Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Chapter 6 hari ke 4(2) di mess (haruskah logika gw dikalahkan hal yang bersifat klenik):
“ aduhhh “ secara reflek gw langsung melihat minto dan indra yang kebetulan tepat dibelakang gw
“ maksud kalian apa? Kalian enggak suka sama yang baru saja gw lakuin “ ucap gw bercampur emosi
“ ehh maksud lu apa za?” terlihat indra agak bingung dengan maksud perkataan gw
“ kenapa lu pukul kepala gw, kalau enggak suka jangan begitu caranya “
“ wahh jangan asal nuduh za, gw sama indra tuh enggak ngelakuin apa2 ” jawab minto yang agak kesal dengan tuduhan gw
Gw terdiam mendengar jawaban minto, rasanya gw bisa mempercai jawabannya, setelah gw meminta maaf, akhirnya kami membereskan sesajen yang berhamburan dilantai
“ sepertinya terornya sudah dimulai za ” ucap indra merespon kejadian yang baru saja gw alami
“ sudahlah, kalian terlalu banyak nonton film horor ” jawab gw dengan tersenyum untuk mengurangi rasa ketakutan mereka
Jam hampir menunjukan pukul 11 malam, kami memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini, satu persatu kami meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar masing masing, terlihat minto agak enggan untuk memasuki kamarnya, ada raut wajah kekhawatian setelah peristiwa sesajen yang gw tendang dikamarnya
“ mau tidur dikamar gw to ?”
“ ogahh za, kamar gw sendiri aja gw takut, apalagi kamar lu yang udah terkenal kamar terseram disini ” akhirnya minto memutuskan untuk tidur dikamar indra dengan berbekal selembar tikar
“ gara gara lu nih za, gw bisa masuk angin ” ucap minto dengan gaya merajuk
“ bisa juga lu bergaya cewek to, sorry atas kejadian tadi ” jawab gw dengan tertawa melihat tingkah pola minto
Ini merupakan kejadian teraneh selama hidup gw, dimana seseorang bisa terteror di kediamannya sendiri, terteror oleh mahluk yang belum jelas bentuknya, sosok mahluk yang gambarannya terbentuk karena obrolan dari mulut ke mulut, sehingga ketika mencapai mulut orang yang tidak mengalami kejadian, melihat atau merasakan peristiwa yang tidak masuk akal itu, mahluk itu akan tergambar menjadi lebih menyeramkan, kembali gw tersenyum bila membayangkan itu semua.
Sesampainya dikamar, sebelum tidur gw putuskan untuk mencari sisa sisa peristiwa yang mungkin tercecer dikamar ini, peristiwa tentang arda mengakhiri hidupnya dikamar ini dengan sangat tragis dan dengan cara tersiksa, gw bisa bayangkan ketika dia terbaring diranjang ini dengan darah yang mulai keluar secara cepat dari nadinya, dan perlahan suplai oksigen ke otaknya akan semakin berkurang, hal ini menyebabkan nafas terasa tercekik hingga akhirnya mati, sungguh perbuatan bodoh yang sangat menyiksa
Entah kenapa gw selalu menemukan sebuah keberanian yang lebih bila memasuki kamar ini, gw seperi memasuki sebuah zona yang memberikan gw rasa aman, gw bisa merasakan ketenangan, seakan akan ada suatu pelindung yang memberikan gw semua rasa ketenangan ini, entah apa..
Setelah terasa lelah dan tidak menemukan sisa apa apa, akhirnya gw putuskan untuk tidur, suara tiang listrik yang dipukul oleh petugas keamanan seakan menjadi tanda bahwa waktu sudah jam 12 malam
“ brakkk “ terdengar seperti suara pukulan tangan ke arah jendela kamar gw, suara ini belum cukup untuk membangunkan gw dari pembaringan, sejenak gw hanya menggeliat dan meneruskan tidur, hingga akhirnya selang beberapa menit suara itu kembali terdengar, berhubung malam sebelumnya gw pernah mengalami kejadian seperti ini, gw hanya menganggap kejadian biasa seperti malam kemarin, sebuah kejadian tanpa gw menemukan bukti apa apa, hingga akhirnya sebuah bunyi ketiga, sebuah bunyi yang kontan membangunkan gw dari tidur dan membuat rasa ngantuk gw menghilang dngan seketika
“ cringgg cringggg brakkkkkk!!!..hi.hi.hi.hi”
“ hrrrrrrrrrrr……hihihihi…hihihihi..”
“ baik, suara apa itu “ ucap gw dengan kagetnya, suara itu benar2 terdengar jelas, ini jelas bukan sebuah mimpi, sebuah suara rantai yang ditarik lalu dipukulkan ke arah tembok diiringi dengan suara tawa cekikikan dari seorang wanita, hingga akhirnya terdengar suara geraman yang dilanjutkan dengan suara cekikikan yang panjang dan perlahan suara itu semakin menjauh hingga akhirnya hilang ditelan suara malam , itu jelas suara tawa seorang wanita dan suara geraman itu, itu merupakan suara geraman yang gw dengar malam sebelumnya
“ tuhan, ada apa ini ” rasa kaget ini telah membuat gw terduduk dipinggir ranjang, akhirnya gw putuskan untuk membuka jendela dimalam buta itu, gw bisa melihat waktu masih menunjukan jam 2 pagi, dengan perlahan gw buka gerendel jendela dan mendorongnya secara perlahan, gw takut ada sesuatu yang tiba tiba mengagetkan gw, tidak lucu rasanya bila gw pingsan malam ini karena sesuatu yang mengagetkan, hanya hembusan angin malam yang gw temui diluar sana, tapi perlahan demi perlahan hembusan angin ini berubah menjadi sebuah hembusan yang membawa aroma amis hingga akhirnya berubah menjadi bau khas dari sebuah bangkai, mual rasanya mencium bau ini terlalu lama hingga akhirnya gw putuskan untuk menutup jendela, sebelum daun jendela tertutup secara sempurna, sekilas mata gw menangkap sebuah bayangan dari sebuah pohon besar yang berada diluar pagar, bayangan itu secara perlahan akhirnya membentuk sebuah wujud, ya sebuah wujud yang untuk pertama kalinya gw lihat dalam hidup gw, kini bayangan tesebut telah membentuk sebuah wujud yang menyerupai wanita dengan balutan gaun putih panjang, gw coba untuk memperhatikannya lebih seksama, wanita tersebut terlihat seperti berayun ayun dibatang pohon tanpa sedikitpun tangannya menyentuh batang pohon, tangan wanita itu terlihat memainkan sebuah rantai yang terikat dipergelangan kakinya, hingga akhirnya wanita itu menatap ke arah gw dan tersenyum, sebuah senyum yang sangat jauh dari kata senyuman manis dari seorang wanita cantik, dia tersenyum dengan tatapan kosong, sebuah senyuman yang hampir menyerupai seringai, hingga akhirnya wanita tersebut mengeluarkan suara tawa yang menyerupai sebuah jeritan, baru kali ini gw merasakan keterkejutan yang membuat bulu kuduk disekitar tengkuk gw berdiri, tanpa berpikir panjang segera gw tutup daun jendela dan terdiam sesaat sambil tangan ini tetap memegang daun jendela dengan erat, rasa takut ini telah membuat adrenalin gw terlontar keluar dan meninggalkan rasa gemetar dibadan ini
“ sialan!!! apa itu ” ucap gw dengan setengah memaki, segera gw tarik nafas panjang dan kembali mengumpulkan pikiran positif, gw tidak mau rasa takut ini mengambil alih pikiran positif gw dan menggantinya dengan kepercayaan akan hal yang berbau ghoib, setelah gw berhasil mengontrol rasa takut, akhirnya kembali gw beranikan diri untuk membuka daun jendela kembali secara perlahan
“ jangan konyol, ini hanya permainan pikiran za, lu sudah berimajinasi ” ucap gw kepada diri sendiri untuk sekedar menambah keberanian, hingga akhirnya daun jendela itu kembali terbuka sempurna dan gw hanya bisa menyaksikan keheningan malam, lama tatapan mata gw terdiam memandang pohon besar itu, kini yang gw lihat hanyalah sebuah pohon besar dengan dedaunannya yang rimbun bergerak gerak tertiup angin malam
“ tolol sungguh tolol, hampir saja gw dikalahkan ketakutan yang tidak masuk akal ” ucap gw dengan tersenyum lega, akhirnya gw putuskan untuk menyalakan sebatang rokok dan menikmati hembusan angin malam, setelah batangan rokok telah memasuki hisapan terakhir, segera gw langkahkan kaki menuju kamar mandi, rasa keterkejutan ini telah membuat perut gw sedikit mulas atau bisa juga ini efek makan sore gw yang terlalu banyak memakan sambal
Dengan bermodalkan sebatang rokok untuk menuntaskan panggilan alam ini, terdiam gw dipojokan kamar mandi dengan penuh konsentrasi, hingga akhirnya sebuah panggilan membuyarkan semua konsentrasi gw
“ za…” sebuah panggilan yang memanggil nama gw, mata gw segera menatap pintu kamar mandi dan mencoba memperhatikan apakah ada yang memanggil gw dari luar sana
“ siapa ya “ jawab gw sambil berdiri dan menghampiri pintu lalu membuka pintu hanya untuk sekedar melihat keluar, yang gw dapati hanya sepi tanpa ada seseorangpun disana, mungkin gw salah dengar itulah yang ada dibenak gw saat ini, hingga akhirnya sebuah suara kembali terdengar, tapi inilah suara yang berhasil mengalahkan akal sehat gw, sebuah suara panggilan yang berasal dari dalam kamar mandi, lebih tepatnya dari arah belakang tubuh gw
“ za…”
rasa terkejut bercampur dengan rasa takut telah membuat gw seperti seorang manusia yang terkena stroke mendadak, hanya terdiam tanpa bisa bergerak, bulu kuduk yang berdiri di tengkuk gw seperti mematikan aliran darah dileher ini, berat dan terasa kaku, gw paksakan diri untuk mengumpulkan kekuatan hanya untuk sekedar menolehkan kepala dan mencari sumber suara panggilan itu, setelah berusaha sekuat tenaga mengalahkan rasa takut itu akhirnya gw berhasil menolehkan kepala ke arah belakang dan kembali gw mendapati kenyataan hanya gw seorang sendiri yang berada dikamar mandi ini, hingga akhirnya sebuah suara panggilan kembali terdengar dengan suaranya yang menggema, dan kali ini gw bisa meyakinkan bahwa arah suara tersebut berasal dari sumur tua yang berada disudut kamar mandi
“ za..za..”
Jantung gw seperti mendadak berhenti seiring keringat dingin yang membasahi wajah dan leher gw, ini nyata…sangat nyata, dan tanpa berpikir panjang segera gw tendang pintu kamar mandi dan berlari keluar sambil berteriak2 histeris
“ ndraaa !!! tooooo!!” teriak gw sambil terus berlari menuju arah kamar indra, dan segera mengetuk kamar indra dengan keras
“ ndra, to !!! bangunnn!!” ucap gw dengan keras, tanpa harus menunggu lama, pintu kamar indra segera terbuka, terlihat indra dan minto menatap gw dengan rasa ketakutan, hal yang gw tangkap saat ini, gw melihat indra dan minto tidak tampak seperti orang yang baru saja bangun tidur
“ lu kenapa za?” ucap indra sambil menatap gw tidak berkedip
“ masuk lu za “ terlihat minto menarik gw masuk ke kamar
“ ada, ada…ada suara” jawab gw dengan tergagap2
“ lu dengar dimana za suaranya “ ucap indra yang kini terlihat ikut tercekam rasa takut
“ dikamar mandi ndra, disaat gw lg buang air besar ” jawab gw dengan nafas yang masih memburu, terlihat mata indra dan minto menatap gw dengan rasa aneh, antara rasa takut dengan rasa menahan tawa di wajah mereka
“ gila lu za, takut sih takut, lihat tuh lu masih belum pakai celana ” ucap indra yang kini sudah tidak bisa menahan tawanya begitu jg dengan minto
“ jangan2 za ” terlihat minto menutup mulutnya
“ apaaaa??” ucap gw dengan rasa penasaran, parno rasanya mendengar ucapan minto
“ lu belum cebok juga ya ” gw hanya terdiam malu, menyaksikan tingkah laku gw yang seperti orang tolol indra dan minto kembali tertawa
“ temenin gw cebok dan menyiram toilet dong ” pinta gw sambil meminta sebuah celana pendek hanya sekedar untuk menutupi kemaluan gw
“ ogahhh gw takut, indra aja tuh ” jawab minto sambil menunjuk kearah indra, terlihat kepala indra juga menggeleng tanda menolak
“ enak aja lu to, gw juga takut ”
“ ada apa ini bapak2 “ terlihat kini mas dikin sudah hadir dengan wajah keheranan, mungkin dia terbangun karena terganggu dengan suara ribut ribut ini, matanya memperhatikan dengan heran akan kondisi gw yang tidak mengenakan celana dan hanya menutupi bagian kemaluan
“ lohh pak reza “ ucap mas dikin dengan rasa keheranan, akhirnya gw putuskan agar mas dikin mengambil air yang berada didalam kulkas, setelah mendapatkan air kulkas yang dingin segera gw langkahkan kaki keluar rumah hanya untuk cebok diluar sana,sungguh rasa malu, sudah tidak gw rasakan malam ini, rasa malu itu sudah dikalahkan oleh rasa takut
“ semoga tidak ada orang yang melihat gw diluar sana, bisa2 mereka berpikir gw sedang melaksanakan ritual ” ucap gw berharap didalam hati
Next Chapter : hari ke 5 di mess (ketika akal sehat gw terinjak2 petuah orang pintar)