TS
Ariel.Matsuyama
[Orific] Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes)
Genre:Action | Drama | Sci-Fi | Supernatural
Sinopsis:Kematian sang kakak, membuat Ariel Sadewa menjadi seorang pendendam. Dendam itu mengubahnya menjadi seorang pahlawan super bernama `Waysteel`, yang memiliki misi melenyapkan `Rahwana`, makhluk yang mengancam populasi manusia, sekaligus makhluk yang membunuh kakaknya beberapa tahun silam.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Spoiler for Chapter List:
Part 1
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:34
0
8.2K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#5
Spoiler for Part 1 Act 3:
Jalan setapak Kota Sheraton. Pukul 21:00 WIB.
Di jalan sepi dengan penerangan minim dan banyak pepohonan, seorang pria berkepala plontos dengan setelan jaket cokelat, kaos putih, lengkap dengan celana jeans panjang biru berjalan selangkah demi selangkah dengan sekuntum mawar merah di tangannya. Sepatu pantovel hitam yang melapisi kakinya membuat penampilannya nampak elegan.
Di sebuah bangku panjang kayu warna coklat, seorang gadis bertubuh indah dengan kaos merah dan sweater serta hotpants biru tengah bersandar dengan kepala tertunduk karena fokus dengan handphone yang sedang ia mainkan.
Sang pria yang melihat gadis itu, segera menghampirinya.
“Selamat malam, Priska…,” sapa pria itu dengan logat `kebarat-baratan`.
Gadis tersebut menegakkan kepalanya, menatap pria itu. Yap, dia adalah Priska anggota Trio Pelangi.
“Eh Romy… Akhirnya dateng juga,” ucap Priska sambil tersenyum.
“Oiya Pris, nih bunga mawar buat kamu.” Romy menyodorkan bunga mawarnya ke Priska.
“Makasih…” Priska menerimanya, kemudian tersenyum. “Ayo duduk.”
Romy pun duduk disamping Priska. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan mengambil sesuatu dari sana: Sebatang cokelat. Kemudian ia menyodorkan cokelat tersebut pada Priska. “Nih Pris. Ada lagi.”
“Wah, cokelat ya? Nggak deh, aku takut gemuk,” jawab Priska.
“Oh… Yaudah.” Romy kembali memasukkan cokelat itu ke saku jaketnya.
“Ehm … Ngomong-ngomong kok kita ketemuannya di tempat sepi kayak gini?” tanya Priska.
“Nggak kenapa-napa kok.. Cuma biar nggak ada yang ganggu aja,” jawab Romy. “Oiya Pris…,”
“Ng?” Priska menaikkan alisnya.
“Aku boleh ngomong jujur nggak sama kamu?” Romy bertanya.
“Boleh, mau ngomong apa?”
Romy menggenggam kedua jari Priska, lalu menatap matanya. Kontan saja gadis itu kaget. Jantungnya pun berdebar-debar. Ia seperti tidak bisa menolak pesona pria tampan seperti Romy.
“Sejak kemarin aku kenal kamu, aku …,” ucapan Romy terhenti.
“Apa?” tanya Priska.
Setelah berkata demikian, tiba-tiba mata Romy berubah menjadi merah dan sepasang taring panjang nan runcing mencuat di bibirnya. “Aku mau darah kamu!”
“Gyaaaakkhh!!!!” Priska menjerit histeris, kemudian bangkit dari bangku dan menjauh dari Romy.
Pada saat yang hampir bersamaan, Romy juga bangkit dari bangku.
“Jangan mendekat!!” tahan Priska seraya mengangkat kedua telapak tangannya ke depan.
Namun, Romy tidak menghiraukannya, ia terus berjalan perlahan mendekati Priska. “Darah… Darah…”
“Jangan mendekat!! Jangan mendekat!!” Priska terus mundur. Romy terus berjalan mendekatinya.
Tidak lama kemudian, Romy melompat dengan posisi hendak menerkam.
“Gyaaaaakhhh!!” teriak Priska. Untunglah ia bisa menghindar dari terkaman Romy. Lalu tanpa fikir panjang, ia langsung berlari dari tempat itu.
Romy pun mengejarnya.
Priska berlari sekuat yang ia mampu, berkelok sana-sini agar selamat dari kejaran Romy
Romy melompat. Dan tiba beberapa meter di depan Priska. Mata merah serta taring panjangnya membuat gadis itu kembali menjerit. Ketika Priska berbalik hadap dan hendak berlari, ia terjatuh.
Priska terus berusaha menyeret mundur tubuhnya kala Romy berjalan mendekat. Tubuh Priska gemetaran, diikuti dengan keringat dingin yang terus menerus bercucuran.
“Kamu itu sebenernya makhluk apa sih??” tanya Priska dengan bibir bergetar. Jantungnya terus berdetak cepat.
“Rahwana,” jawab Romy.
“Rahwana?” Dahi Priska mengernyit.
“Ya. Rahwana adalah makhluk abadi. Nggak seperti kalian, manusia. Sekarang, kamu nggak bisa kemana-mana lagi,” balas Romy.
Saat itu, Priska yang melihat beberapa potong besi yang bertebaran disekitarnya, mengambil salah satu potongan besi tersebut. Besi yang diambil adalah besi dengan ujung runcing.
Di waktu yang hampir bersamaan, Romy meloncat untuk menerkam Priska.
Namun…
CRATS!
Dada sebelah kiri Romy tertembus oleh besi yang dipegang Priska.
Mata Romy melotot. Tubuhnya pun melemas. Priska cepat-cepat membuang tubuh itu ke samping. Dengan nafas tersenggal-senggal gadis itu berdiri. Ia menyenggol-nyenggol tubuh Romy dengan kakinya.
“Dia mati. Gue udah nusuk jantungnya. G-g-gue … Gue pembunuh!” kata Priska dengan wajah cemas, seraya melihat kedua telapak tangannya. “GUE PEMBUNUUHH!!!”
Setelah berteriak, ia berlari tak tentu arah dengan penuh kepanikan. Ia kemudian berhenti di tempat yang lebih terang, lalu bersandar di sebuah pohon dan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tangisan gadis itu tumpah seketika. Perasaannya sekarang campur aduk antara sedih, cemas, dan ketakutan. Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tapi setidaknya, ia bisa bernafas lega, karena sudah lepas dari bahaya yang baru ia temui sekali seumur hidup.
Di saat gadis itu tengah terisak, dari balik pohon tempat ia bersandar, mencuat sepotong tangan memberikan sapu tangan padanya.
Tanpa terbesit apapun di benaknya, Priska mengambil sapu tangan itu. “Makasih,” ucapnya. Ia pun mengelap wajahnya yang digenangi air mata. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ia berhenti mengelap wajah karena tersadar akan satu hal. “Yang ngasih nih sapu tangan siapa??” tanyanya.
Pertanyaan Priska pun langsung terjawab begitu Romy tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Aku,” ucap Romy. Dada sebelah kirinya masih tertancap oleh besi.
Priska pun terperanjat dan segera menyingkir dari sana. “K-k-kok bisa?? Bukannya kamu … Kamu udah …”
“Mati?” timpal Romy. “Akhahahaha… Udah aku bilang kan, Rahwana itu makhluk abadi…” Ia lalu mencabut besi yang menancap di dada sebelah kirinya tersebut. Seketika, lukanya kembali menutup dan pulih seperti sediakala, tanpa bekas.
“I-ini nggak mungkin! Ini nggak mungkiinnn!!!” Priska lalu berlari sekuat tenaga dari tempat itu.
Namun, beberapa meter kemudian, ia kembali melihat Romy beberapa langkah dihadapannya.
Priska pun terperanjat dan menjerit histeris. “Kyaaakkhh!!!” Tanpa fikir panjang, ia berbalik arah lalu berlari lagi.
Romy mengejarnya. Priska semakin ketakutan.
Tidak lama kemudian, Romy melompat tinggi dengan posisi hendak menerkam.
“Kamu udah nggak bisa kemana-mana lagi seka-”
Ucapan Romy tiba-tiba terhenti, persis ketika tubuhnya ditabrak oleh sepeda motor `futuristik` warna hitam berknalpot satu di atas roda yang terbang dari arah kiri. Tubuh Romy pun terlempar dan terguling-guling. Sementara sepeda motor hitam yang menabraknya mendarat mulus serta mendecit di tanah, tepat ketika pengendaranya menekan rem.
Pengendara motor berpakaian serba hitam itu melepas helmnya.
Priska menoleh lalu membalikkan badannya. Di waktu yang hampir bersamaan, pengendara motor hitam itu menoleh ke arahnya.
“Pergi!” perintah si pengendara motor. Wajah yang sangat dikenal oleh Priska. Teman sekampusnya yang belum lama ini ia maki-maki di Food Court.
“Ariel?? Elo-”
“Pergi sekarang!” potong Ariel. “Biar saya yang urus orang itu!”
Merasa tak punya jawaban, Priska pun segera pergi dari sana.
Kini, hanya tinggal Ariel dan Romy saja. Romy sudah kembali berdiri.
“HEH! Siapa kamu?? Berani-beraninya nabrak saya kayak gitu?!” ujar Romy
“Wajah itu!” Ariel tersentak. Tiba-tiba fikirannya melayang ke 13 tahun silam.
Ariel teringat pada seorang pemuda berusia belasan tahun yang hendak memukul pria berkepala plontos sambil meloncat. Wajah, bahkan tubuh pria berkepala plontos itu sangat serupa dengan Romy. Sayangnya, lengan kiri pemuda yang digunakan untuk memukul pria berkepala plontos tersebut tiba-tiba ditebas oleh seseorang yang datang dari arah lain. Orang itu adalah pria berambut panjang dengan jaket biru.
Kemudian si kepala plontos meninju perut orang yang hendak meninjunya tadi hingga orang tersebut terlempar dan masuk ke jurang.
“Kenapa diem? Apa maksud kamu, hah?!” tanya Romy.
“Jangan-jangan …,” batin Ariel. “Apa kamu tahu kejadian 13 tahun yang lalu?” tanya Ariel, seraya maju beberapa langkah.
“13 tahun yang lalu??” Dahi Romy mengernyit.
“Ya. 13 tahun yang lalu ada anak muda yang dipukul sampe masuk jurang sama orang yang persis kayak kamu. Sebelum dipukul, tangannya sempet ditebas sama orang berjaket biru.”
Romy berfikir sejenak, lalu terbahak, “Ahakhahahaha… Itu semua perbuatan saya. Saya yang pukul dia sampai masuk ke jurang. Lalu, pria berjaket biru itu, dia kawan saya, Hanzo. Kita semua tergabung dalam organisasi kegelapan yang hebat, Dark Rhapsody. Kenapa? Ada masalah?” tanyanya dengan penuh percaya diri.
Jari-jemari tangan Ariel langsung terkepal kencang. “Betul ternyata.”
“Bodoh! Buat apa saya kasih tahu dia!? Sial, gara-gara terlalu percaya diri, penyakit kelepasan ngomong ini kambuh lagi. Tapi udahlah,” gumam Romy. Ia kemudian berkata, “Oke, sekarang, karena kamu sudah buat saya yang hebat dan kuat ini marah, kamu akan merasakan akibatnya! HEAAAA!!!”
Romy lalu berlari menerjang Ariel dengan kedua tangan mengepal kuat.
“Bagus. Majulah!” ucap Ariel. Ia berdiri tegak dan memandang Romy dengan tatapan datar.
Begitu jarak Romy sudah dekat, pria kekar tersebut mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Ariel.
Dengan tenang, Ariel mundur 1 langkah ke belakang. Namun di saat bersamaan, tangan kiri Romy terayun ke wajah pria tinggi kurus itu. Akan tetapi, serangan Romy luput, karena Ariel menghindar ke samping kanan.
Ariel lalu mengangkat lengan kirinya, bersiap melayangkan pukulan. Mata Romy pun terfokus ke sana.
Akan tetapi, Ariel tidak lantas melepaskan kepalan tangan itu ke depan, ia menahannya dan malah menggunakan lututnya untuk menendang perut Romy.
Romy yang sama sekali tak menduga serangan tersebut terpental beberapa langkah ke belakang.
Ariel berdiri memandangi Romy dengan tatapan dingin. “Cuma segitu?”
Romy berusaha bangkit sembari menahan rasa sakit di perutnya. “Brengsek! Saya nggak nyangka ternyata kamu sama kuatnya seperti dia yang 13 tahun lalu saya buat masuk jurang. Siapa kamu sebetulnya?”
“Saya … Adik dari orang itu,” jawab Ariel datar. “Sekarang, waktunya pembalasan!”
“Hoo… Ternyata! Jadi kamu mau balas dendam, ha?! Permintaan dikabulkan!!!” Romy lalu berlari ke arah Ariel. Amarah bergemuruh di dadanya. “Balaslah kalau bisa!!!!”
Saat Romy merasa jaraknya sudah cukup dekat, dengan cepat ia menyapukan kaki kanannya guna menjatuhkan Ariel.
Ariel yang sudah membaca serangan Romy segera melompat pendek untuk menghindar. Namun, ia tak sadar kalau tinju Romy meluncur dan langsung menghantam dagunya dengan sangat keras.
Pemuda berjaket hitam panjang itu pun terpelanting ke atas. Dagunya terasa amat sakit, seolah rahangnya hampir bergeser. Kesadarannya pun hampir hilang. Tapi untunglah ia masih bisa bertahan menjaga kesadarannya meski dengan susah payah. Ia lalu melakukan salto sebanyak tiga kali putaran ke belakang, lalu mendarat mulus dengan posisi berlutut.
“Tcih!” Ariel menyeka luka di bibirnya, kemudian berdiri.
“Heeaahh!!!” Romy berlari ke arah Ariel, lalu memutar tubuhnya seraya melakukan tendangan lurus ke depan.
Namun, tendangan tersebut meleset karena Ariel mengelak mundur. Meski begitu, Romy tak menyerah dan melancarkan tendangan sekali lagi dengan kaki yang satunya.
Takk!
Ariel berhasil menepis tendangan itu menggunakan punggung tangan kirinya, kemudian tangan kanannya melayangkan tinju ke wajah Romy.
Romy menghindar ke samping, dan secepat mungkin mengayunkan tinju ke wajah Ariel.
Terkesiap, Ariel menangkap pergelangan tangan kiri Romy, lalu menarik seraya memuntir lengan laki-laki itu yang dilanjutkan dengan menendang perutnya beberapa kali menggunakan ujung sepatu dan menendang dadanya sekuat tenaga hingga pemuda berkepala botak tersebut terpental serta terguling-guling ke belakang.
Romy berusaha bangkit sembari memegangi dadanya yang nyeri dan sesak. Pada saat yang sama, Ariel berjalan secara perlahan menghampirinya. Tatapannya yang tajam dan dingin menusuk mata Romy.
“T-tunggu! Istirahat sebentar,” tahan Romy ketika Ariel sudah dekat.
Ariel yang tak mempedulikan hal itu langsung menendang kuat tempurung kaki Romy. Tubuh pria kekar tersebut jungkir balik di udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya punggung serta kepalanya menubruk keras salah satu pohon yang ada disana.
Tubuh Romy merosot. Ia lalu berusaha berdiri walau rasa sakit mendera disekujur tubuhnya.
“Keparat!! Sekarang, kamu akan benar-benar mati!!!” teriak Romy penuh amarah sambil mengepal kedua tangannya dan ia letakkan di depan dada, membentuk tanda silang. “Senjata!!” serunya.
Secara ajaib, kedua tangan Romy langsung dibungkus oleh sepasang sarung tangan panjang batas siku berwarna cokelat dengan permata bulat pada kedua punggung tangannya.
“Matilah kau!!!” teriak Romy, seraya berlari menuju lawannya, Ariel.
Begitu merasa cukup dekat, Romy pun melompat tinggi dan meluncur ke bawah dengan posisi menghantamkan kedua kepalan tangannya ke arah kepala Ariel.
Beruntung Ariel segera melompat mundur begitu serangan Romy datang. Alhasil, serangan tersebut mengenai jalanan hingga hancur. Puing-puingnya berhambur kemana-mana.
Pada posisi yang masih melayang di udara, Ariel melakukan tendangan berputar. Ujung sepatunya sukses mendarat di wajah Romy. Menyebabkan kepala pria botak itu berpaling.
Tapi, Romy masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Secepat mungkin tangan kirinya mencengkram leher Ariel yang masih melayang beberapa senti dari tanah. Cengkraman berhasil.
Ariel mencoba melepaskan cengkraman Romy dari lehernya. Namun itu semua percuma. Cengkraman Romy begitu kuat. Ariel hampir kehabisan nafas.
“Khuhuhu…” Romy menyeringai. Kemudian mengepal jari tangan kanannya kuat-kuat. “Matilah!!” teriaknya, sebelum akhirnya menghantamkan tinju persis di perut lawannya.
Ariel pun mencelat jauh ke belakang. Untunglah ketika tubuhnya hampir menyentuh tanah, ia langsung menggunakan kedua kakinya sebagai penopang, walaupun ia tetap menerima konsekuensi yaitu terseret mundur sejauh beberapa meter.
Begitu tubuhnya berhenti terseret mundur, Ariel mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Sembari memegangi perutnya yang sakit bukan main, ia berusaha mengumpulkan kembali tenaganya agar tetap bertahan di pertarungan.
Ariel menyingkap bagian jaket sebelah kanannya. Disana menggantung sebilah pedang berwarna hitam yang terbungkus rapih dengan sarungnya. Ariel mengambil pedang yang menempel pada magnet yang ada di jaketnya tersebut.
Perlahan, ia mengeluarkan pedang bergagang hitam tersebut dari sarungnya. Saat dikeluarkan, pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.
Pada saat bersamaan, Romy sudah terlihat dari kejauhan. Sementara Ariel sudah siap dengan pedangnya. Pedang dengan pembatas berbentuk bulan sabit dan di tengahnya terdapat lampu bundar berwarna merah dengan bagian tepi lampu yang saling menyambung satu persatu seolah melingkari bagian tengah lensanya.
Ariel mengambil kuda-kuda sebentar, lalu memutar pedangnya seperti baling-baling. Sesaat setelah itu, pedang tersebut berputar cepat dihadapan Ariel dengan sendirinya. Kemudian ia menyentakkan telapak tangan kanannya ke depan. Di waktu bersamaan, pedang pun melesat ke depan dan lama kelamaan posisinya berubah jadi seperti boomerang, menuju ke arah Romy. Ketika pedang sedang menuju target, Ariel berlari mengikuti.
Romy memasang posisi siaga. Saat pedang itu sudah mendekat, ia segera meninjunya hingga terlempar. Namun, ia tidak sadar kalau Ariel juga tiba dihadapannya, sesaat setelah ia meninju pedang itu. Romy pun terkena bogem mentah dari Ariel persis di wajahnya, membuat pria botak dan atletis itu dibuat mundur dari posisi awalnya.
Pedang yang tadi ditinju Romy kembali lagi ke tangan Ariel.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ariel segera mengayunkan pedangnya guna menyerang Romy.
Namun, dengan sigap Romy mengelak mundur. Tebasan selanjutnya dari Ariel juga berhasil ia hindari dengan mundur sekali lagi. Dan pada tebasan yang ketiga, Romy menepis sabetan pedang Ariel menggunakan sarung tangannya.
Tidak mau kalah, Ariel kembali mengayunkan dan menyabetkan pedangnya pada Romy. Sekali lagi, Romy mampu mengantisipasi serangan tersebut, menangkis dengan sarung tangannya.
Ariel yang merasa tidak puas menekan pedangnya yang saat itu masih menempel dengan punggung tangan kiri Romy sekuat tenaga. Di saat bersamaan, Romy menahan serangan itu dengan kekuatan penuh. Ia juga memakai tangan yang satunya sebagai tambahan tenaga.
Mereka berdua saling adu kekuatan untuk beberapa saat…
Sampai pada akhirnya, duel kekuatan itu dimenangkan oleh Romy.
Di saat kedua tangan Ariel terhentak ke atas, Romy mengayunkan tinju ke arah perutnya.
Akan tetapi, Ariel yang menyadari datangnya serangan tersebut mengelak ke samping, lalu menebaskan pedangnya ke tubuh Romy. Tebasan itu sukses membuat goresan memanjang diagonal di tubuh Romy. Tidak cukup sampai disitu, Ariel menebas tubuh Romy sekali lagi secara diagonal pada sisi yang lain. Romy pun terguling.
Ketika bangkit, pakaian Romy sobek-sobek, membentuk tanda silang serta mengeluarkan banyak darah.
Ariel berdiri menatap Romy dengan tatapan dingin.
“Cih! Jangan senang dulu, bung!” geram Romy. Secara perlahan, lukanya kembali menutup. Begitu pula dengan pakaiannya, kembali seperti sediakala.
Ariel tersentak.
Romy tersenyum miring. “Menarik juga. Kayaknya … Sekarang saya harus lebih serius.” Ia lalu meninju tanah sekuat tenaga dengan kedua tangannya sambil berteriak, “ARMOR!!”
Tanah pun berhamburan. Kali ini, kuantitasnya jauh lebih banyak.
Tanah-tanah tersebut lalu menempel di bagian-bagian tubuh Romy, dari ujung kaki hingga ujung kepala, kecuali tangan yang sudah dilapisi sarung tangan. Tanah-tanah itu membentuk pakaian pelindung berwarna coklat dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Helmnya tampak menyeramkan dengan dua tanduk di kepalanya.
“Akhahahahaha… Khahahahahaha!!!” tawa Romy. Suaranya berubah menjadi berat dan menakutkan. “Sekarang, panggil saya `Strong`, orang paling kuat di dunia! Itulah nama saya yang sebenarnya. Siap-siaplah pulang tinggal nama, bung! Khu hahahaha!!!”
Di jalan sepi dengan penerangan minim dan banyak pepohonan, seorang pria berkepala plontos dengan setelan jaket cokelat, kaos putih, lengkap dengan celana jeans panjang biru berjalan selangkah demi selangkah dengan sekuntum mawar merah di tangannya. Sepatu pantovel hitam yang melapisi kakinya membuat penampilannya nampak elegan.
Di sebuah bangku panjang kayu warna coklat, seorang gadis bertubuh indah dengan kaos merah dan sweater serta hotpants biru tengah bersandar dengan kepala tertunduk karena fokus dengan handphone yang sedang ia mainkan.
Sang pria yang melihat gadis itu, segera menghampirinya.
“Selamat malam, Priska…,” sapa pria itu dengan logat `kebarat-baratan`.
Gadis tersebut menegakkan kepalanya, menatap pria itu. Yap, dia adalah Priska anggota Trio Pelangi.
“Eh Romy… Akhirnya dateng juga,” ucap Priska sambil tersenyum.
“Oiya Pris, nih bunga mawar buat kamu.” Romy menyodorkan bunga mawarnya ke Priska.
“Makasih…” Priska menerimanya, kemudian tersenyum. “Ayo duduk.”
Romy pun duduk disamping Priska. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan mengambil sesuatu dari sana: Sebatang cokelat. Kemudian ia menyodorkan cokelat tersebut pada Priska. “Nih Pris. Ada lagi.”
“Wah, cokelat ya? Nggak deh, aku takut gemuk,” jawab Priska.
“Oh… Yaudah.” Romy kembali memasukkan cokelat itu ke saku jaketnya.
“Ehm … Ngomong-ngomong kok kita ketemuannya di tempat sepi kayak gini?” tanya Priska.
“Nggak kenapa-napa kok.. Cuma biar nggak ada yang ganggu aja,” jawab Romy. “Oiya Pris…,”
“Ng?” Priska menaikkan alisnya.
“Aku boleh ngomong jujur nggak sama kamu?” Romy bertanya.
“Boleh, mau ngomong apa?”
Romy menggenggam kedua jari Priska, lalu menatap matanya. Kontan saja gadis itu kaget. Jantungnya pun berdebar-debar. Ia seperti tidak bisa menolak pesona pria tampan seperti Romy.
“Sejak kemarin aku kenal kamu, aku …,” ucapan Romy terhenti.
“Apa?” tanya Priska.
Setelah berkata demikian, tiba-tiba mata Romy berubah menjadi merah dan sepasang taring panjang nan runcing mencuat di bibirnya. “Aku mau darah kamu!”
“Gyaaaakkhh!!!!” Priska menjerit histeris, kemudian bangkit dari bangku dan menjauh dari Romy.
Pada saat yang hampir bersamaan, Romy juga bangkit dari bangku.
“Jangan mendekat!!” tahan Priska seraya mengangkat kedua telapak tangannya ke depan.
Namun, Romy tidak menghiraukannya, ia terus berjalan perlahan mendekati Priska. “Darah… Darah…”
“Jangan mendekat!! Jangan mendekat!!” Priska terus mundur. Romy terus berjalan mendekatinya.
Tidak lama kemudian, Romy melompat dengan posisi hendak menerkam.
“Gyaaaaakhhh!!” teriak Priska. Untunglah ia bisa menghindar dari terkaman Romy. Lalu tanpa fikir panjang, ia langsung berlari dari tempat itu.
Romy pun mengejarnya.
Priska berlari sekuat yang ia mampu, berkelok sana-sini agar selamat dari kejaran Romy
Romy melompat. Dan tiba beberapa meter di depan Priska. Mata merah serta taring panjangnya membuat gadis itu kembali menjerit. Ketika Priska berbalik hadap dan hendak berlari, ia terjatuh.
Priska terus berusaha menyeret mundur tubuhnya kala Romy berjalan mendekat. Tubuh Priska gemetaran, diikuti dengan keringat dingin yang terus menerus bercucuran.
“Kamu itu sebenernya makhluk apa sih??” tanya Priska dengan bibir bergetar. Jantungnya terus berdetak cepat.
“Rahwana,” jawab Romy.
“Rahwana?” Dahi Priska mengernyit.
“Ya. Rahwana adalah makhluk abadi. Nggak seperti kalian, manusia. Sekarang, kamu nggak bisa kemana-mana lagi,” balas Romy.
Saat itu, Priska yang melihat beberapa potong besi yang bertebaran disekitarnya, mengambil salah satu potongan besi tersebut. Besi yang diambil adalah besi dengan ujung runcing.
Di waktu yang hampir bersamaan, Romy meloncat untuk menerkam Priska.
Namun…
CRATS!
Dada sebelah kiri Romy tertembus oleh besi yang dipegang Priska.
Mata Romy melotot. Tubuhnya pun melemas. Priska cepat-cepat membuang tubuh itu ke samping. Dengan nafas tersenggal-senggal gadis itu berdiri. Ia menyenggol-nyenggol tubuh Romy dengan kakinya.
“Dia mati. Gue udah nusuk jantungnya. G-g-gue … Gue pembunuh!” kata Priska dengan wajah cemas, seraya melihat kedua telapak tangannya. “GUE PEMBUNUUHH!!!”
Setelah berteriak, ia berlari tak tentu arah dengan penuh kepanikan. Ia kemudian berhenti di tempat yang lebih terang, lalu bersandar di sebuah pohon dan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tangisan gadis itu tumpah seketika. Perasaannya sekarang campur aduk antara sedih, cemas, dan ketakutan. Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tapi setidaknya, ia bisa bernafas lega, karena sudah lepas dari bahaya yang baru ia temui sekali seumur hidup.
Di saat gadis itu tengah terisak, dari balik pohon tempat ia bersandar, mencuat sepotong tangan memberikan sapu tangan padanya.
Tanpa terbesit apapun di benaknya, Priska mengambil sapu tangan itu. “Makasih,” ucapnya. Ia pun mengelap wajahnya yang digenangi air mata. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ia berhenti mengelap wajah karena tersadar akan satu hal. “Yang ngasih nih sapu tangan siapa??” tanyanya.
Pertanyaan Priska pun langsung terjawab begitu Romy tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Aku,” ucap Romy. Dada sebelah kirinya masih tertancap oleh besi.
Priska pun terperanjat dan segera menyingkir dari sana. “K-k-kok bisa?? Bukannya kamu … Kamu udah …”
“Mati?” timpal Romy. “Akhahahaha… Udah aku bilang kan, Rahwana itu makhluk abadi…” Ia lalu mencabut besi yang menancap di dada sebelah kirinya tersebut. Seketika, lukanya kembali menutup dan pulih seperti sediakala, tanpa bekas.
“I-ini nggak mungkin! Ini nggak mungkiinnn!!!” Priska lalu berlari sekuat tenaga dari tempat itu.
Namun, beberapa meter kemudian, ia kembali melihat Romy beberapa langkah dihadapannya.
Priska pun terperanjat dan menjerit histeris. “Kyaaakkhh!!!” Tanpa fikir panjang, ia berbalik arah lalu berlari lagi.
Romy mengejarnya. Priska semakin ketakutan.
Tidak lama kemudian, Romy melompat tinggi dengan posisi hendak menerkam.
“Kamu udah nggak bisa kemana-mana lagi seka-”
Ucapan Romy tiba-tiba terhenti, persis ketika tubuhnya ditabrak oleh sepeda motor `futuristik` warna hitam berknalpot satu di atas roda yang terbang dari arah kiri. Tubuh Romy pun terlempar dan terguling-guling. Sementara sepeda motor hitam yang menabraknya mendarat mulus serta mendecit di tanah, tepat ketika pengendaranya menekan rem.
Pengendara motor berpakaian serba hitam itu melepas helmnya.
Priska menoleh lalu membalikkan badannya. Di waktu yang hampir bersamaan, pengendara motor hitam itu menoleh ke arahnya.
“Pergi!” perintah si pengendara motor. Wajah yang sangat dikenal oleh Priska. Teman sekampusnya yang belum lama ini ia maki-maki di Food Court.
“Ariel?? Elo-”
“Pergi sekarang!” potong Ariel. “Biar saya yang urus orang itu!”
Merasa tak punya jawaban, Priska pun segera pergi dari sana.
Kini, hanya tinggal Ariel dan Romy saja. Romy sudah kembali berdiri.
“HEH! Siapa kamu?? Berani-beraninya nabrak saya kayak gitu?!” ujar Romy
“Wajah itu!” Ariel tersentak. Tiba-tiba fikirannya melayang ke 13 tahun silam.
Ariel teringat pada seorang pemuda berusia belasan tahun yang hendak memukul pria berkepala plontos sambil meloncat. Wajah, bahkan tubuh pria berkepala plontos itu sangat serupa dengan Romy. Sayangnya, lengan kiri pemuda yang digunakan untuk memukul pria berkepala plontos tersebut tiba-tiba ditebas oleh seseorang yang datang dari arah lain. Orang itu adalah pria berambut panjang dengan jaket biru.
Kemudian si kepala plontos meninju perut orang yang hendak meninjunya tadi hingga orang tersebut terlempar dan masuk ke jurang.
“Kenapa diem? Apa maksud kamu, hah?!” tanya Romy.
“Jangan-jangan …,” batin Ariel. “Apa kamu tahu kejadian 13 tahun yang lalu?” tanya Ariel, seraya maju beberapa langkah.
“13 tahun yang lalu??” Dahi Romy mengernyit.
“Ya. 13 tahun yang lalu ada anak muda yang dipukul sampe masuk jurang sama orang yang persis kayak kamu. Sebelum dipukul, tangannya sempet ditebas sama orang berjaket biru.”
Romy berfikir sejenak, lalu terbahak, “Ahakhahahaha… Itu semua perbuatan saya. Saya yang pukul dia sampai masuk ke jurang. Lalu, pria berjaket biru itu, dia kawan saya, Hanzo. Kita semua tergabung dalam organisasi kegelapan yang hebat, Dark Rhapsody. Kenapa? Ada masalah?” tanyanya dengan penuh percaya diri.
Jari-jemari tangan Ariel langsung terkepal kencang. “Betul ternyata.”
“Bodoh! Buat apa saya kasih tahu dia!? Sial, gara-gara terlalu percaya diri, penyakit kelepasan ngomong ini kambuh lagi. Tapi udahlah,” gumam Romy. Ia kemudian berkata, “Oke, sekarang, karena kamu sudah buat saya yang hebat dan kuat ini marah, kamu akan merasakan akibatnya! HEAAAA!!!”
Romy lalu berlari menerjang Ariel dengan kedua tangan mengepal kuat.
“Bagus. Majulah!” ucap Ariel. Ia berdiri tegak dan memandang Romy dengan tatapan datar.
Begitu jarak Romy sudah dekat, pria kekar tersebut mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Ariel.
Dengan tenang, Ariel mundur 1 langkah ke belakang. Namun di saat bersamaan, tangan kiri Romy terayun ke wajah pria tinggi kurus itu. Akan tetapi, serangan Romy luput, karena Ariel menghindar ke samping kanan.
Ariel lalu mengangkat lengan kirinya, bersiap melayangkan pukulan. Mata Romy pun terfokus ke sana.
Akan tetapi, Ariel tidak lantas melepaskan kepalan tangan itu ke depan, ia menahannya dan malah menggunakan lututnya untuk menendang perut Romy.
Romy yang sama sekali tak menduga serangan tersebut terpental beberapa langkah ke belakang.
Ariel berdiri memandangi Romy dengan tatapan dingin. “Cuma segitu?”
Romy berusaha bangkit sembari menahan rasa sakit di perutnya. “Brengsek! Saya nggak nyangka ternyata kamu sama kuatnya seperti dia yang 13 tahun lalu saya buat masuk jurang. Siapa kamu sebetulnya?”
“Saya … Adik dari orang itu,” jawab Ariel datar. “Sekarang, waktunya pembalasan!”
“Hoo… Ternyata! Jadi kamu mau balas dendam, ha?! Permintaan dikabulkan!!!” Romy lalu berlari ke arah Ariel. Amarah bergemuruh di dadanya. “Balaslah kalau bisa!!!!”
Saat Romy merasa jaraknya sudah cukup dekat, dengan cepat ia menyapukan kaki kanannya guna menjatuhkan Ariel.
Ariel yang sudah membaca serangan Romy segera melompat pendek untuk menghindar. Namun, ia tak sadar kalau tinju Romy meluncur dan langsung menghantam dagunya dengan sangat keras.
Pemuda berjaket hitam panjang itu pun terpelanting ke atas. Dagunya terasa amat sakit, seolah rahangnya hampir bergeser. Kesadarannya pun hampir hilang. Tapi untunglah ia masih bisa bertahan menjaga kesadarannya meski dengan susah payah. Ia lalu melakukan salto sebanyak tiga kali putaran ke belakang, lalu mendarat mulus dengan posisi berlutut.
“Tcih!” Ariel menyeka luka di bibirnya, kemudian berdiri.
“Heeaahh!!!” Romy berlari ke arah Ariel, lalu memutar tubuhnya seraya melakukan tendangan lurus ke depan.
Namun, tendangan tersebut meleset karena Ariel mengelak mundur. Meski begitu, Romy tak menyerah dan melancarkan tendangan sekali lagi dengan kaki yang satunya.
Takk!
Ariel berhasil menepis tendangan itu menggunakan punggung tangan kirinya, kemudian tangan kanannya melayangkan tinju ke wajah Romy.
Romy menghindar ke samping, dan secepat mungkin mengayunkan tinju ke wajah Ariel.
Terkesiap, Ariel menangkap pergelangan tangan kiri Romy, lalu menarik seraya memuntir lengan laki-laki itu yang dilanjutkan dengan menendang perutnya beberapa kali menggunakan ujung sepatu dan menendang dadanya sekuat tenaga hingga pemuda berkepala botak tersebut terpental serta terguling-guling ke belakang.
Romy berusaha bangkit sembari memegangi dadanya yang nyeri dan sesak. Pada saat yang sama, Ariel berjalan secara perlahan menghampirinya. Tatapannya yang tajam dan dingin menusuk mata Romy.
“T-tunggu! Istirahat sebentar,” tahan Romy ketika Ariel sudah dekat.
Ariel yang tak mempedulikan hal itu langsung menendang kuat tempurung kaki Romy. Tubuh pria kekar tersebut jungkir balik di udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya punggung serta kepalanya menubruk keras salah satu pohon yang ada disana.
Tubuh Romy merosot. Ia lalu berusaha berdiri walau rasa sakit mendera disekujur tubuhnya.
“Keparat!! Sekarang, kamu akan benar-benar mati!!!” teriak Romy penuh amarah sambil mengepal kedua tangannya dan ia letakkan di depan dada, membentuk tanda silang. “Senjata!!” serunya.
Secara ajaib, kedua tangan Romy langsung dibungkus oleh sepasang sarung tangan panjang batas siku berwarna cokelat dengan permata bulat pada kedua punggung tangannya.
“Matilah kau!!!” teriak Romy, seraya berlari menuju lawannya, Ariel.
Begitu merasa cukup dekat, Romy pun melompat tinggi dan meluncur ke bawah dengan posisi menghantamkan kedua kepalan tangannya ke arah kepala Ariel.
Beruntung Ariel segera melompat mundur begitu serangan Romy datang. Alhasil, serangan tersebut mengenai jalanan hingga hancur. Puing-puingnya berhambur kemana-mana.
Pada posisi yang masih melayang di udara, Ariel melakukan tendangan berputar. Ujung sepatunya sukses mendarat di wajah Romy. Menyebabkan kepala pria botak itu berpaling.
Tapi, Romy masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Secepat mungkin tangan kirinya mencengkram leher Ariel yang masih melayang beberapa senti dari tanah. Cengkraman berhasil.
Ariel mencoba melepaskan cengkraman Romy dari lehernya. Namun itu semua percuma. Cengkraman Romy begitu kuat. Ariel hampir kehabisan nafas.
“Khuhuhu…” Romy menyeringai. Kemudian mengepal jari tangan kanannya kuat-kuat. “Matilah!!” teriaknya, sebelum akhirnya menghantamkan tinju persis di perut lawannya.
Ariel pun mencelat jauh ke belakang. Untunglah ketika tubuhnya hampir menyentuh tanah, ia langsung menggunakan kedua kakinya sebagai penopang, walaupun ia tetap menerima konsekuensi yaitu terseret mundur sejauh beberapa meter.
Begitu tubuhnya berhenti terseret mundur, Ariel mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Sembari memegangi perutnya yang sakit bukan main, ia berusaha mengumpulkan kembali tenaganya agar tetap bertahan di pertarungan.
Ariel menyingkap bagian jaket sebelah kanannya. Disana menggantung sebilah pedang berwarna hitam yang terbungkus rapih dengan sarungnya. Ariel mengambil pedang yang menempel pada magnet yang ada di jaketnya tersebut.
Perlahan, ia mengeluarkan pedang bergagang hitam tersebut dari sarungnya. Saat dikeluarkan, pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.
Pada saat bersamaan, Romy sudah terlihat dari kejauhan. Sementara Ariel sudah siap dengan pedangnya. Pedang dengan pembatas berbentuk bulan sabit dan di tengahnya terdapat lampu bundar berwarna merah dengan bagian tepi lampu yang saling menyambung satu persatu seolah melingkari bagian tengah lensanya.
Ariel mengambil kuda-kuda sebentar, lalu memutar pedangnya seperti baling-baling. Sesaat setelah itu, pedang tersebut berputar cepat dihadapan Ariel dengan sendirinya. Kemudian ia menyentakkan telapak tangan kanannya ke depan. Di waktu bersamaan, pedang pun melesat ke depan dan lama kelamaan posisinya berubah jadi seperti boomerang, menuju ke arah Romy. Ketika pedang sedang menuju target, Ariel berlari mengikuti.
Romy memasang posisi siaga. Saat pedang itu sudah mendekat, ia segera meninjunya hingga terlempar. Namun, ia tidak sadar kalau Ariel juga tiba dihadapannya, sesaat setelah ia meninju pedang itu. Romy pun terkena bogem mentah dari Ariel persis di wajahnya, membuat pria botak dan atletis itu dibuat mundur dari posisi awalnya.
Pedang yang tadi ditinju Romy kembali lagi ke tangan Ariel.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ariel segera mengayunkan pedangnya guna menyerang Romy.
Namun, dengan sigap Romy mengelak mundur. Tebasan selanjutnya dari Ariel juga berhasil ia hindari dengan mundur sekali lagi. Dan pada tebasan yang ketiga, Romy menepis sabetan pedang Ariel menggunakan sarung tangannya.
Tidak mau kalah, Ariel kembali mengayunkan dan menyabetkan pedangnya pada Romy. Sekali lagi, Romy mampu mengantisipasi serangan tersebut, menangkis dengan sarung tangannya.
Ariel yang merasa tidak puas menekan pedangnya yang saat itu masih menempel dengan punggung tangan kiri Romy sekuat tenaga. Di saat bersamaan, Romy menahan serangan itu dengan kekuatan penuh. Ia juga memakai tangan yang satunya sebagai tambahan tenaga.
Mereka berdua saling adu kekuatan untuk beberapa saat…
Sampai pada akhirnya, duel kekuatan itu dimenangkan oleh Romy.
Di saat kedua tangan Ariel terhentak ke atas, Romy mengayunkan tinju ke arah perutnya.
Akan tetapi, Ariel yang menyadari datangnya serangan tersebut mengelak ke samping, lalu menebaskan pedangnya ke tubuh Romy. Tebasan itu sukses membuat goresan memanjang diagonal di tubuh Romy. Tidak cukup sampai disitu, Ariel menebas tubuh Romy sekali lagi secara diagonal pada sisi yang lain. Romy pun terguling.
Ketika bangkit, pakaian Romy sobek-sobek, membentuk tanda silang serta mengeluarkan banyak darah.
Ariel berdiri menatap Romy dengan tatapan dingin.
“Cih! Jangan senang dulu, bung!” geram Romy. Secara perlahan, lukanya kembali menutup. Begitu pula dengan pakaiannya, kembali seperti sediakala.
Ariel tersentak.
Romy tersenyum miring. “Menarik juga. Kayaknya … Sekarang saya harus lebih serius.” Ia lalu meninju tanah sekuat tenaga dengan kedua tangannya sambil berteriak, “ARMOR!!”
Tanah pun berhamburan. Kali ini, kuantitasnya jauh lebih banyak.
Tanah-tanah tersebut lalu menempel di bagian-bagian tubuh Romy, dari ujung kaki hingga ujung kepala, kecuali tangan yang sudah dilapisi sarung tangan. Tanah-tanah itu membentuk pakaian pelindung berwarna coklat dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Helmnya tampak menyeramkan dengan dua tanduk di kepalanya.
“Akhahahahaha… Khahahahahaha!!!” tawa Romy. Suaranya berubah menjadi berat dan menakutkan. “Sekarang, panggil saya `Strong`, orang paling kuat di dunia! Itulah nama saya yang sebenarnya. Siap-siaplah pulang tinggal nama, bung! Khu hahahaha!!!”
Spoiler for Strong Armor:
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:14
0
Kutip
Balas