- Beranda
- Stories from the Heart
Claudya.
...
TS
kevinadr04
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baru
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
INDEX
setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusin
insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Hehe
PROLOG:
Spoiler for :
INDEX
Spoiler for :
Diubah oleh kevinadr04 01-10-2015 04:14
anasabila memberi reputasi
1
9.5K
61
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kevinadr04
#52
Masalah Selesai
“Fajar mana lagi nih.” aku melihat jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
Hari ini aku tidak membawa motor sendiri, karena motorku ingin dipakai oleh ayah siang nanti. aku sendiri bingung, mengapa akhir-akhir ini ayah selalu ada saja acaranya, alhasil aku jadi menumpang terus dengan Fajar, mau tidak mau.
Aku masih gelisah menunggu kedatangan fajar, fajar kalau sedang ditunggu memang ngaretnya bukan main. Tapi, saat sedang tidak ditunggu tiba-tiba dia udah nongol depan muka.
“Ahh.. lama banget luh.” Aku menepuk pundak Fajar.
“Gue nganterin ade gue sekolah dulu tadi, bokap gue kagak sempet, udah jalan duluan tadi pagi.” Fajar juga menggerutu karena ia harus mengantarkan adiknya terlebih dahulu.
“Udah, berangkat cepetan. Udah telat nih.” Tak perlu banyak omong, aku langsung naik di jok belakang motor Fajar tanpa diperintahnya.
Fajar langsung menarik gasnya dalam-dalam, sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa agar tidak terjadi kecelakan. Karena kali ini fajar naik motornya lebih mirip Babi Hutan, seradak-seruduk tidak jelas, lurus terus. Semua yang diboncengi olehnya saat lagi buru-buru seperti ini pasti takut juga, bikin jantung ingin copot.
Saat sudah sampai di dekat sekolah, aku melihat sudah ada Bu Endah. Guru BP yang paling disegani oleh anak-anak satu sekolah, selain tidak sungkan untuk memaki-maki muridnya ketika ada yang datang terlambat, dia juga sangat disiplin untuk urusan rambut.
“Yahh.. bu Endah lagi yang jaga.” Seketika mulut kita berdua berbarengan mengeluarkan kata tersebut saat melihat bu Endah yang kedapatan menjaga gerbang hari ini.
“Gimana, nih?” Fajar terlihat bingung.
“Manjat aja manjat.” Aku mencoba memberikan saran padanya.
“Manjat pala lu, mau manjat dari mana?” tanya Fajar.
“Gue tau tempatnya, nanti ikut gue aja.” aku memang tau, kalau ada sedikit celah di belakang sekolah untuk dipanjat.
“Motor gue mau taro dimana, wey!?” fajar masih terlihat bingung.
“Nitip di warung situ aja” aku menunjuk salah satu warung dekat sekolah, “Nanti gue yang bilang, tukang warungnya udah kenal sama gue, tenang aja.” aku turun dari motor dan langsung menuju warung tersebut.
Masalah motor sudah terselesaikan, sekarang tinggal berpikir bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam sekolah tapi tidak diketahui oleh guru. aku mengajak Fajar ke arah belakang sekolah. pagar belakang sekolah memang cukup tinggi, tapi ini jalan satu-satunya agar bisa masuk ke dalam sekolah. karena dinding belakang sekolah ini langsung menuju ke kantin dan jauh dari pengawasan guru.
“Sms Rhino, Jar. Suruh ke kantin, tas nanti kita lemparin aja dari sini. Biar dipegangin tasnya sama Rhino.” Aku menyuruh Fajar untuk sms Rhino, dengan maksud agar saat memanjat tidak ribet dengan tas yang menempel dipundak.
“Ohh.. oke.” Fajar langsung mengeluarkan handphonenya, bukan di sms tapi langsung di telepon oleh fajar.
“Busett.. banyak pulsa ini orang, disuruh sms malah nelpon. ckck” Ucapku dalam hati sambil melirik ke arahnya.
“Hallo.. No, ke kantin sekarang. Gue sama Kevin lagi pengen lompat nih dari belakang, lu tunggu situ nanti gue lemparin tas.” Ucap Fajar pada Rhino yang ada di seberang telepon.
“Pletakk..” aku menjitak kepala Fajar.
“Ngapa sih lu!?” tanya fajar sewot sambil mendekap teleponnya dengan tangan.
“Sstt..” aku menaruh jariku dibibir. “pelan-pelan dongo, kalo ketauan bisa gawat.”
“Gue lupa.. hehe” Fajar hanya cengegesan.
Fajar melanjutkan menelpon Rhino. “No, cepatan. Gue tunggu nih.” fajar langsung mematikan teleponnya.
“Udah gue suruh, katanya lagi jalan kesini.” Fajar memberitahuku.
“Udah tau, gue juga denger. Nelpon udah kayak lagi neriakin maling lu, berisik banget.”
“Keceplosan gue. Haha”
Nggak lama setelah fajar nutup teleponnya, dari arah dalam rhino udah teriak-teriak. Terdengar sekali sengaja kayak orang ingin menyabotase teman sendiri.
“Woyy… cepetan woy.”
“Makanya dateng dari pagi.”
“Mana tasnya? Cepetan lemparin.”
“Bener-bener ini orang, kelakuan banget.” aku dan fajar hanya geleng-geleng dengan kelakuan Rhino yang membuat orang ingin menjambaknya lalu di pentokin ke tiang listrik.
Aku mendengus pelan, “Kalo bukan temen, udah gue sambit pake batu dari sini ini orang.” aku menggulung celana sekolah lalu bersiap memanjat pagar belakang sekolah.
Sebelum orang yang bawel ini makin kenceng lagi teriak-teriaknya, aku dengan Fajar cepat-cepat memanjat pagar tersebut. satu tiang pagar sekolah aku patahkan, agar aku lebih gampang untuk masuk ke dalam sekolah dan antisipasi andai nanti datang terlambat lagi (yang ini nggak patut dicontoh!).
“Akhirnya!” aku menghela napas dengan perasaan tenang sambil mengelus dada.
“Lama banget lu!” Rhino tertawa.
“Bawel lu, asyu!! Malah rewel banget, pake teriak-teriak segala. Udah kayak bocah.” aku bersama fajar langsung menjitak kepala Rhino secara bertubi-tubi.
“Aduhh.. aduhh..” Rhino memegangi kepalanya menahan jitakan kita berdua.
“Wahh.. beraninya keroyokan, nih.” Rhino langsung berlari menuju ke kelas, sementara aku bersama fajar mengejar rhino dari belakang karena masih belum puas memberinya pelajaran.
***
“Kayaknya kita bakal kena masalah lagi nih.” Ucap rhino sambil memandang ke arah pintu gerbang kantin.
Aku bersama Fajar yang tengah asik makan langsung menghentikan makan mendengar ucapan Rhino barusan. saat ku liat ke arah gerbang kantin, ternyata ada Rian dan teman-temannya yang lagi jalan menuju ke kantin.
“Ahh.. dia lagi. Males banget gue.” Fajar melanjutkan makannya.
“Mau ngapain lagi tuh anak?” aku menyandarkan tanganku dipundak Rhino.
“Kagak tauu.” Rhino mengangkat kedua bahunya, “kita liat aja.” Sambungnya.
Setibanya di depan meja kita, mereka langsung mengelilingi kita bertiga yang lagi duduk di kantin.
“Ada apaan nih? gue lagi makan enak-enak diputerin gini, udah kayak presiden aja.” Fajar mendongakkan kepalanya melihat sekeliling sudah diputari teman Rian.
“Nggak usah sok pura-pura bego lu!” ketus Rian. “Masih inget sama kejadian waktu itu? Temen lo mecahin botol di kepala gue!?” Rian menunjuk ke arah Rhino.
“Inget, terus?” tanya Fajar dengan senyum licik.
“Kok lo nyolot!?” Rian menarik kerah baju sekolah fajar.
“Santai aja kali, gue aja ngomongnya biasa aja. Kok lo ngomongnya pake urat?” Fajar melepaskan tangan Rian yang menempel pada kerah bajunya.
“Hehh!!?? Rian! Lagi ngapain kamu? Pake ngerubung segala begitu.” Terdengar suara bu Endah dari arah belakang.
“Tumben-tumbenan ini guru BP pake ke kantin segala.” Ucapku dalam hati sambil menghela napas, merasa tenang karena bu Endah datang.
“Mau buat onar dikantin lagi kamu!?” bentak bu Endah.
“Enggak, bu.” Rian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia dengan teman-temannya meninggalkan kantin sambil menatap kami bertiga dengan tatapan “Awas lu nanti!”
Kami bertiga hanya tersenyum licik menjawab tatapan rian yang mengancam tersebut, terlihat ia begitu kesal dengan senyuman kita bertiga. Bu Endah pun ikut pergi setelah Rian dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi di kantin.
“Gimana nih, bro? mau dilanjutin nggak, urusan kita sama dia?” tanya fajar sambil mengambil air mineral yang ada di kulkas kantin.
“Liat nanti aja, kayaknya emang nggak ada kapoknya itu anak.” aku berdiri dari bangku, “kelas yok!” ajak gue.
“Yaudah, yuk!”
***
“Claudy!? Kamu ngapain disini?” tanyaku begitu kaget saat pertama kali melihat Claudya sudah ada di depan gerbang sekolah.
“Hmm.. nggak, aku mau minta maaf.” Claudya tiba-tiba langsung memelukku dan tidak lama kemudian, aku merasa pundakku sudah terasa basah pertanda bahwa Claudya menangis.
“Ehemm..” Rhino dan Fajar saling tatap dengan tatapan penuh tanya satu sama lain.
“Sssttt..” aku mengedipkan mata ke arah mereka berdua.
“Dy, kesana aja yuk. Jangan disini. Nggak enak tuh diliatin orang, nanti dikira aku abis ngapa-ngapain kamu, lagi.” Anak-anak yang baru keluar dari gerbang juga langsung menatap aneh ke arahku dan Claudya yang saat itu tengah menangis.
Aku langsung menuntun Claudya menuju warung tempat Fajar menaruh motornya tadi, sebelum ada guru yang melihat, nanti dikira aku abis macam-macam dengan anak orang. Fajar dan Rhino hanya berbisik-bisik saling bertanya-tanya kenapa Claudya tiba-tiba ada didepan gerbang dan nangis.
“Jar, No. sorry nih, lu berdua bisa agak jauhan dulu nggak? Gue pengen ngobrol dulu sama Claudya.” Fajar dan Rhino mengerti, lalu mereka berdua langsung menjauh dari kami berdua, mereka pergi duduk di motor masing-masing.
“Kamu kenapa dy? nihh.. minum dulu.” aku memberikan sebotol air putih.
“Kamu maafin aku, kan?” tanya claudya dengan tatapan memohon.
“Udah, minum dulu..” claudya meminum air putih yang aku kasih.
“Vin, kemarin nggak seperti apa yang kamu kira. Dia itu sebenernya saudara aku, aku sama dia emang suka gitu. Kalo kamu nggak percaya besok aku temuin.” Claudya mencoba menjelaskan.
“Hmm.. nggak perlu, dy. aku udah maafin kamu kok. Aku juga udah nggak mau permasalahin masalah kemarin lagi.” Sebenarnya aku hanya malas membahas kejadian kemarin.
“Kenapa?” tanyanya.
“Gapapa. aku selalu maafin kamu kok.”
“Kamu beneran udah maafin aku?” tanyanya memastikan.
“Bener kok.” Jawabku kalem.
“Makasih sayangg..” Claudya memelukku kembali.
“Dy, jangan peluk-peluk terus dong.” aku mencoba melepaskan pelukannya.
“Emang kenapa? Kamu nggak suka yaa?” Claudya menatap penuh kecewa.
“Ish! bukan gitu, ini tempat umum. Lagi juga ada temen aku, malu kan diliatin orang mulu daritadi.” aku menunjuk ke arah Fajar dan Rhino, sementara mereka berdua hanya menyengir melihat ke arahku dan Claudya.
“Hehe.” Claudya menyengir bodoh.
“Nggak usah ketawa, paul.” Aku mengacak-acak rambutnya.
“Bodo. wlee” jawab Claudya sambil menjulurkan lidahnya.
Urusanku dengan Claudya sudah selesai, walaupun sebenarnya di dalam hati masih agak sedikit kesal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, egois juga kalau aku tidak bisa memaafkan Claudya. secara, kemarin-kemarin aku sempat beberapa kali jalan dengan cewek lain dibelakang Claudya dan tidak pernah memberitahunya sampai sekarang. kalo dibilang jahat, lebih jahat aku kalau dipikir-pikir.
“Vin, lo balik nggak?” Fajar dan Rhino sudah bersiap-siap pulang.
“Hmm.. gue bingung, Jar. Lu balik duluan deh, kalo gue balik bareng lu. Claudya mau pulang sama siapa?”
“Iya juga sih. Lu yakin nih gapapa pulang sendiri?” Fajar meyakinkan.
“Gapapa, jar. Paling nanti gue naik ancot aja baliknya, sekalian nganterin Claudya pulang dulu.” aku memepersilahkan Fajar dan Rhino untuk pulang lebih dulu.
“Ohh.. yaudah kalo gitu, gue balik duluan yaa.” Fajar dan rhino pulang berbarengan.
Sebenernya bisa saja aku pinjam motor Fajar sebentar untuk mengantar Claudya. sementara Fajar aku suruh menunggu dengan Rhino dahulu, tapi berhubung aku tidak enak dengan Fajar dan Rhino yang daritadi sudah ku suruh menungguku mengobrol, lebih baik aku suruh mereka untuk pulang lebih dulu.
“Dy, pulang yuk?” ajakku pada claudya. “Naik ancot gapapa kan? Hehe. aku nggak bawa motor soalnya.”
Claudya berdiri dari tempat duduknya. “gapapa kok, aku juga udah biasa naik angkot. Lagi juga jarang-jarang kan kita naik angkutan umum, nggak pernah malah.”
“Yaudah, yuk.” Aku menggandeng tangan Claudya menuju halte.
Aku bersama Claudya masih menunggu ancot arah rumah claudya, memang ancot yang dari arah sekolahku menuju rumah Claudya bisa dibilang ancot yang angina-anginan. Kalau sedang tidak ditunggu banyak yang lewat, kalau sedang ditunggu jarang yang lewat, malah kadang tidak nongol sama sekali.
“Dy, lama banget nih ancotnya. Mau jalan aja? Kerumah kamu juga harus naik ancot dua kali kan? Kita jalan sampe tempat ngetime ancot yang kedua, gimana?” Tawarku padanya.
“Hmm.. yaudah jalan aja deh. Bisa lumutan kita nunggu satu angkot doang, belum lagi nanti nunggu ancot yang kedua. Huvt.” Claudya memanyunkan bibirnya terlihat kesal menunggu ancot yang tidak terlihat daritadi.
Aku dan Claudya memutuskan untuk jalan kaki menuju tempat ngetime ancot yang kedua, aku memotong jalan agar lebih dekat menuju ancot yang kedua kita naiki. Daripada harus berjalan lewat jalan besar, bisa-bisa gede betisnya Claudya. kan nggak lucu kalau nanti betis Claudya sampai gede cuma gara-gara aku ajak jalan kaki lewat jalan besar.
“Akhirnya sampe dirumah jugaa..” Claudya langsung menghempaskan tubuhnya di bangku teras depan rumahnya lalu meluruskan kedua kakinya.
“Gimana dy? capek? Haha” tanyaku.
“Iya nih, capek.” Claudya memegangi kedua kakinya, “tapi seru yaa, baru kali ini aku jalan kaki lumayan jauh cuma gara-gara nunggu angkot yang lama.”
“Seru pala lu benjut. pegel gini lu bilang seru,” aku menggerutu.
“Ahh.. cemen.” Claudya tertawa puas. “besok-besok lagi yuk? Jalan kaki kayak tadi.”
“Ogahh.. lu aja, gue mah mendingan disuruh naek sepeda fixie yang nggak ada remnya, daripada jalan kaki kayak tadi.”
“Haha. Payah lu ahh.” Claudya menoyor pelan kepalaku. “aku mau ke dalem dulu, mau taruh tas sama ganti baju.” Claudya kemudian langsung menggeluyur masuk ke dalam rumahnya.
“Minumnya dy sekaliannn…” teriakku dari teras rumah claudya.
“Iyaa…” jawab claudya dari arah dalam rumahnya.
Setelah menemani Claudya dirumahnya sampai ibunya pulang, aku memutuskan untuk pulang kerumah. aku pulang berjalan kaki (lagi) dari rumah claudya, karena kalau naik angkot juga percuma, nanggung dan harus naik dua kali. Setelah dipikir-pikir “Lebih baik gue jalan aja, itung-itung olah raga sore. Walaupun sebenernya ini bukan gue banget, yang notabenenya lebih suka naik sepeda ketimbang jalan kaki.”
Sepanjang jalan pulang aku hanya menendang-nendang kaleng minuman yang tadi ku temui di daerah komplek dekat rumah Claudya untuk mengilangkan bete dijalan.
“Heh.. Tuyull. Abis darimana lu?” ucap salah seorang membuyarkan fokusku yang tengah asik menendang-nendang botol, saat ku balikkan badan ternyata si Dimas yang berteriak. “Wahh.. ada si item, ini orang tau aja kalo gue lagi sengsara.” Pikirku.
“Kebetulan banget ketemu lu tem, bareng dong gue sampe rumah.” aku langsung duduk di jok motor Dimas, “tadi abis dari rumah Claudya gue, nganterin dia balik dulu.” sambungku.
“Sialan. Udah ngatain, pake minta bareng lagi.” Dimas menggerutu.
“Udah jalan cepetan, gue udah engap banget nih daritadi jalan mulu. Tapi bukannya emang lu item kan? Haha.”
“Iya juga sih. Haha” Dimas langsung menarik gas motornya, membawa kami menuju kerumah.
Hari ini aku tidak membawa motor sendiri, karena motorku ingin dipakai oleh ayah siang nanti. aku sendiri bingung, mengapa akhir-akhir ini ayah selalu ada saja acaranya, alhasil aku jadi menumpang terus dengan Fajar, mau tidak mau.
Aku masih gelisah menunggu kedatangan fajar, fajar kalau sedang ditunggu memang ngaretnya bukan main. Tapi, saat sedang tidak ditunggu tiba-tiba dia udah nongol depan muka.
“Ahh.. lama banget luh.” Aku menepuk pundak Fajar.
“Gue nganterin ade gue sekolah dulu tadi, bokap gue kagak sempet, udah jalan duluan tadi pagi.” Fajar juga menggerutu karena ia harus mengantarkan adiknya terlebih dahulu.
“Udah, berangkat cepetan. Udah telat nih.” Tak perlu banyak omong, aku langsung naik di jok belakang motor Fajar tanpa diperintahnya.
Fajar langsung menarik gasnya dalam-dalam, sepanjang jalan aku hanya bisa berdoa agar tidak terjadi kecelakan. Karena kali ini fajar naik motornya lebih mirip Babi Hutan, seradak-seruduk tidak jelas, lurus terus. Semua yang diboncengi olehnya saat lagi buru-buru seperti ini pasti takut juga, bikin jantung ingin copot.
Saat sudah sampai di dekat sekolah, aku melihat sudah ada Bu Endah. Guru BP yang paling disegani oleh anak-anak satu sekolah, selain tidak sungkan untuk memaki-maki muridnya ketika ada yang datang terlambat, dia juga sangat disiplin untuk urusan rambut.
“Yahh.. bu Endah lagi yang jaga.” Seketika mulut kita berdua berbarengan mengeluarkan kata tersebut saat melihat bu Endah yang kedapatan menjaga gerbang hari ini.
“Gimana, nih?” Fajar terlihat bingung.
“Manjat aja manjat.” Aku mencoba memberikan saran padanya.
“Manjat pala lu, mau manjat dari mana?” tanya Fajar.
“Gue tau tempatnya, nanti ikut gue aja.” aku memang tau, kalau ada sedikit celah di belakang sekolah untuk dipanjat.
“Motor gue mau taro dimana, wey!?” fajar masih terlihat bingung.
“Nitip di warung situ aja” aku menunjuk salah satu warung dekat sekolah, “Nanti gue yang bilang, tukang warungnya udah kenal sama gue, tenang aja.” aku turun dari motor dan langsung menuju warung tersebut.
Masalah motor sudah terselesaikan, sekarang tinggal berpikir bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam sekolah tapi tidak diketahui oleh guru. aku mengajak Fajar ke arah belakang sekolah. pagar belakang sekolah memang cukup tinggi, tapi ini jalan satu-satunya agar bisa masuk ke dalam sekolah. karena dinding belakang sekolah ini langsung menuju ke kantin dan jauh dari pengawasan guru.
“Sms Rhino, Jar. Suruh ke kantin, tas nanti kita lemparin aja dari sini. Biar dipegangin tasnya sama Rhino.” Aku menyuruh Fajar untuk sms Rhino, dengan maksud agar saat memanjat tidak ribet dengan tas yang menempel dipundak.
“Ohh.. oke.” Fajar langsung mengeluarkan handphonenya, bukan di sms tapi langsung di telepon oleh fajar.
“Busett.. banyak pulsa ini orang, disuruh sms malah nelpon. ckck” Ucapku dalam hati sambil melirik ke arahnya.
“Hallo.. No, ke kantin sekarang. Gue sama Kevin lagi pengen lompat nih dari belakang, lu tunggu situ nanti gue lemparin tas.” Ucap Fajar pada Rhino yang ada di seberang telepon.
“Pletakk..” aku menjitak kepala Fajar.
“Ngapa sih lu!?” tanya fajar sewot sambil mendekap teleponnya dengan tangan.
“Sstt..” aku menaruh jariku dibibir. “pelan-pelan dongo, kalo ketauan bisa gawat.”
“Gue lupa.. hehe” Fajar hanya cengegesan.
Fajar melanjutkan menelpon Rhino. “No, cepatan. Gue tunggu nih.” fajar langsung mematikan teleponnya.
“Udah gue suruh, katanya lagi jalan kesini.” Fajar memberitahuku.
“Udah tau, gue juga denger. Nelpon udah kayak lagi neriakin maling lu, berisik banget.”
“Keceplosan gue. Haha”
Nggak lama setelah fajar nutup teleponnya, dari arah dalam rhino udah teriak-teriak. Terdengar sekali sengaja kayak orang ingin menyabotase teman sendiri.
“Woyy… cepetan woy.”
“Makanya dateng dari pagi.”
“Mana tasnya? Cepetan lemparin.”
“Bener-bener ini orang, kelakuan banget.” aku dan fajar hanya geleng-geleng dengan kelakuan Rhino yang membuat orang ingin menjambaknya lalu di pentokin ke tiang listrik.
Aku mendengus pelan, “Kalo bukan temen, udah gue sambit pake batu dari sini ini orang.” aku menggulung celana sekolah lalu bersiap memanjat pagar belakang sekolah.
Sebelum orang yang bawel ini makin kenceng lagi teriak-teriaknya, aku dengan Fajar cepat-cepat memanjat pagar tersebut. satu tiang pagar sekolah aku patahkan, agar aku lebih gampang untuk masuk ke dalam sekolah dan antisipasi andai nanti datang terlambat lagi (yang ini nggak patut dicontoh!).
“Akhirnya!” aku menghela napas dengan perasaan tenang sambil mengelus dada.
“Lama banget lu!” Rhino tertawa.
“Bawel lu, asyu!! Malah rewel banget, pake teriak-teriak segala. Udah kayak bocah.” aku bersama fajar langsung menjitak kepala Rhino secara bertubi-tubi.
“Aduhh.. aduhh..” Rhino memegangi kepalanya menahan jitakan kita berdua.
“Wahh.. beraninya keroyokan, nih.” Rhino langsung berlari menuju ke kelas, sementara aku bersama fajar mengejar rhino dari belakang karena masih belum puas memberinya pelajaran.
***
“Kayaknya kita bakal kena masalah lagi nih.” Ucap rhino sambil memandang ke arah pintu gerbang kantin.
Aku bersama Fajar yang tengah asik makan langsung menghentikan makan mendengar ucapan Rhino barusan. saat ku liat ke arah gerbang kantin, ternyata ada Rian dan teman-temannya yang lagi jalan menuju ke kantin.
“Ahh.. dia lagi. Males banget gue.” Fajar melanjutkan makannya.
“Mau ngapain lagi tuh anak?” aku menyandarkan tanganku dipundak Rhino.
“Kagak tauu.” Rhino mengangkat kedua bahunya, “kita liat aja.” Sambungnya.
Setibanya di depan meja kita, mereka langsung mengelilingi kita bertiga yang lagi duduk di kantin.
“Ada apaan nih? gue lagi makan enak-enak diputerin gini, udah kayak presiden aja.” Fajar mendongakkan kepalanya melihat sekeliling sudah diputari teman Rian.
“Nggak usah sok pura-pura bego lu!” ketus Rian. “Masih inget sama kejadian waktu itu? Temen lo mecahin botol di kepala gue!?” Rian menunjuk ke arah Rhino.
“Inget, terus?” tanya Fajar dengan senyum licik.
“Kok lo nyolot!?” Rian menarik kerah baju sekolah fajar.
“Santai aja kali, gue aja ngomongnya biasa aja. Kok lo ngomongnya pake urat?” Fajar melepaskan tangan Rian yang menempel pada kerah bajunya.
“Hehh!!?? Rian! Lagi ngapain kamu? Pake ngerubung segala begitu.” Terdengar suara bu Endah dari arah belakang.
“Tumben-tumbenan ini guru BP pake ke kantin segala.” Ucapku dalam hati sambil menghela napas, merasa tenang karena bu Endah datang.
“Mau buat onar dikantin lagi kamu!?” bentak bu Endah.
“Enggak, bu.” Rian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia dengan teman-temannya meninggalkan kantin sambil menatap kami bertiga dengan tatapan “Awas lu nanti!”
Kami bertiga hanya tersenyum licik menjawab tatapan rian yang mengancam tersebut, terlihat ia begitu kesal dengan senyuman kita bertiga. Bu Endah pun ikut pergi setelah Rian dan teman-temannya sudah tidak terlihat lagi di kantin.
“Gimana nih, bro? mau dilanjutin nggak, urusan kita sama dia?” tanya fajar sambil mengambil air mineral yang ada di kulkas kantin.
“Liat nanti aja, kayaknya emang nggak ada kapoknya itu anak.” aku berdiri dari bangku, “kelas yok!” ajak gue.
“Yaudah, yuk!”
***
“Claudy!? Kamu ngapain disini?” tanyaku begitu kaget saat pertama kali melihat Claudya sudah ada di depan gerbang sekolah.
“Hmm.. nggak, aku mau minta maaf.” Claudya tiba-tiba langsung memelukku dan tidak lama kemudian, aku merasa pundakku sudah terasa basah pertanda bahwa Claudya menangis.
“Ehemm..” Rhino dan Fajar saling tatap dengan tatapan penuh tanya satu sama lain.
“Sssttt..” aku mengedipkan mata ke arah mereka berdua.
“Dy, kesana aja yuk. Jangan disini. Nggak enak tuh diliatin orang, nanti dikira aku abis ngapa-ngapain kamu, lagi.” Anak-anak yang baru keluar dari gerbang juga langsung menatap aneh ke arahku dan Claudya yang saat itu tengah menangis.
Aku langsung menuntun Claudya menuju warung tempat Fajar menaruh motornya tadi, sebelum ada guru yang melihat, nanti dikira aku abis macam-macam dengan anak orang. Fajar dan Rhino hanya berbisik-bisik saling bertanya-tanya kenapa Claudya tiba-tiba ada didepan gerbang dan nangis.
“Jar, No. sorry nih, lu berdua bisa agak jauhan dulu nggak? Gue pengen ngobrol dulu sama Claudya.” Fajar dan Rhino mengerti, lalu mereka berdua langsung menjauh dari kami berdua, mereka pergi duduk di motor masing-masing.
“Kamu kenapa dy? nihh.. minum dulu.” aku memberikan sebotol air putih.
“Kamu maafin aku, kan?” tanya claudya dengan tatapan memohon.
“Udah, minum dulu..” claudya meminum air putih yang aku kasih.
“Vin, kemarin nggak seperti apa yang kamu kira. Dia itu sebenernya saudara aku, aku sama dia emang suka gitu. Kalo kamu nggak percaya besok aku temuin.” Claudya mencoba menjelaskan.
“Hmm.. nggak perlu, dy. aku udah maafin kamu kok. Aku juga udah nggak mau permasalahin masalah kemarin lagi.” Sebenarnya aku hanya malas membahas kejadian kemarin.
“Kenapa?” tanyanya.
“Gapapa. aku selalu maafin kamu kok.”
“Kamu beneran udah maafin aku?” tanyanya memastikan.
“Bener kok.” Jawabku kalem.
“Makasih sayangg..” Claudya memelukku kembali.
“Dy, jangan peluk-peluk terus dong.” aku mencoba melepaskan pelukannya.
“Emang kenapa? Kamu nggak suka yaa?” Claudya menatap penuh kecewa.
“Ish! bukan gitu, ini tempat umum. Lagi juga ada temen aku, malu kan diliatin orang mulu daritadi.” aku menunjuk ke arah Fajar dan Rhino, sementara mereka berdua hanya menyengir melihat ke arahku dan Claudya.
“Hehe.” Claudya menyengir bodoh.
“Nggak usah ketawa, paul.” Aku mengacak-acak rambutnya.
“Bodo. wlee” jawab Claudya sambil menjulurkan lidahnya.
Urusanku dengan Claudya sudah selesai, walaupun sebenarnya di dalam hati masih agak sedikit kesal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, egois juga kalau aku tidak bisa memaafkan Claudya. secara, kemarin-kemarin aku sempat beberapa kali jalan dengan cewek lain dibelakang Claudya dan tidak pernah memberitahunya sampai sekarang. kalo dibilang jahat, lebih jahat aku kalau dipikir-pikir.
“Vin, lo balik nggak?” Fajar dan Rhino sudah bersiap-siap pulang.
“Hmm.. gue bingung, Jar. Lu balik duluan deh, kalo gue balik bareng lu. Claudya mau pulang sama siapa?”
“Iya juga sih. Lu yakin nih gapapa pulang sendiri?” Fajar meyakinkan.
“Gapapa, jar. Paling nanti gue naik ancot aja baliknya, sekalian nganterin Claudya pulang dulu.” aku memepersilahkan Fajar dan Rhino untuk pulang lebih dulu.
“Ohh.. yaudah kalo gitu, gue balik duluan yaa.” Fajar dan rhino pulang berbarengan.
Sebenernya bisa saja aku pinjam motor Fajar sebentar untuk mengantar Claudya. sementara Fajar aku suruh menunggu dengan Rhino dahulu, tapi berhubung aku tidak enak dengan Fajar dan Rhino yang daritadi sudah ku suruh menungguku mengobrol, lebih baik aku suruh mereka untuk pulang lebih dulu.
“Dy, pulang yuk?” ajakku pada claudya. “Naik ancot gapapa kan? Hehe. aku nggak bawa motor soalnya.”
Claudya berdiri dari tempat duduknya. “gapapa kok, aku juga udah biasa naik angkot. Lagi juga jarang-jarang kan kita naik angkutan umum, nggak pernah malah.”
“Yaudah, yuk.” Aku menggandeng tangan Claudya menuju halte.
Aku bersama Claudya masih menunggu ancot arah rumah claudya, memang ancot yang dari arah sekolahku menuju rumah Claudya bisa dibilang ancot yang angina-anginan. Kalau sedang tidak ditunggu banyak yang lewat, kalau sedang ditunggu jarang yang lewat, malah kadang tidak nongol sama sekali.
“Dy, lama banget nih ancotnya. Mau jalan aja? Kerumah kamu juga harus naik ancot dua kali kan? Kita jalan sampe tempat ngetime ancot yang kedua, gimana?” Tawarku padanya.
“Hmm.. yaudah jalan aja deh. Bisa lumutan kita nunggu satu angkot doang, belum lagi nanti nunggu ancot yang kedua. Huvt.” Claudya memanyunkan bibirnya terlihat kesal menunggu ancot yang tidak terlihat daritadi.
Aku dan Claudya memutuskan untuk jalan kaki menuju tempat ngetime ancot yang kedua, aku memotong jalan agar lebih dekat menuju ancot yang kedua kita naiki. Daripada harus berjalan lewat jalan besar, bisa-bisa gede betisnya Claudya. kan nggak lucu kalau nanti betis Claudya sampai gede cuma gara-gara aku ajak jalan kaki lewat jalan besar.
“Akhirnya sampe dirumah jugaa..” Claudya langsung menghempaskan tubuhnya di bangku teras depan rumahnya lalu meluruskan kedua kakinya.
“Gimana dy? capek? Haha” tanyaku.
“Iya nih, capek.” Claudya memegangi kedua kakinya, “tapi seru yaa, baru kali ini aku jalan kaki lumayan jauh cuma gara-gara nunggu angkot yang lama.”
“Seru pala lu benjut. pegel gini lu bilang seru,” aku menggerutu.
“Ahh.. cemen.” Claudya tertawa puas. “besok-besok lagi yuk? Jalan kaki kayak tadi.”
“Ogahh.. lu aja, gue mah mendingan disuruh naek sepeda fixie yang nggak ada remnya, daripada jalan kaki kayak tadi.”
“Haha. Payah lu ahh.” Claudya menoyor pelan kepalaku. “aku mau ke dalem dulu, mau taruh tas sama ganti baju.” Claudya kemudian langsung menggeluyur masuk ke dalam rumahnya.
“Minumnya dy sekaliannn…” teriakku dari teras rumah claudya.
“Iyaa…” jawab claudya dari arah dalam rumahnya.
Setelah menemani Claudya dirumahnya sampai ibunya pulang, aku memutuskan untuk pulang kerumah. aku pulang berjalan kaki (lagi) dari rumah claudya, karena kalau naik angkot juga percuma, nanggung dan harus naik dua kali. Setelah dipikir-pikir “Lebih baik gue jalan aja, itung-itung olah raga sore. Walaupun sebenernya ini bukan gue banget, yang notabenenya lebih suka naik sepeda ketimbang jalan kaki.”
Sepanjang jalan pulang aku hanya menendang-nendang kaleng minuman yang tadi ku temui di daerah komplek dekat rumah Claudya untuk mengilangkan bete dijalan.
“Heh.. Tuyull. Abis darimana lu?” ucap salah seorang membuyarkan fokusku yang tengah asik menendang-nendang botol, saat ku balikkan badan ternyata si Dimas yang berteriak. “Wahh.. ada si item, ini orang tau aja kalo gue lagi sengsara.” Pikirku.
“Kebetulan banget ketemu lu tem, bareng dong gue sampe rumah.” aku langsung duduk di jok motor Dimas, “tadi abis dari rumah Claudya gue, nganterin dia balik dulu.” sambungku.
“Sialan. Udah ngatain, pake minta bareng lagi.” Dimas menggerutu.
“Udah jalan cepetan, gue udah engap banget nih daritadi jalan mulu. Tapi bukannya emang lu item kan? Haha.”
“Iya juga sih. Haha” Dimas langsung menarik gas motornya, membawa kami menuju kerumah.
0