Juna menyusuri lorong Mata Rantai. Waktu hampir tengah malam. Ia tak pernah semerinding ini melewati lorong-lorong sepi di sana. Setelah kasus Ronero—yang sampai saat ini masih diselediki motifnya, Mata Rantai menjadi semakin mencekam. Juna mempercepat langkah kakinya. Untung menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh, dia berdendang lirih lagu PARTY yang mendadak jadi bersemayam di otaknya.
Ini gara-gara Gordon, pikir Juna sambil tersenyum kecil.
Juna masuk ke satu-satunya ruangan di lantai 2 yang masih terang benderang : Departemen Teknologi. Juna mendekatkan kedua matanya di mesin pendeteksi. Setelah akses diterima, dia mendorong pintu di depannya. Dia disambut oleh nyala lampu terang, suara musik korea yang tak ia mengerti, dan suara jeritan khas orang main games dari dua orang yang sangat ia kenal.
Juna melangkah kaki ke meja Dodo dan Dede, dan ia memang mendapatkan dua asistennya itu sedang bertarung di depan komputernya masing-masing.
“Apakah kalian tidak mendengar instruksiku untuk mereduksi setiap pemborosan di kantor ini. Termasuk salah satunya adalah listrik,” ujar Juna sok kalah. Padahal dia ingin tertawa saat mengatakannya.
Dodo dan Dede sontak menoleh dan langsung melompat dari tempat duduk saat mereka menyadari ada Juna di belakang mereka.
“Oh, maaf Bos. Kami belum pulang karena sedang menunggu rendering program. Kodenya cukup banyak jadi…” ucap Dodo salah tingkah.
Dede menyembunyikan stik gamesnya di belakang.
Juna melotot ke kedua asistennya. Belum sempat mereka memberikan sanggahan, Juna langsung duduk di kursi yang tadi diduduki Dodo.
“Siapa yang lebih jago dari saya?” tanya Juna.
Dodo dan Dede langsung melengos lega. Mereka menghembuskan nafas karena Juna tidak marah kepada mereka berdua.
“Kukira kamu marah, Bos,” komentar Dede dan langsung duduk di samping Juna.
“Marah jika di sini tidak ada minuman dan makanan selama kita bertanding,” ucap Juna sambil mengotak-atik stiknya. PES 2015 dengan grafis yang paling bagus dari seri-seri sebelumnya langsung terpampang di layar Mac besar di depannya.
Dede menatap Dodo. “Langsung keluarkan amunisimu dari kulkas untuk bos kita, Do.”
“Bereslah,” Dodo melompat dari kursi dan langsung melesat.
Sejam kemudian mereka bertiga sudah adu lomba permainan sepakbola. Sesekali mereka berteriak jika ada yang gol. Di antara mereka bertiga, Dodo yang sedikit paling cupu.
Waktu hampir jam dua pagi saat Juna melirik jam tangannya dan menyadari bahwa dia belum juga tidur. Dan dia tentu saja melupakan tujuan utamanya mendatangi dua asistennya itu.
Akhirnya Juna mengakhiri permainan meski pun dia kalah dengan Dede. Dia langsung melihat ke sekeliling, seperti mencari sesuatu. Dan dia memang menemukannya. Dia melihat sosok makhluk yang sejak tadi menguntitnya sedang berdiri tegang di pojok ruangan.
“Do, apakah alat Pelacak Hantumu sudah kamu sempurnakan?” tanya Juna.
Dodo melihat bosnya sambil merasa bersalah. “Nah itu, Bos.” Dia melirik Dede. Dede memberi isyarat mengiyakan. “Saya kehilangan master aplikasinya. Sudah sejak pagi saya mencari di beberapa komputer, namun belum ketemu.”
“Mengapa bisa hilang?” tanya Juna.
“Entahlah, mungkin saya lupa meletakkannya. Tapi tenang saja, versi sebelumnya masih ada di tablet. Ada apa memangnya?”
“Dede, apakah bisa siapkan baskom, kertas, dan pensil gaib seperti biasa?”
Dodo dan Dede saling memandang. Mereka berdua menyadari apa yang sedang bos mereka perintahkan.
“Ada apa, Bos?” tanya Dede.
Juna berdiri, lalu memandang ke makhluk yang sedang menatapnya. “Lakukan saja. Aku hanya ingin mengetahui motif makhluk yang berdiri di pojokan itu. Sejak tadi dia mengikutiku.”
Dodo dan Dede saling pandang, lalu mereka mengikuti arah telunjuk Juna.
Tak lama, peralatan sudah siap. Di atas meja sudah ada baskom berisi air, kertas, dan pensil. Cara tradisional itu adalah salah satu yang diwariskan Tuan Mata untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.
Dodo sudah siap dengan tabletnya. Aplikasi Pelacak Hantu telah menyala dan sinyalnya yang kuat segera mendeteksi keberadaan makhluk itu. Warna titik merah menyala berkedip-kedip.
Juna, Dodo, dan Dede segera duduk melingkari meja.
“Saya hanya ingin bertanya cepat. Saya belum ingin pergi ke dunia mereka. Jadi ini adalah cara yang tepat. Mari kita lakukan.” Juna mengangguk kepada Dodo dan Dede.
Lampu dimatikan.
Juna menarik nafas, lalu dia bertanya pelan. “Siapa kamu?”
Pensil bergerak menulis di atas kertas. Setelah terhenti, Dodo mengambil kertas itu lalu memasukkannya ke dalam baskom berisi air yang telah didoakan.
“Roger.”
Hening. Pensil bergerak lagi.
“Saya teman Andika.”
Andika? Juna memandang Dodo dan Dede bergantian.
“Andika? Bagaimana kamu mengenalnya?”
“Kami bersahabat sejak kuliah.”
“Apakah kamu marah karena kemarin kami mengusirnya?”
“Tidak. Justru kami ingin meminta tolong.”
“Apa yang kalian inginkan. Kuharap kalian tidak mengganggu Ben Lenwa dan keluarganya lagi.”
“Tidak, kami tak bermaksud seperti itu.”
“Apa yang bisa kami tolong.”
“Kami semua terperangkap.”
Mendadak angin berhembus kencang. Beberapa benda terjatuh.
“Cepat katakan.”
“Tolong kami.”
“Apa yang bisa kami tolong?”
“Kami semua…”
Terputus. Tulisan terputus.
Pensil bergerak lagi. Angin semakin kencang. Benda terjatuh. Dodo mengambil kertas, lalu memasukkan ke dalam baskom lagi.
“Kami terperangkap di bawah Galeri Mahakarya.”
# # #