- Beranda
- Stories from the Heart
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
...
TS
joechristianp
The Abnormal (kisah fiksi bercampur reality masa-masa SMA)
The Abnormal
Selamat pagi, siang, sore, malam agan/wati semuanya
Disini saya mau mengikuti saran dari teman saya yaitu menyebarluaskan hobi iseng-iseng saya ini
tak lain dan tak bukan adalah menulis
selama ini kegiatan saya hanyalah mengekspresikan hobi ini secara tertutup di laptop pribadi
sampai suatu saat teman saya menyarankan untuk memposting di SFTH kaskus.. katanya para pembaca disini baek-baek

oleh karena itu, saya mohon pendapat agan/wati semuanya jikalau ada saran untuk tulisan-tulisan saya yang kebetulan belum pernah dibaca oleh siapapun

satu lagi.. saya masih newbie di kaskus.. jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau thread ini tidak rapi atau tidak layak dimata agan-agan sekalian

Terima kasih untuk yang mau membaca dan mohon bantuannya
~Don't judge a book by it's cover ~
... meh, that's bullshit !
Spoiler for Sinopsis:
...
Samuel yang biasa dipanggil 'Jo' adalah siswa SMA yang selalu beranggapan kalau kata don't judge a book by it's coveradalah omong kosong. karena apa yang dia lihat selalu tak sesuai dengan ekspetasi dia.
ditambah lagi penyakit social awkwardnya membuat dia selalu merasa canggung di dekat lawan jenis dan karena itu, dia dijuluki 'cowo terjutek' semasa hidupnya.
sampai suatu hari. seseorang yang unik muncul di hadapannya dan mengubah seluruh jalan hidupnya. serempak dengan datangnya masalah yang bertubi-tubi, dapatkah dia menggapai tujuannya?
...
Spoiler for Prolog:
Cerita ini bukan dari kisah nyata tetapi saya memberanikan diri untuk menempatkan nama sekolah sendiri sebagai latar utama.Saya juga akan menggunakan gaya bahasa setengah gaul
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.
Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
walaupun saya belum terbiasa memakainya. Ketika saya melihat foto sepupu saya yang menderita down syndrome, pikiran saya mulai mengarang cerita dan saya ingin mengaplikasikannya dalam bentuk light-novel. Walau ini bukan kisah nyata; sifat, latar, dan tokoh yang saya pakai berasal dari dunia nyata.Disini saya akan menuliskan beberapa pengalaman hidup saya yang baru 16 tahun ini dan menambahkan sedikit bumbu-bumbu imajinasi orisinil dari otak saya sendiri dan dari beberapa buku, film, bahkan kartun yang mengambil peran dalam hidup saya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua orang mengatakan kalau jangan menilai orang dari tampangnya melainkan nilai dari apa yang ada dalam dirinya, tapi bagi gue itu semua omong kosong. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang menilai orang secara langsung dari sifat objek yang dinilainya. Orang-orang akan memperlakukan kamu lebih baik jika kamu cakep (baca: cantik atau ganteng). Berdasarkan paham negatif inilah gue meyakini kalau frase don’t judge a book by it’s cover itu omong kosong. Pada kenyataanya manusia membeli buku dengan cover yang bagus, membeli makanan yang kemasannya bagus, bahkan lebih bangga memakai gadget berlambang apel padahal fiturnya sama dengan gadget yang harganya sama dengan uang jajan gue selama sebulan.
Tapi tak jarang gue sedikit menerima kalau ada beberapa orang yang benar-benar menilai orang dari sifat alaminya. Seperti contoh, saat gue ke Trans Studio Bandung (TSB) bersama teman-teman gue, ada cewek cantik se-kabupaten mempunyai pacar seorang cowo yang mukanya lebih mirip dengan siluman gagang pintu. Disitu gue menilai mungkin si cowo benar-benar memiliki hati yang pure dan si cewe benar-benar tulus mencintainya. Tapi sesaat kami hendak pulang, di tempat parkir, si cowok sedang asyik memainkan kunci mobil lamborgini nya dengan muka senyum sombong merangkul sang cewe yang senang kegirangan memegang produk paling baru dari gadget apel yang sudah disebutkan diatas. Sejak kejadian itu, gue dan teman-teman sejomblo sepakat untuk tidak ke TSB lagi.
Mari kita kesampingkan masalah siluman gagang pintu dulu, disini gue akan memaksukan objek manusia yang biasanya sosoknya dihiraukan oleh manusia lain. Tak lain dan tak bukan adalah manusia yang tidak normal. Orang yang dilahirkan tak sempurna dari semestinya. Gue percaya semua orang mempunyai masa depan yang cerah yang telah Tuhan tentukan. Mau itu cinta, karir, kesehatan, keluarga dan lain-lain asalkan kita sebagai makhluk ciptaanNya mengikuti apa yang Dia perintahkan.
Tidak semua manusia normal. Ada yang dilahirkan hanya dengan satu tangan. ada juga yang mempunyai dua tangan, dua kaki tapi harus berbagi kepala dan jantung dan seisi perutnya bersama saudara kembar sebadannya. Begitu pula dengan cinta. Semua punya selera masing-masing. Si tampan dengan si cantik. Si kaya dengan si miskin. Si pemain film serigala dengan si cantik, si kaya, si sosialita, si pintar dan si lain-lainnya. yaa, pemain film mempunyai banyak pacar, oleh karena itu, selain jadi pengacara, cita-cita sampingan gue adalah pemain film.
Gue sebagai pengarang cerita ini berharap kalau isi novel ini benar-benar ada di dunia nyata dimana orang-orang yang dilahrikan kurang dari semestinya mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama seperti manusia pada umumnya.
Spoiler for PART 1: Normal:
Nama gue Sam Cristian. Panjangnya Samuel Cristian Gibran Panjaitan. Gue mempunyai nama paling panjang di kelas (mungkin di sekolah) sekaligus mempunyai gelar nama panggilan terpendek. Makhluk-makhluk di sekolah biasa memanggil gue Jo (bahkan ada yang memanggil O ). (panggilan gue didapat dari nama karakter game online gue. semua game online yang gue mainin nick nya Joe blablabla.., awalnya hanya teman sepermainan gue yang tau, eh ternyata sampe keterusan ke kelas..)(diluar ketika ditanya apa nama panggilannya, gue selalu mengatakan 'Jo')
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Sepanjang hidup gue yang masih pendek ini, terlihat sangat normal. Tampang biasa saja,Hidup berkecukupan, sekolah lancar, makan tiga kali sehari, berantem, bahkan ikut main ke warnet saat point blank datang merusak generasi yang sudah rusak ini.
Tapi dikehidpuan gue yang normal ini, gue menderita penyakit psikologis yang beberapa orang mungkin mengalaminya tapi belum menyadarinya, penyakit ini disebut social-awkward. Ciri-cirinya: gue akan mengeluarkan aura canggung setiap bertemu orang yang baru kenal,gue gak bisa menatap mata orang lama-lama, gue gak akan bisa membuat percakapan di ruang penuh orang tetapi sepi, gue hanya ngobrol akrab bersama orang yang gue anggap teman (biasanya teman sekelas), dan yang paling menonjol setiap gue suka sama sosok cewek, gue akan mengobrol tak kenal lelah melalui jejaring sosial, entah itu sms, bbm, LINE, simsimi, apapun itu. Tapi ketika bertemu dengan orangnya langsung, mulut gue membisu, otak gue berhenti sesaat, tak ada yang bisa gue lakukan selain membuang muka. Alhasil gue dapat predikat cowo terjutek sejak SD kelas 4 sampai sekarang. Gue sedikit bangga dengan itu, itu membuktikan kalau keberadan gue setidaknya di akui orang.
Selain social-awkward di kehidupan gue yang normal ini ada satu hal yang menurut gue tidak normal kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan gue. Yaitu cinta.
Gue belum pernah merasakan cinta yang benar-benar sampai ke pojok hati gue. Sebatas suka yang sebulan kemudian rasa itu telah terlupakan. Cinta monyet yang merupakan salah satu dari syndrom remaja ini sering menghampiri gue. Gebetan gue banyak (pas smp). Tapi hanya tiga yang nyantol.
Gue sering membandingkan kisah asmara gue dengan teman-teman smp dan sma gue. Beberapa dari mereka bisa awet pacaran sampai bertahun-tahun padahal setiap bulannya mereka pasti berantem dan membuat suasana kelas jadi canggung. Ada yang pacarannya sudah direstui orangtua kedua belah pihak. Bahkan ada yang sudah merasakan first kiss nya (ya gue gak ngarep sih). Tapi gue disini hanya menjadi perantara teman-teman gue yang pacaran dan menjadi sumber cibiran mereka saat gue melakukan kesalahan. “jomblo sihh” begitu kurang lebih.
Ketiga mantan gue ini hampir semua gue udah lupa. Yang paling gue inget adalah yang terakhir. Sosok bernama Fifi ini mengaku suka gue ketika jurit malam acara dari gereja gue dulu. Malam itu kami disuruh melewati jalan setapak becek nan gelap. Gue sebagai laki-laki satu-satunya di kelompok itu membranikan diri membawa senter dan maju di barisan paling depan. Fifi berada dibelakang gue dan sepanjang perjalan dia memegang lengan jaket gue.
Awalnya hanya jaket. Tapi makin jauh kami melewati jalan setapak ini, tangan dia berada di telapak tangan gue.
“gue takut Jo, kaya gini sebentar gapapa ya?”
Yahh well ini berkah buat gue. Lumayan tangan gue yang sudah lama tidak digenggam ini dipegang oleh cewe cantik yang baru saja gue kenal. Jadi gue bersikap gentle dan mempersilahkan dia menyandarkan ketakutannya ke tangan gue.
Selesai acara dia berkata
“wah Jo lu hebat banget ya. Kok berani siih di tempat gelap sempit gitu? Jago deh kamu”
Disitu gue gak mungkin berkata yang sejujurnya. Apanya yang berani? Sepanjang acara gue ngumpulin semua ketakutan gue ke dalam perut gue yang masuk angin. Seingat gue, setiap mau jalan langkah kaki gue gemetar membayangkan apa yang bersembunyi di tempat gelap seperti itu. Tapi apa boleh buat, bacot an khas gue keluar tiba-tiba bercampur dengan kebiasaan social-awkward gue.
“ah segitu mah udah sering di rumah, huehe” gue berbicara dengan nada sok cool sambil membuang muka.
Dengan semua kejadian itu, pada akhirnya gue bertukaran nomor handphone dan pin bb. Kebiasaan buruk gue terjadi lagi. Gue banyak berbicara di percakapan tak langsung itu. Kami berbicara tak kenal waktu. Menanyakan hal-hal yang sama terus menerus sampai salah satu berkata “udah dulu ya udah malam, dadah good night, sleep well !”
Itu berulang terus menerus sampai takdir mempertemukan kami secara langsung di gereja. Saat kami berpapasan dia hanya melempar senyum sedangkan gue melempar muka sambil menahan malu.
Sampai sekarang belum ada percakapan secara langsung diantara kami. Gue hanya berbicara seperti orang bisu melalui handphone.
Lambat laun kami menyatakan saling suka (melalui sms). Walaupun ngomongnya udah pake sayang-sayang an, gue gak pernah nembak dia. Jadi secara teoritis hubungan ini tidak bisa dikatakan pacar. Hanya gue seorang yang menganggap dia mantan pacar gue setiap ditanya perihal “berapa banyak mantan pacar lo?”
Fifi cewek yang bener-bener gue respect. Dia berkata kalau gue cinta pertamanya dan dia belum pernah merasa senyaman ini setiap dia chattingan dengan gue.
Sampai sekarang kami punya janji. Setelah kelulusan SMP gue pernah berkata gue bakal masuk sma di Bandung (saat itu gue masih tinggal di cianjur). Dia berkata gak ada yang bisa gantiin gue, dia gak pengen gue pindah. Dan dengan kebranian, kebodohan, kepolosan gue, gue berkata “sanggup nunggu tiga tahun?”.
Dia menyanggupinya, dia berkata bakal nunggu tiga tahun sampai dia lulus sma dan hendak kuliah ke Bandung. Janji itu masih berlaku sampai sekarang. Gue tinggal meunggu 1,5 tahun lagi untuk membuktikan janji yang dibuat anak smp ini. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati gue, janji ini sama sekali tidak gue tanggapi.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun penyakit gue, gue sadar kalau Fifi adalah orang terakhir yang gue suka. ~
Sampai dia datang dan mengubah segalanya...
Spoiler for Indeks:
PART 6: Hoseki ? Hoffen?
PART 7: Hoseki ? Hoffen? -2
PART 8: The Abnormal One
PART 9: The Abnormal One -2
PART 10: The Abnormal One -3
PART 11: Pembahasan Tanpa Ujung
PART 12: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki)
PART 13: Kerupuk Ikan Rasa Udang (A story from Redzki) -2
PART 14: Benjamin Spock
PART 15: Benjamin Spock -2
PART 16: Benjamin Spock -3
PART 17: Trissha Minnoty
PART 18: Trissha Minnoty -2
PART 19: Between You and Her
PART 20: Symphony 7 Warna
PART 21: Symphony 7 Warna -2
PART 22: Symphony 7 Warna -3
PART 23: Permata dan Harapan
PART 24: Permata dan Harapan -2
PART 25: Permata dan Harapan -3
PART 26: Gadis Malu
PART 27: Black Market
PART 28: Black Market -2
PART 29: Sebab Akibat
PART 30: Sebab Akibat -2
PART 31: Anggrek Bulan
PART 32: Anggrek Bulan -2
PART 33: Dibalik Hujan Kemarau (A story from Agam)
PART 34: Dibalik Hujan Kemarau (A story of Agam) -2
PART 35: If You Know What I Mean
PART 36: If You Know What I Mean -2
PART 37: 15 Agustus
PART 38: 15 Agustus -2
PART 39: Minneapolis
PART 40: Minneapolis -2
PART 41: Woman's Problem
PART 42: Woman's Problem -2
PART 43: Uncompleted Canceled Plan
PART 44: Uncompleted Canceled Plan -2
PART 45: Uncompleted Canceled Plan -3
PART 46: Uncompleted Canceled Plan -4
PART Bonus: Yuk! mengenal dan tes Highly Sensitive Person !
Spoiler for Penokohan:
Sam Cristian (Joe) ... Tokoh utama dalam cerita. juga berperan sebagai penulis cerita alias TS sendiri

Hoseki Hoffen ... Perempuan yang menjadi sorotan karena keunikannya.. mungkin ada yang bertanya kenapa namanya nyentrik banget, karena itu tetap bersabar karena ada part dimana nama makhluk ini dijabarkan.
Mino ... Perempuan yang mempunyai cara sendiri ketika mengejar orang yang disukainya... aneh memang.
Agam ... si otaku pervert temennya Sam
Redzki ... Maniak komputer yang misterius. temennya Sam juga
Bagdi (bang Andi) ... anaknya pak kost yang kebetulan seorang psikolog. temennya Sam lagi..
Cipta ... pelawak di Baka sekaligus ketua Baka. lagi-lagi temannya Sam..
Bella ... Perempuan yang dikejar-kejar Sam. ...tadinya
Om Albert ... Ayahnya Hoseki. si kaya dengan sembilan anak uniknya.
Pakos ... pria buncit sang penjaga rumah kost
Bukos ... sepaket dengan Pakos
Renaldi ... teman bermain Sam. hanya muncul saat dikantin.
Bu Musdianti .. si guru bahasa Inggris yang kelewat baik.
Pak Momo ... Si wali kelas tercintah
..next, Coming Soon
Diubah oleh joechristianp 13-09-2015 20:08
anasabila memberi reputasi
1
17.2K
Kutip
126
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
joechristianp
#102
Spoiler for PART 38: 15 Agustus -2:
Bella membawa gue ke UKS. Awalnya gue tak mau tapi karena dia terus memaksa akhirnya gue luluh juga. Ketika dia bilang gue demam, badan langsung lemas rasanya.
Dia membaringkan gue di tempat tidur. Pengawas UKS sedang tidak ada. Ketika gue rebahan, rasa pusing seperti tiba-tiba menjalar keseluruh badan gue dan gue baru sadar ternyata gue memang sedang demam. Setelah memberi obat parasetamol, Bella tiba-tiba lari keluar.
“tunggu sebentar !” teriaknya.
Belum lama setelah Bella keluar, dua orang yang dari tadi mengintip dari jauh akhirnya masuk ke ruang UKS dengan tergesa-gesa.
“lo kenapa coeg ? !” pekik Agam disusul Redzki yang meraba-raba panas badan gue.
“hahaha kalem.. lu enak-enaknya ngintipin gue dari tadi.” balas gue dengan tenang. Semakin banyak bicara, semakin ingin pingsan rasanya.
“duhh tadi cuma gak sengaja liat elu lagi duduk duaan ama Bella, ya gue liatin hahaaha.. udah deh sekarang lo kenapa?”
“ga tau nih, gue tiba-tiba demam. Masih ada ujian lagi .. ahhh stress gue.” ucap gue lemas sambil sedikit bermanja-manja.
“lo itu dari tadi pagi gue liatin udah ga bener tampangnya.” Kata Redzki. “lo kenapa? Gak sarapan? Bukannya lo udah biasa?” ucap dia sambil menyindir.
Belum sempat gue jawab Bella tiba-tiba masuk dengan termometer digital ditangannya. Dia berhenti lari ketika melihat Agam dan Redzki.
“oh tidak..” kata Agam dengan suara sangat pelan seperti tidak ingin didengar.
Suasana canggung tiba-tiba memenuhi ruangan. Bella seperti kedapatan sedang melakukan sesuatu yang memalukan. Wajahnya sedikit demi sedikit memerah.
“ehh.. dari pada mengganggu, kami sebaiknya keluar ya he he he..” bisik Agam sambil menarik tangan Redzki hendak keluar.
Baru saja melewati Bella dan berada di daun pintu. Bella tiba-tiba bicara tanpa menghadap mereka.
“JANGAN MENINGGALKAN TEMAN KALIAN YANG SEDANG SAKIT BRENGSEK! BUKANNYA KALIAN LAKI-LAKI?” kata Bella dengan nada dan suara yang mengerikan. Agam langsung terdiam dibuatnya. Bella memalingkan wajahnya ke Agam dengan pelan dan dengan tatapan yang entah bagaimana,yang jelas Agam sampai menelan air liur dan berjalan kembali kearah gue dengan santainya.
Dia berbisik. “astaga Jo, ni cewe ngeri juga..” suaranya getir. Gue baru sadar Agam ternyata mulai berkeringat dan jari-jarinya gemetaran.
Gue tersenyum bangga. “inilah Bella yang gue tau...”
Bella menghampiri gue dengan ekspresi yang jauh berbeda. Wow ! perubahan yang signifikan. Dia kembali tersenyum, membuka tutup termometer, dan menaruh termometer itu di ketiak kiri gue. gue dapat melihat wajahnya dari dekat dan gue yakin saat itu pipinya memerah. Dia terlalu mencondongkan punggungnya. Wajahnya sangat dekat dari sudut pandang gue. keringat dari wajahnya menetes ke pelipis telinga gue dan bercampur dengan keringat gue yang lainnya.
“terima kasih” ucap gue pelan.
Dia tersenyum dan dari jarak yang sedekat ini, dengan pelan dia mengecup kening gue.
“semoga cepat sembuh” kembali dengan senyum manisnya.
Ahhhhhhhhhhh tidak tidak tidak. Hal itu tidak terjadi haha. Itu hanya sebagian dari fantasi gue. ketika dia meletakkan termometer ke ketiak gue, gue langsung termenung dan fantasi itu bermain begitu saja.. yang jelas jarak wajah kami memang dekat pada saat itu, pipinya memerah, keringat kami bercampur, dan gue bisa mengucapkan terima kasih dengan pelan. Dia membalas dengan senyum manisnya.
“jadi.. apa yang terjadi?” tanya Bella ketika dia mengambil posisi duduk di ranjang dekat kaki gue. dengan santainya dia menghiraukan sosok Agam dan Redzki seolah sudah kenal.
“ahh.. kayanya karena akhir-akhir ini aku jarang sarapan ama tidur terlalu malam.” Jawab gue.
“ah masa karena gitu doang?” celoteh Agam. “biasanya lu kuat kok.”
Gue hanya diam tak bisa menjawab apa-apa. Gue juga heran kenapa gue bisa sakit dihari ujian. Gue memikirkan ulang apa saja yang gue makan akhir-akhir ini.
“kayanya kamu stress ya?” kata Bella tiba-tiba dengan hipotesisnya.
“kamu ini kebanyakan mikirin sesuatu nih.. makanya stress.. stress juga bisa bikin sakit loh.” Ujarnya.
“ahh iya mungkin saja.” Kepala gue kembali sakit seperti ditusuk-tusuk.
“kamu mikirin apa Jo?” tanya Bella dengan suara yang lembut.
Gue memalingkan wajah agar tak ada yang melihat perubahan raut wajah gue. Gue tau benar apa yang mengganggu pikiran gue selain ujian. Hal itu terus bergentayangan di pikiran gue dan emosi ini mengalir begitu saja. Gue bisa merasakan tenggorokan gue serak padahal belum mengatakan apapun.
“15 Agustus..” ucap gue. suara gue yang getir memenuhi ruangan.
“..dia.. Hoseki...” gue berhenti sejenak. “Hoseki akan pindah 15 Agustus nanti.”
.
Mereka diam. Gue tak tau bagaimana reaksi mereka. Gue memalingkan wajah sambil menutupi mata gue dengan bantal. Untuk saja tak ada isak tangis yang keluar. Hanya setetes air mata yang gue lap dengan kasar.
“15 Agustus.. itu..” Redzki bertanya-tanya.
Agam menghela nafas panjang. “hari ulang tahunnya Jo."
Keadaan dibiarkan hening sejenak.
Bip. Bip. Bip . suara termometer menunjukkan kalau dia sudah selesai mengukur suhu badan gue. setelah itu tak ada percakapan selain Bella yang menanyakan siapa Hoseki. Redzki membisikkan sesuatu padanya. Entah apa yang Redzki katakan yang jelas Bella turut larut dalam keheningan itu.
“aku cek sebentar ya.” Kata Bella menghampiri gue.
Gue hanya mengangguk pelan.
“38,7 derajat.. kamu demam ini.. lumayan tinggi lagi. Kamu istirahat dulu ya disini.” Saran Bella.
Gue hanya mengangguk sambil berkata “ok” dengan pelan. Agam dan Redzki pergi karena saat itu bel tanda ujian berikutnya berbunyi.
Sebelum berlalu Agam membritau dia akan melaporkan kalau gue sakit ke guru. Sehingga nantinya gue bisa dapat ujian susulan. Ketika mereka berdua baru keluar, Bella baru beranjak hendak pergi juga.
“cepat sembuh ya.. tolong jangan terlalu banyak dipikirkan lagi.” Ucapnya dengan lembut sambil memegang dahi gue. kali ini nyata !. dia melihat gue dengan senyum sedihnya.gue bisa merasakan kalau dia turut sedih melihat keadaan gue. Ia lalu pergi keluar ruang dengan pelan.
“tolong jangan dipikirkan lagi.. sungguh” ucap dia ketika berada di kolong pintu. Kali ini muka nya serius. Bercampur sedih. “aku nanti kesini lagi sepulang sekolah, jadi tunggu ya..”
Ia melambaikan tangan dan gue manjawab dengan senyuman.
Ahh sungguh beruntung pikirku.
Dengan hanya Hoseki di pikiran gue, gue tersedu hingga terlelap.
Gue terbangun persis ketika bel pulang dibunyikan. Begitu membuka mata, badan terasa sudah segar kembali. Pusing sudah hilang, badan tidak lagi panas. Malahan dahi gue terasa dingin.
Ketika gue raba, ternyata ada kompres yang masih dingin di dahi gue. entah siapa yang melakukannya.
Tiba-tiba sinar matahari dari luar menyilaukan mata gue. ada seseorang dari balik jendela sedang membuka gorden. Badannya menghalangi sinar matahari, membentuk siluet hitam dan langsung gue kenali. Mino. Bukannya Bella, malah dia yang datang.
“eh udah bangun Jo?” sapanya.
“belum” jawab gue bercanda sambil menutupi badan dengan selimut.
Dia berjalan kearah gue. membuka selimut dan meletakkan telapak tangannya ke dahi gue. tangannya dingin dan sedikit keriput. Pasti dia yang mengompres gue selama ini.
“udah rada turun kok panasnya.” Katanya santai sambil mebereskan manguk bekas kompresan gue.
Ah lagi-lagi dia tau cara membuat gue luluh. Rambut kuncir kuda khasnya, sifat perhatian, seragam yang dikeluarkan dari rok, gelang distro di tangan kanannya dan wajahnya yang manis membuat gue merasa kalau gue orang paling beruntung didunia. Tapi ketika dia memblakangi gue, gue langsung muak. Si kampret ini yang menyakiti Hoseki.
“dari mana lu tau gue sakit?” tanya gue jutek.
Dia tersenyum tipis. Kemudian bersandar di sebelah westafel. “kan udah kubilang... aku tau segala tentang kamu.”
“yailah. Jawabnya yang serius dong”
“ini serius.. dua rius malah” kemudian dia mendekati gue. “makanya, kalau lagi diskusi, jangan di UKS yang pintu nya terbuka.”
Kampret . gue bener-bener lupa kalau itu. Gue diam. Gak bisa membalas apa-apa.
“tu cewe baik juga ya. Jauh-jauh ke kantor guru minjem termometer. Kayanya saingan aku nambah lagi nih.” Sambil memainkan alis matanya.
“please.. please banget Mino jangan apa-apain Bella” jawab gue lirih.
“ha ha.. it’s depend on..-” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke gue. “-how much she’s love you..” kemudian mencolek hidung gue dengan manja.
Dia mengambil tasnya sedangkan gue masih terdiam.
“udah ya, aku pulang dulu. takut nanti ada yang datang n marah-marah hahaha”
DASAR SETANNNNNN !!!!
Ahh perasaan gue campur aduk. Si kampret itu bukannya menjawab pertanyaan gue malah mencoba menggoda gue. it’s depend on how much she’s loves me? Yang bener aja. Makin suka si Bella dengan gue, makin parah dia di bully Mino. Apa yang bisa gue lakuin?. Otak gue terasa kosong, gak bisa mkirin apa-apa.
Eh wait.. berarti alasan Hoseki di bully? Ahhhh hati gue berbunga-bunga. Kemudian kembali murka ketika ingat bekas luka Hoseki. kemudian berbunga-bunga lagi. Kemudian murka lagi. Begitu terus berulang-ulang.
Tiba-tiba ada hal yang muncul di benak gue. kalau begitu cara dia memperlakukan orang. Berarti, semakin suka Mino ke gue, semakin sakit dia ketika gue jatuhkan.
Gue memandang ke luar jendela. Memikirkan kalau ternyata hidup gue rapuh banget. Langit yang mendung dan tumbuhan yang mulai lembab mendukung suasana hati gue. Gampang sekali gue memikat seseorang dan gampang juga gue akan kehilangan.
Baru saja gue memandang sekeliling, Bella tiba di depan pintu UKS. Tasnya dia sandang sebelah tangan. Tampak keringat muncul di lehernya, Kelihatan sekali dia sedang terburu-buru. Rambut sebahunya dia ikat. Seragamnya yang panjang dia gulung sedengkul. Dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Kemudian dia tersenyum seraya mendekati gue yang masih di tempat tidur.
“Hai Jo. Udah gimana kabarnya?” tanyanya lembut.
Gue mengangguk. Dia pasti mengerti kalau gue baik-baik aja.
“Bella..-“ kata gue pelan. Mata kami bertemu. Gue bisa menahannya untuk waktu yang cukup lama. Tidak biasanya gue seperti ini. “- bisa gak, mulai sekarang.. kamu terus berada di sisi gue ?”
Dia membaringkan gue di tempat tidur. Pengawas UKS sedang tidak ada. Ketika gue rebahan, rasa pusing seperti tiba-tiba menjalar keseluruh badan gue dan gue baru sadar ternyata gue memang sedang demam. Setelah memberi obat parasetamol, Bella tiba-tiba lari keluar.
“tunggu sebentar !” teriaknya.
Belum lama setelah Bella keluar, dua orang yang dari tadi mengintip dari jauh akhirnya masuk ke ruang UKS dengan tergesa-gesa.
“lo kenapa coeg ? !” pekik Agam disusul Redzki yang meraba-raba panas badan gue.
“hahaha kalem.. lu enak-enaknya ngintipin gue dari tadi.” balas gue dengan tenang. Semakin banyak bicara, semakin ingin pingsan rasanya.
“duhh tadi cuma gak sengaja liat elu lagi duduk duaan ama Bella, ya gue liatin hahaaha.. udah deh sekarang lo kenapa?”
“ga tau nih, gue tiba-tiba demam. Masih ada ujian lagi .. ahhh stress gue.” ucap gue lemas sambil sedikit bermanja-manja.
“lo itu dari tadi pagi gue liatin udah ga bener tampangnya.” Kata Redzki. “lo kenapa? Gak sarapan? Bukannya lo udah biasa?” ucap dia sambil menyindir.
Belum sempat gue jawab Bella tiba-tiba masuk dengan termometer digital ditangannya. Dia berhenti lari ketika melihat Agam dan Redzki.
“oh tidak..” kata Agam dengan suara sangat pelan seperti tidak ingin didengar.
Suasana canggung tiba-tiba memenuhi ruangan. Bella seperti kedapatan sedang melakukan sesuatu yang memalukan. Wajahnya sedikit demi sedikit memerah.
“ehh.. dari pada mengganggu, kami sebaiknya keluar ya he he he..” bisik Agam sambil menarik tangan Redzki hendak keluar.
Baru saja melewati Bella dan berada di daun pintu. Bella tiba-tiba bicara tanpa menghadap mereka.
“JANGAN MENINGGALKAN TEMAN KALIAN YANG SEDANG SAKIT BRENGSEK! BUKANNYA KALIAN LAKI-LAKI?” kata Bella dengan nada dan suara yang mengerikan. Agam langsung terdiam dibuatnya. Bella memalingkan wajahnya ke Agam dengan pelan dan dengan tatapan yang entah bagaimana,yang jelas Agam sampai menelan air liur dan berjalan kembali kearah gue dengan santainya.
Dia berbisik. “astaga Jo, ni cewe ngeri juga..” suaranya getir. Gue baru sadar Agam ternyata mulai berkeringat dan jari-jarinya gemetaran.
Gue tersenyum bangga. “inilah Bella yang gue tau...”
Bella menghampiri gue dengan ekspresi yang jauh berbeda. Wow ! perubahan yang signifikan. Dia kembali tersenyum, membuka tutup termometer, dan menaruh termometer itu di ketiak kiri gue. gue dapat melihat wajahnya dari dekat dan gue yakin saat itu pipinya memerah. Dia terlalu mencondongkan punggungnya. Wajahnya sangat dekat dari sudut pandang gue. keringat dari wajahnya menetes ke pelipis telinga gue dan bercampur dengan keringat gue yang lainnya.
“terima kasih” ucap gue pelan.
Dia tersenyum dan dari jarak yang sedekat ini, dengan pelan dia mengecup kening gue.
“semoga cepat sembuh” kembali dengan senyum manisnya.
Ahhhhhhhhhhh tidak tidak tidak. Hal itu tidak terjadi haha. Itu hanya sebagian dari fantasi gue. ketika dia meletakkan termometer ke ketiak gue, gue langsung termenung dan fantasi itu bermain begitu saja.. yang jelas jarak wajah kami memang dekat pada saat itu, pipinya memerah, keringat kami bercampur, dan gue bisa mengucapkan terima kasih dengan pelan. Dia membalas dengan senyum manisnya.
“jadi.. apa yang terjadi?” tanya Bella ketika dia mengambil posisi duduk di ranjang dekat kaki gue. dengan santainya dia menghiraukan sosok Agam dan Redzki seolah sudah kenal.
“ahh.. kayanya karena akhir-akhir ini aku jarang sarapan ama tidur terlalu malam.” Jawab gue.
“ah masa karena gitu doang?” celoteh Agam. “biasanya lu kuat kok.”
Gue hanya diam tak bisa menjawab apa-apa. Gue juga heran kenapa gue bisa sakit dihari ujian. Gue memikirkan ulang apa saja yang gue makan akhir-akhir ini.
“kayanya kamu stress ya?” kata Bella tiba-tiba dengan hipotesisnya.
“kamu ini kebanyakan mikirin sesuatu nih.. makanya stress.. stress juga bisa bikin sakit loh.” Ujarnya.
“ahh iya mungkin saja.” Kepala gue kembali sakit seperti ditusuk-tusuk.
“kamu mikirin apa Jo?” tanya Bella dengan suara yang lembut.
Gue memalingkan wajah agar tak ada yang melihat perubahan raut wajah gue. Gue tau benar apa yang mengganggu pikiran gue selain ujian. Hal itu terus bergentayangan di pikiran gue dan emosi ini mengalir begitu saja. Gue bisa merasakan tenggorokan gue serak padahal belum mengatakan apapun.
“15 Agustus..” ucap gue. suara gue yang getir memenuhi ruangan.
“..dia.. Hoseki...” gue berhenti sejenak. “Hoseki akan pindah 15 Agustus nanti.”
.
Mereka diam. Gue tak tau bagaimana reaksi mereka. Gue memalingkan wajah sambil menutupi mata gue dengan bantal. Untuk saja tak ada isak tangis yang keluar. Hanya setetes air mata yang gue lap dengan kasar.
“15 Agustus.. itu..” Redzki bertanya-tanya.
Agam menghela nafas panjang. “hari ulang tahunnya Jo."
Keadaan dibiarkan hening sejenak.
Bip. Bip. Bip . suara termometer menunjukkan kalau dia sudah selesai mengukur suhu badan gue. setelah itu tak ada percakapan selain Bella yang menanyakan siapa Hoseki. Redzki membisikkan sesuatu padanya. Entah apa yang Redzki katakan yang jelas Bella turut larut dalam keheningan itu.
“aku cek sebentar ya.” Kata Bella menghampiri gue.
Gue hanya mengangguk pelan.
“38,7 derajat.. kamu demam ini.. lumayan tinggi lagi. Kamu istirahat dulu ya disini.” Saran Bella.
Gue hanya mengangguk sambil berkata “ok” dengan pelan. Agam dan Redzki pergi karena saat itu bel tanda ujian berikutnya berbunyi.
Sebelum berlalu Agam membritau dia akan melaporkan kalau gue sakit ke guru. Sehingga nantinya gue bisa dapat ujian susulan. Ketika mereka berdua baru keluar, Bella baru beranjak hendak pergi juga.
“cepat sembuh ya.. tolong jangan terlalu banyak dipikirkan lagi.” Ucapnya dengan lembut sambil memegang dahi gue. kali ini nyata !. dia melihat gue dengan senyum sedihnya.gue bisa merasakan kalau dia turut sedih melihat keadaan gue. Ia lalu pergi keluar ruang dengan pelan.
“tolong jangan dipikirkan lagi.. sungguh” ucap dia ketika berada di kolong pintu. Kali ini muka nya serius. Bercampur sedih. “aku nanti kesini lagi sepulang sekolah, jadi tunggu ya..”
Ia melambaikan tangan dan gue manjawab dengan senyuman.
Ahh sungguh beruntung pikirku.
Dengan hanya Hoseki di pikiran gue, gue tersedu hingga terlelap.
...
Gue terbangun persis ketika bel pulang dibunyikan. Begitu membuka mata, badan terasa sudah segar kembali. Pusing sudah hilang, badan tidak lagi panas. Malahan dahi gue terasa dingin.
Ketika gue raba, ternyata ada kompres yang masih dingin di dahi gue. entah siapa yang melakukannya.
Tiba-tiba sinar matahari dari luar menyilaukan mata gue. ada seseorang dari balik jendela sedang membuka gorden. Badannya menghalangi sinar matahari, membentuk siluet hitam dan langsung gue kenali. Mino. Bukannya Bella, malah dia yang datang.
“eh udah bangun Jo?” sapanya.
“belum” jawab gue bercanda sambil menutupi badan dengan selimut.
Dia berjalan kearah gue. membuka selimut dan meletakkan telapak tangannya ke dahi gue. tangannya dingin dan sedikit keriput. Pasti dia yang mengompres gue selama ini.
“udah rada turun kok panasnya.” Katanya santai sambil mebereskan manguk bekas kompresan gue.
Ah lagi-lagi dia tau cara membuat gue luluh. Rambut kuncir kuda khasnya, sifat perhatian, seragam yang dikeluarkan dari rok, gelang distro di tangan kanannya dan wajahnya yang manis membuat gue merasa kalau gue orang paling beruntung didunia. Tapi ketika dia memblakangi gue, gue langsung muak. Si kampret ini yang menyakiti Hoseki.
“dari mana lu tau gue sakit?” tanya gue jutek.
Dia tersenyum tipis. Kemudian bersandar di sebelah westafel. “kan udah kubilang... aku tau segala tentang kamu.”
“yailah. Jawabnya yang serius dong”
“ini serius.. dua rius malah” kemudian dia mendekati gue. “makanya, kalau lagi diskusi, jangan di UKS yang pintu nya terbuka.”
Kampret . gue bener-bener lupa kalau itu. Gue diam. Gak bisa membalas apa-apa.
“tu cewe baik juga ya. Jauh-jauh ke kantor guru minjem termometer. Kayanya saingan aku nambah lagi nih.” Sambil memainkan alis matanya.
“please.. please banget Mino jangan apa-apain Bella” jawab gue lirih.
“ha ha.. it’s depend on..-” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke gue. “-how much she’s love you..” kemudian mencolek hidung gue dengan manja.
Dia mengambil tasnya sedangkan gue masih terdiam.
“udah ya, aku pulang dulu. takut nanti ada yang datang n marah-marah hahaha”
DASAR SETANNNNNN !!!!
Ahh perasaan gue campur aduk. Si kampret itu bukannya menjawab pertanyaan gue malah mencoba menggoda gue. it’s depend on how much she’s loves me? Yang bener aja. Makin suka si Bella dengan gue, makin parah dia di bully Mino. Apa yang bisa gue lakuin?. Otak gue terasa kosong, gak bisa mkirin apa-apa.
Eh wait.. berarti alasan Hoseki di bully? Ahhhh hati gue berbunga-bunga. Kemudian kembali murka ketika ingat bekas luka Hoseki. kemudian berbunga-bunga lagi. Kemudian murka lagi. Begitu terus berulang-ulang.
Tiba-tiba ada hal yang muncul di benak gue. kalau begitu cara dia memperlakukan orang. Berarti, semakin suka Mino ke gue, semakin sakit dia ketika gue jatuhkan.
Gue memandang ke luar jendela. Memikirkan kalau ternyata hidup gue rapuh banget. Langit yang mendung dan tumbuhan yang mulai lembab mendukung suasana hati gue. Gampang sekali gue memikat seseorang dan gampang juga gue akan kehilangan.
Baru saja gue memandang sekeliling, Bella tiba di depan pintu UKS. Tasnya dia sandang sebelah tangan. Tampak keringat muncul di lehernya, Kelihatan sekali dia sedang terburu-buru. Rambut sebahunya dia ikat. Seragamnya yang panjang dia gulung sedengkul. Dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Kemudian dia tersenyum seraya mendekati gue yang masih di tempat tidur.
“Hai Jo. Udah gimana kabarnya?” tanyanya lembut.
Gue mengangguk. Dia pasti mengerti kalau gue baik-baik aja.
“Bella..-“ kata gue pelan. Mata kami bertemu. Gue bisa menahannya untuk waktu yang cukup lama. Tidak biasanya gue seperti ini. “- bisa gak, mulai sekarang.. kamu terus berada di sisi gue ?”
0
Kutip
Balas