Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#422
Partitur no. 75 : Re-sign


Akhir bulan Februari 2013 tiba begitu cepat. Terbilang sangat cepat.

Aku sudah sembuh dari penyakit tifusku. Benar-benar sembuh! Sudah sekitar seminggu ini aku masuk Sekolah dan mengejar banyak ketinggalan. Suasana tak banyak berubah, selain semakin serius belajar.

Teman sekelasku, Excel bersama Syamsu, tetap melawak dengan bebas. Lawakannya konyol, tapi memang membuat kami semua tertawa. Lalu, teman sebangku ku, Rafky—yang dulu ikut tim baseball itu juga—menanya-nanyakan mengenai apa yang terjadi kepadaku sampai sebegitu lamanya. Tentu saja aku tak menceritakan hal mengenai aku manggung itu. Bisa-bisa ia membocorkan hal tersebut kepada yang lain.

Selain menanyakan tentang hari-hari yang kulewati, ia selalu mengobrol mengenai The Beatles. Entah itu mengenai personilnya, atau tebak-tebakan lagunya. Dulu, ketika kelas sepuluh, ia sempat mencukur rambut berponi ala-ala Beatles.

“Man, lo tau lagu Beatles yang ini, nggak?” tanyanya.

“Yang mana?”

Ia tidak menyanyikannya. Ia hanya membuat nada gitarnya melalui mulutnya, sehingga aku cukup sulit mengetahuinya.
Lalu, tak lama, guru piket yang akan mengabsen itu pun masuk ke kelasku yang sangat berisik. Guru itu adalah guru yang paling kubenci. Bukan benci, mungkin hanya sebal. Bagaimana tidak, ketika melihatku masuk, ia langsung bilang: “Ibu kira lo amnesia, Man, lupa jalan sekolah.” dengan nada mengejek. Namanya adalah Bu Ike.

Ia juga pernah hampir menyita handphone ku ketika tak sengaja ia mau mengabsen kelas kami ketika kelas kami sedang tak ada guru, dan aku sedang memainkan handphoneku. Tentu saja tak kuberikan. Memang siapa dia!

Meskipun ia tak mengajarku karena ia guru biologi—sementara aku jurusan IPS—ia mengenaliku karena aku sering sekali terlambat masuk sekolah. Mungkin, aku adalah member paling atas dalam klub kepertelatan sekolah, bersama Soleh juga tentunya. Hanya saja, tingkat ketelatanku sudah lebih parah dari Soleh.

Bolak-balik ruang BP bukan menjadi hal yang jarang untukku. Guru BP yang menyebalkan itu selalu saja dengan senang hati mengundangku ke dalam ruangan itu. Aku bukan murid yang nakal, hanya murid yang tingkat ketelatannya sudah lebih dari tiga puluh kali dalam satu semester. Itu baru satu semester, lho! Belum digabung dengan tingkat ketelatanku sejak masuk SMA.

Lalu, mengapa aku bangga dengan rekor telatku? Aku tak tahu. Aku ini aneh.

Begitu tahu aku masuk, teman-temanku dari Kaskuser 280 langsung mengerubungiku. Mereka langsung menanyakan pertanyaan sejenis dengan Rafky. Hanya saja, mereka tak mengobrol tentang Beatles, tapi tentang rencana rame-rame ke toko buku, Taman Menteng, Taman Suropati, atau Situ oke, eh, maksudku Taman Situlembang.

Intensitas mendalami dunia fotografi mulai sering lagi. Hamim hampir setiap hari ikut ke rumahku karena ia juga tertarik kepada dunia fotografi. Bersama-sama, kami mencoba memotret macam-macam objek dengan handphone, termasuk memotret temanku, yang kedua-duanya bernama Fahri.

Mungkin cara membedakan namanya dengan beberapa huruf yang berbeda, seperti: Fachri, yang mengacu pada temanku yang menggunakan kacamata, rambut lurus, penggemar The Hobbit, dll. Satu lagi, Fahri, yang berambut keriting, lugu, polos, tetapi selalu langgeng bersama pacarnya.

Qays tetap mentraktirku setiap harinya. Entah kapan ini akan berlanjut. (Semoga sampai lulus!)

Lalu, momen ketika Soleh sedang asyik akan memakan mie goreng favoritnya, tanpa sengaja, ada orang lewat yang langsung menumpahkan seluruh mie yang baru saja diaduk itu! Kami yang duduk di sebelahnya tak kuasa menahan tawa.

Rasanya, cukup banyak hal yang kulewati selama masa sakitku.

“Sayang, besok ketemu, yuk?” ajak Tasya pada Jum’at malam tiba-tiba.

“Boleh, ada apa, Sya?” tanyaku.

“Ada yang pengen aku omongin..”

Melihat balasan itu, jantungku berdegup kencang. Rasanya, seperti ada yang tak beres. Ada apa? Tak biasanya Tasya ingin mengobrol sesuatu denganku.

Jangan-jangan........

Semoga tidak, deh!

***


Ketika akhirnya kami bertemu malam harinya, aku berusaha untuk menghindari topik yang sebenarnya akan ia ungkapkan kepadaku. Mungkin lebih tepatnya, aku tak siap untuk mendengarnya. Apa pun itu.

Kami malah membahas hal lainnya yang selalu membuat kami tertawa seperti biasanya—menghilangkan kegugupanku untuk bertemu dengannya.

Tapi, aku juga penasaran. Bahkan, hatiku terasa tak menentu. Tak seperti biasanya. Firasatku juga buruk.

“Eiya, ada yang aku pengen kasih tau ke kamu..” ujarnya tiba-tiba.

Jangan! Aku belum siap.

“Apa itu? Ada kucing terbang?”

Ia tertawa.

“Bukaaan..”

“Terus, tentang apa?” mengapa aku malah memancingnya.

“Tapi, kamu jangan marah, ya,” ujarnya.

“Emang tentang apa, sih?” tanyaku.

“A.. Aku..” ia berhenti berbicara dan menghela nafas panjang.

***


“Kamu kenapa? Jelek? Bukannya emang gitu?” ledekku ingin mencairkan suasana.

Ia kembali mengumpulkan keberaniannya. “Aku mau resign dari kantornya Bunda.”

Ucapannya membuatku sangat kaget.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kayak yang kemaren-kemaren cerita sama kamu, soal pressure kerjaan,” jelasnya. “Gimana ya jelasinnya?”

“Kamunya aja kali kaget sama dunia kerja yang baru?”

“Susah kalo dijelasin, sayang..”

“Kok secepet itu berentinya? Baru berapa bulan kamu kerja di situ, lho..”

“Aku nggak kuat,” jawabnya. “Kalo kamu jadi aku, mungkin bakal ngerasain namanya drama di kantor. Dan, dunia pekerjaan nggak jauh dramanya kayak jaman-jaman sekolah dulu, bahkan lebih.”

“KAMU TAU NGGAK, KALO TANPA BUNDA, KAMU NGGAK BAKAL BISA KERJA KAYAK SEKARANG!” bentakku tiba-tiba. Emosiku memuncak.

Ia sangat terkejut dengan ucapanku itu.

“Iya, bukannya aku gak tau terima kasih, Bunda kalo diceritain juga ngerti, kok..” ia berbicara dengan hati-hati.

“KALO KAMU NGGAK AKU BANTUIN, KAMU MASIH NGANGGUR TAU NGGAK SIH DARI DULU!?” ujarku kesal dengan nada yang semakin tinggi.

Aku menatap lekat-lekat matanya yang masih terkejut dengan amarah. Mukanya memerah, air matanya mengucur dengan deras, sambil menutup matanya dengan kedua lengannya.

Kala itu, aku benar-benar marah kepadanya! Pertama kalinya aku marah kepadanya. Bagaimana dia tega kepada Bunda yang sudah susah payah membantunya masuk ke kantor itu demi ia mendapat kerja? Dan sekarang ia malah ingin keluar dari pekerjaan yang Bundaku sarankan itu.

Bagaimana pendapat Bunda nantinya kalau ia tahu Tasya akan resign?

“Seharusnya aku nggak usah cerita aja ke kamu,” isak tangisnya semakin menjadi-jadi.

“DASAR! KENAPA MALAH NANGIS, SIH! CENGENG!”

“Seharusnya tuh kamu support aku, bukan malah bikin aku downkayak gini!” tangisnya semakin menjadi.

Ucapan itu membuatku terperangah. Aku terdiam. Hatiku malah terenyuh menatapnya.

“Kamu kayak bukan Iman yang aku kenal tau nggak!”

Aku bisa melihat dengan jelas tatapannya bahwa ia sangat kecewa kepadaku.

“Kukira kamu beda! Kamu nggak bakal ngebentak cewek! Kukira kamu itu satu-satunya yang hatinya tulus, hatinya bener-bener baik! Mungkin kamu bukan Iman yang aku pacarin! Iman pacarku nggak kayak gini!”

Aku diam. Meresapi kata-katanya. Sama sekali tak membalas ucapannya tadi. Tersadar karena ucapannya itu.

Mungkin, ia benar. Tak seharusnya aku memarahi perempuan tomboy ini. Bagaimanapun, ia tetap wanita yang seharusnya kulindungi, bukan kubentak! Bodohnya aku! Bagaimana bisa aku menghancurkan hati seorang wanita yang tulus seperti Tasya!

Memang benar mungkin ia kecewa kepadaku. Ia tak mau lagi menatap mukaku. Andaikan sekian detik atau menit yang lalu bisa diulang, aku ingin menjadi orang yang lebih sabar dan tak menuruti emosiku! Aku masih labil! Rasanya ingin berteriak kepada dunia bahwa aku memang labil! Lelaki bodoh yang lebih mengikuti emosinya!

Harusnya aku tahu, ia berbicara begitu pasti juga memikirkan bahwa aku akan marah atau tidak, dan mengalahkan pikirannya bahwa aku tak akan marah, aku pasti mengerti seperti biasanya. Harusnya aku tahu, ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengobrolkan hal ini kepadaku. Dan harusnya aku tahu, ia mengundangku hari ini ke sini pasti butuh keberanian lebih!

Tapi, yang aku lakukan adalah melukai hatinya, memandangnya sebelah mata, menghujamnya dengan nada tinggi yang tak enak didengar.
Aku tahu, semua perbuatan itu ada konsekuensinya. Dan, aku sudah bersiap untuk konsekuensi yang akan Tasya berikan kepadaku.

“Sya,” akhirnya aku memberanikan mengeluarkan suara. “Maaf..”

“Segampang itu kamu mau minta maaf dan berharap aku maafin?”

Aku memang membenci drama pada kehidupan nyata. Tapi, aku sekarang benar-benar di dalamnya. Dan akulah yang memulainya.

Ia masih saja menangis. Kepalanya dihadapkan ke bawah.

Hatiku pilu. Apa aku tak ingat perjuangan mendapatkannya? Bagaimana dulu aku berjanji akan membahagiakannya, dan tak akan melukainya atau membuatnya sedih? Dulu, aku berjanji tak akan menyia-nyiakannya. Mungkin, aku sudah benar-benar melanggarnya. Kau boleh mengataiku pengecut. Kau boleh mengataiku bahwa aku seorang pecundang. Tak apa! Aku terima!

Aku berusaha menghapus benar-benar emosiku. Aku pergi meninggalkannya untuk ke kamar mandi, mencuci mukaku, dan turun ke bawah Supermarket yang dulu kami kunjungi ketika awal aku sakit. Aku membelikannya sesuatu.

Ketika aku kembali, ia masih membenamkan mukanya ke bawah. Suara isak tangisnya masih terdengar. Untungnya di atas sana hanya ada kami berdua.

“Kamu tau, baru kali ini aku berantem sama kamu,” kataku memecah kesunyian. “Tapi, aku nggak tahan dengan suasana gini. Aku mau baikan sama kamu, kayak biasa lagi,”

Ia masih terdiam membisu.

“Kamu juga yang bilang, kalo ada masalah, harus segera dikomunikasiin, ini yang buat kita setahun lebih nggak pernah berantem, kan?” lanjutku. “Aku ngaku aku salah. Nggak seharusnya aku bentak kamu tadi. Kamu boleh benci aku, tapi, aku cuma mau kamu beneran maafin aku..”

Bagaimana caranya agar ia mau mengobrol denganku lagi?

“Nih!” kataku menyerahkan sesuatu yang kubeli tadi. Ia tak kunjung mengangkat kepalanya juga.

Aku harus mencari ide!

“Kamu tau nggak? Ternyata aku adiknya Kang Naufal, lho,” kataku garing. “Terus, tadi aku nelpon polisi, laporan kehilangan. Iya, aku takut kehilangan kamu. Tapi polisinya malah ketawa. Abis itu aku ke kantor pos, mau ngirim surat maaf ke tukang servis. Aku tanya, bisa nggak, ya, servis hati yang luka? Tapi, nunggu balesannya lama kayaknya.”

Usahaku adalah membuatnya tertawa lagi. Tersenyum. Menggantikan tangisan yang diperbuat olehku yang sangat tak dewasa ini.

“Masa, ya, pas kucingku mau lahiran, aku manggil bidan dari rumah sakit,”

“Kamu, ih, ada-ada aja!” ia membangunkan kepalanya sambil tertawa, meskipun bekas tangisannya masih ada di wajahnya. “Emang kamu bisa banget bikin aku ketawa lagi!”

“Akhirnya..” ucapku senang sambil kaget. “Nih, buat kamu!”

Ia terkejut melihat apa yang kuberikan kepadanya.

“Es krim!” ujarnya senang. Habis itu menghapus air matanya dengan air mata ketika tertawa. “Makasih, ya.. Kamu emang paling tau cara bikin aku seneng lagi!” serunya sambil membuka es krim itu.

Iya, Tasya sangat menyukai es krim. Ia juga menyukai lollipop. Ketika aku menyebutkan dua makanan itu, ia langsung berubah ekspresinya menjadi seperti anak kecil yang super menggemaskan. Ia menyukai rasa strawberry. Aku menyukai Tasya. Eh, maksudku es krim rasa coklat.

“Makasih, ya, sayang..” ujarnya lagi. “Maafin aku tadi..”

“Seharusnya aku yang minta maaf. Hehe,” jawabku. “Jujur, aku juga bingung lho pas kamu ngomong gitu. Tapi ada benernya juga. Nggak seharusnya aku ngerusak mutiara yang udah aku jaga dari dulu.”

Ia tersenyum lucu sambil menikmati es krimnya.

“Tapi, kalo kamu emang mau resign, aku dukung, kok!” lanjutku. Kemudian, ia menaruh es krimnya dan berdiri ke arahku, memelukku.

Rasanya, tadi benar-benar suasana yang sangat kacau. Suasana yang aneh. Benar-benar suram. Memang hanya beberapa menit, tapi itu terasa sangat lama. Benar-benar menyiksa.

“Makasih, sayang! Makasih banyak..” ia menangis lagi.

“Kenapa kamu nangis lagi?”

“Aku nangis seneng, tau!”

“Gimana nggak seneng, itu ada es krim!” ledekku.

“Hehe,” iya hanya tertawa. Aku senang mendengarnya tertawa lagi.

“Maafin aku tadi, ya, aku bener-bener bukan yang baik buat kamu..”

“Udah nggak usah dibahas!” jawabnya. “Kamu itu kayak penawar buat aku!”

“Ha?” tanyaku kebingungan. Ia hanya kembali tersenyum lucu saja.

***


Benar, seharusnya kalau begini jadinya, aku tak usah kelepasan memarahi Tasya.

Aku benar-benar menyesal.

Bundaku juga resign dari kantornya seminggu kemudian. Ketika kutanya alasannya, ia menjawab jawaban yang hampir sama. Drama perkantoran.
Diubah oleh Polyamorous 21-09-2015 22:40
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.