- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tentang Penerus KAMI
...
TS
berkeringat
Kisah Tentang Penerus KAMI
Permisi semuanya...
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Quote:
Diubah oleh berkeringat 24-08-2015 21:21
anasabila memberi reputasi
1
2.8K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
berkeringat
#18
"Jirr...." Aku ngeri. Ngeri hingga sekujur tubuhku basah oleh keringat dingin. Kami--aku dan Rian--seolah baru saja diberi pertunjukan gratis yang menunjukkan bagaimana seorang anak SMU bisa berubah mengerikan seperti binatang. Ini terlalu liar melebihi imaji ku tentang bagaimana pertarungan anak SMU seharusnya. Dan sungguh, aku tak siap...
Apa yang terjadi setelah Baban terjengkang jatuh?
Sejujurnya, aku pikir mereka akan memukul Baban beramai-ramai. Namun tidak demikian. Semua masih sibuk masing-masing. Hanya Ibnu dan Samid yang berhadapan dengan Baban. Lalu seperti di film-film macho, Ibnu menepuk punggung Samid, memberinya kode. Samid menjauh, mencari mangsa lain yang masiiih amat banyak. Aku kehilangan pandangan, Samid menghilang di kerumunan.
Ibnu masih di sana, tanpa basa-basi, ia berlutut sebelah kaki. Tangan kanannya mengepal tinggi di udara....
Bruaaagh!!! Satu pukulan telak mendarat di wajah Baban. Tadinya ia sempat melawan dengan tangannya menyangga tubuh Ibnu agar tak mendekat, namun setelah satu pukulan itu. Semua usai bagi Baban. Ia lunglai di tanah, tenaganya habis menahan rasa sakit.
Ibnu masih belum selesai. Bruaghh! Dagghh! Jduggg!! Total empat pukulan hingga Baban benar-benar pingsan.
Apa yang terjadi saat itu?
Semua orang diam. Tanpa terkecuali.
Aku, yang berada cukup jauuh dari sana, bahkan tak sanggup berkata-kata. Apalagi mereka. Semua pandang mata bergidik ngeri melihat kejadian itu. Seperti di stop oleh remote tv, semua diam menyaksikan. Tak lagi berkelahi, tak ada lagi tinju.
Sedikit banyak aku bisa membayangkan apa yang terjadi disana. Dua orang kuat dengan selaku pemimpin kelompok masing-masing saling beradu pukul, namun, masih tetap tak imbang. Apalagi jika aku yang ada disana. Ditindih tubuhku oleh Ibnu dari atas, dipukuli dengan bogem mentah, menahan rasa sakit. Mungkin aku akan pingsan di pukulan pertama.
Sepersekian detik setelah Ibnu menghabisi Baban, semua orang tersadar dari ketakutannya sendiri.
Tanpa menunggu perintah dari siapapun, kelompok Baban berlari kabur dengan wajah ketakutan. Chaos, lebih kacau dari saat mereka datang. Beberapa dari mereka tertatih, ada yang terluka, namun tak peduli. Pilihan yang tepat sebelum Ibnu menghajar mereka semua.
Tapi, tunggu... Aku lupa satu hal...
Gawaat! Aku juga sebaiknya kaburrr!!
Apa yang terjadi setelah Baban terjengkang jatuh?
Sejujurnya, aku pikir mereka akan memukul Baban beramai-ramai. Namun tidak demikian. Semua masih sibuk masing-masing. Hanya Ibnu dan Samid yang berhadapan dengan Baban. Lalu seperti di film-film macho, Ibnu menepuk punggung Samid, memberinya kode. Samid menjauh, mencari mangsa lain yang masiiih amat banyak. Aku kehilangan pandangan, Samid menghilang di kerumunan.
Ibnu masih di sana, tanpa basa-basi, ia berlutut sebelah kaki. Tangan kanannya mengepal tinggi di udara....
Bruaaagh!!! Satu pukulan telak mendarat di wajah Baban. Tadinya ia sempat melawan dengan tangannya menyangga tubuh Ibnu agar tak mendekat, namun setelah satu pukulan itu. Semua usai bagi Baban. Ia lunglai di tanah, tenaganya habis menahan rasa sakit.
Ibnu masih belum selesai. Bruaghh! Dagghh! Jduggg!! Total empat pukulan hingga Baban benar-benar pingsan.
Apa yang terjadi saat itu?
Semua orang diam. Tanpa terkecuali.
Aku, yang berada cukup jauuh dari sana, bahkan tak sanggup berkata-kata. Apalagi mereka. Semua pandang mata bergidik ngeri melihat kejadian itu. Seperti di stop oleh remote tv, semua diam menyaksikan. Tak lagi berkelahi, tak ada lagi tinju.
Sedikit banyak aku bisa membayangkan apa yang terjadi disana. Dua orang kuat dengan selaku pemimpin kelompok masing-masing saling beradu pukul, namun, masih tetap tak imbang. Apalagi jika aku yang ada disana. Ditindih tubuhku oleh Ibnu dari atas, dipukuli dengan bogem mentah, menahan rasa sakit. Mungkin aku akan pingsan di pukulan pertama.
Sepersekian detik setelah Ibnu menghabisi Baban, semua orang tersadar dari ketakutannya sendiri.
Tanpa menunggu perintah dari siapapun, kelompok Baban berlari kabur dengan wajah ketakutan. Chaos, lebih kacau dari saat mereka datang. Beberapa dari mereka tertatih, ada yang terluka, namun tak peduli. Pilihan yang tepat sebelum Ibnu menghajar mereka semua.
Tapi, tunggu... Aku lupa satu hal...
Gawaat! Aku juga sebaiknya kaburrr!!
0