Kaskus

Story

Anjing.GalakAvatar border
TS
Anjing.Galak
"Delapan-23"
Permisi agan-agan khususnya penghuni sith emoticon-Malu (S)Setelah sekian lama hanya sekedar wacana untuk mencoba dan memulai menulis, akhirnya kesampean juga untuk menulis disini. Semoga agan agan betah bacanya emoticon-I Love Indonesia (S)



Quote:

Quote:

Quote:


Quote:
Diubah oleh Anjing.Galak 29-08-2015 22:58
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53KAnggota
Tampilkan semua post
Anjing.GalakAvatar border
TS
Anjing.Galak
#5
Coretan pertama..
kaskus-image
Kukenakan jas berwarna coklat, jas almamater kebangga sekolahku. Tak lupa pin bertuliskan nama institusi pendidikanku termpampang di kanan dada. Pagi itu, aku sudah bersiap untuk pergi sekolah. Jarak kontrakanku dan sekolah tidaklah begitu jauh, namun setiap pagi aku menggunakan ojeg. Kebetulan pangkalan ojeg berada tepat di sebelah kontrakanku, sehingga tak sulit untuk mendapatkan ojeg. Cukup dengan 3000 rupiah aku sudah berada di depan gerbang sekolahku. Satpam sekolah sudah bersiap di posnya. Senjatanya adalah sebuah buku catatan dan sebuah pena yang siap menulis setiap siswa yang datang terlambat. Hari itu aku sudah berada di sekolah pukul 6.30, lebih awal 30 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Aku sengaja hari itu datang lebih awal, karena tak sabar untuk menemui astrid. Malam sebelumnya astrid mengirimku sebuah pesan singkat, “Lik, besok kamu datang pagi yah, kita sarapan bareng”. Pesan itupun ku iyakan dengan perasaan tak sabar menunggu esok hari. Benar saja, mobil suv putih sudah berada di halaman parkir sekolah. Terlihat Pak udjang keluar dari mobil itu sambil mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik. Pak udjang merupakan supir Astrid, pagi itu iya menyapaku dengan logat sunda yang sungguh begitu kental dalam tutur katanya.
“Nak malik pagi pisan datengnya, mau ketemu si eneng yah” sembari tertawa ia melanjutkan pembicaraan.
“Neng astrid udah kedalem tuh”. Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum malu. Tak banyak bicara akupun langsung menuju lobi sekolah. Disana adalah tempat biasa siswa siswi sekolah ku berkumpul. Kulihat pagi itu Astrid sendirian duduk di bangku kayu panjang berwarna coklat. Kuhampiri dirinya dan tepat duduk di sebelahnya.
“Hehe, udah dateng aja” ujarku
“6.35 dih, kan dibilang 6.30 juga. Nih sandwich, tadi pagi aku bikin, tenang, isinya racun ko hahaha”
Ia berikan sandwich itu sembari tersenyum. Senyumnya selalu menyimpan sejuta arti. Arti yang terkadang membuatku bingung harus kubalas apa senyumnya itu.
“Yakin ada racunnya nih? Tega?” gurauku
“Iya, racunnya supaya kamu sama aku terus hahahaha”. Pagi itupun kami menyantap sarapan bersama, mungkin ini bukanlah sandwich terbaik ataupun terenak yang pernah kumakan, tetapi momen pagi itu merupakan momen yang memiliki arti lebih dari sekedar sarapan. Sarapan pagi itu begitu spesial karena dirinya lah yang membuat tulisan sejarah di setiap lembaran hariku menjadi lebih indah. Tak terasa canda tawa kami yang begitu hangat pagi itu harus segera berakhir karena kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan.

Suatu sore, aku sedang duduk di pelataran koridor samping pos sekolah. Dari sisi itu bisa terlihat jelas tiga buah bangunan megah yang tidak lain adalah sekolahku. Aku senang duduk disana, karena dari sanalah aku bisa melihat seluruh aktifitas yang berada di sekolah dari satu titik pandang. Terlihat siswa siswi yang sedang bermain bola basket di sebelah kanan, tak luput juga teman temanku yang lain bermain sepak bola di sebelah kiri. Di bagian tengah terdapat taman yang terlihat seperti jembatan antara gedung satu dan lainnya. Terlihat pula guru guruku yang terlihat capek menjalani hari namun tertutupi dengan senyum lebar. Spot tersebut merupakan salah satu tempat favoritku untuk berdiam diri, menghela nafas sejenak, dan merilekskan diri dengan udara lembang yang mengelus elus pipiku. Tiba tiba dari kejauhan seseorang melambaikan tangan. “Maliiiik, siniiiii, cepeet” teriaknya. Tak lain dan tak bukan, itu pasti Astrid. Kuhampiri dirinya dengan pertanyaan yang tersimpan di dalam benakku. “Teriak teriak aja, kangen yak? Kenapa trid?” tanyaku
“Makan sate padang di pasar yu, laper nih, temenin aku ayoo dong please” tuturnya dengan penuh manja.
“Ah so imut kamu ini, tapi sekalian antar aku pulang yah nanti haha”
“Iya tenang aja, gabakal aku terlantarin kamu ko”
Aku pun bergegas memasuki mobilnya. Kami akhirnya pergi ke salah satu pedagang sate padang yang berada di pasar lembang. Tempatnya tidak begitu besar, namun cukup terlihat karena letaknya yang tepat di pinggir jalan. Sesaat aku dan astrid turun dari mobil, asap pembakaran sate menyapa kami. Bau harum aroma daging yang terpanggang membuatku merasa lapar sore itu. Astrid pun memesan 3 porsi sate padang.
“3 banget nih pesennya? Laper mba? Hahaha” gurauku
“Ini pesen tiga soalnya aku tau kamu pasti nambah deh”
Dan benar saja tebakannya, satu porsi sate padang tidaklah cukup untuk diriku. Entahlah, tapi hal sederhana yang mungkin tidak ada artinya seperti itu merupakan suatu hal yang cukup pantas untuk kurenungi. Rasanya over jika hanya masalah makan seperti itu ku besar besarkan, tapi buatku masalah makan yang kecil seperti porsi makan saja Astrid begitu mengenalku. Aku melihat sifatnya merupakan refleksi dari setengah diriku. Benar benar wanita yang begitu hebat dimataku. Sore itu rasanya kami ingin terus berbincang bincang, namun apa daya, matahari sore itu telah menunjukan seperempat tubuhnya. Cahaya terang pun mulai berganti dengan gelapnya malam, menandakan akhir dari perbincangan kami sore itu. Astrid semenjak sma sudah tidak tinggal di asrama, orang tuanya lebih memilih anak bungsunya itu untuk pulang kerumah mereka. Cukup gila untuk pulang pergi bandung-lembang setiap hari, tapi itulah hal yang dilakukan astrid selama sma. Maghrib hari itu aku diantarnya pulang ke kontrakanku, rasanya berat untuk turun dari mobilnya. Perasaan ingin selalu bersamanya dan berbincang bincang masih menggebu dalam diriku, tapi begitulah hidup. Terkadang kita harus menutup lembaran demi melihat lembaran baru esok hari. Lembaran putih bersih, yang siap kita tuliskan dengan berbagai cerita. Jika egoku berkata untuk tetap tinggal lembaran hari itu, maka cukup bodohnya aku untuk tidak membuka lembaran hari esok. Siapa yang tahu lembaran hari esok nama astrid akan selalu tertulis di buku kehidupanku ini.

kaskus-image
Diubah oleh Anjing.Galak 28-08-2015 20:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.