kurang terdengar itu.
Quote:
Quote:
Kualihkan lagi pandanganku sekali lagi ke dekat pintu masuk tadi. Rasanya, seperti aku mengenalnya. Lagi-lagi aku bertanya kepada diriku yang pelupa ini, ‘Itu siapa, ya?’
Seketika, ketika ia menoleh ke arah panggung, aku langsung mengenalinya.
Atom Willard.
Mantan drummer Angels & Airwaves, drummer pertama mereka, sebelum posisinya digantikan Ilan Rubin sekarang ini. Aku langsung heboh sendiri, dan sedikit berteriak, sehingga orang di sekitarku termasuk Tasya menoleh ke arah pintu itu. Aku mengambil handphone-ku, dan kutulis di twitter, “OMG! Atom Willard!” dan langsung ditanggapi oleh Putra, panitia tribute Muse yang bermain di band ‘The Pembantus’, eh maksudku ‘The Panitias’.
“Gila juga nih fanbase kalo beneran ngundang Atom Willard,” balasnya ke twitterku. Aku sudah kegirangan seperti anak kecil. Apa yang akan ia lakukan di sini? Bergantian bermain dengan Ikmal untuk memainkan beberapa lagu? Atau sekedar memberikan sambutan dan menjelaskan mengapa ia keluar dari dari Angels & Airwaves? Aku tak tahu pastinya, tapi ada dia di sini membuatku kegirangan sendiri.
“Atom Willard! Itu Atom Willard!” bisikku pada Tasya yang sedang asyik menonton.
“Beneran apa boongan, nih?” tanyanya.
“Coba kamu liat sendiri aja di pintu sana!” jelasku sambil menunjuk orang yang kumaksud.
Ia terdiam beberapa saat sambil menyipitkan matanya untuk melihat ke arah yang kutuju, dan berkata, “Mana Atom Willard-nya?” tanyanya kebingungan.
“Masa kamu nggak liat, sih? Itu, bule yang di sana itu, lho!” kataku geregetan.
“Itu mah bukan Atom Willard, sayang.” Jawabnya sambil masih menyipitkan matanya. “Orang lain itu kayaknya.” Lanjutnya.
“Eh?” aku mengucek mataku, dan berusaha untuk melihat ke arahnya lagi untuk memastikan ucapan Tasya barusan. Sepertinya Tasya yang salah lihat. “Jelas-jelas tadi kulihat dengan jelas bahwa itu Atom Willa—“
Tunggu dulu. Orang itu mendekat ke panggung, dan menampakkan wajahnya dari dekat.
Sial. Aku salah.
Ia memang sangat mirip dengan Atom Willard, tapi ia bukan dirinya. Mukanya memang bule, gayanya juga mirip, tapi itu bukan dia. Cih, sial. Mungkin kacamataku memang harus diganti, atau minimal check minus mataku lagi.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:40
0
