- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Happiness
...
TS
jayanagari
You Are My Happiness

Sebelumnya gue permisi dulu kepada Moderator dan Penghuni forum Stories From The Heart Kaskus 
Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian
Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Gue akhir-akhir ini banyak membaca cerita-cerita penghuni SFTH dan gue merasa sangat terinspirasi dari tulisan sesepuh-sesepuh sekalian

Karena itu gue memberanikan diri untuk berbagi kisah nyata gue, yang sampe detik ini masih menjadi kisah terbesar di hidup gue.
Mohon maaf kalo tulisan gue ini masih amburadul dan kaku, karena gue baru pertama kali join kaskus dan menulis sebuah cerita.
Dan demi kenyamanan dan privasi, nama tokoh-tokoh di cerita ini gue samarkan

Orang bilang, kebahagiaan paling tulus adalah saat melihat orang lain bahagia karena kita. Tapi terkadang, kebahagiaan orang itu juga menyakitkan bagi kita.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Gue egois? Mungkin.
Nama gue Baskoro, dan ini kisah gue.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:18
gebby2412210 dan 49 lainnya memberi reputasi
48
2.2M
5.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#5053
Episode 5 : The Letter That Never Came (End)
“Semua akan ada waktunya, Bas. Gak semua orang bisa mengambil langkah seperti yang udah lo jalanin sekarang. Lo udah membuktikan kalo lo mampu menjalani semua ini, dan seperti yang lo bilang ke gue, someone’s capability decide their own destiny. Semua yang terjadi ke lo ini bukan tanpa alasan kok.”
Gue melihat ke Sophia, yang duduk di hadapan gue, sambil mencelupkan 2 buah gula berbentuk kubus ke dalam teh. Sambil mengaduk-aduk teh Earl Grey tersebut, gue bertopang dagu, memikirkan perkataan Sophia barusan. Gue kemudian melihat jam tangan yang melilit tangan kiri gue, dan kembali bertopang dagu setelah mengetahui jam berapa sekarang. Gue menghela napas.
“Gue gak menolak apa yang udah terjadi kepada gue sih, cuma gue masih gamang ngebayangin apa yang terjadi setelah ini.” ujar gue pahit.
“Apa yang terjadi gimana maksud lo?” tanyanya heran.
“Long distance relationship,” tukas gue pelan.
Gue menyeruput Earl Grey gue perlahan, dan melanjutkan.
“Dulu belum genap sebulan gue sama Anin LDR, udah ada aja masalahnya kan? Dan bukan sembarang masalah, seperti yang lo tahu. Entah masalah apa lagi yang terjadi nanti di masa depan.”
“Gue gak bisa ngebayangin gimana flatnya hidup gue tanpa masalah,” jawabnya lembut.
Sophia menyibakkan rambutnya yang sedikit menutupi mata kirinya, dan kemudian merapikannya di belakang tengkuk, menyatukannya di sisi kanan kepalanya. Gue melihat ada kalung perak berbentuk huruf S melingkar di lehernya yang putih.
“Masalah itulah yang bikin hidup kita berwarna kan?” lanjutnya lagi.
“Iya, tapi kalo kebanyakan jadi pusing juga rasanya.”
“Lo belum menjalani, wajar kalo lo pesimis. Tapi gue selalu percaya kok kalo Tuhan gak bakal memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuan umat-Nya.”
“Ya, gue tahu itu. Tapi kadang-kadang saking pesimisnya gue, kata-kata itu gue anggap gak lebih dari sekedar motivational quotes belaka.” sahut gue.
“Bahkan sebuah motivational quotes gak dateng dengan sendirinya tanpa ada pembuktian dulu kan?” tukasnya.
“Ya iya juga sih...”
“Kadang-kadang gue heran liat lo yang sekarang deh...” ujarnya sambil memainkan sendok.
“Heran kenapa?” tanya gue.
“Ya heran aja, kemana lo yang dulu, yang berapi-api cenderung ngotot kalo ngomong sesuatu, apalagi tentang lo sendiri. Dulu lo paling hobi nasehatin gue, dan gak bakal berhenti sampe gue mengiyakan omongan lo itu. Sekarang, lo bener-bener pesimis, seperti gak ada lagi sisa-sisa dari lo yang dulu. Lo kenapa? Lo ada masalah? Cerita lah sini ke gue, jangan dipendem, ini juga demi kakak gue.” cecarnya.
Gue terdiam, dan mengalihkan perhatian ke cangkir teh di hadapan gue, berpura-pura mengaduk Earl Grey yang sebenarnya udah tercampur itu. Gue tahu kalo Sophia tahu bahwa gue berpura-pura, hanya untuk menghindari pertanyaan itu. Entah berapa lama lagi gue bisa bertahan memasang topeng ini. Sambil menunduk pun gue merasakan tatapan mata Sophia, seakan menggelitik gue untuk membuka semua tabir pikiran gue.
Pernikahan gue dan Anin baru berumur sebulan lebih sedikit, dan sekarang gue udah harus terpisah lagi dari istri gue itu. Kami berdua memang udah memutuskan untuk menjalani dulu kehidupan masing-masing seperti sebelum menikah, yang artinya gue masih di Jakarta dengan pekerjaan gue, dan Anin di Mumbai dengan pekerjaannya. Intensitas pertemuan kami berbeda dengan waktu pacaran, tentu saja. Minimal sebulan 2 kali kami bertemu, entah itu gue yang kesana, atau Anin yang pulang kesini. Memang lebih banyakan Anin yang pulang sih, toh dia pulang kerumah suaminya.
Ada kalanya gue kangen banget dan iseng Skype di pagi buta, meskipun gue tahu disana masih tengah malam. Di lain waktu, untuk membunuh kerinduan gue ke dia, gue menulis. Entah berapa lembar surat yang udah gue tulis di malam hari, untuk mengungkapkan rasa rindu dan rasa cinta gue kepadanya. Ada sebagian dari perasaan gue yang gak bisa gue ungkapkan dengan kata-kata melalui bibir, dan gue merasa lebih baik apabila gue tuliskan dalam bentuk surat. Sometimes our hands knows better than our tongue.
Gue memandangi Sophia, dan bercerita tentang segala beban yang gue pikul, dimana sebagian besar dari beban itu berawal dari rasa rindu yang memuncak. Gue bercerita panjang lebar kepadanya, dan dia mendengarkan gue dengan seksama, sesekali tersenyum manis. Entah berapa lama gue bercerita, hingga pada akhirnya cerita gue mencapai akhir. Sophia memainkan sendok kecil di hadapannya, dan tersenyum ke gue.
“Udah berapa surat yang lo tulis buat mbak Anin?”
Gue tertawa, “Entahlah, sekitar 5-6 surat mungkin.” jawab gue.
“Gimana rasanya abis lo nulis surat?”
“Plong.” sahut gue sambil nyengir.
“Kadang-kadang memang kita butuh ngobrol, tapi bukan sama orang.” tukasnya.
“Iya, itu yang memang gue lakuin. Ngobrol sama kertas. Kertas itu bakal accept semua unek-unek gue tanpa ada bantahan. Hahaha.”
“Ya gila aja kalo kertas bisa ngebantah lo. Hahaha.”
Sophia menarik napas panjang, kemudian merapikan beberapa helai rambutnya yang menjuntai menutupi wajahnya. Dia kemudian tertawa ketika memandangi gue untuk beberapa waktu.
“Kenapa?” tanya gue heran.
Dia menggeleng. “Gakpapa, gue masih takjub aja ada pasangan kayak kalian berdua.”
Gue tersenyum sendiri, sambil menggigit bibir bawah dan memainkan tissue di hadapan.
“Gue sendiri aja heran, apalagi lo...” sahut gue.
Setelah itu ada kebisuan beberapa saat, sebelum gue dengar Sophia bertanya lagi.
“Nikah itu gimana rasanya sih?”
“Rasa dalam arti perasaan atau dalam arti yang lain nih?” ujar gue sambil menyeringai.
“Yang pertama lah, kalo yang kedua gue udah paham!” sungutnya keki.
Gue semakin menyeringai, “Lah berarti lo udah pernah dong? Hayoooo...”
“Pernah apaan?” tanyanya sok bloon.
“Ihik-ihik...” jawab gue dilanjut tawa yang menggelegar.
“Ihik-ihik gundulmu.”
Gue tertawa-tawa selama beberapa waktu, sementara Sophia pasang muka cemberut. Semakin dia cemberut, semakin menjadi-jadi juga tawa gue.
“Iya-iyaa, nikah itu rasanya nano-nano. Ya bayangin aja kalo sebelumnya kita apa-apa sendiri, gak terikat sama siapapun, sekarang jadi punya tanggungan, punya sesuatu yang harus dijaga seumur hidup.” jawab gue.
“Bukannya pacaran juga kayak gitu ya?”
Gue menggeleng, “Beda lah. Pacaran itu bukan jadi tanggung jawab, pacaran itu cuma kesepakatan antar manusia, kalo 2 individu itu bersepakat buat jalan bareng, dengan tujuan yang sama. Kalo nikah kan beda.”
“Bedanya di?”
“Bedanya di nikah gue berjanji. Waktu nikah, gue berjanji sama Allah, sama kedua orang tua gue, dan orang tuanya, kepada Anin, dan kepada keluarganya, dan terakhir gue berjanji sama diri gue sendiri, bahwa gue bakal jadi imamnya dan menjaganya sampe akhir nanti. Bahwa nanti dosa-dosanya dan dosa anak gue nanti itu tanggungan gue. Dan itu wujud janji gue sebagai manusia ke Sang Pencipta. Sebuah janji yang akan gue pertahankan semaksimal mungkin.”
“Apa yang bikin lo yakin untuk nikah di umur segini?” tanyanya sambil menyeruput teh.
Gue terdiam, gue tahu pertanyaan semacam ini pasti akan muncul cepat atau lambat, dan gue harus menjawab itu. Gue menghela napas, dan memandanginya lekat-lekat.
“Sepertinya gue udah sampe pada titik ‘apa lagi yang gue cari’” jawab gue.
“Oh ya?”
“Emm, ya mungkin ada yang lain juga sih.”
“Apa?”
“Gue capek menghadapi orang-orang yang ngotot ngejar dia tanpa memandang statusnya. Waktu masih pacaran, gak terhitung gue bersabar ngadepin cowok-cowok tebal muka yang cuek aja deketin Anin meskipun tahu kalo ada gue. Ketika gue udah jadi suaminya, gue sah-sah aja kan kalo bisa berbuat sesuatu.”
Dia tersenyum dan kemudian senyumnya mengembang menjadi sebuah tawa kecil. Tawa pemahaman dan simpati.
“Ya, gue paham kok perasaan lo...” sahutnya.
Di malam hari, setelah gue menelpon Anin lewat Skype biar gratis, gue pergi tidur. Kadang-kadang gue sedikit menyesal terjebak rutinitas manusia ibukota seperti ini. Bangun pagi, ke kantor sampe matahari terbenam, pulang, istirahat, dan tahu-tahu sudah pagi lagi. The cycle of the urbans, gitu kalo gue menyebutnya.
Setelah beberapa saat, gue merasa gak bisa tidur, dan memutuskan untuk menulis sebuah surat untuk Anin. Gue bangkit dari tempat tidur, menyalakan lampu di meja kerja, dan mulai menulis di sebuah kertas kosong. Sejenak dunia gue terasa sunyi.
*ini adalah surat terakhir gue, satu-satunya yang bisa gue bagikan di Kaskus ini dan yang masih bisa gue ingat isinya, meskipun sedikit kabur*
Gue melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop tebal berwarna putih gading dan berbau harum, dan tersenyum. Gue terdiam untuk beberapa saat memandangi amplop berisi surat itu. Gue menarik napas panjang, membuka laci di sebelah gue, dan mengambil kotak kayu tebal dan berukir yang ada di dalam laci.
Gue letakkan kotak kayu itu diatas meja, dan gue buka perlahan. Tampaklah setumpuk surat-surat, dan beberapa lembar foto. Gue meletakkan amplop di tangan gue ke atas tumpukan surat tadi, dan menutup kotak itu perlahan. Gue tersenyum, dan meletakkan kotak itu kembali ke laci, menutup dan menguncinya.
Surat-surat itu akan tetap disana, dalam keabadian, sampai nanti tiba waktunya mereka diungkapkan. Dan demikian pula cinta gue kepadanya.
“Semua akan ada waktunya, Bas. Gak semua orang bisa mengambil langkah seperti yang udah lo jalanin sekarang. Lo udah membuktikan kalo lo mampu menjalani semua ini, dan seperti yang lo bilang ke gue, someone’s capability decide their own destiny. Semua yang terjadi ke lo ini bukan tanpa alasan kok.”
Gue melihat ke Sophia, yang duduk di hadapan gue, sambil mencelupkan 2 buah gula berbentuk kubus ke dalam teh. Sambil mengaduk-aduk teh Earl Grey tersebut, gue bertopang dagu, memikirkan perkataan Sophia barusan. Gue kemudian melihat jam tangan yang melilit tangan kiri gue, dan kembali bertopang dagu setelah mengetahui jam berapa sekarang. Gue menghela napas.
“Gue gak menolak apa yang udah terjadi kepada gue sih, cuma gue masih gamang ngebayangin apa yang terjadi setelah ini.” ujar gue pahit.
“Apa yang terjadi gimana maksud lo?” tanyanya heran.
“Long distance relationship,” tukas gue pelan.
Gue menyeruput Earl Grey gue perlahan, dan melanjutkan.
“Dulu belum genap sebulan gue sama Anin LDR, udah ada aja masalahnya kan? Dan bukan sembarang masalah, seperti yang lo tahu. Entah masalah apa lagi yang terjadi nanti di masa depan.”
“Gue gak bisa ngebayangin gimana flatnya hidup gue tanpa masalah,” jawabnya lembut.
Sophia menyibakkan rambutnya yang sedikit menutupi mata kirinya, dan kemudian merapikannya di belakang tengkuk, menyatukannya di sisi kanan kepalanya. Gue melihat ada kalung perak berbentuk huruf S melingkar di lehernya yang putih.
“Masalah itulah yang bikin hidup kita berwarna kan?” lanjutnya lagi.
“Iya, tapi kalo kebanyakan jadi pusing juga rasanya.”
“Lo belum menjalani, wajar kalo lo pesimis. Tapi gue selalu percaya kok kalo Tuhan gak bakal memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuan umat-Nya.”
“Ya, gue tahu itu. Tapi kadang-kadang saking pesimisnya gue, kata-kata itu gue anggap gak lebih dari sekedar motivational quotes belaka.” sahut gue.
“Bahkan sebuah motivational quotes gak dateng dengan sendirinya tanpa ada pembuktian dulu kan?” tukasnya.
“Ya iya juga sih...”
“Kadang-kadang gue heran liat lo yang sekarang deh...” ujarnya sambil memainkan sendok.
“Heran kenapa?” tanya gue.
“Ya heran aja, kemana lo yang dulu, yang berapi-api cenderung ngotot kalo ngomong sesuatu, apalagi tentang lo sendiri. Dulu lo paling hobi nasehatin gue, dan gak bakal berhenti sampe gue mengiyakan omongan lo itu. Sekarang, lo bener-bener pesimis, seperti gak ada lagi sisa-sisa dari lo yang dulu. Lo kenapa? Lo ada masalah? Cerita lah sini ke gue, jangan dipendem, ini juga demi kakak gue.” cecarnya.
Gue terdiam, dan mengalihkan perhatian ke cangkir teh di hadapan gue, berpura-pura mengaduk Earl Grey yang sebenarnya udah tercampur itu. Gue tahu kalo Sophia tahu bahwa gue berpura-pura, hanya untuk menghindari pertanyaan itu. Entah berapa lama lagi gue bisa bertahan memasang topeng ini. Sambil menunduk pun gue merasakan tatapan mata Sophia, seakan menggelitik gue untuk membuka semua tabir pikiran gue.
Pernikahan gue dan Anin baru berumur sebulan lebih sedikit, dan sekarang gue udah harus terpisah lagi dari istri gue itu. Kami berdua memang udah memutuskan untuk menjalani dulu kehidupan masing-masing seperti sebelum menikah, yang artinya gue masih di Jakarta dengan pekerjaan gue, dan Anin di Mumbai dengan pekerjaannya. Intensitas pertemuan kami berbeda dengan waktu pacaran, tentu saja. Minimal sebulan 2 kali kami bertemu, entah itu gue yang kesana, atau Anin yang pulang kesini. Memang lebih banyakan Anin yang pulang sih, toh dia pulang kerumah suaminya.
Ada kalanya gue kangen banget dan iseng Skype di pagi buta, meskipun gue tahu disana masih tengah malam. Di lain waktu, untuk membunuh kerinduan gue ke dia, gue menulis. Entah berapa lembar surat yang udah gue tulis di malam hari, untuk mengungkapkan rasa rindu dan rasa cinta gue kepadanya. Ada sebagian dari perasaan gue yang gak bisa gue ungkapkan dengan kata-kata melalui bibir, dan gue merasa lebih baik apabila gue tuliskan dalam bentuk surat. Sometimes our hands knows better than our tongue.
Gue memandangi Sophia, dan bercerita tentang segala beban yang gue pikul, dimana sebagian besar dari beban itu berawal dari rasa rindu yang memuncak. Gue bercerita panjang lebar kepadanya, dan dia mendengarkan gue dengan seksama, sesekali tersenyum manis. Entah berapa lama gue bercerita, hingga pada akhirnya cerita gue mencapai akhir. Sophia memainkan sendok kecil di hadapannya, dan tersenyum ke gue.
“Udah berapa surat yang lo tulis buat mbak Anin?”
Gue tertawa, “Entahlah, sekitar 5-6 surat mungkin.” jawab gue.
“Gimana rasanya abis lo nulis surat?”
“Plong.” sahut gue sambil nyengir.
“Kadang-kadang memang kita butuh ngobrol, tapi bukan sama orang.” tukasnya.
“Iya, itu yang memang gue lakuin. Ngobrol sama kertas. Kertas itu bakal accept semua unek-unek gue tanpa ada bantahan. Hahaha.”
“Ya gila aja kalo kertas bisa ngebantah lo. Hahaha.”
Sophia menarik napas panjang, kemudian merapikan beberapa helai rambutnya yang menjuntai menutupi wajahnya. Dia kemudian tertawa ketika memandangi gue untuk beberapa waktu.
“Kenapa?” tanya gue heran.
Dia menggeleng. “Gakpapa, gue masih takjub aja ada pasangan kayak kalian berdua.”
Gue tersenyum sendiri, sambil menggigit bibir bawah dan memainkan tissue di hadapan.
“Gue sendiri aja heran, apalagi lo...” sahut gue.
Setelah itu ada kebisuan beberapa saat, sebelum gue dengar Sophia bertanya lagi.
“Nikah itu gimana rasanya sih?”
“Rasa dalam arti perasaan atau dalam arti yang lain nih?” ujar gue sambil menyeringai.
“Yang pertama lah, kalo yang kedua gue udah paham!” sungutnya keki.
Gue semakin menyeringai, “Lah berarti lo udah pernah dong? Hayoooo...”
“Pernah apaan?” tanyanya sok bloon.
“Ihik-ihik...” jawab gue dilanjut tawa yang menggelegar.
“Ihik-ihik gundulmu.”
Gue tertawa-tawa selama beberapa waktu, sementara Sophia pasang muka cemberut. Semakin dia cemberut, semakin menjadi-jadi juga tawa gue.
“Iya-iyaa, nikah itu rasanya nano-nano. Ya bayangin aja kalo sebelumnya kita apa-apa sendiri, gak terikat sama siapapun, sekarang jadi punya tanggungan, punya sesuatu yang harus dijaga seumur hidup.” jawab gue.
“Bukannya pacaran juga kayak gitu ya?”
Gue menggeleng, “Beda lah. Pacaran itu bukan jadi tanggung jawab, pacaran itu cuma kesepakatan antar manusia, kalo 2 individu itu bersepakat buat jalan bareng, dengan tujuan yang sama. Kalo nikah kan beda.”
“Bedanya di?”
“Bedanya di nikah gue berjanji. Waktu nikah, gue berjanji sama Allah, sama kedua orang tua gue, dan orang tuanya, kepada Anin, dan kepada keluarganya, dan terakhir gue berjanji sama diri gue sendiri, bahwa gue bakal jadi imamnya dan menjaganya sampe akhir nanti. Bahwa nanti dosa-dosanya dan dosa anak gue nanti itu tanggungan gue. Dan itu wujud janji gue sebagai manusia ke Sang Pencipta. Sebuah janji yang akan gue pertahankan semaksimal mungkin.”
“Apa yang bikin lo yakin untuk nikah di umur segini?” tanyanya sambil menyeruput teh.
Gue terdiam, gue tahu pertanyaan semacam ini pasti akan muncul cepat atau lambat, dan gue harus menjawab itu. Gue menghela napas, dan memandanginya lekat-lekat.
“Sepertinya gue udah sampe pada titik ‘apa lagi yang gue cari’” jawab gue.
“Oh ya?”
“Emm, ya mungkin ada yang lain juga sih.”
“Apa?”
“Gue capek menghadapi orang-orang yang ngotot ngejar dia tanpa memandang statusnya. Waktu masih pacaran, gak terhitung gue bersabar ngadepin cowok-cowok tebal muka yang cuek aja deketin Anin meskipun tahu kalo ada gue. Ketika gue udah jadi suaminya, gue sah-sah aja kan kalo bisa berbuat sesuatu.”
Dia tersenyum dan kemudian senyumnya mengembang menjadi sebuah tawa kecil. Tawa pemahaman dan simpati.
“Ya, gue paham kok perasaan lo...” sahutnya.
* * * *
Di malam hari, setelah gue menelpon Anin lewat Skype biar gratis, gue pergi tidur. Kadang-kadang gue sedikit menyesal terjebak rutinitas manusia ibukota seperti ini. Bangun pagi, ke kantor sampe matahari terbenam, pulang, istirahat, dan tahu-tahu sudah pagi lagi. The cycle of the urbans, gitu kalo gue menyebutnya.
Setelah beberapa saat, gue merasa gak bisa tidur, dan memutuskan untuk menulis sebuah surat untuk Anin. Gue bangkit dari tempat tidur, menyalakan lampu di meja kerja, dan mulai menulis di sebuah kertas kosong. Sejenak dunia gue terasa sunyi.
*ini adalah surat terakhir gue, satu-satunya yang bisa gue bagikan di Kaskus ini dan yang masih bisa gue ingat isinya, meskipun sedikit kabur*
Quote:
Gue melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop tebal berwarna putih gading dan berbau harum, dan tersenyum. Gue terdiam untuk beberapa saat memandangi amplop berisi surat itu. Gue menarik napas panjang, membuka laci di sebelah gue, dan mengambil kotak kayu tebal dan berukir yang ada di dalam laci.
Gue letakkan kotak kayu itu diatas meja, dan gue buka perlahan. Tampaklah setumpuk surat-surat, dan beberapa lembar foto. Gue meletakkan amplop di tangan gue ke atas tumpukan surat tadi, dan menutup kotak itu perlahan. Gue tersenyum, dan meletakkan kotak itu kembali ke laci, menutup dan menguncinya.
Surat-surat itu akan tetap disana, dalam keabadian, sampai nanti tiba waktunya mereka diungkapkan. Dan demikian pula cinta gue kepadanya.
- the end -
Diubah oleh jayanagari 11-08-2015 11:15
rofanzaharya28 dan Herisyahrian memberi reputasi
2

