Kaskus

Story

ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ane mau share novel buatan ane sendiri gan

Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural

Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati


Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang

Spoiler for Begini gan ceritanya::



Gan, setelah baca mohon komennya, ya

Ane sangat menerima kritik dan saran

Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini

emoticon-Malu (S)Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya ganemoticon-Malu (S)

emoticon-Blue Guy PeaceTerima kasih ganemoticon-Blue Guy Peace
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
544
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
#162
Part 23: Kekuatan Callista
Erik terkapar di lantai kamar dan tubuhnya tertimpa ranjang. Sementara Mario pingsan dengan kepala mengalami pendarahan dan dada melepuh. Dia baru saja dihempaskan oleh pukulan api Callista. Sementara Maya terkapar di lantai koridor dekat Mario. Beberapa bagian kemeja hadiah dari Bryan yang sekarang dipakainya hangus karena api Callista. Maya masih sadar. Hanya saja matanya berkunang-kunang. Dia sudah tak bisa lagi bangkit untuk melawan Callista. Staminanya sudah habis. Niken dan Kartika juga sudah pingsan. Dua dokter itu bukan petarung. Karena itulah Callista tidak butuh waktu lama untuk menghajar keduanya. Sekarang yang masih sadar hanya Erik dan Maya. Mereka berdua bisa mendengar percakapan Callista di ponsel.

Quote:


Maya tersenyum ketika mendengar nama Gilgamesh disebut. Harapan untuk tetap bertahan hidup masih ada. Hanya masalah waktu. Karena itulah Maya tetap berpura-pura mati agar tak ketahuan Callista. Selain itu. Maya juga menerka-nerka apa yang dimaksud ‘itunya’.

Quote:

Erik bertanya-tanya ada urusan apa para vampire di lantai atas. Bukankah tadi Callista bahwa misinya sudah selesai? Jika memang benar-benar sudah selesai, seharusnya Black Heart tinggal pergi saja. Erik bertanya-tanya apa yang direncanakan para vampire.

Quote:


Callista berjalan sambil memasukkan ponsel ke sakunya. Dengan menggunakan kecepatan vampirenya, hanya butuh waktu singkat untuk sampai di depan tubuh Maya yang sudah tak bisa bergerak lagi. Melihat lawannya yang masih bernafas itu membuat Callista tersenyum. Tangan kanan Callista terangkat tinggi-tinggi. Dia mulai menciptakan bola api besar yang siap membunuh Maya.

Quote:
.

Quote:


Tiba-tiba Callista merasa ada sesuatu yang menyengat tubuhnya dari belakang. Dia merasakan sengatan itu masuk ke dalam tulang punggungnya lalu merambat ke seluruh tubuhnya. Seketika itu api yang dikumpulkannya langsung padam dan dirinya langsung roboh dan bersandar ke tembok. Callista melihat siapa yang menyerangnya.

Erik berdiri sambil terengah-rengah. Tangan kirinya berpegangan pada kursi tunggu untuk tetap berdiri. Dari kepala dan mulutnya keluar darah. Kulitnya memar dan melepuh. Erik dihajar habis-habisan oleh Telapak tangannya yang mengarah ke Callista masih mengeluarkan percikan-percikan listrik berwarna kuning. Dialah yang melumpuhkan Callista barusan.

Quote:


Wajah Callista tetap datar meskipun bahaya mengancamnya. Tak sedikitpun terlihat ekspresi takut di wajahnya. Vampire itu hanya mengerutkan kening dan berkonsentrasi pada Erik yang berjalan tertatih-tatih. Begitu Callista merasa jarak dirinya dengan Erik cukup, vampire itu membuka mulutnya. Tiba-tiba dia menyemburkan api yang cukup untuk membuat Erik terhempas. Erik tersungkur dan tak bisa bangkit lagi.

Seluruh tangan, kaki, tubuh dan leher Callista memang lumpuh untuk sementara. Tapi tidak dengan bibir dan mulutnya. Karena itulah dia bisa menyemburkan api. Sekarang, setelah menyerang Erik, perlahan-lahan Callista bisa menggerakkan jari-jarinya. Pengaruh listrik Erik mulai hilang.

Quote:


Menyadari ada bahaya, Callista tiba-tiba mundur. Tempat Callista berpijak tadi tiba-tiba sudah dipenuhi jarum-jarum es yang runcing. Callista menoleh ke arah pelemparnya. Di sana berdirilah Bryan dan Dietrich.

Quote:


Dietrich mengangguk dan langsung meninggalkan Bryan.

Bryan langsung berlari ke arah Callista. Begitu jaraknya cukup dekat dengan Callista, Bryan menggunakan kakinya sebagai tumpuan untuk melompat. Dengan alas sepatu yang dipenuhi oleh es-es runcing, Bryan berniat mendaratkan tendangannya di muka Callista. Tentu saja Callista dengan mudah menghindari serangan itu dengan kecepatan vampirenya. Bryan sudah menduganya. Dia melemparkan beberapa pisau es seukuran jarinya ke tubuh Callista. Belum sempat Callista mendarat, pisau-pisau es itu menembus kulitnya.

Quote:


Callista tak membalas kalimat Bryan. Dengan kecepatan vampirenya, tiba-tiba dia sudah di depan Bryan dengan tinjunya yang diselimuti api. Dengan kecepatan vampirenya juga dia mencoba mendaratkan pukulannya ke muka Bryan. Namun, tanpa diduganya, pengendali es itu mampu menangkap tinjunya. Callista menciptakan api di tangan kirinya dan mencoba memukul perut Bryan. Lagi-lagi Bryan berhasil menangkap tinjunya. Vampire itu melirik telapak tangan Bryan. Pantas saja tinju apinya tidak menimbulkan efek panas pada Bryan. Bryan melapisi telapak tangannya dengan es.

Quote:


Bryan membalas kalimat Callista dengan serangannya. Dia melepaskan tinju Callista dan mendaratkan kepalanya di kepala Callista. Akibatnya, vampire itu mundur terhuyung-huyung karena pusing. Bryan menciptakan pisau es kecil untuk menikam Callista. Tiba-tiba saja, Callista menendang luka Bryan yang terluka karena peluru. Bryan langsung menjerit, berlutut dan memegangi lukanya. Callista pun berlutut sambil memegangi kepalanya. Di saat kesakitan seperti itu, Bryan masih sempat melemparkan pisau esnya sehingga berhasil mengenai kaki kanan Callista.

Quote:


Callista masih pusing karena benturan dari kepala Bryan. Dia mencabut pisau es yang menusuk kakinya dan membuangnya. Baru selesai dia membuang es itu, Callista merasakan benda tajam menembus punggung dan merobek dagingnya. Callista memuntahkan darah yang membasahi bajunya. Ketika menoleh ke belakang, dia melihat Erik tersenyum kejam dengan kedua tangan yang menggenggam erat sebuah tongkat kayu runcing. Callista lupa bahwa Erik masih di belakangnya.

Quote:


Di saat itu pula, dua bola api besar muncul dari tubuh Callista. Bola api itu melahap Erik dan Bryan. Erik dan Bryan langsung terkapar setelah tubuh mereka terbentur tembok gara-gara hempasan. Callista langsung terengah-rengah setelah mengeluarkan api yang besar itu. Sambil menggertakkan gigi, Callista mencabut tongkat kayu runcing yang menusuk punggungnya.

Callista melirik Bryan dan Erik. Erik hanya bisa menggerakkan jari-jarinya. Punggung Erik terbakar api. Callista hanya tersenyum melihat Erik yang sudah tak berdaya. Sementara Bryan masih mencoba berdiri. Di sekeliling Bryan ada serpihan es-es yang sudah hancur. Callista menggeram sebal karena seranga sihirnya terbaca oleh Bryan sehingga pengendali es itu sempat menciptakan dinding es. Meskipun begitu, tubuh Bryan juga diselimuti api.

Quote:


Begitu mendengarkan teriakan mantra dalam bahasa latin itu, Callista segera berlompatan untuk menghindarinya. Khawatir jika dirinya harus terkena serangan dari belakang untuk ketiga kalinya. Callista melihat ke belakang. Dua bola air mengguyur Bryan dan Erik untuk memadamkan api sihir Callista yang membakar mereka.

Quote:


Callista menyemburkan api untuk menahan serangan angin. Melihat apinya dilahap oleh angin, Callista segera menghindar dengan kecepatan vampirenya. Pisau angin itu menyayat dan menghancurkan tembok. Mata Callista masih berusaha mengamati siapa yang menjadi lawannya sekarang

Quote:


Setelah mantra curationum dilafalkan, air yang tadi digunakan untuk memadamkan api ke tubuh Erik dan Bryan mulai menimbulkan efek. Tangan dan kaki Erik dan Bryan yang terluka dan melepuh mulai sembuh. Kulit yang terbuka mulai menutup. Kulit yang melepuh mulai kembali ke aslinya.

Callista tidak mengetahui siapa dua orang yang tiba-tiba datang itu dan muncul dari koridor itu. Salah satunya memakai jubah hitam dan tongkat besar ala penyihir. Lalu yang lebih tinggi memakai tuksedo dan sepatu hitam yang sangat mengkilap. Siapapun dua orang ini, firasat Callista mengatakan bahwa dua orang yang datang ini lumayan kuat. Karena firasatnya buruk, Callista langsung kabur menggunakan kecepatan vampirenya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.