- Beranda
- Stories from the Heart
[Share] Too Good to be Bad, too Bad to be Good. (Parental Advisory advised)
...
TS
ontopoftheworld
[Share] Too Good to be Bad, too Bad to be Good. (Parental Advisory advised)
Selamat Sore/Pagi/Malam untuk warga Kaskus, serta warga SFTH khusus-nya.
Salam sejahtera.
Sebelumnya, mohon perkenalkan, nama gue Mako.
Kenapa gue buat thread ini?
Belakangan ini gue sering main-main ke Sub-Forum ini, dan gue lihat banyak banget cerita yang disajikan disini.
True Story, mulai dari yang bergenre Misteri sampai bergenre Percintaan.
Gue tergerak menulis disini selain mau menyalurkan keinginan gue untuk menulis, juga untuk membagi pengalaman hidup gue, mungkin bisa bermanfaat untuk orang yang membaca-nya. Entah itu akan ada yang terbawa masuk ke lingkaran yang gue alami, atau malah menjauhi segala perbuatan seperti perbuatan yang gue lakukan.
Kenapa berjudul seperti judul yang gue cantumkan?
Gue adalah seorang pria, umur gue 31 Tahun, bukan mau menyombong gue orang yang taat beragama (gue Muslim btw, tapi nantinya tolong jangan bawa atmosfer cerita-cerita gue kearah SARA), gue juga sering bersedekah dan beramal, segala kewajiban dan sunnah yang dianjurkan oleh agama gue, sebagian besar gue laksanakan. Gue sudah beristri dan mempunyai 2 orang putri.
Saat ini, gue bekerja disalah satu PMA di sekitaran Cikarang, dan gue memegang jabatan cukup penting di perusahaan tempat gue bekerja, dan kompensasi dari pekerjaan gue ini memang besar.
Dibalik kehidupan yang menurut gue ideal, gue adalah cowok bajingan yang doyan main cewek.
Dari Gadis, Janda, sampai bini orang, jablay, angel karaoke gue garap, beberapa berakhir bahagia, beberapa berakhir sengsara.
Dari kenalan di media sosial hingga kenalan di McDona*d, dari Forum bokep hingga BO di Twitter, dari tempat Karaoke hingga Massage++ kalau ada waktu dan kesempatan pasti gue garap.
Hingga saat ini, sisi lain dari gue belum (dan gue harap tidak) ketahuan sama bini gue serta keluarga besar gue.
Hanya beberapa teman dekat gue dan partner in-crime gue yang tahu kalau gue itu adalah bajingan.
Cerita seperti ini adalah cerita klise, cerita kehidupan sehari-hari yang lekat ditelinga, tapi sebelum anda bosan dan sebelum gue menjemukan, mohon baca cerita dari dalam hati gue, lalu judge sesuka hati ente semua.
Segala cerita yang akan gue sajikan memuat cerita kehidupan nyata gue. Silahkan tentukan sendiri tingkat kebenaran dari cerita gue, dan gue gak memaksa ente semua menelan bulat-bulat informasi yang gue sajikan dalam cerita-cerita gue.
Segala cerita yang akan gue sajikan menyimpan karakter yang gue samarkan identitas-nya demi menjaga privasi ybs, tetapi gue tidak akan menyamarkan tempat dan waktu-nya. Dan segala cerita yang gue sajikan pada bagian intim gw tekan ke-21++-an-nya seminimal mungkin, karena yang gue sajikan bukan cerita detil gw ML ke cewek selain bini gue, tetapi Cerita Pra- dan Pasca- penggarapan.
Mohon untuk tidak SARA, dan keep silent if anyone of You recognized me.
Salam Damai,
Mako.
Salam sejahtera.
Sebelumnya, mohon perkenalkan, nama gue Mako.
Kenapa gue buat thread ini?
Belakangan ini gue sering main-main ke Sub-Forum ini, dan gue lihat banyak banget cerita yang disajikan disini.
True Story, mulai dari yang bergenre Misteri sampai bergenre Percintaan.
Gue tergerak menulis disini selain mau menyalurkan keinginan gue untuk menulis, juga untuk membagi pengalaman hidup gue, mungkin bisa bermanfaat untuk orang yang membaca-nya. Entah itu akan ada yang terbawa masuk ke lingkaran yang gue alami, atau malah menjauhi segala perbuatan seperti perbuatan yang gue lakukan.
Kenapa berjudul seperti judul yang gue cantumkan?
Gue adalah seorang pria, umur gue 31 Tahun, bukan mau menyombong gue orang yang taat beragama (gue Muslim btw, tapi nantinya tolong jangan bawa atmosfer cerita-cerita gue kearah SARA), gue juga sering bersedekah dan beramal, segala kewajiban dan sunnah yang dianjurkan oleh agama gue, sebagian besar gue laksanakan. Gue sudah beristri dan mempunyai 2 orang putri.
Saat ini, gue bekerja disalah satu PMA di sekitaran Cikarang, dan gue memegang jabatan cukup penting di perusahaan tempat gue bekerja, dan kompensasi dari pekerjaan gue ini memang besar.
Dibalik kehidupan yang menurut gue ideal, gue adalah cowok bajingan yang doyan main cewek.
Dari Gadis, Janda, sampai bini orang, jablay, angel karaoke gue garap, beberapa berakhir bahagia, beberapa berakhir sengsara.
Dari kenalan di media sosial hingga kenalan di McDona*d, dari Forum bokep hingga BO di Twitter, dari tempat Karaoke hingga Massage++ kalau ada waktu dan kesempatan pasti gue garap.
Hingga saat ini, sisi lain dari gue belum (dan gue harap tidak) ketahuan sama bini gue serta keluarga besar gue.
Hanya beberapa teman dekat gue dan partner in-crime gue yang tahu kalau gue itu adalah bajingan.
Cerita seperti ini adalah cerita klise, cerita kehidupan sehari-hari yang lekat ditelinga, tapi sebelum anda bosan dan sebelum gue menjemukan, mohon baca cerita dari dalam hati gue, lalu judge sesuka hati ente semua.
Segala cerita yang akan gue sajikan memuat cerita kehidupan nyata gue. Silahkan tentukan sendiri tingkat kebenaran dari cerita gue, dan gue gak memaksa ente semua menelan bulat-bulat informasi yang gue sajikan dalam cerita-cerita gue.
Segala cerita yang akan gue sajikan menyimpan karakter yang gue samarkan identitas-nya demi menjaga privasi ybs, tetapi gue tidak akan menyamarkan tempat dan waktu-nya. Dan segala cerita yang gue sajikan pada bagian intim gw tekan ke-21++-an-nya seminimal mungkin, karena yang gue sajikan bukan cerita detil gw ML ke cewek selain bini gue, tetapi Cerita Pra- dan Pasca- penggarapan.
Mohon untuk tidak SARA, dan keep silent if anyone of You recognized me.
Salam Damai,
Mako.
Spoiler for Index:
Diubah oleh ontopoftheworld 13-09-2015 01:07
anasabila memberi reputasi
1
7.3K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ontopoftheworld
#3
Isha, garapan ter-update.
Mari kita mulai dari 'garapan' ter-update.
(Mohon kaskuser wanita yang membaca kata "garap" untuk menahan segala emosi-nya, ini adalah istilah yang gue gunakan untuk mempermudah gue menjelaskan kepada kalian)
Sekarang, 13 Agustus 2015, udah malam, gue masih berada dikantor gue disekitaran Cikarang. Gue punya ruangan sendiri di perusahaan tempat gw bekerja, cubical kaca berukuran 3x2 m, cukup luas untuk menaruh perlengkapan kerja gue dan menunaikan ibadah di ruangan gue.
Disela gue menulis, gue barusan menelpon bini gue kalo gue mau pulang malem, nunggu macet agak terurai di Tol Cikampek-Jakarta.
Disela gue menulis juga, gue sedang menunggu balasan chat gue di BBM.
Dengan siapa yang gue BBM-an?
Bukan bini gue, bukan keluarga gue, dan bukan juga teman kerja gue.
Gue lagi BBM-an sama seorang wanita yang berumur 33 Tahun, seorang istri dari PNS Jakarta Timur, yang baru mempunyai 1 orang putra berumur 4 tahun.
Wanita ini bernama 'Isha' (disamarkan), gue sudah kenal dia dari 4 bulan yang lalu, Isha adalah seorang karyawati PMA disekitaran Cikarang juga. Dari sejak 4 bulan yang lalu, gue sudah melakukan hubungan intim dengan Isha sebanyak 3x, ketiga2-nya saat gue dan Isha 'lembur' diperusahaan masing-masing di hari Sabtu.
Isha, Hijabers, tinggi badan sekitar 160 cm, dengat berat badan 50-55 Kg, chubby bukan BBW, wajahnya khas wanita Sunda, putih, wajah nya beberapa bagian terdapat bekas jerawat yang tidak tertutup dengan make-up nya, ketika membuka hijab, terlihat rambut yang lurus tetapi disemir kemerahan dibagian ujungnya, kadang kemeja yang digunakan tidak dapat menahan payudaranya sudah agak turun tapi tetap ranum dan besar, ada sedikit lipatan lemak di perutnya tetapi tidak terlalu mengganggu, ada bekas luka Caesar mengiris bagian perutnya, Isha juga mempunyai tahi lalat dibawah lipatan Payudara kanan-nya
Bagaimana gue bisa kenal Isha?
Mudah, perusahaan Isha adalah supplier salah satu material yang digunakan digunakan di perusahaan tempat gue bekerja.
Segala komunikasi mengenai spesifikasi teknis dan distribusi material merupakan tanggung jawab gue dan Isha diperusahaan masing-masing.
Dari komunikasi aktif ini lah sejak 4 bulan lalu, gw memulai perkenalan gue hingga bisa membawa Isha Check-in di Hotel Sriwijaya Cikarang.
Isha, dia adalah wanita yang menurut gue terlambat menikah, pada umur 28 tahun baru menikah dengan Suami-nya yang merupakan teman saat mereka berkuliah. Isha memang bukan tipikal wanita rumahan atau ibu rumah tangga yang hanya bekerja dirumah saja, Isha terlambat menikah juga kerena dia meniti jengjang karir yang disediakan di perusahaannya. Gue gak pernah menanyakan secara detil tentang suami Isha. Tetapi dari segala komunikasi yang terjalin dari Isha dan Suaminya, mereka tampak baik-baik saja.
Buat gue Isha memang bukan wanita garapan "sekali garap, selesai". Saat ini Isha adalah wanita yang gue larikan segala yang gak gue dapet dari bini gue. Isha merupakan wanita yang berpenampilan sehari-hari menggunakan Hijab, gak terlihat sama sekali bahwa Isha adalah wanita yang bisa digarap. Malah terlihat merupakan wanita baik-baik dengan kehidupan normal.
Sebaliknya, saat gue dan Isha ada didalam ruangan tertutup, mungkin hanya Allah yang ngelihat, sisi liar dari Isha keluar.
Sebelum percakapan ini, sudah banyak komunikasi via BBM, 80% mengenai pekerjaaan, waktu itu gue iseng,
"Sha, Kamu tuh suka cowok ngerokok atau gak sih?", tanya gue suatu Rabu siang di bulan May kemarin. Bulan May adalah saat-saat dimana gue mulai menunjukan gelagat mesum gue ke Isha, dan dapet sinyal positif dari Isha.
Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.
"Aku malahan perokok Pak, tapi kadang-kadang aja sih kalo lagi mau, Kamu emang perokok pak?.", Isha memang selalu manggil gue dengan sebutan "Pak" kalau di BBM, WA, email, dan apapun yang berbau surel elektronik, karena mungkin memang menghormati gue sebagai Costumer produk-nya dia.
"Ya Aku kan ngerokok, waktu kita makan bareng Bos-bos di Mang Kabayan kamu kan ngeliat."
"Oh iya ya Pak, Aku lupa eh... hahaha",
"Kamu malah yang gak keliatan ngerokok waktu itu", tulis gue.
"Rokok-ku lagi habis eh Pak, mau minta ke kamu, malu Pak... hahaha", gue waktu itu emang gak nyangka kalo Isha ngerokok, secara gue masih mandang Jilbab rapih-nya doi.
"Emang rokok mu sama kayak Aku?", rokok gue Marlboro Ice Blast, banyak sih wanita garapan yang rokok-nya ternyata sama kayak gue.
"Loh iya Pak, Aku kan Ice Blast doyan-nya",
"Wah, kapan bisa ngopi & ngerokok bareng nih Sha, sekalian lah kamu roko'in Aku...
", nah, gue selalu menaruh emoticon ini -->
dibalik modus mesum gue buat ngeliat respons dari calon garapan gue, lagi-lagi hal dasar yang klise.
"Oalah, kalo ngeroko'in kamu takut dimarahin suamiku lah Pak... hehehe", wah, masih 'bisa' nih. Insting gue bekerja.
"Tapi, kalo ngopi & ngerokok bareng mah boleh pak, kapan juga bisa kalo lagi di Cikarang Pak", wah lagi, ini ada kesempatan. Insting gue bekerja makin hebat.
"Hayuk, besok ya!! after work, di Cifest Cikarang, Aku yang traktir. Sekalian, bawa proposal material Kamu juga". Oiya, gue lupa tulis, Isha profesi-nya Sales-Marketing. Gue mencoba menyelipkan 'alasan' pekerjaan supaya Isha sungkan untuk menolak, dan gue selalu coba jadi 'the Gentleman' dengan kata-kata 'aku yang traktir', walaupun secara etika ilmu pendekatan Sales, sang Sales lah yang harus-nya traktir.
"Yah, jangan besok deh Pak. Aku lagi ke Tg. Priok Pak, ke Bogasari. Gimana kalau Jumat after-work Pak? Biar lebih panjang waktu ngopi-ngopinya.", Nah, disini gue mulai Pede kalo Isha bisa untuk digarap, pelan tapi pasti.
"Bener juga ya Sha, Jumat malem di Starbucks Cikarang Baru aja deh, gak usah ke Cifest segala, gimana?"
"Okay Pak, siap ajalah kalo Saya, berdua aja nih?", pertanyaan ini sering gue dapet dari calon garapan gue, buat gue pertanyaan ini sulit banget untuk dijawab, disatu sisi gue takut kalau calon garapan gue emang gak minat yang aneh-aneh, dan kalau gue jawabnya "iya berdua aja" ketahuan modus mesum gue. Tapi disisi lainnya juga gue berani, dengan insting dan modal PD, gue selalu jawab "Iya berdua aja"
"iya lah, berdua aja deh, biar Aku enak ngedeketin kamu-nya...
".
"Idih kamu Paaaakkk, inget Istri paaaakkk... hahaha...", udah mulai bisa digoda-menggoda,
"Btw, jangan lupa ya Sha",
"Apa tuh Pak?",
"1. Bawa proposal material baru kamu, sama 2. Minta izin ke suami kamu buat ngeroko'in aku...hahaha"
"Iya, aku bawa pak proposalnya. Sama nanti juga aku tanya ke Suami... hahahaha, si Pak Mako vulgar melulu nihhhh... hahaha".
Dari petikan chat gue dan Isha, gw dapet 2 hal krusial, Isha ngerokok, dan Isha gue anggap garap-able.
Jumat dibulan May pun tiba, gue agak harap-harap cemas Isha gak ada komunikasi duluan nanyain acara ngopi bareng malam-nya. Seharusnya kalau memang Isha menanggapi sinyal mesum gue secara postif, pasti dia yang nanyain duluan.
Habis Jumatan, gue duluan nanya ke Isha via BBM,
"Shaaa, jadi gaaaaakk?, gak ada kabarnya.... hiks..."
"Jadiiiii Paaaakkkk... hahaha... Aku keluar jam 5 dari kantor pak, sama-sama tunggu aja ya kalau datang duluan."
"jangan lupaaaaa Shaaaaa, proposaaaaaaallllll"
"iyaaaaaaaaa"
Jumat malam pun tiba, Isha ternyata sudah sampe duluan di Starbucks Cikarang Baru, setengah jam lebih dulu daripada gue.
Kami ngobrol panjang x lebar seluas-luasnya sambil menghabiskan Kopi dan rokok, dari jam 6 sore hingga 10 malam, tidak berhenti kami mengobrol.
1 hal yang membuat gue sadar kalo Isha kemungkinan garap-able: Tidak satupun topik pembicaran Isha melenceng kearah Suami-nya. Hanya ada 1 momen Isha di telpon suami-nya, sekitar Jam 8 malam. Itu pun Isha menerima sambil berdiri, dan agak menjauh dari tempat duduk kami.
"Dicariin suaminya yaaaa....", canda gue.
"ohh, Iya Pak, nanyain aja lagi dimana",
"udahan aja nih? mau pulang?", sergah gue.
"gak kok pak, yang penting udah tau aja Aku lagi dimana"
"Terus bilang apa sama papih?" gue kepo sambil bercanda lagi,
"Ya bilang lagi nongkrong aja di Starbucks Cikarang", kelihatan air muka Isha agak terganggu sama pertanyaan gue (persepsi gua aja ya). Gue putuskan untuk belokin ke hal lain-nya.
Sekitar jam 09.50 malam, rokok gue sebungkus baru beli sudah habis.
"Nih pak, rokok aku aja nih pakai", sebenernya gue udah agak mual ngabisin 20 batang rokok Marlboro Ice Blast dalam waktu 3-4 jam, gak makan nasi dan cuma ngemil cake-cake di Starbuck saja. Gue liat di kotak rokok Isha masih sisa sekitar 10, dia emang gak terlalu banyak ngerokok. Sama gue jadi agak pesimis sama potensi garapan gue ke dia, karena dari tadi ngobrolin-nya masalah kerjaan sambil sedikit-sedikit bercanda masalah Politik dalam negeri (trust me, umur kepala 3, udah pasti ngomongin Politik).
"Udah gak usah, kayaknya udah kemaleman juga ya Sha. Pulang aja yuk?", ajak gue.
"Iya pak, udah mau jam 10 nih, untung besok Sabtu ya, bisa tidur sampe siang..",
Kami pun beres-beres meja kami, dari Powerbank sampai kabel charger Laptop berantakan diatas meja sambil basa-basi tentang kemacetan.
"Eh ini pak, Proposal Aku eh, udah diketikin masa gak dibawa sih pak.."
"oh iyaaaa.." Muka gue manis-manisin, padahal gue gak terlalu perlu itu propsosal, toh lewat email juga bisa. Dalam hati gue: "siaaaaallll, susah niiiihhh".
Gue berpikir, kenapa Isha mau diajak nongkrong sampai malam sama gue cuma gegara gue nanyain tentang rokok, apakah karena prospek suplay material, apakah ini, apakah itu.
Lalu Insting dan PD gue berjalan lagi. Masih ada 1 jurus yang lupa gue keluarkan.
Gue dan Isha sama-sama jalan ke Mobil masing-masing.
"Daaaahhh Pakkk, ditunggu kabar baik-nya Pakkkkk", Mobil Datsun Go+ Panca Isha terparkir berbeda 2 mobil dari Mobil gue, dia melambai sehabis masukin tas laptop-nya ke kursi belakang. "Kabar baik-nya" me-refer ke proposal material perusahaannya Isha.
"Iya Shaaa, Senin aku bicarakan dulu sama Boss Botak yaaa...", atasan langsung gue berkepala plontos, dan Isha juga sudah pernah ketemu.
"hahaha, dosa loh pak sama atasan kurang ajar gitu...", sambil berdiri di samping pintu mobil-nya Isha tertawa. Setelah gue masukin printilan barang bawaan gue ke kursi belakang, gue langsung menghampiri Isha yang masih memanaskan sejenak mesin mobilnya.
"Shaaaa, lupa nanya nih Aku.", gue melambai-lambai didepan mobil Isha.
"Apa yah pak?", kaca mobil yang tadinya tertutup sebagian diturunkan oleh Isha. Gue mendekat, agak membungkuk supaya lebih dekat ke muka Isha, dengan berusaha berbicara tegas tapi tidak terdengar orang lain selain Isha.
"Udah tanya belum ke Suami-nya? Udah izinin belum kamu ngerokoin Aku?", disini, dimomen ini, gak ada canda dimuka gue, dimomen ini juga, gue mempertaruhkan segala potensi dan kredibilitas gue. Garap, garap sekalian. Hancur, hancur sekalian. Deg...deg...deg.. ada sekitar 3 detik mata gue dan Isha saling tatap, gak tahu apa yang ada dipikiran Isha saat itu. Lalu, Isha mulai menjawab.
"Pak Mako, Aku ya masa minta izin ke Suami ku, malah ribut nantinya." Gue sebenarnya terkesima sama keluguan Isha (atau memang Isha juga ada sinyal ke gue, ada jawabnya di Cerita yang akan datang).
"Serius lah Sha. Itu juga kalau kamunya gak apa-apa", sergah gue sambil sedikit senyum.
"Kenapa nanyanya baru sekarang sih pak? Udah mau pulang juga niiihhh", Waduh, ini gue juga baru ngeh, bajingan kok ya begok, dalam hati gue.
"Yaaa, jawab aja lah, mau atau gak? Serius nih", Kembali gak ada lagi canda dimuka gue. Ada sekitar 5 detik kesunyian diantara bibir dan telinga kami, tetapi beberapa cercah cahaya berpendar bolak balik diantara mata kami.
"mau gak yaaaa?" Pecah sudah momen melankolis saat Isha berkata itu sambil menaruh telunjuk tangan kanan didagunya. Gue langsung menggerenyitkan dahi gue sambil agak menjauhkan muka gue dari sisi jendela mobilnya, tanda kalau gue agak kesel. Melihat itu, Isha mengisyaratkan gue untuk mendekat lagi dengan memainkan telunjuknya dengan tanda memanggil.
Gue dekatkan lagi kepala gue ke jendela mobil Isha.
"Nanti ya, next time aja, tapi ngopi sama ngerokoknya jangan di Starbucks", Isha lalu mencium bagian dalam jemari di tangan kanannya sambil bilang "mmmuuuaach", lalu sedetik kemudian jemarinya ditempelkan ke pipi kiri gue. Gue mundur selangkah, lalu tersenyum ke Isha, dia pun balik senyum ke gue.
"Dahhh paaaakkk", sambil memasukan perseneling mobil ke gigi pertama.
"Daaaahhh Shaaaa, Aku tunggu ya kabar baiknya".
Gue senang, Isha Garap-able.
Inget ini:
Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.
Bukannya menyombong lagi, gue lelaki yang cukup menarik dilihat.
Kakek gue keturunan Arab asli, Nenek gue keturunan Belanda asli. Jadi lah bokap gue anak tunggal mereka, dan gue menurunkan sifat fisik dari bokap gue.
Mata gue teduh, hidung gue mancung, kulit gue sawo matang, tinggi gue 178 cm dengan berat 75 Kg, ideal menurut gue, facial hair gue juga tumbuh bagus didagu & bawah hidung gue.
Gue juga punya kepribadian supel, dan gambang deket sama orang lain.
Salah satu bakat yang gue banggain adalah, gue mampu membuat orang berubah pikiran sesuai yang gue mau.
Jadi, gue rasa Isha tertarik sama gue karena beberapa parameter itu.
(Mohon kaskuser wanita yang membaca kata "garap" untuk menahan segala emosi-nya, ini adalah istilah yang gue gunakan untuk mempermudah gue menjelaskan kepada kalian)
Sekarang, 13 Agustus 2015, udah malam, gue masih berada dikantor gue disekitaran Cikarang. Gue punya ruangan sendiri di perusahaan tempat gw bekerja, cubical kaca berukuran 3x2 m, cukup luas untuk menaruh perlengkapan kerja gue dan menunaikan ibadah di ruangan gue.
Disela gue menulis, gue barusan menelpon bini gue kalo gue mau pulang malem, nunggu macet agak terurai di Tol Cikampek-Jakarta.
Disela gue menulis juga, gue sedang menunggu balasan chat gue di BBM.
Dengan siapa yang gue BBM-an?
Bukan bini gue, bukan keluarga gue, dan bukan juga teman kerja gue.
Gue lagi BBM-an sama seorang wanita yang berumur 33 Tahun, seorang istri dari PNS Jakarta Timur, yang baru mempunyai 1 orang putra berumur 4 tahun.
Wanita ini bernama 'Isha' (disamarkan), gue sudah kenal dia dari 4 bulan yang lalu, Isha adalah seorang karyawati PMA disekitaran Cikarang juga. Dari sejak 4 bulan yang lalu, gue sudah melakukan hubungan intim dengan Isha sebanyak 3x, ketiga2-nya saat gue dan Isha 'lembur' diperusahaan masing-masing di hari Sabtu.
Isha, Hijabers, tinggi badan sekitar 160 cm, dengat berat badan 50-55 Kg, chubby bukan BBW, wajahnya khas wanita Sunda, putih, wajah nya beberapa bagian terdapat bekas jerawat yang tidak tertutup dengan make-up nya, ketika membuka hijab, terlihat rambut yang lurus tetapi disemir kemerahan dibagian ujungnya, kadang kemeja yang digunakan tidak dapat menahan payudaranya sudah agak turun tapi tetap ranum dan besar, ada sedikit lipatan lemak di perutnya tetapi tidak terlalu mengganggu, ada bekas luka Caesar mengiris bagian perutnya, Isha juga mempunyai tahi lalat dibawah lipatan Payudara kanan-nya
Bagaimana gue bisa kenal Isha?
Mudah, perusahaan Isha adalah supplier salah satu material yang digunakan digunakan di perusahaan tempat gue bekerja.
Segala komunikasi mengenai spesifikasi teknis dan distribusi material merupakan tanggung jawab gue dan Isha diperusahaan masing-masing.
Dari komunikasi aktif ini lah sejak 4 bulan lalu, gw memulai perkenalan gue hingga bisa membawa Isha Check-in di Hotel Sriwijaya Cikarang.
Isha, dia adalah wanita yang menurut gue terlambat menikah, pada umur 28 tahun baru menikah dengan Suami-nya yang merupakan teman saat mereka berkuliah. Isha memang bukan tipikal wanita rumahan atau ibu rumah tangga yang hanya bekerja dirumah saja, Isha terlambat menikah juga kerena dia meniti jengjang karir yang disediakan di perusahaannya. Gue gak pernah menanyakan secara detil tentang suami Isha. Tetapi dari segala komunikasi yang terjalin dari Isha dan Suaminya, mereka tampak baik-baik saja.
Buat gue Isha memang bukan wanita garapan "sekali garap, selesai". Saat ini Isha adalah wanita yang gue larikan segala yang gak gue dapet dari bini gue. Isha merupakan wanita yang berpenampilan sehari-hari menggunakan Hijab, gak terlihat sama sekali bahwa Isha adalah wanita yang bisa digarap. Malah terlihat merupakan wanita baik-baik dengan kehidupan normal.
Sebaliknya, saat gue dan Isha ada didalam ruangan tertutup, mungkin hanya Allah yang ngelihat, sisi liar dari Isha keluar.
Sebelum percakapan ini, sudah banyak komunikasi via BBM, 80% mengenai pekerjaaan, waktu itu gue iseng,
"Sha, Kamu tuh suka cowok ngerokok atau gak sih?", tanya gue suatu Rabu siang di bulan May kemarin. Bulan May adalah saat-saat dimana gue mulai menunjukan gelagat mesum gue ke Isha, dan dapet sinyal positif dari Isha.
Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.
"Aku malahan perokok Pak, tapi kadang-kadang aja sih kalo lagi mau, Kamu emang perokok pak?.", Isha memang selalu manggil gue dengan sebutan "Pak" kalau di BBM, WA, email, dan apapun yang berbau surel elektronik, karena mungkin memang menghormati gue sebagai Costumer produk-nya dia.
"Ya Aku kan ngerokok, waktu kita makan bareng Bos-bos di Mang Kabayan kamu kan ngeliat."
"Oh iya ya Pak, Aku lupa eh... hahaha",
"Kamu malah yang gak keliatan ngerokok waktu itu", tulis gue.
"Rokok-ku lagi habis eh Pak, mau minta ke kamu, malu Pak... hahaha", gue waktu itu emang gak nyangka kalo Isha ngerokok, secara gue masih mandang Jilbab rapih-nya doi.
"Emang rokok mu sama kayak Aku?", rokok gue Marlboro Ice Blast, banyak sih wanita garapan yang rokok-nya ternyata sama kayak gue.
"Loh iya Pak, Aku kan Ice Blast doyan-nya",
"Wah, kapan bisa ngopi & ngerokok bareng nih Sha, sekalian lah kamu roko'in Aku...
", nah, gue selalu menaruh emoticon ini -->
dibalik modus mesum gue buat ngeliat respons dari calon garapan gue, lagi-lagi hal dasar yang klise."Oalah, kalo ngeroko'in kamu takut dimarahin suamiku lah Pak... hehehe", wah, masih 'bisa' nih. Insting gue bekerja.
"Tapi, kalo ngopi & ngerokok bareng mah boleh pak, kapan juga bisa kalo lagi di Cikarang Pak", wah lagi, ini ada kesempatan. Insting gue bekerja makin hebat.
"Hayuk, besok ya!! after work, di Cifest Cikarang, Aku yang traktir. Sekalian, bawa proposal material Kamu juga". Oiya, gue lupa tulis, Isha profesi-nya Sales-Marketing. Gue mencoba menyelipkan 'alasan' pekerjaan supaya Isha sungkan untuk menolak, dan gue selalu coba jadi 'the Gentleman' dengan kata-kata 'aku yang traktir', walaupun secara etika ilmu pendekatan Sales, sang Sales lah yang harus-nya traktir.
"Yah, jangan besok deh Pak. Aku lagi ke Tg. Priok Pak, ke Bogasari. Gimana kalau Jumat after-work Pak? Biar lebih panjang waktu ngopi-ngopinya.", Nah, disini gue mulai Pede kalo Isha bisa untuk digarap, pelan tapi pasti.
"Bener juga ya Sha, Jumat malem di Starbucks Cikarang Baru aja deh, gak usah ke Cifest segala, gimana?"
"Okay Pak, siap ajalah kalo Saya, berdua aja nih?", pertanyaan ini sering gue dapet dari calon garapan gue, buat gue pertanyaan ini sulit banget untuk dijawab, disatu sisi gue takut kalau calon garapan gue emang gak minat yang aneh-aneh, dan kalau gue jawabnya "iya berdua aja" ketahuan modus mesum gue. Tapi disisi lainnya juga gue berani, dengan insting dan modal PD, gue selalu jawab "Iya berdua aja"
"iya lah, berdua aja deh, biar Aku enak ngedeketin kamu-nya...
". "Idih kamu Paaaakkk, inget Istri paaaakkk... hahaha...", udah mulai bisa digoda-menggoda,
"Btw, jangan lupa ya Sha",
"Apa tuh Pak?",
"1. Bawa proposal material baru kamu, sama 2. Minta izin ke suami kamu buat ngeroko'in aku...hahaha"
"Iya, aku bawa pak proposalnya. Sama nanti juga aku tanya ke Suami... hahahaha, si Pak Mako vulgar melulu nihhhh... hahaha".
Dari petikan chat gue dan Isha, gw dapet 2 hal krusial, Isha ngerokok, dan Isha gue anggap garap-able.
Jumat dibulan May pun tiba, gue agak harap-harap cemas Isha gak ada komunikasi duluan nanyain acara ngopi bareng malam-nya. Seharusnya kalau memang Isha menanggapi sinyal mesum gue secara postif, pasti dia yang nanyain duluan.
Habis Jumatan, gue duluan nanya ke Isha via BBM,
"Shaaa, jadi gaaaaakk?, gak ada kabarnya.... hiks..."
"Jadiiiii Paaaakkkk... hahaha... Aku keluar jam 5 dari kantor pak, sama-sama tunggu aja ya kalau datang duluan."
"jangan lupaaaaa Shaaaaa, proposaaaaaaallllll"
"iyaaaaaaaaa"
Jumat malam pun tiba, Isha ternyata sudah sampe duluan di Starbucks Cikarang Baru, setengah jam lebih dulu daripada gue.
Kami ngobrol panjang x lebar seluas-luasnya sambil menghabiskan Kopi dan rokok, dari jam 6 sore hingga 10 malam, tidak berhenti kami mengobrol.
1 hal yang membuat gue sadar kalo Isha kemungkinan garap-able: Tidak satupun topik pembicaran Isha melenceng kearah Suami-nya. Hanya ada 1 momen Isha di telpon suami-nya, sekitar Jam 8 malam. Itu pun Isha menerima sambil berdiri, dan agak menjauh dari tempat duduk kami.
"Dicariin suaminya yaaaa....", canda gue.
"ohh, Iya Pak, nanyain aja lagi dimana",
"udahan aja nih? mau pulang?", sergah gue.
"gak kok pak, yang penting udah tau aja Aku lagi dimana"
"Terus bilang apa sama papih?" gue kepo sambil bercanda lagi,
"Ya bilang lagi nongkrong aja di Starbucks Cikarang", kelihatan air muka Isha agak terganggu sama pertanyaan gue (persepsi gua aja ya). Gue putuskan untuk belokin ke hal lain-nya.
Sekitar jam 09.50 malam, rokok gue sebungkus baru beli sudah habis.
"Nih pak, rokok aku aja nih pakai", sebenernya gue udah agak mual ngabisin 20 batang rokok Marlboro Ice Blast dalam waktu 3-4 jam, gak makan nasi dan cuma ngemil cake-cake di Starbuck saja. Gue liat di kotak rokok Isha masih sisa sekitar 10, dia emang gak terlalu banyak ngerokok. Sama gue jadi agak pesimis sama potensi garapan gue ke dia, karena dari tadi ngobrolin-nya masalah kerjaan sambil sedikit-sedikit bercanda masalah Politik dalam negeri (trust me, umur kepala 3, udah pasti ngomongin Politik).
"Udah gak usah, kayaknya udah kemaleman juga ya Sha. Pulang aja yuk?", ajak gue.
"Iya pak, udah mau jam 10 nih, untung besok Sabtu ya, bisa tidur sampe siang..",
Kami pun beres-beres meja kami, dari Powerbank sampai kabel charger Laptop berantakan diatas meja sambil basa-basi tentang kemacetan.
"Eh ini pak, Proposal Aku eh, udah diketikin masa gak dibawa sih pak.."
"oh iyaaaa.." Muka gue manis-manisin, padahal gue gak terlalu perlu itu propsosal, toh lewat email juga bisa. Dalam hati gue: "siaaaaallll, susah niiiihhh".
Gue berpikir, kenapa Isha mau diajak nongkrong sampai malam sama gue cuma gegara gue nanyain tentang rokok, apakah karena prospek suplay material, apakah ini, apakah itu.
Lalu Insting dan PD gue berjalan lagi. Masih ada 1 jurus yang lupa gue keluarkan.
Gue dan Isha sama-sama jalan ke Mobil masing-masing.
"Daaaahhh Pakkk, ditunggu kabar baik-nya Pakkkkk", Mobil Datsun Go+ Panca Isha terparkir berbeda 2 mobil dari Mobil gue, dia melambai sehabis masukin tas laptop-nya ke kursi belakang. "Kabar baik-nya" me-refer ke proposal material perusahaannya Isha.
"Iya Shaaa, Senin aku bicarakan dulu sama Boss Botak yaaa...", atasan langsung gue berkepala plontos, dan Isha juga sudah pernah ketemu.
"hahaha, dosa loh pak sama atasan kurang ajar gitu...", sambil berdiri di samping pintu mobil-nya Isha tertawa. Setelah gue masukin printilan barang bawaan gue ke kursi belakang, gue langsung menghampiri Isha yang masih memanaskan sejenak mesin mobilnya.
"Shaaaa, lupa nanya nih Aku.", gue melambai-lambai didepan mobil Isha.
"Apa yah pak?", kaca mobil yang tadinya tertutup sebagian diturunkan oleh Isha. Gue mendekat, agak membungkuk supaya lebih dekat ke muka Isha, dengan berusaha berbicara tegas tapi tidak terdengar orang lain selain Isha.
"Udah tanya belum ke Suami-nya? Udah izinin belum kamu ngerokoin Aku?", disini, dimomen ini, gak ada canda dimuka gue, dimomen ini juga, gue mempertaruhkan segala potensi dan kredibilitas gue. Garap, garap sekalian. Hancur, hancur sekalian. Deg...deg...deg.. ada sekitar 3 detik mata gue dan Isha saling tatap, gak tahu apa yang ada dipikiran Isha saat itu. Lalu, Isha mulai menjawab.
"Pak Mako, Aku ya masa minta izin ke Suami ku, malah ribut nantinya." Gue sebenarnya terkesima sama keluguan Isha (atau memang Isha juga ada sinyal ke gue, ada jawabnya di Cerita yang akan datang).
"Serius lah Sha. Itu juga kalau kamunya gak apa-apa", sergah gue sambil sedikit senyum.
"Kenapa nanyanya baru sekarang sih pak? Udah mau pulang juga niiihhh", Waduh, ini gue juga baru ngeh, bajingan kok ya begok, dalam hati gue.
"Yaaa, jawab aja lah, mau atau gak? Serius nih", Kembali gak ada lagi canda dimuka gue. Ada sekitar 5 detik kesunyian diantara bibir dan telinga kami, tetapi beberapa cercah cahaya berpendar bolak balik diantara mata kami.
"mau gak yaaaa?" Pecah sudah momen melankolis saat Isha berkata itu sambil menaruh telunjuk tangan kanan didagunya. Gue langsung menggerenyitkan dahi gue sambil agak menjauhkan muka gue dari sisi jendela mobilnya, tanda kalau gue agak kesel. Melihat itu, Isha mengisyaratkan gue untuk mendekat lagi dengan memainkan telunjuknya dengan tanda memanggil.
Gue dekatkan lagi kepala gue ke jendela mobil Isha.
"Nanti ya, next time aja, tapi ngopi sama ngerokoknya jangan di Starbucks", Isha lalu mencium bagian dalam jemari di tangan kanannya sambil bilang "mmmuuuaach", lalu sedetik kemudian jemarinya ditempelkan ke pipi kiri gue. Gue mundur selangkah, lalu tersenyum ke Isha, dia pun balik senyum ke gue.
"Dahhh paaaakkk", sambil memasukan perseneling mobil ke gigi pertama.
"Daaaahhh Shaaaa, Aku tunggu ya kabar baiknya".
Gue senang, Isha Garap-able.
Inget ini:
Gue udah nyangka sih.
Kenapa? Nanti diujung posting ini gw kasih tahu.
Bukannya menyombong lagi, gue lelaki yang cukup menarik dilihat.
Kakek gue keturunan Arab asli, Nenek gue keturunan Belanda asli. Jadi lah bokap gue anak tunggal mereka, dan gue menurunkan sifat fisik dari bokap gue.
Mata gue teduh, hidung gue mancung, kulit gue sawo matang, tinggi gue 178 cm dengan berat 75 Kg, ideal menurut gue, facial hair gue juga tumbuh bagus didagu & bawah hidung gue.
Gue juga punya kepribadian supel, dan gambang deket sama orang lain.
Salah satu bakat yang gue banggain adalah, gue mampu membuat orang berubah pikiran sesuai yang gue mau.
Jadi, gue rasa Isha tertarik sama gue karena beberapa parameter itu.
Diubah oleh ontopoftheworld 14-08-2015 13:49
0