- Beranda
- Stories from the Heart
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
...
TS
wignyaharsono
MATA RANTAI - THE GHOST HUNTER
Halo Agan-agan Semua

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH

Selamat datang di Thread MATA RANTAI. Thread ini berisi cerita seri (serial dongeng) tentang seorang lelaki bernama JUNA JANUARDO yang diberi titah untuk meneruskan sebuah perusahaan supranatural. Ide ceritanya gue ambil dari beberapa film dan gue gabung-gabung. Inilah beberapa film yang menginspirasi gue.
1. Kingsman
2. Harry Potter
3. Hunger Games
4. Don Jon
5. Fifty Shade of Grey
7. Insidious
8. The Conjuring
Gabungan inspirasi kedelapan film itu menghasilkan sebuah plot cerita novel yang rencananya sekitar 40an BAB dengan judul MATA RANTAI.
Semoga berkenan dan selamat membaca. Just info, cerita ini juga aku muat di blog pribadi (www.wignyawirasana.com)
Salam Ndongeng,
WH
Quote:
Original Posted By wignyaharsono►
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
SINOPSIS
JUNA JANUARDO adalah seorang bisnisman yang sukses mengelola Digiforyou, sebuah perusahaan konsultan digital. Dia ganteng, kharismatik, dan semua wanita mendambakannya. Hidupnya baik-baik saja. Dia memilki keluarga yang bahagia, teman-teman menyenangkan, dan tentunya wanita-wanita yang mengantri untuk diajak jalan dengannya.
Hidupnya berubah dalam hitungan detik saat seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Juna adalah generasi Mata Keempat yang akan memimpin Mata Rantai, Perusahaan Non Government yang dilegalkan untuk mengurusi kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia gaib.
Ini adala kisah tentang perjuangan, ambisi, pengkhianatan, dan cinta yang dibumbui dengan dunia gaib dan teknologi.
INDEX
- PROLOG
- BAB 1
- BAB 2
- BAB 3
- BAB 4
- BAB 5
- BAB 6
- BAB 7
- BAB 8
- BAB 9
- BAB 10 (part 1)
- BAB 10 (part 2)
- BAB 11
- BAB 12
- BAB 13
- BAB 14
- BAB 15
- BAB 16
- BAB 17
- BAB 18 bagian pertama
- BAB 18 bagian kedua
- BAB 19
- BAB 20
- BAB 21
- BAB 22 bagian pertama
- BAB 22 bagian kedua
- BAB 23 bagian pertama
- BAB 23 bagian kedua
- BAB 24
- BAB 25 bagian pertama
- BAB 25 bagian kedua
- BAB 26
- BAB 27 bagian pertama
- BAB 27 bagian kedua
- BAB 28
- BAB 29
- BAB 30
- BAB 31
- BAB TERAKHIR
Diubah oleh wignyaharsono 08-11-2015 02:11
cumibakar217 dan 18 lainnya memberi reputasi
15
63.2K
Kutip
448
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•4Anggota
Tampilkan semua post
TS
wignyaharsono
#217
BAB 23 bagian pertama
Spoiler for BAB 23 Bagian Pertama:
Pagi hari berpuluh kilometer dari Mata Rantai.
Kawasan pinggiran kota Bekasi Timur semakin padat dengan pembangunan mall baru yang membujur dari timur ke barat di pinggiran tol Cikampek. Mall itu memang belum tampak wujudnya. Sekarang masih berupa bongkahan-bongkahan batu dan cor-coran. Alat-alat berat menderu-deru di sekitar proyek. Tak jauh dari tempat itu, sang arsitek sedang duduk menikmati segelas kopi pahit di sebuah rumah semi permanen yang terbuat dari potongan-potongan kayu. Ini sudah kopi keduanya. Diskusi panjang dengan kepala proyek, bagian pengembang, dan investor adalah diskusi panjang menguras otak. Ia ingin mempertahankan idealismenya, membangun sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Namun, idenya terpentok dengan kepala proyek dan dana investor. Jadi, dia harus memangkas idealismenya mengikuti apa yang semestinya.
Ben Lenwa, si arsitek itu, meneguk kopinya. Tiba-tiba ia merindukan Galeri Mahakarya. Ia merindukan saat mengerjakan proyek itu. Ketika ia bebas mengekspresikan semua idenya ke dalam kertas putih, mewujudkannya menjadi sebuah bangunan megah yang sesuai keinginannya. Alexa Crain sebagai investor tidak pernah ikut campur terhadap pembangunan Galeri Mahakarya. Lenwa bebas menuangkan idenya. Bukankah itu adalah puncak dari seorang pekerja seni, ketika ia bebas menuangkan apa yang ada di otaknya. Tanpa harus memperhatikan selera, dana, peraturan-peraturan, birokrasi. Dan ketika jadi, hasilnya memang sungguh luar biasa.
Kopi Lenwa tinggal ampasnya. Pria yang suka memakai topi itu melongok ke Titan klasiknya.
Sudah jam dua. Dia janji akan datang sejam yang lalu. Pikiran Lenwa mengembara ke pagi hari tadi. Saat ia hampir berangkat ke tempat kerja. Ponselnya berdering dan menampilkan satu nama yang tak pernah terpikirkan olehnya: Juna Mata. Terakhir ia bertemu CEO Mata Rantai itu beberapa bulan lalu. Semenjak kasus di rumahnya selesai, mereka tak pernah bertemu lagi. Namun, angin apa yang membawa CEO muda itu untuk menghubunginya tadi pagi. Ia tak mengerti.
Tepat saat matahari hampir menjadi semburat jingga dan para pekerja mulai duduk sambil mengipas wajah dengan potongan kardus, pria nomer satu di Mata Rantai berjalan tegap melewati bongkahan batu. Sesekali dia harus melompat dan menghindar. Di depannya, Ali, sang mandor, membimbingnya untuk menuju persinggahan Ben Lenwa.
Pasti ada sesuatu yang sangat penting.
Juna bilang bahwa dia terkena macet di TB Simatupang dan di Bekasi Barat. Ada truk terguling. Dan ponselnya habis baterai sementara dia lupa meletakkan kabel chargernya.
Juna tanpa banyak basa-basi, langsung ke pokok permasalahan. Sebelumnya, dia sedikit mengulur waktu agar si mandor segera meninggalkan mereka. Seperti tahu bahwa tamunya membutuhkan privasi, mandor Ali pergi meninggalkan Juna Mata dan Ben Lenwa di rumah semi permanen.
“Kopi?” tanya Lenwa setelah Ali pergi. Juna mengangguk. Tanpa gula, ujarnya.
Lenwa pun segera sadar bahwa sore itu akan menjadi sore yang panjang. Tamu yang ditawari minuman, kemudian menyetujuinya, seakan memberi isyarat bahwa dia butuh bersantai, bercerita, mengobrol cukup lama.
Secangkir kopi dengan asap membumbung segera hadir di hadapan Juna dibawakan oleh seorang gadis berambut ikal dari dapur. Juna menyeruputnya.
“Jadi apa yang bisa saya bantu? Tentunya Tuan Juna datang ke sini bukan untuk kembali menyelidiki apa yang terjadi tempo hari. Apakah ada yang lebih penting?” tanya Lenwa.
Tanpa bicara, Juna mengeluarkan secarik kertas yang ia sembunyikan di balik blezer hitamnya. Ia membentangkan kertas itu di atas meja kecil di depannya. Gambar itu menunjukkan sebuah gambar digital yang diprint dengan printer khusus. Sebuah sketsa foto digital.
“Apa ini?” tanya Lenwa sedikit kebingungan.
Foto itu adalah sebuah gambar menyeramkan. Seperti sebuah sudut suatu ruangan. Di sisi dinding kanan, ada meja kecil menempel dengan Mac di atasnya. Gambarnya tidak terlalu jelas. Namun, Lenwa masih bisa melihat ada seseorang bertubuh tinggi besar yang berdiri di dekat meja. Matanya merah menyala, rambut sebahu yang acak-acakkan, dan muka yang tidak terlalu jelas. Mulut Lenwa menganga saat melihat kaki orang itu tidak menapak lantai marmer di bawahnya.
“Siapa dia?” tanya Lenwa lagi. Mukanya berubah keruh.
“Namanya Roger. Kemarin dia mengikutiku. Asistenku menangkap sosoknya melalui kamera ultraviolet. Roger seolah ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Dan dia teman Andika.”
Lenwa menaruh kertas itu di atas meja. “Andika?”
“Ya, Andika. Mungkin Roger mengikutiku karena akulah yang telah berhasil mengusirnya dari tubuhmu, Lenwa. Dia terus mengikutiku, seolah ingin mengatakan sesuatu.”
Lenwa berdiri. “Aku sibuk sekarang, jadi mungkin….”
Juna tahu, Lenwa pasti tidak ingin hari-hari kelamnya kemarin diungkit kembali. Ia pasti tidak ingin berurusan dengan makhluk-makhluk itu.
“Aku tidak ingin melibatkanmu, Lenwa. Tapi, aku membutuhkan keterangan darimu.”
“Aku tidak tahu apa-apa. Lebih baik kamu segera pergi, Tuan. Aku harus bekerja.”
“Roger menyebutkan bahwa dia, Andika, dan mungkin puluhan makhluk lain terjebak di bawah Galeri Mahakarya.”
Lenwa seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Dia menoleh cepat, terkejut, dan seolah tertangkap basah oleh Juna bahwa ia mengetahui sesuatu. Ia duduk kembali di hadapan Juna, lalu kembali melihat kertas di hadapannya.
“Kamu pasti tahu sesuatu, Lenwa. Aku tahu itu.”
“Mengapa kamu ingin tahu?” tanya Lenwa.
“Tadi malam, aku mewawancarainya. Roger mengatakan bahwa dia sedang terperangkap di Galeri Mahakarya. Lalu dia menangis meraung-raung. Akhirnya aku kembali berkelana, menemuinya di dunia antara nyata dan akherat. Di sana, kutemukan dia menangis tersedu. Aku mencoba bertanya, dia hanya menggeleng-geleng. Namun, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menyingkirkan dirinya dan teman-temannya di Galeri Mahakarya. Seseorang yang dekat denganku, Lenwa. Namun dia tak mengatakannya padaku. Dia hanya bilang bahwa selain ingin menyingkirkan mereka, dia juga akan menghancurkanku, Lenwa.”
Lenwa menoleh. “Aku tak mengerti.”
“Aku kembali ke alam nyata, karena tiba-tiba dia menghilang. Aku tak bisa mengejarnya terlalu jauh karena aku takut tersesat di dunia itu. Jadi aku mewawancarainya lagi. Dan dia menuliskan satu nama di kertas.”
“Alexa Crain?” tebak Lenwa. Bertepatan dengan itu, Juna mengeluarkan kertas yang lain. Kertas yang ia bentangkan berdekatan dengan foto si makhluk tadi. Di sana ada nama Alexa Crain tertulis dengan pensil ultraviolet.
Juna mengangguk, seakan yakin bahwa Lenwa pasti akan mengatakan itu. “Awalnya aku kaget saat mengetahui apa yang ia tulis. Aku tak bisa berspekulasi apapun. Crain, dia adalah Chief Rantai. Dan dia sedikit banyak telah membantu perusahaan Mata Rantai. Dia jugalah yang selalu menentang Ronero. Aku tak percaya. Makanya, aku mencarimu untuk mencari tahu.”
Mandor Ali berjalan ke arah mereka, lalu duduk di kursi kayu di dekat rumah itu. Ia menyalakan rokok.
Lenwa berdiri, menyambar jaketnya. “Masih mau kopi lagi?” Dia memberi isyarat kepada Juna.
Juna mengerti akan isyarat itu. Dia ikutan berdiri. “Tentu saja. Namun, kopi di sini kurang enak. Apakah kita bisa ke kedai kopi terdekat?”
Mereka berdua tak benar-benar ke kedai kopi. Mobil Juna berjalan mulus di tol yang mengarah ke Jakarta. Lenwa sudah bilang ke mandor Ali bahwa dia harus pergi sebentar bersama kawannya.
Dalam perjalanan itu, pikiran Lenwa kembali ke malam itu. Malam di mana dia merasakan tubuhnya mendadak seperti melayang di udara. Malam saat ia mengitari Galeri Mahakarya untuk memastikan setiap detail dari Master Piece-nya itu. Ia limbung karena mendadak kepalanya pusing dan hampir saja dia menubruk pintu kaca di balkon lantai 2 Galeri Mahakarya. Dan dia melihat mukanya. Muka lelah dengan mata merah.
Dia seperti tidak melihat dirinya sendiri. Namun yang lebih mengejutkan bukanlah mukanya itu. Bukan muka yang bermata merah. Tetapi seseorang yang berdiri di belakangnya. Saat itu, Lenwa menoleh dan melihat dengan jelas orang itu. Orang itu tinggi besar, berambut acak-acakkan, dengan muka tak beraturan, dan mata merah seperti dirinya.
Lenwa mendorong pintu di belakangnya perlahan, dia berjalan mundur. Orang itu mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dia ingin menjerit, namun yang keluar justrulah suara orang lain. Suara serak. Suara Andika.
“Andika,”
“Roger,” ucap Lenwa, dengan suara serak.
Dan Lenwa langsung seperti terseret ke dunia lain yang gelap. Dia berteriak-teriak meminta tolong, namun tak ada yang menolongnya. Dia berlari ke sana ke mari. Terjauh, menubruk dinding, dan kemudian suatu hari dia menemukan Juna Mata berlari ke arahnya. Menuntunnya menuju pintu bercahaya.
“Aku pernah melihat makhluk yang ada di foto tadi, Tuan Juna. Di Galeri Mahakarya.” Detik kemudian, Lenwa menceritakan secara lengkap apa yang telah ia alami selama ini. Yang sejujurnya telah ia sembunyikan dari siapa pun. Ia juga masih menyimpan satu rahasia penting, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelum-sebelumnya. Tetapi sore ini, ia dengan lancar menceritakan pada Juna Mata. Seperti ada dorongan dari dalam dirinya yang memaksanya untuk bercerita.
“Aku pernah mendengar Alexa Crain berbicara dengan seseorang di ruang kerjanya, beberapa bulan sebelum peresmian Mata Rantai. Kebetulan saat itu sedang tahap penyelesaian Galeri Mahakarya. Ruangan Alexa Crain adalah sebuah ruang bawah tanah yang kurancang. Saat itu, aku hendak ingin memeriksa sesuatu. Dan kebetulan juga, aku mendengar dia berdialog. Awalnya aku mengira dia sedang kedatangan tamu. Tapi ternyata, dia berbicara dengan makhluk yang kulihat dua hari sebelum peresmian. Aku baru menyadarinya setelah terbebas dari dunia gelap itu. Namun, aku tak berani bilang kepada siapa pun. Aku tak ingin ikut campur, karena gara-gara Alexa Crainlah aku bisa memuaskan diri menciptakan sebuah seni Arsitektur, My Master Piece.”
“Apakah dia memuja sesuatu?”
Lenwa menggeleng. “Aku tak mengerti. Selama aku bekerja sama dengannya, aku tak melihat tanda-tanda keanehan. Kecuali malam itu. Dia tipe orang yang suka menyendiri di kamarnya, atau di ruangan paling atas di Galeri Mahakarya. Dia akan duduk lama-lama di ruangan paling atas itu sambil memandang Gunung Merapi yang menjulang. Dia juga sering ke Panti Asuhan.”
“Ya, aku tahu. Hasil tiket Galeri Mahakarya ia sumbangkan untuk Panti Asuhan.”
“Tapi yang tak pernah orang tahu, kehidupan pribadinya. Dia terlalu misterius. Keluarganya, teman-temannya.”
Juna mengangguk. Ia memang kurang peduli dengan kehidupan-kehidupan orang-orang di Mata Rantai. Termasuk kehidupan Alexa Crain.
“Aku harus berbicara dengannya,” ujar Juna.
“Apakah Tuan Juna berpikir dia akan mengatakan sesuatu?” Lenwa terkekeh. “Sebenarnya saya tak ingin ikut campur dalam urusan ini, tapi….” Dia menggantungkan ucapannya. “Tuan telah membantuku terbebas dari Andika. Jadi apa salahnya saya membantu, kan? Lagian saya sudah terlibat.”
“Aku sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa.”
“Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.”
“Apa?”
“Tuan harus melakukan wawancara di Ruang Kerja Alexa Crain, di Galeri Mahakarya. Tentu saja, tanpa sepengetahua Crain.”
Di waktu yang sama, di lantai 2 gedung Mata Rantai.
Janero tampak serius mendengarkan percakapan dua orang pria melalui headset yang menempel di telinganya. Di layar laptopnya, grafik DOTA 2 tampak bergerak, seperti dimainkan. Namun, Janero tak benar-benar memainkannya. Dia berkonsentrasi mendengarkan percakapan itu. Jauh dari mejanya, Dodo dan Dede sedang ribut tentang Master Penangkap Tuyul-nya yang hilang.
Tangan Janero meraih Iphone 6 di atas meja kerjanya. Dengan cepat dia membuka aplikasi Whatsapp, mencari nama Alexa Crain, lalu mengetik pesan dengan cepat. Ia menekan enter. Tanda centang dua warna hitam muncul di samping pesan itu.
Kawasan pinggiran kota Bekasi Timur semakin padat dengan pembangunan mall baru yang membujur dari timur ke barat di pinggiran tol Cikampek. Mall itu memang belum tampak wujudnya. Sekarang masih berupa bongkahan-bongkahan batu dan cor-coran. Alat-alat berat menderu-deru di sekitar proyek. Tak jauh dari tempat itu, sang arsitek sedang duduk menikmati segelas kopi pahit di sebuah rumah semi permanen yang terbuat dari potongan-potongan kayu. Ini sudah kopi keduanya. Diskusi panjang dengan kepala proyek, bagian pengembang, dan investor adalah diskusi panjang menguras otak. Ia ingin mempertahankan idealismenya, membangun sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Namun, idenya terpentok dengan kepala proyek dan dana investor. Jadi, dia harus memangkas idealismenya mengikuti apa yang semestinya.
Ben Lenwa, si arsitek itu, meneguk kopinya. Tiba-tiba ia merindukan Galeri Mahakarya. Ia merindukan saat mengerjakan proyek itu. Ketika ia bebas mengekspresikan semua idenya ke dalam kertas putih, mewujudkannya menjadi sebuah bangunan megah yang sesuai keinginannya. Alexa Crain sebagai investor tidak pernah ikut campur terhadap pembangunan Galeri Mahakarya. Lenwa bebas menuangkan idenya. Bukankah itu adalah puncak dari seorang pekerja seni, ketika ia bebas menuangkan apa yang ada di otaknya. Tanpa harus memperhatikan selera, dana, peraturan-peraturan, birokrasi. Dan ketika jadi, hasilnya memang sungguh luar biasa.
Kopi Lenwa tinggal ampasnya. Pria yang suka memakai topi itu melongok ke Titan klasiknya.
Sudah jam dua. Dia janji akan datang sejam yang lalu. Pikiran Lenwa mengembara ke pagi hari tadi. Saat ia hampir berangkat ke tempat kerja. Ponselnya berdering dan menampilkan satu nama yang tak pernah terpikirkan olehnya: Juna Mata. Terakhir ia bertemu CEO Mata Rantai itu beberapa bulan lalu. Semenjak kasus di rumahnya selesai, mereka tak pernah bertemu lagi. Namun, angin apa yang membawa CEO muda itu untuk menghubunginya tadi pagi. Ia tak mengerti.
Tepat saat matahari hampir menjadi semburat jingga dan para pekerja mulai duduk sambil mengipas wajah dengan potongan kardus, pria nomer satu di Mata Rantai berjalan tegap melewati bongkahan batu. Sesekali dia harus melompat dan menghindar. Di depannya, Ali, sang mandor, membimbingnya untuk menuju persinggahan Ben Lenwa.
Pasti ada sesuatu yang sangat penting.
Juna bilang bahwa dia terkena macet di TB Simatupang dan di Bekasi Barat. Ada truk terguling. Dan ponselnya habis baterai sementara dia lupa meletakkan kabel chargernya.
Juna tanpa banyak basa-basi, langsung ke pokok permasalahan. Sebelumnya, dia sedikit mengulur waktu agar si mandor segera meninggalkan mereka. Seperti tahu bahwa tamunya membutuhkan privasi, mandor Ali pergi meninggalkan Juna Mata dan Ben Lenwa di rumah semi permanen.
“Kopi?” tanya Lenwa setelah Ali pergi. Juna mengangguk. Tanpa gula, ujarnya.
Lenwa pun segera sadar bahwa sore itu akan menjadi sore yang panjang. Tamu yang ditawari minuman, kemudian menyetujuinya, seakan memberi isyarat bahwa dia butuh bersantai, bercerita, mengobrol cukup lama.
Secangkir kopi dengan asap membumbung segera hadir di hadapan Juna dibawakan oleh seorang gadis berambut ikal dari dapur. Juna menyeruputnya.
“Jadi apa yang bisa saya bantu? Tentunya Tuan Juna datang ke sini bukan untuk kembali menyelidiki apa yang terjadi tempo hari. Apakah ada yang lebih penting?” tanya Lenwa.
Tanpa bicara, Juna mengeluarkan secarik kertas yang ia sembunyikan di balik blezer hitamnya. Ia membentangkan kertas itu di atas meja kecil di depannya. Gambar itu menunjukkan sebuah gambar digital yang diprint dengan printer khusus. Sebuah sketsa foto digital.
“Apa ini?” tanya Lenwa sedikit kebingungan.
Foto itu adalah sebuah gambar menyeramkan. Seperti sebuah sudut suatu ruangan. Di sisi dinding kanan, ada meja kecil menempel dengan Mac di atasnya. Gambarnya tidak terlalu jelas. Namun, Lenwa masih bisa melihat ada seseorang bertubuh tinggi besar yang berdiri di dekat meja. Matanya merah menyala, rambut sebahu yang acak-acakkan, dan muka yang tidak terlalu jelas. Mulut Lenwa menganga saat melihat kaki orang itu tidak menapak lantai marmer di bawahnya.
“Siapa dia?” tanya Lenwa lagi. Mukanya berubah keruh.
“Namanya Roger. Kemarin dia mengikutiku. Asistenku menangkap sosoknya melalui kamera ultraviolet. Roger seolah ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Dan dia teman Andika.”
Lenwa menaruh kertas itu di atas meja. “Andika?”
“Ya, Andika. Mungkin Roger mengikutiku karena akulah yang telah berhasil mengusirnya dari tubuhmu, Lenwa. Dia terus mengikutiku, seolah ingin mengatakan sesuatu.”
Lenwa berdiri. “Aku sibuk sekarang, jadi mungkin….”
Juna tahu, Lenwa pasti tidak ingin hari-hari kelamnya kemarin diungkit kembali. Ia pasti tidak ingin berurusan dengan makhluk-makhluk itu.
“Aku tidak ingin melibatkanmu, Lenwa. Tapi, aku membutuhkan keterangan darimu.”
“Aku tidak tahu apa-apa. Lebih baik kamu segera pergi, Tuan. Aku harus bekerja.”
“Roger menyebutkan bahwa dia, Andika, dan mungkin puluhan makhluk lain terjebak di bawah Galeri Mahakarya.”
Lenwa seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Dia menoleh cepat, terkejut, dan seolah tertangkap basah oleh Juna bahwa ia mengetahui sesuatu. Ia duduk kembali di hadapan Juna, lalu kembali melihat kertas di hadapannya.
“Kamu pasti tahu sesuatu, Lenwa. Aku tahu itu.”
“Mengapa kamu ingin tahu?” tanya Lenwa.
“Tadi malam, aku mewawancarainya. Roger mengatakan bahwa dia sedang terperangkap di Galeri Mahakarya. Lalu dia menangis meraung-raung. Akhirnya aku kembali berkelana, menemuinya di dunia antara nyata dan akherat. Di sana, kutemukan dia menangis tersedu. Aku mencoba bertanya, dia hanya menggeleng-geleng. Namun, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menyingkirkan dirinya dan teman-temannya di Galeri Mahakarya. Seseorang yang dekat denganku, Lenwa. Namun dia tak mengatakannya padaku. Dia hanya bilang bahwa selain ingin menyingkirkan mereka, dia juga akan menghancurkanku, Lenwa.”
Lenwa menoleh. “Aku tak mengerti.”
“Aku kembali ke alam nyata, karena tiba-tiba dia menghilang. Aku tak bisa mengejarnya terlalu jauh karena aku takut tersesat di dunia itu. Jadi aku mewawancarainya lagi. Dan dia menuliskan satu nama di kertas.”
“Alexa Crain?” tebak Lenwa. Bertepatan dengan itu, Juna mengeluarkan kertas yang lain. Kertas yang ia bentangkan berdekatan dengan foto si makhluk tadi. Di sana ada nama Alexa Crain tertulis dengan pensil ultraviolet.
Juna mengangguk, seakan yakin bahwa Lenwa pasti akan mengatakan itu. “Awalnya aku kaget saat mengetahui apa yang ia tulis. Aku tak bisa berspekulasi apapun. Crain, dia adalah Chief Rantai. Dan dia sedikit banyak telah membantu perusahaan Mata Rantai. Dia jugalah yang selalu menentang Ronero. Aku tak percaya. Makanya, aku mencarimu untuk mencari tahu.”
Mandor Ali berjalan ke arah mereka, lalu duduk di kursi kayu di dekat rumah itu. Ia menyalakan rokok.
Lenwa berdiri, menyambar jaketnya. “Masih mau kopi lagi?” Dia memberi isyarat kepada Juna.
Juna mengerti akan isyarat itu. Dia ikutan berdiri. “Tentu saja. Namun, kopi di sini kurang enak. Apakah kita bisa ke kedai kopi terdekat?”
# # #
Mereka berdua tak benar-benar ke kedai kopi. Mobil Juna berjalan mulus di tol yang mengarah ke Jakarta. Lenwa sudah bilang ke mandor Ali bahwa dia harus pergi sebentar bersama kawannya.
Dalam perjalanan itu, pikiran Lenwa kembali ke malam itu. Malam di mana dia merasakan tubuhnya mendadak seperti melayang di udara. Malam saat ia mengitari Galeri Mahakarya untuk memastikan setiap detail dari Master Piece-nya itu. Ia limbung karena mendadak kepalanya pusing dan hampir saja dia menubruk pintu kaca di balkon lantai 2 Galeri Mahakarya. Dan dia melihat mukanya. Muka lelah dengan mata merah.
Dia seperti tidak melihat dirinya sendiri. Namun yang lebih mengejutkan bukanlah mukanya itu. Bukan muka yang bermata merah. Tetapi seseorang yang berdiri di belakangnya. Saat itu, Lenwa menoleh dan melihat dengan jelas orang itu. Orang itu tinggi besar, berambut acak-acakkan, dengan muka tak beraturan, dan mata merah seperti dirinya.
Lenwa mendorong pintu di belakangnya perlahan, dia berjalan mundur. Orang itu mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dia ingin menjerit, namun yang keluar justrulah suara orang lain. Suara serak. Suara Andika.
“Andika,”
“Roger,” ucap Lenwa, dengan suara serak.
Dan Lenwa langsung seperti terseret ke dunia lain yang gelap. Dia berteriak-teriak meminta tolong, namun tak ada yang menolongnya. Dia berlari ke sana ke mari. Terjauh, menubruk dinding, dan kemudian suatu hari dia menemukan Juna Mata berlari ke arahnya. Menuntunnya menuju pintu bercahaya.
“Aku pernah melihat makhluk yang ada di foto tadi, Tuan Juna. Di Galeri Mahakarya.” Detik kemudian, Lenwa menceritakan secara lengkap apa yang telah ia alami selama ini. Yang sejujurnya telah ia sembunyikan dari siapa pun. Ia juga masih menyimpan satu rahasia penting, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelum-sebelumnya. Tetapi sore ini, ia dengan lancar menceritakan pada Juna Mata. Seperti ada dorongan dari dalam dirinya yang memaksanya untuk bercerita.
“Aku pernah mendengar Alexa Crain berbicara dengan seseorang di ruang kerjanya, beberapa bulan sebelum peresmian Mata Rantai. Kebetulan saat itu sedang tahap penyelesaian Galeri Mahakarya. Ruangan Alexa Crain adalah sebuah ruang bawah tanah yang kurancang. Saat itu, aku hendak ingin memeriksa sesuatu. Dan kebetulan juga, aku mendengar dia berdialog. Awalnya aku mengira dia sedang kedatangan tamu. Tapi ternyata, dia berbicara dengan makhluk yang kulihat dua hari sebelum peresmian. Aku baru menyadarinya setelah terbebas dari dunia gelap itu. Namun, aku tak berani bilang kepada siapa pun. Aku tak ingin ikut campur, karena gara-gara Alexa Crainlah aku bisa memuaskan diri menciptakan sebuah seni Arsitektur, My Master Piece.”
“Apakah dia memuja sesuatu?”
Lenwa menggeleng. “Aku tak mengerti. Selama aku bekerja sama dengannya, aku tak melihat tanda-tanda keanehan. Kecuali malam itu. Dia tipe orang yang suka menyendiri di kamarnya, atau di ruangan paling atas di Galeri Mahakarya. Dia akan duduk lama-lama di ruangan paling atas itu sambil memandang Gunung Merapi yang menjulang. Dia juga sering ke Panti Asuhan.”
“Ya, aku tahu. Hasil tiket Galeri Mahakarya ia sumbangkan untuk Panti Asuhan.”
“Tapi yang tak pernah orang tahu, kehidupan pribadinya. Dia terlalu misterius. Keluarganya, teman-temannya.”
Juna mengangguk. Ia memang kurang peduli dengan kehidupan-kehidupan orang-orang di Mata Rantai. Termasuk kehidupan Alexa Crain.
“Aku harus berbicara dengannya,” ujar Juna.
“Apakah Tuan Juna berpikir dia akan mengatakan sesuatu?” Lenwa terkekeh. “Sebenarnya saya tak ingin ikut campur dalam urusan ini, tapi….” Dia menggantungkan ucapannya. “Tuan telah membantuku terbebas dari Andika. Jadi apa salahnya saya membantu, kan? Lagian saya sudah terlibat.”
“Aku sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa.”
“Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.”
“Apa?”
“Tuan harus melakukan wawancara di Ruang Kerja Alexa Crain, di Galeri Mahakarya. Tentu saja, tanpa sepengetahua Crain.”
# # #
Di waktu yang sama, di lantai 2 gedung Mata Rantai.
Janero tampak serius mendengarkan percakapan dua orang pria melalui headset yang menempel di telinganya. Di layar laptopnya, grafik DOTA 2 tampak bergerak, seperti dimainkan. Namun, Janero tak benar-benar memainkannya. Dia berkonsentrasi mendengarkan percakapan itu. Jauh dari mejanya, Dodo dan Dede sedang ribut tentang Master Penangkap Tuyul-nya yang hilang.
Tangan Janero meraih Iphone 6 di atas meja kerjanya. Dengan cepat dia membuka aplikasi Whatsapp, mencari nama Alexa Crain, lalu mengetik pesan dengan cepat. Ia menekan enter. Tanda centang dua warna hitam muncul di samping pesan itu.
# # #
Diubah oleh wignyaharsono 22-08-2015 23:48
0
Kutip
Balas