- Beranda
- Stories from the Heart
"Delapan-23"
...
TS
Anjing.Galak
"Delapan-23"
Permisi agan-agan khususnya penghuni sith
Setelah sekian lama hanya sekedar wacana untuk mencoba dan memulai menulis, akhirnya kesampean juga untuk menulis disini. Semoga agan agan betah bacanya
Setelah sekian lama hanya sekedar wacana untuk mencoba dan memulai menulis, akhirnya kesampean juga untuk menulis disini. Semoga agan agan betah bacanya
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Anjing.Galak 29-08-2015 22:58
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Anjing.Galak
#3
Wanita dan kacamata

Kemeja putih dengan jas coklat dan rok putih menghiasi tubuh kami hari itu. Entah mengapa, pandanganku tertuju padanya. Senyumnya yang penuh hangat menyapaku. Senyum itu membangkitkan gairah untuk menjalani hari. Kacamata dengan frame persegi melengkapi dirinya. Dua gigi kelincinya terlihat saat kami berbincang. Membuatku memandangi wajahnya dengan senyum yang menghantarkan jutaan arti dari dalam hati ini. Dia adalah astrid, teman sekelasku. Kami sudah mengenal satu sama lain semenjak awal smp. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang sebentar dengan pemahaman sederhana tentang perasaan dan nalar seorang anak smp untuk mengerti apa artinya cinta yang begitu kompleks. Ego sebagai anak sulung yang dimanja kedua orang tua menjadikan dirku orang yang cukup arogan dan egois dengan lingkungan. Ditambah sifat introvert dan mudah tersinggung merupakan deskripsi terbaik tentang diriku. Pantas rasanya jika aku kurang dekat dengan teman sekelasku. Teman kelasku pun lebih memilih menjaga jarak dengan diriku. Namu tidak dengan astrid. Dia merupakan seseorang yang sangat keras kepala yang pernah kutemui. Sifatnya keras kepala dibalut rasa sayangnyalah yang membuat ku jatuh hati dengannya. Dengan rasa sayangnya, ia mencoba untuk menembus dinding dinding kokoh yang sudah berdiri lama melingkari hati yang tersesat di gelap malam ini. Kegigihannya untuk menembus dinding ini dengan cara yang tak pernah kuduga, merupakan awal lilin lilin kecil dalam hati ini terbentuk. Pagi itu, sapaannya yang begitu hangat hanya bisa kujawab dengan segelintir kata yang tidak sebegitu menarik dibanding senyumnya. Tak lama, bel sekolah pun berdering, kegiatan mos hari itu pun dimulai di ruang kelas. Masih terlintas jelas bayangan bagaimana ia memberikan senyum itu, namun seketika emosi dalam hati ini berubah 180 derajat sesaat acara mos dimulai. Perasaan malas sudah siap merantai kakiku. Aku hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan, terpenjara dalam rasa kebosanan. Jika acara mos hari itu bisa diganti dengan acara memandangi wajah astrid, mungkin aku rela untuk berada di sekolah 24/7. Entah bagaimana, hati ini membuat sinyal asap menuju otak layaknya para indian berkomunikasi di masa lalu, sinyal yang cukup gila ini memberiku kebodohan untuk tidak mengikuti acara mos hingga 3 hari kedepan. Mungkin aku hanya lelah, mungkin aku hanya bosan, pikiran itu pun tak kuhiraukan saat itu.
Acara hari pertama selesai, tak ada yang berkesan buatku selain bertemu dengan astrid. Sudah lama kita tidak bertemu, liburan antara smp dan masuk sma ini cukup lama. Astrid yang berasal dari ujung pulau sumatera ini (medan), pulang kampung saat liburan kemarin. Oleh karena itu aku yang hanya berdiam diri selama liburan di Bandung sedikit merasa kehilangan sang “yin” dalam kehidupan “yang” ku. Kebetulan selama aku menempuh pendidikan disana, aku menyewa satu rumah dengan seorang temanku. Hal ini karena aku tak mau tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak sekolah. Tak usah ditanya alasannya apa, sudah pasti aku yang tak suka dikekang dengan peraturan asrama dan kurang bisa dan mau untuk bersosialisasi dengan sesama ini pun meminta kepada orang tuaku agar tidak berada di asrama. Sore setelah acara mos hari pertama, aku pulang ke kontrakanku dengan perasaan lega. Kubuka pintu kamarku, sprei kasurku yang bercorak bendera amerika ini terasa sangat sejuk, tak tersentuh seharian, hanya sejuknya udara lembang yang mengusap kasurku sepanjang hari. Seraya menghela nafas panjang di atas tempat tidurku, terlintas kembali pikiran untuk tidak mengikuti kegiatan mos untuk 3 hari kedepan. Kubulatkan tekad, entah bagaimana caranya, aku tidak akan mengikuti acara mos ini. Betul saja, keesokan paginya aku hanya bermalasan malasan, bermesraan dengan selimut biruku. Menikmati udara lembang yang sejuk, menikmati sarapanku di depan tv tanpa ada perasaan bersalah.

0


nulisanya bener bener sesuka hati gimana mood