Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.2K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#430
Partitur no. 76 : Aurora


Akhir Februari, satu hari akhir selain tahun kabisat, Ayahku berulang tahun ke lima puluh tiga tahun.

Awal Maret, sebagai kado, ayahku memberikan aku dan Kang Naufal tiket ke festival Java Jazz gratis, karena ia harus shooting di salah satu stage. Walaupun seharusnya aku yang memberkan ayahku kado, tapi tak apa, mumpung kadonya enak! Kebetulan, tahun lalu kami sudah melewatinya.

Salah satu alasan mengapa kami tak ingin melewatinya lagi karena tahun ini ada musisi Jazz favorit kami, Marcus Miller, di salah satu line up nya. Kami sampai rela-rela datang dari sore hari untuk mendapat barisan paling depan.

Karena tak mau melewatkan kesempatan yang jarang sekali terjadi itu, sebelum berangkat aku harus membujuk Harrys yang tak mau ikut itu untuk bertukar handphone sementara sampai acara itu habis. Tentu saja Harrys tak mau. Setelah kubujuk lagi, ia mau, tapi ia mengambek.

Lalu, di akhir Februari, aku memulai menjalin bisnis bersama Hamim. Kebetulan, aku sedang tertarik juga mengoleksi komik-komik keluaran Marvel, dan ia menjual banyak komik-komiknya yang nyaris lengkap dan dibandrol dengan harga yang murah. Tapi, aku menyicil selama seminggu untuk komik itu.

Ia masih setiap hari datang ke rumahku untuk melakukan percobaan-percobaan terhadap dunia fotografi. Kebetulan saat itu habis hujan, tumbuh-tumbuhan di rumahku masih banyak yang daunnya belum kering, dan kami mencari daun-daun yang airnya hampir turun untuk kami foto dari jarak dekat. Objek kami waktu memang tak jauh-jauh dari dedaunan.

Sekolahku mulai terasa lebih sibuk. Setiap minggunya ada try out untuk persiapan ujian nasional, lalu pendalaman materi yang juga menggunakan jam pelajaran. Kampus-kampus dan lembaga bimbingan belajar juga semakin banyak menghampiri sekolah kami, meskipun dari semester lalu juga banyak. Begitu pula dengan seminar-seminarnya.

Suatu hari, seorang wanita cantik masuk ke kelasku, aku lupa namanya. Ia masuk ke kelasku untuk membagikan kuisioner untuk diisi masing-masing siswa di kelasku. Dan, ketika ia melihatku, ia terkaget-kaget entah mengapa secara tiba-tiba.

“Kamu anaknya Dosen di kampus saya, kan?” tanyanya dengan hati-hati.

Aku melihat ke jaket yang ia kenakan dan atribut yang ia pakai atau ia bawa untuk lebih memastikannya kampus mana yang dimaksud.

“Iya, Mbak..” jawabku.

Ia terkaget-kaget lagi. Rupanya, Ayahku adalah Dosennya selama di kampus, dan Ayahku juga Dosen pembimbing skripsinya. Selepasnya kami mengisi kuisioner itu, teman-temanku langsung mengerubungiku untuk menanyai namanya.

Bundaku sedang tak ada di rumah sejak awal Maret. Ia pergi bersama kakak-adiknya ke negeri Singa untuk liburan keluarga. Katanya, ia membelikanku jam tangan baru, karena jam tangan punyaku selalu tak awet umurnya. Katanya lagi, aku harus berjanji agar jam tangan yang ini jangan sampai hilang atau rusak seperti biasanya.

Terhitung awal Maret pula, Tasya dan Bundaku sudah tak bekerja di tempat yang sama lagi. Terkadang, aku masih merasa bersalah jika mengingat-ingat momen akhir Februari itu. Aku tahu, permintamaafanku pasti sebenarnya tak bisa diterima dengan mudah begitu saja, karena aku melakukan kekerasan secara verbal. Kekerasan secara tak langsung. Bagaimana jika ia cerita kepada Mamanya? Bisa gawat!

***


Pada suatu Sabtu yang hangat di awal Maret itu, Tasya mengajakku untuk pergi ke Ancol. Tentu saja aku menyutujui ide itu. Karena kebetulan aku ingin mencoba foto lain seperti foto sunset. Atau foto refleksi seperti foto temanku yang membuatku ingin mendalami dunia fotografi. Dan, satu hal yang ingin kuberikan kepada Tasya.

“Tapi uang aku pas-pasan nggak apa-apa?” tanyaku ketika akhirnya kami memasuki bus TransJakarta yang langsung menuju Ancol.
Ia tersenyum sambil mengangguk gembira, seakan hari ketika ia menangis karenaku itu tak pernah ada.

“Emang masuknya berapa, sih, sekarang?” lanjutku sambil menuju tempat duduk yang kosong.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Tasya balik.

“Hah?” aku kebingungan dengan pertanyaannya barusan. Pertanyaanku tadi saja belum dijawab.

“Ini kan tempat duduk khusus wanita?” lanjutnya.

“Eh?” kataku celingak-celinguk mencari tulisan yang dimaksud Tasya itu.

“Kamu juga harusnya nggak ada di situ.” Aku berpaling ke arah Tasya sambil tersenyum licik.

“Hah?” ia tampak kebingungan dengan ekspresi lucunya itu.

“Iya. Emangnya kamu wanita? Bukannya kamu laki-laki?” ledekku sambil tertawa.

Lagi-lagi, ia menampakkan ekspresi gemasnya.

Akhirnya, setelah pemandangan dari dalam bus yang sedari tadi hanya berjalan lurus saja, kami sampai ke tempat tujuan. Meskipun begitu, perjalan di dalam bus itu selalu bisa kunikmati. Aku menikmati bus yang berjalan lambat sambil melihat pemandangan mobil-mobil atau motor sedang berlalu lalang dari atas.

Di sana, kami langsung dihadapkan oleh loket tiket masuk. Aku langsung mengambil dompetku yang ternyata isinya memang hanya cukup untuk tiket masuk dan ongkos pulang nantinya. Sangat nge pas. Lagi-lagi, ketika aku ingin memberikan uangku ke loket, Tasya terlebih dulu sudah memberikan uangnya ke loket. Tapi, tunggu dulu. Itu tak terlihat seperti uang! Itu sebuah amplop dengan berbagai surat keterangan.

“Silahkan masuk,” ujar sang petugas loket dengan sangat ramah.

Tasya hanya tersenyum lucu kepadaku yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kok bisa begitu?” tanyaku keheranan.

“Bisa, dong. Kenapa nggak?”

Ia tersenyum lagi. Mengapa ia begitu gemar tersenyum? Tahukah kamu kalau senyummu itu bisa membuatku overdosis?

Kami segera menuruni Halte yang panjang ini.

“Akhirnya ke pantai juga sama kamu!” ujarnya dengan senang.

“Iya, ya, dari dulu belum pernah ke pantai sama kamu.” Kataku sambil melihat ke atas.

Dari situ, kami berdiri menunggu bus yang menurut Tasya akan mengantarkan kami ke suatu tempat yang ingin kami kunjungi.

Sebenarnya jika boleh jujur, ini kali pertamanya aku pergi ke Ancol benar-benar sendirian. Maksudku, tanpa keluarga, dan bisa bebas pergi ke mana saja yang kuinginkan. Bahkan, aku baru tahu jika di dalam Ancol itu ada bus untuk mengantarkan kami ke berbagai tempat. Monas saja sebenarnya belum pernah kukunjungi sama sekali sejak kecil. Rasanya, banyak tempat di Jakarta yang belum kukunjungi sama sekali. Sebagai orang asli Jakarta, aku merasa gagal.

Sedikit cerita yang agak aneh, teman-temanku sering menanyakan kepadaku hal-hal seperti ini: “Lo asal daerah mana, Man?”, “Man, lo sebenernya orang Sunda apa Jakarta, sih? Kok lo manggil abang lo dengan sebutan ‘Kang’?” atau “Kampung lo di mana sih, Man?”
Memang, aku sendiri kebingungan pada awalnya. Lalu, aku menanyakannya kepada Ayah dan Bundaku, dari mana asal mereka bedua. Mereka berdua lahir di Jakarta, hanya saja, mereka sama-sama mewarisi darah Sunda. Kakak-kakak dari Ibuku semua lahir di Tasik, kecuali Ibuku sendiri. Ayahku juga begitu, hanya saja ayahku mewarisi darah Banten. Katanya juga, sih, ia keturunan dari ke Sultanan Banten. Tapi aku tak tahu. Katanya lagi, ia mewarisi darah Bugis juga dari pihak Ibunya.

Lalu, begitulah yang terjadi. Berdarah campuran. Tapi, aku lebih sering menganggap diriku ini asli orang Jakarta karena lahir di sini.
Kembali pada cerita, kami pun akhirnya menaiki sebuah bus yang cukup sesak dan duduk di kursi paling belakang. Untungnya, bawaan kami tak begitu banyak. Bisa memaksakan agar muat.

Ternyata, pemandangan dari dalam bus ini juga menyenangkan. Tak kalah indahnya dengan pemandangan kota favoritku dari dalam bus TransJakarta. Banyak tempat-tempat rekreasi yang kami lewati sambil melihati orang berlalu lalang, serta keceriaan pada wajah mereka. Ketika sedang asyik melihati pemandangan itu, Tasya mengajakku untuk bersiap-siap turun di Halte depan.

Pemandangan ini terasa agak berbeda. Apa karena aku sudah lama tak melihat tempat ini?

“Udah lama aku nggak ke sini,” kataku dengan takjub sambil berjalan pelan dan menggenggam tangan mungil Tasya.

“Berarti nggak sia-sia, ya, aku ngajak kamu ke sini?” ia menanyakan dengan muka senangnya yang tak pernah berubah.

“Iya, Sya,” jawabku. “Aku aja baru tau di sini bisa naik bus kayak tadi.”

Benar saja, aku baru tersadar bahwa tempat-tempat di sekeliling sini hampir semuanya memakai hiasan berwarna merah. Rasanya, aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi, di mana, ya? Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja.

“Ini kok pada merah-merah, ya?” tanyaku.

“Apanya yang merah-merah?”

“Cinta yang membara.”

“Ih, serius!”

“Haha.. Itu, hiasan di sini kayaknya merah semua, ya?”

“Iya, kan masih dalam suasana tahun baru imlek.”

“Hmm, gitu, ya..”

“Kenapa emangnya?”

“Bagus, ada objek yang buat difoto!” aku melambatkan jalanku sambil tangan sebelahnya lagi mengarah ke Tasya seperti meminta.

“Apa, nih, maksudnya?” tanyanya keheranan.

“Minjem hp. Hehe”

Tasya yang mengerti maksudku itu langsung merogoh kantongnya dan menyerahkan handphonenya kepadaku untuk memotret. Alasanku kurang lebih sama seperti mengapa lebih sering memotret mengenakan handphone milik Harrys dari pada milikku sendiri: karena kamera handphonenya lebih bagus.

Objek yang mearik perhatianku adalah sebuah lampion dan ornamen-ornamen bernuansa China itu. Mereka begitu merah dan mempesona. Entah sejak kapan aku tertarik terhadap seseuatu yang berbau budaya China. Mungkin sejak ketagihan memainkan serial game Dynasty Warriors.

Kami melanjutkan perjalan kami yang ternyata cukup jauh. Sering kali kami berhenti kembali di suatu tempat untuk beristirahat. Selalu Tasya memilih tempat yang lebih dekat dengan laut sambil terbengong entah mengapa. Satu kali kami berhenti di tempat wahana mengenakan perahu. Satu kali kami berhenti di batu-batuan pinggir laut.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah pantai yang menjadi tujuan Tasya sejak awal. Tempat itu sangat dekat dengan sebuah restoran yang hampir berada di tengah laut. Dekat situ, banyak para fotografer yang sedang memotret pemandangan, ada yang menunggu sunset datang, ada juga yang memotret model.

Sebelum meneruskan perjalan ke pantai lagi, aku mengajak Tasya untuk mampir sebentar ke salah satu restoran fast food di dekat sana.
“Kamu mau ngapaiiin?” tanyanya keheranan sambil memiringkan kepalanya.

“Ada, deh. Kamu tunggu di sini aja.” Aku melepaskan pegangan tangannya dan masuk ke restoran itu.

Tak lama ketika kembali ketika dua buah es krim dalam genggaman tanganku, kulihat Tasya sedari tadi menatap ke arah laut.

“Sya?” tegurku membuyarkan lamunannya.

“Eh, ya?” ia langsung melihatku dengan malu.

“Nih, aku beliin es krim!” aku menyodorkan satu es krim untuknya. Es krim favoritnya. Es krim yang membuat kami berdamai.

“Wiii, makasih, sayang!” jawabnya dengan senang sambil mengambil es krim itu dari tanganku menggunakan tangannya yang imut. “Tumben kamu traktir aku, ada angin apa?”

“Kalo aku kasih tau mau beli pasti keburu dibayarin duluan sama kamu ahaha,” kataku terkekeh-kekeh. “Kata kamu, kamu suka es krim, lollipop sama pantai. Jadi, buat aku pasti enak ke pantai sambil makan es krim.”

“Apalagi makannya bareng kamu! Hihi” ia menarik lenganku untuk segera menuju bagian pantai yang sepi. Tempat itu tak begitu jauh dari restoran fastfood tadi, dan memang benar. Tempat itu asyik untuk menatap matahari yang akan terbenam,

Kami duduk di pasir tanpa alas, memandangi lautan yang kosong dan sepi di bawah teriknya sinar mentari yang memancarkan sinarnya yang terkesan menyedihkan. Angin berdesir kencang, menyapu rambut kami.

“Kamu kenapa suka banget sama pantai?” tanyaku sambil menikmati es krim itu.

“Kenapa, ya?”

“Jangan malah nanya aku. Haha”

“Kalo di pantai serasa lebih nyatu sama alam aja. Aku bisa dapet kesunyian yang aku pengenin. Aku serasa nyatu sama ombaknya dan angin-angin yang tenang. Kalo mau, aku betah lho lama-lama di pantai.”

“Berarti punya arti tersendiri ya, buat kamu?”

“Kurang lebih, begitu. Bahkan, ya.. Bahkan...” ia memelankan suaranya perlahan. “Kalo nikah nanti, aku mau tempatnya di pantai.” Suaranya begitu mantap melantangkan gagasan itu. Matanya tak henti menatap bagian depan yang sepi sambil tetap memakan es krim. Pipinya memerah. “Pemandangan pantai juga bagus. Bikin mood aku balik lagi kalo lagi bete. Pantai kayak temen yang nggak bakal ngehianatin kamu dan selalu dengerin apa yang pengen kamu omongin.”

Aku berdecak kagum. Ia sudah memikirkan hidupnya sampai taraf yang lebih tinggi. Aku saja belum pernah sekalipun berpikiran mengenai itu. Tapi memang sepertinya itu bukan hal yang biasanya wajar dipikirkan oleh anak yang masih di tingkat akhir SMA.

“Kira-kira, nanti kamu nikahnya sama siapa, ya?” tanyaku ketika es krim ku sudah hampir habis dan mengambil handphone Tasya tadi untuk memotret.

“Aku nggak tau apa yang bakal terjadi nanti. Tapi apapun itu, aku pengennya sama kamu.”

Tanganku yang baru saja akan memencet tombol memotret itu sempat tertunda ketika mendengar jawaban dari mulut Tasya itu.

“Semoga, ya..” aku memajukan tubuhku untuk mencari angle yang pas untuk memotret. Kudekatkan handphone Tasya itu ke air, tapi tak sampai menyentuhnya.

“Eh, kamu mau ngapain?” tanyanya kaget.

“Mau motret.”

“Jangan di situ, nanti hp aku basah..” ekspresi wajahnya mendadak cemberut.

“Nggak apa-apa, kok, nggak bakal kena.” Kataku sambil melanjutkan memotret.

“Ih, jangan!” handphone itu segera berpindah tangan karena diambil oleh Tasya. Ia sepertinya langsung badmood. Tapi, sebenarnya aku memang sengaja.

“Yaudah, aku foto pake hp aku aja bisa, kok.” Ujarku sambil menunjukkan ekspresi ngambek yang tak kalah dengan ekspresi wajah Tasya.

“Silahkan!” jawabnya jutek.

Aku tertawa melihatnya. Mungkin kamu yang membaca jika melihat langsung juga akan tertawa karena gemas. Melihatnya berdiam diri dengan tampang jutek seperti itu membuatku ingin sedikit lagi menggodanya. Aku mengambil handphone di sakuku dan membuka aplikasi kamera sambil menirukan gaya memotret yang cukup dekat dengan air itu. Setelah itu, aku tertarik kepada objek orang-orang yang berada di sebelah kiriku.

Bagian depan dan kanan kami memang sepi. Tapi, bagian kiri kami banyak orangtua yang menemani anaknya yang masih kecil untuk berenang sedikit di laut. Dan menurutku, itu juga objek yang menarik untuk difoto.

Ketika selesai, aku melihat Tasya yang sepertinya sedang menyatu dengan alam. Ia terdiam, seakan ia tak ingin diganggu oleh apapun. Bahkan olehku. Atau dia masih ngambek kepadaku?

Kucoba menggoyangkan pundak Tasya.

“Kamu masih ngambek?”

Ia terdiam. Ekspresi cemberutnya lagi-lagi membuatku ingin tertawa.

“Sebenernya aku bercanda doang tau, ahaha” kataku sambil tertawa. “Aku sengaja buat kamu ngambek buat ngasih ini.” Aku mengambil sebuah barang yang masih dibungkus dan agak besar yang sedari tadi berada di tasku yang seharusnya tak kubawa. “Nih!”

Akhirnya ia mengalihkan pandangan seriusnya itu ke arahku dan seketika ia tersentak atas apa yang diliatnya.

“Ih, jadi dari tadi kamu bawa boneka?” tanyanya dengan senang, yang merubah ekspresi juteknya tadi. “Kok aku nggak nyadar, ya? Padahal kamu daritadi bawa-bawa tas. Aku kira cuma karena kebiasaan sekolah, jadi kalo nggak pake tas jadi kayak ada yang aneh gitu.”

“Hebat, kan? Hehe”

“Kamu beli di mana?” ia segera membuka bungkusan plastik yang membungkus boneka beruang itu. Boneka yang kubeli dari Hamim ketika komik-komik Marvel itu sudah lunas. “Lucu boneka Ted nya!”

“Beli di Hamim,”

“Hamim jualan boneka sekarang?”

“Bukan, dia tadinya mau ngadoin ini ke pacarnya, tapi keburu diputusin. Dan dia nawarin aku, jadi aku beli sekalian buat kamu. Nemenin boneka lainnya. Hehe”

“Yaampun.. Kasian Hamim.. Kok bisa?” ekspresinya seketika berubah lagi.

“Kurang tau, deh..” jawabku.

“Hoo,” ia mengangguk. “Tapi aku seneng banget hari ini! Udah dibeliin es krim, dikadoin boneka Ted pula! Apalagi sambil liat sunset di sana.” ia menyunggingkan senyumnya. “Kamu selalu full of surprise, deh!”

“Masih ada satu lagi, sih, Sya.”

“Apa tuh?”

“Minggu depan ada tribute to Angels & Airwaves,” jelasku. “Kamu mau, nggak?”

“Mau banget! Di mana?”

“Ada, nanti aku kirimin ke whatsapp kamu aja.. Tiketnya udah kupesen buat dua orang. Hehe”

“Tambah satu lagi dong, boleh, nggak?”

“Buat siapa?”

“Buat Abang. Hehe,” jawabnya. “Biar boleh pulang malem.”

“Siap itu mah!”

“Makasiiih..”

“Yaudah, lanjutin foto sunset, yuk!”

“Hah?”

“Iya, foto sunset!”

“Kan mataharinya udah tenggelem selama kita ngobrol tadi,”

“Eh?” aku langsung melihat ke arah Barat, yaitu depan kami, di mana matahari sudah tak menampakkan diri lagi. Tujuan utamaku datang ke sini ternyata terlewat begitu saja karena keasyikan ngobrol.

Aku berusaha menerima kenyataan pahit bahwa ternyata aku melewatkannya begitu saja. Meskipun, keindahannya tetap bisa kunikmati. Tapi, aku belajar sesuatu—merasakan apa yang Tasya ucapkan tadi. Aku mulai menyukai pantai. Semua terasa tenang. Meskipun, di Ancol ini pantainya agak sedikit kotor.

Di perjalanan pulang menuju Halte yang mengantarkan kami ke Halte Busway, aku ternyata menemukan objek yang kucari lainnya. Sebuah refleksi yang begitu indah. Warna biru menjadi warna dominan, di mana warna merah mentari masih sedikit terlihat. Kami berjalan sedikit lagi, dan aku menemukan sebuah refleksi dari ornamen berbau China yang sangat menarik. Sebuah pemandangan indah yang menutup pengalaman baruku ini.


Spoiler for bleu:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.