- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.5K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#999
F Part 36
“Kak Bipolar itu apa sih?” Tanya Ani keesokan harinya.
Di balik kacamata minus setengah yang gue pakai ini tersirat sebuah tatapan setajam silet. Memang dasarnya bocah, mereka dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar. Setidaknya dengan perkembangan zaman sekarang, tentunya mencari informasi itu lebih mudah dengan adanya internet.
“Kenapa kamu gak browsing aja sih.” Jawab gue males. Jelas gue males karena Ani menganggu waktu baca gue.
“Udah kak.” Jawab dia.
“Terus kenapa kamu nanyain gue?”
“Pengen nanya aja ke kakak, pengen tau jawaban dari kakak. Hehehe”
“Gobs…”
“……”
Gue langsung beranjak dari sofa lalu menyimpan buku di atas meja lalu pergi meninggalkan Ani yang nyengir kuda.
***
Gue nyalain komputer gue. Setelah tau Stella bipolar, gue jadi was-was sendiri. Masih muda tapi udah terkena begituan. Gue browsingan nyari info tentang bipolar dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Gue juga kadan depresi tapi gak segitunya sampai pengen mati. Gue masih muda masih banyak impian yang pengen gue capai. Gue jadi khawatir dengan Stella, gue pengen ke rumah Stella.
***
“Ani.. ikut yuk?” Tanya gue ke Ani yang sedang membaca novel yang gue baca tadi.
“Kemana kak?”
“Ke rumah Stella.”
“Hayu kak. Tapi aku bawa buku ini ya.”
“Iya terserah.”
Sore itu gue pergi berdua bersama Ani naik mobil. Gue jadi supir sementara Ani kayak majikan yang sedang asyik membaca novel gue yang berjudul “Veronika Memutuskan Mati”, novel itu baru saja gue baca dan setelah membaca itu gue teringat Stella. Hahaha, kebetulan sekali gue baca novel itu.
“Kak, ini Veronika di novel kayak Stella ya kak?”
“Karena itu gue takut Ni, takut Stella bunuh diri.”
“Iya kak, ibu aku juga meninggal karena bunuh diri.”
“HAH?”
Sambil menyetir gue kaget setengah mati, hampir-hampir mati beneran karena gue mengerem mendadak lagi, untung saja tidak ada kendaraan dibelakang yang mengikuti sehingga tidak terjadi tabrakan. Untuk pertama kalinya, seumur hidup gue, Ani yang selama ini menjadi saudara tiri gue menceritakan tentang ibunya. Sebenarnya kalau boleh jujur gue tidak tahu menahu tentang background keluarga Ani, karena memang gue tidak ingin tahu. Tapi, setelah Ani mengatakan kalau ibunya meninggal karena bunuh diri, gue jadi penasaran.
“Bunuh diri?” Gue mulai menginjakan pedal gas lagi secara perlahan.
“Iya, kak.” Ani nampak jadi sedih, ia kemudian menyimpan novel itu di laci mobil.
“Eh.. jangan simpan di laci. Taruh di kursi belakang aja.” Kata gue.
Gue memperhatikan Ani yang mendadak diam dan tatapan matanya kosong, dia seperti melamun memikirkan sesuatu.
“Ni….?” Gue melihat ke arah Ani.
“Itu sebabnya aku penasaran dengan bipolar. Ibu aku pernah di rawat di rumah sakit jiwa, sampai saat ini ayah gak pernah berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu.” Kata Ani datar.
Gue mendengarkan dan tak bisa berkata lagi, gue tau saat itu Ani sedang mengingat tentang ibunya dan perasaannya sedang sedih. Kalau udah begitu gue gak bisa apa-apa, mungkin gue sedang bersimpati kepadanya.
“Ayo, Ni. Sudah sampai.”
Setelah memakirkan mobil di dekat rumah Stella, Gue bersama Ani pergi ke rumah Stella. Gue memijit bel dan mengetuk pintu rumahnya beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ingin gue tendang pintu rumahnya tapi sayang bukan rumah gue sendiri.
“Ah.. orangnya gak ada.” Ketus gue kesal.
“Pulang aja lah Ni, yuk.”
Ani diam saja sejak itu.
“Kamu kenapa Ani?” Tanya gue di dalam mobil ke Ani.
“Gak apa-apa kok kak. Ayo pulang”
“Gak.. sebelum aku tau kamu kenapa.”
Ani diam saja dan gue perhatikan dia menangis. Entah kenapa gue merasa kasihan melihat Ani nangis. Gue juga hanya bisa diam saja memperhatikannya.
“Yaudahlah ya, kita pulang.”
Selama perjalanan pulang ke rumah Ani tertidur mungkin karena capek nangis, gue sesekali memperhatikan dirinya ketika dia tertidur pulas.
***
Pukul sepuluh malam biasanya ibu dan Ani sudah tidur, sedangkan si Burhan belum, gue tau karena suara tv masih kedengaran sampai ke kamar gue, gue jadi turun ke bawah menemuinya.
“om…” Tanya gue ke ayahnya Ani.
“belum tidur fe?” Tanya balik dia sambil ngemil.
“Aku mau tanya.”
“Nanya apa?”
“Tentang ibunya Ani.”
Dia tampak kaget ketika gue berkata seperti itu, tapi dia melanjutkan kembali ngemilnya.
“Kenapa emang?”
“Dia meninggal karena apa?”
“Sakit.” Jawab dia bohong.
“Bohong!”
“Iya.”
“Kata Ani tadi ibunya bunuh diri.” Kata gue menegaskan.
“Maksud saya karena sakit yang di deritanya. Dia kena skizofrenia.”
“Hah? Skizo?”
“Iya, sudahlah kamu pasti sudah tau sendiri tentang skizofrenia. Dan ingat jangan bilang ke Ani ya kalau ibunya pernah gila dan menderita skizofrenia.”
Gue langsung kembali ke atas, pikiran gue dipenuhi rasa heran, entah kenapa hidup gue kok sepertinya kayak di film-film aja. Banyak kejadian atau hal yang terjadi di hidup gue dan yang berada sekitar gue tidak sesederhana seperti yang dipikirkan.
Gue melihat ke kamar Ani, seperti biasa pintunya tidak tertutup rapat, gue memutuskan untuk masuk dulu ke kamar Ani. Gue lihat Ani sedang tidur cantiknya sambil memegang guling. Ani masih banyak yang gak gue ketahui tentang lu. Gue matikan lampu kamarnya dan menutup pintu kamar Ani rapat-rapat. Selamat malam, Ni, semoga bertemu ibu kamu di alam mimpi.
Di balik kacamata minus setengah yang gue pakai ini tersirat sebuah tatapan setajam silet. Memang dasarnya bocah, mereka dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar. Setidaknya dengan perkembangan zaman sekarang, tentunya mencari informasi itu lebih mudah dengan adanya internet.
“Kenapa kamu gak browsing aja sih.” Jawab gue males. Jelas gue males karena Ani menganggu waktu baca gue.
“Udah kak.” Jawab dia.
“Terus kenapa kamu nanyain gue?”
“Pengen nanya aja ke kakak, pengen tau jawaban dari kakak. Hehehe”
“Gobs…”
“……”
Gue langsung beranjak dari sofa lalu menyimpan buku di atas meja lalu pergi meninggalkan Ani yang nyengir kuda.
***
Gue nyalain komputer gue. Setelah tau Stella bipolar, gue jadi was-was sendiri. Masih muda tapi udah terkena begituan. Gue browsingan nyari info tentang bipolar dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Gue juga kadan depresi tapi gak segitunya sampai pengen mati. Gue masih muda masih banyak impian yang pengen gue capai. Gue jadi khawatir dengan Stella, gue pengen ke rumah Stella.
***
“Ani.. ikut yuk?” Tanya gue ke Ani yang sedang membaca novel yang gue baca tadi.
“Kemana kak?”
“Ke rumah Stella.”
“Hayu kak. Tapi aku bawa buku ini ya.”
“Iya terserah.”
Sore itu gue pergi berdua bersama Ani naik mobil. Gue jadi supir sementara Ani kayak majikan yang sedang asyik membaca novel gue yang berjudul “Veronika Memutuskan Mati”, novel itu baru saja gue baca dan setelah membaca itu gue teringat Stella. Hahaha, kebetulan sekali gue baca novel itu.
“Kak, ini Veronika di novel kayak Stella ya kak?”
“Karena itu gue takut Ni, takut Stella bunuh diri.”
“Iya kak, ibu aku juga meninggal karena bunuh diri.”
“HAH?”
Sambil menyetir gue kaget setengah mati, hampir-hampir mati beneran karena gue mengerem mendadak lagi, untung saja tidak ada kendaraan dibelakang yang mengikuti sehingga tidak terjadi tabrakan. Untuk pertama kalinya, seumur hidup gue, Ani yang selama ini menjadi saudara tiri gue menceritakan tentang ibunya. Sebenarnya kalau boleh jujur gue tidak tahu menahu tentang background keluarga Ani, karena memang gue tidak ingin tahu. Tapi, setelah Ani mengatakan kalau ibunya meninggal karena bunuh diri, gue jadi penasaran.
“Bunuh diri?” Gue mulai menginjakan pedal gas lagi secara perlahan.
“Iya, kak.” Ani nampak jadi sedih, ia kemudian menyimpan novel itu di laci mobil.
“Eh.. jangan simpan di laci. Taruh di kursi belakang aja.” Kata gue.
Gue memperhatikan Ani yang mendadak diam dan tatapan matanya kosong, dia seperti melamun memikirkan sesuatu.
“Ni….?” Gue melihat ke arah Ani.
“Itu sebabnya aku penasaran dengan bipolar. Ibu aku pernah di rawat di rumah sakit jiwa, sampai saat ini ayah gak pernah berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu.” Kata Ani datar.
Gue mendengarkan dan tak bisa berkata lagi, gue tau saat itu Ani sedang mengingat tentang ibunya dan perasaannya sedang sedih. Kalau udah begitu gue gak bisa apa-apa, mungkin gue sedang bersimpati kepadanya.
“Ayo, Ni. Sudah sampai.”
Setelah memakirkan mobil di dekat rumah Stella, Gue bersama Ani pergi ke rumah Stella. Gue memijit bel dan mengetuk pintu rumahnya beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ingin gue tendang pintu rumahnya tapi sayang bukan rumah gue sendiri.
“Ah.. orangnya gak ada.” Ketus gue kesal.
“Pulang aja lah Ni, yuk.”
Ani diam saja sejak itu.
“Kamu kenapa Ani?” Tanya gue di dalam mobil ke Ani.
“Gak apa-apa kok kak. Ayo pulang”
“Gak.. sebelum aku tau kamu kenapa.”
Ani diam saja dan gue perhatikan dia menangis. Entah kenapa gue merasa kasihan melihat Ani nangis. Gue juga hanya bisa diam saja memperhatikannya.
“Yaudahlah ya, kita pulang.”
Selama perjalanan pulang ke rumah Ani tertidur mungkin karena capek nangis, gue sesekali memperhatikan dirinya ketika dia tertidur pulas.
***
Pukul sepuluh malam biasanya ibu dan Ani sudah tidur, sedangkan si Burhan belum, gue tau karena suara tv masih kedengaran sampai ke kamar gue, gue jadi turun ke bawah menemuinya.
“om…” Tanya gue ke ayahnya Ani.
“belum tidur fe?” Tanya balik dia sambil ngemil.
“Aku mau tanya.”
“Nanya apa?”
“Tentang ibunya Ani.”
Dia tampak kaget ketika gue berkata seperti itu, tapi dia melanjutkan kembali ngemilnya.
“Kenapa emang?”
“Dia meninggal karena apa?”
“Sakit.” Jawab dia bohong.
“Bohong!”
“Iya.”
“Kata Ani tadi ibunya bunuh diri.” Kata gue menegaskan.
“Maksud saya karena sakit yang di deritanya. Dia kena skizofrenia.”
“Hah? Skizo?”
“Iya, sudahlah kamu pasti sudah tau sendiri tentang skizofrenia. Dan ingat jangan bilang ke Ani ya kalau ibunya pernah gila dan menderita skizofrenia.”
Gue langsung kembali ke atas, pikiran gue dipenuhi rasa heran, entah kenapa hidup gue kok sepertinya kayak di film-film aja. Banyak kejadian atau hal yang terjadi di hidup gue dan yang berada sekitar gue tidak sesederhana seperti yang dipikirkan.
Gue melihat ke kamar Ani, seperti biasa pintunya tidak tertutup rapat, gue memutuskan untuk masuk dulu ke kamar Ani. Gue lihat Ani sedang tidur cantiknya sambil memegang guling. Ani masih banyak yang gak gue ketahui tentang lu. Gue matikan lampu kamarnya dan menutup pintu kamar Ani rapat-rapat. Selamat malam, Ni, semoga bertemu ibu kamu di alam mimpi.
itkgid dan rdwiananda memberi reputasi
2
