Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#1076
A Part 40
Akhirnya sepertinya masalahku dengan Reza sudah selesai, hari ini juga aku lihat Reza udah mulai seperti biasa lagi, yaitu mulai banyak tingkah lagi menjaili teman-temanku di kelas. Nah, begitu, aku suka Reza yang seperti itu daripada jadi pendiam gitu, jadinya kelas gak rame. Aku sih mana bisa ngeramein kelas karena aku orang yang pendiem kelas, duduk di pojokan dan terkadang hanya bergosip berdua dengan Rahmi. Ya, itulah kelakuanku. Selain jarang memperhatikan guru di kelas, aku hobinya ngegosip, atau ngegambar gak jelas, atau apalah yang penting ada di kelas dan (belajar), mohon jangan ditiru.

“Ani… ada yang nyari.” Kata Bu Ai yang membangunkan lamunanku. Ngantuk banget aku belajar ekonomi, aku gak suka ekonomi sih. Hehe. Tapi siapa ya yang nyari aku. Tumben-tumbenan. Aku pun segera meninggalkan bangkuku dan keluar.
“Ada apa kak?” Ternyata itu kak Fe. Yah, aku kira siapa. Kak Fe kemudian menarik tanganku dan dia ngajakin pulang. Aku heran ini kan baru jam 9 lebih pas aku lihat di jam tanganku. Masih terlalu pagi untuk pulang.

“Caranya gimana?” Aku tanya, soalnya mustahil bisa pulang sepagi ini. Apalagi gerbang dijaga satpam.

“Bilang ke guru mau nganter kakak check up ke dokter, udah ada janji ama dokternya.”
“Sekarang cepet ambil tas lu di kelas dan bilang ke ibu gurunya, ibu itu pasti percaya, nanti gue jemput lagi ke kelas. Gue sekarang mau ambil surat ijinya dulu di depan.”

“Oke kak.”

Awalnya aku sempat percaya kalau kak Fe mau beneran ke dokter tapi kayaknya nggak deh, dia bohong, tapi anehnya aku malah nurut aja, mungkin aku juga pengen pulang, soalnya di sekolah juga hari ini pelajarannya gak rame, gak ada pelajaran biologi kesukaanku. Aku pun segera masuk ke dalam lagi dan bilang ke bu Ai kalau aku mau nganter kak Fe ke dokter. Aku pun duduk lagi sambil menunggu kak Fe.
Tak lama kemudian, kak Fe datang lagi. Aku pun segera ngambil tas dan pergi keluar. Anak-anak lain pada nanya mau kemana, ya aku bilang aku mau nganter kakak ke dokter.

***

Aku heran deh, kenapa semua orang di sekolah ini pada percaya sama kak Fe. Ka Fe menipu guruku dan om Iwan si satpam. Malah namaku dijual olehnya, dikelasku aku disuruh untuk bilang kalau harus nganter kak Fe yang sakit ke dokter, tapi pas di pos satpam bilangnya aku yang sakit dan kak Fe mau nganter pulang aku. Aku sih diam saja, takutnya kalau ngelawan aku kena marah, aku takut dengan amukannya. Ngerii.

Kami pun pulang naik angkot berdua. Rencananya untuk pulang benar-benar sukses, aku salut, ada-ada aja pokoknya. Setelah ongkos dibayarin kak Fe, kami pun sampai di depan rumah. Kak Fe buru-buru lari ke masuk ke dalam rumah meninggalkan aku yang berjalan tak percaya bisa pulang sepagi ini ke rumah. Baru pertama kali seumur hidupku aku diajak bolos pulang ke rumah. Parah.

“Eh..eh kok udah pada pulang? Tumben.” Kata ibu di dalam rumah.
“Hehehehe..” Kak Fe nyengir kuda.
“Kak Fe yang ngajakin, Bu.” Aku mengadu.
“Ngajakin? Emang ada apa di sekolah, kok jam segini udah pulang?” Ibu nampak heran.
“Di sekolah ngak ada apa-apa Bu, cuman kak Fe pengen pulang aja terus ngajakin aku.”
“ANIIIIII…!!!!” Teriak kak Fe melihat kearahku. Dia nampak kesal.
“Kalian bolos?”
Aku mengangguk lesu sedangkan kak Fe terus melihat ke arahku dengan muka kesal.
“FELISHAA…..!!!”
Ibu segera menghampiri kak Fe kemudian menjewer kuping kak Fe. Aku lihat barusan ibu sepertinya marah banget.
“SEJAK KAPAN KAMU SUKA BOLOS?”
“MAU JADI APA KAMU INI? BUAT APA IBU BAYAR SEKOLAH MAHAL-MAHAL”
“TERUS KENAPA NGAJAKIN ANI JUGA… ?”
“KAMU INI GAK MEMBERIKAN CONTOH YANG BAIK, NGAJARIN YANG GAK BENER!!!”
“Aw..aw sakit bu..” kata kak Fe.

Aku jadi kasihan melihatnya. Aku baru pertama kali lihat ibu marah seperti ini dan aku baru lihat kak Fe kalah seperti ini.

“Sudah ibu kasihan kak Fe.” Kataku menenangkan ibu.
“KAMU JUGA!!!” Ibu melepaskan jewerannya dan berbalik menatap diriku.
“KENAPA KAMU MAU-MAUNYA DIAJAKIN AMA DIA?”
Kali ini aku yang kena semprot. Aku hanya bisa menunduk lesu. Sementara kak Fe memegangi telinganya yang merah. Kasihan.
“Iiih..” Lirih kak Fe kesal sambil berjalan menuju tangga.
“HEY MAU KEMANA?” Tanya ibu.
“Bodo…” Gumam kak Fe.

Kak Fe menghiraukan ibu yang terus mengomel dan kemudian masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras. Tinggal aku sendiri dibawah bersama ibu. Aku jadi takut.

“Kenapa kalian bolos?” Tanya ibu sambil menghela nafas.
“Err.. kata kak Fe di kelasnya gak ada guru ampe siang nanti.”
“Kalau kamu?”
“……..” Aku bingung mau jawab apa.
“Ya alloh, Ani. Kenapa kamu mau-mau saja nurut ama kakakmu ini. Ibu tau kamu takut ama Felisha, tapi kalau diajakin yang gak bener, kamu nolak lah.”
“Ibu gak suka!”
“Iya.. bu.” Kataku lemas.
“Awas kalau bolos lagi, jangan diulangi!” Kata ibu serius.
“Iya.. bu.”
“Sebagai hukumannya, kamu gak boleh nonton tv seminggu dan gak boleh main seminggu!” Kata ibu.

“Ihhh.. ibu kok gitu sih?” Kataku.
“Iya! Jangan nawar!”
“Atuh.. ibu ih.”

Tentu saja aku kecewa, karena kalau aku gak nonton tv dalam seminggu pasti banyak acara yang aku lewatkan, terus lagi minggu ini aku ada janji mau main sama temen. Atuhlah aku jadi nyesel gini.
Ibu gak bisa ditawar, setelah mengumumkan hukuman kepadaku, ibu langsung pergi ke kamar kak Fe. Sementara aku lebih memilih untuk tetap dibawah, aku takut kalau keatas nantinya aku kena sergap amarah kak Fe, soalnya aku tadi yang ngadu ke ibu kalau kita bolos. Awalnya aku kira ibu gak bakalan marah begini, soalnya selama aku disini aku gak pernah lihat ibu marah. Ternyata, kalau ibu marah seperti gunung meletus.

***

“FELISHA BUKA PINTUNYA!!”
Dari bawah aku denger ibu menggedor-gedor pintu kamar kak Fe sambil memanggil-manggil kak Fe. Alamak, suasana jadi tegang ini, aku takut terjadi perang.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.