- Beranda
- Stories from the Heart
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
...
TS
whiteshark21
[ Science Fiction ] CODING A LIFE
![[ Science Fiction ] CODING A LIFE](https://s.kaskus.id/images/2015/03/21/6940295_20150321082520.jpg)
Quote:
Spoiler for Daftar Isi - Coding A Life:
Please Kindly Enjoy
Diubah oleh whiteshark21 25-10-2015 02:27
anasabila memberi reputasi
1
16.5K
84
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whiteshark21
#52
[ Chapter 24 ] - Time to Pay Back

"kenapa!? apa kau merasa cukup benar untuk membunuh seseorang!?" ujar Ari tambah kesal.
"Aku tidak memintamu memahamiku.. pada akhirnya kau tidak tau apa yang aku rasakan" balas Akbar.
"Sial! ...Sial!"
"...."
"tentang teknikmu.. itu adalah teknik yang berbentuk 2 tingkatan."
"...."
"aku akan langsung ke intinya..
di saat terakhir aku tau bahwa kau memilih untuk tidak menggunakannya karena khawatir teknik itu dicuri.. satu-satunya hal yang bisa disebut 'dicuri' adalah bagian terluar dari teknikmu.. dan coba tebak, Henri berhasil mencu-"
"bagaimana kau bisa melakukannya!?" tanya Ari memotong penjelasan Akbar.
"...."
"aku pernah satu kali memindahkan teknikmu ke server lain saat masih di awal pertarungan bukan? saat itu aku menyimpan strukuturnya"
"...."
"yang ku lakukan selanjutnya adalah menanamkan sebuah virus di komputermu sehingga di saat-saat terakhir aku bisa mengubah struktur teknikmu menjadi struktur teknik barumu yang telah aku
simpan sebelumnya... itulah kenapa [True Wind Crop] milikmu berubah menjadi [Flame Edge Crop]"
"kenapa aku mempercayaimu!? kenapa!"
"pertemuan ini akan singkat,aku tidak memintamu agar menganggapku sebagai teman.. kau tak perlu mempercayaiku lagi"
"siapa kau!? Siapa!? kenapa kau melakukan semua ini!?"
"berbeda jauh denganmu.. aku hanya pemuda tanpa pekerjaan tetap dan mencoba memasuki dunia hitam dari sebuah jaringan yang disebut
internet.. pada akhirnya aku hanya pembuat virus digital"
"...."
"Aku datang ke kota ini untuk bekerja sebagai karyawan,lalu kupikir menjadi penjaga perpustakaan adalah hal yang sangat berguna untuk anak yang putus sekolah sepertiku..
lalu suatu hari Henri mendatangiku,menawariku pekerjaan,memberiku tempat tinggal,menyekolahkanku,dan membiayai keperluan adikku.. aku hanya seorang kakak yang hampir putus asa sehingga harus menerima semua beban hidup yang aku pilih sendri"
"...."
"tentu kau tidak mengerti.. aku tidak memintamu untuk memahamiku"
"apa mereka sedang berkelahi di atas?" tanya Egi yang mendengar sedikit pembicaraan kedua temannya dari lantai bawah.
"kurasa kita harus memastikannya" kata Linda.
"biarkan! ada sesuatu yang ingin Akbar selesaikan sendiri saat ini.. tenanglah dan tunggu saja" tegur Guntur.
"tapi..." jawab Linda ragu.
"sudahlah,mereka sudah dewasa" balas Lisa.
"Dengarkan aku,aku sudah menyampaikan semuanya.. siapa aku dan apa tujuanku mendatangimu dan membuatmu berbuat sejauh ini"
"...."
"teknik yang kau miliki saat ini adalah teknik yang selama ini diinginkan oleh Henri.. kau tau kan kalau teknik itu berbahaya? gunakanlah dengan bijak" jelas Akbar.
"bagian utama dari teknik barumu masih aman,sedangkan bagian terluarnya sudah berhasil diduplikasi oleh Henri saat momen terakhir pertarungan tadi.. semuanya tidak akan jadi masalah kalau Henri mati,tapi kalau tidak..
kita hanya bisa menunggu waktu sampai dia sama berhasilnya menciptakan teknik yang sama denganmu,dan saat itu peperangan mungkin akan berlangsung"
"yang terakhir... pria bernama Hasan itu sangat menghargai usahamu walaupun dia tidak mengetahuinya,jika dia masih hidup mungkin dia akan berterima kasih banyak padamu..
setidaknya itulah yang tergambar di wajahnya saat terakhir kali dia masih hidup"
-- Bruaak
sebuah pukulan kencang menghantam pipi bagian kiri Akbar,nampaknya kekesalan Ari sudah mulai memuncak dan sangat ingin dilampiaskan.
"Aku bukan tipe yang pemurah.. kalau kau mengulanginya lagi,aku tak akan segan membalasnya" ujar Akbar yang bangkit dari posisinya setelah terjatuh oleh pukulan dari Ari.
"sudah cukup bicaranya.. pergilah" balas Ari pelan.
"...."
"Aku tidak mengatakan kalau Henri benar-benar sudah mati... bisa saja dia selamat dari ledakan tadi."
"...."
"kalau kau mau menemuinya,pergilah.. dan periksa sendiri keadaannya sekarang,tapi dengan satu hal..."
Ari hanya menatap serius wajah orang yang telah membuatnya benar-benar kesal hari ini.
"apapun yang terjadi padanya adalah karena perbuatanku.. kau tak perlu menyesalinya" kata Akbar dengan yakin.
"...."
***
.....
ini? apa yang sudah aku lakukan?
***
"hei,wajahmu memar.. apa yang terjadi?"
"cepat periksa ke atas, ayo cepat"
***
Hari ini.. aku yakin aku pernah merasakannya..
Hari yang sama saat aku mengaku melakukan hal yang salah..
***
"Hai mau kemana? bagaimana dengan kencannya? jadi tidak?"
"diamlah,keadaan sedang kurang baik saat ini"
***
Hari ini.. sama seperti hari itu..
apa aku akan mengakui hal yang sama lagi..
***
"Kami turut berduka atas kematian ayahmu,Andre"
"bersabarlah.. selalu ada hikmah di balik semua kejadian.. aku turut berduka"
***
Hari ini.. rasanya aku ingin terbangun dari tidurku
ini seperti mimpi buruk yang sama yang terulang kembali
***
"berita kematiannya disiarkan di beberapa stasiun TV nasional,lihat ini"
"jadi dia benar-benar meninggal.."
"kematiannya dianggap karena faktor kecelakaan semata"
***
Apa yang aku pikirkan?
Tentu saja aku akan bangun dan kembali menikmati kopi pagi ku dengan tenang
***
"uh,tentang kakakku.. aku tidak terlalu mengerti tapi aku benar-benar meminta maaf padamu atas kesalahannya"
"kami juga selaku temannya meminta maaf padamu.. kau harus kuat"
***
Ini hebat bukan? Aku yang saat ini sudah menjadi yang terkuat di bidangku
Apa aku harus senang? apa aku harus bangga dengan ini?
***
"Aku dengar Akbar memutuskan untuk pergi dari kota ini"
"jadi dia meninggalkan Angga di rumahnya sendirian?"
***
Kenapa aku ini? Kenapa?
aku tau.. aku tahu semuanya... aku tahuu...
***
....
"AKU TIDAK BERSALAH!!"
"oi,oi,oi.. bangun! sudah jam berapa ini,coba lihat" kata Ilham yang membangunkan paksa rekan serumahnya.
"ini.. mimpi?" kata Ari nampak masih mengigau.
.
.
.
"kopinya habis yah?" tanya Ari yang baru saja bangun dari tidurnya dan kemudian berbaring lagi di sofa ruang tamunya.
"kau sendiri yang menyeduhnya sekaligus dan menghabiskan satu pack untuk semalaman" balas Ilham kesal karena stok kopinya juga ikut dihabiskan oleh Ari.
"kepalaku pusing sekali.. tolong belikan beberapa saset lagi untuk persediaan siang ini" ujar Ari masih lemas tak bergairah.
"tidak bisa.. apa kau mau mati gara-gara mengkonsumsi gula dan kafein terlalu banyak? jaga kesehatanmu"
"...belakangan ini aku selalu mengigau tentang kejadian 6 bulan yang lalu.. aku benar-benar butuh tidur yang nyenyaaaakk" celoteh Ari kesal.
"kalau begitu yang kau butuhkan adalah terapi bukannya kopi" jawab Ilham masih mau meladeni temannya.
"itu sama-sama diakhiri huruf 'i' apa peduliku" balas Ari enteng.
"berhentilah berfikir yang aneh-aneh dan cobalah berfikir secara logis.."
sebuah nada pesan masuk terdengar dari sebuah smartphone yang tergeletak di atas meja tempat mereka berdua duduk.
"Handphone ku bunyi,tolong ambilkan" gumam Ari.
"itu punyaku.. punyamu ada di kamar mandi sejak semalam" jelas Ilham.
"suhu dan kelembaban di kamar mandi itu akan merusak handphone ku.. kenapa kau menaruhnya disana?"
"aku tidak tau,kau sendiri yang membawanya dan lupa mengambilnya lagi.. apa kau mabuk?"
"mana ada orang mabuk karena kopi,berfikirmu kurang logis sekali" jawab Ari yang sedang stres berat karena masalahnya.
"Linda mau datang ke sini siang nanti.. katanya dia menelfonmu semalaman tapi tidak kau angkat"
"handphone ku kan tertinggal di kamar mandi bagaimana aku mengangkatnya.."
"aku sudah tau.. pergi dan basuh mukamu sana"
.
.
.
"kapan kau datang kesini?" tanya Ari saat selesai mandi dan mendapati Angga tengah duduk di ruang tamu bersama Ilham.
"lumayan lama.. pakai bajumu dan duduklah di sini,kita bisa membahas sesuatu,aku juga bawa kopi sendiri" ujar Angga.
"iya iya.. nanti" jawab Ari pegi ke kamarnya yang berada di lantai dua dengan malas.
"tolong berhenti di sini.."
"baik non"
"tolong jangan panggil saya non,pak"
"maaf,bapak sudah terbiasa seperti itu"
"saya mau menemui teman saya sebentar,setelah cari tempat parkir mobil bapak boleh istirahat dulu sambil menunggu saya"
"baik kalau begitu.. non bisa kirim bapak pesan kalau keperluannya sudah selesai"
"iya"
sebuah mobil yang berhenti sejenak tak jauh dari depan rumah Ari pun kembali pergi setelah menurunkan seseorang dari kursi penumpang di bagian belakang.
seorang wanita nampak berjalan hingga menginjak rumput hijau yang menjadi pembatas antara halaman rumah Ari dengan terotoar kecil untuk pejalan kaki.
kondisi cuaca yang dingin dan gerimis membuat wanita tersebut membuka payung berukuran sedang yang dibawanya dari mobil tadi.
"apa aku nanti akan diajak tinggal berdua di rumah ini..? hehemm" ujar sang wanita tadi yang berbicara dan tertawa geli sendirian.
"SIAL !!!" umpat Ari dari lantai dua.
-- DUUAAAARRR..
umpatan Ari terdengar keras dari lantai satu yang diikuti pula dengan suara ledakan beserta dinding-dinding kaca yang pecah dari dalam kamar miliknya.
Ilham dan Angga pun bergegas menuju lantai dua dengan setengah panik karna bau asap kebakaran mulai tercium.
"apa yang terjadi?" tanya Ilham menuju kamar Ari diikuti Angga yang sempat mengambil alat pemadam kebakaran berukuran sedang yang terantung di sebelah tangga naik ke lantai dua.
"minggir!" ujar Angga sambil memadamkan api yang berkobar cukup besar di sekitar tempat tidur Ari.
sementara itu Ari yang menepi ke pinggir dinding-dinding kaca yang sudah pecah oleh ledakan tadi,pandangannya teralihkan menuju seseorang yang menenteng payung besarnya yang berada di sekitar halaman rumahnya.
matanya melihat wanita itu dengan serius seakan mengamatinya dengan teliti.
"Selamat pagi.." sapa si wanita dengan payungnya yang menutupi pakaiannya dari butiran-butiran air hujan yang jatuh tidak terlalu deras.
"...."
"Akhirnya aku bisa melihatmu.." kata wanita tersebut seraya terseyum menatap ke arah Ari yang berdiri di antara kedua temannya.
#Siapa melihat Siapa
0



