- Beranda
- Stories from the Heart
-Catatan Untuk Riyani-
...
TS
azelfaith
-Catatan Untuk Riyani-
CATATAN UNTUK RIYANI

Sebuah Skripsi

Quote:

(dengerin lagunya dulu ya biar meleleh)

Prologue
Sebut saja namaku Boy, 23 tahun. Penulis? Jelas bukan. Aku hanyalah seorang anak laki-laki yang tumbuh tegak ke atas bersama waktu, soalnya kalau melebar kesamping berarti tidak sesuai kayak iklan Boneto. Dilecut dalam romantika kehidupan labil (bahkan sampai sekarang.
-Editor).Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang gadis, sebut saja Bunga. Eh, jangan. Nama Bunga sudah terlalu mainstream dan negatif, Sebut saja Riyani, itu lebih indah dibaca dan tanpa konotasi negatif berita kriminal. (iya gimana sih..
- Editor)Ya, Riyani itu kamu. Bukan Riyani yang lain. (Emang Riyani ada berapa gan?
- Editor) Aku menulis ini karena aku tak punya harta materi (Hiks..kasihan
- Editor). Karena aku tak punya apapun. Karena aku bahkan tak ingat apa yang jadi favoritmu. Aku hanya tahu kau suka membaca, maka aku hanya bisa mempersembahkan tulisan ini sebagai ungkapan terima kasihku untukmu Riyani, seseorang yang akan kunikahi nanti. (Ciyyeeee.. suit-suit dah mau kimpoi nih..
- Editor)Dan kau Riyani, perhatikanlah bagaimana kuceritakan masa-masa dimana aku tumbuh dewasa hingga kutitipkan kepingan hati terakhirku padamu. Masa-masa dimana aku belajar, ditempa, jatuh remuk, dan kembali bangkit karenamu.. (Ceiileee romantisnyaaa...
- Editor).
DAFTAR ISI
Quote:
INTERLUDE
Quote:

RULES
Quote:

Q & A
Quote:

Jangan lupa komen, rates, dan subscribe.
Ijo-ijo belakangan mah gak masalah.

Diubah oleh azelfaith 04-07-2016 15:20
septyanto memberi reputasi
2
110.5K
623
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•51.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
azelfaith
#549
8.2. Satu Hari, Satu Hati 1
Tahukah kau Riyani? Guruku dulu pernah berkata disela-sela ice breaking dalam pelajarannya, nama adalah sebuah penggambaran dari seseorang. Ketika orang tersebut terasa begitu bermakna, hanya dengan menyebut namanya saja sudah cukup membuat hatimu bergetar tanpa alasan. Kau bisa temukan sejuta spectrum warna yang berpendar dalam alam pikirmu ketika nama seseorang yang kau khususkan di hati disebut.
Dan bagiku, Wandany Anastasia, begitulah kira-kira dia disebut. Dan aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat orang tuanya berpikir menciptakan nama tersebut. Sebuah nama yang cukup menggetarkan palung hati saat itu. Sebuah nama dari seseorang yang duduk tepat disampingku.
Dia, gelap yang kuanggap terang.
Aku diam, kemudian mendongakkan kepala menengadah ke langit-langit sekolah. Angin berhembus melewati hidungku. Sejuk.
Dia menanyakan sebuah alasan. Menagih sebuah pernyataan yang bisa kujawab dengan ribuan kalimat alasan tanpa henti. Namun adakah kalimat-kalimat itu bermakna baginya. Kenapa aku memilihnya? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan yang bahkan aku tak tahu jawabannya? Angin berhembus kembali, sejuk terasa menerpa di sela-sela tanganku.
Kami duduk bersebelahan di depan kelasnya. Sebuah kelas yang berada di lorong sekolah. Tempat yang cukup sejuk karena disitulah udara dan angin berlalu lalang sehingga kita tak perlu avatar Aang. Kelas-kelas lain masih cukup ramai meski sudah pulang sekolah. Beberapa anak tampak bermain-main dengan sapu, sedang yang lainnya tampak rajin menerjang debu, ada pula yang bagai butiran debu.
Aku hanya membutuhkan satu jawaban, ya atau tidak. Bagiku keduanya sama saja Wandany.
Dia diam. Aku pun ikut diam. Kami saling diam. Aku menarik nafas panjang puluhan centimeter, berharap bisa menyedot ketenangan. Tapi jauh di dalam hatiku aku sudah tenang. Aku sudah sering patah hati, aku sudah pernah terkhianati, apalagi yang kutakuti? Tak terbalas cintaku pun tak mengapa. Setidaknya bagiku sudah itu pasti.
Ekor mataku meliriknya. Dia menunduk, memain-mainkan sepasang kaki yang terbalut kaos kaki pendek semata kaki berpadu dengan sepatu sneakers hitam putih. Iseng, sneakers lusuhku ikut menyenggol kakinya.
Aku meliriknya, jangankan nunggu bus. Nunggu Tank pun aku rela.
Dan bagiku, Wandany Anastasia, begitulah kira-kira dia disebut. Dan aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat orang tuanya berpikir menciptakan nama tersebut. Sebuah nama yang cukup menggetarkan palung hati saat itu. Sebuah nama dari seseorang yang duduk tepat disampingku.
Dia, gelap yang kuanggap terang.
****
Quote:
Aku diam, kemudian mendongakkan kepala menengadah ke langit-langit sekolah. Angin berhembus melewati hidungku. Sejuk.
Dia menanyakan sebuah alasan. Menagih sebuah pernyataan yang bisa kujawab dengan ribuan kalimat alasan tanpa henti. Namun adakah kalimat-kalimat itu bermakna baginya. Kenapa aku memilihnya? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan yang bahkan aku tak tahu jawabannya? Angin berhembus kembali, sejuk terasa menerpa di sela-sela tanganku.
Kami duduk bersebelahan di depan kelasnya. Sebuah kelas yang berada di lorong sekolah. Tempat yang cukup sejuk karena disitulah udara dan angin berlalu lalang sehingga kita tak perlu avatar Aang. Kelas-kelas lain masih cukup ramai meski sudah pulang sekolah. Beberapa anak tampak bermain-main dengan sapu, sedang yang lainnya tampak rajin menerjang debu, ada pula yang bagai butiran debu.
Quote:
Aku hanya membutuhkan satu jawaban, ya atau tidak. Bagiku keduanya sama saja Wandany.
Dia diam. Aku pun ikut diam. Kami saling diam. Aku menarik nafas panjang puluhan centimeter, berharap bisa menyedot ketenangan. Tapi jauh di dalam hatiku aku sudah tenang. Aku sudah sering patah hati, aku sudah pernah terkhianati, apalagi yang kutakuti? Tak terbalas cintaku pun tak mengapa. Setidaknya bagiku sudah itu pasti.
Ekor mataku meliriknya. Dia menunduk, memain-mainkan sepasang kaki yang terbalut kaos kaki pendek semata kaki berpadu dengan sepatu sneakers hitam putih. Iseng, sneakers lusuhku ikut menyenggol kakinya.
Quote:
Aku meliriknya, jangankan nunggu bus. Nunggu Tank pun aku rela.
0
