TS
Ariel.Matsuyama
[Orific] Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes)
Genre:Action | Drama | Sci-Fi | Supernatural
Sinopsis:Kematian sang kakak, membuat Ariel Sadewa menjadi seorang pendendam. Dendam itu mengubahnya menjadi seorang pahlawan super bernama `Waysteel`, yang memiliki misi melenyapkan `Rahwana`, makhluk yang mengancam populasi manusia, sekaligus makhluk yang membunuh kakaknya beberapa tahun silam.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Spoiler for Chapter List:
Part 1
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:34
0
8.2K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#6
Spoiler for Part 1 Act 4 (End):
“Kita liat siapa yang akan tinggal nama, Strong,” balas Ariel dengan tenang. Kemudian ia merogoh saku celananya, mengambil sesuatu dari sana: sebuah benda berbentuk kotak kecil berwarna hitam yang lebih mirip dengan `memory card`.
Benda tersebut terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.
Lalu Ariel menancapkan benda itu di ujung gagang pedangnya seraya berkata…
“Berubah!”
Pinggiran lampu yang terdapat pada gagang pedang milik Ariel menyala satu persatu, lampu itu sambung menyambung membentuk sebuah lingkaran. Disusul lampu bagian tengahnya.
Sebuah bayangan pakaian pelindung berwarna dominan hitam keluar dari lampu itu, bersamaan dengan menyalanya semua lampu yang ada di gagang pedang.
Bayangan pakaian pelindung itu lalu menjadi nyata dan menempel di tubuh Ariel.
Lensa mata berwarna merah pada helm yang melapisi kepala Ariel menyala terang. Di atas helm tersebut terdapat lempengan emas berbentuk wajik dengan corak abu-abu di tengahnya. Lempengan emas itu juga ada di bagian belakang helmnya. Bentuknya melengkung ke atas.
Lampu yang terdapat di tengah sabuknya sama persis seperti lampu yang ada di gagang pedang, warnanya pun serupa: Merah.
Bagian pelindung lututnya juga berwarna merah, senada dengan lensa helm dan lampu sabuk.
“Sekarang, panggil saya `Waysteel`! Wayang … Baja,” ucap Ariel.
“Waysteel? Rupanya kamu punya armor juga!? Ini semakin menarik!” balas Romy/Strong. “Bersiaplah, bung!!!” Ia kemudian berlari menuju lawan dihadapannya yang juga sudah berganti rupa.
Beberapa langkah kemudian, Strong meloncat dan meluncur dengan posisi hendak menghantamkan kedua kepalan tangannya.
Ariel/Waysteel pun bersiap. Persis ketika serangan Strong datang, ia segera melompat, membiarkan pukulan Strong menghancurkan tanah.
Merasa memiliki peluang, Waysteel mengayunkan pedangnya untuk menebas Strong.
Namun sayang sekali, Strong menepis tebasan itu menggukan punggung tangan kirinya. Bunga api memercik akibat benturan pedang Waysteel dan sarung tangan Strong.
Waysteel mundur sejenak, kemudian membuka katup yang ada di lengan kirinya. Disana terdapat tiga buah granat dengan warna berbeda. Waysteel mengambil granat berwarna biru dan langsung ia lemparkan pada Strong.
Pandangan Strong pun langsung kabur saat itu juga.
Tak mau membuang waktu, Waysteel langsung menyabetkan pedangnya di perut Strong. Membuat goresan memanjang vertikal disana.
Merasa ada banyak celah pada pertahanan Strong, Waysteel kembali mengayunkan pedangnya lalu menebas tubuh Strong berulang kali. Strong pun terhuyung dan mundur beberapa langkah dibuatnya. Asap mengepul dari bagian-bagian armor yang tergores.
“I-i-ini nggak mungkin! Pertahanan armor saya bisa tertembus. Senjata macam apa itu??” racau Strong keheranan. Di saat yang sama, goresan pada armornya mulai pulih seperti sediakala.
“Ini `Dhamarwulan`. Pedang yang bisa membelah apapun yang ada di dunia ini,” balas Waysteel.
“Kurang ajar! Ini masih belum berakhir!” Strong kemudian memasang kuda-kuda, sebelum akhirnya berlari menuju Waysteel lalu mengayunkan kepalan tangan kanannya sekuat tenaga.
Tapi, Waysteel berhasil mengelak dengan memutar bahu kirinya ke belakang. Meski begitu, pukulan kembali datang. Kali ini, tinju sebelah kiri Strong yang melayang. Namun, Waysteel mengelak sekali lagi dengan cara yang sama. Sekarang, bahu kanannya yang bergerak.
Strong yang masih melihat celah tidak mau kalah, ia melancarkan tinjuan lurus ke depan, persis ke dada Waysteel.
Sadar akan serangan yang datang, Waysteel memanfaatkan bagian badan pedangnya untuk menangkis serangan itu. Pukulan yang dilancarkan Strong saat ini jauh lebih kuat dibanding saat ia belum mengenakan armor. Untunglah Waysteel bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jika tidak, ia bisa terpental.
Waysteel kemudian menggeser tubuhnya ke samping. Strong yang tinjunya masih menempel pada badan pedang Waysteel langsung hilang keseimbangan. Hal itu menjadi peluang bagi sang Wayang Baja untuk menyarangkan sabetan besar pada tubuh Strong. Satu, dua, tiga sabetan sukses menggores armor Strong.
Akan tetapi, pada sabetan keempat, Strong berhasil menahan serangan Waysteel dengan tangan kirinya. Kemudian ia mengepal tangan kanannya sekuat mungkin, lalu meninju Waysteel.
Refleks, Waysteel pun menghindar dengan melompat ke kiri. Namun demikian, serangan masih tetap datang. Strong menyerang Waysteel dengan tinjuan membabi buta. Waysteel pun terus berusaha menghindari serangan-serangan tersebut dengan segala upaya. Sang Wayang Baja juga menyerang balik dengan kepiawaiannya bermain pedang, walaupun Strong mampu menghindar serta menepis serangan itu beberapa kali.
Mereka berdua bertarung cukup sengit dengan serangan-serangan yang dapat membunuh lawannya kapan saja. Hal tersebut terus berlangsung selama beberapa saat. Tidak begitu terlihat siapa yang jauh lebih unggul disini, karena meski Strong beberapa kali kena tebas, goresan-goresan di tubuhnya selalu kembali seperti semula.
Tak lama kemudian, Waysteel yang gagal menebas Strong, langsung melancarkan tendangan lurus.
Akan tetapi, tendangan Waysteel tidak berpengaruh apa-apa, bahkan tubuh Strong saja tidak bergeser sedikitpun.
Waysteel sontak kaget.
“Khahaha.. Ternyata anda cuma sakti di senjata saja, bung! Armor anda tidak bisa menandingi armor saya,” ejek Strong yang langsung mencengkram kaki Waysteel lalu melemparkan tubuhnya.
Tubuh Waysteel meluncur cepat hingga akhirnya menubruk pohon.
“Tcih!” dengus Waysteel, sambil berusaha bangun.
Strong mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah lalu berkonsentrasi.
Jalanan yang ia pijaki pun bergetar, diikuti dengan retakan dimana-mana hingga akhirnya membentuk sebuah bongkahan besar yang kemudian menempel di masing-masing telapak tangan Strong. Tanpa mau membuang waktu lagi, Strong langsung melemparkan bongkahan-bongkahan besar tersebut satu persatu ke arah Waysteel.
Setelah itu, Strong kembali mengulangi hal yang sama: Menghancurkan jalanan dan melemparkan bongkahannya pada Waysteel. Ada empat bongkahan besar yang melesat ke arah Waysteel.
Waysteel yang sudah berdiri kembali segera bersiap-siap mengantisipasi hal tersebut. Dengan cepat, ia menebas bongkahan-bongkahan yang datang satu persatu hingga menjadi potongan yang kecil-kecil.
Namun, hal itu masih belum berakhir. Bongkahan aspal kembali datang, dan kali ini jumlahnya lebih banyak.
Tetapi, Waysteel tetap dapat menebasnya satu persatu, bahkan dua sekaligus hingga menjadi puing-puing kecil.
Setelah bongkahan-bongkahan aspal tersebut hancur, ia lalu menekan sebuah tombol berwarna merah yang terdapat di sebelah kiri sabuknya.
Sisi lampu yang ada di kepala sabuk pun menyala satu persatu, disusul dengan lampu bagian tengahnya. Begitu semua lampu menyala, sabuk pun mengeluarkan suara, “Highspeed Activated!”
Waysteel mengambil kuda-kuda sebentar, sebelum akhirnya melesat secepat kilat menuju musuhnya.
Tiba-tiba, Strong merasakan tubuhnya ditebas berkali-kali dengan kecepatan yang luar biasa. Ia pun terpental ke belakang. Tapi di belakang, ia disambut oleh tebasan dengan kecepatan yang sama.
Sementara itu, dihadapannya, Waysteel melihat Strong perlahan-lahan tersungkur ke depan dengan sangat lamban, bahkan nyaris seperti berhenti.
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Waysteel membuka sebuah penutup berbentuk bundar yang terdapat pada sisi sebelah kiri gagang pedangnya. Disana, ada tombol merah dan layar kecil disampingnya.
Waysteel menekan tombol itu. Layar pun mengeluarkan suara dan tulisan, “Black Flame! Ready!”
Seketika, mata pedang milik Waysteel diselimuti api berwarna hitam. Pada saat bersamaan, layar di gagang pedang mulai menghitung mundur dari hitungan ke `10`.
Setelah itu, Waysteel mengambil ancang-ancang. Kaki kanannya ia tekuk ke depan. Sementara kaki kirinya lurus ke belakang. Di saat bersamaan, tangan kirinya ia tekuk beberapa senti di depan dada dan tangan kanannya yang memegang pedang ia rentangkan ke belakang. Setelah mengumpulkan banyak tenaga, ia memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Tubuhnya terus berputar, seperti gasing yang diselimuti api hitam.
Tiba-tiba, tubuh Strong yang sebentar lagi jatuh ke tanah, dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan di luar batas hingga tembus ke belakang. Secara spontan, tubuhnya langsung terbakar oleh api hitam.
Sedetik kemudian, Waysteel muncul beberapa meter di belakang Strong dengan posisi berlutut.
Di waktu yang hampir bersamaan, tubuh Strong terbelah menjadi beberapa bagian.
`Highspeed Over!`
Terdengar suara yang berasal dari sabuk Waysteel.
`3.. 2.. 1..` Layar pada gagang pedang Waysteel menghitung mundur. Dan pada hitungan ke-1, api hitam yang menyelimuti mata pedangnya langsung padam.
Saat itu, tubuh Strong yang sudah terpotong-potong berubah menjadi pasir putih. Pasir tersebut terbakar oleh api hitam.
Waysteel perlahan berdiri. Kemudian ia membuka katup berbentuk kotak yang terdapat pada tepi kiri lengan kanannya. Disana, ada sebuah tombol berwarna biru serta lampu led kecil berwarna merah.
Waysteel menekan tombol biru tersebut, membuat lampu led disamping tombol itu menyala dan mengeluarkan suara rekaman digital, `Armor System Deactivated!`
Sesaat setelahnya, armor yang dikenakan Waysteel kembali menjadi bayangan, lalu masuk ke dalam lampu yang ada di gagang pedangnya. Waysteel sudah kembali ke wujud manusianya: Ariel Sadewa.
Ariel mengambil sesuatu dari saku sebelah kiri celananya. Sesuatu itu ialah benda yang bentuknya mirip dengan handphone. Ada banyak tombol dan satu buah layar disana. Ariel menekan tombol '111' pada benda tersebut lalu menekan tombol 'Ok'. Layar pada benda itu tiba-tiba memunculkan gambar sarung pedang hitam milik Ariel, Dhamarwulan.
Sarung pedang milik Ariel yang entah tergeletak dimana langsung berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal. Serpihan-serpihan holograpichal tersebut kemudian muncul dihadapan Ariel dan berangsur-angsur berubah menjadi sarung pedang miliknya. Ariel mengambil sarung pedang tersebut, lalu menyisipkan Dhamarwulan ke dalamnya. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah tenang.
Pertarungan telah usai.
Benda tersebut terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya.
Lalu Ariel menancapkan benda itu di ujung gagang pedangnya seraya berkata…
“Berubah!”
Pinggiran lampu yang terdapat pada gagang pedang milik Ariel menyala satu persatu, lampu itu sambung menyambung membentuk sebuah lingkaran. Disusul lampu bagian tengahnya.
Sebuah bayangan pakaian pelindung berwarna dominan hitam keluar dari lampu itu, bersamaan dengan menyalanya semua lampu yang ada di gagang pedang.
Bayangan pakaian pelindung itu lalu menjadi nyata dan menempel di tubuh Ariel.
Lensa mata berwarna merah pada helm yang melapisi kepala Ariel menyala terang. Di atas helm tersebut terdapat lempengan emas berbentuk wajik dengan corak abu-abu di tengahnya. Lempengan emas itu juga ada di bagian belakang helmnya. Bentuknya melengkung ke atas.
Lampu yang terdapat di tengah sabuknya sama persis seperti lampu yang ada di gagang pedang, warnanya pun serupa: Merah.
Bagian pelindung lututnya juga berwarna merah, senada dengan lensa helm dan lampu sabuk.
“Sekarang, panggil saya `Waysteel`! Wayang … Baja,” ucap Ariel.
Spoiler for Ariel Sadewa:
Spoiler for Waysteel:
“Waysteel? Rupanya kamu punya armor juga!? Ini semakin menarik!” balas Romy/Strong. “Bersiaplah, bung!!!” Ia kemudian berlari menuju lawan dihadapannya yang juga sudah berganti rupa.
Beberapa langkah kemudian, Strong meloncat dan meluncur dengan posisi hendak menghantamkan kedua kepalan tangannya.
Ariel/Waysteel pun bersiap. Persis ketika serangan Strong datang, ia segera melompat, membiarkan pukulan Strong menghancurkan tanah.
Merasa memiliki peluang, Waysteel mengayunkan pedangnya untuk menebas Strong.
Namun sayang sekali, Strong menepis tebasan itu menggukan punggung tangan kirinya. Bunga api memercik akibat benturan pedang Waysteel dan sarung tangan Strong.
Waysteel mundur sejenak, kemudian membuka katup yang ada di lengan kirinya. Disana terdapat tiga buah granat dengan warna berbeda. Waysteel mengambil granat berwarna biru dan langsung ia lemparkan pada Strong.
Pandangan Strong pun langsung kabur saat itu juga.
Tak mau membuang waktu, Waysteel langsung menyabetkan pedangnya di perut Strong. Membuat goresan memanjang vertikal disana.
Merasa ada banyak celah pada pertahanan Strong, Waysteel kembali mengayunkan pedangnya lalu menebas tubuh Strong berulang kali. Strong pun terhuyung dan mundur beberapa langkah dibuatnya. Asap mengepul dari bagian-bagian armor yang tergores.
“I-i-ini nggak mungkin! Pertahanan armor saya bisa tertembus. Senjata macam apa itu??” racau Strong keheranan. Di saat yang sama, goresan pada armornya mulai pulih seperti sediakala.
“Ini `Dhamarwulan`. Pedang yang bisa membelah apapun yang ada di dunia ini,” balas Waysteel.
“Kurang ajar! Ini masih belum berakhir!” Strong kemudian memasang kuda-kuda, sebelum akhirnya berlari menuju Waysteel lalu mengayunkan kepalan tangan kanannya sekuat tenaga.
Tapi, Waysteel berhasil mengelak dengan memutar bahu kirinya ke belakang. Meski begitu, pukulan kembali datang. Kali ini, tinju sebelah kiri Strong yang melayang. Namun, Waysteel mengelak sekali lagi dengan cara yang sama. Sekarang, bahu kanannya yang bergerak.
Strong yang masih melihat celah tidak mau kalah, ia melancarkan tinjuan lurus ke depan, persis ke dada Waysteel.
Sadar akan serangan yang datang, Waysteel memanfaatkan bagian badan pedangnya untuk menangkis serangan itu. Pukulan yang dilancarkan Strong saat ini jauh lebih kuat dibanding saat ia belum mengenakan armor. Untunglah Waysteel bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jika tidak, ia bisa terpental.
Waysteel kemudian menggeser tubuhnya ke samping. Strong yang tinjunya masih menempel pada badan pedang Waysteel langsung hilang keseimbangan. Hal itu menjadi peluang bagi sang Wayang Baja untuk menyarangkan sabetan besar pada tubuh Strong. Satu, dua, tiga sabetan sukses menggores armor Strong.
Akan tetapi, pada sabetan keempat, Strong berhasil menahan serangan Waysteel dengan tangan kirinya. Kemudian ia mengepal tangan kanannya sekuat mungkin, lalu meninju Waysteel.
Refleks, Waysteel pun menghindar dengan melompat ke kiri. Namun demikian, serangan masih tetap datang. Strong menyerang Waysteel dengan tinjuan membabi buta. Waysteel pun terus berusaha menghindari serangan-serangan tersebut dengan segala upaya. Sang Wayang Baja juga menyerang balik dengan kepiawaiannya bermain pedang, walaupun Strong mampu menghindar serta menepis serangan itu beberapa kali.
Mereka berdua bertarung cukup sengit dengan serangan-serangan yang dapat membunuh lawannya kapan saja. Hal tersebut terus berlangsung selama beberapa saat. Tidak begitu terlihat siapa yang jauh lebih unggul disini, karena meski Strong beberapa kali kena tebas, goresan-goresan di tubuhnya selalu kembali seperti semula.
Tak lama kemudian, Waysteel yang gagal menebas Strong, langsung melancarkan tendangan lurus.
Akan tetapi, tendangan Waysteel tidak berpengaruh apa-apa, bahkan tubuh Strong saja tidak bergeser sedikitpun.
Waysteel sontak kaget.
“Khahaha.. Ternyata anda cuma sakti di senjata saja, bung! Armor anda tidak bisa menandingi armor saya,” ejek Strong yang langsung mencengkram kaki Waysteel lalu melemparkan tubuhnya.
Tubuh Waysteel meluncur cepat hingga akhirnya menubruk pohon.
“Tcih!” dengus Waysteel, sambil berusaha bangun.
Strong mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah lalu berkonsentrasi.
Jalanan yang ia pijaki pun bergetar, diikuti dengan retakan dimana-mana hingga akhirnya membentuk sebuah bongkahan besar yang kemudian menempel di masing-masing telapak tangan Strong. Tanpa mau membuang waktu lagi, Strong langsung melemparkan bongkahan-bongkahan besar tersebut satu persatu ke arah Waysteel.
Setelah itu, Strong kembali mengulangi hal yang sama: Menghancurkan jalanan dan melemparkan bongkahannya pada Waysteel. Ada empat bongkahan besar yang melesat ke arah Waysteel.
Waysteel yang sudah berdiri kembali segera bersiap-siap mengantisipasi hal tersebut. Dengan cepat, ia menebas bongkahan-bongkahan yang datang satu persatu hingga menjadi potongan yang kecil-kecil.
Namun, hal itu masih belum berakhir. Bongkahan aspal kembali datang, dan kali ini jumlahnya lebih banyak.
Tetapi, Waysteel tetap dapat menebasnya satu persatu, bahkan dua sekaligus hingga menjadi puing-puing kecil.
Setelah bongkahan-bongkahan aspal tersebut hancur, ia lalu menekan sebuah tombol berwarna merah yang terdapat di sebelah kiri sabuknya.
Sisi lampu yang ada di kepala sabuk pun menyala satu persatu, disusul dengan lampu bagian tengahnya. Begitu semua lampu menyala, sabuk pun mengeluarkan suara, “Highspeed Activated!”
Waysteel mengambil kuda-kuda sebentar, sebelum akhirnya melesat secepat kilat menuju musuhnya.
Tiba-tiba, Strong merasakan tubuhnya ditebas berkali-kali dengan kecepatan yang luar biasa. Ia pun terpental ke belakang. Tapi di belakang, ia disambut oleh tebasan dengan kecepatan yang sama.
Sementara itu, dihadapannya, Waysteel melihat Strong perlahan-lahan tersungkur ke depan dengan sangat lamban, bahkan nyaris seperti berhenti.
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Waysteel membuka sebuah penutup berbentuk bundar yang terdapat pada sisi sebelah kiri gagang pedangnya. Disana, ada tombol merah dan layar kecil disampingnya.
Waysteel menekan tombol itu. Layar pun mengeluarkan suara dan tulisan, “Black Flame! Ready!”
Seketika, mata pedang milik Waysteel diselimuti api berwarna hitam. Pada saat bersamaan, layar di gagang pedang mulai menghitung mundur dari hitungan ke `10`.
Setelah itu, Waysteel mengambil ancang-ancang. Kaki kanannya ia tekuk ke depan. Sementara kaki kirinya lurus ke belakang. Di saat bersamaan, tangan kirinya ia tekuk beberapa senti di depan dada dan tangan kanannya yang memegang pedang ia rentangkan ke belakang. Setelah mengumpulkan banyak tenaga, ia memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Tubuhnya terus berputar, seperti gasing yang diselimuti api hitam.
Tiba-tiba, tubuh Strong yang sebentar lagi jatuh ke tanah, dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan di luar batas hingga tembus ke belakang. Secara spontan, tubuhnya langsung terbakar oleh api hitam.
Sedetik kemudian, Waysteel muncul beberapa meter di belakang Strong dengan posisi berlutut.
Di waktu yang hampir bersamaan, tubuh Strong terbelah menjadi beberapa bagian.
`Highspeed Over!`
Terdengar suara yang berasal dari sabuk Waysteel.
`3.. 2.. 1..` Layar pada gagang pedang Waysteel menghitung mundur. Dan pada hitungan ke-1, api hitam yang menyelimuti mata pedangnya langsung padam.
Saat itu, tubuh Strong yang sudah terpotong-potong berubah menjadi pasir putih. Pasir tersebut terbakar oleh api hitam.
Waysteel perlahan berdiri. Kemudian ia membuka katup berbentuk kotak yang terdapat pada tepi kiri lengan kanannya. Disana, ada sebuah tombol berwarna biru serta lampu led kecil berwarna merah.
Waysteel menekan tombol biru tersebut, membuat lampu led disamping tombol itu menyala dan mengeluarkan suara rekaman digital, `Armor System Deactivated!`
Sesaat setelahnya, armor yang dikenakan Waysteel kembali menjadi bayangan, lalu masuk ke dalam lampu yang ada di gagang pedangnya. Waysteel sudah kembali ke wujud manusianya: Ariel Sadewa.
Ariel mengambil sesuatu dari saku sebelah kiri celananya. Sesuatu itu ialah benda yang bentuknya mirip dengan handphone. Ada banyak tombol dan satu buah layar disana. Ariel menekan tombol '111' pada benda tersebut lalu menekan tombol 'Ok'. Layar pada benda itu tiba-tiba memunculkan gambar sarung pedang hitam milik Ariel, Dhamarwulan.
Sarung pedang milik Ariel yang entah tergeletak dimana langsung berubah menjadi serpihan-serpihan holograpichal. Serpihan-serpihan holograpichal tersebut kemudian muncul dihadapan Ariel dan berangsur-angsur berubah menjadi sarung pedang miliknya. Ariel mengambil sarung pedang tersebut, lalu menyisipkan Dhamarwulan ke dalamnya. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah tenang.
Pertarungan telah usai.
=***=
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 12-03-2017 12:57
0
Kutip
Balas