- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tentang Penerus KAMI
...
TS
berkeringat
Kisah Tentang Penerus KAMI
Permisi semuanya...
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Quote:
Diubah oleh berkeringat 24-08-2015 21:21
anasabila memberi reputasi
1
2.8K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
berkeringat
#8
PART V
Aku tidak mampu mengalihkan pandanganku. Ini adalah pertama kalinya aku melihat sesuatu yang mengerikan seperti ini seumur hidupku. Namun entah kenapa, dalam hatiku aku amat bersemangat.
Beberapa menit berlalu, dua kubu itu saling berbicara entah apa. Kulihat Baban, yang paling dominan disana, berbicara dengan seseorang yang bertubuh besar dari kubu seberang. Aneh, ia tidak gentar meskipun lawan bicaranya menggenggam pedang.
“Itu Ibnu...” Ujar Samid memecah keheningan.
Glek! Aku terkejut. Dia Ibnu? Orang yang paling kuat di sekolah? Tapi berbeda sekali dengan orang yang kulihat di lapangan basket dulu.
Ibnu yang asli nampak jauh lebih garang dengan tubuh besar dan wajah santai tanpa rasa takut. Tubuhnya kekar seperti terlatih, ia bahkan mampu menakuti Baban yang membawa pedang hingga terlihat panik.
“Gua kesana dulu...” Samid tiba-tiba keluar dari mobil.
Kami tak sanggup berkata apapun, hanya bisa melihat Samid berlari melipir dari mobil kemudian memutari lapangan, sebelum akhirnya sampai di tempat mereka berada. Samid ikut berbicara entah apa.
Selang beberapa saat, kulihat wajah Baban memerah. Lalu dengan wajah yang dipaksakan untuk santai, ia tersenyum. Kemudian...
Secepat kilat Baban mengayunkan pedang itu ke arah Ibnu. Dengan reflek yang amat baik, ia menghindarinya. Semua orang langsung terceput menyerbu dari belakang. Begitupun dari kubu Ibnu, yang langsung menerjang mereka.
Samid kulihat menghadang seseorang yang membawa tongkat kayu. Kedua tangan mereka beradu kuat, lalu dengan satu sentakan Samid melayangkan tendangan dari lutut ke arah perut orang tersebut. Kayu itu jatuh kebawah, lalu dihempaskan oleh Samid jauh ke belakang.
Sementara Ibnu, masih berusaha menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan Baban. Mereka berdua seolah diberi space khusus yang lebih luas. Tidak ada yang berani dekat-dekat Baban, bahkan anak buahnya. Takut terluka oleh pisau panjang yang salah sasaran.
Seseorang kemudian menyergap kedua tangan Baban dari belakang. Baban tak berkutik. Aneh. Ibnu malah diam tak bereaksi. Alih-alih bersiap memukul, ia justru berkacak pinggang.
Beberapa menit berlalu, dua kubu itu saling berbicara entah apa. Kulihat Baban, yang paling dominan disana, berbicara dengan seseorang yang bertubuh besar dari kubu seberang. Aneh, ia tidak gentar meskipun lawan bicaranya menggenggam pedang.
“Itu Ibnu...” Ujar Samid memecah keheningan.
Glek! Aku terkejut. Dia Ibnu? Orang yang paling kuat di sekolah? Tapi berbeda sekali dengan orang yang kulihat di lapangan basket dulu.
Ibnu yang asli nampak jauh lebih garang dengan tubuh besar dan wajah santai tanpa rasa takut. Tubuhnya kekar seperti terlatih, ia bahkan mampu menakuti Baban yang membawa pedang hingga terlihat panik.
“Gua kesana dulu...” Samid tiba-tiba keluar dari mobil.
Kami tak sanggup berkata apapun, hanya bisa melihat Samid berlari melipir dari mobil kemudian memutari lapangan, sebelum akhirnya sampai di tempat mereka berada. Samid ikut berbicara entah apa.
Selang beberapa saat, kulihat wajah Baban memerah. Lalu dengan wajah yang dipaksakan untuk santai, ia tersenyum. Kemudian...
Secepat kilat Baban mengayunkan pedang itu ke arah Ibnu. Dengan reflek yang amat baik, ia menghindarinya. Semua orang langsung terceput menyerbu dari belakang. Begitupun dari kubu Ibnu, yang langsung menerjang mereka.
Samid kulihat menghadang seseorang yang membawa tongkat kayu. Kedua tangan mereka beradu kuat, lalu dengan satu sentakan Samid melayangkan tendangan dari lutut ke arah perut orang tersebut. Kayu itu jatuh kebawah, lalu dihempaskan oleh Samid jauh ke belakang.
Sementara Ibnu, masih berusaha menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan Baban. Mereka berdua seolah diberi space khusus yang lebih luas. Tidak ada yang berani dekat-dekat Baban, bahkan anak buahnya. Takut terluka oleh pisau panjang yang salah sasaran.
Seseorang kemudian menyergap kedua tangan Baban dari belakang. Baban tak berkutik. Aneh. Ibnu malah diam tak bereaksi. Alih-alih bersiap memukul, ia justru berkacak pinggang.
Diubah oleh berkeringat 18-08-2015 20:20
0