Kaskus

Story

ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ane mau share novel buatan ane sendiri gan

Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural

Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati


Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang

Spoiler for Begini gan ceritanya::



Gan, setelah baca mohon komennya, ya

Ane sangat menerima kritik dan saran

Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini

emoticon-Malu (S)Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya ganemoticon-Malu (S)

emoticon-Blue Guy PeaceTerima kasih ganemoticon-Blue Guy Peace
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
544
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
ShadowroadAvatar border
TS
Shadowroad
#152
Part 22: Serangan Balik
Quote:


Sandra memiliki gaya rambut yang sama persis dengan Maya. Hanya saja rambutnya disemir dengan campuran beberapa warna sekaligus. Wajahnya juga mirip dengan Maya. Dia memakai blazer berwarna coklat yang didalamnya terdapat rompi anti peluru. Di celana panjangnya juga dilapisi beberapa anti peluru. Sementara di punggungnya, Sandra memakai tombak panjang seukuran tubuhnya.

Quote:


Sandra tiba-tiba berlari meninggalkan Bryan dan Dietrich. Dia lalu berbelok di koridor. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan hantu perawat tadi. Tangan Sandra membawa sebuah kotak medis. Melihat hantu itu, tentu saja Dietrich langsung memejamkan mata dan menutup mukanya sambil merinding ketakutan. Mungkin sangat aneh untuk Dietrich. Padahal dia biasanya memberikan ilusi sosok hantu, monster atau makhluk mengerikan pada lawan-lawannya. Tapi sekarang, giliran dirinya sendiri melihat hantu malah ketakutan dan hampir menangis. Mungkin dia tahu benar antara realita dan kenyataan.

Tubuh Dietrich terkena tiga peluru namun untungnya tidak terkena bagian vital. Karena itulah tadi mereka hanya stuck di satu tempat. Untuk menghilangkan rasa sakitnya, Dietrich memberikan ilusi pada dirinya sendiri. Karena itulah tadi, dirinya tidak terlihat bermasalah atau kesakitan. Tapi tetap saja tubuhnya sedang luka. Bryan yang paham kondisi itu, sengaja memasang posisi bertahan.

Quote:


Bryan sudah biasa melihat hantu dan semacamnya. Biasanya Sandra membuka penglihatan Bryan ketika mereka berjalan bertiga dengan Maya. Di saat itulah Bryan tahu berbagai jenis hantu. Awalnya tentu saja Bryan merinding ketakutan dan menangis. Lama-lama pengendali es itu sudah terbiasa. Kali ini tidak perlu membuka mata Bryan, hantu perawat itu yang menampakkan diri.

Quote:


Dietrich hanya mengangguk pasrah agar luka-lukanya disembuhkan. Dengan tetap memejamkan mata, Dietrich membuka bajunya. Bisa dirasakan oleh Dietrich tangan-tangan lembut dan dingin menyentuh punggungnya. Tangan-tangan milik hantu yang begitu lembut namun begitu dingin dan membuat bulu kuduknya berdiri. Dietrich tidak tahu apa yang dilakukan oleh si hantu. Dia hanya merasakan ada benda padat yang keluar perlahan-lahan dari lukanya. Anehnya sama sekali tidak terasa perih. Perlahan-lahan, Dietrich merasakan ada kain perban yang menyentuh dan membalut luka-lukanya. Dietrich bisa merdengar suara “terima kasih dan kami akan segera membantu menyelesaikan masalah para hantu yang tinggal di sini” dari bibir Sandra. Dietrich tak paham dan tak peduli masalah apa yang dimaksud.

Quote:


Perlahan, Detrich membuka matanya. Dia menoleh ke sekelilingnya. Tak ada apapun di koridor selain Bryan dan Sandra yang berdiri di sekitarnya. Hantu itu benar-benar sudah pergi. Dietrich akhirnya bisa menghela nafas lega karena ketakutannya sudah berakhir.

Quote:


Dietrich dan Bryan mengangguk. Sebelum memulai penyerangan, Dietrich dan Bryan mengumpulkan pasak kayu dan benda tajam. Apapun asalkan bisa mengoyak jantung para vampire dan membunuh mereka.

Quote:


Dietrich menggerakkan tubuhnya. Mulai dari gerakan bertarung mudah hingga sulit. Mulai dari mengendap-endap hingga berlari. Semuanya lancar. Dietrich tidak merasakan kesakitan lagi. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilakukan hantu itu pada tubuhnya.

Quote:


Kata-kata Dietrich terhenti karena melihat dua orang vampire muncul. Bryan dengan refleknya yang cepat, menciptakan tameng es di depan dirinya dan Dietrich. Vampire-vampire itu menembaki tameng es buatan Bryan sehingga menimbulkan suara retakan es dan dentingan logam yang jatuh ke lantai. Sadar karena es Bryan ada batasnya, Dietrich melakukan tembakan balik dengan dua pistolnya dari samping tameng es. Tembakannya mengenai kaki si vampire sehingga cukup untuk membuat mereka kembali berlindung di balik tembok.

Quote:


Begitu dua vampire itu mengeluarkan tangannya untuk menembak, Bryan langsung menembakkan panah esnya. Panah-panah itu melesat dan berterbangan di udara. Menusuk tangan-tangan para vampire. Dua vampire merintih kesakitan sambil mencabuti es-es yang menusuk dan melubangi tubuhnya. Di saat itulah Dietrich datang dan memberikan ilusi pada dua vampire itu. Tubuh dua vampire itu langsung kaku. Bryan membuat dua tombak es runcing dan menusukkannya ke tubuh dua vampire itu. Setelah membunuh dua vampire itu, mereka segera berlari lagi.

Quote:


Kali ini muncul empat vampire sekaligus. Mereka langsung masuk kamar perawatan untuk menghindari peluru-peluru yang melesat di udara. Begitu tembakan berhenti, Dietrich mengeluarkan tangannya melewati pintu dan mulai menembaki para vampire secara acak. Blasteran Jerman itu tertawa puas karena keberuntungannya berhasil melukai vampire. Entah berapa yang kena. Yang jelas, Dietrich bisa mendengar beberapa jeritan kesakitan.

Quote:


Dietrich tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil sub-machine gun yang tergeletak di samping mayat seorang vampire. Berharap masih ada peluru di senjata itu, Dietrich mengeluarkan tangannya dan mulai menembaki secara acak lagi. Tidak ada suara jeritan. Sepertinya para vampire mulai waspada akan tembakan acak darinya. Para vampire pastinya bersembunyi di balik tembok. Begitu mendengar suara tembakan balasan dari para vampire, Dietrich cepat-cepat memasukkan tangannya lagi. Sambil terengah-rengah dia melihat apa yang dilakukan Bryan.

Bryan mendorong ranjang pasien mendekati pintu. Bagian depan ranjang itu dilapisi es-es runcing. Tiba-tiba dua vampire muncul di depan pintu kamar. Sepertinya mereka mulai berani maju karena Dietrich menghentikan tembakan acaknya. Karena terkejut, Bryan segera mendorong ranjang pasien itu sekuat tenaga sambil merundukkan kepalanya agar peluru-peluru liar tidak mengenai dirinya. Es-es runcing yang melapisi bagian depan ranjang itu mengoyak tiga vampire dan merobek-robek kulit kaki mereka. Dua vampire sisanya muncul dan menembaki Bryan. Karena terlambat menghindar, dua butir peluru menembus tangan kiri Bryan.

Vampire-vampire yang terkena ‘ranjang perawatan berduri es’ mencoba bangkit dengan susah payah. Tangan-tangan mereka mencabuti duri-duri es yang patah dan menancap di kaki mereka sambil meringis kesakitan. Mereka mendorong balik ranjang itu hingga kembali ke kamar. Dengan amarah yang tinggi karena terkena duri-duri es, tiga vampire itu menembaki ruangan dengan membabi-buta dari luar kamar.

Di dalam kamar, Bryan sudah membuat senjata sendiri. Puluhan tombak es yang runcing dan panjang terbang di atas kepalanya. Sambil terengah-rengah dan menahan sakit yang menyiksa tangan kirinya, tangan kanan Bryan tegak ke langit-langit. Dia berjongkok dan berlindung di balik sebuah lemari besi bersama Dietrich. Konsentrasi Bryan masih berusaha mengendalikan es-es itu dan memang sengaja menembakkan senjata esnya begitu para vampire masuk.

Quote:


Semua prediksi Bryan sangat akurat. Dari pintu muncul dua tangan vampire dan mereka mulai menembaki ruangan secara acak. Persis seperti yang dilakukan Dietrich tadi. Peluru-peluru mereka melubangi semua yang ada di ruangan. Entah itu kasur, tembok, lantai atau alat-alat kesehatan lainnya. Beruntungnya, semua peluru yang mengarah ke Bryan dan Dietrich terhalang oleh lemari besi.

Quote:


Dietrich tidak begitu paham kenapa Bryan tiba-tiba menjerit. Padahal sejak awal dia tampak bisa menahan sakitnya dan tembakan acak saat ini tidak ada yang mengenai pengendali es itu. Blasteran Jerman itu benar-benar tidak paham.

Tembakan acak itu terhenti dan tak lama kemudian, beberapa vampire tiba-tiba masuk ke ruangan. Mereka terpancing suara jeritan Bryan. Di saat itu pula, puluhan es-es runcing yang telah disiapkan oleh Bryan menghujani lima vampire itu. Es-es runcing itu menyayat dan menusuk tubuh para vampire sehingga mereka menjatuhkan senjatanya. Karena luka mereka cukup banyak dan dalam, darah mereka yang begitu banyak dengan cepat membasahi lantai.

Teringat akan perintah Bryan, Dietrich mulai menjalankan bagiannya. Sebelum mengeluarkan ilusinya, dia menembaki para vampire yang berjatuhan di lantai dengan senjatanya. Memastikan agar mereka benar-benar tidak bisa memegang senjata lagi. Setelah itu, Dietrich melompat keluar dari samping lemari dan mengaktifkan ilusinya: Sleep Paralysis.

Sleep Paralysis adalah salah satu dari beberapa teknik ilusi Dietrich. Prinsip ilusinya terinspirasi dari fenomena sleep paralysis. Fenomena ini membuat orang sadar bahwa dirinya sedang tidur. Namun, tubuhnya tak bisa digerakkan. Orang yang mengalami ini biasanya mengalami terror dan ketakutan karena mereka melihat sesuatu yang berdiri atau duduk di atas tubuhnya. Biasanya yang mereka lihat adalah sosok hantu.

Para vampire yang terkena sleep paralysis hanya bisa terbujur kaku. Tubuh mereka lumpuh. Mata mereka tetap terbuka dan terlihat ketakutan. Tentu saja Dietrich menciptakan bermacam-macam hantu yang menduduki tubuh para vampire.

Sekarang Dietrich hanya bersandar di ranjang yang telah terbalik. Nafasnya terengah-rengah. Mengeluarkan ilusi sleep paralysis masih memakan energi besar untuknya. Dia hanya melihat Bryan melubangi jantung para vampire satu per satu dengan tombak esnya. Dietrich hanya mengernyit melihat Bryan membunuh para vampire tanpa merasakan pada lengannya yang tertembus peluru.

Quote:


Bryan tak hanya mengangguk begitu mendengarkan nasehat Dietrich. Dia meletakkan telapak tangannya di atas kulitnya yang berlubang akibat peluru. Tiba-tiba pendarahannya berhenti. Bryan mengangkat telapak tangan dari bekas lukanya sehingga terlihatlah kulit Bryan yang diselimuti oleh es. Membekukan luka sendiri bukan ide bagus, namun masih tetap lebih baik jika Bryan merawat lukanya. Paling tidak, darahnya tak bercucuran lagi.

Quote:

Diubah oleh Shadowroad 16-08-2015 15:50
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.