- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tentang Penerus KAMI
...
TS
berkeringat
Kisah Tentang Penerus KAMI
Permisi semuanya...
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Izinkan gua menceritakan sebuah kisah.
Kisah ini berada di timeline2005-2008 tahun dimana 'aku' sekolah di sebuah SMA negeri ternama di sebuah kota.
Semua melalui sudut pandang 'aku' sehingga keterbatasan informasi amat mungkin terjadi, gua harap maklum.
Alright then, let's get started
Regards,
Quote:
Diubah oleh berkeringat 24-08-2015 21:21
anasabila memberi reputasi
1
2.8K
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
berkeringat
#4
PART IV
“Matilah...” aku mengumpat dalam hati. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku.
Alarm jam tangan digital-ku berbunyi. Tepat pukul 7 pagi sekarang. Sekolah sudah masuk, sementara aku dan Rian masih tertahan di sini. Bersama orang seram yang belum kami kenal. Aku buru-buru mematikan alarm jam-ku saat ia menoleh melihatnya. Jangan sampai ia tertarik dengan jam ini, tuhan. Ini barang berharga yang diberikan oleh ayahku.
“Hoo... Jamnya bagus...” ujarnya sambil tersenyum.
“Eh... iya bang...” ucapku sambil menghapus keringat di dahi. Mataku panas, rasanya ingin menangis. Entah karena takut atau karena keringat yang begitu deras mengucur.
“Matilah... Matilah...” dadaku berdegup kencang.
“Nah, gini...” ucapnya kemudian mengalihkan pandangan ke depan.
“Nama gua, Samid.” Ia lalu menyalami kami berdua.
Anjriiit! Untunglah dia tidak meminta jam ini.
“Iya bang...” kami berdua bersalaman dengannya.
“Gua kelas dua. IPS-5. Lo berdua kelas berapa?”
“Kita kelas X-2 bang...” jawab Rian.
“Hmmm...” ia mengangguk pelan. Kemudian, “Lo berdua, ikut gua. Liat ini udah jam tujuh, gak mungkin lo berdua masuk sekarang...” lanjutnya lagi sambil berdiri dan berjalan ke arah belakang.
Kami yang ketakutan mengikutinya dengan gemetar. Bayangan buruk kembali menyelusup ke dalam benakku.
Agak jauh kami berjalan, hingga sampailah di sebuah lapangan luas yang dipenuhi dengan sampah-sampah yang berserakan. Lapangan berdebu ini dikelilingi oleh pagar seng, seperti sebuah tanah yang akan dibuat bangunan. Kami masuk ke dalamnya melalui celah kecil yang muat untuk dimasuki dua orang.
Di dalam sana terdapat sekitar empat atau lima mobil rongsok yang sudah berkarat. Bangkai mobil. Bang Samid lalu membuka paksa pintu sebuah mobil vw combi lalu masuk kedalamnya. Kami berdua mengikutinya.
“Liat noh...” ia membakar sebatang rokok kemudian menunjuk ke arah barat, kami bisa melihatnya di jendela belakang, sekumpulan orang berdiri jauh disana memakai pakaian seragam dan bertampang seram.
Rian menoleh ke arahku. Aku tidak mampu berkata apa-apa, namun entah kenapa adrenalin-ku terpacu. Sepertinya akan ada kejadian seru sebentar lagi.
“Rokok?” Bang Samid menawari kami sebungkus rokok keras yang sering dihisap oleh pekerja kasar.
“Enggak bang...” tolak kami dengan halus.
“Ohhh...”
Tak lama kemudian beberapa orang lagi datang, mungkin sekitar 15-20 orang. Memakai pakaian bebas serta membawa peralatan untuk berkelahi, tongkat baseball, kayu tebal, ikat pinggang, bahkan seorang yang paling depan membawa sebilah pedang samurai.
“Itu, yang paling depan namanya Baban.”
“Baban...” ucap kami berbarengan.
Alarm jam tangan digital-ku berbunyi. Tepat pukul 7 pagi sekarang. Sekolah sudah masuk, sementara aku dan Rian masih tertahan di sini. Bersama orang seram yang belum kami kenal. Aku buru-buru mematikan alarm jam-ku saat ia menoleh melihatnya. Jangan sampai ia tertarik dengan jam ini, tuhan. Ini barang berharga yang diberikan oleh ayahku.
“Hoo... Jamnya bagus...” ujarnya sambil tersenyum.
“Eh... iya bang...” ucapku sambil menghapus keringat di dahi. Mataku panas, rasanya ingin menangis. Entah karena takut atau karena keringat yang begitu deras mengucur.
“Matilah... Matilah...” dadaku berdegup kencang.
“Nah, gini...” ucapnya kemudian mengalihkan pandangan ke depan.
“Nama gua, Samid.” Ia lalu menyalami kami berdua.
Anjriiit! Untunglah dia tidak meminta jam ini.
“Iya bang...” kami berdua bersalaman dengannya.
“Gua kelas dua. IPS-5. Lo berdua kelas berapa?”
“Kita kelas X-2 bang...” jawab Rian.
“Hmmm...” ia mengangguk pelan. Kemudian, “Lo berdua, ikut gua. Liat ini udah jam tujuh, gak mungkin lo berdua masuk sekarang...” lanjutnya lagi sambil berdiri dan berjalan ke arah belakang.
Kami yang ketakutan mengikutinya dengan gemetar. Bayangan buruk kembali menyelusup ke dalam benakku.
Agak jauh kami berjalan, hingga sampailah di sebuah lapangan luas yang dipenuhi dengan sampah-sampah yang berserakan. Lapangan berdebu ini dikelilingi oleh pagar seng, seperti sebuah tanah yang akan dibuat bangunan. Kami masuk ke dalamnya melalui celah kecil yang muat untuk dimasuki dua orang.
Di dalam sana terdapat sekitar empat atau lima mobil rongsok yang sudah berkarat. Bangkai mobil. Bang Samid lalu membuka paksa pintu sebuah mobil vw combi lalu masuk kedalamnya. Kami berdua mengikutinya.
“Liat noh...” ia membakar sebatang rokok kemudian menunjuk ke arah barat, kami bisa melihatnya di jendela belakang, sekumpulan orang berdiri jauh disana memakai pakaian seragam dan bertampang seram.
Rian menoleh ke arahku. Aku tidak mampu berkata apa-apa, namun entah kenapa adrenalin-ku terpacu. Sepertinya akan ada kejadian seru sebentar lagi.
“Rokok?” Bang Samid menawari kami sebungkus rokok keras yang sering dihisap oleh pekerja kasar.
“Enggak bang...” tolak kami dengan halus.
“Ohhh...”
Tak lama kemudian beberapa orang lagi datang, mungkin sekitar 15-20 orang. Memakai pakaian bebas serta membawa peralatan untuk berkelahi, tongkat baseball, kayu tebal, ikat pinggang, bahkan seorang yang paling depan membawa sebilah pedang samurai.
“Itu, yang paling depan namanya Baban.”
“Baban...” ucap kami berbarengan.
Diubah oleh berkeringat 18-08-2015 20:19
0