- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.7K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#56
Sebuah Kenyataan – Part 2.
Dering telpon membuatku terbangun. Dengan pandanganku yang masih buram ku raih telponku.
“Halo. Angga.“ suaranya tak asing ditelingaku.
“Yap, ada apa Ci?” tanyaku.
“Sibuk ga hari ini? Temenin Cici sepedahan. Ada yang ingin Cici ceritain ” Pintanya.
“Okey. “ Ujarku.
Suhu pagi Bandung selalu membuat gaya gravitasi antara kasur dengan manusia lebih besar. Rasanya lebih baik menarik selimut dan memejamkan kembali mata di hari Minggu ini. Namun yang membuat rasa dingin pagi ini hilang adalah keingin tahuanku tentang apa yang ingin Fani ceritakan? Beberapa pertanyaan bersahutan dalam fikiranku. Apa yang akan Fani ceritakan?
Saat kami masih dekat, memang hampir setiap hari minggu pagi kami habiskan bersama. Setelah taman, lapangan olahraga milik salah Pangkalan TNI adalah saksi bisu antara aku dan Fani.
Jarak dari rumahku menuju lapangan olahraga hanya sekitar 10 menit dengan menggunakan sepeda. Jalanan hari minggu lebih lenggang dari biasanya sehingga tak sulit untuk menyebrang.
Tet tet teret tet tet.
Lalu ku balas SMS dari Fani
Lapangan Olahraga milik TNI ini selalu menjadi favorit untuk menghabiskan hari minggu. Fasilitasnya pun cukup lengkap ada jogging track, lapangan sepakbola, lapangan futsal yang menyatu dengan lapangan basket, serta area fitness.
10 menit berlalu, kemana Fani? Bukannya ia dari tadi menungguku?
“Heh”, Ia mengagetkanku menepuk punggungku dengan keras.
“Katanya nungguin tapi malah jadi aku yang nungguin.” Ujarku ketus.
“Sorry sorry kebelet pipis tadi jadi ke toilet dulu.” Jawabnya.
“Duduk yuk.”
Kami duduk di pinggir lapangan basket. Kali ini Fani tak menggeraikan rambutnya, ia mengikat rambutnya. Ia tak banyak berubah hanya saja matanya berkantung.
“Ci, mau sepedaan kemana aja?” Aku mencoba membuka pembicaraan.
“Gatau sih. “ Jawabnya datar.
“Dih gabener kamu yang ngajak tapi gatau mau kemana.” Ujarku.
“Cici mau nyerita sesuatu. Tapi cici mohon kamu jangan marah ya?” Pintanya.
Deg, perasaanku tak menentu. Hatiku mulai tak karuan, apa yang akan Fani ceritakan?
Dering telpon membuatku terbangun. Dengan pandanganku yang masih buram ku raih telponku.
“Halo. Angga.“ suaranya tak asing ditelingaku.
“Yap, ada apa Ci?” tanyaku.
“Sibuk ga hari ini? Temenin Cici sepedahan. Ada yang ingin Cici ceritain ” Pintanya.
“Okey. “ Ujarku.
Suhu pagi Bandung selalu membuat gaya gravitasi antara kasur dengan manusia lebih besar. Rasanya lebih baik menarik selimut dan memejamkan kembali mata di hari Minggu ini. Namun yang membuat rasa dingin pagi ini hilang adalah keingin tahuanku tentang apa yang ingin Fani ceritakan? Beberapa pertanyaan bersahutan dalam fikiranku. Apa yang akan Fani ceritakan?
Saat kami masih dekat, memang hampir setiap hari minggu pagi kami habiskan bersama. Setelah taman, lapangan olahraga milik salah Pangkalan TNI adalah saksi bisu antara aku dan Fani.
Jarak dari rumahku menuju lapangan olahraga hanya sekitar 10 menit dengan menggunakan sepeda. Jalanan hari minggu lebih lenggang dari biasanya sehingga tak sulit untuk menyebrang.
Tet tet teret tet tet.
Quote:
Lalu ku balas SMS dari Fani
Quote:
Lapangan Olahraga milik TNI ini selalu menjadi favorit untuk menghabiskan hari minggu. Fasilitasnya pun cukup lengkap ada jogging track, lapangan sepakbola, lapangan futsal yang menyatu dengan lapangan basket, serta area fitness.
10 menit berlalu, kemana Fani? Bukannya ia dari tadi menungguku?
“Heh”, Ia mengagetkanku menepuk punggungku dengan keras.
“Katanya nungguin tapi malah jadi aku yang nungguin.” Ujarku ketus.
“Sorry sorry kebelet pipis tadi jadi ke toilet dulu.” Jawabnya.
“Duduk yuk.”
Kami duduk di pinggir lapangan basket. Kali ini Fani tak menggeraikan rambutnya, ia mengikat rambutnya. Ia tak banyak berubah hanya saja matanya berkantung.
“Ci, mau sepedaan kemana aja?” Aku mencoba membuka pembicaraan.
“Gatau sih. “ Jawabnya datar.
“Dih gabener kamu yang ngajak tapi gatau mau kemana.” Ujarku.
“Cici mau nyerita sesuatu. Tapi cici mohon kamu jangan marah ya?” Pintanya.
Deg, perasaanku tak menentu. Hatiku mulai tak karuan, apa yang akan Fani ceritakan?
JabLai cOY dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup