Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
TS
meta.morfosis
Jeritan Malam (ketika keindahan menjadi sebuah ketakutan)
pernahkan agan merinding disuatu tempat, merasakan kehadiran seseorang yang menurut agan hanya merupakan permainan imajinasi otak belaka dan ketika sebuah karunia datang untuk memberikan agan sebuah kesempatan untuk melihat sekilas apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan semua fenomena tersebut, apakah anda akan tetap tersenyum dengan logika dan keyakinan bahwa semua hanya imajinasi otak atau berteriak dan berharap agar mata ini tetap terpejam dan semua itu hanyalah sebuah mimpi ane akan bercerita sebuah kisah yang mungkin akan merubah cara pandang agan tentang semua kejadian yang pernah menimpa agan, ketika agan membaca dan bertanya apakah ini real story ? semua kembali kepada agan untuk menilai apakah ini sebuah fiksi belaka atau real story, selamat menikmati semoga sebuah sensasi akan menemani agan dalam gelapnya malam Mohon para reader yang masih dibawah umur agar bisa memilah antara yang baik dan buruk di cerita ini, ambil yang baik dan bermanfaat..jauhi yang buruk dan menyesatkan Waktu Update : Penulis adalah seorang pekerja yang akan selalu menulis disela sela waktu luangnya, jadi untuk update bisa dilakukan kapan saja entah itu malam, pagi ataupun siang, jadi tidak ada istilah mengulur ulur waktu Peraturan membaca di thread ini : Hargai hasil karya penulis, karena menulis adalah suatu hoby dimana penulis membutuhkan pembaca dan pembaca memberikan apresiasi/kritik/masukan sebagai bentuk penghargaan karya penulis
Jangan menjiplak/mengakui hasil karya penulis, ketika ingin copy paste ke thread atau blog lain biasakan etika untuk meminta izin dan mencantumkan sumber penulisan
Penulis berharap kepada para reader untuk tidak terpengaruh atau berusaha membalas apabila ada komentar reader negatif yang berusaha membuat rusuh atau mencari sensasi karena komentar balasan adalah motivasi mereka menjadi reader negatif Line Id : meta.morfosis untuk update harap bersabar gan
Spoiler for Prologue:
Menjadi manusia normal adalah sebuah impian setiap manusia, tapi apa jadinya ketika sebuah kejadian yang menimpa anda membuat semuanya menjadi sebuah mimpi buruk, saat waktu2 yang terasa indah untuk dinikmati kini menjadi sebuah kecemasan, saat tempat tempat terindah yang kita kunjungi kini menjadi sebuah pemandangan yang penuh dengan rasa ketakutan.
Nama gw reza, gw merupakan lulusan salah satu perguruan negeri ternama disalah satu universitas negeri di Jakarta, sebuah kampus yang berada dalam suatu lingkungan asri dengan pohon pohon besar disekitarnya bahkan hampir mirip disebut dengan sebutan hutan kota, gw menyelesaikan pendidikan SI dalam waktu yang normal, dengan predikat yang lumayan hingga akhirnya sebuah panggilan kerja mengantarkan kaki gw untuk berlabuh disalah satu kota di jawa timur.
Semua terasa begitu indah, begitu sempurna, bisa dibilang yang maha kuasa memudahkan semua langkah kehidupan gw, orang tua gw yang semula tidak menyetujui gw untuk pindah kota, akhirnya menyetujuinya, walaupun dengan resiko mereka kini harus tinggal hanya berdua saja di kota bogor yang tenang. Sebenarnya orang tua gw khususnya bokap gw menginginkan agar gw bekerja di Jakarta atau setidaknya meneruskan usaha yang sudah dirintisnya selama ini, berbagai macam argumen telah mereka keluarkan untuk menggagalkan keinginan gue untuk meninggalkan Jakarta, terutama alasan umur mereka yang sudah tua, berat rasanya meninggalkan mereka bila mengingat semua alasan itu, tapi keinginan untuk mandiri membuat gw bisa mengalahkan semua rasa tidak tega itu.
Tapi semua keindahan rangkuman perjalan hidup gw kini berubah secara drastis, seiring langkah kaki gw menaiki sebuah kereta yang mengantarkan gw menuju sebuah kota di jawa timur. Sebuah kereta yang menjadi awal dimulainya rentetan kejadian yang merubah perjalanan hidup gw….
Dan percayalah ketika gw menuliskan ini semua, gw tercekam dalam rasa ketakutan, rangkaian kata yang gw tulis dengan menjentikan jari dalam barisan huruf di keyboard tidak lepas dari tatapan mata mereka, gw hanya berharap semoga malam cepat berlalu berganti menjadi siang.
Spoiler for Chapter 1 ( sebuah kabar indah tentang masa depan ):
Juli 2007, Irama langkah kaki gw bergegas cepat meninggalkan sebuah toko buku dan menuju ke stasiun kereta, kebetulan hari ini sehabis berkunjung kerumah seorang teman, gw mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa buah buku yang gw butuhkan untuk sekedar menjadi bahan bacaan peneman hari hari gw setelah lulus kuliah, disaat kesibukan mata gw mencari cari buku yang mungkin bisa menjadi bahan bacaan gw, sebuah panggilan telepon masuk, ya sebuah panggilan yang sama sekali tidak terduga dan akan menjadi awal hidup gw memasuki dunia kerja
“ hallo selamat siang, dengan bapak reza ” sebuah kalimat pembuka pembicaraan di telepon terdengar dari seorang wanita
“ benar mba, kalau boleh tau saya bicara dengan siapa ?”
“ saya indri pak, kami dari perusahaan PT. XXXXX, meminta bapak untuk hadir ke perusahaan kami untuk mengikuti proses seleksi penerimaan kerja ”
Sebuah kabar yang bagus, tapi kembali gw berpikir dan mencoba mengingat kembali surat surat lamaran yang pernah gw kirimkan, ingatan gw masih bisa mengingat perusahaan2 yang pernah gw layangkan surat lamaran kerja, dan menurut gw perusahaan ini tidak termasuk didalam daftar perusahaan yang masuk dalamlist surat lamaran kerja yang gw layangkan
“ aneh, ah masa bodo, yang penting gw jalanin aja dulu ” gumam gw, hingga akhirnya gw tertidur dikursi kereta yang mengantarkan gw ke stasiun bogor
“ wah tumben sudah rapih pagi pagi za ” tegur mamah ketika melihat gw yang sudah rapih dan mencoba menyiapkan sarapan sendiri
“ iya mah, hari ini ada panggilan kerja ”
“ Alhamdulillah za, cepat juga kamu dapat panggilan semoga diterima za ” terlihat mamah tersenyum dibalik kata katanya yang mengandung doa
“ diantar mang iwan aja za, biar tidak telat ” ucap bapak yang rupanya mencuri dengar pembicaraan kami, mang iwan merupakan supir yang bekerja dikeluarga kami
“ haduhh jangan pak, biar reza sendiri aja sekalian biar tau jalan ” jawab gw menolak tawaran itu
Setelah menyelesaikan sarapan dan pamit, segera gw pergi menuju perusahaan tempat gw akan melakukan tes pekerjaan, jam masih menunjukan pukul 7.30 sedangkan jadwal interview yang akan gw lakukan pukul 11, jadi cukuplah waktu tempuh yang akan gw habiskan untuk menuju perusahaan tersebut, dan kereta menjadi salah satu pilihan gw untuk mempersingkat jarak tempuh itu,tepat jam 10 kurang 15 akhirnya gw tiba di perusahaan tersebut, sebuah lokasi perusahaan yang terletak di Jakarta selatan
Setelah menuju ke bagian resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangan gw, akhirnya gw dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu, waktu luang itu gw manfaatkan untuk mencoba membaca baca dan kembali mengingat materi kuliah yang pernah gw pelajari
“ bapak reza, mari ikut saya ” tegur seorang wanita yang mempersilahkan gw untuk mengikutinya ke salah satu ruangan tempat akan dilaksanakan interview
“ silahkan duduk pak, nanti usernya akan segera datang ” ucap wanita itu kembali sambil tersenyum dan beranjak pergi
Ada rasa tegang ketika pertama kali melaksanakan proses penerimaan kerja, ditambah gw masih terasa asing dengan perusahaan ini, hingga akhirnya rasa tegang itu sirna seiring sosok yang gw lihat memasuki ruangan
“ lohh mas kamil..?” ucap gw heran melihat sosok yang tersenyum dihadapan gw, mas kamil merupakan senior gw yang telah lulus satu tahun lebih cepat dari gw
“ kaget ya za ?”
“ iyalah mas, soalnya seingat gw, gw belum pernah melamar ke perusahaan ini ” kembali mas kamil tersenyum mendengar jawaban gw
Hingga akhirnya mas kamil menceritakan tentang sejarah dan bergerak dalam bidang apa perusahaan tempat kerjanya itu bergerak, kebetulan dia sudah memegang posisi penting didalam perusahaan tersebut dan merekomendasikan gw untuk mengisi sebuah tempat dalam departemennya yang kebetulan kosong
“ bagaimana za ?” tampak mata mas kamil mencoba memperhatikan gw
“ ternyata diluar Jakarta ya mas, sepertinya gw harus bicara sama kedua orang tua gw dulu ”
“ lu udah dewasa za, lelaki dewasa harus bisa punya keputusan sendiri ”
“ jangan sampai kesempatan yang sudah didepan mata lu sia siakan karena keraguan lu ” terang mas kamil kembali, sambil berupaya menumbuhkan rasa semangat gw
“ kalau lu berminat, sekarang jg gw minta bagian hrd mengurus surat kontraknya, karena gw memang lagi butuh cepat ” lama gw berpikir mencoba menimbang semua omongan mas kamil, antara keinginan bekerja dan restu dari orang tua, setelah gw berpikir lama akhirnya gw memutuskan untuk menerimanya, pasti orang tua gw akan menyetujui ini, niat yang baik untuk sebuah pekerjaan yang baik pasti akan disetujui
“ baik mas, saya terima ” sebuah senyum sumringah terlihat dari wajah mas kamil
“ gitu dong za, baik gw ke bagian hrd dulu untuk mengurus semua surat2nya ” ucap mas kamil sambil menepuk bahu gw dan pergi meninggalkan gw
Setelah semua surat surat kontrak telah gw tanda tangani, mas kamil segera menerangkan tentang pekerjaan yang akan gw lakukan dan proses training terlebih dahulu yang akan gw lakukan setibanya gw di kantor cabang
“ lu di training dulu selama seminggu za, tenang aja gw yakin lu bisa ” ucap mas kamil antusias
“ insha allah mas, jadi kapan gw berangkat ”
“ seminggu dari sekarang za, lu persiapin dah semuanya, jangan lupa izin sama orang tua lu ”
“ siap mas, terima kasih atas bantuannya ”
Dan akhirnya gw meninggalkan perusahaan tersebut dengan langkah kemenangan, seperti layaknya orang yang pulang dari pertempuran, gw diterima kerja dan gw akan memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tua gw dan tidak lupa kepada wulan yang telah menjadi pacar gw selama kuliah
“ mah, saya diterima kerja ” ucap gw sesampainya dirumah dan menyampaikan kabar gembira ini kepada bapak dan mamah yang sedang bersantai diruang tamu
“ Alhamdulillah za..” jawab mamah sambil memeluk gw
“ selamat za, selamat jadi lelaki dewasa ” ucap bapak sambil tertawa dan memberikan selamat
Kegembiraan itu tidakberlangsung lama, ketika gw menerangkan tentang penempatan kerja gw
“ memangnya tidak bisa meminta posisi dijakarta za, bapak sama mamahmu ini sudah tua, kenapa tidak di jakarta aja, atau kamu nerusin usaha bapak ” ucap bapak sambil tangannya mencoba mengelap2 keris yang terlihat sudah tua, memeang bapak adalah pengkoleksi keris2 tua, bahkan bukan cuma keris saja, asalkan itu bernilai seni dan peninggalan masa lalu pasti dikoleksinya
Setelah gw menerangkan tentang keinginan gw untuk mandiri, dan alasan masa depan yang bagus di pekerjaan ini, akhirnya bapak dan mamah mengijinkan gw untuk pergi keluar kota dan menerima perkerjaan ini
“ kapan kamu berangkat za ” ucap bapak mencoba mencari keterangan
“ minggu depan pak, mohon restunya pak, mah ”
“ iya za, bapak sama mamah restuin yang penting kamu bisa jaga diri, dan bawa diri disana ” ucap mamah kembali memeluk gw disela sela isak tangisnya.
Seminggu sudah berlalu dan tiba harinya keberangkatan gw, dengan diantar oleh mang iwan dan wulan, segera gw menuju ke stasiun kereta yang akan mengantarkan gw ke jawa bagian timur, sepanjang jalan terlihat wajah wulan yang agak berat melepas kepergian gw,hingga akhirnya kamipun tiba distasiun kereta
“ jangan lupa kasih kabar ” ucap wulan sebelum melepas gw menaiki kereta
“ doain aku, semoga aku cepat nikahi kamu dan kamu bisa ikut sama aku kesana ” ucap gw sambil memeluk wulan kemudian melepaskannya dalam balutan air matanya, dan akhirnya pijakan kaki gw mantap menaiki kereta
“ selamat tinggal Jakarta…selamat datang pekerjaan baru..semoga cepat sukses ” doa gw didalam hati Next Chapter : sebuah perjalanan dan celoteh seorang kakek tua Heran rasanya mendengar ocehan kakek tua ini, antara sebuah misteri atau sakit jiwa yang menimpa kakek ini, hingga akhirnya gw berlabuh di kantor cabang yang mengharuskan gw untuk menempati sebuah mess tua
Spoiler for Chapter 3 Hari ke 2 di mess (logika dan penyangkalan hal ghoib):
Cahaya pagi yang menembus diantara lubang angin menyadarkan gw dari tidur lelap ini, rasa lelah yang gw alami membuat proses istirahat ini terasa begitu cepat, sejenak gw masih terlena dalam rasa lelah hingga akhirnya jam yang tergantung di dinding menyadarkan gw, bahwa hari ini adalah hari pertama gw bekerja di kantor yang baru
“ sial gw telat ” dengan reflek segera gw ambil handuk yang masih tergantung di besi tempat tidur dan segera beranjak ke kamar mandi, tampak indra dan minto yang sudah rapih sedang sarapan
“ wahh kesiangan nih pak reza ” tegur minto dengan nada bercanda
“ panggil gw reza aja pak, enggak enak kalau pakai kata pak, jadi canggung terlihat resmi ”
“ kalau gitu panggil gw minto aja ” terlihat indra ikut tertawa melihat tingkah laku gw yang agak panik memasuki kamar mandi
“ za, kami duluan ya biar nanti gw suruh imron buat jemput lu disini ”
“ oke terima kasih, tolong kasih tau ke orang kantor kalau gw agak terlambat ” teriak gw dari dalam kamar mandi
Sejuknya air yang mengguyur badan ini segera mengembalikan kesegaran badan gw, hingga akhirnya sebuah ketukan kecil dipintu terdengar
“ pak reza, saya dikin, teh manis sama sarapannya sudah saya siapkan dimeja makan ”
“ ohh mas dikin, terima kasih mas ” jawab gw sambil memakai handuk dan meletakan beberapa helai pakain kotor ke dalam bak pelastik dan meletakannya diatas sumur yang atasnya sudah tertutup triplek, lalu gw bergegas keluar kamar mandi
“ mas dikin ya ?” tanya gw ketika melihat seseorang yang terlihat lebih tua dari gw sedang meletakan sebuah kunci diatas meja makan, mendengar teguran gw, segera mas dikin menghampiri gw dan menyodorkan tangannya
“ saya dikin, pak ”
“ saya reza, mas ” jawab gw sambil membalas jabatan tangannya, lalu bergegas memasuki kamar, terdengar kembali suara mas dikin dari luar kamar
“ pak reza, saya izin keluar dulu mau beli keperluan dapur, kunci serep pegangan pak reza saya letakan di meja makan ”
“ baik mas dikin, terima kasih ” jawab gw tanpa mendapatkan jawaban kembali dari mas dikin, segera gw kenakan pakain dan mengambil tas laptop yang semalam masih gw letakan dilantai
“ apa ini ” gumam gw ketika membuka resleting dibagian depan dan mendapati sebuah benda kecil yang terbungkus kain hitam dengan tulisan rajah arab yang gw sendiri tidak mengerti apa artinya, segera gw buka kain hitam tersebut dan mendapati sebuah keris kecil atau lebih mirip disebut kujang kecil, benda itu terlihat hanya sebesar jari telunjuk gw, tapi terlihat tua dan unik
“ siapa yang menaruh benda ini di tas laptop gw ” ucap gw kepada diri sendiri, pikiran gw kembali teringat kepada bapak yang hoby mengkoleksi barang2 antik, insting gw mengatakan mungkin benda ini sengaja diletakan bapak gw di dalam tas laptop ini, tapi untuk apa? Pikiran gw kembali mencoba menerka2 kemungkinan
“ ahh masa bodo lah, gw udah kesiangan ” ucap gw sambil mengeluarkan benda itu dari dalam tas lalu meletakannya dibawah tataan baju didalam lemari, dan bergegas menuju ke meja makan untuk menyelesaikan sarapan
“ baju sudah rapi, perut sudah kenyang, tas sudah siap, saatnya berangkat dan menunggu imron diluar ” tangan gw segera mengambil kunci serep yang diletakan dimeja, dan melangkahkan kaki kearah pintu, disaat kunci pintu sudah masuk kedalam lubangnya dan kunci mulai terbuka disaat itu juga terdengar suara, yang menurut gw hampir menyerupai bantingan
“ brakkkkk ” lama gw terpana dalam rasa kaget, dan mencoba mencari tau asal muasal suara tersebut, dengan langkah kaki yang gw gerakan secara perlahan, gw menuju ke arah kamar gw dan tidak mendapati apa2 didalam kamar, disaat didalam kamar kembali gw mendapati suara pintu stenlis yang terbanting dan gw sangat yakin kalau suara tersebut berasal dari arah kamar mandi
“ brengsek ” teriak gw agak kaget mendengar suara itu, bergegas gw keluar kamar dan melangkahkan kaki ke arah kamar mandi, langkah kaki gw berjalan dengan sangat perlahan, ada kekhawatiran akan adanya seseorang yang memasuki rumah ini, tangan gw segera mengambil sebuah hiasan ukiran kayu yang terletak diruang tengah, buat gw cukuplah benda ini sebagai senjata pembela diri selain kekuatan ilmu utama gw yaitu kabur berlari dan berteriak minta tolong
Sial benar diri gw ini andaikan memang benar adanya seorang maling yang memasuki rumah disaat hari pertamai gw harus memulai bekerja, rasa takut segera menyergap gw ketika melihat pintu kamar mandi yang terlihat terbuka, dalam pikiran, gw telah menutupnya dengan menggunakan grendel dari luar kamar mandi tapi kini terlihat terbuka
“ positif, pasti ada maling nih ” ucap gw dengan rasa takut
“ siapa didalam ” kini nada suara gw terdengar meninggi dengan harapan ada efek rasa takut bagi maling tersebut, tangan kiri gw perlahan mendorong pintu kamar mandi dengan tangan kanan yang menggenggam erat hiasan ukiran kayu, perlahan pintu mulai terbuka diiringi hembusan angin dingin yang menerpa wajah gw, kini gw dapat melihat ruangan didalam kamar mandi yang tampak kosong melompong, gw coba memperhatikan langit2 kamar mandi dan semua masih terlihat normal, hingga akhirnya mata gw menangkap sebuah perubahan yang terjadi dikamar mandi, bak plastik yang semula gw letakan diatas sumur kini tampak sudah berada dilantai tanpa ada satupun pakaian kotor yang berhamburan dari bak plastik itu, pikiran gw langsung berasumsi bahwa bak plastik ini jatuh dalam posisi tidak terbalik sehingga pakaian2 tersebut tidak berhamburan keluar, demikian juga dengan penyebab jatuhnya mungkin disebabkan oleh adanya hewan seperti tikus yang mendorong bak plastik tersebut, akhirnya gw putuskan mengisi air rendaman kedalam bak plastik tersebut, tapi kembali gw dikejutkan dengan bocornya bak plastik tersebut
“ apakah mungkin dengan posisi sumur yang tidak terlalu tinggi ini, jatuhnya menyebabkan bak plastik pecah ?” tanya gw dalam hati, dan kembali pikiran positif gw berbicara mungkin tadi gw tidak melihat kalau bak plastik ini sebenarnya memang sudah bocor/retak dibagian bawah, dan pintu kamar mandi yang terbuka, karena gw tidak sempurna menutup pintu kamar mandi, serta hembusan angin yang bisa berasal darimana saja bisa menghempaskan pintu stenlis yang ringan itu
“ tidak perlu berpikir horor semua bisa dijelaskan dengan akal sehat ” ucap gw sambil bernafas lega, entah mengapa kembali ada hembusan angin dingin yg gw rasakan, pasti ada ventilasi udara yang menyebabkan angin ini bisa masuk ke ruangan ini, pikir gw mencoba mencari alasan yang realistis, hingga akhirnya terdengar suara imron yang tampaknya sudah menunggu gw diluar
“ ada apa pak reza, koq mukanya tampak tegang ?” tanya imron begitu melihat gw keluar dari pintu rumah
“ enggak ada apa2 mas imron, biasa efek tegang hari pertama kerja ” jawab gw tanpa berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, karena gw tidak mau semua kejadian ini nantinya dihubung2kan dengan peristiwa supranatural sebuah peristiwa yang diluar akal sehat gw
“ ohh gitu ya pak ” tampak imron tidak begitu saja mempercayai ucapan gw, semua terlihat dari cara tatapan matanya melihat gw, hingga akhirnya mobil yang dikendarai imron pun mengantarkan gw ke kantor cabang
Hari pertama gw bekerja dimulai dengan perkenalan, pengenalan perusahaan dan training pekerjaan untuk posisi yang akan gw tempati, hingga akhirnya waktu istirahat tiba dan gw kembali berjumpa dengan minto dan indra, tampak pak yanto, tutor training gw ikut bergabung dalam makan siang ini, sebuah percakapan ringan berlangsung mengiringi makan siang
“ gimana dengan akomodasinya pak reza, apakah nyaman ?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut pak yanto, terlihat sebuah kedipan mata dari indra kepada pak yanto, apakah itu semacam kode atau apalah tapi yang pasti gw tidak terganggu dengan pertanyaan itu
“ nyaman pak, kamarnya luas, bangunannya unik, yang pasti bersih ” jawab gw memberikan nilai positif pada bangunan tersebut
“ buktinya saya bisa sampai terlambat masuk karena lelapnya tidur ” ucap gw kembali disambut gelak tawa mereka
Tanpa terasa hari sudah beranjak sore, hingga tiba waktunya untuk pulang, ini adalah hari untuk pertama kalinya gw mengetahui angkot yang biasa melewati mess gw, dalam perjalanan tidak henti2nya indra dan minto menjelaskan obyek2 yang kami lalui, hingga akhirnya tanpa terasa kami sudah tiba didepan mess, tampak cahaya redup lampu dibagian depan rumah sedikit mungurangi gelapnya malam
“ begitu indah dan unik bangunan ini ” puji gw mengagumi bangunan tersebut, pintu pagar besi kuno yang terlihat sudah termakan umur menyambut kedatangan kami, setelah mengucapkan salam,tampak mas dikin membukakan pintu, segera kami menuju kamar masing2 dan bergegas mandi, hidangan hangat yang tersaji dimeja makan membuat kami untuk segera menyelesaikan acara bersih2 badan ini
“ sory ndra, gw mau tanya ” ucap gw kepada indra ketika kami menyaksikan tv selepas makan malam
“ ada apa za ? ”
“ tadi gw lihat, lu agak kurang senang mendengar pertanyaan pak yanto ”
“ ahh mungkin itu hanya perasaan lu aja za ” jawab indra dengan tersenyum, terlihat indra mencoba kembali mengalihkan pembicaraan ini
“ besok jangan kesiangan lagi za, gw udah ngantuk nih ” ucap indra sambil menguap, seiring mulut indra yang menguap mata gw melihat jam sudah menunjukan pukul 11 malam, tampak terlihat minto yang tertidur di bangku panjang ruang tengah
“ gw duluan tidur za, udah minto jangan dibangunin, kasihan tampak lelah bangat ” tatapan mata indra melirik ke arah tubuh minto yang tertidur lelap, lalu bergegas menuju kamar, sejenak gw masih terdiam menatap layar tv, hingga akhirnya gw pun mengikuti jejak indra untuk tidur, segera gw matikan tv dan lampu diruangan tengah dan tamu, hingga menyisakan dua lampu redup yang masih menyala di ruangan dapur dan depan rumah
Gw sempatkan terlebih dahulu untuk membaca beberapa halaman buku sebelum tidur dan akhirnya gw pun tertidur, hingga akhirnya sebuah suara geraman yang menyerupai suara geraman hewan serta beberapa kali suara seperti suara pukulan di dinding kamar membuat gw terjaga, lama gw terdiam dan tidak bergerak dipembaringan, gw berpikir ini hanyalah mimpi yang terdengar jadi nyata hingga bisa membangunkan tidur gw, segera gw raih jam tangan yang sengaja gw letakan dimeja kecil, dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 2.30 pagi
“ baru kali ini mimpi gw terasa nyata banget, aneh ” ucap gw kepada kesunyian
“ ohh mungkin ini merupakan alarm gw untuk buang air kecil ” ucap gw kembali begitu menyadari gw telah menahan keinginan untuk buang air kecil, bergegas gw melangkah menuju kamar mandi, tampak terlihat minto yang masih tertidur dengan lelapnya di kursi panjang itu
“ wihh nih orang kuat bangat tidur disitu ” gumam gw dengan rasa heran, gelapnya ruang tengah ditambah dengan redupnya nyala lampu didapur sedikit mengganggu pandangan gw yang belum sempurna karena baru bangun tidur, dengan langkah gontai segera gw teruskan langkah kaki ini ke arah kamar mandi
“ siapa itu ? seperti mas dikin ” ucap gw dengan sedikit memastikan bahwa gw melihat seseorang yang sedang duduk dimeja makan dengan posisi badan membelakangi jalan menuju kamar mandi, dari bentuk tubuhnya gw bisa memastikan itu mas dikin
“ ehh mas dikin, lagi enggak bisa tidur ya ?” tegur gw sekenanya tanpa berharap jawaban, karena kondisi gw juga masih dalam kondisi setengah mengantuk, sejenak gw lihat posisi kepala mas dikin sedikit mengangguk di iringi suara jawaban
“ he’ehh ” terdengar pelan seperti orang yang malas2an menjawab, ada kurang lebih gw berada dikamar mandi 2 atau 3 menit, dan akhirnya gw pun kembali ke kamar, kali ini tampak mas dikin sudah tidak berada didapur, setelah meminum segelas air putih akhirnya gw pun kembali ke kamar Next Chapter : hari ke 3 di mess (pengakuan dikin dan minto serta fenomena lainnya) Mana mungkin dikin bisa menyangkal semua itu, begitupun dengan ketakutan minto yang tidak beralasan, semua fonomena ini harus dijelaskan dengan akal sehat