TS
Ariel.Matsuyama
[Orific] Waysteel: Wayang Baja (Indonesian Superheroes)
Genre:Action | Drama | Sci-Fi | Supernatural
Sinopsis:Kematian sang kakak, membuat Ariel Sadewa menjadi seorang pendendam. Dendam itu mengubahnya menjadi seorang pahlawan super bernama `Waysteel`, yang memiliki misi melenyapkan `Rahwana`, makhluk yang mengancam populasi manusia, sekaligus makhluk yang membunuh kakaknya beberapa tahun silam.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Fic ini menceritakan tentang kisah Sang Wayang Baja dalam menumpas Rahwana.
Spoiler for Chapter List:
Part 1
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Part 2
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Part 3
[Act 1] [Act 2 (End)]
Part 4
[Act 1] [Act 2 (End)]
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 18:34
0
8.2K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#4
Spoiler for Part 1 Act 2:
Universitas Cahaya Sakti – Kota Sheraton. Selasa, 28 April 2020. Pukul 10:09 WIB.
“Pelangi pelangi… Alangkah indahmuuu…
Merah, kuning, hijau… Di langit yang biruuu…
Pelukismu aguunngg… Siapa gerangannn…?
Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan..
Oh.. Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan…”
Diatas panggung besar persegi panjang yang dihiasi karpet merah, tiga orang gadis baru saja membawakan lagu hasil cover mereka yang dipadukan dengan dance ala `Girlband Korea`.
Yang di sebelah kiri mengenakan kaos berwarna merah dan rambutnya rebonding lurus, yang tengah mengenakan kaos berwarna kuning dengan rambut dikuncir dua, sedangkan yang sebelah kanan mengenakan kaos berwarna hijau serta topi berwarna senada dengan kaosnya. Mereka bertiga mengenakan jaket yang sama yaitu biru. Wajah oriental, kulit putih mulus, serta body yang seksi, membuat mereka memiliki daya tarik tersendiri.
Orang-orang, yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, dekan, sampai rektor kampus memberikan applause dan tepuk tangan yang meriah untuk mereka.
Setelah melambai-lambaikan tangan pada para penonton, ketiga gadis itu turun dari panggung lewat samping, kemudian menuju jejeran kursi yang masih kosong dan duduk.
“Yakin gue hari ini kita bakalan menang lagi,” kata salah seorang gadis yang baru saja tampil tadi. Ia membetulkan posisi topinya yang agak miring. “Ya kan, Pris?” lanjut gadis bermata sayu dan berhidung kecil itu sambil menoleh ke kanan. Untuk beberapa saat ia mengetuk-ngetuk bibirnya yang sensual dengan jari telunjuknya.
“Jenny… kita ini Trio Pelangi. Merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Kita udah tiga tahun berturut-turut menangin kompetisi ini. Siapa coba yang bisa geser posisi kita?” ujar seorang gadis berambut rebonding panjang sepunggung dan bermata sipit yang duduk disamping gadis bertopi itu. Dengan mascara yang menghiasi matanya, bibir mungil, serta hidung yang sedikit mancung, membuatnya secantik boneka ‘barbie’.
“Eh!” Seorang gadis berkuncir dua menepuk bahu si gadis berambut rebonding. “Priska! Priska! Kunciran aku udah unyu-unyu belom sih??” tanyanya dengan nada halus dan lembut seraya memegangi rambut kuncir duanya.
Priska tersenyum lebar. “Udah, bonekaku Dhinda…. Hahaha…” Dengan gemas ia mencubit pipi tembam gadis berkuncir dua tersebut sambil tertawa.
Dhinda cemberut. “Sakit tahu, Pris. Mana ketawa, lagi. Apaan yang lucu sih?”
“Hahaha,” tawa Priska sekali lagi.“Ekspresi lo, tahu nggak!? Lucu gitu pas nanyain kunciran. Apalagi sekarang manyun gitu, bikin gue pengen nyubit lagi.”
“Eh, ja-jangan Pris!” tahan Dhinda. “Gue kan nanya gitu cuma takut penampilan gue nggak maksimal aja. Ntar gara-gara itu kita kalah, lagi.”
“Haha. Lo udah maksimal kok. Tenang aja, kita nggak mungkin kalah!” balas Priska.
Seorang pria tambun berumur kurang lebih tiga puluh tahun dengan jas hitam dan kumis panjang naik ke atas panggung, lalu berdiri di depan microphone bergagang panjang yang sedaritadi sudah disiapkan. Ia mengetuk-ngetuk mic tersebut beberapa kali sebagai check sound.
“Ehm ehm!” Pria tambun itu lalu berdahem. “Yak. Sekarang adalah hari terakhir dari `Kompetisi Mahasiswa Bertalenta` tahunan di kampus kita, sekaligus grand final yang menentukan siapakah yang pantas menyandang gelar `Mahasiswa Muda Bertalenta 2020`. Tujuan diadakannya kompetisi ini bukan untuk ajang cari sensasi, bukan untuk ajang sombong-sombongan, melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki generasi muda yang antusias dalam hal seni dan budaya, khususnya seni musik dan seni tari. Saya selaku panitia di kompetisi ini berharap, ke depannya mahasiswa-mahasiswa disini bisa terus berkarya hingga bisa menciptakan masterpiece yang dapat mengharumkan nama Indonesia. Sekarang, saya berdiri disini, adalah untuk mengumumkan siapa pemenang itu. Dan atas pertimbangan dari para dewan juri, pemenang Mahasiswa Bertalenta 2020, jatuh kepada………”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
Kaum pria bersorak-sorai meneriakkan nama Trio Pelangi dengan penuh semangat. Hal itu membuat Trio Pelangi jadi tambah percaya diri serta yakin bahwa mereka akan meraih juara lagi tahun ini. Mereka sudah tidak sabar mendengar nama apa yang akan keluar dari mulut si panitia selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
“Ariel Sadewa!!!”
JDAR! Bagai disambar kilat mendadak, Trio Pelangi shock, kaget mendengarnya. Ternyata apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Betul-betul tidak disangka kalau posisi mereka sekarang berhasil digeser oleh seorang penyanyi solo, Ariel Sadewa. Semangat mereka yang tadi berkobar pun langsung padam seketika.
“Wuuuuuu ….!!!!” sorak para laki-laki yang tadi meneriaki nama Trio Pelangi. Mereka kecewa karena ternyata bukan Trio Pelangi yang keluar sebagai pemenang.
Ruang Organisasi Univ. Cahaya Sakti. Pukul 10:30 WIB.
“UGH! Nyebelin tahu nggak si Ariel!? Pasti dia ngerasa hebat karena udah ngalahin kita!” Priska mencak-mencak. Darahnya mendidih ke ujung kepala. Perasaannya campur aduk saat ini. Untunglah cuma ada dia dan dua orang temannya di ruangan itu.
“Itu dewan juri nggak salah milih pemenang, apa?? Bisa-bisanya milih orang macem dia,” kata Jenny yang duduk di sofa putih dekat sudut ruangan.
Priska menghela nafas. “Entahlah. Yang jelas gue masih nggak bisa terima! Ngapain juga sih dia pake ikutan kompetisi yang selalu kita menangin?!”
“Hmm… Kayaknya sekarang kita udah dikalahin dalam segala hal deh sama si Ariel,” timpal Dhinda yang duduk disamping Jenny dengan nada lembut.
“Nah, itu!” tunjuk Priska pada Dhinda. “Cowok yang namanya Ariel, adalah cowok yang songong akut! Sengak! Belagu! Dan sifat-sifat sejenis lainnya! Pokoknya, tipe makhluk yang nggak banget dalem kamus hidup kita!”
Jenny mengangguk setuju. “Tuh anak satu emang nyebelin banget! Jadi inget dulu pas gue lagi tanding game di Timezone.”
Jenny pun bercerita. Dia adalah seorang gamers cewek yang selalu menang dalam game apapun.
Di Timezone, Jenny berhasil mengalahkan tujuh gamers cowok pro dalam game balap mobil Battle Gear. Saking bosannya, Jenny mengadakan taruhan: Siapapun cowok yang bisa mengalahkannya hari itu juga, maka ia bersedia jadi pacar orang tersebut dan mau melakukan apa saja.
Tentu saja para lelaki berlomba-lomba untuk mengalahkan Jenny. Tapi kenyataannya, tidak ada seorang pun yang sanggup mengalahkan gadis tomboy itu.
Sampai pada akhirnya, Ariel yang kebetulan lewat melihat hal tersebut dan menantang Jenny. Tidak disangka kalau Jenny dapat dikalahkan dengan mudah olehnya. Mau tidak mau, Jenny pun menepati janjinya. Namun, Ariel hanya mengucapkan beberapa patah kata: “Kamu bukan tipe saya.” sebelum akhirnya berjalan begitu saja meninggalkannya.
Reputasi gadis itu langsung hancur seketika. Selama ini tidak pernah ada satu pun laki-laki yang menolaknya, bahkan selalu mengejar-ngejarnya. Tapi kali ini, dia ditolak mentah-mentah di depan banyak orang.
“Aku juga jadi inget pas dipecundangin sama dia bulan kemaren,” ucap Dhinda setelah mendengar Jenny bercerita. “Kejadiannya pas aku lagi ngelatih karate anak-anak SMP di taman.”
Dhinda lalu mulai menceritakannya. Sebulan yang lalu, di sebuah taman sore hari, ia yang tengah melatih anak-anak SMP direcoki rombongan preman dengan beladiri gaya bebas. Dhinda berhasil dikalahkan dengan mudah oleh mereka. Namun, saat itu, Ariel datang menolong. Semua preman yang jumlahnya delapan orang dibuat tumbang hanya dalam waktu tiga menit.
Meski berat, Dhinda pun mengucapkan terimakasih pada Ariel.
Murid-murid Dhinda yang kagum dengan kehebatan Ariel tertarik belajar beladiri yang ia gunakan. Ariel yang menyanggupi hal tersebut membuat Dhinda langsung kehilangan murid-muridnya saat itu juga.
“Wah, parah itu Dhin,” Priska geleng-geleng kepala mendengar cerita Dhinda.
Dhinda hanya bisa cemberut.
“Selain yang elo sama Jenny ceritain, gue juga punya pengalaman nyesek gara-gara dia. Pengalamannya pas gue ikut lomba Cerdas Cermat antar kota.” Priska melanjutkan kata-katanya, kemudian mulai menceritakan pengalamannya.
Di suatu kesempatan, Priska yang memiliki IQ tinggi mengikuti lomba Cerdas Cermat antar kota yang diselenggarakan oleh Walikota Sheraton. Selain mendapatkan hadiah besar, pemenangnya akan menjadi wakil Olimpiade Cerdas Cermat yang akan diadakan di Jepang.
Selepas SMA, Priska memiliki impian menjadi kebanggaan Indonesia dalam hal apapun. Lomba seperti itu jelas tidak disia-siakannya. Ia pun belajar keras dari pagi hingga malam berhari-hari demi impiannya.
Namun, ketika hari yang ditentukan tiba, Priska melihat Ariel tengah berdiri di barisan peserta tanpa ia duga sebelumnya.
Puncaknya, pada babak final, Priska yang sudah susah payah belajar sampai beberapa kali mengorbankan jam tidurnya, dikalahkan begitu saja oleh Ariel. Musnah sudah impian gadis itu.
Priska, Jenny, dan Dhinda, talenta mereka semua seolah tidak ada artinya jika berhadapan dengan Ariel. Belum lagi, pemuda itu selalu menggeser prestasi nilai Trio Pelangi di kampus, terutama Priska. Dan yang paling menyebalkan bagi Trio Pelangi adalah: Ariel mengalahkan mereka dalam hal yang mereka senangi.
“ARIEEELLL!!!!” teriak Priska dan Jenny serentak dengan hati yang dongkol.
Dhinda menutup kedua telinganya karena teriakan temannya yang menggema di seisi ruangan.
Food Court Univ. Cahaya Sakti, pukul 11:12 WIB.
Sebuah tempat makan bagi mahasiswa-mahasiswa yang hampir secara keseluruhan terdiri dari orang-orang elit dan anak pejabat.
Ruangannya full ac dengan lantai bercorak hitam putih yang terlihat bersih dan licin. Tiap-tiap meja makan persegi warna putih lengkap dengan bangku warna hitam yang ada disana, hampir semuanya sudah terisi penuh.
Tidak lama kemudian, semua mata lelaki tak berhenti berkedip kala salah seorang dari Trio Pelangi, Priska Agni, memasuki food court. Mereka terkesima dengan kecantikan serta keindahan tubuh gadis yang laksana boneka barbie itu. Bahkan sampai ada yang bersiul-siul menggoda serta menawarkan bangku untuknya. Tapi, Priska cuma membalas dengan senyuman termanisnya. Saking manisnya sampai membuat hidung beberapa lelaki mimisan.
“Daripada nungguin Jenny sama Dhinda yang lagi pada rempong minta nilai ke dosen, mending gue duluan aja,” ucap Priska.
Namun, tiba-tiba ia berhenti mendadak ketika melihat meja nomor `9` diisi oleh seorang pemuda berambut poni menyamping yang hampir menutupi sebelah matanya. Ia mengenakan baju berbahan kulit warna hitam yang cukup ketat dan dipadu balutan jaket panjang seperti jubah serta celana panjang jeans berwarna sama.
Alis mata tebal, hidung mancung, serta dagu yang panjang, membuat wajah pemuda itu terlihat menarik.
Matanya yang tajam dan datar tanpa ekspresi hanya terfokus pada makanan yang sedang ia santap: Semangkuk mie ayam bakso.
Priska mengernyitkan dahinya. “Ariel…??” matanya langsung memicing berbahaya seperti hendak menghajar orang. “Ngapain juga tu anak disitu?? Harus dikasih pelajaran nih!”
.
.
.
BRAK!
“Heh!” bentak Priska sambil memukul meja tempat Ariel makan.
Namun, gebrakan sekeras itu tidak membuat Ariel terkejut sama sekali. Ia masih saja makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ngapain lo disini, Ariel Sadewa?? Mau sok bergaya karena udah ngalahin kita, hah??” tanya Priska dengan nada tinggi.
Ariel masih tetap makan dengan tenang.
“Heh! Denger Nggak??”
Ariel masih tidak bergeming seperti tidak ada ancaman yang datang.
“Budek lo ya??” tanya Priska. “Lo tahu kan ini meja `khusus` tempat nongkrong gue sama temen-temen gue?! Bisa minggir nggak?!”
Untuk yang kesekian kalinya, Ariel tetap makan dengan tenang.
Lalu, setelah suapan terakhir, ia berdiri.
“Saya udah selesai. Sekarang, silahkan nikmatin mejanya,” kemudian ia beranjak dari tempatnya makan.
“Apa lo bilang??? Uuughh!!!” geram Priska. Diambilnya papan menu yang tergeletak di atas meja dan mencoba memukul Ariel dari belakang.
Begitu papan tersebut hampir menyentuh pundak Ariel, pemuda itu hanya mengelak tipis ke samping.
Alhasil, Priska meluncur begitu saja ke depan, tubuhnya menabrak salah seorang pelayan food court yang sedang membawa semangkuk Bakso hingga mangkuknya terpelanting ke atas. Dan ….
Pluk!
Mangkuk bakso itu menelungkup di kepala Priska seperti topi.
Priska mematung. Nafasnya tertahan sejenak dan Bibirnya membulat.
Sebagian Orang yang terdiri dari kaum hawa terbahak-bahak melihatnya, sementara kaum adam berlomba-lomba membantu Priska, mereka mengeluarkan tisu untuk membersihkan tumpahan bakso di baju gadis itu setelah mangkuk bakso tersebut disingkirkan dari kepalanya.
Priska malu setengah mati. Harga dirinya langsung jatuh saat itu juga.
Sedangkan Ariel, ia hanya melenggang pergi dengan wajah datar tanpa beban.
“Pelangi pelangi… Alangkah indahmuuu…
Merah, kuning, hijau… Di langit yang biruuu…
Pelukismu aguunngg… Siapa gerangannn…?
Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan..
Oh.. Pelangi pelangi… Ciptaan Tuhan…”
Diatas panggung besar persegi panjang yang dihiasi karpet merah, tiga orang gadis baru saja membawakan lagu hasil cover mereka yang dipadukan dengan dance ala `Girlband Korea`.
Yang di sebelah kiri mengenakan kaos berwarna merah dan rambutnya rebonding lurus, yang tengah mengenakan kaos berwarna kuning dengan rambut dikuncir dua, sedangkan yang sebelah kanan mengenakan kaos berwarna hijau serta topi berwarna senada dengan kaosnya. Mereka bertiga mengenakan jaket yang sama yaitu biru. Wajah oriental, kulit putih mulus, serta body yang seksi, membuat mereka memiliki daya tarik tersendiri.
Orang-orang, yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, dekan, sampai rektor kampus memberikan applause dan tepuk tangan yang meriah untuk mereka.
Setelah melambai-lambaikan tangan pada para penonton, ketiga gadis itu turun dari panggung lewat samping, kemudian menuju jejeran kursi yang masih kosong dan duduk.
“Yakin gue hari ini kita bakalan menang lagi,” kata salah seorang gadis yang baru saja tampil tadi. Ia membetulkan posisi topinya yang agak miring. “Ya kan, Pris?” lanjut gadis bermata sayu dan berhidung kecil itu sambil menoleh ke kanan. Untuk beberapa saat ia mengetuk-ngetuk bibirnya yang sensual dengan jari telunjuknya.
“Jenny… kita ini Trio Pelangi. Merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Kita udah tiga tahun berturut-turut menangin kompetisi ini. Siapa coba yang bisa geser posisi kita?” ujar seorang gadis berambut rebonding panjang sepunggung dan bermata sipit yang duduk disamping gadis bertopi itu. Dengan mascara yang menghiasi matanya, bibir mungil, serta hidung yang sedikit mancung, membuatnya secantik boneka ‘barbie’.
“Eh!” Seorang gadis berkuncir dua menepuk bahu si gadis berambut rebonding. “Priska! Priska! Kunciran aku udah unyu-unyu belom sih??” tanyanya dengan nada halus dan lembut seraya memegangi rambut kuncir duanya.
Priska tersenyum lebar. “Udah, bonekaku Dhinda…. Hahaha…” Dengan gemas ia mencubit pipi tembam gadis berkuncir dua tersebut sambil tertawa.
Dhinda cemberut. “Sakit tahu, Pris. Mana ketawa, lagi. Apaan yang lucu sih?”
“Hahaha,” tawa Priska sekali lagi.“Ekspresi lo, tahu nggak!? Lucu gitu pas nanyain kunciran. Apalagi sekarang manyun gitu, bikin gue pengen nyubit lagi.”
“Eh, ja-jangan Pris!” tahan Dhinda. “Gue kan nanya gitu cuma takut penampilan gue nggak maksimal aja. Ntar gara-gara itu kita kalah, lagi.”
“Haha. Lo udah maksimal kok. Tenang aja, kita nggak mungkin kalah!” balas Priska.
Seorang pria tambun berumur kurang lebih tiga puluh tahun dengan jas hitam dan kumis panjang naik ke atas panggung, lalu berdiri di depan microphone bergagang panjang yang sedaritadi sudah disiapkan. Ia mengetuk-ngetuk mic tersebut beberapa kali sebagai check sound.
“Ehm ehm!” Pria tambun itu lalu berdahem. “Yak. Sekarang adalah hari terakhir dari `Kompetisi Mahasiswa Bertalenta` tahunan di kampus kita, sekaligus grand final yang menentukan siapakah yang pantas menyandang gelar `Mahasiswa Muda Bertalenta 2020`. Tujuan diadakannya kompetisi ini bukan untuk ajang cari sensasi, bukan untuk ajang sombong-sombongan, melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki generasi muda yang antusias dalam hal seni dan budaya, khususnya seni musik dan seni tari. Saya selaku panitia di kompetisi ini berharap, ke depannya mahasiswa-mahasiswa disini bisa terus berkarya hingga bisa menciptakan masterpiece yang dapat mengharumkan nama Indonesia. Sekarang, saya berdiri disini, adalah untuk mengumumkan siapa pemenang itu. Dan atas pertimbangan dari para dewan juri, pemenang Mahasiswa Bertalenta 2020, jatuh kepada………”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
“Trio.. Pelangi!!!”
Kaum pria bersorak-sorai meneriakkan nama Trio Pelangi dengan penuh semangat. Hal itu membuat Trio Pelangi jadi tambah percaya diri serta yakin bahwa mereka akan meraih juara lagi tahun ini. Mereka sudah tidak sabar mendengar nama apa yang akan keluar dari mulut si panitia selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
“Ariel Sadewa!!!”
JDAR! Bagai disambar kilat mendadak, Trio Pelangi shock, kaget mendengarnya. Ternyata apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Betul-betul tidak disangka kalau posisi mereka sekarang berhasil digeser oleh seorang penyanyi solo, Ariel Sadewa. Semangat mereka yang tadi berkobar pun langsung padam seketika.
“Wuuuuuu ….!!!!” sorak para laki-laki yang tadi meneriaki nama Trio Pelangi. Mereka kecewa karena ternyata bukan Trio Pelangi yang keluar sebagai pemenang.
Ruang Organisasi Univ. Cahaya Sakti. Pukul 10:30 WIB.
“UGH! Nyebelin tahu nggak si Ariel!? Pasti dia ngerasa hebat karena udah ngalahin kita!” Priska mencak-mencak. Darahnya mendidih ke ujung kepala. Perasaannya campur aduk saat ini. Untunglah cuma ada dia dan dua orang temannya di ruangan itu.
“Itu dewan juri nggak salah milih pemenang, apa?? Bisa-bisanya milih orang macem dia,” kata Jenny yang duduk di sofa putih dekat sudut ruangan.
Priska menghela nafas. “Entahlah. Yang jelas gue masih nggak bisa terima! Ngapain juga sih dia pake ikutan kompetisi yang selalu kita menangin?!”
“Hmm… Kayaknya sekarang kita udah dikalahin dalam segala hal deh sama si Ariel,” timpal Dhinda yang duduk disamping Jenny dengan nada lembut.
“Nah, itu!” tunjuk Priska pada Dhinda. “Cowok yang namanya Ariel, adalah cowok yang songong akut! Sengak! Belagu! Dan sifat-sifat sejenis lainnya! Pokoknya, tipe makhluk yang nggak banget dalem kamus hidup kita!”
Jenny mengangguk setuju. “Tuh anak satu emang nyebelin banget! Jadi inget dulu pas gue lagi tanding game di Timezone.”
Jenny pun bercerita. Dia adalah seorang gamers cewek yang selalu menang dalam game apapun.
Di Timezone, Jenny berhasil mengalahkan tujuh gamers cowok pro dalam game balap mobil Battle Gear. Saking bosannya, Jenny mengadakan taruhan: Siapapun cowok yang bisa mengalahkannya hari itu juga, maka ia bersedia jadi pacar orang tersebut dan mau melakukan apa saja.
Tentu saja para lelaki berlomba-lomba untuk mengalahkan Jenny. Tapi kenyataannya, tidak ada seorang pun yang sanggup mengalahkan gadis tomboy itu.
Sampai pada akhirnya, Ariel yang kebetulan lewat melihat hal tersebut dan menantang Jenny. Tidak disangka kalau Jenny dapat dikalahkan dengan mudah olehnya. Mau tidak mau, Jenny pun menepati janjinya. Namun, Ariel hanya mengucapkan beberapa patah kata: “Kamu bukan tipe saya.” sebelum akhirnya berjalan begitu saja meninggalkannya.
Reputasi gadis itu langsung hancur seketika. Selama ini tidak pernah ada satu pun laki-laki yang menolaknya, bahkan selalu mengejar-ngejarnya. Tapi kali ini, dia ditolak mentah-mentah di depan banyak orang.
“Aku juga jadi inget pas dipecundangin sama dia bulan kemaren,” ucap Dhinda setelah mendengar Jenny bercerita. “Kejadiannya pas aku lagi ngelatih karate anak-anak SMP di taman.”
Dhinda lalu mulai menceritakannya. Sebulan yang lalu, di sebuah taman sore hari, ia yang tengah melatih anak-anak SMP direcoki rombongan preman dengan beladiri gaya bebas. Dhinda berhasil dikalahkan dengan mudah oleh mereka. Namun, saat itu, Ariel datang menolong. Semua preman yang jumlahnya delapan orang dibuat tumbang hanya dalam waktu tiga menit.
Meski berat, Dhinda pun mengucapkan terimakasih pada Ariel.
Murid-murid Dhinda yang kagum dengan kehebatan Ariel tertarik belajar beladiri yang ia gunakan. Ariel yang menyanggupi hal tersebut membuat Dhinda langsung kehilangan murid-muridnya saat itu juga.
“Wah, parah itu Dhin,” Priska geleng-geleng kepala mendengar cerita Dhinda.
Dhinda hanya bisa cemberut.
“Selain yang elo sama Jenny ceritain, gue juga punya pengalaman nyesek gara-gara dia. Pengalamannya pas gue ikut lomba Cerdas Cermat antar kota.” Priska melanjutkan kata-katanya, kemudian mulai menceritakan pengalamannya.
Di suatu kesempatan, Priska yang memiliki IQ tinggi mengikuti lomba Cerdas Cermat antar kota yang diselenggarakan oleh Walikota Sheraton. Selain mendapatkan hadiah besar, pemenangnya akan menjadi wakil Olimpiade Cerdas Cermat yang akan diadakan di Jepang.
Selepas SMA, Priska memiliki impian menjadi kebanggaan Indonesia dalam hal apapun. Lomba seperti itu jelas tidak disia-siakannya. Ia pun belajar keras dari pagi hingga malam berhari-hari demi impiannya.
Namun, ketika hari yang ditentukan tiba, Priska melihat Ariel tengah berdiri di barisan peserta tanpa ia duga sebelumnya.
Puncaknya, pada babak final, Priska yang sudah susah payah belajar sampai beberapa kali mengorbankan jam tidurnya, dikalahkan begitu saja oleh Ariel. Musnah sudah impian gadis itu.
Priska, Jenny, dan Dhinda, talenta mereka semua seolah tidak ada artinya jika berhadapan dengan Ariel. Belum lagi, pemuda itu selalu menggeser prestasi nilai Trio Pelangi di kampus, terutama Priska. Dan yang paling menyebalkan bagi Trio Pelangi adalah: Ariel mengalahkan mereka dalam hal yang mereka senangi.
“ARIEEELLL!!!!” teriak Priska dan Jenny serentak dengan hati yang dongkol.
Dhinda menutup kedua telinganya karena teriakan temannya yang menggema di seisi ruangan.
Food Court Univ. Cahaya Sakti, pukul 11:12 WIB.
Sebuah tempat makan bagi mahasiswa-mahasiswa yang hampir secara keseluruhan terdiri dari orang-orang elit dan anak pejabat.
Ruangannya full ac dengan lantai bercorak hitam putih yang terlihat bersih dan licin. Tiap-tiap meja makan persegi warna putih lengkap dengan bangku warna hitam yang ada disana, hampir semuanya sudah terisi penuh.
Tidak lama kemudian, semua mata lelaki tak berhenti berkedip kala salah seorang dari Trio Pelangi, Priska Agni, memasuki food court. Mereka terkesima dengan kecantikan serta keindahan tubuh gadis yang laksana boneka barbie itu. Bahkan sampai ada yang bersiul-siul menggoda serta menawarkan bangku untuknya. Tapi, Priska cuma membalas dengan senyuman termanisnya. Saking manisnya sampai membuat hidung beberapa lelaki mimisan.
“Daripada nungguin Jenny sama Dhinda yang lagi pada rempong minta nilai ke dosen, mending gue duluan aja,” ucap Priska.
Namun, tiba-tiba ia berhenti mendadak ketika melihat meja nomor `9` diisi oleh seorang pemuda berambut poni menyamping yang hampir menutupi sebelah matanya. Ia mengenakan baju berbahan kulit warna hitam yang cukup ketat dan dipadu balutan jaket panjang seperti jubah serta celana panjang jeans berwarna sama.
Alis mata tebal, hidung mancung, serta dagu yang panjang, membuat wajah pemuda itu terlihat menarik.
Matanya yang tajam dan datar tanpa ekspresi hanya terfokus pada makanan yang sedang ia santap: Semangkuk mie ayam bakso.
Priska mengernyitkan dahinya. “Ariel…??” matanya langsung memicing berbahaya seperti hendak menghajar orang. “Ngapain juga tu anak disitu?? Harus dikasih pelajaran nih!”
.
.
.
BRAK!
“Heh!” bentak Priska sambil memukul meja tempat Ariel makan.
Namun, gebrakan sekeras itu tidak membuat Ariel terkejut sama sekali. Ia masih saja makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ngapain lo disini, Ariel Sadewa?? Mau sok bergaya karena udah ngalahin kita, hah??” tanya Priska dengan nada tinggi.
Ariel masih tetap makan dengan tenang.
“Heh! Denger Nggak??”
Ariel masih tidak bergeming seperti tidak ada ancaman yang datang.
“Budek lo ya??” tanya Priska. “Lo tahu kan ini meja `khusus` tempat nongkrong gue sama temen-temen gue?! Bisa minggir nggak?!”
Untuk yang kesekian kalinya, Ariel tetap makan dengan tenang.
Lalu, setelah suapan terakhir, ia berdiri.
“Saya udah selesai. Sekarang, silahkan nikmatin mejanya,” kemudian ia beranjak dari tempatnya makan.
“Apa lo bilang??? Uuughh!!!” geram Priska. Diambilnya papan menu yang tergeletak di atas meja dan mencoba memukul Ariel dari belakang.
Begitu papan tersebut hampir menyentuh pundak Ariel, pemuda itu hanya mengelak tipis ke samping.
Alhasil, Priska meluncur begitu saja ke depan, tubuhnya menabrak salah seorang pelayan food court yang sedang membawa semangkuk Bakso hingga mangkuknya terpelanting ke atas. Dan ….
Pluk!
Mangkuk bakso itu menelungkup di kepala Priska seperti topi.
Priska mematung. Nafasnya tertahan sejenak dan Bibirnya membulat.
Sebagian Orang yang terdiri dari kaum hawa terbahak-bahak melihatnya, sementara kaum adam berlomba-lomba membantu Priska, mereka mengeluarkan tisu untuk membersihkan tumpahan bakso di baju gadis itu setelah mangkuk bakso tersebut disingkirkan dari kepalanya.
Priska malu setengah mati. Harga dirinya langsung jatuh saat itu juga.
Sedangkan Ariel, ia hanya melenggang pergi dengan wajah datar tanpa beban.
=***=
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 11-04-2017 17:59
0
Kutip
Balas