"Kamu sudah yakin?"
"Iya Mas"
"Kalo gitu Mas antar kamu sampek Surabaya, ke tempat Mas yang dulu"
Jumat, pertengahan Juli 2009 saya berangkat ke Surabaya, mencoba mencari ketenangan, mendinginkan pikiran ini, simply... running away...
"Tuban tuban tuban.... Langsung brangkat, penuh langsung brangkat...." Suara kenet bus mencoba 'membohongi calon penumpang' karena dia ngomong seperti itu sedari setengah jam yang lalu, yah.. Saya tertipu.
Bus yang saya tumpangi adalah bus reot entah buatan tahun berapa, karat dimana2, putung rokok, bau keringat pada tempat duduk, jujur saya merasa seperti berada di dalam kotak sampah berjalan bukan di dalam angkutan. Jangan berharap kalian mendapatkan schene seperti iklan deodoran yang ngetren beberapa tahun ini; dapet kenalan cewek di dalem bus, karena di dalam sini isinya cuman ibuk2 yang mau ke pasar, ikan asin, dan... Emmm rumput? Yah.... Si bapak kayaknya baru pulang dari 'ngarit' (mengambil pakan ternak) di sawah. Beberapa menit mengamati isi penumpang bus jahanam ini akhirnya saya tertidur.
"Pakah pakah pakah..." Suara kernet mengumumkan tujuan saya, saya turun kemudian menunggu bus berikutnya. Bus kota yang menuju Surabaya, Osowilangun tepatnya.
Untungnya kali ini bus yang saya tumpangi gak perlu 'ngetem' terlalu lama, bahkan gak ngetem sama sekali kayaknya. Bus ini lumayan bersih, yah, lumayan kalo di bandingkan dengan bus yang tadi mengantarkan saya dari Rengel. Busnya masih agak mulus, meskipun bau keringat masih tercium di sandaran tempat duduknya, overall okelah, toh cuman bayar 13 ribu sudah bisa mengantarkan saya ke Surabaya. Ke kota Pahlawan, di mana cerita ini akan bermula.
"Tahu kacang telur, tahu kacang telurnya pak buk mas" oh jadi ini toh yang namanya asongan.... Hemm, yap saya gak tertarik, balik tidur lagi
"Akua dingin mezon akua dingin mezon" Asongan minum ternyata, masih kembali tidur
"Selamat siang, mohon maaf mengganggu kenyamaman perjalanan Anda, ijinkan kami menyanyikan satu dua lagu untuk menemani perjalanan anda, Iwan Fals.... Berita kepada kawan" loh??
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.....
.... Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan...
Setelah mendengar lagu itu di dalam bus, saya bersumpah tidak akan pernah memberikan recehan kepada pengamen manapun yg menyanyikan lagu itu! Jleb banget tau gak!
"Terima kasih atas perhatianya... " Salah satu dari pengamen terkutuk tukang sindir yang jleb banget tadi mulai memutari bis, minta bayaran. Saya? Pura2 tidur! Enak banget dia main sindir, minta bayaran setelahnya?
On my dead body dude
"Buat yang ngasih kami doakan semoga masuk surga, buat yang gak ngasih kami tetap doakan anda masuk surga, tapi setelah yang bayar tentunya...

Buat yang pura2 tidur semoga anda langsung ke surga saja..." What the...
"Assalamualaikum wr wb..." Seorang berbaju putih, pake peci hitam dengan sajadah menggantung di pundaknya, masuk dan mulai membacakan doa....
Oh... Pak Haji
Setelah doa selesai Pak Haji yang baik banget tadi langsung muterin penumpang, minta duit juga. Loh kok? Apa2an ini? Ingatkan saya untuk pura2 tidur saja kalo nanti naik bus kota. Kasian dompet saya
Sekitar jam sebelas siang saya sampai di terminal osowilangun kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkot warna kuning dengan garis hijau kecil di bagian atasnya. Dan saya pun tiba di tempat saya akan bekerja sejam kemudian.
Sebuah rumah makan cepat saji di daerah tugu Pahlawan, tepat sebelah sungai, em sungai apa tu? Itu loh sungai besar yang mengalir melewati delta plasa. Inget2 nama sungai ini, ini tempat penting loh.
Saya di ajak kakak saya masuk. Dan ini lah latar tempat cerita kali ini, sebuah rumah makan cepat saji yang terletak di daerah pasar besar, Surabaya.
Depot ini terbagi menjadi empat bagian, ruang utama untuk para pelanggan, ruang tengah sebagai tempat bikin minum dan tempat piring dan gelas kering, sebelahnya lagi adalah dapur yang berdampingan dengan kamar cewek terus disebelahnya llagi ana kamar mandi dan tempat cuci piring. Dan ah... kamar cowok ada di atas, bukan di lantai dua kok, di loteng saudara2
****
Masih di bawah jembatan, sambil merogoh celana yang hanya basah sampai lutut Saya mengangkat telvon dari Nayla, "Halo, Ada apa Nay?"
"Lu gapapa kan?"
"Gapapa kok, kenapa emang?"
"Serius lu gapapa?"
"Iya gapapa kok, ini cuman basah dikit"
"Basah???"
"Hehehe"
"Iwaaan!!! Gak tau kenapa perasaan gw gak enak, jadi tadi gw langsung nelpon elu, syukurlah kalo gapapa"
"Duh... enaknya ada yang peduli"
"Yaelah, betewe lu basah kenapa? Gak sedang senam kan?"
"Eh ini... emm.. tadi mau lompat dari jembatan ke sungai... eh ternyata sungainya dangkal banget... keruh pula"
Saya tadi sudah bilang kalau sungai ini tempat yang penting kan?