- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#43
Perkenalan Aneh – Part 8
Hujan turun membasahi bumi Parahyangan siang ini. Beruntung aku masih berada di ruang UKS. Ruangan ini selalu hangat bila hujan turun. Octa masih bersamaku namun ia sedang terlelap tidur. Kerudung putih yang membalut wajahnya begitu pas dengan kulitnya yang putih. Ia memiliki hidung mancung seperti orang Arab.
“ Fashalin, ada selimut? “ tanyaku.
“ Ada kang ini.” Ia memberiku selimut bergaris putih hitam.
Setelah ku buka selimut bergaris putih ini lalu ku selimuti Octa. Hujan masih turun, malah hujan semakin deras. Hampir seluruh siswa menunggu hujan reda.
“Kang diluar hujan ya?” Suara itu memecah lamunanku.
“Eh udah bangun, iya Ta masih hujan.” Ujarku.
“Kang tas Octa dimana ya?” Tanyanya.
Ku berikan tas oranye dengan aksen merah milik Octa. Setelah itu Octa mengambil smartphone didalam tasnya.
“Pah? Jemput teteh pulang sekolah.” Ucapnya sambil menempelkan handphone ke telinganya.
“Yah yaudah deh teteh pulang naik angkot aja.” Nadanya begitu kesal lalu ia langsung menutup telponnya.
“Kenapa ta?” tanyaku.
“Papa Octa ga bisa jemput alasannya sibuk melulu.” Ia cemberut tapi anehnya ia masih terlihat cantik.
“Papanya Octa kan sibuk buat nyari uang buat biayain hidup Octa. Naik motor Akang lagi mau kan?” pintaku.
“Boleh sih kang, tapi maafin Octa udah dua hari ngerepotin akang.” Ujarnya.
“Nevermind kok Ta. Lagian kalem aja kali.” Ujarku.
Akhirnya hujan berhenti, kami keluar meninggalkan ruang UKS. Sore ini masih dingin namun pakaian OSIS yang ku pakai mampu menahan dinginnya sore ini. Ku lihat Octa kedinginan, ku keluarkan jaketku dalam tas.
“Ta pake ini ya.” Ku berikan jaketku, jaket adidas berwarna biru langit dengan 3 garis gold di garis lengannya.
Ia menangguk lalu memakai jaketku. Kami berjalan menyusuri koridor demi koridor, tak butuh waktu lama memang dari ruang UKS menuju parkiran.
Diperjalanan kami cenderung diam sama sekali tak ada pembicaraan. Sebenarnya aku ingin banyak bertanya, namun ku urungkan niat itu.
“Makasih ya kang udah anterin Octa. Mau masuk dulu kang?” Ujar Octa.
“Engga Ta, jangan sakit ya ta besok 1 hari lagi.” Ujarku.
“Hati hati dijalan ya kang.” Ia tersenyum.
“Oke ta sip. Akang pulang dulu ya. Titip jaket akang ya Ta.” Ujarku.
Hujan turun membasahi bumi Parahyangan siang ini. Beruntung aku masih berada di ruang UKS. Ruangan ini selalu hangat bila hujan turun. Octa masih bersamaku namun ia sedang terlelap tidur. Kerudung putih yang membalut wajahnya begitu pas dengan kulitnya yang putih. Ia memiliki hidung mancung seperti orang Arab.
“ Fashalin, ada selimut? “ tanyaku.
“ Ada kang ini.” Ia memberiku selimut bergaris putih hitam.
Setelah ku buka selimut bergaris putih ini lalu ku selimuti Octa. Hujan masih turun, malah hujan semakin deras. Hampir seluruh siswa menunggu hujan reda.
“Kang diluar hujan ya?” Suara itu memecah lamunanku.
“Eh udah bangun, iya Ta masih hujan.” Ujarku.
“Kang tas Octa dimana ya?” Tanyanya.
Ku berikan tas oranye dengan aksen merah milik Octa. Setelah itu Octa mengambil smartphone didalam tasnya.
“Pah? Jemput teteh pulang sekolah.” Ucapnya sambil menempelkan handphone ke telinganya.
“Yah yaudah deh teteh pulang naik angkot aja.” Nadanya begitu kesal lalu ia langsung menutup telponnya.
“Kenapa ta?” tanyaku.
“Papa Octa ga bisa jemput alasannya sibuk melulu.” Ia cemberut tapi anehnya ia masih terlihat cantik.
“Papanya Octa kan sibuk buat nyari uang buat biayain hidup Octa. Naik motor Akang lagi mau kan?” pintaku.
“Boleh sih kang, tapi maafin Octa udah dua hari ngerepotin akang.” Ujarnya.
“Nevermind kok Ta. Lagian kalem aja kali.” Ujarku.
Akhirnya hujan berhenti, kami keluar meninggalkan ruang UKS. Sore ini masih dingin namun pakaian OSIS yang ku pakai mampu menahan dinginnya sore ini. Ku lihat Octa kedinginan, ku keluarkan jaketku dalam tas.
“Ta pake ini ya.” Ku berikan jaketku, jaket adidas berwarna biru langit dengan 3 garis gold di garis lengannya.
Ia menangguk lalu memakai jaketku. Kami berjalan menyusuri koridor demi koridor, tak butuh waktu lama memang dari ruang UKS menuju parkiran.
Diperjalanan kami cenderung diam sama sekali tak ada pembicaraan. Sebenarnya aku ingin banyak bertanya, namun ku urungkan niat itu.
“Makasih ya kang udah anterin Octa. Mau masuk dulu kang?” Ujar Octa.
“Engga Ta, jangan sakit ya ta besok 1 hari lagi.” Ujarku.
“Hati hati dijalan ya kang.” Ia tersenyum.
“Oke ta sip. Akang pulang dulu ya. Titip jaket akang ya Ta.” Ujarku.
JabLai cOY dan 7 lainnya memberi reputasi
8