Kalo kalian tanya apakah saya sudah menaruh hati pada Widya saya akan dengan lantang mengakuinya, ya saya memang menaruh hati padanya tapi sejauh mana perasaan saya? Saya sendiri tidak tau. Untuk menghadapi pertanyaan semacam ini saya punya jurus klise yang cukup jitu, dari dulu sampai sekarang; biarkan saja waktu yang menjawab.
Sejak kejadian sore itu si Benyong (nama panggilan asli cowoknya widya) rutin membully saya, kadang di jalan pas saya mau ke pasar Keputran buat belanja sayur, kadang pas lagi nglamun di pinggir kali. Pokoknya setiap kami berpapasan dia selalu memandang saya dengan tatapan sinis dan kadang melontarkan seisi kebun binatang di depan saya. Saya tetep sabar dan tidak pernah sekalipun menanggapinya, sebuah sikap yang baru saya temukan ketika berada di sini. Sikap ini adalah amanah dari Widya, hehe sejak sore rusuh itu juga si Widya entah kenapa semakin sering saya dapati menangis di pojokan ruang depan. Semakin sering dia menangis di sana berarti semakin sering juga saya menemaninya tidur di sana. Yah mau gak mau saya harus menahan panas di kuping saya ketika dia bercerita tentang cowok sialanya itu.
Perlu dicatat bahwa saya menemaninya karena memang saya berusaha menjadi teman sekaligus pendengar yang baik, bukan karena saya ada hati sama dia atau karena pemandangan yang selalu memanjakan mata saya dengan body mulus lus nun aduhai itu loh. Tapi dari situ juga saya jadi tau banyak hal tentang dia, siapa Widya yang sejatinya
Namanya Widya Lestari, putri pertama dari tiga bersaudara. Dia asli Ploso, Jombang. Dia merantau ke Surabaya untuk membantu kehidupan keluarganya, waktu itu adiknya baru masuk SMP kalo gak salah. Sesuatu yang membuat saya sedikit trenyuh sebenernya, jadi dia ini sudah merantau di Surabaya sejak lulus Esempe dan semua gajinya dia kirim ke Jombang untuk biaya sekolah adiknya. Dan ketika di hadapkan dengan fakta bahwa dia di sini sekarang, dengan semua tanggung jawab terhadap keuangan keluarganya tetapi di sini dia malah mendapat perlakuan kasar dari si Benyong biadap itu. Saya bener2 pengen membakar si Bencyong itu hidup2
"Jangan tanggepin Mas, dia memang seperti itu" jawaban yang sama terlontar dari Widya, entah sudah berapa kali jawaban itu muncul. setelah jawaban itu keluar saya selalu menyusulnya dengan pertanyaan "kenapa kamu masih mempertahankan hubunganmu denganya?" Dan dia langsung menunduk kemudian terisak. Something wrong here...
*******
Malam hari akhir bulan emmm saya lupa tepatnya

Widya berlari dari ruang depan langsung memeluk saya, saya yang masih memakai sarung dan peci sehabis menunaikan sholat Isya' sontak kaget dan hendak melepaskan pelukanya, tapi setelah rasa hangat menjalar saya urungkan niat tersebut, anget sih
Saya tidak tau apa yang terjadi denganya kenapa dia sampai menangis dalam pelukan saya. Saya biarkan dia melontarkan semua kesedihanya dan menahan rasa ingin tau yang sejak tadi hinggap. Rasa2nya pelukanya bisa meredam rasa ingin tau saya tentang apa yang dia alami. Sekali lagi, Anget sih
"Hihihi..."
"Loh???"
"Mas Iwan lucu banget..." dia makin cekikikan dan kemudian melepaskan pelukanya
"Kok??"
"Hihihi... ini loh... kok... bisa2nya.." dia menunjuk ke arah si junior yang ah... berdiri hampir tegak
"Lah..." ternyata si junior mau keluar dari sarung saudara2, duh lu malu2in banget sih Jun!! Sabar kek! Gak liat ini momen romantis apa!? Main berdiri tanpa permisi! Liat saja besok! Gua potong jatah sabun lu! #eh...
Waktu itu lagi ngetren hape nokia 5130 kalo gak salah, itu loh henpon yang suara spikernya ngalahin TOA dan di barengi dengan lagu st12 yang lagi ngetren "biarkan aku jatuh cinta" dan lagu itu pun menggema di hati saya, biarkan saya menggunakan bahasa lebay yah, untuk kali ini saja dan plis acuhkan adegan si junior yang tertangkap basar tadi karena kenyataanya malam ini saya gak bisa tidur dan wow... Widya pun demikian. Kami saling pandang dari celah pintu kamar masing2, saya bisa meelihatnya dengan jelas dia sedang tersenyum hangat kepada saya. Senyuman yang mampu melupakan perih di hati semenjak kepergian Pretty, wait Pretty? Siapa tuh?
Dan waktu terus berjalan... yah... terus berjalan dan kami semakin dekat. Widya sekarang sudah jarang menemui si benyong, jadi adegan sinetron belakang depot sudah berhenti tayang dan saya jadi punya lebih banyak waktu bersama Widya! Ekhem... pedekate ah..
"Mas Iwan punya pacar gak sih?" Dia melontarkan kalimat ini saat lagi asik bahas lagunya kangen band "pujaan hati" yang lagi di puter di err entah chanel apa. Eh iya, kami sedang tiduran berdua di kamar cewek, nont tivi. Jangan berpikiran aneh2 dulu, karena di sini, di depot saya cuman ada satu tivi dan letaknya di kamar cewek. Dan kami juga gak cuman berdua kok, yah duh.. gimana ya... kalo sedang kasmaran kan dunia milik berdua, ya kan ya? Yang lain mah ngontrak
"Kagak" saya menjawab singkat kemudian merubah posisi tidur saya menghadapnya, bertopang siku kanan
"Beneran? Serius? Sungguh?"
"Iya, srius, sungguh, beneran dan satu lagi suerr"
"Oooh..."
"Kenapa sih?"
"Hehe, gpp kok nanya doank"
"Yaelah, hayo ngaku"
"Ih apaan sih"
"Ngaku saja"
"Hehehehe"
Dan saya pun berhenti memandangnya ketika tiba2 pintu kamar terbuka dan muncul sosok Benyong di depan pintu
Ketangkep batsah
