- Beranda
- Stories from the Heart
that's what friends are for
...
TS
kabelrol
that's what friends are for
Spoiler for pembuka:
Spoiler for sampul:
Pesan whatsapp itu datang begitu saja,
Quote:
Tangan gue masih perih karena kejadian di pagi kemarin itu, kalo dirasa, perihnya hati gue lebih kerasa ketimbang tinju yang ngga dipake 10 tahun lebih buat nonjok orang lagi. Meski gitu, gue tetep berkeinginan untuk bales pesan itu.
"Sini aja, Nae,"
"Oke, gue emang udah di jalan, sih. Paling sepuluh menit sampe di tempat lo,"
centang biru. Gue nyengir aja. Itu bocah emang belum berubah terlalu banyak, kecuali ada gelar dokter yang baru dia dapet di depan namanya. Gue lihat profil kontak whatsappnya. Nae beneran ngga berubah, tidak ada juga perubahan pada warna rambut. Gue berdiri, ngeliat kaca, dan nyisir rambut pake tangan. Gue ganti celana dan baju. Gue berantakan banget, untung Nae dateng. Kalo ngga, bisa sepuluh hari dalam kondisi bau gitu, gue masih betah
Bener aja, ngga lama, ada yang ngetok pintu di lantai bawah--ya, iyalah, kalo ngetoknya di pintu lantai atas, ngeri amat, sob 
"Assalamu'alaikum,"
suaranya, sih, Nae, yang menyeru salam di bawah. Gue balas salamnya sembari lari ke bawah. Gue sendiri lagi di rumah kali ini, semua orang lagi jaga toko di toko pojokan itu. Gue absen ke orang rumah gue ngga bisa partisipasi jaga toko beberapa hari ini. Alasan gue, sih, masuk angin. Padahal, mah, justru badan gue lagi 'kosong' banget. Air mata ngosongin badan gue banget. Tsaah~
"Masuk, Bu Dokter!"
"Gue udah masuk, Mbel. Buset, berantakan amat lo, Har?"
"Yah, begitulah," gue cuma tersenyum kecut. Gue ngga beralasan nyinyir seperti, gue mah bukan dokter, jadi ngga wajib selalu bersih--padahal mah emang dasarnya aja gue jorok

"mana Haruki?"
Aah.. akhirnya pertanyaan itu pecah juga, keluar.
"Duduk dulu, Nae. Mau minum apa?" dan akhirnya kita berbasa-basi sejenak. Gue jadi punya waktu untuk nyiapin kata terbaik apakah yang akan mewakili rentetan kejadian sejauh ini--sudah terlalu jauh

"Har, apa perlu gue tanya sekali lagi? Mana Haruki?"
dr.Nae sepertinya menangkap gejala ngga beres dari gue. Sebab, apdetan medsos gue waktu itu, terakhir soal gue sama Haruki EO-in kateringnya perkimpoian Widya (
)"Dia udah pulang, Nae"
"Gue ngga yakin, Har, kalo Haruki cuma sekadar 'pulang' aja. Pasti ada yang harus lo ceritain ke gue,"
Ternyata, waktu basa-basi dan ngambilin minuman barusan tadi ngga cukup ngasih waktu gue untuk cari kata terbaik untuk memulai percurhatan ini

"Yaah.. jadi gini nae...
Spoiler for sekilas cerita sebelumnya:
...gitu, Nae.."
mata dr. Nae terlihat simpatik mendengar kisah yang belibet barusan.
"Widya kimpoi?" --gue ngangguk.
"Haruki ....?" --gue ngangguk lagi.
"Lo ngenes banget, Har..," --gue tersenyum kecut, sembari ngangkat bahu. Nasib gue begini kali.
"Terus, sekarang lo mau gimana, Har?" --gue tersenyum kecut lagi, ngangkat bahu lagi. Gue masih bingung, lebih tepatnya kaget sih. Nae mendesah perlahan, dia gigit bibir bawahnya. Keknya Nae semacam gemes dengerin cerita gue.
"Gue tanya balik sama lo, Nae. Kalo lo di posisi gue, apa yang lo lakukan?"
"Gue bakal nyari Haruki sampe dapet, ngga perduli gimana,"
Jeder! seakan ada durian jatuh di ubun-ubun gue. Yap, jawabannya emang sesimpel itu, tapi tentu dengan banyak ganjelan.
"Untuk apa? Toh, dia udah ada Farhan. Farhan pasti bisa ngelindungi Haruki,"
"Muka lo! Lo percaya sama Farhan, heh? Bukannya lo tau gimana Farhan?"
Jeder lagi! gue teringat bagaimana Widya nyiram pake air kola Farhan dan Nurul--sahabatnya Widya sendiri, di malam itu, di depan muka gue sendiri. Tapi, gue masih berusaha membebal.
"Waktu itu masih cinta monyet, jaman SMA, sekarang udah berubah kali,"
"bodoh! Kalo gitu, pertanyaannya gue inverse, bukannya lo ngga tau gimana Farhan?"
Lagi-lagi jeder lagi! Ya, gue tau Farhan, justru karena itu gue harus khawatir. Ya, justru gue ngga tau gimana Farhan sebenernya, karena itu gue harus lebih-lebih khawatir banget.
"Har, kejar, Har!"
"Gue harus gimana?"
"Lo dateng wisuda dan sumpah dokter gue, ya. Sampe itu, gue bantu lo," terus Nae kasih tanda 'V' dengan jari dan jari tengahnya ke depan muka gue, "dua bulan, lo harus cari ongkos ke kampus gue selama waktu ini buat ngehadirin wisuda gue,"
"kampus lo itu... siang di kampus gue, malem di kampus lo, kan?"
Nae ngangguk, dengan mantap. Gue neguk ludah sendiri. Gue coba ngitung-ngitung.. pasti ongkosnya lebih mahal ketimbang waktu Haruki ngongkosin gue nemenin dia mudik ketemu saudara kembarnya di kampung halamannya itu.. Bukan, bukan di Ciracas...
Quote:
Polling
0 suara
siapa yang punya tujuan paling jujur?
Diubah oleh kabelrol 09-12-2015 00:47
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
67.7K
320
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#56
adik perempuan
Jam 2 pagi, kayaknya kerjaan gue bakal ketunda lagi. Untuk masing-masing kita berdua, ini gelas coklat kedua. Mata gue melek parah. Begitu juga Ara. Gelas coklat ini jadi waktu istirahat, sekaligus waktu selah antara cerita Ara yang baru aja kelar dengan cerita gue tentang Farhan-Haruki (versi gue) yang akan gue kemukakan. Mata Ara membulat, begitu tertarik,
"Kak Haruki... Hamil..."
Gue mengangguk dengan pasti, dengan memandang Ara seakan sambil bilang, 'kerjaan kakak lo, Ra,' Ara diam, dia memandang ke bawah Dia ngeliat ke setengah isi gelas coklatnya yang kayaknya bakal tambah dingin kalo diliatin Ara kek gitu. Dingin. Dia menghela nafas.
"Bang, sebelum kemana-mana, gue mau cerita sesuatu ke lo, boleh?"
"Tentang apa, Ra?"
"Gue jadi inget sesuatu. Udah agak lama, sih, waktu gue SMA. SMA kelas 2 kalo ngga salah, terakhir kali Kak Haruki main kesini. Lo tau ngga, bang? setahun, bisa dua sampe tiga kali Kak Haruki main ke sini (rumah Farhan-Ara, maksudnya)...." --disini gue terkaget-- "...bareng Kak Novi juga. Kalo main kesini, Kak Haruki nginep di kamar gue, bang. Dan biasalah, kita banyak cerita. Tentang banyak hal. Kayaknya gue baru ngeh kalo pas kapan gitu, Kak Haruki pernah ngomongin soal lo, bang,"
Mata gue membulat, ngantuk gue makin terusir. Gue penasaran, dengan sangat.
"Oh, iya, Ra? Tentang apa?"
"Gue ngga nyangka, maksudnya Kak Haruki waktu itu adalah lo, bang
Dunia sempit banget, yak. Hahaha. Yaa, lo emang sahabatnya banget, ya, bang,"
"Ngga, Ra. Gue ngga segitunya. Gue mah apa," --maksud gue sok merendah
tapi respon Ara selanjutnya bikin tambah sadar, gue bodoh banget.
"Emang, bang. Gue sempet ragu sama sahabatnya itu,"
Mata gue meredup kali ini. Cerita Ara memang cocok. Waktu itu, meski belum sadar, adalah waktu dimana gue ngebuang temen--ya, bahkan, gue cuma menganggap Haruki itu teman. Malah, waktu pertama kali ketemu, gue menganggap Haruki adalah orang yang merepotkan. Ngikutin kemana gue pergi, sehingga (1) beredar gosip gue jadian sama dia (2) sehingga Nisa, kecengan gue waktu itu, beranjak jutekin gue. Waktu itu, gue cuma nganggep Haruki adalah temen yang spesial yang ngajarin gue banyak hal soal memberi dan berbagi. Atau, bisa jadi, waktu itu, gue telah menemukan teman baru, sahabat-sahabat baru. Demikianlah
"Jadi... gue pikir... em, ini maaf, ya, bang, gue bakal ngomong begini,"
"lanjutin, Ra. Apa yang terjadi disini, terjadi disini aja. Sungguh, habis ini selesai, ya, selesai,"
Ara mengangguk, bersiap lanjutin kata-katanya,
"lo ngga ada hak untuk bawa balik Kak Haruki"
gue teperangah ketika Ara bilang begitu. Gue ngga jawab dengan kata. Gue bertanya lewat mata, bagaimana bisa begitu?
"Yaa, bukannya gue belain Farhan, ya. Gue sendiri enek sama dia. Se-enek gue sama orang tua gue yang jarang pulang, bahkan nanyain kabar gue juga ngga. Tapi....
oke, kita anggap aja, anggap aja, nih, ya, emang Farhan yang melakukan itu dengan Kak Haruki pas pesta mabuk-mabukan itu. Ya, gue bilang anggap aja begitu. Karena, sebenernya kita ngga tau kan siapa yang melakukan itu ke Kak Haruki. Baiklah, ramai-ramai. Tapi, kita ngga tau punya siapa, kan? Kita ngga ada data. Pun ditanya, apa data itu valid? Bukannya mereka pada mabuk dan ngga sadar? Bisa jadi loh, itu bukan anaknya Farhan. Tapi, kita kesampingkan hal itu, anggap aja emang itu anaknya Farhan.
Nah, kalau begitu, rasanya lo emang ngga punya alasan lagi, emang sejak awal ngga ada. Ada hak apa lo, bang, misahin istri dari suaminya? Ada hak apa lo, bang, misahin calon anak dari calon bapaknya? Emang Kak Haruki yang minta lo bawa dia balik ke mari?Lo ngga ada hak bang, lo ngga punya alasan,"
Keder juga gue ditanya begitu sama Ara. Bener juga, tapi gue masih punya amunisi alasan, meski gue menggaruk bagian belakang kepala yang sebenernya ngga gatel--tanda grogi.
"Yah, lo tau sendiri, Ra, bisa gawat kalo Haruki mengandung apalagi lahiran dengan kondisi suaminya yang kurang jelas begitu,"
"Kurang jelas gimana, bang?"
"Banyak utang, Ra. Gue se-SMP sama kakak, juga gue tau beberapa reputasi kakak lo pas SMA. Okelah, oke kalo ini masih jaman sekolah, atau kuliah kayak lo. Lo bisa sign-in atau sign-out dengan gampang. Tapi, di tahap usia kayak gue, Ra. Taruhannya bisa sepanjang sisa umur. Gue ngga tau apa yang akan gue lakukan setelah ketemu Haruki. Tapi, yang jelas dia harus dikembalikan. Dia harus dilindungi."
Ara ngegeleng, gelengannya begitu yakin. "Itu, kan, menurut lo, bang..." Ara menatap gue dengan tajam, "gimana kalo Kak Haruki emang udah siap dengan segala risiko yang bakal dia hadapi. Gue tau perasaan dia, kayak ngga punya pilihan tempat untuk kembali. Gue juga kayak Kak Haruki, bang. Tadi lo cerita, Kak Haruki udah diusir sama orang tuanya. Dia juga udah ngga punya temen sebangku SMA-nya lagi. Dan Farhan, meski jelek dan dengan segala kekurangannya itu, mengajukan diri untuk jadi suami dan ayah dari anak dikandungnya. Sekali lagi, kita ngga tau loh sebenernya itu anak siapa. Tapi, Farhan mau nyamperin dia."
Gue tertohok lagi. Masuk akal.
"Kita ngga tau gimana Farhan besok, Ra"
"Percaya, Kak Haruki udah siap dengan itu. Dan ketika waktu itu memang datang, kita baru punya alasan untuk membuka pelukan. Bukannya itu gunanya teman?"
Gue melamun. Ya. Lagi-lagi, ini emang ke-GR-an gue sendiri. Novi yang ngga mau buka gembok medsosnya. Orang tua Haruki yang ngga pernah minta gue untuk nyari anaknya. Nae yang cuma pengen ketemu Haruki untuk minta maaf dan berterima kasih. Haruki yang menghilang. Haruki yang ngga bisa gue hubungin. Mungkin, Haruki yang ngga mau dihubungi gue lagi karena gue mukul 'calon suami aku'-nya Haruki. Jangan-jangan, selama ini gue sibuk sendiri, khawatir sendiri.
"..dan, sebenernya, gue juga ngga punya hak untuk ngelarang lo bawa balik Haruki ke sini, bang. Semua soal pilihan, bang. Kayak gue yang pengen berhenti jadi Yoshie dan bersyukur banget bisa kerja di tempat lo ini..."
Gue tau, Ara lagi mencoba 'mengamankan' dirinya supanya ngga balik jadi Yoshie. Gue pandangi dia, sekarang mukanya penuh harap.
"Tentu aja, Ra. Nama lo masih Ara, bukan Yoshie
Lo tuker tambah aja, tuh, HP
"
Ara menepuk tangannya, dia girang banget. Gue jadi tersenyum juga ngeliat kegirangannya yang begitu polos keluar itu.
"Maaf, bang, gue ceplas-ceplos,"
Gue tersenyum, tentu saja gue lebih seneng dengan Ara yang ceplas-ceplos begitu. Ara minta ijin nyuci gelas ke belakang. Pembicaraan ini selesai. Gue merebah, memandang ke langit-langit toko. Toko gue ngga ada langit-langitnya
kuda-kuda atap keliatan. Genteng dilapisi sama anyaman bambu. Lampu-lampu menggantung. Bukan, menurut gue, ini bukan langit-langit
kalo di kamar gue yang ada plafon putihnya, itulah langit-langit, hehe. Yah, pokoknya begitulah
Tapi, di langit-langit toko, kembali gue melihat Haruki yang sedang tersenyum. Disebelahnya ada Farhan...
Gue ngga sadar gue ketiduran.
kata-kata Ara di malam itu ampuh muter di pikiran gue 3 hari setelahnya. logis. gue ngga punya hak. gue ngga diminta. kenapa gue harus sok ide untuk ngejemput Haruki? Pertanyaan selanjutnya jadi lebih simpel: jemput dari mana untuk ke mana? dari tempat tujuannya sekarang ke entah kemana, mungkin ke ego gue. ngga logis kan? yang logis ya kata-kata Ara: gue. ngga. punya. hak. kecuali gue diminta. Gue juga menyadari satu hal lagi, gue sama Nae mungkin bareng nyarinya, tapi sesungguhnya kita ini beda tujuan. Nae punya tujuan untuk minta maaf dan berterima kasih. Ya, itu aja.
"Bang, jumat minggu ini gue minta libur, boleh? minggu lalu, kan, gue lembur, masuk 7 hari, hehe,"
"Ya, boleh, Ra, itu hak lo sebenernya. Untuk lembur, udah dibayar, kan?"
"Hehe, tenang, bang, tenang. Gue seneng dan betah aja, kok. Gue mau aja lembur lagi, tapi jumat besok libur, ya, ya?"
Malam itu, kembali, tinggal gue dan Ara yang tersisa di toko. Emang piketnya gue sama dia untuk nutup toko.
"Emang lo mau kemana, Ra?"
"hehe, sesuai nasehat lo, bang. Gue mau berhenti jadi Yoshie. Gue mau sepenuhnya jadi Ara. Jumat lo ada kesibukan apa, bang?"
"Kalo malem, sih, pasti di toko. Kalo siang, yaa, gue masih ngejar pesenan desain,"
"Yaah, sibuk, ya, bang,"
"Ngga begitu, sih, kenapa emang?"
"Temenin dong, tuker tambah HP :P"
gue mikir sebentar, ngga ada salahnya juga, sih. Desain juga baru mau ngajuin, bukan revisi atau kerjaan yang ngejar waktu. Kebeneran juga, VGA card gue bermasalah, mau servis, beluman ada waktu. Lagian, nilai tambahnya, Ara mau berhenti jadi Yoshie. Ini perlu didukung. DI kota gue, ada salah satu mall yang jadi pusat beli atau servis alat elektronik, HP sama komputer. Nah, kebetulan juga, kan, tempatnya satu atap.
"Ayok, deh, Tapi, gue bawa CPU, ngga apa, kan? Kebeneran gue mau sekalian servis komputer,"
"Asik! Gue pegangin CPU-nya bang!"
Ara balik badan. Dia semakin ringkas dan nyaman beresin sisa-sisa cucian yang masih basah. Gue senyum-senyum sendiri. Ara cepet adaptasi meski belum se-bisa diandalkan kalo dibandingin sama Haruki pas kerja disini kemaren. SEKIP.
Jumat sore datang, gue sama Ara janjian di kampus, kebetulan ada beberapa berkas pendaftaran pasca yang harus diselesaiin. Kita menuju rumah dulu buat ambil CPU. Sepanjang perjalanan, Ara diem, kayak yang minta ditanya. Yaudah, gue tanya aja dia.
"Ciee, yang udah punya duit, sekarang, mah. Traktir, dong!"
"Iya, dong. Alhamdulillah, cerpen gue dimuat, honorpun turun. Yaa, lumayanlah, kalo dipake buat tuker tambah HP, nanti HP gue ngga turun speknya,"
"Wah, lo suka nulis juga, Ra?"
"Iya, bang, tuntutan ekonomi, hehee. Lama juga gue nunggu sampe dimuat loh, bang. Pas sekalinya dimuat, eh, tembus dua cerita di dua majalah. Ayok, gue traktir bang hehee,"
"Hahahah. Nulis apa lo, Ra?"
"Tentang hujan,"
DAFUK? APA YANG BARUSAN DIA BILANG? setiran motor gue sampe limbung.
"Eh, kenapa goyang, bang, lo ngantuk, bang?"
"Eh, maaf, tadi gue ngehindarin lobang. Jadi, gimana ceritanya, Ra?"
"Ah, malu, bang, kalo harus diceritain,"
Gue diem. Ah, orang kayak gini mah minta ditanya banget
Ya, gue diem aja dah. Eh, dianya malah cerita, kan,
"Simpel, bang; tentang keluarga. Tentang anak yang kangen main hujan-hujanan sama kakak laki-lakinya yang pergi merantau ngga balik-balik,"
"Ooooh," gue mendehem, ceritanya beda sama gue. Akhirnya gue diem lagi. Gue pikir udah selesai gitu, ya, dia ceritanya. Eh, masih lanjut lagi.
"Kalo yang satu lagi, lo ngga tanya, bang?"
"Hahahha" --gue baru sadar, eh, iya, ada satu lagi, ya, "pengen banget ditanya, Ra? hahahah,"
"Ah-lo-mah-bang,"
gue liat dari spion sebelah kiri. Ara cemberut. Lucu juga liat dia begitu,
"Iyaa, iyaa, ceritanya tentang apa, Ara?"
"tentang sahabat, bang,"
MAK, KENAPA INI TEMA CERPEN DIA SAMA TEMA SEKUEL GUE DI SFTH INI SAMA DAH?? eh, tapi waktu itu emang belum kepikiran sekuel sih, jadi tema ini terinspirasi dari Ara juga, kebeneran emang sama berarti
hehe
"gimana, tuh, Ra, ceritanya?"
"yaa, buat majalah cewek gimana, sih, bang. tentang sahabat yang pergi dan ngga kembali, karena sibuk ngurusin urusannya masing-masing pas udah kepisah jarak,"
Anjir, gue berasa disindir banget ini sama Ara
kebetulan kali, kebetulan. Karena ngga ada yang dibahas, gue diem, sampe Ara aktif banget ngeluarin tongsis. Bisa aja loh dia sambil bawa CPU.
"Bang, foto terakhir pake HP ini bang. Kenang-kenangan, hehe,"
"Awas eh jatoh eh,"
"Ngga, ayok eh,"
Ara nyodorin tongsis ke sebelah kiri. Gue sesuaikan kecepatan. Gue memelan. Bisa konyol pas emang nabrak, terus pas di intrograsi sama pulisi gue bakal jawab kenapa gue kecelakaan, 'iya, maaf pak lagi foto pak buat kenang-kenangan hp yang mau dijual pak'. Kan ngga lucu sob
Motor gue bimbing mepet ke lajur kiri, mepet ke trotoar dari rumput.
Lantas, kita berdua berfoto. Lima foto itu, jadi foto terakhir di HP Yoshie dan foto pertama kita berdua. Harapan gue cuma satu, Ara ngapus akun (medsos fotografi) sensualnya itu. Kalo ngga, bisa gawat kalo Ara belum tobat beneran dan masukin foto gue sama dia di akunnya itu...
Selesai foto, ketika kita lagi ngelewatin daerah yang sepi, karena jalannya emang agak jelek, juga banyak tanjakannya--sebuah jalan tembusan, matahari sore mulai lelah, hendak bersandar pada peraduannya, pikiran gue melesat jauh ke beberapa tahun yang lalu. Gue deja vu, tapi, kali ini gue sadar, gue sadar memang itu sebuah kenangan.
"Kak Haruki... Hamil..."
Gue mengangguk dengan pasti, dengan memandang Ara seakan sambil bilang, 'kerjaan kakak lo, Ra,' Ara diam, dia memandang ke bawah Dia ngeliat ke setengah isi gelas coklatnya yang kayaknya bakal tambah dingin kalo diliatin Ara kek gitu. Dingin. Dia menghela nafas.
"Bang, sebelum kemana-mana, gue mau cerita sesuatu ke lo, boleh?"
"Tentang apa, Ra?"
"Gue jadi inget sesuatu. Udah agak lama, sih, waktu gue SMA. SMA kelas 2 kalo ngga salah, terakhir kali Kak Haruki main kesini. Lo tau ngga, bang? setahun, bisa dua sampe tiga kali Kak Haruki main ke sini (rumah Farhan-Ara, maksudnya)...." --disini gue terkaget-- "...bareng Kak Novi juga. Kalo main kesini, Kak Haruki nginep di kamar gue, bang. Dan biasalah, kita banyak cerita. Tentang banyak hal. Kayaknya gue baru ngeh kalo pas kapan gitu, Kak Haruki pernah ngomongin soal lo, bang,"
Mata gue membulat, ngantuk gue makin terusir. Gue penasaran, dengan sangat.
"Oh, iya, Ra? Tentang apa?"
Quote:
"Gue ngga nyangka, maksudnya Kak Haruki waktu itu adalah lo, bang
Dunia sempit banget, yak. Hahaha. Yaa, lo emang sahabatnya banget, ya, bang,""Ngga, Ra. Gue ngga segitunya. Gue mah apa," --maksud gue sok merendah
tapi respon Ara selanjutnya bikin tambah sadar, gue bodoh banget."Emang, bang. Gue sempet ragu sama sahabatnya itu,"
Quote:
Mata gue meredup kali ini. Cerita Ara memang cocok. Waktu itu, meski belum sadar, adalah waktu dimana gue ngebuang temen--ya, bahkan, gue cuma menganggap Haruki itu teman. Malah, waktu pertama kali ketemu, gue menganggap Haruki adalah orang yang merepotkan. Ngikutin kemana gue pergi, sehingga (1) beredar gosip gue jadian sama dia (2) sehingga Nisa, kecengan gue waktu itu, beranjak jutekin gue. Waktu itu, gue cuma nganggep Haruki adalah temen yang spesial yang ngajarin gue banyak hal soal memberi dan berbagi. Atau, bisa jadi, waktu itu, gue telah menemukan teman baru, sahabat-sahabat baru. Demikianlah

"Jadi... gue pikir... em, ini maaf, ya, bang, gue bakal ngomong begini,"
"lanjutin, Ra. Apa yang terjadi disini, terjadi disini aja. Sungguh, habis ini selesai, ya, selesai,"
Ara mengangguk, bersiap lanjutin kata-katanya,
"lo ngga ada hak untuk bawa balik Kak Haruki"
gue teperangah ketika Ara bilang begitu. Gue ngga jawab dengan kata. Gue bertanya lewat mata, bagaimana bisa begitu?
"Yaa, bukannya gue belain Farhan, ya. Gue sendiri enek sama dia. Se-enek gue sama orang tua gue yang jarang pulang, bahkan nanyain kabar gue juga ngga. Tapi....
oke, kita anggap aja, anggap aja, nih, ya, emang Farhan yang melakukan itu dengan Kak Haruki pas pesta mabuk-mabukan itu. Ya, gue bilang anggap aja begitu. Karena, sebenernya kita ngga tau kan siapa yang melakukan itu ke Kak Haruki. Baiklah, ramai-ramai. Tapi, kita ngga tau punya siapa, kan? Kita ngga ada data. Pun ditanya, apa data itu valid? Bukannya mereka pada mabuk dan ngga sadar? Bisa jadi loh, itu bukan anaknya Farhan. Tapi, kita kesampingkan hal itu, anggap aja emang itu anaknya Farhan.
Nah, kalau begitu, rasanya lo emang ngga punya alasan lagi, emang sejak awal ngga ada. Ada hak apa lo, bang, misahin istri dari suaminya? Ada hak apa lo, bang, misahin calon anak dari calon bapaknya? Emang Kak Haruki yang minta lo bawa dia balik ke mari?Lo ngga ada hak bang, lo ngga punya alasan,"
Keder juga gue ditanya begitu sama Ara. Bener juga, tapi gue masih punya amunisi alasan, meski gue menggaruk bagian belakang kepala yang sebenernya ngga gatel--tanda grogi.
"Yah, lo tau sendiri, Ra, bisa gawat kalo Haruki mengandung apalagi lahiran dengan kondisi suaminya yang kurang jelas begitu,"
"Kurang jelas gimana, bang?"
"Banyak utang, Ra. Gue se-SMP sama kakak, juga gue tau beberapa reputasi kakak lo pas SMA. Okelah, oke kalo ini masih jaman sekolah, atau kuliah kayak lo. Lo bisa sign-in atau sign-out dengan gampang. Tapi, di tahap usia kayak gue, Ra. Taruhannya bisa sepanjang sisa umur. Gue ngga tau apa yang akan gue lakukan setelah ketemu Haruki. Tapi, yang jelas dia harus dikembalikan. Dia harus dilindungi."
Ara ngegeleng, gelengannya begitu yakin. "Itu, kan, menurut lo, bang..." Ara menatap gue dengan tajam, "gimana kalo Kak Haruki emang udah siap dengan segala risiko yang bakal dia hadapi. Gue tau perasaan dia, kayak ngga punya pilihan tempat untuk kembali. Gue juga kayak Kak Haruki, bang. Tadi lo cerita, Kak Haruki udah diusir sama orang tuanya. Dia juga udah ngga punya temen sebangku SMA-nya lagi. Dan Farhan, meski jelek dan dengan segala kekurangannya itu, mengajukan diri untuk jadi suami dan ayah dari anak dikandungnya. Sekali lagi, kita ngga tau loh sebenernya itu anak siapa. Tapi, Farhan mau nyamperin dia."
Gue tertohok lagi. Masuk akal.
"Kita ngga tau gimana Farhan besok, Ra"
"Percaya, Kak Haruki udah siap dengan itu. Dan ketika waktu itu memang datang, kita baru punya alasan untuk membuka pelukan. Bukannya itu gunanya teman?"
Gue melamun. Ya. Lagi-lagi, ini emang ke-GR-an gue sendiri. Novi yang ngga mau buka gembok medsosnya. Orang tua Haruki yang ngga pernah minta gue untuk nyari anaknya. Nae yang cuma pengen ketemu Haruki untuk minta maaf dan berterima kasih. Haruki yang menghilang. Haruki yang ngga bisa gue hubungin. Mungkin, Haruki yang ngga mau dihubungi gue lagi karena gue mukul 'calon suami aku'-nya Haruki. Jangan-jangan, selama ini gue sibuk sendiri, khawatir sendiri.
"..dan, sebenernya, gue juga ngga punya hak untuk ngelarang lo bawa balik Haruki ke sini, bang. Semua soal pilihan, bang. Kayak gue yang pengen berhenti jadi Yoshie dan bersyukur banget bisa kerja di tempat lo ini..."
Gue tau, Ara lagi mencoba 'mengamankan' dirinya supanya ngga balik jadi Yoshie. Gue pandangi dia, sekarang mukanya penuh harap.
"Tentu aja, Ra. Nama lo masih Ara, bukan Yoshie
Lo tuker tambah aja, tuh, HP
"Ara menepuk tangannya, dia girang banget. Gue jadi tersenyum juga ngeliat kegirangannya yang begitu polos keluar itu.
"Maaf, bang, gue ceplas-ceplos,"
Gue tersenyum, tentu saja gue lebih seneng dengan Ara yang ceplas-ceplos begitu. Ara minta ijin nyuci gelas ke belakang. Pembicaraan ini selesai. Gue merebah, memandang ke langit-langit toko. Toko gue ngga ada langit-langitnya
kuda-kuda atap keliatan. Genteng dilapisi sama anyaman bambu. Lampu-lampu menggantung. Bukan, menurut gue, ini bukan langit-langit
kalo di kamar gue yang ada plafon putihnya, itulah langit-langit, hehe. Yah, pokoknya begitulah
Tapi, di langit-langit toko, kembali gue melihat Haruki yang sedang tersenyum. Disebelahnya ada Farhan...Gue ngga sadar gue ketiduran.
***
kata-kata Ara di malam itu ampuh muter di pikiran gue 3 hari setelahnya. logis. gue ngga punya hak. gue ngga diminta. kenapa gue harus sok ide untuk ngejemput Haruki? Pertanyaan selanjutnya jadi lebih simpel: jemput dari mana untuk ke mana? dari tempat tujuannya sekarang ke entah kemana, mungkin ke ego gue. ngga logis kan? yang logis ya kata-kata Ara: gue. ngga. punya. hak. kecuali gue diminta. Gue juga menyadari satu hal lagi, gue sama Nae mungkin bareng nyarinya, tapi sesungguhnya kita ini beda tujuan. Nae punya tujuan untuk minta maaf dan berterima kasih. Ya, itu aja.
"Bang, jumat minggu ini gue minta libur, boleh? minggu lalu, kan, gue lembur, masuk 7 hari, hehe,"
"Ya, boleh, Ra, itu hak lo sebenernya. Untuk lembur, udah dibayar, kan?"
"Hehe, tenang, bang, tenang. Gue seneng dan betah aja, kok. Gue mau aja lembur lagi, tapi jumat besok libur, ya, ya?"
Malam itu, kembali, tinggal gue dan Ara yang tersisa di toko. Emang piketnya gue sama dia untuk nutup toko.
"Emang lo mau kemana, Ra?"
"hehe, sesuai nasehat lo, bang. Gue mau berhenti jadi Yoshie. Gue mau sepenuhnya jadi Ara. Jumat lo ada kesibukan apa, bang?"
"Kalo malem, sih, pasti di toko. Kalo siang, yaa, gue masih ngejar pesenan desain,"
"Yaah, sibuk, ya, bang,"
"Ngga begitu, sih, kenapa emang?"
"Temenin dong, tuker tambah HP :P"
gue mikir sebentar, ngga ada salahnya juga, sih. Desain juga baru mau ngajuin, bukan revisi atau kerjaan yang ngejar waktu. Kebeneran juga, VGA card gue bermasalah, mau servis, beluman ada waktu. Lagian, nilai tambahnya, Ara mau berhenti jadi Yoshie. Ini perlu didukung. DI kota gue, ada salah satu mall yang jadi pusat beli atau servis alat elektronik, HP sama komputer. Nah, kebetulan juga, kan, tempatnya satu atap.
"Ayok, deh, Tapi, gue bawa CPU, ngga apa, kan? Kebeneran gue mau sekalian servis komputer,"
"Asik! Gue pegangin CPU-nya bang!"
Ara balik badan. Dia semakin ringkas dan nyaman beresin sisa-sisa cucian yang masih basah. Gue senyum-senyum sendiri. Ara cepet adaptasi meski belum se-bisa diandalkan kalo dibandingin sama Haruki pas kerja disini kemaren. SEKIP.
Jumat sore datang, gue sama Ara janjian di kampus, kebetulan ada beberapa berkas pendaftaran pasca yang harus diselesaiin. Kita menuju rumah dulu buat ambil CPU. Sepanjang perjalanan, Ara diem, kayak yang minta ditanya. Yaudah, gue tanya aja dia.
"Ciee, yang udah punya duit, sekarang, mah. Traktir, dong!"
"Iya, dong. Alhamdulillah, cerpen gue dimuat, honorpun turun. Yaa, lumayanlah, kalo dipake buat tuker tambah HP, nanti HP gue ngga turun speknya,"
"Wah, lo suka nulis juga, Ra?"
"Iya, bang, tuntutan ekonomi, hehee. Lama juga gue nunggu sampe dimuat loh, bang. Pas sekalinya dimuat, eh, tembus dua cerita di dua majalah. Ayok, gue traktir bang hehee,"
"Hahahah. Nulis apa lo, Ra?"
"Tentang hujan,"
DAFUK? APA YANG BARUSAN DIA BILANG? setiran motor gue sampe limbung.
"Eh, kenapa goyang, bang, lo ngantuk, bang?"
"Eh, maaf, tadi gue ngehindarin lobang. Jadi, gimana ceritanya, Ra?"
"Ah, malu, bang, kalo harus diceritain,"
Gue diem. Ah, orang kayak gini mah minta ditanya banget
Ya, gue diem aja dah. Eh, dianya malah cerita, kan,"Simpel, bang; tentang keluarga. Tentang anak yang kangen main hujan-hujanan sama kakak laki-lakinya yang pergi merantau ngga balik-balik,"
"Ooooh," gue mendehem, ceritanya beda sama gue. Akhirnya gue diem lagi. Gue pikir udah selesai gitu, ya, dia ceritanya. Eh, masih lanjut lagi.
"Kalo yang satu lagi, lo ngga tanya, bang?"
"Hahahha" --gue baru sadar, eh, iya, ada satu lagi, ya, "pengen banget ditanya, Ra? hahahah,"
"Ah-lo-mah-bang,"
gue liat dari spion sebelah kiri. Ara cemberut. Lucu juga liat dia begitu,
"Iyaa, iyaa, ceritanya tentang apa, Ara?"
"tentang sahabat, bang,"
MAK, KENAPA INI TEMA CERPEN DIA SAMA TEMA SEKUEL GUE DI SFTH INI SAMA DAH?? eh, tapi waktu itu emang belum kepikiran sekuel sih, jadi tema ini terinspirasi dari Ara juga, kebeneran emang sama berarti
hehe"gimana, tuh, Ra, ceritanya?"
"yaa, buat majalah cewek gimana, sih, bang. tentang sahabat yang pergi dan ngga kembali, karena sibuk ngurusin urusannya masing-masing pas udah kepisah jarak,"
Anjir, gue berasa disindir banget ini sama Ara
kebetulan kali, kebetulan. Karena ngga ada yang dibahas, gue diem, sampe Ara aktif banget ngeluarin tongsis. Bisa aja loh dia sambil bawa CPU."Bang, foto terakhir pake HP ini bang. Kenang-kenangan, hehe,"
"Awas eh jatoh eh,"
"Ngga, ayok eh,"
Ara nyodorin tongsis ke sebelah kiri. Gue sesuaikan kecepatan. Gue memelan. Bisa konyol pas emang nabrak, terus pas di intrograsi sama pulisi gue bakal jawab kenapa gue kecelakaan, 'iya, maaf pak lagi foto pak buat kenang-kenangan hp yang mau dijual pak'. Kan ngga lucu sob
Motor gue bimbing mepet ke lajur kiri, mepet ke trotoar dari rumput.Lantas, kita berdua berfoto. Lima foto itu, jadi foto terakhir di HP Yoshie dan foto pertama kita berdua. Harapan gue cuma satu, Ara ngapus akun (medsos fotografi) sensualnya itu. Kalo ngga, bisa gawat kalo Ara belum tobat beneran dan masukin foto gue sama dia di akunnya itu...
Selesai foto, ketika kita lagi ngelewatin daerah yang sepi, karena jalannya emang agak jelek, juga banyak tanjakannya--sebuah jalan tembusan, matahari sore mulai lelah, hendak bersandar pada peraduannya, pikiran gue melesat jauh ke beberapa tahun yang lalu. Gue deja vu, tapi, kali ini gue sadar, gue sadar memang itu sebuah kenangan.Quote:
Diubah oleh kabelrol 02-08-2015 23:27
pulaukapok memberi reputasi
1
Tutup

zumpah, ane zuzur ngga nyangka bakal dapet sambutan sebegitu bagusnya 

